A Story of Mom, Wife, Daughter and Woman

Menumbuhkan Konsep BUTUH Beribadah pada Anak

|






Kali ini saya bikin blog post tentang cerita bahagia yang sebenarnya agak "receh". Hehe.. Tapi saking senengnya, saya merasa sayang aja kalau nggak diabadikan di "rumah" yang ini. 

Ceritanya tentang kebiasaan ngobrol ngalor ngidul sama Najwa. Jadi, ternyata, nih. Kebiasaan ngobrol dengan Najwa ini  membawa hikmah dan model pembelajaran baru buat saya. Misalnya ketika ingin menerapkan konsep ibadah kepadanya. Saya justru mendapatkan ide dari obrolan panjang lebar dengannya yang bisa terjadi di mana saja. Misalnya dari obrolan berikut ini:
 
Suatu ketika Najwa saya ajak besuk tetangga yang sedang opname di rumah sakit. Di angkot, saat perjalanan pulang. Dialog seperti ini terjadi antara kami

Najwa : “Buk, kenapa Mbah tadi hidungnya dipasang selang?”  

Ibu : “Itu untuk membantu bernapas.”

Najwa : “Memangnya kalau tidak dibantu Mbahnya nggak bisa bernapas gitu?”

Ibu : Bisa, tapi susah. Karena sakitnya sudah parah, jadi napasnya sudah sesak, pasokan oksigennya sudah berkurang.” (hahaha … saya jawab sekenanya.)

Najwa: “Ohh … Trus itu selangnya ada udaranya untuk bernapas?”

Ibu: “Iya, selang tadi mengalirkan udara dari tabung oksigen yang ada di sebelah tempat tidur. Nah, udara yang bisa dihirup manusia namanya oksigen.”

Najwa: “Oo … Itu bayar, Buk?”

Ibu: “Iya, donk. Di rumah sakit nggak ada yang gratis, makanya kita harus menjaga kesehatan.”

Najwa: “Kalau kita bernapas gratis ya, Buk?”

Ibu: “Betul, kita bisa bernafas sepuasnya dan gratis. Siapa yang ngasih?”

Najwa: “Allah.”

Ibu: “Kalau dikasih sesuatu, kita harus gimana?”

Najwa: “Berterima kasih, donk!”

Ibu: “Kakak sudah berterima kasih sama Allah?”

Najwa: “Sudah, aku dah bilang ‘terima kasih Ya Alloh’”

Ibu: “Gitu doang?”

Najwa: “Emang gimana lagi?”

Ibu: “ Dengan beribadah, menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Misalnya salat dan berdoa.”

Najwa: “ Jadi salat itu salah satu fungsinya untuk berterima kasih sama Allah ya, Buk?”

Ibu: “Iya, karena Allah sudah Maha Mengasihi dan Menyayangi kita. Semua dikasih gratis, mulai oksigen, mata, mulut, tangan, kaki, semua diberikan Allah kepada kakak. Allah nggak minta apa-apa, cuma minta kakak beribadah. Salah satunya dengan salat dan berdoa.”

Najwa: “Ohh gitu, jadi nanti kalau aku mau berterima kasih, setiap salat aku bisa ngomong sama Allah, ya?”

Ibu: “Yup …”

Terdengar bertele-tele, bukan? Ya, saya akui. Apalagi anak saya ini memang ceriwis banget. Apaaa aja maunya dibahas. Kadang saya pun nggak sabaran. Tapi, saya belajar banyak dari dia. Rasa ingin tahunya membuka peluang bagi saya dan suami untuk “memasukkan” banyak pengetahuan baru untuknya. Memang tipe anak berbeda-beda. Tapi untuk tipe anak seperti Najwa, cara ini saya rasa lumayan ampuh.

Dari satu obrolan tersebut, saya mulai menyederhanakan konsep ibadah sebagai “kebutuhan berterimakasih kepada Allah”. Tanpa menyinggung  pahala, surga atau neraka. Obrolannya bisa kelamaan kalau sama Najwa, belum kalau merembet ke sana dan kemari. Jiah! Bisa pusing BukNaj. Hehe ... Lebih tepatnya, sih. Mungkin belum waktunya. Bertahap saja, step by step.

