A Story of Mom, Wife, Daughter and Active Woman

Mencapai Puncak Kedewasaan di Usia Cantik

|

Saya : Mbak, piye yen profilmu tak tulis kanggo melu lomba blog #UsiaCantik?
(Mbak, misal profilmu kutulis untuk lomba blog #UsiaCantik, gimana?

Mbak: Eh, opo e iku?
(Eh, apaan tuh?)

Saya: Lomba blog, temane usia cantik, rentang usia sing ditulis kisahe antara 35 -45. Aku sik kurang, rung cantik. hihihi)
(Lomba blog, temanya usia cantik, rentang usia profil yang ditulis kisahnya 34-45. Aku masih kurang cantik. hihihihi)

Mbak: Ooo, ngono. Oke deh. Wah, kudu omong Pakne ki, usiaku cuantik berarti tibake)
(Ooo, gitu. Oke deh. Wah, kudu ngomong sama Pakne nih, usiaku cuantik banget ternyata)

Saya : Hahaha ... Trims ya


Begitu kira-kira, sepenggal obrolan saya dengan Kakak, beberapa hari yang lalu. Kami memang rutin berkomunikasi melalui WA. Namanya juga dulur wedok, adaaa saja yang dibahas. Masalah Sambel Teri, atau berapa jumlah telur untuk satu resep brownies kukus pun. Ngobrolnya bisa ngalor ngidol gak ada habis-habisnya. 

Nah, tentunya bukan tanpa alasan pula, jika akhirnya saya memutuskan untuk menulis tentang  usia cantiknya. Lha, mau gimana lagi? Wong usia saya sendiri masih nanggung untuk dibilang cantik. Kagok dan masih gojak-gajek, kalau menurut orang Jawa, hahahaha...

Kakak saya ini memang paling pas, jadi obyek cerita saya. Karena memang dalam banyak hal, saya bisa merasakan aura positif darinya. Terlebih, secara fisik dia masih terlihat awet muda, meskipun sudah beranak gadis kelas 3 SMA, dan usianya pun sudah berkepala 4. Jadi ya cocok lah kalau dibilang lagi anget-angetnya di usia matang, cantik meskipun tidak lagi muda.



Mbak Yanti atau Simbak, begitu kami biasa memanggilnya. Simbak ini, Ibaratnya konsultan pernikahan buat kami, adik-adiknya. Kebetulan, kami empat bersaudara perempuan semua. Sehingga, obrolan selalu nyambung, enak dan betah berlama-lama. Tapi, kalau pada akhirnya Simbak yang harus jadi juru konselingnya, ya wajarlah Karena memang usia pernikahannya sudah paling senior. Sudah hampir 20 tahun mengarungi bahtera rumah tangga. Manis, asin, asemnya pernikahan sudah dirasakannya, persis kayak makan permen nano-nano. Bahkan pahitnya pun, mungkin sudah ditelennya tanpa sepengetahuan kami semua.


Dibesarkan dalam keluarga single parent memang bukan hal yang mudah buat kami, dan juga buat Simbak tentunya. Apalagi dia anak pertama, harus lebih banyak mengalah. Dulu,  saat almarhum Papah meninggal, Simbak baru berusia 14 tahun. Sedang dalam masa peralihan menjadi remaja yang identik galau dalam pencarian jati dirinya. Mau nggak mau, situasi pada saat itu memaksanya menjadi dewasa sebelum usianya. Saat seharusnya banyak mendapatkan rangkulan  dan wejangan dari ibu, Simbak harus merelakan “hak” nya direnggut oleh adik-adiknya. Dan juga oleh kesibukan yang terpaksa harus dilakukan Ibu, untuk mencukupi kehidupan kami.

Tapi, bukan Mbakyu saya kalau dia menyerah, atau nglokro begitu saja. Simbak bisa dibilang masih teguh dengan prinsip dan cita-citanya. Secara akademis, dia tetap bersinar,  dan masih aktif berkegiatan. Baik di lingkungan masyarakat maupun di sekolah. Ya, Simbak memang terbilang berotak encer dan pandai bergaul. Sejak dulu, dia jagonya Matematika, Biologi sama Bahasa Inggris. Mungkin kalau sekarang sudah nggak lagi. Tapi sepertinya, keahlian itu nurun sama anak-anaknya. 

