A Story of Mom, Wife, Daughter and Woman

D.I.Y. - Membuat Mainan Anak dari Bahan Bekas di Rumah

|


"Bermain adalah dunianya, tempat bermain menjadi istananya, sedangkan anak-anak ibarat raja dan ratu penguasanya." 


“Ibuk, astonot ntu apa? Adik au adi astonot!” (“Ibuk, Astronot itu apa? Adik mau jadi astronot!”). Belasan kali kalimat itu terucap dari mulut kecil Najib. Hingga saya mulai kewalahan menjelaskan tentang astronot dan berbagai hal yang ada di ruang angkasa. Tentu saja perasaan kewalahan ini  muncul, karena untuk menjelaskan hal serumit ini kepada seorang batita memerlukan trik dan kalimat sederhana agar mudah dipahaminya.


Belum lagi kalau penjelasan itu tidak sesuai dengan imajinasi kakak Najwa yang sudah lebih tahu tentang hal-hal yang berkaitan dengan tata surya kita. Bukan cuma dikomplain, berulang kali saya harus menerima interupsi di tengah keasyikan mengobrol bersama sang bujang.


Hampir dua bulan sejak Najwa dan Najib semakin excited dengan segala hal yang berkaitan dengan ruang angkasa. Semua itu bermula sejak saya dan suami mengajak mereka berkunjung ke Sky World. Salah satu wahana di TMII Jakarta yang menyajikan segala hal yang berkaitan dengan kehidupan ruang angkasa, serta berbagai fenomena yang terjadi di alam.

 DuoNaj goes to Sky World, TMII, Jakarta.


DuoNaj goes to Sky World, TMII, Jakarta.






Semenjak hari itu, rasa ingin tahu mereka tentang planet, bulan, matahari dan tentu saja astronot semakin membuncah. Walaupun sebenarnya cerita-cerita tentang kehidupan ruang angkasa sudah lebih dulu saya perkenalkan melalui majalah Bobo yang selama 2 tahun terakhir ini menjadi salah satu koleksi bahan bacaan di rumah.


Seolah khawatir kehabisan ide berdiskusi dengan DuoNaj yang semakin bergairah dengan rasa ingin tahunya. Saya pun meminjam satu buku berjudul “Drama Ruang Angkasa” dari keponakan saya yang kebetulan memiliki kesenangan serupa. 


Buku Seri Penjelajah Ruang Angkasa ini tidak hanya membantu saya mendapatkan ide untuk bercerita, berdiskusi bahkan bermain dengan kedua bocah kinestetik di rumah. Tapi buku ini semakin melambungkan daya imajinasi mereka dengan segala hal yang ada di dalamnya. 


Begitulah awalnya hingga pertanyaan-pertanyaan baru seperti, “Bagaimana kalau astronot kebelet pipis di ruang angkasa?”  “Apakah Alien itu benar-benar ada?” “Bagaimana kalau kita dipindah ke planet Mars?” Bahkan pertanyaan tentang apa yang terjadi jika pesawat ulang alik tidak bisa kembali ke bumi, meluncur dengan lancar dari mulut kecil DuoNaj..


Rentetan pertanyaan seperti itu memang lebih sering muncul dari rasa penasaran Najwa yang kemudian diikuti adiknya. Najwa memang sudah lebih banyak menyerap informasi mengenai segala hal yang kami baca atau ceritakan di setiap ada kesempatan. Tapi, jangan salah. Adik Najib yang baru berusia 2,5 tahun pun tak mau ketinggalan dengan dunia imajinasinya sendiri sebagai seorang astronot. Hingga akhirnya, kami harus mencari berbagai video yang berkaitan dengan misi pengiriman pesawat ulang alik ke bulan. Lengkap dengan penampakan para astronot dengan baju khusus dan perlengkapannya.


