Parenting Story, Mom's Life, Tips

Showing posts with label Tips Menyapih Anak. Show all posts
Showing posts with label Tips Menyapih Anak. Show all posts

Najib dan Tumbuh Kembangnya Pasca Disapih

|

Hari pertama pasca disapih, saya merasa surprise dengan aksinya mengayuh/menggowes sepeda. Tiba-tiba saja Najib turun dari gendongan ayahnya, berjalan menuju tempat sepedanya diparkir berjejer dengan dua sepeda lainnya. 

Tidak seperti biasanya, dia langsung naik dan menggowes. Wah, Adik hebat! begitu seru kami secara bersamaan. Najib memang mulai tertarik bersepeda sejak mulai lancar berjalan. Tentu saja sepeda roda tiga yang saya maksudkan. Namun, selama ini dia hanya menggerakkan sepeda dengan cara menyeret memakai kedua kakinya. 

Alhamdulillah kaki Najib  kuat. Dia biasa menyeret sepeda sampai lumayan jauh, bahkan mengikuti kakak dan saudara sepupunya yang sedang menggowes juga. Hobi itu sudah lumayan lama. Sejak usianya sekitar 14 bulan.

Baca juga : Lika-Liku Menyapih


Rewel dan Sering Mengigau saat Tidur

Bermain pasi di Taman Legenda, TMII.

Hari-hari awal pasca disapih, tentu saja dia rewel nggak karuan. Ada saja yang jadi pemicu untuk nangis, terutama nenjelang waktu tidur. Ya, biasanya kan dia nenen, jadi langsung anteng di ketek saya, upss! Nah, sekarang dia nggak punya pelampiasan. Jadi semacam kurang kasih sayang gitu. Padahal kami justru sangat memerhatikan. Lha tapi namanya sedang galau, tetep saja dia nangis.

Kami berusaha merubah rutinitas sebelum tidur. Biasanya dia nenen sambil dengerin saya cerita. Sekarang saya ganti Najwa yang menemani. Sedangkan saya duduk di sampingnya  sambil membacakan buku cerita. Guling atau boneka saya sandingkan di sebelah tidurnya.  Bagaimana pun Najib butuh pengalihan, sesuatu yang bisa membuat nyaman atau dipeluk sewaktu tidur.

Pada awalnya, cara itupun tidak berjalan mulus.  Najib minta memegang payudara saya. "Egang doang, entar aja ya?" (pegang doang, sebentar saja ya) , begitu katanya. Memang sih, cuma sebentar, tapi saya nggak mau hal baru ini jadi kebiasaan. Jadi, hanya sekali dua kali saja saya turuti. Selebihnya tetep dengan rutinitas baru, yaitu dibacakan buku sebelum tidur. Ya, meskipun harus dengan merayu-rayu.

Saat tidur pun Najib jadi sering mengigau. Menangis memanggil ayah, kakak atau teman-temannya. Kejadian seperti ini berlangsung berulang-ulang dalam sekali tidur. Kadang-kadang malah sambil nangis dia bangun, berjalan memanggil teman-temannya. Ini bisa terjadi kapan saja,loh. Bahkan jam 12 atau 2 malam, kami biasa mengikuti dia yang terbangun sambil menangis trus minta dibukakan pintu rumah. Saya sempat khawatir dan nggak tega. Hampir menyerah begitu saja.

Demam Naik Kuda

Naik Kuda Poni di Taman Safari. Biasanya Kuda tunggang biasa di KBT.


Maksudnya bukan badan panas demam, ya. Ini beneran Najib jadi seneng banget naik kuda. Setiap nangis, selain mencari teman-temannya. Najib bakalan ngomong "naik Ik Ak!" Ik Ak adalah caranya melafalkan kuda. Saya sempat bingung mengartikannya. Baru sadar setelah Najib menunjukkan gambar kuda. Mungkin sebutan itu berasal dari cara kai menirukan suara kuda, Iiikkkaaaa ... Jadilah Najib menyebutnya  Ik Ak. Hehehe ... Waspada mengajari anak.

Tapi beneran dia jadi berani naik kuda sendiri, cuma ditemani abang-abang yang menuntun kudanya. Biasanya kan selalu didampingi ayahnya atau Najwa. Setiap lihat kuda juga selalu minta naik. Mainan  dan guling di rumah pun semua diibaratkan kuda. Jangan mainan, kamipun harus bergantian menjadi kudanya. Ckckckck .. payah banget yang terakhir ini.