Yang sama sekali nggak berubah itu, hobi membacanya. Dulu,  jaman kacamata masih langka di desa saya, Simbak ini sudah minus 3. Jaman dulu, apalagi di kampung, orang pakai kacamata pasti dikira gaya. Atau nggak biar keliatan pinter. Kenyataannya, Simbak memang pintar dan sangat suka membaca, malahan sejak kecil kata ibu saya. Dia bisa tahan berhari-hari di dalam rumah, asalkan ada stok buku bacaan.
 
  
Jer Basuki Mawa Beya”

Dulu, pada jaman kelulusan Simbak, karena informasi beasiswa belum terlalu banyak seperti sekarang. Atau mungkin juga karena keluarga kami yang kurang lincah mencari informasi untuknya. Simbak pun harus pasrah dengan keadaan, melanjutkan pendidikan sampai jenjang diploma saja. Biaya pendidikan yang harus dibagi untuk 4 orang anak, membuat Ibu memutuskan, mengambil jalur pendidikan yang paling cepat. Biar bisa gantian sama adik-adiknya. Mungkin, begitu maksud Ibu saya.

Syukur, Alhamdulillah, kuliah diploma pun, dia bisa lulus dengan hasil memuaskan. Namun tak serta merta membuatnya mudah memasuki peluang yang tinggal selangkah lagi baginya. Setelah menjalani seluruh tes, ujian tulis serta interview dengan hasil di atas rata-rata, pada rekrutmen karyawan di sebuah bank milik BUMN. Simbak tak lantas bisa diterima begitu saja.  Lagi-lagi, kami harus dihadapkan dengan kesulitan keuangan. Pada saat itu ibu ditanya tentang kesanggupannya mengisi “amplop” . Ya, pada saat itu, kami tak merasa heran dengan hal-hal seperti itu. Kami sangat mahfum, maka dengan berbesar hati Simbak pun mundur.

Menikah pada usia muda

Rupanya, Allah memang sudah menggariskan baginya harus hijrah ke Yogyakarta. Di tempat kerjanya itulah Simbak bertemu dengan suami, yang sekarang menjadi Bapak dari ketiga anaknya. Bukan kebetulan juga, jika seorang mahasiswa yang masih terdaftar di fakultas Teknik, UGM, menjadi teknisi komputer di kantornya. Ya, gak usah tanya kenapa. Lha, memang begitulah cara Allah mempertemukan Simbak dengan jodohnya. Witeng Tresno, Jalaran Soko Sering Ketemu, Ngobrol, Trus Surat-surat. Hahahahah.....

Umumnya, bagi sebagian orangtua tunggal. Melepas anak gadis berusia 21 tahun untuk menikah dengan seorang mahasiswa, harusnya tidak mudah. Lha jangankan mapan, kakak ipar saya itu. wisuda saja belum, kerja juga masih freelance. Koq berani-beraninya ngelamar anak orang. Tapi, karena memang Ibu saya itu tipe orangnya sangat visioner. Jadi ya yakin saja. Bahwa hidup akn berpihak untuk mereka yang berjuang. Jadilah Ibu memberikan restunya, atas pinangan untuk Simbak.

Dengan mengucap Bismillah, akhirnya Simbak pun menikah. Kami menangis haru sekaligus bahagia. Haru karena harus menikahkan anak pertama tanpa suami dan ayah. Bahagia karena telah mengantarkan seorang anak dan kakak ke gerbang kehidupan yang sebenarnya. Khawatir? Untungnya itu bukan sifat Ibu kami. “ Rezeki sudah diatur, asal mau usaha, pasti menjadi jatahnya”


Simbak saat usia 20an, setelah melahirkan anak kedua (kiri)


19 tahun menjadi Ibu Rumah Tangga

Naik turun kehidupan rumah tangga telah dialaminya. Sembilan belas (19) tahun mendedikasikan diri untuk keluarga, tentu saja bukan hal yang mudah. Masalah demi masalah datang silih berganti. Untungnya, semua itu tak sedikit pun meninggalkan keraguan baginya, untuk terus melanjutkan komitmennya sebagai Ibu Rumah Tangga. 
 
