Wednesday, March 22, 2017

Sharing is Caring (Oleh-oleh Kopdar Indscript)

"Menulis merupakan keahlian, bukan sekedar bakat terpendam. Keahlian ini harus terus diasah sehingga bisa disebut expert. Begitu pun mengenai tips menulis yang paling efektif, mudah dan masuk akal adalah, terus saja menulis. Menulis ... Menulis ... Dan menulis."

 
Credit pict to. Handayani Abd. Widiatmoko

Jakarta masih dingin saat suami mengantarkan saya dan Najib ke agen travel jurusan Bandung pada Minggu pagi, 19 Maret 2017 yang lalu. Najib bahkan masih terlelap dalam mimpi-mimpinya. Jangankan mengganti bajunya, saya langsung mengangkatnya dari tempat tidur dan menggendongnya menuju Jatiwaringin.
 
Kami bergegas karena jam jam telah menunjukkan pukul 5 pagi, sedangkan saya telah melakukan booking untuk jadwal keberangkatan pukul 6. Begitulah hidup di Jakarta, satu bahkan dua jam sebelum jadwal yang ditentukan, kami harus sudah berangkat dari rumah. Khawatir terkena macet atau gangguan lainnya yang tidak terduga.

Pukul 6 tepat, saat travel jurusan Bandung yang membawa saya, Najib dan seorang penumpang lain melaju menuju kota Kembang. Eksklusif sekali bukan? Hanya tiga penumpang dalam mini van yang berkapasitas 10 orang. Jalanan lancar, hingga tak terasa 1,5 jam kemudian kami telah berhenti di agen pusat, daerah Cihampelas. 


Jalan-jalan di Braga Sambil Menunggu Jadwal Kopdar

Masih terlalu pagi ketika sampai di bandung, maka saya pun memutuskan mengajak Najib berkeliling Jalan Braga. Berjalan-jalang sebentar saja, karena Najib terlihat masih letih, sehingga kurang bersemangat. Hingga akhirnya tepat pukul 9 kami pun menuju tempat acara Kopdar Penulis Indscript. Di Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo di Jalan R.E. Martadinata, atau biasa disebut Jalan Riau.

Rupanya kami pelanggan pertama, rumah makan pun belum buka sepenuhnya. Beberapa karyawan masih terlihat berbenah dan membersihkan area restoran. Kami numpang beristirahat sekaligus membersihakn diri sembari menunggu pesanan sarapan datang.

Terus terang, sebenarnya saya tidak ada acara lain di Bandung. Jadi kedatangan kali ini murni hanya untuk bertemu dengan teman-teman senior di Indscript. Saya pun belum semuanya kenal secara personal. Tapi saya pikir justru inilah saatnya berkenalan dalam dunia nyata. Dan saya yakin akan banyak ilmu yang dapat dibawa sebagai oleh-oleh saat kembali ke Jakarta.


Bertemu Penulis Senior di Jaringan Indscript

Menjelang pukul 10, satu-persatu ibu-ibu penulis mulai berdatangan. Yang pertama kali saya kenal jelas Mbak Winny yang memang sudah sering saya ikuti sepak terjangnya melalui facebook. Kemudian disusul Mbak Dedeh sambil menggendong putrinya yang baru berusia 1 tahun. Wah, mengejutkan sekali. Ternyata Mbak Dedeh masih punya balita, tapi produktifnya luar biasa. Sampai kagum saya dibuatnya.

Tak berapa lama, datanglah bu Ana dan Bu Sri. Bu Ana merupakan salah satu alumni Sekolah Perempuan, sedangkan Bu Sri adalah  penulis produktif pada zamannya. Mengapa saya bilang pada zamannya, karena setelah berumah tangga Bu Sri hampir tidak pernah menyalurkan hobinya tersebut. Beliau menyampaikan karena sibuk dengan segala printilan rumah tangga yang tak ada habisnya. Tapi kini, setelah putra-putranya beranjak dewasa. Beliau kembali menulis di blog pribadi, dan Kompasiana pun tak luput dijajalnya.

Credit pict. to Handayani Abd Widiatmoko

Ibu-ibu atau agar lebih akrab saya menyebutnya teman-teman penulis terus berdatangan. Mbak Hanny yang sangat produktif menerbitkan buku, Mbak Fenny Kapten Emak Pintar Bandung, Mbak Natasha yang terkenal dengan produk Seblaknya, Mbak Larasati teman di Juragan Artikel, Teh Santi Rosmala ownber Gerai Rosmala, produsen pakaian syar'i.

Tak berapa lama kemudian cikgu Anna Farida yang sampai hari ini masih menjabat Kepala Sekolah Perempuan datang bersama Mbak Vie Chan dan Mbak Chika Chief Editor Indscript. Mereka semua rata-rata berdomisili di Bandung. Saya pun sempat kagok dengan panggilan Teteh yang lebih akrab mereka gunakan. Bahkan berkali-kali roaming karena obrolan dalam bahasa Sunda.

