A Story of Mom, Wife, Daughter and Woman

Menolak Dilemahkan Neuropati

|
Pagi itu seperti biasa, setelah mengantar Najwa ke sekolah, saya istirahat sejenak sebelum melanjutkan pekerjaan rumah yang belum sempat terselesaikan. Duduk bersila dengan posisi badan setengah rebah di kursi panjang yang kami atur tepat di bagian tengah ruangan. Memungkinkan kami mendapat udara segar dari depan dan halaman atas. 

Akhir-akhir ini udara Jakarta lumayan bersahabat. Cerah, berangin tapi nggak terlalu panas. Untuk sesaat, saya menikmati hembusan angin yang melenakan. Membuat saya terpejam dalam tidur singkat yang saya pikir jauh lebih berkualitas dibanding tidur semalam yang terus bergelut dengan si kecil yang sedang kurang sehat. 



"Ibuk!... " Seketika saya terperanjat setelah Najib memanggil setengah berteriak. Sadar telah ketiduran, saya pun bergegas bangun untuk mencari arah datangnya suaral. Namun, tiba-tiba kaki saya susah untuk digerakkan. Sakit dan kesemutan. Saya kembali meluruskan kaki dan memijatbetis dan telapak kaki. Hal ini saya lakukan dengan tujuan melancarkan peredaran darah. Dan benar saja, setelah beberapa saat, kondisi kaki kembali ringan. Saya pun segera bergegas mencari Nak Bujang.

Kesemutan seperti ini bukan pertama yang saya rasakan. Sudah beberapa kali saya mengalaminya. Terlebih saat tubuh sedang capek, terlalu banyak duduk bersila, posisi kaki menggantung, atau tidak melakukan peregangan otot sebelum berolahraga. 

Kesemutan juga pernah saya alami saat berada di dalam commuterline jurusan Jakarta-Bogor. Berdesakan dalam waktu lama di antara puluhan penumpang lainnya. Ditambah beban berat menggendong Najib yang sedang tidur terlelap. Kontan saja kaki saya kesemutan, dan tangan kiri yang menjadi tumpuan  kepala Najib pun terasa kebas. Tidak bisa merasakan apa-apa.

Berkali-kali suami mengingatkan agar tidak menganggap sepele gangguan kesehatan yang disebabkan kesemutan. Apalagi jika tangan mulai tidak bisa merasakan apa-apa, seperti mati rasa. Aktivitas saya jadi sangat terganggu. Kekuatan otot tangan melemah, pekerjaan pun tak bisa tuntas.

Memang hal seperti ini tidak bisa diabaikan begitu saja. Apalagi gejala yang saya alami merujuk pada gangguan sistem saraf. Atau dalam istilah kesehatan biasa disebut Neuropati. Faktor pemicunya pun sangat bervariasi. Bisa jadi karena adanya trauma pada bagian saraf tertentu, gejala penyakit kronis atau kekurangan vitamin.

Awalnya saya pikir gangguan saraf seperti yang saya alami hanya akan terjadi pada orang-orang dengan jenis pekerjaan banyak duduk diam, misalnya karyawan kantoran. Barulah sekarang, setelah mulai care dan waspada dengan gangguan Neuropati. Saya mulai mengumpulkan banyak informasi mengenai gejala, penyebab maupun penanganannya. Salah satunya disebabkan karena gaya hidup dan aktivitas sehari-hari. Di mana 4 dari 5 penyebabnya, sudah menjadi rutinitas sehari-hari bagi saya.



1. Memasak

Kesibukan sehari-hari sebagai Ibu Rumah Tangga tentu saja membuat saya tak bisa lepas dari kegiatan memasak. Kegiatan ini memang sepertinya ringan, namun secara tidak langsung proses yang dibutuhkan untuk menghasilkan makanan memang tidak sebentar dan melelahkan meskipun tidak kelihatan menguras tenaga.

Sumber gambar : slipbiz.com



2. Mengendarai Motor

Teman-teman pasti sudah tahu istilah MommyJeg kan? Nah, itu adalah salah satu pekerjaan saya sehari-hari. Mengantar dan menjemput anak ke sekolah, ditambah belanja dan mengantarkan ke tempat kursus. Bisa dibilang frekuensi berkendara saya sangat padat. Ditambah membawa balita usia 2,5 tahun yang kadang harus saya gendong saat dia mulai ngantuk. Berkendara motor menjadi tidak semudah dan selincah yang orang lain lakukan. Kebiasaan menggendong sambil berkendara ini juga yang paling sering menjadi pemicu tangan kebas atau kaki kram.

3. Menggunakan Gadget

Selain sebagai selingan di antara padatnya pekerjaan rumah, saya selalu menggunakan gadget untuk beberapa keperluan. Selain komunikasi dengan keluarga, teman atau sesama penulis. Saya aktif menggunakan akun media sosial untuk membagi informasi dan mengikuti beberapa trainig yang dibimbing secara online.



4. Mengetik

Mengetik merupakan salah satu aktivitas sehari-hari bagi saya, meskipun punya gelar Ibu Rumah Tangga murni. Tanpa embel-embel pebisnis atau freelancer lainnya. Hanya saja, akhir-akhir ini hobi saya di dunia kepenulisan mulai membuka peluang untuk mulai menjajaki bidang lain. Tentu saja yang bisa beriringan dengan tugas utama mengasuh dan mendidik anak.

Hobi menulis membuat saya betah berlama-lama di depan laptop. Kebiasaan ini sempat membuat saya mengalami nyeri di bagian tengkuk dan sakit kepala berat. Sejak hari itu saya mulai menerapkan jadwal harian dan disiplin menjalankannya. Ya, meskipun tidak ada bos yang mengawasi, setidaknya ini menjadi salah satu cara agar tetap produktif tanpa perlu bersakit-sakit.