Dan ternyata, dari obrolan tadi pun Najwa jadi menyimpan memori tentang oksigen. Hingga suatu ketika obrolan tentang oksigen berlanjut pada karbondioksida, fotosintesis dan lain sebagainya. Lumayanlah, jadi lebih mudah menjelaskannya. Hehehe …

Balik lagi ke masalah ibadah tadi. Ternyata momen dan konsep yang pas,  sangat membantu saya saat mengingatkan Najwa perihal ibadah. Misalnya, dalam suatu obrolan berikut ini:

Najwa: “ Buk, aku nggak salat Magrib, ya, capek!”

Ibuk: “ Kakak mau tidur?”

Najwa: “ Enggak, mau duduk aja istirahat.”

Ibuk: Ya, salat dulu sebentar, habis itu istirahat.”

Najwa: “Sekali aja, deh.”

Ibu: “ Jadi, kakak nggak pengen berterima kasih, nih?”

Najwa: “ Sama yang udah ngasih oksigen ya, Buk?”

Ibuk:  “Iyalah, mana bisa kakak main sampai kecapekan kalau nggak ada oksigen?”

Najwa : langsung berdiri ambil wudlu.

Subhanalloh, saya sebenarnya terharu, tapi berusaha nggak lebay. Hihihi … Biar anaknya merasa bahwa salat adalah kebutuhan. Jadi nggak perlu nunggu diapresiasi.

Di kesempatan lain, Najwa pun berceloteh lucu tentang Allah . Katanya seperti ini,

Najwa: “ Buk, kalau Allah itu kan Maha Pengasih, Maha Menyayangi kita, Maha Baik, Maha Kaya, Yang Punya segalanya, Yang Selalu menolong kita. Nah, kalau setan, aku tahu dia itu pasti Maha Kejahatan.”

Kemudian kami pun tertawa bersama. Hehehe …



Bagi orang tua yang lebih paham tentang agama, pasti cara saya ini terdengar receh banget, hihihi … no prob. Tapi bagi saya, menemukan konsep paling sederhana untuk membuat anak-anak merasa BUTUH beribadah  itu sesuatu banget. Maklumlah, saya juga masih belajar dalam hal agama, teori parenting pun masih meraba-raba.  Beberapa cara sudah saya coba, termasuk memberi teladan dan menggunakan muhasabah book, tetep kurang ngena. Nah, begitu ketemu yang sreg rasanya langsung mak cless.

Sekarang, Najwa selalu bilang salat itu berterima kasih sama Allah. Kadang dia juga ngomong sendiri, "Aku salat 10 menit udah selesai, padahal kalau main sampai berjam-jam. Udah banyak banget udara yang aku hirup. Jadi aku harus rajin berterima kasih." 

Hiks ... Hiks ... Ibunya jadi super melow *usapingus eh *usapairmata

Ternyata rasa BUTUH yang harus ditumbuhkan pada Najwa. Begitu  bagian itu “kena”, maka bersyukurlah kami sebagai orang tua. Ahh … Sekali lagi saya belajar dari Najwa, setiap malas mau salat, saya selalu kepikiran “butuh berterima kasih”. Ahh .. Jadi melow lagi, ternyata saya nggak ada apa-apanya sebagai ibu. 

Jadi benar, ya. Menjadi orang tua itu kita justru belajar sama anak. Mereka yang membuat kita banyak berhutang. Benar juga nggak ada sekolah menjadi orang tua. Karena kita terus belajar selama membesarkan mereka. Matur nuwun Gusti Alloh, saya sudah dikasih kesempatan berharga itu. 

Ini cerita bahagiaku Temans, mana cerita kalian?




[Resensi] Smart Mom Happy Mom - Karena Semua Ibu Berhak Bahagia

|


Tak ada pujian kuharap

Ataupun bayaran kudamba

Hanya senyum tulus dan pelukan hangat

Sebagai gantinya …

Semua kulakukan

Semua kuberikan

Karena aku adalah IBU 

(Bety Kristianto)



Sepenggal puisi di atas hanyalah sebagian dari keseluruhan isi buku yang benar-benar mewakili isi hati saya sebagai seorang Ibu.  Membaca Smart Mom Happy Mom, saya seperti sedang membaca buku diary yang selalu saya simpan rapat di antara tumpukan baju di lemari kamar. Bahkan, berkali-kali saya berpikir, “Kok, Simbok ngertii wae karo uneg-unegku."