Makan lebih banyak 

Selain perubahan emosi yang lumayan butuh diperhatikan. Hal-hal positif  mulai nampak pasca disapih. Salah satunya porsi makan yang semakin besar. Sebelumnya porsi makannya sudah lumayan sih. Tapi sekarang semakin besar dan beragam. meskipun tidak diikuti kenaikan berat badan yang signifikan.

Najib mulai merequest sayur dan lauk yang diinginkan. Begitu pun pada saat jam makan tiba, dia akan minta diambilkan makanan. Entah itu nasi sama sayur, roti sama susu atau biskuit sama air putih. Dia akan minta sesuai keinginannya. 

Kalaupun minta nambah, Najib akan bilang. Sebelum disapih, kebutuhannya memang banyak dicover oleh ASI. Sekarang baru terasa lapar dan butuh lebih banyak asupan. Porsi camilan dan buah pun bertambah. Sekarang bisa bebetapa kali minta biskuit atau kue. Kadang-kadang kalau sore masih minta dibelikan Siomay, Cakwe atau Donat. Saya sih, seneng-seneng aja. Ibu mana yang nggak seneng lihat anaknya doyan makan?

Kosakata Bertambah dan Semakin Cerewet

Menggunting sebagai salah satu kegiatan favorit sejak disapih.


Seiring kemauannya yang terus bertambah dan mulai me-request banyak hal. Najib menunjukkan perkembangan menggembirakan lainnya. Ngomongnya jadi nggak ada habis-habisnya. Dia pun berusaha menirukan beberapa kata yang kami ucapkan.

Misalnya kalau saya tanya, "Adik mau makan apa? Nasi sama sayur atau roti dikasih coklat?" Najib akan menjawab aci ama ayur ( nasi sama sayur) atau oti ama otat (roti sama coklat). Begitu pun saat minta minum. Dia sudah bisa membedakan mau pakai botol, cangkir atau gelas. Susu, teh, jus atau air putih. Tentu saja semua diucapkan dengan caranya. tapi ini amazing banget buat saya. Karena sebelumnya Najib cenderung lebih anteng dan nurut saja apa yang kami berikan.

Selain itu, Najib mulai suka menceritakan kegiatan sehari-harinya. Biasanya, malam hari dia akan tidur setelah ayahnya pulang dari kantor. Setelah obrolan kecil tentang kegiatannya di siang hari, baru dia akan tidur. Hal ini juga yang membuat jadwal tidurnya jadi semakin malam. Kadang-kadang sampai jam 10 atau 11 malam.

Saya sering merasa kecapekan, karena biasanya jam 8 sudah ikut tidur menemani anak-anak. Baru nanti malamnya bangun lagi. Sekarang harus stand by sampai jam 10an. Tapi apa yang lebih menggembirakan dari mendengarkan celotehannya bersama suami? Saya suka tertawa sendiri melihat ekspresi maupun caranya mengucapkan kata-kata yang dimaksud. Lucu karena nggak jelas, begitu pun ekspresinya yang sering berubah-ubah.


Lebih Percaya Diri

Mulai berani bermain sendiri.


Dalam hal kepercayaan diri, kami juga merasakan perkembangan yang lumayan pesat pada Najib. Misalnya saat bertemu orang baru, dia akan berusaha menyapa dan mengajak kenalan. Tentu saja sebagian masih kami arahkan, tapi dia berani melakukan sendiri tanpa didampingi.

Begitu pun untuk urusan bermain, Najib mulai suka main di rumah sepupunya, meskipun tidak kami temani. Biasanya setelah saya antar, dia meminta saya pulang. Jika diajak pergi ke tempat umum, dia tidak lagi malu-malu dan nempel sama saya. Najib mau berkenalan dan menyapa siapa saja. Bahkan abang-abang jualan di rumah pun mulai biasa diajaknya ngobrol.

Dua minggu ini Najib tertarik untuk ikut teman-temannya sekolah di PAUD. Sebenarnya saya belum ada keinginan untuk mendaftarkan. Tapi karena anaknya mau, akhirnya saya ikuti saja. Itung-itung main. Dari awal, dia langsung merasa nyaman, baik dengan guru-gurunya, aktivitas di PAUD maupun teman-temannya.

Belum saya daftarkan sih, jadi masih semau dia aja. Kalau pagi harinya saya tawari dia mau, ya berangkat. Kalau nggak, ya main di rumah saja. Setidaknya dia punya aktivitas baru sebagai pengalihan dan belajar banyak hal dalam bersosialisasi dengan orang luar. Termasuk menghadapi anak-anak yang gaya pengasuhannya berbeda.

