A Story of Mom, Wife, Daughter and Woman

5 Alasan Memilih Mola Granola sebagai Camilan dan Variasi Makanan Sehat

|
granola
IG: @molagranola by @sary_harahap

Gaya hidup sehat sepertinya tidak lagi sebatas trend saja. Berbekal alasan ingin memiliki hari tua yang berkualitas, tidak sedikit orang yang rela melakukan segala upaya untuk mendapatkan gaya hidup sehat semenjak muda. Meskipun untuk  itu tidak sedikit usaha yang harus dilakukan. Bahkan kerap kali harus merogoh kocek yang tidak sedikit juga.

Sebut saja biaya untuk mengikuti kelas kebugaran. Teman-teman bisa cek sendiri berapa biaya untuk kelas Senam Aerobik, Zumba, Yoga, Pilates atau Fitness dan pembentukan. Tentu saja harga yang ditawarkan selalu variatif tergantung kualitas dan fasilitas yang yang disediakan.

Atau untuk yang terbiasa merawat tubuh di spa atau klinik kecantikan. Teman-teman pasti setuju bahwa budget yang dibutuhkan tidak bisa dipandang sebelah mata. Untuk perawatan ringan seperti tusuk jarum saja angkanya sudah lumayan fantastis. Belum lagi jika menginginkan treatment yang lebih komplek seperti pelangsingan atau body shaping.

Beberapa hal di atas baru dari segi perawatan dari luar. Belakangan gaya hidup sehat bahkan telah merambah apa yang dimasukkan dalam perut kita. Ya, makanan sehat bukan lagi hal baru. Mulai dari makanan utama, minuman bahkan camilan pun kini mulai dijangkiti segala hal yang menambahkan label sehat di belakangnya.


granola
IG : @molagranola

Tidak salah karena memang seharusnya makanan berfungsi untuk memberikan stamina dan menjaga kondisi tubuh senantiasa prima. Bukan sebaliknya, akibat salah makan justru penyakit yang berdatangan. Apalagi camilan yang identik dengan berbagai varian makanan ringan. Jika tidak selektif memilih atau berlebihan dalam mengasupnya. Maka tak perlu heran jika penumpukan lemak, kegemukan atau gangguan kesehatan lain mulai mengincar tubuh kita.

Sebagian besar varian camilan atau makanan ringan cenderung tinggi kandungan gula, garam, MSG, kalori bahkan tidak sedikit yang mengandung unsur bahan sintetis buatan. Terlalu sering mengonsumsi makanan dengan unsur-unsur tersebut tentu saja sangat tidak dianjurkan.

Perlu dipahami juga, bahwa sebenarnya kebutuhan untuk ngemil berawal dari kebiasaan saja, bukan syarat utama untuk memenuhi asupan tubuh kita. Untuk itu, kita perlu lebih selektif memilih jenis makanan yang dapat memberikan kepuasan dari sensasi ngemil. Tapi syarat manfaat dan tidak menimbulkan efek lain untuk tubuh kita.


Granola


Trend makanan ringan berbahan dasar biji-bijian alami hadir sebagai salah satu solusi untuk Temans yang memiliki kebiasaan ngemil tapi khawatir berat badan tak dapat dikendalikan. Misalnya jenis camilan seperti granola yang kini mulai diminati karena manfaatnya yang diklaim dapat melancarkan pencernaan, menurunkan kolesterol dan menimbulkan rasa kenyang lebih lama.

Sekali lagi selalu ada "harga" yang harus dibayar untuk mendapatkan kenikmatan gaya hidup sehat. Begitu pun halnya untuk dapat mengonsumsi biji-bijian seperti granola. Selain tidak murah, Teman-teman harus meluangkan waktu untuk mengolahnya sehingga dapat disajikan dengan cita rasa yang mampu memanjakan lidah. 

Untungnya sekarang ada homemade Mola Granola yang menawarkan kenikmatan ngemil tanpa khawatir repot. Tak perlu mengolah, tak perlu khawatir pula dengan kandungan nutrisi dalam setiap takaran sajinya. Diracik dari biji-bijian seperti Almond , Cashew (Kacang Mede), Sunflower seed (Biji Bunga Matahari), Roller Oat, Crispy corn, Corn Syrup, madu dan sedikit garam. Menjadikan camilan ini tidak hanya enak, tapi juga dapat dikonsumsi siapa saja.


Granola


Selain itu, Mola Granola memiliki beberapa kelebihan yang membuatnya layak direkomendasikan sebagai camilan atau variasi pelengkap makanan sehat. Lima di antaranya adalah sebagai berikut.


Baca juga : [Review] Ngemil Enak dan Sehat dengan Segenggam Granola
 

1. Siap makan tanpa perlu diolah lagi

Mola Granola telah melalui proses produksi rumahan dengan skala produksi terbatas, sehingga dapat dijamin keaslian bahan-bahannya. Baik bahan utama yang berupa biji-bijian maupun bahan tambahan seperti madu atau sirup jagung. Disebut sebagai homemade granola karena memang diproduksi seperti layaknya perlakuan pada makanan buatan rumah.

2. Rasa  enak

Penggunaan bahan-bahan pilihan tentu saja menjadi faktor utama yang menentukan rasa dari suatu makanan. Begitu pun halnya dengan Mola Granola yang hanya menggunakan biji-bijian pilihan dengan kualitas baik sebagai bahan dasarnya. Ditambah sedikit variasi dari madu atau sirup jagung dan melalui proses pemanggangan yang tepat. Mola Granola semakin nikmat dan crunchy saat dikunyah.

3. Lolos izin PIRT dan mencantumkan kalori per saji

Teman-teman tak perlu khawatir dengan standart higienis produk ini, karena Mola Granola telah melalui berbagai tahapan hingga mendapatkan izin PIRT dari dinas terkait. Selain itu komposisi per saji maupun batas expired produk selalu tercantum dalam kemasan Mola Granola. Jadi Teman-teman bisa cek apa saja kandungan di dalamnya begitu pun halnya sampai kapan setiap kemasan dapat dikonsumsi.

Granola

4. Sehat dan bergizi

Mola Granola terbuat dari biji-bijian yang kaya kandungan serat, tinggi protein dan omega 3 namun gluten free, sehingga memungkinkan untuk camilan bagi siapa saja. Mulai dewasa hingga anak-anak, konsumen yang sedang dalam program diet, ibu menyusui bahkan ibu hamil. Semua dapat menikmatinya.

Kini, seluruh varian Mola Granola telah ditambahkan dengan chia seed yang terkenal tinggi kandungan vitamin C sehingga sangat baik untuk antioxidant alami tubuh.

5. Harga ekonomis di banding produk sejenis

Mola Granola yang memiliki 4 varian rasa yaitu original, coklat, green tea dan parmesan cheese dibanderol cukup ekonomis dibandingkan dengan beberapa jenis camilan sehat sekelasnya. Dalam setiap kemasan 100 gram camilan sehat nan crunchy, Teman-teman hanya perlu merogoh kocek antara Rp. 20.000,-  hingga Rp. 21.500,- saja. Sangat ekonomis bukan?