Tentang Penulis

Ya, Bety Kristianto, atau Simbok, begitu kami biasa memanggilnya di salah satu grup menulis tempat saya berkenalan dengan beliau.  Seorang ibu multitalenta. Jangan tanya apa saja keahliannya. Sebagai mantan  ibu bekerja, Mbak Bety tidak hanya lihai meramu kata-kata. Tapi berbagai macam bahan dapur, selalu sukses diramunya menjadi aneka sajian bergizi dan tentu saja lezat.

Pribadinya yang ramah, ramai cerdas dan cekatan sangat mewakili sosok Smart Mom Happy Mom. Maka tak perlu heran jika buku ini terasa sangat bernyawa. Karena Mbak Bety menulis tanpa mengada-ada.  Saya yakin beliau sedang curhat, berbagi pengalaman atas suka duka yang dialaminya sebagai ibu dalam buku setebal 138 halaman ini.

Tak jarang saya terkesima dengan kecepatannya menulis artikel di sela-sela mengurus dua anak bujang.  Pada kesempatan lain, saat saya masih berkutat dengan artikel yang belum genap 2, Mbak Bety sudah menyelesaikan adonan pizza atau roti tawarnya setelah merampungkan artikel ke-4 atau bahkan ke-5. “Gendeng, pangananmu opo to, Mbok?”, begitu saya sering membatinnya. Semoga Simbok nggak kecokot-cokot pas makan. Hehehe ...

Sosok Bety Kristianto merepresentasikan buku Smart Mom Happy Mom. Seorang ibu rumah tangga, mantan wanita karier, writer, buzzer, and I am sure she is a good chef at home. Honestly, kita semua para ibu sebenarnya memiliki kesempatan serupa. But, being a smart and happy mom is a choice. Tergantung bagaimana kita menyikapi  masalah dan mensyukuri setiap pemberian dalam kehidupan. Dan yang tidak kalah penting adalah mengenali potensi dan mampu berdamai dengan diri sendiri.




Smart Mom Happy Mom Ibarat Buku Diary

Menelusuri halaman demi halaman dalam buku ini, saya merasa tidak sedang digurui, atau bahkan membaca buku teori . Seperti yang saya tuliskan di atas, Smart Mom Happy Mom seperti buku diary bagi sebagian besar wanita yang telah menjadi ibu pada umumnya. Khususnya bagi saya pribadi, yang telah melalui fase menjadi ibu bekerja kemudian memutuskan untuk stay at home saja. Begitu juga ketika pada akhirnya saya berusaha  productive from home, tanpa meninggalkan tugas utama sebagai ibu dan pendamping bagi suami. Adaa saja tantangan yang harus dihadapi, seperti yang telah dikupas penulis dalam karyanya.

Setiap momen bahagia dan masalah yang disajikan dalam buku ini mau tak mau membuat saya mengangguk tanda setuju. Bahkan tertawa karena merasa penulis sedang menceritakan kegalauan saya setelah menyandang predikat orang tua, IBU.

Pergulatan batin, perasaan tak mampu, merasa tidak mendapatkan ruang untuk mengapresiasi diri. Semua diulas lengkap dengan solusi yang sangat rasional. Bahkan sederhana untuk diaplikasikan. Good Job! Mbak Bety.



Smart Mom Happy Mom adalah Tools 

“This book is a tool kit book, for all future mothers and new mothers in this modern era.” ( Elizabeth Santosa)

Yep!! Saya sangat setuju dengan pendapat Elizabeth Santosa. Membaca Smart Mom Happy Mom seperti sedang tidak membaca buku. Tapi layaknya disuguhi serangkaian tools untuk melakukan ini dan itu. Sekali lagi, tanpa terkesan menggururi karena penulis menuturkannya berdasarkan pengalaman yang telah dilalui. Tentu saja sudah lulus uji. Tapi jika nantinya ada 1 atau 2 poin yang sekiranya tidak sesuai dengan kondisi kita, tinggal modifikasi saja. Simple, kan? 