5. Memakai High Heels



Kalau yang satu ini, saya hampir tidak pernah menjadikannya kebiasaan. Di rumah pun hanya ada satu pasang sepatu pesta dengan heels tak lebih dari 5 cm. Khusus dipakai saat harus menghadiri pesta pernikahan atau undangan lain yang bersifat resmi. Nah, buat teman-teman yang hobi nge-heels sebaiknya mulai waspada sedari dini.

Selain 5 rutinitas di atas, beberapa hal lain diklaim dapat memicu terjadinya serangan Neuropati. Di antaranya karena kekurangan vitamin neurotropik (yaitu vitamin B1, B6, B12), menderita diabetes, sedangkan yang terakhir akibat penurunan fungsi syaraf yang disebabkan karena bertambahnya usia.


Bagaimana Mencegah dan Menangani Neuropati?

Setelah menyadari bahwa gangguan saraf ini bisa berujung melemahnya fungsi saraf yang secara otomatis melemahkan aktivitas saya. Maka saya putuskan melawan, menolak menjadi lemah karena Neuropati. Berbekal niatan kuat menjadi IRT yang terus produktif dalam jangka panjang, saya putuskan mengikuti pola hidup sehat.

Berikut adalah beberapa cara yang mulai saya terapkan pada diri sendiri

1. Rutin berolahraga

Selain meningkatkan kekuatan otot, olahraga terbukti dapat mengendalikan gula darah, mencegah kram dan kaku, sehingga mengurangi rasa sakit. Pilihan olahraga yang saya lakukan pun cukup ringan. Seperti berjalan, bersepeda, atau zumba dan yoga bermodal tutorial dari CD.

2. Refleksi dengan cara berjalan di atas bebatuan

Biasanya saya melakukan refleksi ini seminggu sekali. Kebetulan di dekat rumah kami tersedia taman terbuka yang menyediakan tempat refleksi batu. Sering berjalan di atas bebatuan bulat tanpa alas kaki dapat menjaga keaktifan saraf tepi, meningkatkan sirkulasi dalam darah dan metabolisme. Serta membuang toksin dalam tubuh. Sebenarnya semakin sering melakukan terapi ini manfaatnya semakin terasa. Tapi minimal 2 kali seminggu sudah cukup membantu.
3. Mengatur pola makan

Cara yang kedua ini bisa dibilang paling sulit untuk saya terapkan. Mengapa? Karena saya sangat hobi makan, jajan dan mencoba-coba. Meskipun saya sadar betul makanan dan minuman yang kita konsumsi merupakan salah satu penyumbang penyakit yang menggerogoti badan.

Pixabay


4. Menjaga kadar gula darah

Meskipun tidak mengidap diabetes, ada baiknya kita tidak lengah dalam menjaga batas normal kadar gula dalam darah. Bagaimana pun juga, kadar gula yang tinggi dapat memicu kerusakan serat-serat saraf akibatnya timbul keluhan kram atau kesemutan.

5. Mengonsumsi vitamin Neurotropik atau vitamin B1, B6 dan B12

Selain berfungsi melindungi dan meregenerasi saraf sehingga bekerja dengan baik, vitamin Neurotropik sangat aman dan tidak menimbulkan efek samping. Itu sebabnya saya mengonsumsi vitamin jenis ini rutin sehari sekali. Berbeda dengan jenis vitamin lainnya, vitamin B larut  dalam air dan diserap tubuh dalam kadar kurang dari dua persen. Teman-teman tidak perlu khawatir untuk mengonsumsinya dalam jangka panjang.






Neurobion sebagai vitamin Neurotropik pilhan

Nah, kalau sudah bicara vitamin B atau vitamin Neurotropik, maka pilihan saya jatuh pada Neurobion Forte (berwarna pink). Sedangkan Neurobion sendiri terdiri dari dua varian, yaitu Neurobion Forte seperti yang rutin saya konsumsi, dan Neurobion putih.

Fungsi keduanya hampir sama, yang membedakan hanyalah  kandungan/gramasi vitamin B6 & B12-nya. Untuk Neurobion putih, kandungan vitamin B6 & B12-nya sebesar 200 mcg, sedangkan  kandungan vitamin B6 Neurobion Forte (Pink) sebesar 100mg dan vitamin B12-nya sebesar 5000 mcg (5 mg). 

Untuk kandungan vitamin B1 sama, yaitu 100mg. Neurobion terdiri dari Vitamin B1, B6 dan B12 yang secara garis besar berfungsi membantu metabolisme glukosa, protein dan lemak dalam tubuh, membantu pembentukan sel darah merah dan juga membantu memperbaiki kerusakan pada sistem saraf.

 
Dosis yang dianjurkan
Untuk pemeliharaan/gejala neuropati ringan dapat diberikan Neurobion putih. Untuk gejala neuropati sedang/berat yang sudah mengganggu aktivitas sehari-hari dapat digunakan Neurobion Pink. Prinsipnya, vitamin B adalah makanan saraf. Dan vitamin B direkomendasikan untuk dikonsumsi setiap hari, 1 x 1 tablet per hari, supaya saraf tetap sehat dan mencegah terjadinya neuropati (gangguan pada saraf).



Alasan memilih Neurobion

Neurobion sudah menjadi andalan keluarga besar saya untuk urusan menambah asupan vitamin B. Karena sudah merasakan sendiri manfaat yang diperoleh oleh tubuh, maka vitamin ini bersifat turun-temurun. Selain itu pabriknya juga sudah terpercaya, sehingga kami merasa nyaman tanpa khawatir dengan obat palsu saat mengonsumsinya. 





Nah, teman-teman. Sudah saatnya kita lebih waspada dengan serangan Neuropati. Karena bukan tidak mungkin, gangguan saraf yang satu ini dapat menyerang siapa saja. Satu-satunya cara adalah dengan melawan, yaitu dengan mencegah, melakukan deteksi awal dan melakukan penanganan yang tepat.

