A Story of Mom, Wife, Daughter and Woman

Ramadhan - Tradisi Boleh Beragam tapi Makna Tetap Seragam

|


Ramadhan selalu menghadirkan rindu. Rindu akan segala keistimewaan yang menjadikannya berbeda dengan sebelas bulan lainnya. Rindu dengan suasana religi yang begitu kental, terlebih karena kita hidup di negara yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam. Rindu dengan segala tradisi yang acap kali berbeda antara satu dan lain tempat. Rindu akan keluarga besar, masa kecil, sahabat dan makanan kampung yang berasa beda meskipun resep keluarga telah “diboyong” ke ibukota.

 

Ya, begitulah Ramadhan. Kalau tak beda maka tak perlu  menyebutnya istimewa sehingga sangat dinantikan seluruh umat di seluruh penjuru dunia. Bahkan adzan Magrib yang menggema saat senja mulai berubah warna, menjadi sebuah perantara akan memori masa kecil yang tak sekedar berharga. Namun sarat dengan nilai moral dan pendidikan dalam kehidupan nyata. 

Dulu, sore hari sebelum Magrib terakhir menjelang Ramadhan. Orang-orang tua selalu mengingatkan kami untuk mandi keramas sebagai simbol menyucikan diri. Padusan, sebuah tradisi membersihkan diri tidak hanya dari kotoran ataupun najis yang menempel di badan, namun tradisi ini lebih pada simbol untuk membasuh segala hal buruk yang melekat dalam diri, terlebih hati. Sehingga jasmani dan rohani bersih ketika melalui bulan suci.

Beberapa hari sebelum bulan suci ini tiba, warga nampak berduyun-duyun menyambangi makam keluarganya. Tak hanya mengirimkan doa sebagai inti dari ziarah kubur yang dilakukan. Besik kubur adalah tradisi lain yang urung dilewatkan. Membersihkan kotoran atau bahkan sampah. Menyapu sekitar area makam, membersihkan nisan dengan lap kain basah, memotong rumput yang terlalu tinggi dan mengganggu peziarah. 

Tak lupa kembang tujuh rupa ditaburkan serta menyiram air di bagian atas nisan. Meskipun kebiasaan ini sudah mulai ditinggalkan sebagian umat Islam. Tapi di kampungku, hal serupa masih melekat erat dan selalu dilakukan peziarah yang datang. Mungkin juga di kampung teman-teman.

Bagi saya pribadi, berziarah kubur tidak hanya tentang mengingat kematian. Kerinduan akan sosok almarhum papa sering kali menghadirkannya dalam mimpi-mimpi. Maka mengunjungi “rumah barunya” menjadi sarana berkomunikasi, meskipun hanya melalui lantunan ayat suci.

Selain dua tradisi di atas, Megengan merupakan ritual lain yang sayang jika dilewatkan. Kini, setelah tinggal di Jakarta dan menjadi orang tua. Saya sering membayangkan alangkah senangnya  jika DuoNaj memiliki kesempatan membawa pulang nasi lengkap dengan lauk pauknya dalam kotak kardus nasi.

Sepaket nasi putih atau Nasi Gurih dengan Sayur Lodeh Kentang, Mi Goreng, Tempe Tahu Bumbu Rujak, Telur rebus, Kerupuk Udang, Pisang dan Apem sungguh nikmat jika dimakan bersama dengan teman-teman di masjid. Dulu, sebelum ada kotak kardus nasi. Ibu selalu menggunakan Tebok atau nampan bulat dari anyaman bambu yang dialasi daun pisang sebagai tempatnya. 

Seiring perkembangan zaman, penggunaan besek atau kotak anyaman bambu kecil mulai digunakan meskipun tak berlangsung lama. Maraknya produk keranjang nasi dari plastik dan kemudian kotak kardus telah menggeser segala keunikan masa lalu. Menggantinya dengan dunia baru yang serba praktis dan katanya lebih higienis.

Segala tradisi itu hanyalah segelintir kenangan masa kecil akan Ramadhan yang terlalu lekat dalam hati. Buka bersama di masjid, berebut tempat dekat jendela saat tarawih.  Menelan sebagian air mentah saat mengambil air wudlu atau mandi menjadi cerita tersendiri bagi saya saat mulai menjalankan ibadah di bulan Ramadhan.

