A Story of Mom, Wife, Daughter and Active Woman

Memerdekakan Kartini Masa Kini

|
Setiap tiba waktunya Hari Kartini diperingati. Selain isu emansipasi wanita yang sebenarnya sudah mulai bergeser arah, hal mengenai mengapa harus Kartini masih saja ramai diperdebatkan. Ya, memang pahlawan wanita bukan hanya Kartini. Cut Nyak Dien atau Martha Christina Tiahahu memiliki sejarah perjuangan yang tak kalah heroik.  Mengangkat senjata pada zamannya tentu bukan suatu hal yang bisa dilakukan oleh setiap perempuan bukan?

Gambar : Wikipedia


Hei! Tapi sadarkah kita, bahwa sebenarnya kita telah mulai membandingkan peran seorang  perempuan bahkan sejak di kelasnya Kartini dan Cut Nyak Dien. Mengapa Kartini yang rela dimadu dan bukan Cut Nyak Dien yang berdiri dengan bambu runcingnya? Mengapa bukan Dewi Sartika  yang mendirikan Sakola Istri tapi justru Kartini yang rajin tsurhat lewat surat-suratnya.

Di sinilah emansipasi wanita mulai bergeser arah.  Bukan tentang menyetarakan kedudukannya dengan kaum pria, atau mendapatkan kesempatan untuk di dengar di ranah publik. Tapi justru emansipasi wanita harus dibayangi dengan sindiran bahkan komentar miring dari sesamanya.

Sejak awal pengasuhan anak perempuan pun, sering kali orang tua menunjukkan ekspektasi yang ambigu. Mengharapkan anak perempuan tumbuh menjadi sosok yang mandiri. Tapi terus dibatasi dengan standart kepantasan publik yang sering kali tidak menusiawi. Tidak memberikan kemerdekaan dalam berpikir dan mengekspresikan pendapatnya.

Belum lagi, pencapaian sebuah prestasi bagi seorang perempuan acap kali harus dibarengi dengan perasaan iri. Tidak hanya dari para lelaki, terkadang cibiran atau komentar nyinyir dari sesama perempuan justru lebih "galak" dalam menghakimi. 

Ketika mencoba satu langkah kecil untuk mandiri, masyarakat mulai memberikan sterotipe pantas, tak pantas, lupa kodrat bahkan "menakutkan"

Pun saat memilih tak memberikan kontribusi nyata di ranah publik. Seringkali perempuan dianggap ketinggalan "kereta". Sudah bukan zamannya nggak eksis apalagi duduk manis tanpa melakukan hal produktif.

Serba salah!

Gambar : Pixabay


Kita memang hidup bukan di zaman Kartini yang butuh diberikan banyak kesempatan seperti halnya pria. Atau di zaman di mana wanita bahkan tak mengenyam pendidikan sebagai bekal menghadapi kerasnya dunia. Kita hidup di mana banyak tanggung jawab besar ada di pundak kita sendiri sebagai wanita.

Ketika tanggung jawab pendidikan perempuan lebih banyak dilakukan oleh sesama perempuan. Ketika tanggung jawab mencetak peradaban baru lebih banyak dibebankan pada perempuan. Ketika buah pikiran perempuan tak terlalu banyak diperhitungkan di luar lingkaran perempuan.

Tidakkah sudah saatnya kita saling menguatkan? Saling memberikan kemerdekaan bagi perempuan untuk lepas dari "penjajahan" komentar. Memberikan kesempatan untuk membebaskan pikiran. Karena sejatinya perempuan butuh merdeka untuk diterima apa adanya. Merdeka bagi perempuan adalah ketika mereka dicintai sebagai manusia yang tak sempurna.  

Sebuah kemerdekaan bagi Kartini masa kini berawal dari kemerdekaan pemikiran. Merdeka dalam memilih dan menjalankan pilihan-pilihannya. Merdeka untuk didengar dan diterima apa adanya. Dan kemerdekaan ini hanyalah awal baginya untuk memerdekakan kartini-kartini  lain di zamannya.

Selamat Hari Kartini tahun ini!






Be First to Post Comment !
Post a Comment

Hallo! Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya. Semoga bermanfaat. ^-^

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Custom Post Signature

Custom Post Signature