Parenting Story, Mom's Life, Tips

Showing posts with label LIFE. Show all posts
Showing posts with label LIFE. Show all posts

3 Hal yang Saya Pelajari setelah 8 Tahun Berstatus Istri

|

www.damaraisyah.com


Delapan tahun menikah, tapi rasanya seperti  baru saja melalui fase terberat pada 5 tahun pertama pernikahan. Iya, usia pernikahannya memang sudah sampai di angka 8, tapi baru 5 tahun terakhir ini kami hidup bersama dalam satu atap. 

Setelah memutuskan pindah ke Jakarta dan berkumpul dengan suami seperti selayaknya suami istri, rasanya saya seperti kembali pada titik awal. Persis seperti pengantin baru yang baru mengenal satu sama lain. Terlebih, kami menikah tanpa melalui proses pacaran. Begitu ketemu, tukar kontak, merasa cocok langsung jebret lamaran terus nikah.

Tahun Kelima di Jakarta

|



Hidup di Jakarta
Pict by: @bastianpribadi

Jakarta itu debu Jakarta itu macet Jakarta itu banjir  Jakarta itu yel-yel demo buruh Jakarta itu mal Jakarta itu pedagang kaki lima yang mati-matian membela kiosnya Jakarta itu rumah kumuh yang berderet sepanjang rel kereta yang satu demi sati dibongkar polisi tata kota Jakarta itu berangkat subuh pulang magrib Jakarta itu ondel-onde Jakarta itu Pak Ogah yang setia menunggu di di tikungan jalan Jakarta itu jerit klakson mobil Jakarta itu angkot tua yang batuk-batuk mogok persis di tengah jalan Jakarta itu terhimpit ka-er-el yang menunggu sinyal keberangkatan.


Berulang kali kuulangi larik demi larik pada halaman 124 Hujan Bulan Juni. Berulang kali pula aku tersenyum sendiri. Apa yang dituliskan Sapardi Djoko Damono pada lembar terakhir bab ketiga novel tersebut sangat mewakili perasaanku. Tapi itu dulu, sekitar 5 tahun yang lalu, saat gundah gulana bergelanyut tak menentu.

4 Things for Happier Couple

|


Kehidupan rumah tangga


Ada yang bilang, hidup lebih bahagia setelah menikah. Meskipun kita nggak bisa menolak asam garamnya, karena nggak semua hal dalam hidup ini manis-manis saja. Apalagi terlalu banyak bergaul dengan yang manis-manis sangat berpotensi diabet, buahaya kalau nggak diimbangi sama yang asem, asin, pedes atau malahan tawar.

Tapi, beneran nggak, sih? Kalau perkawinan membuat hidup seseorang menjadi lebih happy? Khususnya bagi pasngan yang menjalaninya. Masak iya kita yang nikah orang lain yang jadi bahagia? Meskipun bisa juga orang lain ikut happy. Misalnya keluarga kedua pasangan, saudara atau teman. Orang-orang yang ada di sekitar kita pasti turut merasakan kebahagiaan yang sedang kita alami. Tapi jangan lupa, pasanganlah yang memiliki tanggung jawab mempertahankan atau membuat kehidupan pernikahan lebih bahagia. Orang-orang di sekitarnya hanyalah supporter saja.

Menghabiskan sisa usia bersama orang yang tidak kita kenal sebelumnya, dengan background keluarga yang pasti berbeda. Bisa jadi terasa indah dan mudah di awal untuk melihat segala perbedaan sebagai keunikan. Tapi kemudian,  perjalanan yang panjang, berliku dan naik turun. Acap kali membuat pasangan harus pandai menjaga “stamina” dalam pernikahan. Sehingga rumah tangga bertahan dalam kondisi bahagia. Bahkan idealnya semakin bahagia dari waktu ke waktu, bukan sebaliknya.

Bicara soal pernikahan yang bahagia, semua itu pasti tidak lepas dari usaha. Nggak ada sesuatu yang bisa datang begitu saja, semua perlu diusahakan. Terlebih jika sudah menyangkut kehidupan pernikahan yang tidak hanya melibatkan individu per individu. Tapi, ada anak, orang tua dan 2 keluarga besar.