Waktu berlalu, kehidupan baru sebagai warga di ibukota membawa segudang cerita yang sungguh berbeda. Tak ada lagi tawa ceria dan kenakalan anak-anak kampung di masjid. Sebagai ibu, saya harus melihat DuoNaj melalui Ramadhan biasa-biasa saja. Hampir tak ada tradisi khusus yang kami lalui selama Ramadhan. Jakarta tetap “serba cepat” dan panas seperti hari biasa.

Tradisi Ramadhan ala kampung boleh jadi terlewat bagi kami yang di kota. Tapi nilai dan bagaimana memaknai Ramadhan harusnya bisa seragam bagi seluruh umat Islam. Puasa bukan hanya tentang lapar dan haus selama seharian. Untuk kemudian berpesta dengan aneka hidangan yang kerap kali berlebihan. Menuruti rasa “ingin” di lidah dan otak. Bukan kebutuhan tubuh yang sebenarnya tak banyak berbeda dengan hari biasa.

Ramadhan adalah momentum pengendalian. Mengendalikan jiwa dan juga raga. Mengendalikan diri untuk melawan hawa nafsu yang bisa jadi lebih dari sekedar untuk menyeruput segelas kopi di pagi hari karena sudah terlanjur menjadi kebiasaan. Tapi mengendalikan hati, pikiran, mata, mulut dan tangan yang sering kali lebih tajam dari ucapan lisan. 

Sungguh bahagia apabila diri mampu menuntaskan bulan ini dengan kemenangan. Bukan semata-mata karena gegap gempita hari raya di ujung pergantian bulan. Namun karena nilai, makna dan kemampuan mengendalikan diri yang harusnya tertinggal bagi setiap muslim selama melalui ujian Ramadhan.

Nilai-nilai yang membawa umat pada tujuan yang sama dalam kebaikan, kedamaian dan ketentraman. Tanpa perlu mencari tahu tradisi seperti apa yang biasa dilakukan. Besik, Padusan atau Megengan hanyalah simbol saja. Tanpa mengurangi kaidah kita sebagai manusia yang berhijrah menuju kebaikan.

Selamat menjalankan ibadah puasa, Temans! Semoga Ramadhan kali ini membawa ketentraman yang selama ini mulai terusik. Dan menjadi awal baru dalam kehidupan ini (lagi). Happy Ramadhan!



Piknik Ala DuoNaj #3 - From Sky World to Bird Park

|



Edutrip ke Taman Mini sepertinya nggak ada bosannya buat kami sekeluarga. Selain area TMII yang luas dan tidak bisa dituntaskan hanya dengan satu atau dua kali datang. Hadirnya beberapa wahana baru semakin menarik untuk dikunjungi lagi dan lagi. Begitu pun yang saya dan keluarga alami akhir-akhir ini. Setidaknya selama tahun 2017 saja, kami sudah 2 kali ke TMII. 


Sekitar awal tahun lalu, kami sengaja datang untuk melakukan edutrip ke Museum Air Tawar, Museum Serangga, dan Anjungan Provinsi Bali. Nah, pada akhir bulan April yang lalu, kami berkunjung ke Taman Burung. Berhubung anak-anak saya memang sangat suka diajak ke tempat rekreasi semacam kebun binatang. Jadi berkunjung ke Taman Burung bukanlah hal yang membosankan, meskipun sudah beberapa kali dilakukan.


Pagi sekitar pukul 07.00, kami berangkat menuju TMII dengan bekal satu tas ransel. Di dalamnya sudah lengkap mulai camilan, minum hingga makan siang. Memang sudah direncanakan bahwa nanti kami akan makan di sebelah miniatur kepulauan Indonesia. Jadi, bekal ayam bakar dan lalapan pun saya siapkan sejak malam hari sebelum berangkat.


Sengaja berangkat agak pagi agar kami dapat mengunjungi beberapa wahana sekaligus. Selain itu, pada saat kami berkunjung, ternyata bertepatan dengan perayaan ultah TMII. Jadilah harapan kami untuk mendapatkan tempat yang tidak terlalu ramai, justru malah sebaliknya, full pengunjung.

