A Story of Mom, Wife, Daughter and Woman

Kota Pelajar yang Membuatku Belajar Kehidupan

|
Yogyakarta
"Pulang" ke Yogya untuk mendaki Merapi sebelum mengubah status menjadi istri


Pukul 4 sore gerobak kayu sudah didorong menuju tempat biasa mangkal. Di ujung jalan, tepat sebelum belokan menuju pertigaan arah Hotel Ambarukmo, sang istri sudah lebih dulu membersihkan tempat jualan mereka. Menyiram tanah dengan air agar nantinya tak berdebu ketika disapu. Mengumpulkan sampah kemudian memasukkannya dalam tas kresek warna hitam untuk nantinya dibuang bersama sampah sisa jualan.

Beberapa saat kemudian sang suami pun tiba. Maka dengan seksama dihampirinya sang suami untuk membantu menyeberangkan gerobak kayu menuju tempat yang telah disiapkannya. Beberapa kayu dan batu bata telah disiapkan sebagai penyangga gerobak agar tak mudah rubuh ketika pembeli berdesakan. Terpal warna oranye pun dipasang di bagian depan dan belakang gerobak, sebagai persiapan jika sewaktu-waktu Tuhan mengguyurkan airnya dari langit.

Kopi Rolas- Warung Kopi Bergaya Rumah

|
Kopi Rolas


Siapa yang suka ngopi? (*angkat tangan). Ya, saya sangat suka minum kopi. Meskipun bisa dibilang enggak paham tentang kopi. Jangankan filosofinya, jenis-jenisnya aja saya selalu tanya sama abang yang jualan.

"Mas, kalau yang di toples ini jenis apa? Rasanya gimana? Asem nggak? Bedanya sama yang itu apa?"

Gitu terus tiap ke pasar. sampai mungkin abangnya eneg jawab pertanyaan saya. Tapi kayaknya enggak, sih. Karena dia enggak pernah judes, selalu sabar dan senyum saat jawab pertanyaan saya. Itulah yang bikin saya dan suami selalu balik ke toko kopi yang satu itu. Soalnya, ya cuma toko itu yang paling lengkap jenis kopinya, alias gak ada pilihan lain. Hahaha

Traveling Gaya Koper Otak Ransel? Bisa Dong!

|

Traveling gaya koper atau ransel?
Pexel.com



Koper atau ransel, manakah gaya traveling Teman-teman?


Kalau pertanyaan ini harus saya jawab sekitar 10 atau 15 tahun yang lalu, pastilah jawabannya ransel. Saat masih muda apalagi lajang, traveling bagi saya harus identik dengan yang simple, ringkas, penuh petualangan dan sebisa mungkin berbujet minimalis.

Tapi dengan kondisi bepergian bersama balita seperti saat ini, rasanya pilihan ini sudah tidak lagi relevan. Dari segi barang bawaan saja sudah tidak mungkin ringkas. Mau terlalu banyak petualangan juga harus berpikir ulang, karena untuk saat ini kenyamanan adalah prioritas utama saat traveling bersama keluarga, terutama dengan anak-anak.

Sebenarnya kalau mau dibilang full koper juga nggak terlalu relevan sih. Karena kami pun pernah beberapa kali melakukan traveling dengan ransel ala backpacker. Meskipun nggak bisa juga disebut backpacker murni.

Apa Saja yang Sebaiknya Diperhatikan Orang Tua Saat Berlibur dengan Anak?

|

Berlibur dengan anak


Berlibur dengan anak biasanya identik dengan barang bawaan yang banyak, ribet, rewel, nggak bisa cepat, dan masih banyak lagi alasan atau keluhan yang membuat orang tua berpikir dua kali untuk berlibur dengan si bocah.

Maka dari itu artikel tentang traveling dengan anak biasanya selalu diminati. Mulai tips dan trik mempersiapkan liburan dengan anak, alternatif tujuan wisata ramah anak, memilih transportasi yang nyaman untuk anak, sampai bagaimana membuat anak tenang selama perjalanan.

Kali ini saya tidak ingin membahasnya satu-persatu, karena sudah banyak travel blogger yang mengulasnya lebih mendetil dan lengkap.  Saya ingin berbagi pengalaman saja, sebenarnya apa saja yang sebaiknya diperhatikan orang tua saat sedang berlibur dengan anak?