Kalau saya ceritaian semua, bisa panjang banget ini blog post. Hehehe ... Ya, namanya juga ibu-ibu, pasti girangnya setengah mati kalau melihat tumbuh kembang anaknya positif. Saya yakin teman-teman juga sama seperti saya.

Nah, kalau boleh saya simpulkan.  Pasca disapih memang biasanya anak butuh rutinitas baru sebagai pengalihan. Terlebih untuk yang diasuh sendiri sama ibunya, karena tidak ada orang lain yang bisa menggantikan. Tapi, semua itu nggak lama kok, hanya sementara dan akan segera berlalu. Tentunya setelah anak-anak menyesuaikan diri, terutama secara psikologis.

Kalau dari pengamatan saya selama satu bulan ini. Pasca disapih biasanya anak mengalami beberapa hal berikut:

Mendapat teman baru kemudian bermain bersama di Ancol.


Kondisi Emosi dan Fisik Pasca Disapih
  1.  Kurang stabil di awal penyapihan, tenang lalu tiba-tiba menangis itu sudah biasa. Tapi ini tergantung kesiapan anak juga.
  2.  Butuh rutinitas baru sebagai pengalihan, atau bisa juga karena pelampiasan.
  3. Lebih sering rewel bahkan tantrum bagi sebagian anak, karena merasa tidak diperhatikan kebutuhannya (menyusu).
  4. Jadwal tidur atau jam biologis anak sering kali berubah.
  5. Makan lebih lahap dan porsi bertambah karena merasa lapar. Meskipun bagi sebagian anak yang saya kenal ada juga yang malah  jadi susah makan. So, orang tua musti tanggap dan kreatif dengan menu khusus anak.
  6. Khusus Najib, berat badannya tidak bertambah atau berkurang secara signifikan. Mungkin karena perawakannya memang kurus tinggi. Sedangkan beberapa anak bisa bertambah gemuk karena porsi dan frekuensi menyusu di botol juga meningkat.
  7. Perkembangan psikomotorik meningkat, setidaknya itu yang saya amati pada Najib. 
  8. Lebih percaya diri, baik dalam bersosialisasi maupun mengasah kemampuan sendiri.
  9. Tidak terlalu tergantung pada saya. Sekarang Najib bisa tidur dengan siapa saja termasuk neneknya. Bahkan untuk mandi, makan dia biasa me-request dengan siapa yang diinginkan.
  10. Rasa ingin tahu meningkat, karena semakin banyak waktu untuk bermain dan mencoba hal baru. Beda dengan saat masih menyusu, karena Najib cenderung jam menyusunya tidak teratur. Bisa kapan saja dan lama. Sekarang, jam-jam itu full untuk bermain-main saja.

Teman-teman yang masih menyusui, pasti nantinya punya pengalaman yang berbeda. Karena setiapanak cenderung memiliki ritme berbeda pasca penyapihan. Tergantung kondisi anak sebelum disapih dan gaya pengasuhan orang tua. Ada banyak juga orang tua yang tidak mengalami masalah yang terlalu berarti saat menyapih.Tentu saja ini yang diharapkan semua orang tua.

Tapi tak perlu khawatir, setiap fase bersama anak itu ada seninya. Dan sering kali menimbulkan kerinduan karena tidak bisa diulang. Jadi dinikmati saja. Meskipun saya sendiri bukan tipe ibu sempurna. Yang sabar, telaten dan stabil secara emosional. Saya berusaha menikmati masa-masa ini dengan segala keterbatasan.

Kalau teman-teman yang sudah menyapih, boleh sharing dong, bagaimana pengalamannya?

Lika-Liku Menyapih Anak

|
"Bund, hari ini kita sapih Najib, kita harus tega. Toh, tujuannya agar anak lebih mandiri dan tidak terlalu tergantung sama ibunya. Jadi ayah bisa bantuin momong."



Pertengahan bulan nanti, genap sebulan Najib anak kedua saya melewati masa disapih. Tepat pada usia 2 tahun 4 bulan, saya dan suami memutuskan untuk menyapihnya secara total. Awalnya saya sempat ragu karena pernah gagal menyapih si kecil. Tapi alhamdulillah, nampaknya kali ini kami akan berhasil melakukannya.

