A Story of Mom, Wife, Daughter and Active Woman

Personal Branding For Stay at Home Mom, Yay or Nay?

|




Personal Branding is about being authentic, true, and yourself 
~ Artha Julie Nava ~

Gambar: Pixabay

Pertanyaan ini sudah lama melintas dalam benak saya. Sebagai ibu rumah tangga, perlukah saya membranding diri untuk suatu hal? 

Mungkin lebih mudah ketika saya masih bekerja kantoran. Atau saat  masih menjalankan bisnis retail baju muslim dan souvenir pernikahan. Atau, barangkali sebagian besar teman- teman baik di dunia nyata maupun maya terlanjur mengenal saya sebagai pebisnis MLM produk kosmetik luar. Hem … Tak terasa, banyak juga yang sudah saya lakoni sembari menjalankan tugas utama sebagai istri dan ibu dari dua bocah.


Belakangan ini, kurang lebih 3 tahun terakhir sejak 2014. Saya sempat kebingungan menentukan arah dan tujuan saya nanti di masa depan. Mengasuh dan membesarkan anak-anak dengan tangan saya sendiri, itu sudah pasti. Itu sebabnya saya memilih menjadi stay at home mom. Atau menjadi pendamping yang se-frekuensi dengan suami, yang itu pun tak perlu saya jelaskan lagi. 

Baca juga: Sharing is Caring

Keduanya merupakan tujuan utama saya sebagai seorang wanita yang menjatuhkan pilihan hidupnya untuk menikah dan berumah tangga.


Tapi, secara pribadi sebagai perempuan. Tentu saya memiliki cita-cita yang terus saya genggam dengan erat. Bukan hanya tentang pengakuan, tapi semacam tanggung jawab pada kehidupan dan nilai yang selalu ditanamkan oleh orang tua saya. Sebagai manusia kita harus bermanfaat bagi yang lain, bukan hanya diri sendiri.


Dalam salah satu artikel personal branding yang ditulis oleh coach Artha Julie Nava. Artikel yang berjudul “Ibu Rumah Tangga, Perlu Personal Branding juga?” di www.arthajulienava.com. Beliau berpendapat bahwa ibu rumah tangga, atau stay at home mom, PERLU untuk membangun branding dirinya. 


Saya pun mengamini pendapat coach Artha, karena menurut saya personal branding bukan sekedar penanda sebagai siapa kita ingin dikenal. Tapi agar arah dan tujuan kita di masa depan semakin jelas, fokus dan memungkinkan menjadi expert di bidangnya.


Personal Branding adalah tentang bagaimana Anda melakukan redesigning for self image, dengan melakukan sesuatu hal yang memiliki nilai unique dan special yang tidak dimiliki oleh orang lain. (Dwiarko Susanto)


Gambar : Pixabay


Bagi ibu rumah tangga, atau saya lebih nyaman menyebutnya stay at home mom untuk ibu-ibu yang tidak bekerja di luar rumah. Tentu bukan perkara mudah untuk menentukan arah yang akan dituju terkait dengan branding dirinya. Benar kata Coach Artha, kebiasaan menjadi pribadi yang multi tasking mau tak mau membuat saya merasa “mampu” melakukan banyak hal.



Dalam hal pekerjaan rumah tangga, tentu saja saya “mampu”. Karena sebenarnya, kondisilah yang membuat kami para perempuan mampu untuk melakukan ini dan itu dalam waktu bersamaan. Selain karena cara kerja otak perempuan memang memiliki kemampuan berpindah dengan cepat. Dari bagian satu ke bagian lainnya, yang memungkinkan mereka bisa melakukan beberapa pekerjaan secara bersamaan.



Tapi, kebiasaan ini pun ternyata membawa efek samping bagi sebagian besar stay at home mom. Karena terbiasa melakukan aneka peran, maka Supermom Syndrome lekat pada diri mereka. Ingin memelajari banyak hal, merasa mampu membagi waktu dengan cermat. Semuanya ingin dilakukan dan dimiliki dalam waktu bersamaan.



Mengenai hal ini, suami saya sudah sangat sering mengingatkan. Bahwa sebagai manusia, kemampuan kita memang tidak terbatas, asalkan kita mau mengembangkannya. Tapi kita tidak bisa memungkiri, bahwa waktu, tenaga dan biaya adalah tiga hal yang tidak bisa dinafikkan akan menjadi pembatas utama.