Granola
IG : @molagranola by @amishanti


Mola Granola dapat dikonsumsi langsung sebagai camilan. Atau enak juga jika dijadikan taburan untuk salad buah dan smoothie bowl. Atau jika menginginkan variasi yang berbeda, Teman-teman bisa menambahkan sedikit bahan dan diolah menjadi healthy snack bar. Untuk sajian yang lebih berat, maka overnight oat mix granola juga sangat menggugah selera.  

Untuk mendapatkannya, teman-teman hanya perlu melakukan order online melalui shopee.co.id/molagranola dan bersiaplah mendapatkan aneka promo diskon atau free ongkir untuk setiap transaksi yang dilakukan. Info selengkapnya silakan   langsung saja kirimkan WhatssApp ke nomor 08778-1150-250.

Granola
IG : @molagranola by @gina.gy


Ingin melihat aneka variasi dari produk ini? Jangan lupa follow instagram @molagranola dan Teman-teman akan dimanjakan dengan aneka warna dan variasi dari berbagai bahan segar yang melengkapi penyajiannya.

Tak perlu ragu-ragu untuk mencoba, karena setelah merasakannya Teman-teman akan tergoda untuk membeli lagi dan lagi. Jadi, tunggu apa lagi?




Menumbuhkan Empati pada Anak

|


“Empathy is about finding your echoes of another person in yourself “ – Mohsin Hamid



Menumbuhkan empati pada anak


Empati adalah tentang menemukan gema dari diri orang lain dalam dirimu. Begitulah setidaknya saya mengartikan sebaris quote dari seorang Mohsin Hamid. Kata-katanya sederhana saja, tapi saya menyadari begitu dalam makna yang ingin disampaikan bagi pembacanya.

Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita mendefinisikan makna empati  sebagai kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain. Empati juga melatih keterampilan serta kepekaan seseorang untuk mampu merasakan apa yang orang lain rasakan.  Keterampilan ini sangat penting untuk dimiliki setiap individu, karena kemampuan mengembangkan empati akan menumbuhkan kepedulian dalam diri seseorang.

Dalam sebuah laman berita yang saya baca beberapa waktu yang lalu, seorang pakar di Child Trauma Academy mengatakan bahwa “Empati adalah anugerah yang paling bermutu bagi ras manusia. Kita tidak bisa bertahan hidup tanpa menciptakan hubungan dengan kelompok yang bisa berfungsi secara bersamaan.” (The Asiaparents)

Untuk beberapa hal di atas pula saya yakin Teman-teman setuju bahwa empati pada diri seseorang harus ditumbuhkan sejak awal kehidupannya.  Sejak berusia dini atau kanak-kanak lebih tepatnya.   

Fakta mengejutkannya, bahwa kemampuan mengelola empati ini sebenarnya sudah tumbuh dalam diri anak secara alamiah. Sejak seorang manusia dilahirkan dalam wujud bayi, maka sejak saat itu pula mereka memilki benih-benih empati.  Maka untuk sekian kalinya orang tua yang bertanggung jawab untuk menyuburkan benih-benih tersebut.

Kita pasti sering mendengar cerita-cerita seperti, ketika seorang bayi menangis, maka bayi lain yang berada di dekatnya akan ikut menangis. Benar, kan? Atau, pernah juga kita mendengar bahwa perasaan seorang ibu bisa tembus pada anak-anaknya. Bagi Teman-teman yang sudah menjadi orang tua atau ibu, hal ini sudah pasti sering dialami.


Menumbuhkan empati pada anak
Pixabay.com

Begitulah awal mulanya benih-benih empati dalam diri anak mulai bersemi. Memang biasanya proses ini berjalan dengan sangat alamiah. Tapi untuk menumbuhkembangkannya, tentu saja diperlukan campur tangan orang-orang di dekatnya. Ibarat tanaman, empati pada diri seorang anak perlu 'dipupuk, diairi dan disiangi, untuk berjaga-jaga jika ada gulma yang mengganggu pertumbuhannya.'

Kenyataan itu pula yang menyadarkan saya untuk berkomiteman menumbuhkan benih-benih empati pada diri anak-anak. Najwa dan Najib yang terus bertambah usia, mau tak mau pengetahuannya terus bertambah, pertemanan pun  semakin luas. Untuk itu kami harus siap dengan segala risiko memaparkan mereka pada kehidupan yang begitu beraneka ragam. Terlebih kami tinggal di Jakarta yang multikultural. Maka membekalinya dengan keterampilan mengelola empati tak dapat dituna-tunda lagi. Mulai sekarang, bahkan hari ini.


“ We have to teach empathy as we do literacy” – Bill Drayton


Menumbuhkan empati pada anak memang tak semudah mengajarkan membaca atau berhitung dalam matematika. Ini dikarenakan mengelola perasaan bukanlah hal yang dapat dengan mudah diterapkan berdasarkan sebuah teori belaka. Butuh pemahaman dan pengalaman nyata yang membuat mereka bersinggungan secara langsung dengan sebuah kejadian.  

Untuk itu, orang tua harus jeli melihat situasi yang memungkinkan anak-anak menumbuhkan keterampilan mengelola perasaannya secara alamiah. Atau, secara sadar mendorong mereka mendapatkan lebih banyak pengalaman.

Bersama suami, saya sedang menerapkan beberapa hal  kepada anak-anak di rumah. Mungkin saja ada dari Teman-teman yang sedang berkomitmen dengan hal serupa. Mungkin 5 cara berikut dapat menjadi inspirasi untuk menumbuhkan empati bagi anak, murid atau keponakannya juga. Let’s check it out.
menumbuhkan empati pada anak
Pixabay.com

1. Mengidentifikasi perasaan

Sejak Najwa dan Najib kecil, saya terbiasa menanyakan bagaimana perasaan mereka setelah bepergian atau melakukan suatu kegiatan. Apakah mereka senang? Sedih? Gembira? Terharu? Atau marah. 

Hal ini pula yang saya lakukan ketika mereka mengalami suatu kejadian yang secara tidak sengaja harus dialami. Misalnya, ketika tiba-tiba temannya memberikan hadiah kejutan, atau saat dia harus menerima ejekan. Saya selalu menanyakan bagaimana perasaannya. 

Pertanyaan senada juga kerap kali saya lontarkan pada mereka jika secara sengaja atau tidak menyakiti satu sama lain. Misalnya ketika adik marah kemudian memukul kakaknya. saya selalu bertanya, "kalau Adik yang dimarahi lalu dipukul Kakak, bagaimana perasaan Adik? Sedih atau senang?" 

Kami mengajak mereka untuk mulai memahami perasaannya sendiri, lalu melatih untuk merasakan apa yang dialami orang lain. Tapi sebagai catatan, kami menerima perasaannya, tapi bukan perbuatannya. Marah boleh, tapi tidak boleh memukul.

Memiliki kemampuan mengidentifikasi perasaan akan memudahkan anak mengenali perasaan orang lain. Sehingga mereka lebih mudah memahami posisi orang lain, meskipun dalam posisi berseberangan atau berselisih paham.