Seketika itu, kami sebagai orang tua harus belajar banyak hal untuk memuaskan rasa ingin tahu anak-anak.  Tidak hanya menggunakan media video atau membaca buku cerita, kami pun mulai bermain peran dengan mereka. Bermain role play dengan memeragakan kehidupan di ruang angkasa tak luput membuat saya mengambil salah satu peran. Ya, tentu saja peran sebagai alien yang saya dapatkan. Karena anak-anak sudah memutuskan ingin menjadi astronot yang mereka anggap hebat.


Tak disangka, melalui permainan role play ketertarikan anak-anak terhadap suatu hal semakin mendalam. Misalnya ketika saya mendemonstrasikan bagaimana seorang astronot berjalan. Si Najwa malah bertanya, “Apakah baju astronot itu berat?”


Hal ini dikarenakan saya mendemonstrasikan cara berjalan astronot dengan sangat pelan dan berhati-hati. Sehingga anak-anak menyimpulkan baju astronot itu sangat berat. Haha … Kenyataannya memang benar, bahwa baju astronot itu berat.  Begitu setidaknya yang saya baca dalam salah satu sumber bacaan.


Belum puas dengan permainan role play yang menggambarkan kondisi seorang astronot dalam misi ruang angkasa. Adik malah merengek minta dibelikan helm dan tas ransel astronot. Hem ... mungkin perlengkapan yang ada dipunggung astronot yang dimaksudkannya. Berulang kali dia meminta, sampai-sampai menelepon ayahnya hanya karena menyampaikan keinginan serupa.


Waduh! Yang ini sempat membuat saya uring-uringan, karena Najib agak susah dialihkan kalau sudah memiliki keinginan. Dia terus bilang mau jadi astronot dan terbang ke bulan. Minta baju dan juga helmnya. “ Ya Allah, Dik. Mana ada juga yang jualan bau astronot. Kalaupun ada juga pasti harganya mihil. Duh ... Sayang bingit", begitu gumam mak irit dalam hati.

Karena tidak tahan dengan rengekan Najib yang berlangsung selama berhari-hari, saya pun berpikir untuk mencari tutorial D.I.Y. perlengkapan astronot untuk anak. Ahai! Saya pun gembira bukan kepalang saat  menemukan satu tutorial yang lumayan mudah untuk kami praktikkan. Terlebih bahan-bahannya pun murah karena hanya menggunakan barang bekas yang ada di rumah.


Saya tak mau melewatkan kesempatan mengajak Najwa dalam proyek pembuatan perlengkapan astronot adiknya. Untuk itu, saya memintanya membantu menyiapkan beberapa bahan dan mengerjakan bersama. Saya pikir, proyek ini bukan hanya menyenangkan untuk adik. Tapi bagi kakak, keterlibatannya dalam membuat permainan dari bahan bekas dapat menjadi stimulasi untuk memantik daya kreasi dan imajinasinya. Dan tentu saja memberikan kebanggaan tersendiri atas hasil karyanya.


Nah, teman-teman di rumah bisa ikuti step by step berikut jika ingin membuat mainan serupa. Tapi jangan lupa siapkan terlebih dahulu seluruh bahannnya.


Step by step membuat mainan perlengkapan astronot



Alat dan Bahan



1. Helm kecil milik anak. Boleh helm untuk berkendara motor, atau helm sepeda.
2. 2 buah botol bekas minuman ringan.
3. Kardus bekas susu atau sereal
4. Kertas warna putih. (saya memakai kertas HVS bekas nge-print)
5. isolasi bening.
6. Kertas krep atau kertas pewarna merah.
7. Tali rafia secukupnya.
8. Gunting kertas.