Semenjak awal pernikahan, Simbak dan suami memang telah berkomitmen untuk membagi peran dalam rumah tangga. Jika yang satu bekerja di luar, yang lain harus berada di rumah. Komitmen ini seolah menjadi energi tersendiri baginya dikala harus menghadapi berbagai cobaan.Tentu ada masanya ketika mengalami labil secara emosi. Wajarlah, namanya juga manusia. Namun, seiring bertambahnya usia, Simbak terlihat semakin menarik secara kepribadian. Karakternya pun semakin kuat. 

Mungkin, inilah yang dimaksud usia cantik bagi seorang wanita. Tak lagi muda, namun kecantikannya semakin terpancar, dalam wujud kepribadian yang menawan.

Memaknai kecantikan, saat usia tak lagi muda

Pernah suatu ketika Saya bertanya kepadanya.  

"Mbak, nggak kepengen balik masa-masa muda lagi, po? Pas masih cantik kinyis-kinyis?
"Nggak, lah!" begitu mantap dia menjawabnya.
  
Wajarlah, Simbak sudah merasakan nyamannya sebuah kecantikan dalam kematangan emosi dan tindakan. Kalau harus balik muda lagi, artinya harus melalui masa-masa labil itu kembali. Nggak banget, katanya. 

Menurutnya, yang sedang berada di puncak kedewasaan. Kecantikan seorang wanita  tidak hanya dilihat dari kadar fisiknya. Namun harus dilihat dari personalitynya secara keseluruhan. Akhlak, karakter, kemampuan membawa diri, kecerdasan emosi dan juga isi di dalam otaknya. Sangat menentukan kecantikan wanita dewasa.

Kalaupun tidak berdandan dalam arti merias diri. Menjaga kecantikan tetap harus  dilakukan oleh seorang wanita. Baik merawat yang di dalam (ruhnya) juga yang diluar (kulit, kondisi badan, kesehatan dan sebagainya). Intinya, kecantikan seorang wanita harus dipandang secara menyeluruh, jangan hanya dari segi fisik saja. Begitu pula dalam hal merawatnya, harus menyeluruh juga. Sehingga merawat akhlak dan kecantikan fisik adalah satu kesatuan bagi seorang wanita. Ahh .. Ademnya hatiku.
Semakin produktif saat anak-anak beranjak remaja

Tahun ini, Simbak genap berusia 40 tahun. Selain lebih matang secara emosi, Simbak terlihat semakin percaya diri. Lha, koq bisa? Menurutnya, ada beberapa hal yang memengaruhi itu semua. Diantaranya:
  1. Merasa semakin kaya pengalaman. 
  2. Lebih bisa menerima diri dan tahu kondisi terbaiknya. 
  3. Sedang sangat menikmati peran strategisnya sebagai Ibu Rumah Tangga, 
  4. Lebih mudah berdamai dengan keadaan. 
  5. Semakin pandai mengatur waktu, sehingga aktualisasi diri cukup terpenuhi.

Untuk mengisi hari-harinya yang lebih banyak sendiri pada siang hari. Simbak mulai memberanikan diri untuk mengambil peran di luar rumah. Selain aktif mengurusi komite sekolah tempat belajar anaknya. Dia juga aktif berkegiatan di pengajian, serta mengkoordinir Taman Pengajian Quran di  komplek perumahannya.
Tentu saja dia tidak setengah-setengah melakukannya. Karena memang tipenya selalu total dalam menjaga amanah. Seperti halnya dalam menjalankan peran strategisnya di rumah

Aktif di kegiatan komite sekolah dan pengajian



Kedewasaan secara emosi, memengaruhi prioritas seorang Ibu dalam membentuk karakter anak

Menjadi madrasah pertama bagi ketiga anaknya, tentu saja mendorongnya untuk tak malas dalam mengupdate informasi yang sedang berkembang. Tidak bisa dipungkiri memang, menjadi orangtua pada jaman yang serba digital ini, otomatis menuntut orangtua melek gadget, socmed dan harus update trend terkini

Simbak pun tak mau tertinggal, demi tetap menjaga posisinya sebagai teman terbaik anak-anaknya. Dia tak pernah malu, apalagi segan untuk sekedar minta diajari teknologi terbaru oleh anaknya. Namun, untuk urusan pendidikan karakter. Dia tegas dan tak mau tawar menawar. Setelah urusan agama yang dijadikan prioritas utama, masalah akhlaq, tata krama, keterampilan dan kemudian akademis yang menjadi konsennya terhadap anak. 