 Naik Skylift (lagi)





Sesampainya di TMII, suami  langsung mengajak naik Skylift. Sebenarnya saya dan anak-anak menolak. Karena masih pagi, kami lebih memilih jalan kaki dulu menuju Taman Burung, yang bisa dibilang areanya masih sangat jauh dari pintu gerbang utama. Tapi, dengan pertimbangan antrian belum padat, suami memaksa tetap naik Skylift dulu. Ya sudahlah, akhirnya kami ho oh saja. Daripada si ayah ngambek, bisa berabe tuh kalau ATMnya disimpen rapat, hehe …





Benar saja,  loket Skylift masih sangat sepi. Kami tak perlu mengantri bahkan untuk memilih gerbong berwarna pink yang Najwa inginkan.  Meskipun bukan kali pertama, bahkan entah sudah berapa kali. Ternyata suami masih saja ngeri. Saat Skylift mulai  meluncur ke udara, tak habis-habis dia berdoa, wajahnya pun nampak tegang. “Oalah, Yah, Ayah. Orang Ayah aja takut, ngapain ngajak kita-kita?” celetukan Najwa kontan saja membuat kami tertawa kompak. Hahaha ...


Selesai tes nyali di Skylift, kami langsung berjalan kembali ke arah Taman Burung. Meskipun masih pagi, panasnya sudah sangat menyengat. Anak-anak pun mulai rewel minta gendong kami berdua. Sedangkan trem yang kami harapkan bisa mengantar sampai lokasi yang diinginkan, tak juga muncul bersama gerbong terbukanya.


Di luar perkiraan kami, ternyata wahana Sky World yang beberapa waktu lalu Najwa pelajari melalui Majalah Bobo terletak tidak  jauh dari statsiun Skylift. Saya dan Najwa sudah pasti sangat tertarik untuk ke sana. Tapi, kami perlu persetujuan anggota edutrip yang lain. Yaitu Mbah Uti, Ayah dan Najib yang sepertinya sudah mulai ngantuk.


Untungnya semua mengiyakan. Maka kami pun bergegas membeli tiket yang harganya lumayan mahal juga. Hem … Semakin penasaran apa saja fasilitas yang ditawarkan di dalamnya. Oh ya, Sky World ini masih dalam tahap renovasi ya, Temans. Jadi memang masih belum full fasilitasnya. Hanya saja ada satu wahana yang benar-benar menarik untuk dikunjungi kembali. DuoNaj saja girang nggak karuan, apalagi ibu bapaknya, hihihi …



Mampir ke Sky World.




Begitu masuk pintu yang didesain seperti pintu pesawat luar angkasa. Kami langsung disambut dengan replica baju astronot yang bisa dipakai untuk berfoto. Tapi kami sengaja melewatkan yang satu ini. Dan langsung saja masuk untuk melihat apa saja yang dipamerkan di dalam. 


Ada berbagai foto peninggalan sejarah masa lalu. Kondisi alam, langit, dan kehidupan masyarakatnya, lengkap dengan penjelasan di setiap foto. Sayangnya, untuk DuoNaj hal ini masih terlalu “berat”. Sehingga mereka malah rewel saat dijelaskan. 


Akhirnya kami pun melewatkan beberapa hal menarik. Seperti gambaran kehidupan di Mars, mencoba teropong bintang, dan melihat berbagai penjelasan tentang susunan planet di tata surya. Segera kami menuju ruang tempat dipamerkannya replika roket, satelit dan baju-baju astronot.






Tak lama di ruang tempat replika roket, satelit dan pakaian astronot. Kami pun bergegas ke area replika Indo Trek. Kami pun berfoto ala-ala pemain Star-Trek. Sayangnya nggak bisa lama, karena sekarang giliran Najwa yang rewel pengen segera menonton gambar 5 Dimensi. Padahal, dalam hati kami agak khawatir mereka histeris. Karena beberapa anak sudah menangis dan minta keluar dari ruang pertunjukan.



Seru dan Mendebarkan, DuoNaj Ketagihan ke Bioskop 5 Dimensi


Tiba giliran kami untuk masuk ke bioskop 5 dimensi. Kali ini Mbah Uti menolak untuk ikut bersama kami. Agak khawatir goncangan dan teriakan di dalam menyebabkan vertigonya kambuh kembali. Maka Mbah Uti lebih memilih duduk di sebelah kolam renang anak sambil menikmati camilan dan minuman yang kami bawa dari rumah.



Di dalam bioskop, kami segera mengatur strategi agar ketika DuoNaj rewel lebih mudah untuk membawanya keluar. 4 Kursi paling belakang dan dekat pintu keluarlah yang menjadi pilihannya.  Maka segera setelah duduk dan mengikat diri ke kursi, kami pun memakai kacamata 5 dimensi dan siap bertualang.


Perjalanan fantasi ala luar angkasa kali ini memang sangat mendebarkan. Menarik, sekaligus menantang dan mengasyikkan. Beberapa kali kami dikejutkan dengan atraksi jatuh dari pesawat, tabrakan dengan kereta, melewati kawah panas, dan masih banyak lagi yang membuat kami berteriak dengan kompak bersama belasan pengunjung yang lainnya. Di luar dugaan kami, ternyata DuoNaj sangat menikmatinya, bahkan nggak mau diajak keluar. 