Acara santai yang dikemas sharing menjelang makan siang ini berjalan lancar, gayeng dan sangat produktif. Saya rasa lebih dari 3 jam pun masih banyak yang bisa didiskusikan. Nah, bukan sharing namanya kalau tak membawa segudang manfaat. Khususnya bagi saya yang pemula, masih tertatih sehingga butuh banyak ilmu untuk membuka wawasan. 

Kali ini saya ingin membagikannya di sini, sekaligus sebagai dokumentasi dan pengingat.


Jangan Biarkan Waktu Terbuang

Jangan sampai waktu terbuang untuk social media


Sharing dari cikgu Anna Farida tentu saja sangat saya nantikan. Hal ini juga yang membuat saya tergerak melawan malas menempuh perjalanan pulang pergi Jakarta-Bandung. Pada kesempatan pertama, cikgu Anna langsung menekankan tentang waktu. Jangan sampai waktu kita terbuang percuma akibat distraksi sosial media dan obrolan di WA.

Beliau bahkan membuat perumpamaan, jika obrolan di WA tersebut di copy paste ke word, kemudian dihitung, mungkin sudah ratusan atau bahkan ribuan kata yang kita tuliskan. Padahal, kerap kali menulis artikel 500 kata saja saya beralasan nggak sempat. Hahaha ... Ketauan banget ya, kalau hobi bikin alasan.

Untuk itulah beliau menekankan untuk pandai-pandai me-manage waktu dan membuat skala prioritas. Selain kemauan dan komitmen yang ada dalam diri masing-masing, calon penulis harus pandai mengatur waktu sehingga tidak ada yang terbuang percuma.


Tetap Menulis Saat Mentok Ide Sekalipun

Free Writing selama 10 hingga 15 menit saat mengalami mentok ide


Selain malas atau tidak punya waktu, alasan mentok ide kerap kali dijadikan kambing hitam. Duduk bengong selama bermenit-menit di depan laptop, ternyata bukan cara yang tepat untuk menemukan inspirasi menulis yang selalu dinantikan.

Cikgu Anna menjelaskan, menulis tidak hanya melibatkan gerak otak, tapi juga gerak badan yaitu menggerakkan tangan. Maka, saat berada dalam kondisi mentok ide.  Cikgu menyarankan untuk tetap menulis apa saja, sekalipun hanya curhat atau mengumpat. Metode ini biasa disebut free writing. Menulis bebas selama 10 atau 15 menit, tanpa jeda ataupun mengedit naskah.  Kebiasaan seperti ini dipercaya dan terbukti dapat melenturkan tangan yang tentunya berimbas pada kebiasaan menulis dan datangnya inspirasi secara tak terduga.


Jeli Melihat Peluang Pendapatan di Bidang Menulis

Jeli melihat peluang di bidang menulis

Jika pada awalnya aktivitas menulis merupakan hobi atau upaya untuk terapi jiwa. Maka tidak ada salahnya melirik peluang penghasilan di bidang kepenulisan. Tentu saja jika teman-teman telah mendapatkan feel dan komit melakukan aktivitas ini sebagai salah satu rutinitas harian. 

Seperti yang cikgu Anna bilang, menulis merupakan keahlian, bukan sekedar bakat terpendam. Keahlian ini harus terus diasah sehingga bisa disebut expert. Begitu pun mengenai tips menulis yang paling efektif, mudah dan masuk akal adalah, terus menulis saja. Menulis ... Menulis ... dan menulis.

Peluang penghasilan di bidang penulisan tidak hanya melalui penerbitan buku. Profesi sebagai blogger, content writer dan ghost writer merupakan peluang yang tidak bisa di kesampingkan begitu saja. Mengenai hal ini telah dicontohkan Teh Vie Chan dan Mbak Winny yang telah meraup rupiah dari pekerjaan me-maintain web sekaligus menjadi content writer-nya.

Tapi jangan salah ya, meskipun namanya menulis di web, bukan berarti pekerjaan ini bisa asal comot dari berbagai sumber yang ada. Misalnya Mbak Winny yang harus mengikuti beberapa training untuk menunjang pekerjaan yang diterimanya dari seorang klien. Soal nilai kontraknya sih, tak perlu ditanya lagi. Sepadan lah dengan usaha yang dilakukan. Jadi benar ya, hasil selalu berbanding lurus dengan proses yang dilakukan.