Mau Berlibur Tanpa Khawatir Rekening Kebobolan? Begini Caranya.

|
Tips Traveling murah
Gambar : Pexel.com


"Wah, BukNaj lagi banyak duit, nih? Aku perhatiin sering banget traveling sama keluarga."

Begitu mendapat komentar kayak gini, respon pertama saya tentu saja mengucap syukur, alhamdulillah! Bersyukur banget ada yang doain baik-baik.  Bersyukur banget dimampukan untuk traveling. Karena memang kesempatan seperti ini tidak semua orang bisa mendapatkannya. 

Bukan, bukan hanya tentang materi yang menyebabkan traveling itu bisa terealisasi. Tapi niat dan kemauan untuk ribet atau bersusah payah selama traveling juga tidak semua orang memilikinya. Maka saya sangat bersyukur ketika akhirnya mampu membiasakan diri dan anak-anak untuk berada dalam kondisi tersebut. Sehingga acara traveling entah jarak jauh ataupun jarak dekat kami usahakan menjadi agenda tetap.

Mojosemi Forest Park - Wisata Alam di Ujung Barat Kota Magetan

|


Mojosemi Forest Park

Mengunjungi tempat wisata dengan konsep alam sepertinya sedang menjadi  trend di tengah -tengah masyarakat. Tekanan tinggi di tempat kerja, terjebak dalam rutinitas harian, ritme hidup yang sangat cepat dan masalah polusi sering kali dijadikan alasan bagi sebagian besar masyarakat urban untuk meninggalkan hiruk pikuk kota. Maka menepi ke daerah pantai, gunung atau pedesaan adalah destinasi traveling yang paling diminati kala mendapatkan cuti atau libur panjang saat hari raya dan akhir tahun tiba.

Sebagai penduduk dengan identitas diri warga ibukota. Saya dan suami pun merasakan tekanan yang sama seperti halnya masyarakat urban pada umumnya. Hal semacam itulah yang akhirnya membulatkan rencana kami untuk mengakhiri 2017 dan membuka 2018 dengan menyepi di kampung halaman.

Bersyukur, kami berdua memiliki kampung halaman yang sama. Magetan, sebuah kota kecil di kaki Gunung Lawu adalah tempat di mana kami selalu terpanggil untuk pulang. Tak sekedar untuk merasakan kembali aroma desa, atau menikmati hawa sejuknya. Tapi kali ini kami telah merencanakan mengunjungi salah satu destinasi wisata alam baru di Magetan.

Yuk, Cari Tahu Gaya Belajar yang Paling Efektif untuk Anak!

|
Gaya belajar anak seperti pintu pembuka. Setiap informasi yang masuk lewat pintu yang terbuka lebar, akan memudahkan anak memahami informasi tersebut. Pada puncak pemahaman, informasi tersebut akan masuk ke dalam memori jangka panjang dan tak terlupakan seumur hidup (Orangtuanya Manusia)

Gaya belajar anak

Pernahkah Teman-teman memerhatikan gaya belajar anak, murid, keponakan atau adiknya? Apa pendapat kalian tentang gaya belajar mereka? Serius atau cenderung santaikah?

Saya sendiri sudah sejak lama senang mengamati gaya belajar anak-anak. Pengalaman 10 tahun lalu saat harus mengajar satu kelas dengan mayoritas siswa yang memiliki kecenderungan kinestetik dan auditori. Memaksa saya yang saat itu belum memiliki pengetahuan apapun tentang macam-macam gaya belajar anak untuk mencari tahu dan mengamati dengan seksama.

Ada beberapa anak yang selalu minta diajak berkegiatan di dalam kelas. Setiap materi inginnya dilakukan dengan permainan. Bahkan di kelas pun mereka sangat jarang duduk di tempatnya. Beberapa anak yang lain sangat senang diperdengarkan cerita. Entah itu harus saya yang membacakan, atau menggunakan pemutar audio sehingga kami sama-sama mendengarkan materi.

Lakukan 7 Hal Ini agar Nyaman Berkereta Api Ekonomi dengan si Kecil

|
tips nyaman berkereta api ekonomi


Bepergian dengan moda transportasi darat, khususnya kereta api sepertinya sudah menjadi primadona baru di masyarakat kita. Terlebih bagi mereka yang rutin melakukan perjalanan di sepanjang wilayah kepulauan Jawa yang telah difasilitasi dengan jalur kereta api ke berbagai kota. Selain cepat, tepat waktu, nyaman dan bersih. Dari segi harga, tiket kereta api sangat variatif dan bisa menyesuaikan dengan bujet masing-masing. 