Cara membuat

  1.  Bungkus helm anak dengan kertas warna putih. 
  2. Bungkus setiap botol bekas dengan kertas warna putih.
  3.  Bungkus kardus susu/ sereal dengan kertas warna putih. 
  4. Rekatkan 2 botol bekas minuman ringan yang telah dibebat kertas warna silver  dengan dobel tape atau isolasi bening biasa pada kedua sisi kardus susu.
  5.  Pasang kertas krep atau kertas pewarna merah sebagai ornament api. 
  6. Pasang tali rafia di bagian kardus bekas yang menempel di punggung dengan isolasi. Fungsi rafia sebagai tali untuk menggendong mainan di punggung anak. 
  7. Foila! Si kecil pun siap menjadi astronot kebanggan orang tua.





Kami cukup puas dengan hasil akhirnya. Terlebih, karena Najwa mengambil peran dominan dalam proyek membuat mainan untuk adiknya. Secara tidak langsung pengalaman ini meninggalkan banyak kesan baginya. Nah, berikut adalah beberapa manfaat melibatkan anak dalam proyek-proyek sederhana bersama orang tua:


Manfaat Melibatkan Anak dalam Project Orang Tua


1. Meningkatkan kepercayaan dirinya.

Anak akan merasa mampu dan diperhitungkan keberadaannya dalam pekerjaan orang tua. Serta meningkatkan kepercayaan dirinya atas keterampilan yang dimilikinya.


2. Mengasah kreativitas.

Membuat permainan atau apapun jenis kerajinan yang diajarkan pada anak secara tidak langsung mengasah kreatifitas mereka untuk mengeluarkan ide yang ada di kepalanya.


3. Mengembangkan imajinasi dan kemampuan berpikir.

Membuat suatu proyek atau kerajinan yang berawal dari suatu hal yang hanya mereka lihat dalam bahan bacaan, tanpa pernah menyentuh atau melihatnya secara langsung. Mau tak mau akan mengembangkan imajinasi anak terhadap benda-benda tersebut. Cara ini dapat mengoptimalkan kemampuan berpikir anak mengenai suatu hal dan permasalahan yang harus dihadapi dalam proses pengerjaannya.


4. Menumbuhkan kebanggaan pada diri anak.

Menumbuhkan kebanggan diri pada anak tidak melulu dengan prestasi akademis atau menjadi juara dalam perlombaan. Membuatnya merasa mampu melakukan suatu hal untuk orang lain hanyalah satu dari sekian banyak cara yang dapat digunakan orang tua sebagai perantara menumbuhkan kebanggaan pada diri anak.


5. Memberikan pengalaman yang mengkristal pada diri anak.
Bahwa anak-anak akan menyimpan suatu hal sebagai kenangan dalam hidupnya, kita semua pasti sudah mengetahuinya. Tapi, pengalaman manakah yang nantinya dapat memengaruhi keseluruhan hidupnya, tentu saja orang tua tak dapat memastikannya.

6. Melatih motorik halus dan kasar.
Aktivitas menggunting, menempel dan melipat sangat baik untuk menstimulus motorik halus dan kasar anak. kemampuan ini harus dioptimalkan sebelum anak memasuki jenjang pendidikan dasar. Sehingga lebih mudah ketika harus mulai untuk belajar menulis atau menggambar.
 
Mengajak anak berkegiatan positif merupakan salah satu usaha memberikan pengalaman yang mengkristal pada diri mereka. Kita tak pernah tahu, bisa saja suatu saat mereka memiliki satu impian untuk masa depannya berkat pengalaman-pengalaman positif yang difasilitasi orang tua.



Sedangkan bagi saya sebagai orang tua, bermain dan melakukan proyek sederhana dengan anak tidak hanya menjadi sarana mempererat bonding. Namun dari kegiatan ini, saya bisa memasukkan nilai-nilai positif untuk mengiringi tumbuh kembangnya.


Tidak hanya saya dan Najwa, Najib pun sangat gembira dengan mainan barunya. Bahkan dia sudah tak sabar untuk segera menuju bulan dengan segala khayalan dalam dunia imajinasinya.