Wahana Sky World ini lumayan lengkap juga. Selain wisata luar angkasa yang menjadi daya tarik utamanya. Di bagian lain terdapat simulasi luar angkasa, kiddie pool, dan beberapa arena bermain yang lain.  Karena waktu yang terbatas untuk segera menuju Taman Burung. Maka kami pun tak sempat menyambanginya satu-persatu. Jadilah rencana ke Sky World tahap 2 sudah ada dalam agenda edutrip keluarga.


Setelah istirahat dan puas berfoto-foto di sana, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Taman Burung yamg sebenarnya menjadi destinasi utama.


Makan Siang di Pinggir Danau


Berjalan menyusuri anjungan Aceh yang terletak berseberangan dengan Sky World. Membawa kami ke danau buatan dan replika kepulauan Indonesia. Kami pun tak mau melewatkan untuk makan siang di sana. Setelah menyewa tikar, kami  bersiap membuka ransel dan mengeluarkan lalapan dan sambal terasi sebagai pendamping ayam bakar. 




Rupanya bukan orang tua saja yang kelaparan. DuoNaj dengan lahapnya menghabiskan dua bungkus nasi jatah mereka tanpa banyak bicara. “Enak banget, kapan-kapan kita maem di sini lagi ya.?” Begitu kata Najwa diikuti anggukan dari adiknya.


Bercengkrama dengan Kakak Tua






Masih lumayan jauh jarak yang harus kami tempuh menuju Taman Burung. Dan rupanya kami memang sedang tidak berjodoh dengan trem keliling. Jadilah kami berjalan sampai di pintu masuk taman. Segera kami membeli tiket yang ternyata sedang ada program diskon. Beli 1 bisa dipakai untuk 2 pengunjung. Lumayan banget pokoknya.  




Karena edutrip ini sudah direncanakan sejak beberapa hari sebelumnya. Jadilah saya dan suami sudah banyak membahas burung dan segala macamnya dengan anak-anak. Cara ini sangat efektif untuk menarik minat mereka, dan memberikan kesan yang mendalam sebagai salah satu bentuk memasukkan materi melalui pengalaman nyata.




DuoNaj begitu terkesan dengan Kakak Tua Jambul Kuning yang terus-terusan menirukan suara mereka. Atau burung Merak yang sukses mematok hp ayahnya hingga jatuh ke tanah. Belum lagi seekor Elang yang dengan sigap melarikan diri saat hendak diajak berfoto oleh Najib. Dan masih banyak lagi yang membuat mereka berdua terkagum-kagum dengan kehidupan yang selama ini mereka tonton dari layar kaca.  Di rumah, kami memang lebih sering menonton Animal Planet ketimbang ratusan channel lainnya.


Edutrip Sebagai Sarana Belajar dalam Dunia Nyata




Momen edutrip ke Taman Burung bukan hanya untuk bersenang-senang, refreshing bagi kami orang tua. Tapi juga menjadi sarana edukasi dalam kehidupan nyata. Di situ kami berkesempatan menjelaskan betapa besarnya Kuasa Allah dengan segala penciptaannya


Dari contoh burung saja, DuoNaj sudah bisa ditunjukkan betapa Allah menciptakan segala hal dengan penuh kesempurnaan. Aneka burung dengan berbagai warna, bentuk paruh dan kaki dan kelebihannya. Tak ubahnya manusia dengan segala kelebihan yang seharusnya disadari dan memberikan keistimewaan pada dirinya.


Kami juga berkesempatan menjelaskan berbagai tingkah burung yang seolah merasa terkekang dalam sangkarnya. Bahwa seharusnya burung-burung tersebut hidup dan terbang bebas di angkasa. Namun karena harus menjaga keselamatannya dari pemburu. Dan untuk kepentingan lain semisal penelitian atau pendidikan. Maka burung-burung ini harus menderita di dalam sangkar.


Kesempatan ini kami manfaatkan untuk mengajarkan pada anak-anak untuk mencintai,merawat dan melindungi sesama ciptaan Allah. Menyedihkan bukan, jika ketika mereka dewasa nanti jumlahnya semakin berkurang? Anak-anak harus dijelaskan sedini mungkin betapa pentingnya mencintai dan melindungi sesamanya.