Sebelumnya, saya telah mencoba menyapih Najib dengan cara mengurangi frekuensi pemberian ASI secara bertahap. Yang biasanya kapan saja dan di mana saja, saya mulai berlakukan aturan tempat dan waktu. Misalnya harus di kamar, pada saat bangun dan sebelum tidur.

Tapi cara itu hanya bertahan sementara waktu saja. Ketika kondisi anak sedang tidak fit, dia mulai susah untuk diajak mengikuti aturan menyusu yang sudah saya terapkan. Dipengaruhi faktor 'nggak tega', saya pun mulai tidak tegas dan konsisten dengan aturan yang saya buat. Jadilah kebiasaan ini tidak berjalan dengan lancar. Parahnya, Najib cenderung menjadikan tantrum sebagai senjatanya saat saya menolak memberikan ASI Ya ... Apa mau dikata, gagal sudah Buk Naj dengan metodenya. 


Mulai WWL hingga Mengolesi  Payudara dengan Brotowali

Sejak awal menyusui Najib, dengan penuh kepercayaan diri saya memutuskan untuk memberinya ASIX hingga usianya 2 tahun. Berbekal tekad tersebut, saya pun merencanakan menyapih dengan metode WWL dan berencana mulai memberi pemahaman pada anak sejak usianya 18 bulan. Sambil secara bertahap mengurangi frekuensi menyusunya.

Tapi yang namanya teori memang kerap tak seindah kenyataan. Keberhasilan memberikan ASIX mulai membuat saya terlena dengan rencana yang telah saya siapkan. Memang benar sejak usia 18 bulan saya memberinya pengertian bahwa setelah potong kue yang kedua, adek minumnya ganti pakai gelas. Dengan alasan adik sudah besar dan malu kalau masih nenen ibunya. Benar juga bahwa semenjak itu saya  mulai mengurangi frekuesi menyusui. Tapi, seperti yang saya sebutkan sebelumnya, saya sering 'nggak tega' dan konsisten. Jadilah Najib memanfaatkan kelemahan saya ini sebagai senjata.

Sampai usianya 2 tahun lebih, saya masih belum berhasil menyapihnya. Sedangkan suami terus mendesak, dengan alasan si kecil mulai tergantung sama ibunya. Saya nggak kelihatan sebentar sajat, Najib bakalan nangis kejer, nyari-nyari. Meskipun ada suami atau Najwa yang menemani. 

Drama seperti ini berlangsung terus menerus, bahkan semakin menjadi. Saya pun mulai kewalahan karena durasi menyusu yang semakin panjang. Najib mulai memanfaatkan momen menyusu untuk bermain, bukan karena benar-benar haus. Cuma ngempeng kalau istilah orang Jawa. 

Akhirnya, saat usia Najib 2 tahun 1 bulan, suami pun mengambil inisiatif membeli Brotowali atau biasa disebut Wali di pasar. Sejenis rempah berbentuk batang, dalamnya bergetah dan rasanya pahit bukan kepalang. Awalnya saya menolak, karena idealisme  tidak ingin menyapih dengan cara-cara seperti itu. Tapi suami mendesak dengan alasan kebaikan anak. Agar anak tidak semakin manja dan segera mandiri.


Jadilah acara menyapih dengan Brotowali kami lakukan. Setiap mau minta nenen, saya selalu oleskan dulu rempah pahit ini ke seluruh payudara saya. Dan tentu saja si kecil kepahitan, jangankan diemut, baru dijilat saja rasanya sudah getir di lidah. 

Resmi sudah hari itu Najib nggak minta nenen sama saya. jangan ditanya kayak apa rewelnya. Malam pertama saja saya harus menggendongnya beberapa kali. Demi si kecil bisa tidur nyenyak. Begitu pun saat masuk jam tidur siang.


Menolak Minum di Botol hingga Demam

Drama dimulai lagi saat Najib menolak minum susu di gelas. Sehari berikutnya, hampir seharian dia hanya minum air putih saja. Semua minuman berasa, baik itu susu, teh atau sari buah ditolaknya. Saya coba menawarkan botol susu kepadanya, terutama menjelang jadwal tidur siang atau malam. Tapi karena tidak terbiasa tidur dengan botol, Najib pun menolak begitu saja.

Pada malam kedua, saya merasakan badannya sedikit demam. Dan benar saja suhu tubuhnya sudah mencapai 38, 3 kala itu. Saya mulai panik, khawatir si kecil kurang cairan. Emosi pun mulai tidak stabil, antara bersikeras ingin menyapih dan kasihan melihat si kecil.  