Proyek seperti ini sebenarnya bukan pertama kalinya saya lakukan bersama Najwa. Sebelumnya, kami sudah terlebih dulu membuat mobil-mobilan untuk Najib dari kardus bekas. Masih ingat betul dalam ingatan saya, saat itu si adik sedang senang-senangnya belajar tentang alat transportasi. Maka dari itu kami putuskan membuat sendiri mainan mobil-mobilan bermodal kardus bekas di rumah.





Bersyukur memiliki dua anak dengan kecenderungan kecerdasan kinestetik yang sudah mulai tampak sejak awal. Untuk kakak memang sempat agak sulit mendeteksi ciri-cirinya, karena pada usia 1 hingga 2 tahun, justru kecerdasan visual yang dominan. 

Memilih Jenis Permainan untuk Anak 


Menjadi orang tua dari dua anak yang memiliki pola belajar dengan beraktivititas atau bergerak, mau tak mau membuat saya harus menyediakan energi ekstra untuk mendampingi mereka. Apalagi kami hanya tinggal berempat dengan suami yang tingkat kesibukannya di luar rumah lumayan tinggi. Sehingga sebagian besar waktu bermain dan beraktivitas anak lebih banyak dihabiskan dengan saya.


Dalam memilih permainan, saya cenderung mengarahkan mereka pada jenis permainan yang aman tapi merangsang komunikasi dan daya imajinasi anak. Permainan role play merupakan permainan yang paling sering kami lakukan. Meskipun tak jarang si adik lebih memilih berlari dan lompat-lompat di atas kasur yang menurutnya menyenangkan.


Ya, saya tak dapat mengesampingkan manfaat permainan fisik bagi anak. Maka dari itu porsi untuk melakukan permainan jenis itu tetap kami sediakan. Tentunya dalam pengawasan orang tua sehingga dapat dipantau keamanannya.


Dalam permainan apapun, faktor keamanan dan kenyamanan selalu menjadi pertimbangan utama. Maka dari itu saya berusaha untuk selalu mendampinginya, sehingga dapat memastikan anak-anak tidak melakukan permainan yang membahayakan keselamatannya. Dan yang tidak kalah penting mereka nyaman dan betah berlama-lama dengan kesenangan kecil yang mereka ciptakan dalam dunia imajinasinya.

Waspada dengan perubahan kondisi anak


Sebenarnya, dalam setiap permainan yang dilakukannya, anak sedang mengeksplorasi dan belajar banyak hal baru dalam kehidupannya. Tapi terkadang mereka lupa dengan kondisi tubuh yang bisa saja menurun karena faktor kelelahan. 


Untuk itu, saya berusaha waspada dan awas dengan perubahan kondisi tubuh dan psikologis anak. Ketika si kecil sudah terlihat lemah dan tidak bersemangat. Segera saja saya mencari tahu kemungkinan gangguan tubuh yang menyerang mereka.


Biasanya saat kondisi tubuh mereka menurun, maka gangguan panas atau demam yang paling mudah dideteksi secara manual. Oleh karenanya, saya selalu sedia thermometer untuk mendeteksi perubahan suhu tubuh anak dan obat penurun panas jika dirasa perlu sebagai pertolongan pertama.


Khusus untuk obat penurun panas, saya sudah memilih Tempra sejak pertama kali menjadi orang tua. Tempra merupakan obat warisan dalam keluarga besar saya, karena kami telah menggunakannya secara turun temurun sejak belasan tahun yang lalu.






Tahun lalu, Tempra Drops dan Tempra Syrup masih menjadi persediaan obat-obatan di rumah. Namun sejak si adik berusia 2 tahun, kami hanya menyediakan varian Tempra Syrup untuk menurunkan panas atau nyeri yang bisa sewaktu-waktu menyerang anak-anak.


Produk dari PT. Taisho ini tidak hanya ampuh menurunkan panas dan deman pada anak, tapi ketika mereka mengalami nyeri akibat pertumbuhan gigi, Tempra sangat membantu mengurangi rasa tidak nyaman yang dapat ditimbulkan. 