That’s why jangan pernah merasa lelah untuk mengusahakannya. Kecuali sudah benar-benar tidak bisa dipertahankan. Just let it go and maybe you’ll happier. But, try and try before you make any decisions.

Usia pernikahan saya belum lama, masih jauh dari panggang. Dan seperti halnya pasangan lain, saya pun merasakan naik turun dalam kehidupan pernikahan. Ada kalanya datang lelah, kita hanya butuh “istirahat” sejenak dengan ego masing-masing. Bukan berhenti  dan menyerah sebelum kalah dalam "peperangan".
Untuk itu, saya pun rajin mencari tahu apa yang bisa dilakukan untuk menambah kebahagiaan sebagai pasangan. Nggak usah yang muluk-muluk, saya nggak mungkin ngarep suami jadi romantis. Karena udah dari sono-nya dia kaku dan lumayan formal. Tapi, bukan berarti kita tidak dapat menambah kehangatan rumah tangga karena sifat asli satu sama lain. Menurut the expert, 4 cara sederhana berikut ini bisa jadi sangat mungkin dilakukan bagi siapa saja.


Kehidupan rumah tangga



Bercanda dan tertawa bersama

Orang  bilang banyak bercanda dan tertawa membuat wajah awet muda. Pikiran lebih rilex, santai karena mendapat hiburan gratis. Begitu pun halnya jika Temans rajin melakukannya bersama pasangan. Cerita tentang kekonyolan yang dilakukan bersama, nostalgia masa lalu saat pertama kali berkenalan, atau humor segar lainnya yang bisa dibagi bersama pasangan. Tapi ingat, jangan sampai kebablasan dan malah menimbulkan pertengkaran, ya.

Saya pribadi dan suami punya banyak cerita “konyol” sejak awal mula berkenalan.  Terdengar biasa bagi orang lain. Tapi untuk kami, semua itu sangat istimewa. Saat sedang berdua, kami sering kembali ke masa-masa itu, saat cinta masih menimbulkan debaran yang luar biasa. Kikiki. Tak banyak kisah romantis yang kami miliki. Tapi cerita-cerita lucu yang selalu membuat kami tertawa bersama seolah menjadi penyegaran dan perekat kembali saat muncul celah yang tak diinginkan.

Nggak percaya? Coba saja.


Kehidupan rumah tangga



Lakukan kebaikan kecil untuk pasangan

Melakukan suatu kebaikan untuk seseorang memberikan efek bahagia bagi keduanya, terlebih bagi yang melakukan. Temans sering mendengar istilah taker dan giver, bukan? Giver adalah orang yang mendapatkan manfaat lebih banyak dari apa yang dilakukannya. Dalam hal ini kepuasan batin dan kebahagiaan.

Begitu pun halnya dengan pasangan. Berlomba-lomba menjadi giver adalah salah satu cara untuk menambah kebahagiaan satu sama lain. Bukan tentang berlian, permata, atau extraordinary holiday, tapi perhatian. 

Hal-hal sesederhana membuatkan kopi pada pagi hari, mencium kening pasangan, memijat pundaknya saat lelah atau mendoakan kebaikan untuknya adalah sesuatu yang “biasa”, tapi jika dilakukan dengan tulus akan berimbas luar biasa. 



Tentang berhubungan intim

Ehem … Sekali-kali ngomongin area dewasa, hehehe. Ya, dong. Namanya juga marriage life, demi relationship goal yang sebenar-benarnya, bolehlah sesekali nyenggol area ini.

Dalam salah satu sumber bacaan yang saya pelajari, studi kasus menemukan kehidupan pernikahan yang lebih bahagia bagi mereka yang rutin berhubungan intim dengan pasangannya. Rutin tidak perlu diartikan setiap hari, ya. Atau malahan 3 kali sehari, emangnya minum obat kali, ye. Hahaha … Hush!! Rutin bisa jadi berkala, sesuai kesepakatan masing.

Beberapa pasangan yang mengaku berhubungan intim rutin 3 atau bahkan hanya  2 kali dalam seminggu, terlihat lebih bahagia dibanding yang  setiap hari melakukan tapi minggu berikutnya sama sekali tak bersentuhan. Well, masalah ini sebenarnya lumayan sensitif, karena kebiasaan setiap orang pasti berbeda. Intinya rutin ajalah.