 
2. Mengenalkan kosa kata tentang perasaan

Mengajak anak menamai perasaan tidak cukup dengan menjelaskannya. Orang tua perlu menunjukkan pada situasi yang tepat. Terlebih, anak-anak belum banyak memiliki perbendaharaan kata,. Maka jangan pernah bertanya bingung itu seperti apa, karena bisa jadi anak-anak pun belum familiar dengan kata itu.

Mengajak anak membuat gambar emoticon bisa jadi salah satu caranya. Misalnya kita menggambar emoticon senyum, maka ajak anak menamainya dengan senang, bahagia atau gembira. Atau jika kita menggambar orang cemberut atau menangis, maka tuntun anak untuk mengenalinya sebagai  ekspresi kesedihan.

Selain itu, orang tua bisa menggunakan mimik wajah sendiri untuk menunjukkan bagaimana semestinya seseorang mengekspresikan emosinya. Maka tak salah jika pakar tumbuh kembang selalu mendorong orang tua untuk bersikap ekspresif ketika mengasuh anak-anaknya.  Karena segala hal yang ada pada diri orang tua adalah pelajaran pertama yang akan dengan mudah diserap anak.

Menumbuhkan empati pada anak
Pixabay.com


3.  Memiliki hewan peliharaan

Jujur,  memiliki hewan peliharaan sebenarnya bukan hal mudah bagi saya. Saya dan suami perlu tarik ulur dan berdebat panjang terkait yang satu ini. Berbeda dengan suami yang sejak kecil memiliki hewan peliharaan, saya termasuk orang yang anti pati harus menambah pekerjaan mengurus binatang dan segala kotorannya. Maka sebenarnya saya lebih memilih mengajak anak memiliki tanaman peliharaan.

Tapi akhirnya saya menyerah dan setuju untuk memelihara ikan dan burung di rumah. Karena 2 jenis binatang ini saya anggap masih lebih mudah untuk dirawat. Sejak itulah kami selalu mengajak anak-anak untuk memerhatikan binatang peliharaannya. Apakah sudah diberi makan? Apakah mereka kedinginan saat hujan? Apa yang harus dilakukan jika akan ditinggal bepergian?

Kadang-kadang memang terasa tidak masuk akal, karena ikan dan burung bukanlah jenis binatang peliharaan yang bisa diajak berinteraksi langsung atau bermain dengan anak seperti halnya kucing atau anjing. Tapi cara ini lumayan membantu mengasah kepekaan Najwa dan Najib pada peliharaannya. Setidaknya setiap pergi agak lama, mereka selalu bilang, “Kasihan burung sama ikan, ya, Buk. Jangan-jangan mereka lapar?” Begitu setidaknya yang sering saya dengar.

4. Memaparkan anak pada sisi lain lingkungan kita

Cara-cara seperti mengajak anak berkunjung ke panti asuhan, atau mengikuti kegiatan bakti sosial dianggap sangat efektif untuk menggiring empati anak. Meskipun saya sendiri belum pernah melakukannya bersama anak-anak.

Kami memilih cara lain seperti mengajak anak melihat sisi lain di balik gemerlap Jakarta. Beberapa kali kami mengajak mereka melihat kehidupan “manusia gerobak” atau orang-orang yang tinggal di kawasan kumuh. Berkali-kali pula kami melihat Najwa tampak haru dan mulai belajar bersyukur dengan segala hal yang dimilikinya.


Menumbuhkan empati pada anak
Pixabay.com


5. Mengajarkan perbedaan

Tinggal di lingkungan yang multikultural tentu saja sangat membantu kami menjelaskan tentang perbedaan dan keberagaman masyarakat kita. Meskipun tak jarang saya kewalahan untuk menjawab pertanyaan anak mengenai mengapa mereka begitu dan kita begini. Atau, manakah yang lebih baik, kita atau mereka?

Pertanyaan seperti ini biasanya muncul ketika anak melihat perbedaan tradisi, budaya atau tata cara beribadah. Pertanyaan seperti itu memang tak dapat dibendung. Cepat atau lambat setiap anak yang tinggal di lingkungan seperti kami akan menanyakannya.

Di situ kami sebagai orang tua merasa sangat tertantang untuk menjelaskan adanya keberagaman dalam masyarakat kita. Tapi lebih dari itu semua, kami menekankan bahwa kita semua adalah makhluk Tuhan yang memiliki rasa. Ketika ingin menyakiti, maka rasakan juga bagaimana  jika kita yang disakiti.  


Bahwa perbedaan tradisi atau budaya tidak selalu menentukan kualitas manusia. Tapi sifat baik dalam dirinyalah yang akan menjadi penentu kualitasnya. “Pada yang lebih tua kita harus menghormati. Sedangkan pada yang lebih muda kita harus membimbing dan menyayangi.” Begitu biasanya suami akan menasihati. 

Terlepas dari itu semua, tentu saja kami sebagai orang tua harus siap menjadi teladan. Karena tidak dapat dipungkiri sikap empati  sebenarnya dapat ditularkan, dan bagi anak-anak tentu saja orang tua yang paling mudah untuk dicontoh segala tindak-tanduknya.

Kita pun harus konsisten baik ucapan maupun perbuatan. Sehingga anak tidak melihat adanya celah dan kesan bahwa orang tua hanya menggurui. Tapi tidak memberikan teladan yang nyata. 

 


Menyusun Kepingan Kenangan dengan Cetak Foto di Idphotobook

|
Selembar foto ibarat perekam kenangan. Melihat setiap momen atau sosok dalam lembaran bergambar tersebut tak hanya mampu membawa kita ke dimensi lain dunia ini. Tapi juga memutar waktu, memantik harapan bahkan meretas kedukaan.

Cetak foto online
Gambar : IDPHOTOBOOK


Dalam hidup ini, mengalami kehilangan sering kali tak semudah apa yang biasa dituliskan dalam larik-larik sebuah quote. Kata-kata itu begitu indah,  menginspirasi, membangkitkan semangat, memiliki efek  'mengobati' atas sebuah kehilangan. Kenyatannya ada kepingan puzzle yang tak lagi  dapat dirangkai dengan harmonis setelah kehilangan itu terjadi. Suka atau tidak, kita tak dapat menghindari ada yang kurang dalam hidup ini.

Kehilangan orang-orang yang kita cintai karena kematian atau perpisahan mungkin suatu hal yang paling sering kita alami. Begitu pun halnya dengan kehilangan suatu memori kebersamaan dalam sebuah perjalanan, atau momen spesial dalam kehidupan ini.

Selembar foto ibarat alat perekam kenangan. Melihat setiap momen atau sosok dalam lembaran bergambar tersebut tak hanya mampu membawa kita ke dimensi lain dunia ini. Tapi juga memutar waktu, memantik harapan bahkan meretas kedukaan.

Lembaran foto adalah satu-satunya bukti bahwa saya pernah memiliki seorang Papa. Kepergiannya pada usia yang masih sangat muda,  tak banyak memberikan kesempatan bagi kami, anak-anaknya untuk berinteraksi secara langsung dengannya. 