Obat penurun panas ini sangat saya rekomendasikan untuk orang tua yang masih memiliki anak balita atau menjelang usia sekolah. Karena pada usia tersebut, anak-anak masih sangat rentan terserang gejala panas akibat kelelahan atau nyeri akibat pertumbuhan pada giginya.

Memiliki anak dengan tingkat aktivitas tinggi mau tak mau membuat kita harus lebih waspada, dan terlibat dalam permainan-permainannya. Usahakan untuk tidak membatasi anak dalam mengeksplor segala hal yang ingin diketahuinya melalui permaian. Tapi selalu pastikan bahwa permainan mereka aman dan membuat anak nyaman untuk berlama-lama dalam dunia imajinasinya.


Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog Tempra yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Taisho. Artikel ditulis berdasarkan pengalaman dan opini pribadi. Artikel ini tidak dapat menggantikan hasil konsultasi dengan tenaga kesehatan profesional.















Ramadan dan Kemenangan Para Pedagang

|
Mau tahu nggak, apa yang bikin Ramadan itu beda? Kalau soal keistimewaannya bagi umat muslim di seluruh penjuru dunia, itu nggak perlu dibahas lagi. Apalagi oleh saya yang soalan agama pun masih belajar. Sudah banyak orang lain yang lebih mumpuni dan memaparkan keistimewaannya.

Sumber gambar :Kompasiana

Nah, kalau mahmud kayak saya, ehem… *kibasjilbab, Ramadan jadi beda karena geliat perekonomian masyarakat begitu terasa. Coba amati sekitar kita. Nggak hanya 1 atau 2, belasan orang di sekitar rumah saya beralih profesi menjadi pedagang (dadakan). Hebatnya, hampir semua laku. Means, fenomena ini bukan karena euphoria aja ya. Tapi memang mampu menghasilkan rupiah bagi mereka.

Saya pun sempat berpikir ingin mencoba peruntungan di bisnis musiman seperti ini. Karena udah terbukti, mulai kurma sampai baju semua laku dijual. Lah, kok mahal amat kurma. Yang jualan amplop lebaran aja laris manis. Terlebih di kota besar seperti Jakarta, apapun yang dijual hampir pasti laku. Apalagi kalau barang-barang tersebut belum didistribusikan ke daerah. Malah semakin laku keras, karena bisa jadi oleh-oleh mudik yang spesial.

Fenomena seperti ini memang hampir selalu terjadi di setiap bulan Ramadan. Peningkatan jumlah pebisnis atau pedagang musiman bukan lagi mengejutkan. Boleh jadi karena rentetan kebutuhan saat lebaran memang mampu menjadi angin segar bagi pemilik modal. Tapi yang pasti, semua ini karena meningkatnya budaya konsumtif masyarakat saat Ramadan dan dilanjutkan menjelang hari raya.

Iseng-iseng saya coba bikin list kebutuhan mulai awal ramadan sampai tengah bulan ini. Dari yang paling kecil saja kurma, sampai yang lumayan fantastis angkanya yaitu parsel lebaran. Wuih, udah langsung penuh saja buku catatan. Padahal, untuk kelas kami, berbelanja masih mengandalkan pasar tradisional dekat rumah. Yang tentu saja belum bersinggungan dengan aneka gerai perbelanjaan modern, tempatnya aneka diskon yang godaannya bakalan lebih sadis merogok kocek kita.

Sumber gambar: Tripadvisor

Pernah juga saya mencoba ngabuburit di sebuah food court di dekat tempat tinggal saya. Fantastis! Sekitar jam 4 sore, atau satu setengah jam menjelang waktu berbuka. Hampir semuanya sudah reserved. Padahal pilihan tempatnya puluhan loh, dengan ketersediaan tempat yang nggak sedikit juga. Tapi semua sudah dibooking untuk acara bukber bahkan personal. Hal seperti ini memang lebih parah saat weekend tiba. Tapi, bukan berarti pada hari biasa menjadi lebih sepi. Sama saja pokoknya. 