This book  is very recommended for new mothers . Bisa dijadikan pegangan saat kondisi kurang bersahabat. Ya, yang namanya berumah tangga pasti ada naik turunnya. Terlebih setelah menambah gelar sebagai ibu. Semakin besar tantangan yang harus dihadapi, semakin tak terhitung pula nikmat yang patut disyukuri. 

Penulis memaparkan secara gamblang dan blak-blakan hal-hal yang terkait problematika menjadi seorang ibu.  Ibu bekerja di luar maupun stay at home mom. Saya yakin, hampir setiap ibu pernah mengalaminya.  Tips yang diberikan juga sangat realistis, nggak muluk-muluk dan mudah dipahami.  Cara bertututnya sederhana, renyah, khas gaya bahasa ibu-ibu masa kini.


Banyak buku bertema sejenis, tapi Smart Mom Happy Mom benar-benar tak membuat saya bosan. Overall saya suka. Dan merekomendasikannya untuk semua ibu dan calon ibu dengan segala tantangan yang harus dihadapinya. Sekali lagi, well done, Mbak Bety!! You did it!

Berminat buku serupa? Teman-teman bisa langsung kontak ke penulis keceh satu ini untuk mendapatkan buku bergenre non fiksi terbitan Penerbit Andi. Silakan add and follow sosial media penulis di FB : Bety Sulistyorini Kristianto IG : @betykristianto
 
Finally, keep writing and inspiring us, Mbok! 👌😍😍
  

Judul Buku : Smart Mom Happy Mom
Penulis : Bety Kristianto
Penerbit :Penerbit Andi
Tahun : 2017  
Tebal buku : 138 halaman 
Genre : Non fiksi - Parenting & Family
Harga : Rp55.000,-


Memilih Sekolah Negeri dan Konsekuensi yang Harus Dijalani Orang Tua

|

 "Buk, kata Bu Guruku semua anak tidak boleh takut ke sekolah. Karena di sekolah kita akan bermain dan bersenang-senang."





Sudah 5 hari Najwa melalui masa adaptasi di sekolah barunya.  Selanjutnya KBM langsung aktif dan hampir melewati satu minggu pertama di tahun ajaran 2017/2018. Najwa sangat gembira, begitu setidaknya ekspresi yang dapat saya tangkap darinya. Sepulang dari sekolah, adaa saja cerita baru dari mulutnya. Dia pun nampaknya ingin berlama-lama di sekolah barunya itu. Setiap kali saya datang menjemput, Najwa selalu bilang ingin bermain dulu. Begitulah sampai akhirnya saya tambahkan 30 menit setelah jam belajar selesai untuk digunakannya bermain-main di lingkungan sekolah.


Situasi ini kontras dengan apa yang kami alami sekitar dua hingga sebulan yang lalu. Saya sempat galau memilih sekolah untuk melanjutkan pendidikan dasar Najwa. Antara sekolah swasta, negeri atau homeschooling seperti yang pernah disarankan guru TKnya. 


Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, usia Najwa sangat mepet dengan batas minimal usia yang dipersyaratkan pemerintah untuk mendaftarkan diri di sekolah negeri.

Kami pun mencoba mengikutsertakan Najwa dalam Tes Kesiapan Masuk SD yang diselenggarakan di sekolahnya. Dengan harapan mendapatkan opini dari psikolog untuk menentukan langkah selanjutnya. Tetap mendaftar ke SD, balik ke TK lagi, atau cuti panjang di rumah.


Dari hasil tes tersebut, Najwa dinyatakan siap. Maka mantablah kami untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang sekolah dasar.  Kami pun merencanakan mendaftar ke SD yang direkomendasikan beberapa teman. Sadar usia Najwa ada di batas bawah, kami juga mendaftar di SD Swasta sebagai cadangan. 

Baca juga : 5 Tanda si Kecil Siap melanjutkan ke SD


Hari yang dinantikan tiba, 5 Juni adalah hari pertama pendaftaran SD Negeri untuk gelombang 1. Dan sesuai prediksi, nama Najwa tak sempat muncul dalam di web PPDB sekolah dasar. Usianya jauh di bawah pendaftar yang lain. Rata-rata  usia pendaftar 7 tahun ke atas. Bahkan satu anak berusia 8 tahun sukses menduduki peringkat pertama.