Kehidupan sex yang sehat sangat berpengaruh terhadap  keharmonisan dan kebahagiaan pernikahan. Sudah fitrahnya bahwa manusia dikaruniai syahwat yang minta disalurkan. Untuk itulah pernikahan menyelamatkan manusia dari perzinahan asalkan dilakukan dengan cara yang tepat dan tidak melanggar ketentuan agama dan negara.

Dalam berhubungan intim, ada komunikasi yang sangat mendalam antara pasangan.  Bahkan romantisme atau pujian mesra yang tak pernah ditunjukkan di depan khalayak, bisa jadi mem-bludak saat kita hanya berdua dengan pasangan. Cara ini dipercaya bisa terus merekatkan janji-janji pernikahan dan menguatkan komitmen untuk terus melalui ujian dalam kehidupan.

Ya, setidaknya itu yang dikatakan para ahli. Benar atau tidaknya, coba tanya kata hati dan pasangan masing-masing. Hehehe.




Kencan 

Nggak usah bayangin candle light dinner di restoran mahal, nanti kalau nggak kejadian malah ngambek di pojokan. Hehehe, saya banget itu. Ngemil kacang sambil nonton film berdua juga bisa disebut dating. Atau duduk di beranda sambil berdiskusi ditemani segelas teh atau kopi. Intinya selalu sediakan waktu untuk berdua, ngobrol, curhat atau apa sajalah yang penting hanya dilakukan berdua.  Suasananya akan terasa berbeda jika dibandingkan saat bersama anak-anak.  Karena saat berdua, kita lebih bebas dan mudah mengekspresikan perasaan pada pasangan.

Ya … Ya … Ya, pastinya Temans punya cara lain yang selama ini biasa dilakukan bersama pasangan. Pasti, dong! Nah, beruntunglah kita-kita yang sudah menemukan cara-cara tersebut. Tapi ingat, sesekali bolehlah ada variasi, modifikasi. Ecieh, ayak motor aja dimodifikasi. Hehehe. Ya apalah itu istilahnya. Intinya biar nggak bosen, biar awet dan nambah bahagianya. Bukankah itu salah satu tujuan sebuah pernikahan?

Nah, yang punya kebiasaan lain, bolehlah share di komen. Biar BukNaj ini nggak sampai kehabisan ide. Ok, ya? Semoga bermanfaat!


-DNA-


#ODOP
#Day26
#bloggermuslimahindonesia






Every Family Has Its Own Rules (II) - Nilai-nilai yang Dapat Ditanamkan dalam Keluarga

|
Having a place to go – is a home. Having someone to love – is a family. Having both – is a blessing ~Donna Hedge

Sumber gambar : Pinterest.com



Saya masih terus diprotes anak-anak, perihal mengapa di rumah kita harus begini sedangkan di rumah temanku nggak? Mengapa jam mainku segini, sedangkan teman-temanku bisa sampai kapan saja? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang terus dilontarkannya.

Seperti yang pernah saya tulis dalam postingan sebelumnya, Every Family Has Its Own Rules (I). Setiap keluarga memang selalu memiliki kebiasaan-kebiasaan yang baik secara langsung maupun tidka langsung menjadi semacam peraturan. Hal tentang pengaturan waktu, bagaimana berinteraksi dengan anggota keluarga yang lain, menumbuhkan kebiasaan baik dari rumah. Sekali lagi saya sangat yakin setiap keluarga memilikinya. Yang pastinya beda dan tak perlu diperdebatkan.

Dalam hal ini, saya dan suami yang kini sedang menumbuhkan kebiasaan baru dalam rumah tangga kami pun berasal dari 2 keluarga yang memiliki banyak perbedaan. Background keluarga, kondisi ekonomi, orang tua yang membesarkan kami dan tekanan yang harus dihadapi ikut memengaruhi kebiasaan-kebiasaan dalam keluarga.

Dalam beberapa hal, keluarga saya jauh lebih “keras” terhadap 4 anak gadisnya. Tapi, dalam hal-hal lain keluarga suami jauh lebih “alot” dalam membuat keputusan-keputusan bersama. Keluarga saya yang hanya terdiri dari 5 orang perempuan setelah papa meninggal. Dengan serta merta menempatkan perempuan sebagai sosok yang harus tangguh, mandiri dan merdeka. Ini sangat bertolak belakang dengan keluarga suami yang bisa dibilang menganut patriarki.