Salam sehat dan lawan neuropati sedini mungkin!






Belajar Gengsi dari Asnawi (Sarjana Penjual Gorengan)

|
Indonesia patut bangga. Saat sebagian besar anak muda merasa GENGSI dengan gadget model lama, atau model fashion yang sudah bukan trend-nya. Pemuda asal Bangka ini justru melupakan GENGSInya untuk berjualan gorengan di antara kesibukannya menimba ilmu di bangku kuliah.

Ya, jika grup band Gigi punya 11 Januari, maka Asnawi punya 11 Februari sebagai hari bersejarahnya. Resmi menjadi Sarjana Ekonomi dengan IPK 3,39 dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Dia tidak hanya membuktikan bahwa semua orang berhak mengubah nasibnya. Bahwa siapapun bisa sukses asal ada kemauan. Bahwa masih banyak generasi kita yang bermental pejuang. Suatu sikap mental yang mulai luntur, bahkan butuh usaha yang tak sedikit untuk mengupayakannya.

Sumber gambar : Hipwee

Perjalanan Asnawi, Sarjana Penjual Gorengan.

Sempat putus sekolah selepas menamatkan pendidikan di jenjang menengah pertama. Asnawi tak gentar untuk kembali ke bangku SMA saat usianya tak semuda teman-temannya. Di bangku SMA inilah niatnya untuk mencicipi pendidikan di Kota Pelajar mulai tumbuh.  Berkat program pertukaran pelajar yang diikutinya pada tahun 2010. 

Berbekal kemauan dan komitmen yang tinggi dan disiplin diri. Asnawi sangat lihai membagi waktu antara berbelanja kebutuhan berdagang, kuliah, menjajakan gorengannya, belajar dan tak lupa ibadah. Saya kira manajemen waktunya sangat ketat, padat namun tebukti membawa manfaat. 

Masih berbekal impian yang suci, Asnawi berencana untuk melanjutkan pendidikannya hingga ke jenjang S-2 ke luar negeri. Meskipun untuk saat ini dia ingin pulang kampung dulu. Berharap bisa bekerja di daerah asalnya dan membantu usaha orang tua. Sembari mencari peluang untuk mendapatkan beasiswa S-2. 

Ulet, berkemauan dan tak kenal gengsi. Maka tak salah jika kita aminkan cita-citanya menjadi presiden di tanah pertiwi. Amin.. Karena semua berawal dari MIMPI. Bahkan saat sebagian orang mulai ragu dengan mimpi-mimpinya, Asnawi berani mengucapkan impian ini.


GENGSI Tak Membuat Hidupmu BerGENGSI

Belajar dari pengalaman Asnawi, atau Asnawi-Asnawi lain di seluruh penjuru negeri ini. Saya merasa perlu untuk mengingatkan diri saya sendiri, bahwa gengsi tak dapat membeli apapun, terlebih mimpi-mimpi masa kecil saya. Gengsi tidak akan membuat hidup saya lebih bergengsi. 

Ya, saya juga manusia biasa yang sering khilaf. Sering kali saya nggak mau yang inilah, itulah. Alasannya ecek-ecek banget. GENGSI! Saat sudah berkepala tiga dan beranak dua pun, saya masih sering menjadikan gengsi sebagai alasan yang paling klasik. *tutupmuka. Nauzubillah, semoga anak-anak tidak menurun sifat buruk saya.


Menumbuhkan Mental Pejuang pada Anak

Sebenarnya, semenjak kecil saya sudah dididik jauh dari sikap gengsi. Dibesarkan seorang ibu single parent dengan 4 orang anak. Bekerja membantu ibu saya menggoreng tempe, tahu dan heci (bakwan sayur) sejak kelas 6 SD. Saya merasa mulai kebal dengan budaya gengsi.

Namun begitulah mengapa Tuhan membekali manusia dengan akal dan nafsu. Ada saatnya nafsu mengalahkan akal sehat saya. Ketika merasakan hidup sedikit membaik, penghasilan lumayan dan cukup untuk sedikit merubah gaya. Maka saya pun berpikir mampu membeli gengsi. Satu bentuk kebodohan yang tak ingin saya ulangi.

Kini, tak ubahnya orang tua dulu mendidik. Saya pun bertekad menjauhkan anak-anak dari budaya GENGSI.  Bersyukur kemauan ini di-aminkan oleh suami. Sehingga kami tak perlu berkompromi satu sama lain. Menumbuhkan mental pejuang pada anak-anak menjadi sangat penting di tengah gempuran  hedonisme, budaya konsumtif dan pencitraan yang tak kunjung berhenti.

Anak harus dilatih menghadapi kehidupan yang sesungguhnya di luar sana. (Gamar : Pixabay)


Kami merasa sadar sebagai orang tua masih fakir ilmu, jauh dari sempurna. Tapi bersama anak-anaklah kami belajar. Banyak hal ingin kami tanamkan, ajarkan dan tumbuh kembangkan pada anak. Tapi untuk urusan sikap mental, kami sadar harus menjadi prioritas.

Pembentukan mental anak bukan hanya dasar, namun juga modal bagi  untuk terjun dan survive dalam kehidupan yang sesungguhnya, yaitu lingkungan masyarakat luas. Bagaimana mereka harus menghadapi masalah, menyikapi perbedaan, menyelesaikan konflik, menerima kekalahan, memaknai kemenangan dan mensyukuri nikmat dari Tuhan.

Sikap-sikap dasar yang kami pun sebagai orang tua masih jauh dari panggang. Kami pun masih sering terbawa arus emosi, egois, frustasi, kurang kompromi. Yang nyata-nyata sama sekali tak menguntungkan untuk diikuti. Jadi menjauhkan anak-anak dari kebiasaan itu sungguh tantangan berat yang kami hadapi.