Selain jeli melihat peluang yang ada, Teh Vie Chan menambahkan untuk waspada dengan banyaknya penipuan di dunia kepenulisan. Ya, hampir sama dengan berbagai profesi lain yang ada. Dalam dunia kepenulisan pun banyak oknum tak bertanggung jawab yang melakukan penipuan. Selesai ambil karya, transfer tak pernah dilakukan. 

Sebenarnya masih ada beberapa hal lain yang kami bahas dalam pertemuan tersebut. Tapi, sepertinya akan saya buat dalam blog post lain saja. Agar lebih mendetil pembahasannya. 



Credit pict to. Santi Rosmala


Nah, jadi banyak banget ya, yang harus dipelajari ketika memutuskan untuk total di dunia kepenulisan. Tapi, tentu saja, langkah awalnya adalah menulis terlebih dahulu. Menulis ... Menulis dan terus menulis hingga jam terbang dan portofolio kita cukup untuk ditawarkan.

Tepat pukul 18.30 ketika saya menginjakkan kaki kembali di rumah. Jangan ditanya lelahnya, tapi saya bersyukur Najib sama sekali tidak rewel selama perjalanan. Malam itupun kami tertidur lelap hingga pagi subuh menjelang.




 

 



 




Friday, March 17, 2017

[Resensi] Ukiran Rasa - Cinta, Perjuangan dan Keajaiban Rasa

"Suamiku menderita, tapi sungguh! Aku jauh lebih menderita. Aku manusia biasa. Aku seorang ibu. Jika tangisan sudah tak lagi keluar dari mataku, adakah kau lihat sesuatu terjadi dalam diriku?"


Sekitar pertengahan November 2016, saat saya dan tak sedikit teman-teman alumni JA lagi super heboh, gegara lolos sebagai finalis penulisan buku antologi "Bangga Jadi Ibu" Seorang teman kami, Anjeli, begitu biasanya kami memberikan panggilan sayang padanya. Nampak kurang bersemangat, tak seperti biasanya yang selalu "menggoyang" jagat perchattingan grup kami. 

Ada sedikit kecewa dalam kalimat-kalimatnya. Mungkin karena tidak lolos sebagai kontributor buku antologi kali ini. Padahal nih, kalau menurut kami, kisah kebanggaan sebagai ibu yang diangkatnya "luar biasa", loh. Ya, tapi apa mau dikata, semua memang tergantung penilaian juri. Toh, namanya juga kompetisi, kalah dan menang sudah biasa.

Tapi bukan Anjeli namanya kalau dia berputus asa begitu saja. Di balik kegagalan "melahirkan" buku keroyokan yang pertama, Anjeli justru menerbitkan buku solonya. Wedan!! Begini harusnya semua penulis menanggapi sebuah kegagalan. Bukan nglokro, justru bangkit dan lari lebih kencang.

Baca juga : [Resensi] Bangga Jadi Ibu Part 1


Kabar Gembira dari Anjeli!

Pertengahan Desember 2016, jagat perchattingan grup JA pun ramai kembali dengan celoteh-celotehnya yang selalu sayang untuk dilewatkan. Ibaratnya nih, kalau kepala lagi pusing, atau eneg sama kerjaan rumah. Tengok aja grup JA, trus baca chat-nya Anjeli. Dijamin gak perlu minum obat atau jalan-jalan buat refreshing. Nih orang emang lucu nggak keruan. Di balik sosoknya yang religius, adaa aja yang bisa jadi bahan cengengesan

Tapi chat kali ini bukan chat biasa, rupanya Anjeli sedang persiapan "melahirkan" buku solo pertamanya. Ya, semacam promosi gitulah. Hehehehe ... Kalau kata saya sih, keren nih orang. Di antara segala kesibukannya, ya kerja ya jadi konsultan Indscript. Dia masih sempat dan memang meluangkan waktu untuk menerbitkan sebuah karya. 4 Jempol deh, buat Anjeli. 

Baca juga : [Resensi] Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya


 

Tentang "UKIRAN RASA"

Awalnya teman-teman alumni JA mendapat kesempatan free E-Book Ukiran Rasa, dengan kompensasi membuat review di blog masing-masing. Sayangnya, saya ketinggalan momen itu. Telat dikit nengok chat group, melayang sudah satu kesempatan dapat gratisan, nasih ... nasib.

Tentu saja saya tak mau melewatkan buku perdana Anjeli, akhirnya, saya pun order versi R-Booknya (Real Book ^-^).  Tak berapa lama, kalau nggak salah malahan cuma sehari dari saya order, buku Ukiran Rasa sudah mendarat dengan cantik di tangan saya. 

Buku bercover hijau dengan kombinasi gambar berupa cangkir  kuning itu siap menjadi teman dalam kesunyian. Pas banget nih, menjelang libur panjang, saya harus nyetok buku sebagai hiburan. Apalagi kami berencana mudik agak lama di kampung halaman. Salah satu cara berkontemplasi adalah "diam" dengan buku bacaan sebagai selingan.