Kalau kebetulan sedang banyak rezeki, bolehlah sesekali merasakan kenyamanan bangku empuk kelas eksekutif. Tapi kereta ekonomi pun enggak kalah pamor, loh, meskipun tarif yang ditawarkan jauh di bawah kelas bisnis atau eksekutif. Selain bersih dan cukup nyaman, waktu tempuhnya pun tak beda jauh dengan kelas kereta lainnya. Kalau enggak salah hanya terpaut  satu jam saja.

Saya pribadi tipe yang gemar berkereta ekonomi. Selain tentu saja sangat menghemat bujet, suasana kereta yang cenderung merakyat membuat saya enggak gampang bosan. Karena biasanya antar penumpang bisa dengan mudah berkenalan dan berbagi cerita.


Damar Aisyah's Blog di Tahun 2017 dan Mau Ngapain aja di 2018

|

Blogging


Halo Teman-teman. Apa kabar 2018? Karena ini postingan pertama di awal tahun. Bolehlah ya, BukNaj say hi dulu sebagai pemanasan, hehehe. Ceritanya kemarin liburannya terlalu lama. Akhirnya muncul kembali penyakit malas dan santai-santai unfaedah. Jadilah butuh BOOM yang akhirnya memaksa BukNaj segera menggelar laptop kembali. 

Mau tahu nggak BOOM-nya apaan? Hiks, sebenarnya ini lumayan tragis, karena DA saya turun 3 angka. Padahal saya baru saja melamar untuk sebuah pekerjaan. Dengan percaya diri, saya pun menuliskan angka DA sebelumnya. Begitu kemarin sore saya cek angkanya turun 3, berasa nyut-nyutan di kepala. Waduh, pengen pijat kening rasanya.

Blogging


Tapi ya sudahlah. Mau sampai kapan nangisin yang begituan. Sudah saatnya bangkit dan mengakhiri liburan ngeblog yang lumayan panjang. Ya, saya memang sengaja meliburkan diri dengan berbagai pertimbangan. Salah satunya karena ingin meluruskan kembali niat awal ngeblog. Eciyeh, macam rambut saja rupanya, minta dilurusin. Hehehe.

Akhir tahun 2017 lalu saya merasa mulai nyeleweng dari niat awal ngeblog. Buktinya saya suka uring-uringan kalau enggak berhasil posting sesuai target. Masih suka ngarep menang lomba juga, padahal niatnya hanya uji nyali. Suka berburu job, padahal belum berniat memonetisasi blog. Nah, kan! Mulai ketahuan nyelewengnya sudah kemana-mana.

Baca cerita saya mendapatkan Invoice Pertama dari Ngeblog

But, anyway. Saya enggak munafik, ya. Banyak hal dalam dunia blogging ini yang memang sangat menarik dan menggiurkan. Mulai tawaran job, kenaikan PV, menang lomba sampai branding diri rasanya sangat sulit untuk saya tolak begitu saja. Hingga akhirnya rutinitas blogging yang harusnya untuk suka-suka, kadang-kadang kayak ada beban. Karena ada keinginan lebih dari sekedar menulis dan berbagi cerita.

Saya masih ingat betul, sejak awal saya berkomitmen menjadikan blog sebagai rumah kedua, rumah di dunia maya. Blog adalah tempat untuk mengasah keterampilan menulis, melenturkan gaya bertutur, menuangkan ide dan gagasan, juga mengumpulkan dokumentasi diri dan keluarga.


Eh, ternyata saya khilaf kebablasan. Habis gimana, ya. Khilaf itu biasanya enak, sih. Jadinya suka keterusan. Begitu sadar, akhirnya memutuskan untuk libur sementara. Sekedar untuk mengevaluasi diri dan memastikan kembali apa-apa yang ingin saya lakukan dengan aktivitas blogging di tahun 2018.