Yang lebih bikin heran lagi, warteg langganan pun meng-aminkan meningkatnya omzet harian. Lah, saya sempat bingung sebenarnya. Katanya puasa, kok omzetnya malah naik. Bukannya jatah makan justru berkurang ya? Ternyata tidak. Justru bertambah karena dalam satu jam makan jenis lauk yang disediakan semakin beragam. Sehingga makanan jadi yang dibeli pun bisa beraneka ragam. Kalau biasanya satu jenis sayur sudah cukup, selama Ramadan bisa jadi 2 atau 3 untuk sekali makan. *pijatkening

Tapi mau bagaimana lagi? Semua sudah terlanjur menjadi budaya. Nggak afdol rasanya kalau Ramadan tapi sepi-sepi saja. Toh, budaya konsumtif masyarakat kita turut menjadi penggerak perekonomian secara luas. Membuka peluang baru bagi yang memiliki modal dan passion di dunia usaha. 

Penambahan jumlah pedagang atau pebisnis musiman tentu saja bukan semata-mata karena memanfaatkan sikap konsumtif masyarakat secara umum. Tapi kejelian pebisnis dalam membidik dan mengambil peluang tetap menjadi faktor penentunya. 

Mungkin juga teman-teman sudah sering mendengar kisah sukses yang berawal dari fenomena musiman ini. Ya, awalnya memang membidik pasar Ramadan, kemudian berlanjut hingga menjadi bisnis yang bersifat permanen. Ini bukan sekedar cerita, tapi sudah banyak yang membuktikan. Dan tentu saja peluang seperti harus lebih banyak ditularkan.

Sumber gambar: Metroasahan

Budaya konsumtif masyarakat yang meningkat di bulan Ramadan sebenarnya cukup memprihatinkan. Karena dalam banyak keluarga, tabungan yang telah dipersiapkan pada bulan-bulan sebelumya justru hanya untuk mengantisipasi kebutuhan selama satu bulan ini. 

Di sisi lain, bolehlah kita berkata bahwa Ramadan tidak hanya mengantarkan umat muslim pada hari kemenangan, yaitu ketika raya tiba. Namun Ramadan mampu memberikan kemenangan bagi para pedagang. Tidak sebatas pada omzet penjualan, tapi kejelian dalam melihat peluang dan mengasah keterampilan bagi yang baru memulainya.

Ya, selalu ada dua sisi dalam setiap soalan. Budaya konsumtif yang sebenarnya kurang menguntungkan secara personal, tapi mampu membuka peluang baru serta memperbesar pipa perekonomian bagi sebagian orang.  Tentu saja semuanya kembali pada keputusan individunya. Karena dalam menerapkan sebuah gaya hidup, tentu saja kekuatan diri harus menjadi pertimbangan yang mendasar.

Nah, kira-kira Temans mau ambil posisi di mana nih?







Memilih Kereta Api sebagai Alat Transportasi Mudik Paling Nyaman untuk Balita

|



Pulang kampung masih menjadi salah satu tradisi menyambut lebaran bagi keluarga kecil kami. Meskipun secara berkala kami berkunjung ke rumah orang tua. Atau sebaliknya, bapak, ibu atau mama akan segera datang ke Jakarta setiap ada kelonggaran waktu dan rezeki tentunya. Tapi, tradisi melewati malam takbir bersama keluarga besar seolah masih sulit untuk kami tinggalkan. 

Bersyukur hingga menginjak tahun kelima bergelar perantau ibukota kami masih mendapatkan kesempatan berduyun-duyun bersama pemudik lainnya. Meskipun tak selalu mulus diperjalanannya, tapi kami selalu melewati malam takbir di kampung halaman.

