A Story of Mom, Wife, Daughter and Active Woman

3 Permasalahan Kulit Akibat Pola Hidup yang Tak Seimbang

|

Coba penyesalan itu datangnya di awal, nggak akan ada orang yang nangis sesenggukan di depan cermin gara-gara mukanya beruntusan.  Apalagi penyesalan itu biasanya untuk hal-hal yang “enak” di awal, tapi “nggak enak” banget pada akhirnya. Ya, iyalah, kalau udah nggak enak di awal, siapa juga yang mau coba-coba. Ya, nggak sih?

Ceritanya saya mau tsurhat, nih. Barangkali nantinya pengalaman saya ini bakal bermanfaat buat teman-teman juga. Jadi gini ceritanya, pasca libur lebaran selama kurang lebih satu bulan ini, kulit wajah saya sukses beruntusan, gatal dan nggak enak banget buat dilihat, apalagi dielus. 
Padahal, beberapa bulan terakhir saya lagi seneng-senengnya sama pipi yang kenyal, kulit yang bersih dan segar. Nggak berubah jadi putih sih, karena memang dari sononya warna kulit saya sudah gelap. Ditambah saya nggak pakai produk pemutih instan. Tapi jadi seger aja, nggak kusam trus komedo plus pori-pori terlihat lebih bersahabat. 
Kalau ditanya produk perawatan wajah apa yang saya pakai. Sebenarnya sih produk lokal aja, pembersih dan penyegar zaman ibu-ibu kita. Ditambah pelembab dan krim malam dari salah satu produk kosmetik yang saya beli secara online. Lain kali akan saya tulis reviewnya di sini.

Baca juga :  Kulit Wajah Segar, Cerah dan Kencang dengan Face Peeling dan Peel Off Mask Mustika Ratu
Tapi, saya sadar betul bahwa pola hidup yang mulai seimbanglah yang banyak membantu regenerasi kulit wajah.  Sejak resolusi awal tahun 2017 lalu saya ikrarkan. Sebisa mungkin saya meluangkan waktu untuk komit melakukan perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik pada diri saya. Salah satunya dalam hal kesehatan dan pola hidup seimbang.
Stretching ringan di sela-sela kesibukan rumah tangga. Konsumsi air putih tidak kurang dari 2,5 liter per hari. Memperbanyak serat baik dalam bentuk sayur atau buah dalam setiap porsi makan. Dan yang paling penting istirahat cukup, kurangi kebiasaan begadang dan marah-marah. Hehe … Maksudnya lebih rileks menghadapi anak-anak. Lebih  berdamai dengan diri sendiri dan segala keterbatasannya. Merdeka! Hihihi …

Baca juga: Berdamai dengan Diri Sendiri 

Efek yang mulai terasa dari kebiasaan baik ini adalah tubuh yang terasa mulai ringan. Sakit kepala dan tegang di bagian leher semakin berkurang. Dan belakangan, saya mulai senang berlama-lama di depan cermin untuk mengamati bekas jerawat di pipi kanan yang mulai memudar. Pipi pun rasanya lebih kenyal.
Apalagi selama Ramadan, pola makan yang teratur dan waktu yang terbatas membuat saya tak sempat mengunyah camilan di luar makanan utama. Hikmahnya saya hanya fokus pada protein, serat dan vitamin yang berasal dari sayur dan buah. Serta konsumsi air putih lebih optimal karena tidak tersisa waktu untuk mengonsumsi aneka jenis minuman lainnya. FYI, selama Ramadan saya berhasil mengonsumsi 3 liter air per harinya. Angka yang tidak pernah bisa saya capai saat hari biasa.
Namun begitu lebaran tiba, aneka camilan dan kuliner khas “ndeso” membuat saya tak bisa berhenti mengunyah. “Ahh … nggak setiap hari ini,” begitu saya berkelakar. Mulai opor, sayur lodeh, rendang, bakso, es buah sampai camilan manis lainnya sukses masuk ke perut. Saya masih mencoba untuk boosting asupan sayur dengan mengonsumsi pecel. Tapi ya sama saja, lha wong lauknya gorengan 5 biji. Belum kalau ada yang nawarin penutup jenang campur plus kolak pisangnya. Duh, nggak tahan saya. Kapan lagi kalau nggak pas mudik ke Magetan?
Tubuh saya memang nggak bisa dibohongi begitu saja. Begitu ada asupan yang kurang, atau justru berlebihan, “alarm” tubuh akan langsung berbunyi. Contohnya ya gangguan kesehatan dan kulit seperti yang saya sebutkan di atas tadi. Sedangkan yang lebih parah adalah kenaikan berat badan. Selama puasa berat badan saya normal cenderung turun. Begitu lebaran,  Mak! Bergeserlah jarum timbangan ke arah kanan.
Tapi yang paling terasa memang di bagian kulit wajah. Memang perubahan cuaca antara Magetan dan Jakarta lumayan signifikan. Di Magetan sangat sulit untuk bisa berkeringat, karena anginnya dingin dan kering, tapi matahari bersinar terang. Kondisi ini membuat kulit terasa kering dan mbesisik kalau orang Jawa bilang. Tapi tetap ya, faktor dari dalam lebih mendominasi. 