Ya,  pendaftaran sekolah dasar negeri memang memakai faktor  usia sebagai persyaratan utama. Jadi, siapa yang usianya cukup, ya dialah yang berhak mendapatkan kursinya.


Najwa sempat kecewa, namun dari awal saya sudah memberikan pengertian. Bahwa kami akan mencoba kembali di gelombang 2. Siapa tahu rezeki Najwa ada di sana. Benar saja, saat kami mendaftar di gelombang 2, nama Najwa sempat berada di urutan ke-20 di SDN pilihan pertama. Meskipun hanya bertahan selama 30 menit saja.

Menit berikutnya nama Najwa telah bergeser ke pilihan kedua.  Itu pun terus bergeser sampai urutan ketiga dari bawah. Tapi kami bersyukur karena pada hari pengumuman nama Najwa masih tetap di urutan yang sama. Alhamdulillah, Najwa di terima di SDN Favorit pilihan kedua.

Mengapa Memilih SD Negeri


Tentu saja kami punya alasan mengapa pada akhirnya memilih SD negeri sebagai salah satu tempat belajar Najwa. Selain karena dekat dengan rumah, jam belajarnya pendek, hari efektif hanya Senin sampai dengan Jumat. Di SD negeri Najwa juga berkesempatan untuk bersinggungan langsung dengan beraneka keragaman.  Mulai dari agama hingga background ekonomi keluarga siswa yang sangat beragam. Anggap saja cara kami yang terakhir ini terlalu ekstrim, tapi kami yakin ada hikmah yang akan Najwa petik dari lingkungan barunya.


Oh ya, ada satu lagi. Gratis!! Mungkin alasan terakhir ini juga patut saya tuliskan. Karena kenyataannya sampai hari ini kami belum mengeluarkan uang sepeser pun untuk biaya pendaftaran Najwa.  Kebutuhan pribadi siswa seperti seragam, sepatu serta alat tulis tentu saja tetap kami sediakan. Tapi itu semua sifatnya juga dibebaskan. Wali murid bebas membeli di pasar atau toko manapun yang menyediakan.

Kami pun sangat bersyukur karena Najwa membeli sebagian besar perlengkapan pribadinya dengan uang angpau lebaran. Hihihi … *AnakIbuMemangBaik
Honestly, masalah gratis bukanlah alasan utama dari keputusan kami. Nggak masalah juga kalau sebenarnya ada biaya, asalkan wajar dan masuk akal. Dan memang kami tidak merencanakan sekolah mahal seperti fullday atau yang lainnya. Salah satu pertimbangannya karena saya di rumah, sehingga anak-anak tidak perlu berlama-lama di sekolah. Nanti kalau sudah kelas 6 atau SMP mereka juga bakalan lebih banyak kegiatan di luar.  Jadi, sekarang waktunya puas-puasin di rumah.


Baca juga: Mengajarkan Anak Mengelola Uang Angpau Lebaran


Konsekuensi Memilih SD Negeri


Setiap pilihan pada akhirnya pasti menimbulkan konsekuensi bagi pemilihnya. Begitu pun mengenai pilihan kami untuk melanjutkan pendidikan Najwa di sekolah negeri.  Ada banyak hal yang mungkin tak se-ideal yang kami harapkan. Terlebih bagi saya, yang sudah sejak tahun 2005 bekerja di sekolah swasta.


Masalah fasilitas, aktivitas pendukung, dan model pembelajaran merupakan hal utama yang menarik perhatian. Meskipun pada akhirnya saya mampu berdamai dengan semua itu. Melihat effort sekolah negeri yang terus berbenah, saya rasa semua itu sudah cukup meyakinkan kami untuk menitipkan ank-anak di sana. Dengan guru yang dan seluruh staf yang ramah dan penuh perhatian. Toh, pada akhirnya orang tualah penanggung jawab utama atas perkembangan anak-anak, bukan?