Tak dapat dipungkiri,  perasaan ibu memang terhubung langsung dengan anak. Najib pun semakin rewel hingga tengah malam, ketika perasaan saya mulai kalut. Sudah saya gendong sambil saya bobok-bobokkan, tetap saja dia menangis dan minta dinenenin.


Gagal Menyapih dengan Brotowali

Dalam kondisi kelelahan secara fisik, payudara mulai nyeri karena bengkak akibat  terlalu penuh, perasaan campur aduk antara panik dan khawatir, ditambah suami sedang dinas ke luar kota sehingga tidak ada yang menggantikank. Runtuh sudah usaha yang sudah hampir dua hari saya lakukan. Tepat pukul 01.00 dini hari, dengan tetap menggendong si kecil, saya pun mulai menyusuinya.

Lega ... begitulah perasaan saya saat itu. Najib langsung tenang dan menyusu hingga puas sebelum akhirnya tertidur dalam gendongan. Rasa nyeri di payudara pun hilang dalam sekejap. Malam itu kami berdua terlelap di sofa, kelelahan baik secara fisik maupun mental.


Najib Cerdik!

Setelah pengalaman gagal menyapih dengan Brotowali, saya pun mulai mencoba beberapa bahan lain untuk dioleskan. Tapi benar kata orang, anak-anak itu jauh lebih cerdik dari yang kita sangka.

Setiap saya mengoleskan sesuatu pada payudara, si Najib segera bergegas mengambil tisu untuk mengelap. Dan lebih parahnya lagi, apapun yang saya oleskan dia selalu bilang, "enak, ndak pa pa." Begitu terus-menerus. Bahkan saat dioleskan Brotowali kembali, Najib akan mengatakan hal yang sama, "Nak, Buk. Adek cuka, nak ... nak." Tetot! ... Kalah sudah saya dalam pertempuran ini. *Pijitkening



Berhasil Berkat Kerjasama dengan Suami

Saya ingat betul, hari itu Jumat tanggal 13 Januari 2017. Tiba-tiba suami saya bilang,
"Bund, hari ini kita sapih Najib, kita harus tega. Toh, tujuannya agar anak lebih mandiri dan tidak terlalu tergantung sama ibunya. Jadi ayah bisa bantuin momong juga." 

Kebetulan usia Najib memang bisa dibilang lebih dari cukup untuk disapih. Dan setelah kegagalan menyapih dengan Brotowali, Najib memang cenderung lebih nempel sama saya. Jadwal menyusunya pun semakin berantakan. Ditambah acara tantrum yang menjadi-jadi.

Pagi itu suami mengajaknya jalan-jalan keliling perumahan. Saya kurang tahu apa saja yang mereka berdua lakukan. Yang jelas, sesampainya di rumah. Si kecil langsung bilang, "nenen ibuk atit, udah abis." Hahaha ... si ayah melakukan pencucian otak kali ya. *nyengirprihatin

Seperti biasa, dalam setiap acara menyapih, saat-saat jam tidur selalu menjadi masalah. Tapi kali ini Najib benar-benar tidak minta nenen. Dia terus bilang nenen ibuk atit, nenen udah abis. Begitu terus menerus sambil sesekali memegang payudara saya.

Kami masih kesusahan memberikan susu melalui botol karena faktor tidak terbiasa tadi. Ini termasuk salah satu hal yang patut dipersiapkan bagi Temans yang berencana menyapih anaknya. Terlebih jika si anak tipe yang biasa nenen dulu sebelum tidur. Otomatis mereka akan mencari penggantinya. 

Alhamdulillah, selama proses menyapih yang ketiga ini, suami  stand by di rumah khususnya menjelang jam tidur malam. Terbantu di tiga hari awal, yaitu Jumat, Sabtu, Minggu saat libur kerja, Najib mulai menemukan kenyamanan baru, yaitu tidur dalam pelukan ayahnya. Saya pun mendapatkan jeda, sehingga frekuensi bersama dengannya agak berkurang. 

Akhirnya, setelah melewati seminggu pertama yang lumayan berat. Najib benar-benar tidak lagi meminta nenen dari saya. Jangan ditanya bagaimana perasaan saya, apalagi kondisi badan yang lelah karena jatah rewelnya naik dua kali lipat, tapi sepadan hasilnya.