Setelah kelelahan mengelilingi 2 kubah raksasa, kami pun memutuskan untuk mengakhiri edutrip kali ini. Menumpang trem yang kebetulan lewat di depan Taman Burung, kami segera saja naik bersama beberapa pengunjung lain untuk menuju pintu depan TMII.


Capek berat, tapi terbayar lunas dengan antusiasme dan wajah ceria anak-anak.  Kami pun pulang dan menantikan jadwal ke TMII selanjutnya. 


Oh ya, di bagian akhir ini saya tambahkan info harga tiket masuknya ya.


-          Tiket masuk TMII Rp. 10.000,-/orang

-          Tiket Skylift Rp.40.000,-/orang (balita 3 tahun ke atas).

-          Tiket masuk Sky World Rp.60.000,-/orang

-          Tiket masuk Taman Burung Rp.10.000,-/orang (balita 3 tahun ke atas).

-          Tiket term Rp.10.000/orang untuk tiga kali naik term yang berbeda (balita 3 tahun ke atas).


Nah, kalau Temans. Wahana apa yang pernah dikunjungi di TMII? Share yuk, biar jadi rekomendasi tambahan buat DuoNaj.  


















Pernikahan dan Lika-Likunya setelah "Laku"

|


"So, it's not gonna be easy. It's going to be really hard. We're gonna have to work at this everyday, but I want to do that because I want all of you, forever,everyday. You and me ... everyday." - Nicholas Spark

Gambar: Pixabay

Ada yang bilang, menikah nggak seindah masa-masa pendekatan. Ya, bisa jadi sih. Karena pada masa pendekatan itu kita masih bertahan dengan kehidupan masing-masing. Yang pastinya punya cara, kebiasaan, visi dan egoisme masing-masing juga. Goal-nya pun pasti target masing-masing.


Kemudian pernikahan menyatukan segala perbedaan itu dalam sebuah kapal untuk kemudian berlayar mengarungi bahtera kehidupan. Ciee .. sok banget bahasanya. Dan pada akhirnya, hanya satu nahkodalah yang akan mengambil alih kendali. Untuk memimpin hingga ke ujung perjalanan. Awak kapal harusnya nggak perlu merasa tersingkir. Karena beberapa keputusan harusnya telah dipertimbangkan bersama. Tapi tetap ya, final decision-nya ada di sang nahkoda.


Sampai pada situasi ini, biasanya egoisme dan visi pribadi mulai bermunculan kembali. Seperti minta “diberikan tempat”. Belum lagi kebiasaan yang berbeda, cara menyikapi permasalahan, cara hidup dan bersikap. Dan masih banyak lagi hal yang menyebabkan pernikahan harus menghadapi jalan yang berliku. 


Itu baru dari faktor “dalam”, dari “luar” pun tak kalah ganasnya. Realita kehidupan ini ternyata terlalu keras, jika menikah hanya bermodalkan cinta, tanpa kesatuan visi dan misi untuk menjalaninya. Manalah mampu menghadapi terjalnya perjalanan.


Saya sering berpikir, ternyata menikah itu butuh strategi juga. Strategi menghadapi desakan ekonomi, itu realita yang hampir pasti dihadapi. Hingga akhirnya pasangan suami istri menjadi lebih mengerti bagaimana caranya survive . Tapi, strategi menghadapi pasangan itu tak kalah penting. Karena mau tak mau, dengan suami atau istri inilah akhirnya kita menghabiskan hari, kemudian  membuat kita jatuh cinta setiap hari, lagi dan lagi.


Dalam hal pernikahan, saya masih banyak “meraba” saat menjalaninya. Menjelang usianya yang ketujuh, ternyata kami berdua masih sangat menikmati “ilmu kebatinan”, hehehe ...  Bukan dukun saja yang suka ilmu ini, kami berdua juga masih suka mempraktikkannya. Masih ada banyak hal yang terlewat kami komunikasikan secara verbal. Yang pada akhirnya, kami terbiasa mengamatinya melalui gerak-gerik satu sama lain. Meskipun kami tahu kebiasaan ini rawan menimbulkan salah paham.


Pernah suatu ketika kami membahas tentang sebuah kebiasaan yang akan ditularkan pada anak-anak. Nah, di situ mulai muncul perasaan tidak suka pada kebiasaan satu dan yang lainnya. Oo … ternyata. Coba ngomong dari awal, pasti ada dua kemungkinan. Antara nggak jadi nikah, atau tetep nikah dengan pengetahuan yang lebih banyak tentang pasangan. Ya, kan. Ya, Kan? Hehe...