Kami pun semakin kompak untuk mensupport pendidikan Najwa dari rumah. Bukan karena pelajaran dari sekolah kami rasa kurang, tapi untuk melengkapi yang memang tidak dia dapatkan.  Misalnya seperti beberapa hal berikut:


Menambah Materi Pelajaran Agama di Rumah


Seperti yang teman-teman ketahui, muatan agama di sekolah negeri pasti nggak sebanyak di sekolah Islam. Pastinya ini jadi tantangan terbesar buat kami. Terlebih sebelumnya Najwa belajar di TK Islam. Rasanya kami harus bertanggung jawab dengan segala hal berkaitan dengan nilai-nilai keislaman selama di TK. Mulai dengan hal yang berkaitan dengan amalan wajib, sunah bahkan nilai keislaman dalam bermasyarakat.


 Awalnya saya merasa ini bakalan berat. Apakah saya sanggup menjalankan tanggung jawab ini? Tapi kemudian pendapat saya berubah. Bagaimana kalau kami belajar bersama  saja? Sehingga mau tak mau saya pun akan menyempurnakan pelajaran agama saya.


Ini bukan hanya tentang belajar salat dan ngaji, atau menghafal  surat pendek, hadist dan doa-doa. Ini tentang belajar agama secara mendalam. Tentang nilai dan tingkah polah yang diajarkan dalam Islam. Proses ini bisa jadi akan panjang dan lama. Jauh lebih lama dibandingkan jika saya memasukkan Najwa di sekolah Islam. 


Ahh … Tapi tak mengapa. Bukankah seharusnya belajar agama itu sepanjang masa selama usia masih ada?  Bukan berhenti saat sudah tertib beribadah dan hafal ratusan ayat. Berdasarkan keyakinan ini akhirnya kami pun berani melangkah.


Pembiasaan terkait ibadah dan penerapan nilai-nilai kami susun sedemikian rupa untuk dapat diaplikasikan tidak hanya di rumah, tapi di mana saja. Pemahaman akan kehidupan beragama pun seringkali kami sampaikan dalam bentuk cerita, menarik hikmah atas suatu kejadian, bahkan dengan mengamati lingkungan sekitar. Tidak mudah memang, tapi kami berusaha untuk istiqomah.





Mengupayakan Pengalaman Nyata dalam Mendidik


Salah satu bentuknya adalah fieldtrip, edutrip atau apalah biasanya teman-teman bisa menyebutnya. Sejak Najwa masih di bangku TK kami sudah sering melakukan kegiatan ini. Tak sekedar rekreasi untuk melepas penat, beberapa traveling jarak jauh maupun dekat yang kami lakukan bersama keluarga sebisa mungkin kami sisipi dengan muatan edukatif.


Misalnya seperti berkunjung  ke museum untuk memperkenalkan sejarah Indonesia. Tamasya ke Kebun Raya Bogor sambil mengenalkan dengan aneka sepsis tumbuhan yang berasal dari berbagai negara. Mengajak anak menggunakan moda transportasi KRL untuk mengajarkannya budaya antri . Termasuk di dalamnya mengenalkan anak tata cara membeli dan menukar  e-ticketing. Bahkan acara pulang kampung pun kami manfaatkan untuk belajar tentang  kehidupan pedesaan. Pergi ke sawah, mandi di sungai dan memberi makan ternak.


Hal-hal seperti ini nyaris tidak mungkin kami dapatkan di sekolah negeri. Karena berdasarkan informasi yang saya dapat dari teman-teman wali murid, aktivitas pengenalan langsung di lapangan memang tidak diagendakan dalam program sekolah.

Baca juga : Piknik Ala DuoNaj #3 - From Sky World to Bird Park



Mengenalkan Bahasa Inggris di Rumah


Saya bahkan baru tahu bahwa anak SD baru mendapatkan pelajaran Bahasa Inggris setelah berada di kelas 6. Tentu saja ini lumayan mengejutkan. Tapi tak apalah, karena hal ini semakin menguatkan tekad saya untuk mengenalkan bahasa Inggris dari rumah. 


Sekali lagi kami akan belajar bersama. Merancang materi yang sekiranya menyenangkan, namun dapat memperkaya keterampilan berbahasa anak-anak.  Bahwa ini tidak akan selalu mudah, saya sangat memahaminya. Tapi saya yakinkan untuk terus mencoba.