Bahkan, seluruh institusi formal tempat saya mengenyam pendidikan tak pernah lupa menyematkan gelar Almarhum sebelum namanya dituliskan. Jika merunut ke belakang, dua puluh tujuh tahun sudah hingga kenangan terakhir kami diabadikan dalam sebuah jepretan kamera.

idphotobook
Foto kenangan dengan Papa yang kondisinya mulai rusak

Kini, lembaran-lembaran bergambar kenangan bersamanya itu mulai usang termakan usia. Hampir tiga dekade, maka tak heran jika kondisinya pun tak lagi seperti sedia kala.  Mengandalkan negatif film yang sedianya bisa dicetak  sepertinya menjadi hal yang mustahil untuk diharapkan. Karena beberapa rol negatif film sudah lengket,  menyatu satu sama lain dan sebagian mulai berubah warna. 

Sayangnya teknologi foto digital baru dikenal belasan tahun setelah kepergiannya. Coba kalau saat itu sudah ada, saya tak dapat mengira-ngira berapa besar memori yang saya butuhkan untuk menyimpan seluruh momen kebersamaan kami meskipun hanya singkat saja. 

Tapi saya pun baru menyadari, bahwa memori dalam file foto digital bisa juga raib begitu saja. Memang teknologi memberikan banyak kemudahan, meskipun tak dapat dihindari adanya celah kekurangan di dalamnya.

Beberapa kali saya mengalami kehilangan file foto digital. Entah itu karena penyimpan memori internal ataupun external yang rusak. Beberapa kali pula saya mencoba memindahkannya ke alat penyimpanan lain seperti CD atau flashdisk. Tapi keduanya pun tak dapat terhindar dari serangan virus atau rusak pada bagian luar alat.


cetak foto online
Membuka  album foto adalah cara merunut kembali setiap momen kebersamaan

Tidak dapat dipungkiri cetak foto adalah cara paling mudah dan masuk akal untuk mengumpulkan setiap memori dalam rangkaian gambar. Tapi, seperti halnya yang sering dialami kebanyakan orang, rasa malas untuk  pergi ke tempat percetakan foto mulai menjangkiti saya. Belum lagi kalau harus melakukan self editing untuk mendapatkan kualitas foto prima. Hampir mustahil bagi saya untuk melakukan semua hal itu mengingat file foto yang jumlahnya ribuan.

Dua hal tadi baru baru mewakili pendapat saya tentang ribetnya cetak album foto dari segi teknis. Belum juga besaran rupiah yang harus dikeluarkan untuk menghasilkan photobook dengan kualitas seperti yang saya inginkan. Editing yang natural dan nggak berlebihan, kualitas hasil cetakan cemerlang, material kertas dan desain album foto yang modern dan tidak pasaran.


cetak foto online
Gambar IDPHOTOBOOK


Beberapa kriteria tersebut sukses membuat saya selalu mengurungkan niat untuk mencetak ratusan file yang ada di gadget. Budget pasti membengkak jika memilih tempat cetak foto yang menawarkan kualitas prima.. Tapi saya selalu  takut kecewa jika mencetaknya di tempat yang biasa saja.

Bersyukur kegalauan konsumen seperti saya dapat ditangkap dengan cerdas oleh perusahaan pencetak foto digital seperti Idphotobook. Hari ini saya telah menemukan solusi paling tepat untuk menyusun kembali setiap kenangan dalam hidup saya melalui deretan foto yang ditata apik pada sebuah album foto eksklusif.  Berkat Idphotobook juga, saya menemukan tempat cetak foto dengan proses gampang dan memberikan hasil sangat memuaskan.


cetak foto online

Seperti halnya kemudahan yang ditawarkan berbagai perusahaan untuk transaksi bisnisnya. Idphotobook tak mau kalah dengan revolusi cetak foto digital secara online. Tak perlu melawan rasa malas untuk mendatangi tempat cetak foto konvensional, dengan melakukan beberapa sentuhan di layar gadget, Teman-teman bisa langsung melakukan pemesanan untuk file foto yang ingin dicetak.

Sedang di luar kota dalam rangka perjalanan dinas atau personal traveling? Maka  tak perlu khawatir kehabisan slot memori di dalam gadget. Temans bisa melakukan cetak foto online mudah dengan  Idphotobook. Cukup dengan mengirimkan file foto yang dianggap memorable kepada Idphotobook untuk diproses. Maka satu paket photobook dengan desain modern minimalis siap menyimpan seluruh kenangan dalam perjalanan.


Cetak foto online
Desain foto yang modern minimalis dengan kualitas cemerlang


Membuat album foto kita seperti majalah pun bukan hal yang mustahil untuk dilakukan. Dan yang terpenting kita nggak perlu dipusingkan dengan  proses editing dan pengerjaan desain yang cenderung wasting time, karena pihak Idphotobook yang akan mengurus segalanya. Dalam waktu kurang lebih 2 minggu setelah pemesanan dan tentu saja pembayaran, maka album foto eksklusif akan segera mendarat di alamat rumah kita. So simple, kan?

Soal harga juga bukan lagi menjadi masalah. Idphotobook memasang harga mulai Rp.125.000,-  untuk pembuatan satu album foto eksklusif dengan desain elegan setebal 32 halaman bersampul hard cover. Atau jika ingin yang tidak biasa, kita bisa memilih cetak foto dengan desain majalah, di mana foto kita akan langsung dicetak pada kertas dengan menggunakan desain dan  layout majalah.


cetak foto online

Kita tak perlu khawatir dengan kondisi majalah yang biasanya rentan robek atau luntur warnanya. Karena Idphotobook menggunakan kertas khusus yang telah disesuaikan dengan kebutuhan menyimpan memori dalam jangka panjang.

Mencetak foto adalah salah satu cara menyusun kepingan kenangan untuk setiap fase kehidupan. Menjadikannya lebih mudah untuk dijamah, ditelusuri ruang dan waktu serta mengambil pelajaran dari setiap perjalanan. Idphotobook memahami kebutuhan orang-orang yang sangat menghargai setiap momen dalam hidupnya, tapi memiliki keterbatasan waktu dan menginginkan kemudahan berbasis teknologi. Maka menjawab tantangan itu adalah ide brillian dari sebuah perusahaan.



 http://blog.idphotobook.com/kompetisi-blog-idphotobook/








Piknik Ala DuoNaj #4 - Edutrip ke Dunia Air Tawar dan Dunia Serangga di TMII

|
TMII Jakarta

Sepertinya DuoNaj tak pernah bosan diajak berkunjung ke Taman Mini. Minggu lalu, tepatnya pada tanggal 7 Oktober,  kami sekeluarga kembali melakukan edutrip ke sana. Padahal, kalau tidak salah kami pada tahun 2017 ini kami sudah lima kali mengunjungi tempat wisata kebanggaan Jakarta ini. Entah untuk acara reuni atau piknik yang memang sudah direncanakan, atau secara tidak sengaja mampir setelah dari acara yang lain. Taman Mini biasanya menjadi tempat persinggahan ketika kami harus kelayapan di daerah timur Jakarta.

