Top Social

DAMAR AISYAH'S BLOG

Parenting & Lifestyle

Bagaimana Doa Bisa Terkabul? Begini Cara Najwa Memahaminya

|


Salah satu hal yang membuat acara ngobrol dengan Najwa itu gayeng dan membekas buat saya adalah ilmu yang tanpa sengaja saya serap darinya. Bagaimana dalam kepolosan ucapannya, Najwa sering mengingatkan banyak hal yang terlupa, atau terlalu rumit bagi orang dewasa untuk memahaminya. 


Misalnya dalam hal terkabulnya doa. Terkadang saya sudah tidak memikirkan kapan doa itu terkabul, bahkan entah dikabulkan atau tidak. Yawis, pokoknya berdoa saja, masalah dikabulkan atau enggak itu haknya Yang Maha Kuasa.  Saya percaya cara seperti ini yang paling tepat untuk meyakini bahwa Allah selalu mendengar doa-doa hamba-Nya.  Berserah dengan sepenuhnya.




Baru kemudian saya belajar dari Najwa tentang cara Allah mengabulkan doa-doa umat-Nya. Ceritanya begini, siang itu langit sedikit gelap, angin dingin dan mendung berarak menutupi matahari. Lah, malah jadi puitis gini. Hehehe … Segera saya memasukkan cucian dan menutup jendela serta pintu. Kemudian saya duduk menemani anak-anak bermain, sambil menyesap secangkir kopi hitam. Selanjutnya dimulailah obrolan antara saya dan Najwa.


“Ya Allah, mudah-mudahan siang ini hujan, biar udaranya lebih adem,” begitu ucap saya.


Kemudian saya pun melanjutkan bermain dengan anak-anak. Beberapa saat kemudian si adik minta diambilkan roti sama susu, sedangkan kakak minta dikupaskan mangga. Segera saya berjalan ke arah dapur untuk menyiapkan request mereka. 


Tak lama, saya pun kembali bersama anak-anak. Sambil terus bermain, anak-anak nampak asyik menikmati makanan masing-masing. Tiba-tiba guntur menggelegar, dan hujan turun dengan lebatnya. Secara spontan saya langsung mengucap “Alhamdulillah, akhirnya turun hujan.”  Dan tak berapa lama, bibir tipis Najwa mulai berkomentar.


“Buk, apakah ini tanda Allah sudah mengabulkan doa-doa Ibuk?”


Mulut saya terkunci, bingung mau jawab apa. Tapi kemudian saya jawab, “Iya, Kak, Insya Allah doa ibuk sudah dikabulkan.”


“Ooo, jadi begitu, ya? Kalau kita ingin dikabulkan doanya, maka kita harus berbuat baik?”


“Maksudnya?”


“Ya, kan, tadi Ibuk sudah berbuat baik. Menyiapkan susu sama roti untuk adek. Lalu mengupas mangga untuk aku. Lalu mengangkat jemuran dari atas, menemani aku bermain. Karena ibu berbuat baik, maka Allah langsung mengabulkan doa ibuk. Dan dikasihlah kita hujan.”


Duh, speachless saya. Sebenarnya saya mau menjelaskan karena memang Ibuk sudah melihat tanda-tanda mau hujan, makanya ibuk berdoa semoga turun hujan. Tapi mendengar cara Najwa memaknai kebaikan dan terkabulnya doa-doa, saya merasa sayang untuk tidak meng-iya-kan pendapatnya.


Akhirnya saya jawab, “Emm … Insya Allah, mungkin ini salah satu cara Allah mengabulkan doa-doa hambanya. Mungkin juga dengan cara yang lain. Kita nggak pernah tahu rahasia Allah.”


“Ok! Jadi, kalau aku pengen doanya terkabul, aku harus banyak berbuat baik. Nanti Allah pasti kabulkan doanya anak baik.”


Duh, kembeng-kembeng mata saya. Udah pengen nangis aja. Peristiwanya sepele saja, tapi buat saya, cara Najwa memaknainya terlalu istimewa. Saya saja malah nggak kepikiran gitu-gitu, Nduk. Kok, sekali lagi Ibuk kamu ingatkan, kamu ajari. Saya pun mengacungkan 2 jempol  untuknya. Saya bilang, “Kakak hebat!” 


Kemudian saya menambahkan sedikit nasihat padanya, bahwa tidak semua doa dikabulkan seperti yang kita inginkan. Ada kalanya Allah memberikan yang berbeda dari harapan umat-Nya. Tapi, Najwa harus yakin, PILIHAN ALLAH selalu YANG TERBAIK. Najwa pun mengangguk, dan kami kembali bermain sambil menghabiskan beberapa potong mangga yang tersisa di piring. 


Sebagai pengingat, untuk teman-teman yang sudah dan akan menjadi orang tua, termasuk juga saya. Banyak hal tak terduga dalam pikiran anak-anak. Maka jangan sekali-kali menyepelekan mereka. Ketika muncul hal positif dalam dirinya, maka tugas orang tualah untuk terus menumbuhkannya. Jangan pernah lelah menikmati setiap detik menjadi orang tua.


Untuk Najwa, sekali lagi ibuk berhutang, dan akan terus berhutang. I Love You.


-DNA-


#ODOP
#Day19
#bloggermuslimahindonesia

Memaknai Kemerdekaan dari Waktu ke Waktu

|
Dulu, Hari Kemerdekaan adalah saat di mana anak-anak panen hadiah dari aneka perlombaan yang digelar untuk memeriahkannya.  Makan Kerupuk, Balap Karung, Sendok Kelereng dan Memecah Air hanyalah sebagian lomba yang  dilakukan setiap tahun. Bahkan setiap RT di kampung saya rutin melombakannya. 