2017 yang Menguras Energi


Oke, kalau boleh jujur, 2017  itu sebenarnya sangat menguras tenaga. Selain fokus memperbaiki blog, mulai ganti TLD, ganti template, belajar ini dan itu. Saat itu saya masih terikat kontrak dengan portal perempuan Emakpintar.Asia yang sekarang telah berganti menjadi Emakpintar.Org. Di samping itu saya masih ikut beberapa proyek buku antologi, menerima pesanan artikel dan menulis untuk FP.

Blogging

Pertengahan tahun 2017 saya juga mulai mendapat tawaran job review, content placement dan yang paling sering itu buzzer. Menjelang akhir tahun semakin padat lagi, karena saya menerima job copywriting untuk satu akun instagram. Kebayang kan, mesti rutin bikin postingan setiap hari?  

Artikel review saya yang pertama: Ngemil Enak dan Sehat dengan Mola Granola

Tapi sebenarnya worth it banget, loh. Secara materi sih so pasti lah ya. Tapi enggak cuma itu, karena saya pun mendapatkan banyak pengalaman baru dan sangat berguna untuk menambah portofolio. 

Buat Teman-teman yang terbiasa bekerja dengan deadline, tentu saja hal seperti ini sangat mengasyikkan. Saya pun sebenarnya sangat menyukainya, karena challenging banget. Tapi rasanya terlalu menguras energi kalau dibarengi harus momong duo bocil dan PakNaj yang nggak mau istrinya begadang. Jadinya fix, 2018 gak boleh maruk lagi.

Maruk? Ya, saya sadar tahun lalu itu terlalu maruk. Hingga kadang kalau kecapekan saya malah jadi blank dan lemot akut. Duh, nggak lagi kerja model begini. Makanya selama liburan kemarin saya lebih banyak kontemplasi. Maunya apa sih, BukNaj nih?




2018 untuk Langkah yang Terukur dan Terarah



Blogging


Nah, begitu dapat BOOM di awal tahun yang akhirnya bikin liburan ngeblognya buyar. Saya pun mulai menentukan mau ngapai aja dengan Damar Aisyah's Blog di 2018 ini.

Mau DA naik 8 angka? Iya, karena baru saja saya turun 3. Artinya saya harus balikin yang 3 ditambah 5 lagi target saya.

Mau punya 1 postingan setiap hari? Belum sanggup kalau sekarang. Targetnya 12 postingan per bulan. Means, seminggu 3 postingan baru.

Mau ternak blog? Mungkin, khususnya untuk postingan tentang resensi. Tapi masih galau, karena resensi ini kasih sumbangan PV yang lumayan banget di blog damaraisyah.com

Mau ikut semua lomba? Enggak, tahun ini target saya maksimal 2 lomba  saja per bulan. Maksimal ya, bisa jadi hanya 1 lomba saja.

Mau rapihin blog? Ya, benar. Mau ngecek broken link, rapihin kategori postingan, update media kit.

Mau perbaiki kualitas konten? Ya, benar. Ini yang paling penting karena sejak awal niat ngeblog untuk berlatih menulis.

Mau ambil job? Ya, yang sekiranya saya mampu dan blog saya sudah pantas untuk menerimanya saja (tau dirilah.

Tapi yang paling penting, saya ingin lebih, lebih dan lebih enjoy lagi dalam ngeblog. Ingin lebih nyaman dalam menulis blog post. Enggak pengen dikejar deadline meskipun tetap membuat target jumlah postingan. Enggak pengen teriak-teriak sama anak gara-gara belum posting. Juga Enggak pengen berantem sama suami hanya karena harus begadang untuk kejar deadline. 


Blogging

Ya, intinya saya ingin mempersiapkan stamina yang lebih besar untuk bertahan di dunia blogging. Karena saya tahu dunia ini jika digeluti secara profesional juga penuh dengan persaingan. Makanya saya ingin lebih siap secara mental dan nyaman dalam berkarya.


Sudah semacam curhat aja postingan kali ini, hehehe. Mungkin langkah-langkah saya ini terkesan justru mengalami kemunduran. Sebenarnya enggak juga, sih. Karena saya paham betul situasi dan kondisi diri yang memang kurang cocok diajak lari kencang. Mendingan pelan-pelan tapi enggak sampai berhenti lagi. Amin.

Jadi, sekian rencana saya untuk 2018. Kalau Teman-teman, rencananya mau ngapain aja sama blognya? Yuk, share di komen, ya. Happy Blogging!

Custom Post Signature

Custom Post Signature