Kali ini pun sebenarnya kami tak benar-benar merencanakan untuk pergi ke sana. Awalnya suami hanya bercanda dengan ajakannya. Sedangkan saya  sendiri sebenarnya memilih di rumah saja karena pada keesokannya Najwa akan menjalani UTS di sekolah.  Tapi yang namanya DuoNaj memang doyan pikniknya nggak ketulungan. Sekali ayahnya menawarkan satu tempat, tanpa pikir panjang mereka langsung mengiyakan.

Baca juga: Piknik Ala DuoNaj #1 - Nonton Air Force Show

Dunia Air Tawar dan Dunia Serangga yang menjadi destinasi edutrip kali ini. Sebenarnya lagi, saya dan anak-anak juga sudah pernah sekali berkunjung ke sana. Tapi saat itu memang kami hanya bertiga saja. Sehingga kepergian kali ini murni karena menuruti keinginan suami.

TMII Jakarta


Menjelang tengah hari sampailah kami di Taman Mini. Cuaca hari itu lumayan terik, sehingga kami rehat sebentar untuk sekedar mendinginkan kepala dan wajah setelah menerjang jalanan Jakarta yang macet dan panas. Sengaja kami memilih beristirahat di pelataran Museum Tugu Api yang udaranya lebih sejuk karena banyak pohon-pohon besar yang berjejer di sekitarnya.


DUNIA AIR TAWAR

TMII Jakarta


Kami berempat bergegas menuju Dunia Air Tawar karena pengunjung Taman Mini semakin padat. Menjelang jam makan siang, umumnya mereka mencari tempat-tempat yang rindang, seperti di lapangan Tugu Api ini untuk menggelar tikar dan menikmati bekal dari rumah. Maka dari itu, setelah membereskan barang-barang, kami pun segera merapikan tikar sewaan dan meninggalkan tempat tersebut untuk dipakai keluarga lain yang sudah siap dengan pesta kecilnya.

Baca juga: Piknik Ala DuoNaj #2 - Outing Class

Dunia Air Tawar menjadi tujuan pertama sebelum ke Dunia Serangga. Lokasi keduanya sebenarnya hanya bersebelahan, tapi untuk masuk ke Dunia Serangga, pengunjung diharuskan membeli tiket masuk yang berlokasi di loket pembelian tiket Dunia Air Tawar. Harga tiketnya Rp. 25.000,- per orang baik anak-anak maupun dewasa. Oh ya, usia 3 tahun sudah harus membeli tiket orang dewasa.

TMII Jakarta

Harga ini lumayan mahal jika dibandingkan dengan museum lain yang ada di Taman Mini. Tapi jangan khawatir, tiket masuk ke Dunia Air Tawar sudah termasuk gratis ke Dunia Serangga. Jadi pengunjung tak perlu membeli tiket yang berbeda.

Dunia Air Tawar adalah museum atau wahana rekreasi yang berupa keanekaragaman hayati dari perairan air tawar Indonesia. Wahana yang diresmikan pada tanggal 20 April 1994 ini didominasi akuarium dalam berbagai ukuran, menyesuaikan dengan ukuran dan jenis dari masing-masing ikan yang menghuninya. Menurut keterangan, simulasi dan replika ini sudah dipersiapkan sejak tahun 1992. Sampai pada akhirnya dinyatakan siap untuk menjadi wahana rekreasi, kemudian diresmikan dan dibuka untuk umum 2 tahun berikutnya.

TMII Jakarta

Lokasinya bersebelahan dengan Dunia Serangga dan satu arah dengan keong Mas. Konon, katanya taman biota air tawar ini termasuk salah satu yang terlengkap di dunia dan terbesar di Asia. Sehingga koleksinya sangat banyak, beragam dan disertai berbagai penjelasan di setiap sudut akuariumnya. Hal ini lumayan membantu orang tua untuk memberikan penjelasan secara langsung kepada anak. Tak melulu melihat dari satu akuarium ke akuarium lainnya, kami pun bisa berinteraksi dengan tanya jawab bersama anak.

Baca lagi : Piknik Ala DuoNaj #3: From Sky World to Bird Park

Salah satu koleksi yang sangat menarik minat anak adalah jenis Arapaima yang berukuran raksasa, Cat Fish, Blind Fish, Hiu Gergaji, Dolar Fish, Ikan Buta dan Piranha yang sangat terkenal dari Sunga Amazon, Amerika Serikat.

TMII Jakarta

TMII Jakarta

Selesai mengamati seluruh akuarium, kami pun menggenapkan edutrip ke Dunia Air Tawar dengan merasakan sensaisi bioskop 4 dimensi di sana. Pengunjung dikenakan biaya tambahan sebesar Rp. 15.000, - per orang untuk merasakan pengalaman bersentuhan langsung dengan dunia animasi ikan. Bagi orang tua, sensasi bioskop 4 dimensi ini mungkin biasa saja. Tapi bagi anak-anak seumuran DuoNaj, pengalaman ini sangat menyenangkan karena mereka merasa seperti diajak masuk dan bersentuhan langsung dengan dunia  bawah laut, meskipun hanya dalam bentuk animasi.

TMII Jakarta


TMII Jakarta
Film 4 Dimensi tentang kehidupan bawah laut


DUNIA SERANGGA DAN TAMAN KUPU-KUPU

Puas mengamati seluruh biota air tawar dalam puluhan akuarium dalam berbagai ukuran. Kami pun segera beralih ke museum lain yang ada di sebelahnya. Ya, edutrip pun berlanjut ke Dunia Serangga dan Taman Kupu-kupu. Dulu, dua wahana ini dikenal dengan sebutan Museum Serangga dan Taman Kupu-kupu. tapi sekarang sebutannya diubah menjadi Dunia Serangga dan taman Kupu-kupu. Sedangkan Museum Air Tawar dikenal dengan nama baru Dunia Air Tawar.


Dunia Serangga yang resmi berdiri pada tanggal 20 April 1993 merupakan sebuah wahana untuk memperkenalkan aneka ragam serangga. Baik asal usul habitatnya, cara hhidup dan beragam ciri khas baik bentuk maupun manfaatnya. 

Selama ini, bagi anak-anak pada umumnya seperti halnya DuoNaj, serangga hanyalah salah satu jenis hewan kecil. Dan mereka cenderung menghindari untuk berinteraksi langsung dengan makhluk jenis ini, alasannya kalau nggak geli ya takut digigit. Wajar, dong, karena anak-anak kan tahunya semut, nyamuk, atau lebah yang memang memiliki kecenderungan menggigit. Nah, membawa mereka ke tempat berlibur seperti ini bisa jadi satu cara yang tepat untuk mengenalkan jenis serangga yang lain, dan tentu saja manfaatnya bagi kehidupan ini.


Misalnya kupu-kupu yang membantu penyerbukan bunga, lebah yang menghasilkan madu dan beberapa jenis serangga lain yang memiliki peranan penting bagi ekosistem ini. yaitu sebagai Dekomposer.