Saya paling jago di lomba Memecah Air. Karena untuk menang di lomba Makan Kerupuk terlalu berat bagi saya. Gigi banyak yang ompong yang tersisa pun bolong semua. Susah mengalahkan teman-teman yang giginya masih sempurna. 


Dulu juga, saya langganan ikut jalan santai keliling kampung sebagai puncak perayaan 17-an. Tapi jangan tanya door prize-nya, karena nampaknya keberuntungan tak terlalu berpihak pada saya dalam hal door prize. Itung-itung sehat sajalah.


Sumber gambar: Fotografer.net


Kemerdekaan adalah kebahagiaan atas segala kemeriahan untuk memeringatinya. Hadiah, berkumpul dengan teman-teman, sekolah sering pulang pagi karena banyak kegiatan di luar kegiatan belajar mengajar. Yang tak kalah penting nonton panggung hiburan yang menampilkan teman-teman yang memiliki talenta di bidang seni. 


Ketika duduk di bangku SMP dan mulai aktif di kegiatan Marching Band, Hari Kemerdekaan bagi saya adalah pressure. Ya, mulai sebulan sebelumnya kami terus berlatih untuk pertunjukan 17-an. Mengiringi saat upacara di sekolah, unjuk gelar pada acara pengibaran bendera di kabupaten, karnaval, bahkan pernah juga kami disewa kecamatan lain sebagai pembuka arak-arakan karnaval budaya daerah mereka.


Menjelang Hari Kemerdekaan adalah saat-saat yang melelahkan. Sering meninggalkan jam pelajaran tapi pulang selalu telat. Menghafal berlembar-lembar notasi angka karena biasanya pelatih menambah materi untuk bekal pertunjukkan. Belum juga harus berlatih display dan konfigurasi di lapangan dengan panas terik menyengat. 


Kemerdekaan adalah kesiapan diri menjadi lebih tahan banting, tahan uji. Siap mengejar ketinggalan materi di kelas dan siap dengan kulit “gosong” akibat dijemur berhari-hari oleh pelatih.


Sempat melewati perayaan kemerdekaan yang “biasa saja”. Saat di bangku kuliah dan kemudian bekerja,  secara personal saya merasa tak ada yang istimewa dengan perayaan kemerdekaan. Ya, karena tak terlibat dalam hal apapun.  Dan lagi, makna kemerdekaan sudah bergeser dari sekedar hiruk pikuk dan perayaan. Tapi lebih pada memaknai kebebasan diri sebagai lajang yang tak ingin ditekan dengan segala aturan.


Kemerdekaan adalah kebebasan menjadi diri sendiri dan melakukan apa yang disukai.  Merdeka tanpa khawatir dengan stigma negatif sebagai perempuan lajang yang tak kunjung menikah. Merdeka berorganisasi dalam kegiatan sosial yang mau tak mau menyita sebagian besar waktu saya. Merdeka tanpa terkekang oleh aturan menjadi istri dan dibatasi oleh makhluk yang bernama suami.


Waktu terus bergeser, hingga sampailah saya pada memaknai kemerdekaan dengan cara yang lebih manusiawi. Menjadi orang tua dan menghadapi kerasnya kehidupan di ibukota, mengajarkan saya banyak hal tentang kemerdekaan dalam makna yang lebih luas. 
Kemerdekaan yang telah dibayar dengan darah dan air mata para pahlawan ini telah memberikan banyak kesempatan bagi seluruh rakyat negeri ini.


Dalam segala keberagaman yang ada di sekitar saya,  penghormatan atas kemerdekaan setiap individu telah menyatukan kami dalam kerjasama, saling memberikan ruang dan kesempatan untuk bertumbuh dan menunaikan hajat hidupnya. 


Tak bisa dipungkiri, kemerdekaan jugalah yang akhirnya memberikan ketenangan dalam beribadah, berekspresi sebagai manusia dengan segala keunikan, serta bergaul dan menjalin komunikasi tanpa memilah–milah golongannya.


Peringatan Hari Kemerdekaan harusnya menjadi pengingat, khususnya bagi saya. Bahwa apa yang dinikmati rakyat Indonesia pada hari ini bukan hanya buah dari cita-cita luhur, semangat membangun dan perjuangan dari segolongan atau segelintir manusia saja. Tanpa melihat apa yang disebut perbedaan, mereka bersatu untuk merebut dan kemudian mengisinya melalui pembangunan.


Kenyataan yang membuka lebar mata saya. Bahwa kemerdekaan tak sekedar kebebasan bagi diri sendiri. Tak sebatas terlepas dari kekangan penjajah seperti halnya yang terjadi pada masa-masa perjuangan. Tapi kemerdekaan adalah penghargaan bagi setiap insan, toleransi dan memberikan hak serta kesempatan bagi setiap individu untuk berkembang. Kemerdekaan dalam beribadah, berilmu dan mengemukakan pendapatnya dalam perilaku dan ucapan. 


Kemerdekaan menjadi sangat luas makna dan cakupannya. Tapi atas nama itu semua, kemerdekaan yang hakiki harus dimulai dari pikiran. Membebaskan diri dari penjajahan komentar yang dapat menurunkan nilai kemerdekaan diri. Merdekakakan dulu pikiran kita. Maka raga akan bergerak mewujudkan kemerdekaan bagi sesamanya.


Dirgahayu Indonesia, Merdeka!!





-DNA-






#ODOP

#Day17

#bloggermuslimahindonesia