Sampai hari ini Najib menunjukkan banyak kemajuan pasca disapih dari saya. Terutama dalam hal kemandirian dan kepercayaan dirinya. Selain dari segi umur yang memang sudah siap, kedekatan dengan ayahnya pun mulai terbentuk dengan kebiasaan-kebiasaan baru. Lain kali akan saya tulis blogpost tentang perkembangannya baik secara fisik dan emosi pasca penyapihan.


Tips Sukses Menyapih Anak

Yang terakhir, saya ingin berbagi sedikit tips sukses menyapih ala saya dan suami. Tenang saja, oles-olesan macam Brotowali sudah saya skip dari tips ini, Jadi aman untuk Teman-Teman yang tidak ingin menggunakan cara-cara tradisional seperti itu untuk anaknya.

Nah, langsung saja, ya.

1. Pastikan anak maupun orang tua, terutama ibu, dalam kondisi stabil. Baik secara fisik maupun mental, di samping anak cukup usia.

Bagian ini penting banget ya. Jadi bukan cuma anaknya saja yang harus siap atau cukup umur. Orang tua harus menularkan sugesti positif dan siap juga kepada anak, khususnya ibu yang memiliki hubungan secara langsung.

Selain itu, orang tua harus mampu mengelola emosi. Karena mau tak mau akan berhadapan dengan kondisi emosi anak yang berubah-ubah. Rewel atau melakukan kebiasaan-kebiasaan baru yang tak dapat diduga, mungkin akan dialami anak. Dengan kondisi emosi yang stabil, maka orang tua akan lebih tenang menghadapinya.

Kondisi fisik baik orang tua dan anak sebisa mungkin sedang fit. Hal ini untuk mengurangi tingkat kerewelannya. Bagi orang tua, terutama ibu. Kondisi yang sehat sangat memengaruhi emosinya. Karena masa menyapih bisa dibilang tidak selalu mudah dan cepat, jadi butuh kesiapan  jika harus begadang atau berlama-lama menggendong si kecil. Termasuk harus menghadapi prahara payudara bengkak bagi si ibu. *usapairmata

Jadi saran saya, jangan menyapih saat pikiran sedang kalut, atau suami sedang tugas ke luar kota, terlebih saat keluarga sedang ditimpa masalah, atau badang sedang lelah.  Cari momen yang tepat.


2. Harus kompak dengan suami atau anggota keluarga lain di rumah

Menyapih memang butuh pendampingan dari suami atau anggota keluarga lain. Tujuannya sebagai pengalihan anak dari ibunya. Saya merasa cara ini sangat membantu mengurangi frustasi anak, karena setiap bersama saya hasratnya untuk kembali nyusu seperti tak terbendung lagi.

Selain itu, cara ini memberikan sedikit jeda bagi ibu untuk merefresh suasana hati dan emosinya. Karena sebenarnya dalam proses menyapih ini banyak hal "yang hilang" bagi seorang wanita. Perasaan sedih kerap kali menyerang begitu saja. Sehingga kerjasama dengan anggota keluarga lain, terutama suami, saya rasa berkontribusi besar terhadap kesuskesannya.


3. Konsisten

Salah satu penyebab kegagalan menyapih adalah sikap tidak konsisten dari orang tua. Sekali anak melihatnya, mereka akan menggunakannya sebagai senjata. Begitu orang tua bilang, "Mulai sekarang, kalau adik haus, minumnya dari gelas, ya." Mulai saat itu pula ibu tidak perlu menawarkan kembali ASInya. 

Begitu pula beberapa rutinitas baru seperti tidur sendiri atau bersama kakak. Mendongeng sebelum tidur untuk mengalihkan perhatiannya. Atau apa saja yang orang tua terapkan dalam masa penyapihan, sebisa mungkin dilakukan dengan konsisten.

Saya merasakan penerapan konsisten dari orang tua memberikan efek cukup besar tidak hanya dalam proses penyapihan ini. Namun juga dalam membiasakan beberapa rutinitas baru bagi Najib khususnya.

Nah, itu tadi 3 tips dari saya. Saya pun menerapkan beberapa tips dari berbagai artikel parenting yang bisa teman-teman googling. Berbekal tips A,B,C,D ditambah 3 tips tadi, alhamdulillah ... Najib sudah hampir satu bulan tidak meminta ASI kepada saya. Bagaimana dengan tumbuh kembangnya? Lain kali akan saya ceritakan dalam blogpost selanjutnya. 

Selamat Menyapih! ^_^

Baby Boy yang sudah nggak nenen ibuknya ^_^








Custom Post Signature

Custom Post Signature