Ini semua dilakukannya semata-mata karena menyadari, bahwa membekali anak dengan ilmu agama, kemudian mengolah ruhnya. Menjadi pertanggung jawaban utama baginya di hari akhir kelak. Sedangkan kemampuan untuk membawa diri, pengendalian emosi, dan keterampilan sesuai dengan passion mereka, merupakan hal yang jauh lebih penting ketimbang hanya mementingkan kemampuan akademisnya.

Bersama anak ketiga




Menyikapi #UsiaCantik

Bagi semua wanita, begitu pula Simbak. Yang namanya umur semakin bertambah, pastinya kondisi fisik mengalami penurunan. Itu manusiawi, bukan? Begitu pun yang dirasakannya. Menjelang usia 40, Simbak merasakan energinya sudah tidak seperti dulu lagi. Untuk itulah dia merasa butuh untuk teratur berolahraga, mengonsumsi makanan sehat dan istirahat harus cukup

Selain itu, permasalahan kulit yang kerap menjadi momok wanita, juga dialaminya. Seperti jerawat dewasa, flek, kerutan, dan berkurangnya elastisitas kulit wajah. Untuk mengatasi permasalahan itu, Simbak rutin membersihkan wajah dan selalu memakai pelembab untuk menjaga kulitnya agar terlindung dan terhidrasi

Meskipun sederhana, perawatan wajah dan tubuh dari luar terbukti membantu menjaga kulit sehat. Tapi, akan lebih maksimal jika ditunjang dengan asupan dan pola hidup yang sehat. 

Faktor psikis juga sangat membantu menjaga seseorang awet muda. Apalagi, jika dapat menyikapi pertambahan usia ini secara positif dan penuh rasa syukur. Yang terjadi justru masa indah dan bahagia terjadi pada saat #usiacantik. Saat tak lagi muda, namun hatinya semakin mempesona.
"Secara fisik, mungkin memang aku lebih cantik saat berada di usia 20an. Masa-masa menjadi ibu muda yang sedang mencari pola. Masalah kulit dan kesehatan pun, hampir tidak ada. Tapi, justru sekarang aku merasa di puncak kepercayaan diri. Saat umurku sudah sampai di angka 40. Aku merasa cantik, muda, enerjik dan aktif. Mungkin terdengar naif, tapi that's true!. Tunggu saja usia cantikmu, dan rasakan betapa hidup memang baru dimulai saat usia mencapai 40."
Hahahahaha... dan saya pun membayangkan hari di mana usia saya 40 tahun.
Bersama suami (paling kanan) dan anak kedua(tengah)


Pesan untuk mereka yang sedang berada di #UsiaCantik

Memasuki usia cantik, sering dimaknai berbeda dari usia lainnya, Ada reaksi fisik dan psikologis yang mungkin akan mengiringi usia ini. Reaksi yang diambil sangat bergantung pada pemahaman seseorang terhadap kehidupannya. 

Jika banyak bersyukur, maka kita akan menyadari bahwa kebahagiaan sejati datangnya dari hati yang bahagia dan penuh syukur pada Tuhannya.

Tetap mengembangkan diri, karena memandang bahwa kehidupan ini sebagai suatu masa untuk tumbuh dan menjadi dewasa.

Berbagi kebahagiaan dengan orang lain, serta mencintai diri sendiri. Merupakan self healing yang tidak ada tandingannya.

Menjaga gaya hidup sehat,  agar sisa usia tetap produktif dan bermanfaat untuk diri sendiri, keluarga dan orang lain.

Saat ini, Simbak memang sedang berada pada puncak kedewasaannya sebagai wanita. Tenang dalam bertindak, matang dalam mengambil keputusan, dan memiliki lebih banyak waktu untuk mengaktualisasi diri. Di usai yang tidak lagi muda,  dia telah menemukan kecantikan yang tidak hanya sekedar penilaian fisik saja. Maka, tidak salah jika Simbak menolak kembali muda. Karena di #usiacantik ini, hidupnya sedang dalam kebahagiaan yang sesungguhnya.
 


“Lomba blog ini diselenggarakan oleh BP Network dan disponsori oleh 
L’Oreal Revitalift Dermalift.”




Be First to Post Comment !
Post a Comment

Hallo! Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya. Semoga bermanfaat. ^-^

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Custom Post Signature

Custom Post Signature