Masa depan tak dapat ditebak. Tugas orang tua menyiapkan anak untuk menghadapinya. ( Gambar : Pixabay)


Jadi berbahagialah teman-teman yang telah memiliki cukup 'modal' untuk putra-putrinya. Saya yakin, kita semua BISA karena TERBIASA. Dan MAMPU karena MAU BERUSAHA.

Selamat berjuang di medan laga kehidupan! ^_^





Permasalahan yang Kerap Dihadapi Ibu saat Menyapih

|



Sudah dua kali menyapih, ternyata tak membuat saya bebas dari permasalahan seputar sapih-menyapih. Empat tahun yang lalu, saat menyapih Najwa, bisa dibilang permasalahannya tidak terlalu berarti. Selain karena anaknya lebih mudah disapih dibanding adiknya. Najwa juga sudah mulai mengonsumsi susu botol. Ya, saya ibu yang gagal memberi ASIX pada anak perempuannya.*senyumkalem


Menyapih Anak Pertama.

Soal sapih menyapih, bisa dibilang sangat mudah bagi saya menyapih Najwa. Meskipun masih menggunakan cara lama, saya pakai plester saat menyapih Najwa. Tapi, Najwa bisa diberi pengertian sejak kecil. Sehingga dia dengan mudah langsung bilang, "nggak mau nenen lagi, karena nenen ibuk sakit." Cukup sekali plester, tanpa perlu rayuan dari ayahnya yang saat itu masih tinggal terpisah dari kami berdua.

Masalah setelah menyapih pun cenderung ringan. Najwa tak mengalami perubahan emosi pasca disapih, atau memiliki rutinitas baru seperti halnya Najib. Semua berjalan seperti biasa tanpa ada acara rewel berkepanjangan. Saya pun hanya dua kali mengalami bengkak pada payudara. Sekali di kantor, yang kedua pas sedang perjalanan dinas ke luar kota. Lumayan bikin keringat dingin yang kedua. Karena saat itu saya sedang menghadiri rapat dengan BOD.

Secara psikis, saya pun tidak terlalu galau pasca menyapih. Kalau perasaan ada yang kurang atau kangen suasana menyusui, itu sudah pasti ada. Saya yakin semua ibu menyusui pasti merindukan masa-masa itu. Hanya saja karena saat itu pekerjaan saya sangat padat, perhatian saya banyak teralihkan dengan dateline dan tugas-tugas kantor yang lain.


Menyapih Anak Kedua

Nah, lain anak lain pula pengalamannya. Meskipun berasal dari perut yang sama, yang sampai hari ini masih bergelambir lemak di mana-mana. Lah ... Malah tsurhat. *nyengir. Tapi tantangan yang saya hadapi saat menyapi anak kedua totally different dengan anak pertama.

Kalau dibilang karena faktor kedekatan yang berbeda, sebenarnya nggak juga. Meskipun saat Najwa kecil saya bekerja dan memakai jasa pengasuh untuk membantu merawatnya. Saya dan Najwa nggak pernah kekurangan quality time berdua. Tapi, beda memang saat anak kedua ini. Selain saya full di rumah, kami hanya tinggal berempat, tanpa ART atau anggota keluarga lain. Otomatis sejak lahir sampai hari ini Najib lebih banyak nempel saa saya. Faktor ini mungkin yang menyebabkan dia tidak hanya dekat, tapi cenderung tergantung sama saya. Akhirnya drama menyapih pun menjadi luar biasa.

Oh ya, cerita mengenai menyapih anak kedua ini sudah sata share di blog post Lika-Liku Menyapih Anak, ya.  Begitu pun mengenai tumbuh kembangnya pasca disapih. Sudah saya posting juga dengan judul "Najib dan Tumbuh Kembangnya Pasca Disapih". Silakan berkunjung ke sana untuk membaca sedikit pengalaman saya bersama anak kedua.

Permasalahan yang Dihadapi Ibu saat Menyapih

Penting banget bagi teman-teman yang berencana menyapih, untuk menjaga kondisi tubuh selalu fit. Atau menunda sementara rencana menyapih saat kondisi baik ibu maupun anak sedang kurang baik. Mengapa? Karena saat proses menyapih, biasanya baik ibu maupun anak akan mengalami beberapa masalah. Terlebih bagi ibu, yang kadang harus demam akibat payudara yang bengkak.

Permasalahan ini tidak selalu terjadi pada setiap ibu yang menyusui. Tapi berdasarkan pengalaman saya menyapih dua anak, juga cerita sesama busui. Setidaknya ada 3 masalah yang kerap dialami ibu pasca menyapih.

1. Payudara bengkak

Sumber gambar : Vemale(dot)com


Kondisi ini hampir pernah dialami oleh semua ibu menyusui. Payudara bengkak, akibat ASI terlalu penuh. Menurut ibu-ibu yang menyapih dengan cara perlahan atau WWL, masalah ini umumnya jarang terjadi. Ya, karena pengosongan payudara terjadi secara perlahan. Seiring berkurangnya frekuensi menyusu, maka rangsangan pada kelenjar payudara pun menurun. Sehingga secara otomatis produksi ASI menurun dan pengosongan payudara pun terjadi.

Namun, tak sedikit juga yang mengalami pembengkakan pada payudaranya pasca menyapih. Saya pun mengalaminya saat menyapi anak pertama dan kedua. Pada saat menyapih anak kedua bahkan berlangsung hingga hampir dua minggu. Setiap 2 hari sekali payudara terasa berat dan panas. Bahkan sempat jatuh sakit dan demam.

Solusinya

- Kompres dingin dan hangat secara bergantian

Untuk mengurangi rasa sakit akibat bengkak pada payudara, saya melakukan kompres dingin dan hangat secara bergantian. Kompres dingin untuk mengurangi nyeri dan panas. Sedangkan kompres hangat untuk mengendurkan kelenjar payudara yang menegang. Cara ini lumayan efektif dan dapat menimbulkan rasa nyaman.