Serangga sebagai Dekomposer

Seperti halnya anak-anak, sebagai orang tua saya pun baru mengenal istilah dekomposer ini ketika berkunjung ke Dunia Serangga. Dekomposer atau bisa juga disebut sebagai detritivor atau pemakan bangkai. Serangga berperan sebagai dekomposer karena mereka memakan organisme mati dan atau limbah dari organisme lain. Peranan dekomposer ini sangat membantu ekosistem mendapatkan kembali siklus nutrisi dari penguraian bangkai atau limbah-limbah tersebut.

Sistem kerja dekomposer ini dengan memakan atau menguraikan bahan organik untuk kemudian mengubahnya kembali menjadi abentuk anorganik mereka. Misalnya fosfat, amonium dan karbondioksida yang terkandung dalam bangkai atau limbah.


Pengetahuan seperti ini sebenarnya lebih menarik jika dipaparkan pada anak yang sudah lebih besar. Mungkin anak usia SD kelas 3 atau di atasnya  sudah lebih mudah memahaminya. Tapi, dengan penjelasan yang dipermudah, disertai contoh riil hasil kreasi orang tua. Bukan tidak mungkin untuk si pra sekolah dapat memahaminya. setuju, kan?

Menjelang ashar, kami pun mengakhiri acara edutrip kali ini dengan destinasi terakhir Anjungan Jakarta. Karena Najwa ada rencana mengikuti lomba Tari Ondel-ondel pada akhir bulan Oktober ini, maka kami sempatkan mampir sebentar untuk melihat situasi panggung sebagai bekal berlatih di sekolah.

Capek, panas, tapi tak sedikit pun terlihat sebal atau bosan di wajah anak-anak. Kami pun kembali menerjang kemacetan Jakarta dengan membawa segudang manfaat bagi seluruh anggota keluarga. Selain me-refresh semangat, acar jalan-jalan di akhir pekan adalah pilihan tepat untuk memaparkan anak pada pengalaman nyata berdasarkan aneka teori yang sering mereka dengar. Kegiatan seperti ini pastinya akan jadi pengalaman yang mengkristalkan untuk mereka. Benar, kan?















Emotional Conversation with Kiddos

|

Seperti biasa, saya bangun 3 jam lebih awal dari anak-anak. Setelah membuat draft untuk bahan postingan blog pada hari berikutnya, saya bergegas menuju dapur untuk membereskan gelas dan piring kotor bekas makan semalam. Melanjutkannya dengan membereskan rumah yang selalu berantakan karena anak-anak baru berhenti bermain saat jam tidur malam tiba.

Segera saya menuju lemari pendingin untuk mengecek stock sayur dan lauk untuk disajikan sebagai menu sarapan. Tapi kemudian saya baru teringat, Najwa dan Najib sudah pesan ingin makan telur rebus untuk sarapan pagi itu. Kebetulan sekali justru persediaan telur di rumah sedang habis. Maka sambil menunggu toko sembako di dekat rumah buka, saya melanjutkan dengan menyapu lantai dan membereskan cucian untuk dimasukkan ke keranjang setrikaan.

Tepat pukul 5 pagi, saya berangkat membeli telur ke toko yang berjarak 50 meter dari rumah. Dan 10 menit kemudian saya sudah berada di rumah kembali. Begitu masuk dapur, hal pertama yang saya lakukan adalah merebus telur untuk sarapan anak-anak. Sembari menunggu telur matang, saya pun merebus sayur, membuat sambal dan menggoreng ayam untuk menu sarapan yang lain.

15 menit berikutnya telur telah matang, dan tepat saat itu Najwa sudah bangun dan duduk di ruang tengah. Saya pun segera menyiapkan telur dan makanan lainnya di meja makan, mengoles roti dengan coklat sebagai pengisi kotak bekal, mengisi botol air dan menyiapkan seragam Najwa untuk hari itu.

"Kak, sudah waktunya mandi. Ibuk sudah siapkan semuanya." Begitu saya berusaha mengingatkan Najwa untuk segera mandi.

"Sebentar, Buk. Sebentar lagi," sahut Najwa masih di tempat duduknya.

Saya pun melirik jam dinding, memang masih pagi, sih. Masih cukup jika Najwa mau mengulur waktu sampai kurang lebih 15 menit lagi. Saya  beranjak menuju meja kecil di sebelah rak buku yang mulai berjejalan isinya. Sambil menunggu Najwa mandi, saya berpikir masih punya waktu untuk meng-edit draft yang sudah setengah jadi.

Jari-jari saya mulai menyentuh kotak-kotak kecil di atas external keyboard yang tersambung pada laptop. Melanjutkan beberapa kalimat penutup sebelum nantinya meng-edit naskah secara keseluruhan. saat itu juga tiba-tiba mulut Najwa mengajukan satu pertanyaan pada saya.
"Buk, Ibuk tuh sampai kapan, sih, nulis-nulis kayak gitu?"

"Ya, sampai seterusnya, Kak. Karena Ibuk sudah berniat untuk bekerja dengan cara menulis seperti ini."

"Masak setiap hari Ibuk nulis, emang berapa banyak buku yang mau dibuat? Masak mau buat buku terus?"

"Ibuk menulis bukan untuk membuat buku saja, tapi Ibuk juga menulis di blog. Kakak ingat, kan, cerita-cerita yang kapan hari Ibuk bacakan dari laptop Ibuk? Yang ada fotonya Najwa, Ayah, juga Adik?"

"Iya, tapi sampai kapan Ibuk mau seperti itu? Coba Ibuk kerjanya pergi ke kantor saja. Jadi kalau pagi Ibuk berangkat kayak Budhe atau Umminya Dinda. Setelah pulang, sampai di rumah sudah nggak kerja lagi. Kita cuma bermain." 

Saya mulai paham arah pembicaraan Najwa. Pasti dia mau saya main terus sama mereka. Karena sebelumnya Najwa sudah menyampaikan keinginannya itu. Pokoknya kalau anak-anak main, ibuk juga harus main. Nggak boleh masak, nggak boleh nyapu apalagi ngetik. Saya pun bernafas dalam-dalam, mencoba tidak terpancing emosi di pagi hari.

"Ibuk nggak punya kantor, Kak. Jadi semuanya dikerjakan dari rumah. Kalau Ibuk kerja di kantor, kakak mau ditinggal Ibuk sampai sore atau malam?"

"Iya, nggak pa pa."

"Terus, Kakak sama siapa di rumah? Kita kan nggak punya, Mbak? akak mau dititipkan di penitipan?"

"Iya, mau. Di sana aku bisa main sepuasnya, kan?"

"Nggak juga, kalau waktunya main ya main, makan harus makan, tidur siang ya harus tidur. Nggak seperti yang Kakak bayangkan. Lagian Ibuk belum nemu tempat penitipan untuk anak sebesar Kakak."

" Yawdah, kita cari Mbak saja."

"Bilang Ayah dulu, kalau yang itu. Eh, tapi, kalau Ibuk kerja di kantor pun, di rumah Ibuk tetap menulis seperti ini. Karena Ibuk sudah terlanjur suka.  Di Kantor kan nggak boleh semaunya sendiri , Kak. Harus bekerja sesuai perintah bosnya. Trus gimana, dong?"