Tahun inipun tentu saja kami tak akan melewatkan kesempatan serupa. Bahkan, jauh-jauh hari sebelumnya kami telah mengantongi tiket mudik menggunakan kereta untuk empat orang. Tak tanggung-tanggung, sejak akhir Maret 2017 kami ikut menjadi salah satu pemburu tiket lebaran. Hal ini juga merupakan salah satu tradisi baru bagi para pemudik seperti kami. Sejak prosedur pembelian tiket dan peraturan PT.KAI dirombak total. Membeli tiket kereta saat lebaran harus dilakukan penuh perencanaan. Baik dari segi financial maupun jadwal keberangkatan.

Sampai hari ini, mudik menggunakan kereta api masih menjadi pilihan bagi kami sekeluarga. Selain faktor kenyamanan, ketepatan waktu menjadi alasan utama di antara beberapa alasan lainnya. Pernah kami mencoba mudik dengan menyewa mobil seorang teman. Alhasil 2x24 jam harus kami habiskan di jalanan Jakarta – Magetan. Itu baru perjalanan ke kampung. Pas balik ke Jakarta, kami masih harus menghabiskan 36 jam menyusuri panasnya jalanan beraspal. 

Lelah sangat dan anak-anak rewel selama perjalanan. Waktu di kampung pun menjadi sangat pendek karena habis untuk perjalanan. Ya, mungkin karena kami belum terbiasa saja melakukan perjalanan jauh dengan kendaraan pribadi. Tapi kenyataannya menggunakan kereta api masih jauh lebih nyaman. Setidaknya untuk keluarga kami.

Lalu, mengapa tak memilih pesawat yang pastinya bisa lebih cepat? Kampung halaman kami, Magetan, terletak di sebelah timur kota Solo. Dapat ditempuh selama 3 jam dengan menggunakan kendaraan pribadi dari Solo. Atau 5 hingga 6 jam jika dari Yogyakarta. Durasi waktu yang sama dibutuhkan jika memilih penerbangan Jakarta-Surabaya.

Jika berniat mudik dengan pesawat, itu artinya kami harus memilih rute penerbangan Jakarta-Yogyakarta, Jakarta-Solo, atau Jakarta-Surabaya. Kota terdekat dengan Magetan yang memiliki fasilitas bandara untuk penerbangan komersial. Kemudian baru melanjutkan ke Magetan dengan kendaraan darat.  Lain halnya jika memilih kereta. Karena lokasi salah satu stasiun terbesar di negara kita ada di Madiun, hanya bersebelahan dengan Magetan kampung halaman kami. Maka hanya butuh satu jam untuk menyambung perjalanan dari stasiun ke rumah.

Itu sebabnya, baik dari segi waktu, biaya dan kenyamanan kami jelas memilih kereta sebagai alat transportasi mudik. Terlebih kami membawa balita yang masih butuh banyak ruang gerak. Kereta yang kami pilih pun biasanya kereta malam. Begitu masuk gerbong kereta, anak-anak akan main sebentar, tidur, kemudian pas bangun sudah sampai Stasiun Madiun. Perjalanan jadi terasa lebih singkat.

DuoNaj memang sudah terbiasa diajak bepergian dengan alat transportasi umum. Tapi tetap saja, faktor kenyamanan selalu menjadi prioritas bagi mereka. Di samping pemilihan jenis transportasi yang akan digunakan, saya selalu mempersiapkan beberapa hal yang mendukung kenyamanan mereka. Beberapa di antaranya ada di bawah ini.

1. Mainan dan buku bacaan jangan sampai tertinggal

Meskipun biasanya kami melewatkan perjalanan malam hari dengan kereta, seperti yang saya sebutkan di atas. Tapi tetap saja anak-anak tidak langsung tidur. Mereka akan bermain dulu sampai 1atau 2 jam setelah kereta mulai melaju.



Untuk itu, mainan dan buku bacaan jangan sampai tertinggal. Karena kesengajaan meninggalkan dua hal ini hanya akan menambah kepanikan selama perjalanan. Tak ada pengalihan yang bisa membuat mereka nyaman berlama-lama di tempat duduknya.