- Perah ASI sedikit untuk mengurangi isinya

Secara teori sih, kalau payudara diperah justru akan memicu produksinya. Tapi saya nekat saja, memerah sedikit untuk mengurangi isinya. Saya lakukan saat payudara terasa mulai membengkak saja, dan nggak sampai benar-benar kosong. Hanya 100-150 ml saja. Lumayan membantu mengurangi rasa sakit. Selama dua minggu, 4 kali saya memerah ASI. Selebihnya payudara sudah terasa semakin kosong. Jadi nggak bengkak lagi.

2. Emosi tidak stabil

Kelelahan dan emosi tidak stabil. (sumber gambar: Vemale(dot)com)


Seperti halnya saat mulai memberi ASI, saat menyapih pun kondisi emosi ibu sering tidak stabil. Ada rasa bersalah atau kehilangan. Faktor perubahan hormon pada ibu pun memiliki pengaruh besar pada perubahan emosi ini. Jujur untuk masalah yang kedua ini saya mengalaminya. Makanya saya sampai dua kali gagal menyapih, baru yang ketiga berhasil. Itupun berkat dorongan dengan sedikit dipaksa suami.

Momen bercanda bersama anak saat menyusu selalu membuat rindu. Belum lagi kalau anak rewel atau sakit, saya masih sering merasa bersalah, karena tidak dapat mendekapnya sambil menyusui. Situasi seperti ini sering kali memuat emosi naik turun. Sebentar tenang, tiba-tiba diam dan menangis.

Solusinya

Selalu bersikap tenang, terlebih saat anak rewel. Usahakan untuk menarik napas dalam-dalam. Hibur diri sendiri dan yakinlah bahwa ini hanya sementara. Minta bantuin suami saat anak mulai rewel, cara ini bisa sedikit mengalihkan perhatian kita pada rasa bersalah.

Istirahat cukup, kondisi fisik yang lelah sangat mudah memicu emosi ibu. Usahakan ikut tidur saat anak tidur. Tidak perlu lama, yang penting cukup untuk mengembalikan stamina. Selebihnya kita bisa melakukan aktivitas yang disukai untuk membuat suasana hati pulih kembali.

3. Perubahan berat badan



Pasca menyapih, berat badan ibu bisa saja naik atau bahkan turun.  Hal ini dipengaruhi metabolisme tubuh dan aktivitas masing-masing ibu. Kalau saya cenderung naik *tutupmuka.

Solusinya

Jaga pola makan dan aktif bergerak. Sepertinya dua cara ini paling ampuh membabat habis lemak di sekujur tubuh ibu-ibu bergajih seperti saya. Uhuk... Tapi, berdasarkan pengalaman anak pertama sih, ini tidak berlangsung lama. Beberapa bulan setelah menyapih Najwa dulu, berat badan saya normal kembali. Malahan cenderung lebih langsing. Semoga kali ini jadi langsing juga. 

Bisa jadi perubahan berat badan ini dipengaruhi faktor hormon dan psikis. Segera setelah hormon tubuh kembali normal, pikiran lebih tenang dan terbentuk ritme baru yang lebih bersahabat. Maka berat badan pun akan kembali ideal. I Hope...


Nah, demikian pengalaman saya setelah melalui dua kali menyapih. Saya sarankan teman-teman pakai metode WWL aja sih, karena lebih aman dan nyaman untuk ibu dan anak. 

Kalau teman-teman bagaimana pengalamannya? Boleh share, dong! ^_^




Najib dan Tumbuh Kembangnya Pasca Disapih

|

Hari pertama pasca disapih, saya merasa surprise dengan aksinya mengayuh/menggowes sepeda. Tiba-tiba saja Najib turun dari gendongan ayahnya, berjalan menuju tempat sepedanya diparkir berjejer dengan dua sepeda lainnya. 

Tidak seperti biasanya, dia langsung naik dan menggowes. Wah, Adik hebat! begitu seru kami secara bersamaan. Najib memang mulai tertarik bersepeda sejak mulai lancar berjalan. Tentu saja sepeda roda tiga yang saya maksudkan. Namun, selama ini dia hanya menggerakkan sepeda dengan cara menyeret memakai kedua kakinya. 

Alhamdulillah kaki Najib  kuat. Dia biasa menyeret sepeda sampai lumayan jauh, bahkan mengikuti kakak dan saudara sepupunya yang sedang menggowes juga. Hobi itu sudah lumayan lama. Sejak usianya sekitar 14 bulan.

Baca juga : Lika-Liku Menyapih


Rewel dan Sering Mengigau saat Tidur

Bermain pasi di Taman Legenda, TMII.

Hari-hari awal pasca disapih, tentu saja dia rewel nggak karuan. Ada saja yang jadi pemicu untuk nangis, terutama nenjelang waktu tidur. Ya, biasanya kan dia nenen, jadi langsung anteng di ketek saya, upss! Nah, sekarang dia nggak punya pelampiasan. Jadi semacam kurang kasih sayang gitu. Padahal kami justru sangat memerhatikan. Lha tapi namanya sedang galau, tetep saja dia nangis.

Kami berusaha merubah rutinitas sebelum tidur. Biasanya dia nenen sambil dengerin saya cerita. Sekarang saya ganti Najwa yang menemani. Sedangkan saya duduk di sampingnya  sambil membacakan buku cerita. Guling atau boneka saya sandingkan di sebelah tidurnya.  Bagaimana pun Najib butuh pengalihan, sesuatu yang bisa membuat nyaman atau dipeluk sewaktu tidur.