"Aku tuh maunya Ibuk cuma nemenin main aku sama adik, jadi kalau kerja jangan di rumah. Atau pas aku tidur saja."

Ahh, kepala saya rasanya mulai berat. Emosi mulai terpancing, mulut sudah pengen teriak. Tapi masih saya tahan, meskipun cara berbicara mulai terdengar emosional.


"Ibuk tuh tugasnya banyak, Kak. Memang seharusnya Ibuk selalu menemani kalian main, tapi Ibuk harus masak, belanja, menyiapkan bekal kakak, mencuci, menyapu lantai, mengepel, mengantar kakak sekolah, menemani kakak belajar di rumah, mengantar exkul. Belum juga kalau Dek Najib minta main keluar, Ibuk harus menemani juga. Jadi nggak bisa kalau Ibuk harus menemani Kakak main terus. Ada waktunya kita main bareng, ada saatnya juga Kakak harus menemani Adik bermain, sedangkan Ibuk beres-beres rumah, dan kalau masih sempat Ibuk minta waktu menulis sebentar saja."

Nampaknya Najwa nggak mau menerima penjelasan saya. Dia pun mencari cara lain.

"Ya sudah, Ibuk nulisnya malam saja, pas aku, Adik, Ayah sudah tidur semua."

"Biasanya juga gitu, Kak. Kalau badan Ibuk lagi nggak capek.  Sekarang Ibuk nggak kuat tidur malam-malam. Badan Ibuk udah capek, pagi pun Ibuk bangun masih sangat pagi. Kalian aja kalau main sampai malam-malam, Ibuk belum bisa istirahat sebelum kalian tidur."

Najwa diam, lalu saya menambahkan lagi.

"Menurut Kakak, Ibuk harus gimana?"

"Ya sudah, Ibuk boleh menulis, boleh kerjain apa aja di rumah. Tapi kalau aku ngajak main, Ibuk harus main sama aku."

Begitu jawabnya sambil meninggalkan saya menuju kamar mandi. Saya diam, tidak mengiyakan atau menolak permintaannya. Karena saya tahu betul bagaimana sifat Najwa. Dia sangat suka berdebat dengan saya,  kemudian kesal dan menangis kalau kemauannya nggak diikuti. Meskipun ujung-ujungnya baikan lagi.
  

Sepanjang hari saya memikirkan obrolan bersama Najwa tersebut. Menyesal kenapa saya jadi ikut-ikutan ngeyel sama anak-anak. Sempat sedih, goyah, bingung harus bagaimana. Tapi saya belum ingin membahasnya kembali. Saya butuh waktu untuk mengatur emosi. Saya benar-benar tidak menyangka, tiba-tiba saja Najwa tidak mendukung saya sama sekali. Padahal saya yakin betul dialah motivasi saya untuk terus berkarya.

Ya, sudahlah. Nampaknya weekend kali ini saya akan lebih banyak bersantai. Me-refresh semangat, hati, merekonsiliasi hubungan dengan anak-anak, terutama Najwa. Membuat kesepakatan baru dengan mereka dan tentu saja menyusun rencanayang lebih baik.

Wish me luck!


Tulisan ini diikutsertakan tantangan One Day One Post Oktober 2017 Blogger Muslimah Indonesia
#ODOPOKT9





Laptop 2in1 untuk Mendukung Gaya Hidupku sebagai Freelancer

|



laptop 2in1
Pixabay.com

Kalau ditanya apa pekerjaan utama saya, tentu saja profesi ibu rumah tangga yang selalu menjadi jawaban. Karena segala yang saya lakukan di luar kesibukan sebagai full stay at home mom sifatnya hanya sampingan saja., yang biasa saya kerjakan di sela-sela mengurus keperluan suami dan anak-anak.

Freelancer, begitu biasanya saya menggelari diri sendiri. Baik sebagai blogger, content writer atau crafter wanna be , saya belum memutuskan untuk mengerjakannya sepenuh waktu. Meskipun  selalu berusaha total untuk menyelesaikan pekerjaan yang dipercayakan kepada saya.

Menyandang status ibu rumah tangga tanpa menggunakan jasa ART menuntut saya untuk lebih dinamis dan cermat mengatur waktu demi produktifitas kerja. Belum lagi dua anak saya yang memiliki kecenderungan kinestetik sangat susah diajak diam berlama-lama. Di luar pekerjaan rumah, hampir sebagian besar waktu saya gunakan untuk bermain bersama mereka.

Jangan ditanya seberapa banyak waktu yang saya alokasikan untuk menuntaskan pekerjaan freelancer Namanya juga free, jadi suka-suka saya mau dikerjakan kapan dan di mana. Meskipun kerap kali harus berkejaran dengan deadline yang bikin nyut-nyutan kepala.

Ritme pekerjaan yang mengharuskan saya  dinamis, tidak membuang-buang waktu dan bisa bekerja di mana saja mau tak mau membuat saya memerlukan ‘alat tempur‘ yang siap di bawa kemana-mana. Sayangnya kesempatan itu belum juga saya dapatkan hingga sekarang. Karena kondisi laptop yang sekarang saya ajak bekerja sangat tidak memungkinkan.

Selain ukurannya yang besar dan berat, kondisi keyboard bawaan yang tidak berfungsi akibat dimuntahi si kecil mau tak mau membuat saya harus menggunakan external keyboard yang, alamak semakin tak praktis untuk dibawa-bawa.

Sejauh ini , smartphone memang tak pernah lepas dari tangan ketika saya harus beraktivitas di luar. Jika kebetulan saya mendapat job sebagai buzzer, atau harus mengikuti training online berbasis social media, gadget yang satu ini cukup mumpuni untuk diajak bekerja sama.

Anak-anak yang masih kecil, mau tak mau membuat aktivitas saya lebih banyak dengan mereka.

Masalahnya, smartphone satu-satunya yang sekarang menjadi andalan ini sering kali menjadi barang rebutan dengan anak. Biasanya saya memang tegas terkait penggunaan gadget bagi mereka. Tapi ada kalanya saya harus melakukan mediasi, sampai akhirnya menyerahkan barang tersebut dengan berbagai persyaratan. 

Pada saat gadget berpindah tangan seperti itu, rasanya saya seperti sedang membuang-buang waktu. Misalnya saat menunggu si kakak extra kurikuler di sekolah, saya merasa mendapatkan cukup waktu untuk menyelesaikan beberapa draft atau meng-edit calon postingan. 

Tapi apalah daya, satu-satunya gadget yang movable sudah beralih fungsi menjadi pemutar video favorit si adik yang mulai bosan menunggu kakaknya. Saya pun tak enak hati jika berebut paksa di lingkungan anak-anak yang sedang belajar. 



Kadang kala saya pun merasa tidak produktif ketika akhir pekan tiba. Ya, weekend yang sedianya memberikan lebih banyak kebebasan waktu, kadang-kadang  harus saya lewati untuk traveling ke luar kota bersama keluarga.  Sedangkan yang paling sering terjadi adalah menghabiskannya selama seharian dengan meng-explore segala hal yang ada di Jakarta.  