Fiuhh!!  Rasanya tugas menjadi orang tua semakin banyak. Padahal ini baru SD kelas 1 pulak, hahaha … Mungkin saya memang terlalu berlebihan, hihihi .. *AmbisiEmak. Tapi mau gimana lagi, menghadapi Najwa yang aktif plus ceriwis nya minta ampun. Emak bapaknya harus pasang kuda-kuda. Sekali dia tanya trus saya jawabnya aoao, bakalan marah-marah nanti si bocah.


Tapi jangan dibayangkan bahwa kami ini orang tua yang super kaku. Nggak banget! Tentu saja kami punya cara untuk mendidik DuoNaj dengan cara-cara yang santai dan tidak menakutkan.  Dan cara-cara ini terus kami kembangkan, bahkan bongkar pasang untuk mencari yang paling pas untuk anak-anak.


Apapun kondisi yang sekarang kami hadapi,  hanya bersyukur cara yang paling tepat untuk menyikapi segalanya. Memang tidak sedikit orang tua yang lebih memilih sekolah swasta dengan segala keunggulannya. Namun tak sedikit pula yang melakukan segala upaya untuk bisa masuk di sekolah pemerintah. 

Untuk kami yang sudah mendapatkan kesempatan itu, hanya berusaha secara maksimal untuk mensupport anak-anak yang bisa dilakukan. Selebihnya, tentu saja berdoa. Ya nggak?


Have fun with your parenthood journey, as always! 😊😊😊😊






Ayam Kecap Tabur Paprika Ala Keluarga DuoNaj

|


Foto: Damaraisyah 2017


Memasak makanan favorit keluarga sebagai hidangan makan sahur selalu saya lakukan untuk menjaga selera makan yang mulai menurun setelah pertengahan bulan ramadan. Ya, sudah seperti kebiasaan, setiap ramadan telah melewati hari ke-15, selera makan kami saat sahur akan menurun drastis. Terlebih suami saya yang sehari-hari memang sangat tahan lapar. Sehingga puasa tanpa makan besar saat sahur bukan menjadi halangan baginya.


Untuk itu, saya berusaha mengakali menu makan sahur dengan menyajikan hidangan yang fresh dan menjadi favorit keluarga. Biasanya jenis masakan yang saya buat yang simple saja, namun saya pastikan baru dimasak satu jam sebelum saya membangunkan suami untuk makan sahur bersama.


Salah satu hidangan favorit itu adalah Ayam Kecap. Tidak seperti Ayam Kecap pada umumnya, irisan paprika yang melengkapi bawang bombai dan jahe dalam masakan, selalu berhasil menarik perhatian dari meja makan. Untuk itu saya selalu memasukkannya sebagai salah satu menu yang tak boleh ditinggalkan selama puasa. Dan kami pun menyebutnya dengan Ayam Kecap Tabur Paprika ala Keluarga DuoNaj.


Memasaknya cepat dan rasanya selalu berhasil membuat kami menjilat sisa bumbu yang masih menempel di sendok atau jari-jari tangan. Bahan dan bumbu pelengkapnya pun sangat minimalis. Nggak percaya, kan? Nih, saya bagi resep dan cara mengolahnya untuk teman-teman..



Resep Ayam Kecap Tabur Paprika Ala Keluarga DuoNaj




Bahan dasar
 
Ayam potong  So Good kemasan 1 kg isi 10 potong. Saya pakai setengahnya.


Bahan pelengkap


Paprika merah ¼ biji, buang bijinya kemudian potong memanjang.

Paprika kuning ¼ biji, buang bijinya kemudian potong memanjang.

Daun bawang 3 helai, potong menyilang agak panjang.


