A Story of Mom, Wife, Daughter and Active Woman

Kado Cinta untuk Sahabat Bunda

|
"Aku nggak mau nginep-nginep lagi sama Ayah. Soalnya aku sedih di sana. Aku kepikiran Ibuk, udah lagi sakit, ditinggal di rumah sendiri. Kalau ibuk kenapa-napa, aku pasti sedih banget."


Cesss ... Mendengar Najwa ngomong begitu, rasanya kayak habis minum es buah yang sudah saya idamkan sejak beberapa minggu yang lalu. Adem, haru, senang tapi juga sedikit khawatir. Karena saya nggak pengen Najwa terlalu tergantung sama saya. Sampai segitu worry-nya pas harus pergi sama ayahnya tanpa saya.

Ceritanya nih, weekend kemarin, karena saya lagi drop-dropnya terserang tifus. Jadi saya nggak ngikut acara nginep sama temen-temen suami yang agaknya mulai rutin digalakkan. Waktu itu, tanpa ba-bi-bu, suami saya langsung memutuskan mengajak anak-anak, tanpa perlu saya ikut serta. Saya sih terlalu khawatir enggak, karena saya pikir suami juga pasti bisa. Tapi  sempat kepikiran, anak-anak bakalan nyari saya apa enggak ya? Soalnya kan mereka terbiasa 24 jam sama saya. Mungkin kalau situasinya di rumah, trus saya yang nggak ada, mereka bakalan tenang. Tapi, karena harus menginap di tempat baru, mau tak mau saya jadi kepikiran juga.

Parahnya, yang namanya perasaan BukNaj ini langsung tembus bagai tak berbatas dengan anak-anaknya. Meskipun nih, muka saya udah saya manis-manisin pas mereka berangkat. Tetap saja si Najwa, anak perempuan saya sedih selama perjalanan. "Aku kepikiran Ibuk terus", begitu katanya.

Drama tak berhenti sampai di situ. Minggu sore pas anak dan suami sampai di rumah dari Puncak, Bogor. DuoNaj yang baru saja mengucap salam dan membuka pintu rumah langsung menghambur menuju saya. Keduanya minta dipeluk sambil terus menciumi saya. Saya sempat menolak karena agak takut anak-anak tertular. Tapi, akhirnya saya luluh juga karena Najwa terus memaksa dan kemudian menangis terisak.

"Najwa kangennnnn ... " Begitu teriaknya.

Saya sempat merasa Najwa terlalu berlebihan. Mungkin karena saya sedang sakit saja, dia jadi over begitu. Etapi, sampai 3 hari berlalu dia masih terus mengatakan nggak mau lagi ninggalin ibuk sendirian. Pokoknya, kalau pergi harus lengkap sekeluarga. Kalau enggak, biar ayah pergi sendiri tanpa kita-kita. Kejam, jenderal! Hehe... tersenyum juga saya dibuatnya.








Ada Apa dengan Ibu dan Najwa?

Ngomongin soal Najwa, gimana ya, saya sama dia emang deket banget. Udah nggak kayak ibu sama anak saja, tapi kadang udah kayak anak kembar. Dia tuh paling suka nyerewetin saya, tentu saja saya pun sama. Kami sering bertengkar, tapi tak berapa lama berpelukan, ciuman, pokonya udah kayak orang nggak berjumpa berbulan-bulan.

Dalam banyak hal kami juga cocok untuk beraktivitas bersama. Misalnya saat saya ajak dia ke salon, dia bakalan betah dan sabar banget nemenin saya. Ya, tentunya karena dia pun minta jatah keramas atau creambath. Atau pas saya ajak belanja, dia bakalan setia nungguin saya dengan keranjang belanjanya sendiri. Yang berbuah pemborosan jatah bulanan. Hahaha ...