Teman-teman yang memiliki balita juta pasti pernah mengalaminya. Untuk itu barang kesayangan anak jangan sampai tertinggal saat melakukan perjalanan jarak jauh. Terlebih jika menggunakan transportasi umum.

2. Makanan kecil dan minuman 

Sejak diberlakukannya larangan bagi PKL untuk berjualan di atas kereta api. Secara otomatis urusan perut penumpang menjadi tanggung jawab pribadi, atau bisa juga ke restorasi jika uang saku berlebih. Masalahnya, jika teman-teman bepergian dengan balita yang hobi ngemilnya nggak ketulungan. Bisa membengkak budget perjalanan kalau bolak-balik jajan ke restorasi yang makanannya dihargai beberapa persen lebih mahal  dari harga jual di luar.



Membawa camilan kasukaan anak tidak hanya menimbulkan rasa nyaman tanpa khawatir mereka lapar, tapi juga pengalihan yang menyenangkan saat bosan mulai melanda. Apalagi buat ibunya yang punya hobi mengunyah. saya kali yak, hihi …

3. Menyiapkan emergency bag 



Satu tas kecil berisi perlengkapan pribadi anak, obat-obatan hingga baju ganti wajib disiapkan di dekat tempat duduk di kereta. Cara ini memudahkan Temans saat membutuhkan sesuatu yang diperlukan secara mendadak, tanpa perlu membongkar koper atau tas baju besar.

4.  Nikmati perjalanan dengan aktivitas yang menyenangkan

Bercerita, membaca buku atau bernyanyi bersama anak bisa jadi pengisi waktu yang tepat. Anak-anak selalu suka dengan aktivitas semacam itu. Terlebih jika Temans mau sedikit berimprovisasi dengan lelucon yang menyegarkan. Anak-anak tidak hanya gembira, mereka bahkan lupa sedang berada dalam perjalanan yang lumayan lama.


Saya rasa keempat tips di atas bisa juga teman-teman aplikasikan saat bepergian dengan kendaraan pribadi ataupun pesawat. Tapi untuk kalian yang lebih nyaman dengan kendaraan umum. Tips terakhir terkait dengan akomodasi pulang-pergi benar-benar harus dipersiapkan.

Untungnya sekarang semakin banyak tempat penjualan tiket yang bisa diakses secara online. Sebelumnya, saya selalu mengakses web PT. KAI untuk membeli tiket tujuan manapun. Sekarang, setelah beberapa kali mencoba aplikasi di pegipegi, saya merasa puas dan mulai beralih ke sana. 

Selain lebih mudah diakses, ketersediaan bangkunya pun lebih aman. Proses pengisian formulir lebih mudah, respon kilat dan banyak sekali promo yang ditawarkan. Di samping itu, customer service dari pihak Pegipegi sangat cepat merespon pelanggannya. 

Pernah suatu ketika saya membayar transaksi dari rekening suami tapi menggunakan mesin ATM Bersama. Pihak Pegipegi langsung menghubungi saya untuk mengonfirmasi ke saya, karena transaksi dianggap janggal. Hanya dalam jarak beberapa menit setelah transfer, customer service langsung menghubungi saya. Dan satu menit kemudian e-Ticket sudah dikirm ke email saya. Jika teman-teman ingin mencoba pengalaman reservasi tiket mudah dan cepat seperti saya, langsung aja ke www.pegipegi.com. Siapa tahu pas dapat promonya juga.

Saya merasa sangat terbantu dengan aplikasi seperti ini. Bepergian ke manapun jadi lebih mudah untuk menyiapkan akomodasinya. Dan yang lebih penting, mudik lebaran tahun ini insya Allah aman dan bebas dari macet yang lumayan melelahkan. Ah ... Rasanya saya sudah mulai menghitung hari hingga tanggal keberangkatan teman-teman mudik juga kan? Kapan berangkat?

Custom Post Signature

Custom Post Signature