Perbedaan ini kerap kali membuat kami berselisih paham. Untuk itu, penting bagi kami untuk menemukan nilai-nilai dari 2 keluarga yang bersifat positif, yang kemudian dapat diterapkan dalam keluarga kecil kami.

Nah, 4 nilai berikut  kini sedang kami usahakan untuk terus ditanamkan pada anak-anak.


Saling menghormati

Sering kita mendengar, bahwa dari rumahlah seorang anak seharusnya mendapatkan segala hal yang pertama. Salah satunya mengenai pendidikan. Sering juga orang tua meminta anak-anak untuk menghormati mereka. Tapi, sudahkan kita menghormati anak-anak sebagai individu yang butuh diperlakukan sama?

Hormat-menghormati menjadi salah satu nilai utama dalam keluarga. Bagaimana cara kita memperlakukan anak, dengan cara itu pula kita akan diperlakukan anak. Menghormati orang tua bukan hanya perkara, “Kalian kan masih anak-anak, musti hormat sama orang tua.” Bukan, bukan tentang itu saja. Menghormati orang tua adalah tentang bagaimana mereka menghormati individu lain. Sehingga orang tua pun perlu melakukannya pada anak.

Saling menghormati tidak hanya sebatas pada sikap tubuh, atau yang biasa disebut sopan santun. Tapi bagaimana menghargai pendapat, bagaimana bertutur dengan anak, menghormati pilihan-pilihannya dan menempatkannya pada posisi yang sejajar sebagai sesama manusia.

Kami percaya, jika anak dibiasakan saling menghormati dalam keluaraga, maka mereka tidak akan canggung ketika berbaur dalam lingkungan. Ke mana pun anak pergi mereka telah memiliki priinsip bagaimana menempatkan dirinya dan juga orang lain.

Mengucapkan Kata-kata Cinta

Mungkin terdengar kurang familiar dalam keluarga Indonesia. Lain halnya dengan kehidupan keluarga asing yang begitu biasa mengumbar kata-kata cinta dan sayang kepada sesama anggota keluarga. Membiasakan mengucapkan kata-kata cinta menunjukkan seberapa dekat kita dengan keluarga sehingga tak perlu merasa canggung lagi ketika mengucapkannya.

Ketika anak masih kecil, orang tua terbiasa membanjirinya dengan kata-kata tersebut. Tapi, begitu beranjak remaja, mungkin  semakin jarang sehingga terdengar kaku. Sekali lagi, jangan berhenti mengatakannya hanya karena mereka bukan lagi anak-anak. Karena bagaimanapun juga cinta butuh diekspresikan tidak sekedar dirasa. 

Selain itu, membiasakan anak dengan kata-kata cinta menjadi salah satu cara bagi kami untuk mengawal masa-masa pubernya, yang acap kali harus berurusan dengan masalah love. Anak harus tahu bahwa urusan cinta dan I love you tidak sebatas hubungan lawan jenis.  Keluarga adalah cinta yang pertama bagi mereka. Sehingga mereka tak perlu risau ketika tak mendengar kalimat I love you dari remaja lainnya.


Tolong menolong

Keluarga harus menjadi “orang pertama” yang membantu saat anggotanya “jatuh”. Ungkapan ini bukan berarti kita mengabaikan bantuan dari teman atau tetangga. Atau mengabaikan membantu teman dan orang-orang dekat di lingkungan kita. Tapi maksudnya, keluarga adalah orang yang harus pertama tahu dan siap membantu ketika anggota yang lain tertimpa kesusahan.

Hal ini juga yang mengingatkan saya untuk lebih peduli dengan saudara-saudara saya. Nggak lucu kan, setiap hari kita update berita politik atau selebritis tapi lupa menanyakan kabar keluarga sendiri? Apakah mereka sehat dan baik-baik saja, ataukah sedang tertimpa kesusahan?

Menumbuhkan nilai tolong menolong dalam keluarga mau tak mau membuat kita lebih perhatian satu sama lain, bersedia mendengarkan dan memahami perasaan orang lain. 