Pada awalnya, cara itupun tidak berjalan mulus.  Najib minta memegang payudara saya. "Egang doang, entar aja ya?" (pegang doang, sebentar saja ya) , begitu katanya. Memang sih, cuma sebentar, tapi saya nggak mau hal baru ini jadi kebiasaan. Jadi, hanya sekali dua kali saja saya turuti. Selebihnya tetep dengan rutinitas baru, yaitu dibacakan buku sebelum tidur. Ya, meskipun harus dengan merayu-rayu.

Saat tidur pun Najib jadi sering mengigau. Menangis memanggil ayah, kakak atau teman-temannya. Kejadian seperti ini berlangsung berulang-ulang dalam sekali tidur. Kadang-kadang malah sambil nangis dia bangun, berjalan memanggil teman-temannya. Ini bisa terjadi kapan saja,loh. Bahkan jam 12 atau 2 malam, kami biasa mengikuti dia yang terbangun sambil menangis trus minta dibukakan pintu rumah. Saya sempat khawatir dan nggak tega. Hampir menyerah begitu saja.

Demam Naik Kuda

Naik Kuda Poni di Taman Safari. Biasanya Kuda tunggang biasa di KBT.


Maksudnya bukan badan panas demam, ya. Ini beneran Najib jadi seneng banget naik kuda. Setiap nangis, selain mencari teman-temannya. Najib bakalan ngomong "naik Ik Ak!" Ik Ak adalah caranya melafalkan kuda. Saya sempat bingung mengartikannya. Baru sadar setelah Najib menunjukkan gambar kuda. Mungkin sebutan itu berasal dari cara kai menirukan suara kuda, Iiikkkaaaa ... Jadilah Najib menyebutnya  Ik Ak. Hehehe ... Waspada mengajari anak.

Tapi beneran dia jadi berani naik kuda sendiri, cuma ditemani abang-abang yang menuntun kudanya. Biasanya kan selalu didampingi ayahnya atau Najwa. Setiap lihat kuda juga selalu minta naik. Mainan  dan guling di rumah pun semua diibaratkan kuda. Jangan mainan, kamipun harus bergantian menjadi kudanya. Ckckckck .. payah banget yang terakhir ini.

Makan lebih banyak 

Selain perubahan emosi yang lumayan butuh diperhatikan. Hal-hal positif  mulai nampak pasca disapih. Salah satunya porsi makan yang semakin besar. Sebelumnya porsi makannya sudah lumayan sih. Tapi sekarang semakin besar dan beragam. meskipun tidak diikuti kenaikan berat badan yang signifikan.

Najib mulai merequest sayur dan lauk yang diinginkan. Begitu pun pada saat jam makan tiba, dia akan minta diambilkan makanan. Entah itu nasi sama sayur, roti sama susu atau biskuit sama air putih. Dia akan minta sesuai keinginannya. 

Kalaupun minta nambah, Najib akan bilang. Sebelum disapih, kebutuhannya memang banyak dicover oleh ASI. Sekarang baru terasa lapar dan butuh lebih banyak asupan. Porsi camilan dan buah pun bertambah. Sekarang bisa bebetapa kali minta biskuit atau kue. Kadang-kadang kalau sore masih minta dibelikan Siomay, Cakwe atau Donat. Saya sih, seneng-seneng aja. Ibu mana yang nggak seneng lihat anaknya doyan makan?

Kosakata Bertambah dan Semakin Cerewet

Menggunting sebagai salah satu kegiatan favorit sejak disapih.


Seiring kemauannya yang terus bertambah dan mulai me-request banyak hal. Najib menunjukkan perkembangan menggembirakan lainnya. Ngomongnya jadi nggak ada habis-habisnya. Dia pun berusaha menirukan beberapa kata yang kami ucapkan.

Misalnya kalau saya tanya, "Adik mau makan apa? Nasi sama sayur atau roti dikasih coklat?" Najib akan menjawab aci ama ayur ( nasi sama sayur) atau oti ama otat (roti sama coklat). Begitu pun saat minta minum. Dia sudah bisa membedakan mau pakai botol, cangkir atau gelas. Susu, teh, jus atau air putih. Tentu saja semua diucapkan dengan caranya. tapi ini amazing banget buat saya. Karena sebelumnya Najib cenderung lebih anteng dan nurut saja apa yang kami berikan.

Selain itu, Najib mulai suka menceritakan kegiatan sehari-harinya. Biasanya, malam hari dia akan tidur setelah ayahnya pulang dari kantor. Setelah obrolan kecil tentang kegiatannya di siang hari, baru dia akan tidur. Hal ini juga yang membuat jadwal tidurnya jadi semakin malam. Kadang-kadang sampai jam 10 atau 11 malam.

Saya sering merasa kecapekan, karena biasanya jam 8 sudah ikut tidur menemani anak-anak. Baru nanti malamnya bangun lagi. Sekarang harus stand by sampai jam 10an. Tapi apa yang lebih menggembirakan dari mendengarkan celotehannya bersama suami? Saya suka tertawa sendiri melihat ekspresi maupun caranya mengucapkan kata-kata yang dimaksud. Lucu karena nggak jelas, begitu pun ekspresinya yang sering berubah-ubah.


Lebih Percaya Diri

Mulai berani bermain sendiri.


Dalam hal kepercayaan diri, kami juga merasakan perkembangan yang lumayan pesat pada Najib. Misalnya saat bertemu orang baru, dia akan berusaha menyapa dan mengajak kenalan. Tentu saja sebagian masih kami arahkan, tapi dia berani melakukan sendiri tanpa didampingi.

Begitu pun untuk urusan bermain, Najib mulai suka main di rumah sepupunya, meskipun tidak kami temani. Biasanya setelah saya antar, dia meminta saya pulang. Jika diajak pergi ke tempat umum, dia tidak lagi malu-malu dan nempel sama saya. Najib mau berkenalan dan menyapa siapa saja. Bahkan abang-abang jualan di rumah pun mulai biasa diajaknya ngobrol.