Bumbu-bumbu


½ suing bawang bombai, iris tipis setengah lingkaran

3 siung bawang putih, geprek lalu dicacah

1 ruas jahe, iris tipis memanjang seperti korek api

Merica secukupnya

Garam secukupnya

Kecap manis

Saus tiram sesuai selera


Cara mengolah

  1. Cuci bersih ayam potong yang akan dimasak, kemudian tiriskan. 
  2. Balurkan merica dan garam pada seluruh permukaan ayam, kemudian diamkan di dalam kulkas. Untuk mempercepat waktu, biasanya saya melakukan tahap ini pada malam hari sebelum tidur. Sehingga menjelang makan sahur ayam sudah siap diolah. 
  3. Setelah 5-10 menit, goreng sebentar ayam potong dalam minyak panas. Tidak perlu terlalu lama, hanya setngah matang atau ayam sedikit kering di bagian luar. Kurang lebih 5 menit dengan api besar. Angkat kemudian tiriskan. 
  4. Tumis bawang bombai hingga layu, masukkan bawang putih cacah dan jahe. Tumis kembali hingga aromanya tercium sebelum ditambahkan ayam yang sudah digoreng setengah matang. 
  5. Tambahkan garam dan saus tiram ke dalam wajan sesuai selera. 
  6. Tambahkan sedikit air  untuk melunakkan ayam. Sedikit saja, karena kita tidak sedang membuat ayam berkuah. 
  7. Setelah air menyusut, masukkan kecap manis kemudian aduk hingga merata. 
  8. Jangan lupa cicipi sebelum mengakhiri seluruh proses memasak. Jika sudah oke, maka langsung saja tambahkan paprika merah dan kuning sebagai pelengkap. Aduk sebentar, dan diakhiri dengan potongan daun bawang untuk memberikan warna segar dalam makanan.

Jika ayam potong sudah dimarinade sebelumnya (dibaluri merica dan garam, kemudian didiamkan), maka hanya butuh 15 sampai 20 menit untuk mengolah makanan ini. Tapi jangan lupa gunakan api besar saat menggoreng ayam. Juga saat bumbu sudah ditumis dan dimasukkan ayam ke dalamnya. Dengan menyetel kompor pada api besar, maka pematangan ayam lebih cepat, namun tidak akan membuat ayam menjadi lembek atau keempukan.


Selain itu,  kunci sukses dari masakan ini adalah pemilihan jenis ayam yang harus segar dan dagingnya tebal. Dengan begitu rasa yang dihasilkan juga maksimal. Tak lupa pemilihan jenis kecap harus yang tepat. Pilihlah kecap manis yang berwarna hitam kental sehingga cita rasa Ayam Kecap yang dihasilkan lebih nendang.


Ayam Kecap semakin mantap jika disandingkan dengan sambal bawang mentah dan sayur kukus setengah matang favorit keluarga saya. Tentu saja dengan nasi putih pulen dan hangat yang membuat makan sahur menjadi lebih bersemangat.

Foto : Damaraisyah 2017


Selama bulan puasa, saya usahakan untuk menyimpan stok bahan makanan seperti sayur dan buah dalam kulkas. Begitu pun halnya dengan bahan untuk lauk seperti ikan dan ayam. Mau tahu kenapa? Karena BukNaj bisa lemes kalau tiap hari ke pasar sama duo krucil saat puasa. Belum lagi jika mereka lari ke sana kemari saat saya memilih sayur atau bahan lainnya. Bisa berabe ibu bayik teriak-teriak. Hehehe ...


Untuk itu, pemilihan jenis bahannya harus cermat. Misalnya dalam memilih ayam, saya usahakan selalu yang segar. Atau menggunakan ayam potong kemasan yang memiliki standart penyimpanan tinggi dengan metode terkini. 


Ayam Potong So Good terpilih menjadi salah satu “penghuni” di kulkas karena kualitasnya memang sudah saya buktikan. Selain pengemasan dan proses pembekuan yang optimal, ayamnya sangat bersih sehingga tak perlu mencuci terlalu lama.


Dalam satu kemasan berukuran 1 kg, terdapat kurang lebih 10 potongan ayam yang biasa saya olah menjadi beberapa jenis masakan. Untuk keluarga kecil seperti kami, hal ini sangat efisien karena tidak perlu beberapa kali berbelanja. Harganya pun relatif terjangkau.


Nah, itu tadi resep favorit keluarga saya. Mengolahnya cepat, rasanya nikmat dan yang pasti sukses menggugah selera. Teman-teman bisa melihat aneka resep kreasi Ayam Potong SO GOOD di sini ya. Atau jika ingin berkreasi dengan SO GOOD siap makan, resepnya pun banyak tersedia di sini. Happy cooking, Ladies!



Custom Post Signature

Custom Post Signature