"Ukiran Rasa", Kisah tentang cinta, perjuangan dan keajaiban tujuh puluh ribu rasa. Lumayan keder juga saya pas baca judulnya. Bayangan saya bakalan puitis abis, apa saya nyampek bacanya? "Ahh ... langsung baca sajalah, kok malah miker" begitu gumam saya.

Buku ini ternyata terbagi menjadi dua bagian, yang pertama berupa Kumpulan Kisah, dan yang kedua diberi judul Bukan Puisi ( Sebuah Goresan dari Diary Perempuan).  Ide ceritanya sederhana, dan dapat dijumpai dalam kehidupan nyata. Tapi Anjeli atau Nurdianah Dixit begitu nama pena Emak penggemar film India ini mampu mengemasnya menjadi indah dan puitis.

9 cerita berbeda pada bagian Kumpulan Kisah, mampu membawa saya larut dalam perasaan haru. Kisah Selimut untuk Raka yang diangkat sebagai kisah pertama dari 8 lainnya, mampu menggetarkan hati saya sebagai seorang ibu sekaligus istri. Dalam kondisi kalu dan ambruk akibat kehilangan putra kesayangan, seorang istri harus tegar menghadapi suami yang menderita lahir bathin akibat kedukaan yang sama. 

" Suamiku menderita, tapi sungguh! Aku jauh lebih menderita. Aku manusia biasa. Aku seorang ibu. Jika tangisan sudah tak lagi keluar dari mataku, adakah kau lihat sesuatu terjadi dalam diriku?"

Kutipan di atas kiranya cukup mewakili isi hati seorang perempuan atas kedukaan, kehilangan dan perasaan bersalah yang kerap menghantui akibat sebuah pilihan. Anak dan pekerjaan. Keduanya kerap kali tak bisa dipilih, namun mengandung konsekuensi yang amat besar.

Kisah-kisah dalam Ukiran Rasa mau tak mau merepresentasikan kehidupan religius penulis. Ya, Anjeli adalah sosok yang religius, begitu setidaknya sisi lain yang dapat saya tangkap darinya. Di balik segala kelucuan dan obrolannya yang selalu renyah.

Setiap kisah ataupun goresan diary penulis yang kemudian diangkat dalam buku ini, selalu menyiratkan kehidupan religi. Entah dalam bentuk kehidupan santri di sebuah pondok, bagaimana kisah pencarian seorang murid terhadap sosok guru yang sebenarnya, bahkan perjalanan seorang istri memahami cinta dari pasangannya.




Secara keseluruhan, buku ini cocok sebagai bahan bacaan perempuan, terlebih seorang ibu. Banyak kisah dalam buku ini bisa menjadi pengingat. Bahwa hal-hal kecil dalam kehidupan ini sering kali luput dari perhatian, dibiarkan begitu saja , kemudian menyesal ketika merasakan kehilangan. 

Berbagai jenis RASA yang ingin disampaikan penulis dalam karyanya bahkan sangat dekat dengan kehidupan kita. Ada duka, benci, cinta, kagum, bahagia dan gundah yang kerap kali memberikan pelajaran bagi kehidupan ini, asal peka dan dapat dapat memaknainya.

Keberanian penulis dalam mengangkat kisah-kisah yang saya duga "dekat" di sekitarnya, bahkan di sekitar kita juga. Menjadi inspirasi bagi saya, bahwa benar adanya, menulislah dari yang paling dekat dengan kita, paling kita kuasai sehingga tulisanmu akan "bernyawa"

Sedikit masukan bagi penulis terkait buku ini, mungkin lebih pada tampilan bukunya saja. Dari segi cover, layout dan editing, mungkin perlu lebih diperhatikan untuk buku-buku selanjutnya. But, overall I proud ou you, Mbak ^_^. Bangga bisa menjadi salah satu orang yang menyaksikan jungkir balik penulis dalam melahirkan buku ini. Saya rasa teman-teman pun harus mencicipi setiap "rasa" dalam buku ini, sembari mencecap secangkir kopi di pagi hari yang damai nan dingin.


Buku UKIRAN RASA bisa dipesan secara online langsung pada penulisnya di Fb : Alikanurfatiha Dianadixit, atau IG : @Nurdianah_dixit.  Buku ini saya rekomendasikan untuk Teman-teman yang percaya bahwa setiap rasa itu bermakna dan menjadi pelajaran yang sebenarnya dalam kehidupan.

Congrtazz, Anjeli. You did it!

Judul Buku : Ukiran Rasa
Penulis : Nurdianah Dixit
Penerbit : Azizah Publishing
Tahun : 2016 
Tebal buku : 110 halaman
Harga : 45.000