Tapi beneran nih, kalau ngomongin soal bounding, kami memang lengket banget. Sejak dulu, saat dia masih bayi sampai sekarang. Mungkin karena dia anak pertama juga ya, jadi bersama Najwa saya banyak belajar dan berjuang menjadi ibu. Meskipun, itu bukan berarti saya tidak dekat dan menyayangi anak kedua saya. Tidak, saya sangat menyayanginya. Bahkan menurut suami, saya terlalu memanjakan Najib, anak kedua saya. Tapi cara saya berinteraksi dengannya berbeda, tidak seperti saya dan Najwa. Entah, mungkin karena kami sama-sama perempuan.







Cerita bersama Najwa

7 tahun yang lalu, saya hamil anak pertama di Magetan. Jauh dari suami yang baru merintis kerier di Jakarta. Kehamilan inipun cenderung tidak terlalu terencana. Saya dan suami yang belum lama kenal, memutuskan untuk segera menikah. Dan tanpa menunggu lama dikaruniai kehamilan anak pertama. Nggak sempat blong istilah orang Jawa. Bulan ini nikah, bulan depan sudah hamil satu bulan.

Tentu saja kehamilan ini sempat membuat kami terkejut. Karena sebagai pengantin baru, kami belum banyak menghabiskan wkatu bersama. Menikah kemudian berpisah di hari ketiga karena tugas kantor. Kemudian bertemu kembali hanya beberapa hari untuk selanjutnya terpisah kota lagi.

Kondisi ini sempat memengaruhi psikis saya. Merasa belum siap dan minim perhatian, saya sempat drop dan menjalani kehamilan dengan emosi yang kurang stabil. 

Kondisi ini kemudian membaik setelah trimester pertama. Namun pada trimester ketiga, menjelang hari perkiraan lahir. Saya kembali diserang perasaan tidak tenang. Beban kerja di tepat kantor, ditambah usia kehamilan yang semakin tua dan berat. Mau tak mau membuat saya mudah terpengaruh secara emosional. Sering menangis tanpa sebab.

Kelahiran Najwa pun tak kalah dramatisnya. 12 jam setelah suami berangkat ke Jakarta, saya merasakan kontraksi pertama yang diikuti flek dari jalan lahir. Ah ... rasanya nggak karuan. Yang namanya kelahiran pertama ya pengennya saya ditemani suami saat melahirkan. Tapi apa daya, semuanya hanya tinggal di angan-angan.

Akhirnya Najwa pun lahir tanpa ditemani ayahnya. Saya bersyukur dapat melahirkan dengan selamat, tanpa kurang suatu apapun. Meskipun pada akhirnya harus menjalani operasi setelah kesakitan selama lebih dari 12 jam. Tak apalah, yang penting kami selamat.




Najwa Bukan Hanya Anak, tapi Sahabat

Perjalanan menjadi orangtua tak semudah yang saya bayangkan. Meskipun sudah banyak teori yang rajin saya kunyah, kenyataannya begitu berbeda. Saya kembali meraba-raba dalam mengasuh Najwa. Maka dari itu, saya lebih nyaman menganggapnya sebagai teman, bukan sekedar anak. Teman dalam belajar dan berjuang. Teman saat jatuh untuk kemudian bangkit bersama. Karena sebenarnya, saya merasa belum pantas disebut sebagai orangtua pada saat itu.

Mungkin begitulah awalnya, hingga kedekatan kami menjadi "unik" dan tidak biasa. Dalam banyak hal, saya melibatkannya dalam berbagai aktivitas saya sebagai partner. Termasuk dalam mengajak ngobrol, berdiskusi suatu hal atau dalam menasihatinya.

Itu juga yang kadang membuat Najwa terkesan "berani" pada saya. Karena dia merasa menjadi partner yang bisa sewaktu-waktu mengkritik saya. Ya, adakalanya saya nggak tahan juga diperlakukan seperti itu sama anak usia 6 tahun. Tapi apa daya, kami terlanjur sama-sama nyaman dengan model hubungan ini. Maka ada kalanya saya memainkan peran tegas sebagai orangtua. Meskipun lebih banyak berperan sebagai kakak, atau bahkan teman.