Kulit Wajah Kusam Tak Bersinar

Sumber gambar : feminina(dot)com

Belum sampai glowing maksimal, tapi saya merasakan kulit wajah  lebih segar saat mulai berkomitmen merubah pola hidup. Terutama perihal asupan dan menjaga kecukupan waktu istirahat. Belakangan waktu berlibur yang sangat sempit membuat kami lebih banyak mobile ke tempat saudara dan teman. Malam hari pun lebih banyak untuk ngobrol dan jalan-jalan keluar dengan saudara dan keponakan. 

Akibatnya jam istirahat memang sangat kurang. Apalagi acara keluarga padat setiap harinya. Hari ini ngapaian di rumah mertua, besok sudah ada acara di rumah orang tua saya. Hampir begitu setiap hari sehingga untuk mendapatkan tidur berkualitas pun sangat sulit. Sekali lagi sayang kalau nggak dimanfaatkan sebaik-baiknya. Kapan lagi bisa kumpul sama saudara?
Seperti biasa begitu tidak mendapatkan cukup tidur atau kelelahan, lingkaran hitam di bawah mata mulai nampak. Kali ini disusul dengan tampilan wajah yang mulai kusam dan terlihat layu, lelah. Saya pikir ini hanya sementara, setelah jam biologis kembali normal semuanya akan pulih dengan cepat.
Tapi, ternyata nggak semudah yang saya pikirkan, karena kondisi serupa masih terjadi pada kulit saya hingga hari ini. 


Daerah “T” Kembali Berminyak, tapi Kering di Bagian Pipi

Sumber gambar: Bintangt(dot)com

Salah satu yang paling bikin bete adalah minyak di wajah. Terutama di daerah “T” yang sangat mengganggu hasil akhir riasan. Saya paling sebal kalau habis pakai bedak, trus menumpuk di daerah hidung dan dahi karena area di situ lebih berminyak.
Setelah berbulan-bulan terlepas dari tampilan seperti itu, saya kembali harus menghadapinya. Kali ini ditambah kulit bagian pipi yang lebih kering dan sedikit bersisik. Untuk sementara waktu saya memilih meninggalkan bedak tabur. Daripada harus keluar rumah dengan wajah belang-belang. Bedak nggak nempel di bagian kulit yang kering tapi menumpuk di area “T”. 


Komedo dan Jerawat Datang Bebarengan

Sumber gambar: Dokter sehat(dot)com

Dua ini yang paling tak diundang. Eee lha kok malah datang bebarengan. Hidung terasa kasar dan jerawat kecil-kecil berwarna putih mulai muncul di pipi dan dagu. Huff! … Bete banget saya sama yang dua ini. Kalau jerawat sudah keluar, itu artinya sudah harus segera berbenah. Karena bagi saya, pemulihan setelah berjerawat bisa jadi tidak mudah. Saya sudah terlalu akrab dengan masalah kulit ini sejak di bangku kuliah.
Nggak ada alasan lagi untuk menunda. Harus segera kembali ke pola hidup yang selama 6 bulan sangat membantu memperbaiki kondisi kesehatan dan kulit saya. Untuk sementara saya menghindari begadang yang secara otomatis memengaruhi produktivitas dalam menulis. Tapi tak apalah, hanya sementara saja sampai semua berjalan normal. Saat libur sekolah usai maka saya akan lebih leluasa beraktivitas di siang hari.
Asupan air putih kembali 3 liter per hari, rutin membersihkan wajah pada pagi dan malam hari. Mengaplikasikan masker dan peeling dua kali dalam seminggu, pelembab dan serum wajah nggak boleh lupa lagi. Dan yang terpenting kembali membatasi minyak dan gula dalam makanan. Sebagai gantinya, sayur dan buah sudah mulai memenuhi isi kulkas dan meja makan.

Stay healthy and happy ya, Temans! Cheating sih boleh, asal jangan kebablasan kayak saya. Ingat selalu pemulihannya butuh kerja ekstra. Ya kan? Ya kan? ...







Be First to Post Comment !
Post a Comment

Hallo! Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya. Semoga bermanfaat. ^-^

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Custom Post Signature

Custom Post Signature