Saya pun sempat mengalami Supermom Syndrome, ketika anak pertama lepas masa batita. Sempat kewalahan karena belajar menjahit, baking sekaligus tata rias, ditambah obsesi saya untuk dapat mengaplikasikan teori montessori rumahan pada Najwa. Saya yakinkan diri sendiri bahwa dengan 24 jam berada di rumah, seharusnya saya lebih leluasa mengatur waktu untuk memelajari banyak hal.



Kenyataannya? Semua tidak bertahan lama. Kalau orang bilang, “anget-anget tai ayam”. Nggak ada satu pun yang membuat saya memiliki komitmen tinggi untuk terus melakukannya.



Sempat menghasilkan beberapa potong baju dan mukena untuk Najwa. Tapi saya mulai menyerah saat salah membuat pola atau kesulitan menjahit bagian kerah baju. Akhirnya, mesin jahit portable yang saya beli di tahun terakhir bekerja. Saya serahkan juga pada ibu saya yang jauh lebih mumpuni dalam bidang jahit-menjahit.



Beberapa kali membuat kue rumahan bersama Najwa. Bahkan kue kering untuk lebaran tahun lalu pun tak luput saya coba. Hasilnya lumayan, tidak mengecewakan untuk kelas pemula. Sempat berfikir untuk mengambil kursus dan melengkapi peralatan baking di rumah. Tapi lagi-lagi saya ter-distraksi dengan hal baru yang terlihat menyenangkan, tata rias!



Saya sempat kelelahan, karena merasa tidak ada yang masimal. Tidak ada yang saya lakukan secara konsisten dengan komitmen yang tinggi. Lalu, saya pun mulai berpikir untuk menekuni dunia blogging. Menulis, dunia yang pernah saya sukai, tapi menguap setelah saya tinggalkan begitu saja.





Sampai hari ini, hampir satu tahun  saya konsisten dalam menekuni aktivitas menulis. Tidak seperti kegiatan-kegiatan saya sebelumnya, saya lebih konsisten dan hampir tidak melewatkan satu hari pun kesempatan menulis. Kecuali sedang berhalangan seperti sakit.



Saya mulai berpikir untuk membranding diri saya sebagai seorang bloger. Ya, profesi ini memang cenderung seperti hobi saja. Tapi, seiring berkembangnya era informasi, bloger telah menjadi salah satu profesi yang layak untuk diperhitungkan dalam menghasilkan rupiah. Bahkan banyak peluang terus berdatangan bagi mereka yang telah mengikrarkan diri sebagai professional blogger.



Bagi saya yang sepak terjangnya masih jauh dari panggang. Tentu saja belum layak untuk menyebut diri sebagai full time blogger. Sedangkan sebagai freelance blogger saja saya masih meraba. Pelan dan banyak yang harus saya pelajari dari awal.



Mungkin saya memang menunggu saat yang “tepat”. Saat di mana anak-anak lebih mandiri dan saya bisa lebih leluasa dalam bergerak. Saya yakin waktunya akan tiba, karena seorang perempuan memang memiliki masanya masing-masing. Tapi saya memulainya dari sekarang. Perlahan membranding diri sebagai seorang bloger dan penulis, sebagai salah satu tujuan di masa depan.



Keputusan ini membuat saya lebih mudah dalam menentukan arah dan fokus mengatur energi serta pencapaian. Saya pun cenderung lebih mudah menentukan keterampilan apa yang harus saya pelajari dan tingkatkan. Sehingga mendukung tujuan saya di masa depan.



Kalaupun pada akhirnya saya kembali tertarik pada dunia baking atau menjahit. Mungkin sifatnya hanya hobi saja, untuk bersenang-senang saat butuh hibura. Dan sebisa mungkin bisa menjadi salah satu bahan untuk saya menulis.  Hem … siapa tahu bisa menulis satu buku berbekal sampingan tersebut, who knows?



Jadi, klop ya dengan pendapat coach Artha. Bahwa bagi saya, stay at home mom pun butuh mambangun branding dirinya. Mungkin bukan sekarang, tapi Temans bisa mempersiapkannya untuk menghadapi masa depan. Tapi, apa salahnya jika bisa dimulai hari ini?








Be First to Post Comment !
Post a Comment

Hallo! Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya. Semoga bermanfaat. ^-^

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Custom Post Signature

Custom Post Signature