Saya sadar tidak dapat menolak kebiasaan ini dalam keluarga kecil yang sedang kami bangun. Karena jalan-jalan merupakan salah satu quality time yang banyak me-refresh hubungan suami istri dan  bounding dengan anak. Tapi sebagai freelancer, saya merasa terlalu sering melewatkan waktu luang karena kendala alat yang tidak menunjang. Maka saat seperti itu saya sering merasa butuh gadget kedua, yang tentu saja harus  dinamis dan bringable untuk menunjang keahlian saya sebagai multitasker.


Laptop 2in1
Pixabay.com

Sempat berpikir untuk membeli tablet sebagai cadangan jikalau harus bekerja di luar. Saya pun masih bimbang, karena kondisi laptop yang sekarang juga sudah saatnya dipensiunkan. Dan tidak bisa saya pungkiri, sebagian besar pekerjaan lebih maksimal jika dikerjakan dengan laptop atau notebook biasa.  Misalnya untuk mendesain atau meng-edit foto, maka fungsi dari keyboard dan mouse tak bisa digantikan oleh layar sentuh yang biasa ada pada tablet.

Tapi begitu berniat untuk membeli laptop biasa, bayangan membawa seperangkat alat dengan bobot yang bisa membuat pundak semakin pegal selalu menjadi kendala. Ya kali harus bawa tas segede gaban cuma buat laptop doang, sudah berat nggak simple pula. Pupus sudah cita-cita ibu rumah tangga tampil trendi saat jadwal traveling tiba.



Laptop 2 in 1 Hadir sebagai Solusi


Laptop 2in1
Intel.co.id

Untungnya teknologi terus berkembang hingga tak terbendung lajunya. Laptop hybrid hadir menjadi solusi bagi gaya hidup freelancer seperti saya. Laptop hybrid atau biasa disebut 2 in 1 merupakan inovasi terbaru laptop yang menggabungkan 2  fungsi dalam 1 perangkat, yaitu notebook dan tablet yang disatukan. Perangkat ini sangat fleksibel, karena bisa digunakan untuk bekerja sekaligus meng-entertain saya, bahkan anak-anak. 

Laptop 2in1 bisa digunakan dalam dua model pengoperasian yang berbeda.  2 in 1 yang bisa dilepas layarnya dapat difungsikan sebagai tablet yang dapat dibawa kemana-mana tanpa memberikan tambahan beban akibat bobot laptop yang berat.  User pun dapat memaksimalkan pekerjaan terlebih jika harus bersinggungan dengan social media.


Sedangkan laptop 2 in 1 yang memiliki fungsi konvertibel, sekilas nampak seperti notebook biasa, tapi jika layarnya dibalik atau diputar, maka tampilannya berubah seperti tablet dan sangat mengesankan jika harus digunakan untuk keperluan meeting atau presentasi di depan klien.

 

Tapi tak perlu khawatir dengan performa 2 in 1 sebagai  laptop atau notebook biasa. Karena bagi sebagian orang, penggunaan laptop dengan keyboard  beserta touchpad atau mouse memang sepertinya tak bisa ditinggalkan. Laptop 2 in 1 hadir tetap dengan  kenyamanan yang biasa user gunakan. So, kalau kata saya, sih, laptop 2in1 yang benar-benar saya butuhkan.



Hal-hal yang Patut Dipertimbangkan sebelum Membeli Laptop 2in1


Laptop 2in1
Intel.co.id


Sebagai  freelancer yang memiliki penghasilan tidak menentu, pembelian perangkat baru untuk menunjang pekerjaan saya benar-benar harus melalui pertimbangan yang matang. Terlebih jika perangkat tersebut bisa dibilang juga masih baru di pasaran.  Jangan sampai membeli suatu perangkat hanya karena tergiur dengan segala kemudahan yang ditawarkan. Tapi sudah semestinya perangkat tersebut memberikan manfaat maksimal.

Begitu pun halnya ketika memutuskan memilih laptop 2in1 sebagai calon pendukung pekerjaan saya. Saya harus tahu betul, tipe seperti apa yang tepat dan memang dibutuhan. Beberapa tips berikut sangat membantu, untuk saya dan juga Teman-teman yang berniat membeli perangkat serupa.




1. Pilih mana, konvertibel atau bisa dilepas?

Dengan profesi yang saya geluti sekarang ini, pilihan 2in1 dengan layar yang bisa dilepas tentu saja paling tepat. Saya belum butuh untuk presentasi atau meeting, tapi kebutuhan saya hanya gadget yang travel friendly. 

2. Prosesor

Prosesor ibarat jantung untuk perangkat seperti  PC atau laptop. Terlebih untuk perangkat model 2in1, performa prosesor tidak bisa di kesampingkan begitu saja. Memilih laptop atau dengan prosesor yang mutakhir harus diutamakan. Maka memilih laptop intel 2in1 adalah sebuah keputusan yang brilliant, mengingat kredibilitas Intel Pentium yang tak perlu diragukan lagi.


3. Ukuran layar

Seperti yang kita ketahui, baik laptop atau notebook maupun tablet memiliki ukuran layar yang beragam. Pemilihannya pun harus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing user.

Untuk saya, layar berukuran 14 inchi sudah sangat mencukupi kebutuhan. Karena laptop atau tablet bukanlah perangkat vital sebagai pemutar video atau menonton film, maka saya tak butuh yang terlalu besar. Ukuran 14 inchi bisa dibilang sedang. Tak terlalu besar sehingga masih relevan untuk dibawa traveling, namun tak terlalu kecil sehingga ramah dengan penglihatan.

Selain itu, ukuran layar yang lebih besar juga lebih berat dan lebih cepat memakan baterai. Maka dari itu tentukan dulu kebutuhannya untuk apa, barulah buat keputusan yang tepat.

4. Storage

Masalah penyimpanan juga harus mendapatkan perhatian. Laptop 2in1 dilengkapi dengan hard drive atau HDD yang cukup aman untuk menyimpan file dokumen, foto, video dan film. Beberapa laptop 2in1 bahkan dilengkapi solid state drive (SSD) yang memungkinkan mengambil file lebih cepat dan tahan banting tentunya. Tapi seperti biasa, ada harga selalu ada rupa. Paham, kan?


Laptop asus 2in1
Laptop 2in1 yang menjadi wishlist saya. (asus.com)

5. Daya tahan baterai

Karena kebutuhan utama saya untuk digunakan di luar rumah atau sebagai perangkat yang movable. Maka laptop dengan daya tahan baterai yang lebih lama yang saya butuhkan.  Nggak mau, kan, ribet bawa colokan saat sedang jalan-jalan?

Hem, sepertinya saya sudah membuat keputusan yang tepat dengan menjatuhkan pilihan pada laptop 2in1 sebagai penunjang gaya hidup saya sebagai freelancer yang dituntut serba multitasking. Dengan mengadopsi perangkat yang tepat, saya berharap lebih produktif dalam aktivitas yang serba fleksibel .

Teman-teman tertarik dengan laptop 2in1 juga, kan?  







Custom Post Signature

Custom Post Signature