Memang pada akhirnya, segala perbedaan itu semakin kentara setelah hadirnya anak. Dan benar bahwa anak adalah cerminan orang tuanya. Karena mau tak mau mereka akan meniru segala kebiasaan kita. Baik dari sisi suami maupun istri. Bersyukur kalau yang ditiru yang baik-baik. Kalau yang jelek? Ya, berarti tugas rumah sudah menanti.

Menikah dan menjadi orangtua memang semakin menambah lika-liku kehidupan. Mengapa? Karena semua orangtua pasti memiliki obsesi pada anak-anaknya. Ingin menularkan segala kebiasaan, kesenangan, impian dan cara masing-masing dalam memandang kehidupan. 


Sampai pada tahap ini, komunikasi menjadi semakin vital karena kompleksitas dalam berumah tangga kian tinggi. Tidak hanya melibatkan dua kepala lagi,  tapi 3, 4 atau bahkan 5. Dan seperti halnya orang tua yang memiliki keberagaman tujuan dan karakteristik yang mengakar. Begitu pun halnya dengan anak-anak.


Pada sebuah obrolan ringan, suami  pernah menyampaikan alasannya,mengapa selama ini cenderung tidak mengomentari kebiasaan-kebiasaan saya. Alasan mengenai segala perbedaan yang sudah dibawa sejak lahir, visi serta pengalaman hidup yang berbeda. Membuatnya tak mau terlalu banyak memberi aturan.


Untuk pakem tertentu dalam berumah tangga, kewajiban suami istri, pengasuhan anak tentu saja banyak hal kami sepakati. Namun dalam area yang terlalu pribadi, tentu saja kedua belah pihak tidak bisa masuk terlalu dalam. Karena pada dasarnya setiap pribadi tetap memiliki “area pribadi” yang tak ingin disentuh atau bahkan diubah oleh siapapun orangnya.


Pemahaman dan penerimaan atas “area pribadi” ini memang tidak semudah yang dibayangkan. Karena sangat sensitif dan subyektifitasnya tinggi. Biasanya hal-hal yang ada dalam area pribadi ini sudah mengakar kuat dalam diri seseorang. Tapi bukan tidak mungkin untuk mendapatkan sentuhan baru. Hanya saja diperlukan cara-cara yang tidak memaksa, sehingga lebih mudah dalam menjalaninya.

Sampai di sini tugas rumah datang lagi, "memberi sentuhan baru, tapi bukan memaksa", noted.

Semakin lama usia pernikahan, apakah jalan yang dilalui semakin lurus tanpa liku? Tentu tidak, karena tantangan baru selalu menunggu di setiap rentang waktu. Setelah masalah komunikasi dan ekonomi dapat dilalui. Maka masalah pengasuhanlah yang lumayan menguras energi. Mengapa? Karena rentang waktunya sangat lama. 

Selama kita hidup bersama anak-anak, hingga akhirnya kita tua dan mati. Maka saat itulah tugas sebagai orangtua baru berhenti.” Begitu nasihat suami pada suatu kesempatan diskusi.


Kemudian saya menerawang kembali, sudah ratusan kali mengeluh dalam hati dengan segala kelelahan ini. Lah, ternyata masih panjang lika-liku yang harus dilalui. Bukan 5 atau 10 tahun lagi. Tapi bisa jadi belasan atau puluhan tahun lagi. Menjaga energi dalam hati menjadi sama pentingnya dengan memastikan kondisi fisik tetap mumpuni.


Meskipun setiap orang menginginkan jalan yang lurus untuk dilalui. Tapi kenyataannya tak ada jalan yang lebih asyik selain yang berliku ini. Adanya belokan memaksa kita untuk sesekali berhenti. Beristirahat, me-recharge energi untuk kemudian memetik hikmah dan mulai berjalan kembali. Lika-liku ini juga membuat kita lebih berhati-hati, agar tak lepas kendali sehingga keluar dari jalur yang telah dibatasi.


Sekarang, saya suka tertawa sendiri. Ternyata, setelah “laku” (menikah) itu banyak sekali lika-likunya. Ya … Dinikmati saja. Sambil berharap dan berusaha hasil akhirnya senikmat perjalanan ini. Toh, kita pasti dengan senang hati melewati setiap lika-liku ini. Karena kita telah memilih, dan pernikahan itu menurut saya adalah sebuah pilihan. 

Have a great journey in your life. Enjoy it!




Custom Post Signature

Custom Post Signature