Dua minggu ini Najib tertarik untuk ikut teman-temannya sekolah di PAUD. Sebenarnya saya belum ada keinginan untuk mendaftarkan. Tapi karena anaknya mau, akhirnya saya ikuti saja. Itung-itung main. Dari awal, dia langsung merasa nyaman, baik dengan guru-gurunya, aktivitas di PAUD maupun teman-temannya.

Belum saya daftarkan sih, jadi masih semau dia aja. Kalau pagi harinya saya tawari dia mau, ya berangkat. Kalau nggak, ya main di rumah saja. Setidaknya dia punya aktivitas baru sebagai pengalihan dan belajar banyak hal dalam bersosialisasi dengan orang luar. Termasuk menghadapi anak-anak yang gaya pengasuhannya berbeda.

Kalau saya ceritaian semua, bisa panjang banget ini blog post. Hehehe ... Ya, namanya juga ibu-ibu, pasti girangnya setengah mati kalau melihat tumbuh kembang anaknya positif. Saya yakin teman-teman juga sama seperti saya.

Nah, kalau boleh saya simpulkan.  Pasca disapih memang biasanya anak butuh rutinitas baru sebagai pengalihan. Terlebih untuk yang diasuh sendiri sama ibunya, karena tidak ada orang lain yang bisa menggantikan. Tapi, semua itu nggak lama kok, hanya sementara dan akan segera berlalu. Tentunya setelah anak-anak menyesuaikan diri, terutama secara psikologis.

Kalau dari pengamatan saya selama satu bulan ini. Pasca disapih biasanya anak mengalami beberapa hal berikut:

Mendapat teman baru kemudian bermain bersama di Ancol.


Kondisi Emosi dan Fisik Pasca Disapih
  1.  Kurang stabil di awal penyapihan, tenang lalu tiba-tiba menangis itu sudah biasa. Tapi ini tergantung kesiapan anak juga.
  2.  Butuh rutinitas baru sebagai pengalihan, atau bisa juga karena pelampiasan.
  3. Lebih sering rewel bahkan tantrum bagi sebagian anak, karena merasa tidak diperhatikan kebutuhannya (menyusu).
  4. Jadwal tidur atau jam biologis anak sering kali berubah.
  5. Makan lebih lahap dan porsi bertambah karena merasa lapar. Meskipun bagi sebagian anak yang saya kenal ada juga yang malah  jadi susah makan. So, orang tua musti tanggap dan kreatif dengan menu khusus anak.
  6. Khusus Najib, berat badannya tidak bertambah atau berkurang secara signifikan. Mungkin karena perawakannya memang kurus tinggi. Sedangkan beberapa anak bisa bertambah gemuk karena porsi dan frekuensi menyusu di botol juga meningkat.
  7. Perkembangan psikomotorik meningkat, setidaknya itu yang saya amati pada Najib. 
  8. Lebih percaya diri, baik dalam bersosialisasi maupun mengasah kemampuan sendiri.
  9. Tidak terlalu tergantung pada saya. Sekarang Najib bisa tidur dengan siapa saja termasuk neneknya. Bahkan untuk mandi, makan dia biasa me-request dengan siapa yang diinginkan.
  10. Rasa ingin tahu meningkat, karena semakin banyak waktu untuk bermain dan mencoba hal baru. Beda dengan saat masih menyusu, karena Najib cenderung jam menyusunya tidak teratur. Bisa kapan saja dan lama. Sekarang, jam-jam itu full untuk bermain-main saja.

Teman-teman yang masih menyusui, pasti nantinya punya pengalaman yang berbeda. Karena setiapanak cenderung memiliki ritme berbeda pasca penyapihan. Tergantung kondisi anak sebelum disapih dan gaya pengasuhan orang tua. Ada banyak juga orang tua yang tidak mengalami masalah yang terlalu berarti saat menyapih.Tentu saja ini yang diharapkan semua orang tua.

Tapi tak perlu khawatir, setiap fase bersama anak itu ada seninya. Dan sering kali menimbulkan kerinduan karena tidak bisa diulang. Jadi dinikmati saja. Meskipun saya sendiri bukan tipe ibu sempurna. Yang sabar, telaten dan stabil secara emosional. Saya berusaha menikmati masa-masa ini dengan segala keterbatasan.

Kalau teman-teman yang sudah menyapih, boleh sharing dong, bagaimana pengalamannya?

[Resensi Buku] Bangga Menjadi Ibu - Part 1

|
Akhir tahun 2016 merupakan sebuah momentum yang sangat menggembirakan sekaligus mengharukan bagi saya. Bagaimana tidak, saya yang masih tertatih dengan hobi dan impian baru saya sebagai seorang penulis, mendapatkan kesempatan sebagai salah satu kontributor dalam buku Antologi Bangga Menjadi Ibu. 

Memang terdengar biasa bagi sebagian besar orang. Tapi bagi saya, kesempatan ini bukan hanya sebuah penghargaan. Namun, menjadi titik balik atas segala keresahan yang kerap menggelanyut dalam pikiran atas posisi seorang ibu yang nyaris minim pengakuan. Yang selama ini ada dalam kalutnya pikiran saya. Padahal dalam kenyataannya sungguh berbeda.


Berawal Dari Kompetisi Menulis "Bangga Menjadi Ibu" 

Sekitar November 2016, Bitread Publishing, salah satu Indie Book Publisher menggelar lomba penulisan dengan mengambil tema "Bangga Menjadi Ibu" Kebetulan saat itu Bitread menggandeng komunitas penulis Emakpintar yang digawangi Teh Iin, Indari Mastuti sebagai partnernya dalam menjaring karya terbaik dari peserta yang jumlahnya mencapai ratusan.