Kado untuk Najwa

Belakangan ini Najwa pun mulai mengikuti kegiatan saya, menulis. Terlebih setelah saya belikan diary baru warna pink bergambar Little Pony. Najwa semakin rajin menulis. Memang masih tulisan-tulisan sederhana, seperti Najwa Love Ibu, atau Ayah Love Ibu.  Terkadang dia juga menulis surat kepada kakek neneknya di kampung, atau teman-temannya di sekolah. Apa saja mulai ditulisnya di buku diary warna pink itu.




Kami tentu saja sangat mendukung kesenangannya. Selain untuk meluweskan tangan, karena Najwa memang belum lama bisa menulis. Kami berharap hobi baru ini bisa menjadi salah satu passionnya di masa depan. Who knows?

Masalahnya, kami selalu berebut meja untuk menulis. Satu meja kecil yang biasa saya gunakan untuk mengetik di atas laptop selalu diambil alihnya duluan. Kalau sudah begitu, terpaksa saya harus menulis di lantai atau bahkan di atas kasur di kamar.

Belum juga buku pelajaran dan buku bacaan koleksinya yang mulai memenuhi rak buku kami di rumah. Najwa sudah dapat menentukan sendiri rak buku mana yang akan dipakainya. Kalau sudah begitu, buku-buku saya biasanya yang harus kena gusur. Pindah tempat atau ditumpuk begitu saja dengan barang-barang lain di meja.

Nah, kebetulan nih, Najwa baru saja berulang tahun yang ke-6. Tepatnya akhir bulan Maret kemarin. Dan baik saya maupun suami belum membelikan kado sebagai hadiah untuknya. Tadinya, saya berencana membelikan kado ketika Najwa lulus TK, sekalian sebagai hadiah kelulusan. Tapi, sepertinya rencana ini harus saya percepat. Membelikannya meja belajar sebagai kado ulang tahun, saya pikir adalah hadiah yang paling tepat untuk saat sekarang.

Pas banget, beberapa hari yang lalu Najwa baru saja bilang lagi. Pengen punya meja belajar gambar Frozen yang pernah kami lihat promonya secara online. Tentu saja di Elevenia, salah satu e-commerce yang sudah terpercaya. Iseng-iseng, saya pun mulai browsing ulang, untuk meyakinkan tidak salah pilih barang yang lagi jadi wish list-nya Najwa.

Dan, ternyata benar. Meja belajar yang selama ini diinginkan Najwa memang ada di salah satu kategori produk belanja di Elevenia. Saya cukup klik di kategori HOME/GARDEN, kemudian search MEJA BELAJAR ANAK. Dan, TARA!!! Meja Belajar Anak Frozen Nodric KP sudah terpampang dengan jelas, lengkap dengan spesifikasi, berat, harga, ongkos kirim, waktu dan kota pengiriman. 







Wah, ini tentu saja sangat membantu saya. Selain lebih mudah dalam berbelanja, saya juga tidak perlu repot-repot sembunyi dari Najwa untuk membeli kejutan untuknya. Karena setelah melakukan transaksi, transfer sesuai harga jual dan ongkir, maka pemesanan akan segera diproses. 

Enaknya lagi,  customer bakalan dapat notifikasi progres pemesanan.  Jadi nggak perlu repot bolak-balik buka web-nya. 

Hem ... Kayaknya bakal jejeritan si Najwa pas barangnya datang. 



Ah, sepertinya saya tidak mau berlama-lama lagi. Semoga hadiah ini  benar-benar pas buat Najwa. Can't wait to see your smile baby.



Cerita ini diikut sertakan dalam lomba blog "Cerita Hepi Elevenia"






















1 comment on "Kado Cinta untuk Sahabat Bunda"
  1. Aku dan anak (cowok) juga spt teman Mb sampai dia sendiri heran kok beda banget hubungan orang tua dan teman2nya dng kita. Tapi ya kita enjoy sih malah lebih Deket kayak sahabat 😁

    ReplyDelete

Hallo! Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya. Jika Temans merasa artikel ini bermanfaat, feel free to share and leave a comment ya. ^_^

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9