Saat menumbuhkan nilai ini dalam keluarga, kami memiliki keyakinan bahwa secara tidak langsung kami sedang menyiapkan anak-anak untuk lebih peduli dengan lingkungan dan orang-orang di sekitarnya. Karena keluarga adalah representasi kecil dari komunitas yang harus mereka masuki kelak.

Sumber gambar : Pinterest



Do the best

Dalam hal apapun, kami mendukung mereka untuk melakukan yang terbaik. Kalah, menang, juara atau bukan itu hanya masalah hasil saja. Tapi dalam prosesnya, harus mengerahkan usaha yang terbaik. Dalam hal ini, kami tidak hanya sedang mendorong mereka untuk melakukan sesuatu dengan detil atau nyaris sempurna. Tapi kami sedang mengajarkan tanggung jawab dan konsekuensi  atas pilihan-pilihan yang diambil setiap orang.

Ada tanggung jawab atas semua hal yang telah dipilih, meskipun kerap kali pilihan itu mengandung unsur terpaksa. Begitu pun halnya dengan konsekuensi yang tak dapat dipisahkan. Secara tidak langsung, anak akan lebih cermat dan berhati-hati dalam menentukan apa yang diinginkannya.

Meskipun ada kalanya diperlukan tindakan nekat, tapi tetap saja ada tanggung jawab dan konsekuensi di dalamnya. Tanggung jawab itulah yang membuat setiap hal harus dilakukan dengan sebaik-baiknya.


Memang tak sesederhana saat menulis atau mengucapkannya. Tapi memiliki nilai-nilai yang disepakati untukk terus diterapkan dalam keluarga sudah seperti keharusan. Karena sekali lagi, dari rumahlah seharusnya kita mendapatkan segala hal yang pertama.

Have a good day with your family. Love and respect each other! 


-DNA-




#ODOP
#Day25
#bloggermuslimahindonesia










 

Every Family Has Its Own Rule (I)

|


Azan magrib merupakan penanda, anak-anak harus berhenti bermain, masuk rumah, dan berdiam diri untuk sejenak.  Beribadah, makan malam kemudian dilanjutkan belajar. Boleh mengerjakan PR, belajar materi untuk keesokan hari atau membaca. Apa saja boleh dibaca, yang penting aktivitas yang dilakukan adalah membaca.

Kebiasaan  seperti ini sudah kami terapkan sejak memiliki anak pertama, terus berlanjut hingga hari ini dan secara otomatis menjadi semacam rule dalam keluarga kami. Peraturan semacam ini memang bisa jadi tidak selalu ketat, situasional. Misalnya saat weekend dan kami harus bepergian, bisa jadi waktu magrib kami masih berada di jalanan, di dalam alat transportasi atau bahkan terjebak dalam suatu acara.

Hal di atas hanyalah satu dari sekian rule yang tanpa sengaja disepakati bersama oleh seluruh anggota keluarga. Kebiasaan lain seperti mengembalikan barang ke tempatnya setelah dipakai. Mematikan kran air, meletakkan baju kotor di keranjang cucian. Semua itu hanyalah kebiasaan sehari-hari yang sangat sepele, namun entah mengapa tiba-tiba saja menjadi semacam rule yang dijalankan dan dipatuhi bersama.

Tapi, meskipun secara tidak langsung sudah disepakati. Ada kalanya anak-anak protes dan membanding-bandingkan dengan keluarga lain. Misalnya jika ada teman-temannya yang masih bermain di luar rumah selepas magrib. Mereka bakalan protes pada kami, orang tuanya. Saya, tentu saja tidak bergeming dengan rengekannya. Karena meskipun tidak ketat, tapi situasional. Tapi bukan juga berarti longgar. Harus melihat situasi dan kondisinya.


Saya yakin setiap orang tua dan keluarga, punya alasan tersendiri untuk memperbolehkan ini dan itu pada anak-anaknya. Mereka pun pasti memiliki pertimbangan terkait A, B atau C yang mereka terapkan pada anak-anaknya. Hal mengenai pembiasaan, pembentukan karakter dan cara pandang setiap keluarga juga pasti berbeda. Apalagi prioritas, tujuan dan cita-cita masa depan.

Sudah pasti setiap keluarga berkeinginan memiliki anak-anak yang sehat, baik, berkarakter kuat  dan hal-hal positif lainnya. Tapi dalam penjabarannya, pengambilan langkah pertama, problem solving dan perspektif hidup setiap keluarga juga sudah pasti berbeda. Ya, mau bagaimana lagi. Individu yang menjalankannya pun juga berbeda. Nggak mungkin diseragamkan meskipun tujuannya secara garis besar sama.