Kompetisi menulis ini tentu saja menyediakan hadiah bagi para pemenangnya. Tapi yang lebih menggembirakan lagi, 99 finalis terbaik mendapat kesempatan untuk membukukan karyanya dalam sebuah buku antologi yang dicetak secara indie oleh penerbit Bitread

Tertarik dengan peluang yang kedua, saya tak ingin melewatkan begitu saja kesempatan untuk ambil bagian dalam kompetisi ini. Segera setelah mendapatkan syarat dan ketentuan perlombaan, saya mulai membuat draft cerita kebanggaan saya sebagai Ibuknya Duo Naj. 


Sempat Minder karena Minim Pengalaman sebagai Ibu

Sempat terhenti beberapa kali selama proses penulisan. Saya merasa minder setelah membaca karya penulis lain yang di share di wall FB. Bukan hanya ceritanya yang mengharu biru, pengalaman saya sebagai orang tua pun masih kalah jauh. Bisa dibilang masih terlalu dini untuk saya bangga dan ceritakan dalam sebuah kisah inspiratif, apalagi untuk dibukukan. Belum lagi teknik penulisan yang tertinggal di belakang dari sekian ratus peserta lain. Ahh ... rasanya saya ingin tutup laptop dan mundur teratur saja. Malu pemirsa!

Butuh beberapa waktu bagi saya memupuk kepercayaan diri kembali. Sampai kahirnya di H-7, saya berhasil mengirimkan satu judul untuk diikutkan dalam penilaian para juri. Cerita yang sungguh sangat sederhana, karena saya merasa sebagai ibu masih butuh banyak berbenah. Tapi justru dari tema sederhana tersebut, 3 hari kemudian saya berhasil mengirimkan kembali karya kedua. Luar biasa! Begitu saya mengagumi diri sendiri saat itu.


Dua Karya Lolos Penjurian

Kita tidak akan pernah tahu seberapa besar kemampuan diri sebelum mencoba. Berawal dari keraguan sampai akhirnya mengirimkan dua buah karya. Dan, alhamdulillah, keduanya lolos penjurian, masuk menjadi salah satu dari 99 finalis lainnya. Hore!! bolehlah BukNaj jingkrak-jingkrak sejenak. 


Kebahagiaan belum selesai sampai di situ. Salah satu karya yang berjudul, "Goresan Cinta untuk Cahaya Mata" masuk dalam buku antologi bersama 99 penulis lainnya. Masha Allah, seperti mimpi, akhirnya buku pertama menjadi kenyataan. Bahagia, haru, histeris, pokoknya norak abis. Saya tahu ini belum seberapa dan bukan apa-apa bagi orang lain. Tapi bagi saya, amazing!!

99 Kisah Inspiratif dalam Buku Bangga Menjadi Ibu

Buku Bangga Menjadi Ibu merupakan kumpulan kisah inspiratif 99 penulis yang berlatar belakang seorang Ibu. Menyajikan berbagai cerita menarik tentang lika-liku seorang ibu. Tidak hanya permasalahan seputar pengasuhan, buku ini juga menuturkan pengalaman perjuangan seorang wanita agar layak ntuk disebut ibu.
Karena merupakan buku antologi, secara otomatis baik gaya penulisan maupun sudut pandang yang digunakan penulis sangat beragam. Begitu pun halnya dengan makna dan bentuk perjuangan yang dilakukan setiap penulisnya.

Teman-teman tidak hanya akan menemukan kisah mengenai beratnya beban akibat tuntutan menjadi ibu yang ideal di mata masyarakat. Tapi juga berbagai kisah mengenai dilema ibu yang harus membagi waktunya dengan bekerja di luar rumah, Ibu yang harus menghadapi kematian anaknya, ibu yang harus bertahan dengan "keistimewaan" yang dikaruniakan untuk buah hatinya. Dan, masih banyak lagi kisah para ibu yang begitu sederhana, namun mampu menyadarkan pembaca bahwa setiap fase kehidupan seorang wanita selalu memperkaya batinnya.

Latar Belakang Penerbitan Buku Bangga Menjadi Ibu Part 1 dan 2

Buku Bangga Menjadi Ibu ini dicetak dalam dua bagian, yaitu Bangga Menjadi Ibu Part 1, di mana saya dan 42 penulis lainnya membukukan karya. Sedangkan dalam buku Bangga Menjadi Ibu Part 2, tersisa 56 penulis lainnya. 

Kompetisi penulisan ini merupakan wujud peran nyata dari Bitread Publishing dan Emakpintar sebagai pelopor bertumbuhnya kebahagiaan dan kebanggaan seorang wanita sebagai Ibu. Menyadari bahwa kebahagiaan seorang anak dan keluarga tidak terlepas dari sosok bahagia ibu, maka buku ini terbit dan dipersembahkan untuk semua wanita yang berkesempatan menyandang gelar ibu.

Kumpulan cerita dalam buku Bangga Menjadi Ibu akan membuat pembaca tenggelam dalam sebuah perenungan mengenai berharganya peran ibu. Sebuah perjuangan yang terus menerus, kesabaran yang tak lelah untuk diuji hingga kasih sayang yang tak memiliki pembatas.

Buku ini cocok sebagai bingkisan spesial bagi seorang ibu, istri atau siapapun yang ingin memaknai lika-liku seorang wanita sebagai ibu. Buku ini akan membuat kita lebih mensyukuri hidup dan segala 'pemberian' dari yang Maha Kuasa.

Berminat dengan buku Bangga Menjadi Ibu? Teman-teman bisa langsung memesan ke bagian pemasaran Bitread Publishing atau mention di IG : @BITREAD_ID Atau, bisa juga melakukan pemesanan melalui kontributor, termasuk saya ^_^

Selamat membaca!

Judul : Bangga Menjadi Ibu Part 1
Penulis : 43 Finalis kompetisi menulis "Bangga Mnejadi Ibu"
Jenis : Buku Antologi Kisah Inspiratif
Penerbit : Bitread Publishing
tebal : 260 halaman

Custom Post Signature

Custom Post Signature