Mengenai menerapkan pembiasaan ini pun saya sempat kewalahan jika harus berdebat dengan anak. Belum lagi jika mereka melihat keluarga lain yang semuanya “serba longgar” juga baik-baik saja. Kenapa kita tidak?

Alasan saya pun kadang sepele saja, hanya agar anak-anak memiliki kebiasaan yang positif, tertib diri dan kemudian mandiri. “Ibuk, kan nggak bisa terus-menerus mendampingi kalian. Kalau kalian sudah mempunya kebiasaan, maka kalian akan lebih mudah pas dewasa nanti. “ Cuma gitu aja alasannya.

Pernah juga si kakak protes mengapa harus membaca setiap hari. Padahal teman-temannya tidak selalu membaca di rumah. Toh, mereka tetap pintar? Tarik nafas dulu sebelum jawab, hehehe … 

Kembali lagi, karena membaca adalah kebiasaan baik yang sedang kami terapkan dalam keluarga. Tidak hanya anak-anak, orang tua pun tak luput dari kebiasaan ini. Apa sih tujuannya? Membuka wawasankah? Atau menambah pengetahuan? Ya, itu tujuan yang lebih serius. Tapi untuk levelnya anak-anak, kebiasaan membaca kami tujukan untuk menumbuhkan rasa SUKA. Jika sudah suka, mana bisa mereka meninggalkannya? Ya, kan? Baru kemudian mereka akan merasakan setiap manfaat dari kebiasaan itu.

Memang tidak mudah menerapkan kebiasaan yang diharapkan menjadi rule dalam keluarga. Selain protes dari anak-anak, orang lain pun kerap mencibir, memandang sebelah mata. Sok-sokan banget, mungkin begitu batin mereka. Tapi, ya biarlah, karena tidak semua hal perlu kita dengarkan. Menutup telinga dan memakai kacamata kuda, kadang kala perlu dilakukan. Apalagi jika ini menyangkut apa yang diyakini baik untuk masa depan. Anggap saja cibiran itu sebagai supporter yang terus menyemangati kita untuk bergerak. Akur? Akurin, deh. 

Untuk itu semua maka, yuklah! Saling menghormati dan menghargai apa-apa yang diterapkan dalam sebuah keluarga patut kita perhatikan. Biarkan keluarga lain berbeda, begitupun sebaliknya bebaskan keluarga kita berjalan dengan apa yang kita yakini baik. Toh , semuanya memiliki tujuan masing-masing.selebihnya asal tidak mengganggu kepentingan umum, biarkan setiap keluarga berkembang dengan aturan dan kebiasaan yang mereka sepakati.

Di postingan kedua nanti saya akan berbagi sedikit, peraturan dasar dalam keluarga kami  yang bisa dibilang masih newbie.Ya, sekedar berbagi saja, syukur-syukur jika nantinya bermanfaat. Hehehe ... Stay happy


-DNA-


#ODOP
#Day22
#bloggermuslimahindonesia

Don't Judge The Book by It's Cover

|


Tahun 2013 awal masuk Jakarta dan langsung bergelar stay at home mom. Sehari-hari saya banyak bergaul dengan Mbak-mbak komplek karena Najwa main barengan sama anak-anak majikan mereka. Awalnya sempat shock pas salah satu nenek dari teman si kecil mengira saya Mbak baru di komplek itu. “Mbaknya masih baru? Momong anaknya siapa?", begitu tanyanya pada saat itu. Saya cuma diam dan tersenyum, karena dia pun berlalu begitu saja yang menandakan pertanyaannya cuma basa-basi.

Pernah juga saya disangka Mbak yang momong anaknya suami. Duh … jadi ribetkan bahasanya. Intinya saya dikira Mbaknya anak saya. Malahan ada yang tanya pas ke sini sudah lulus SMA apa belum. What?? Segitu imutkah saya waktu itu? Hehehe … Malah narsis.

Jilbab TPA andalan

Acara sangka –menyangka sebagai Mbak ini terus berlanjut sampai Najwa masuk PAUD di kelurahan tetangga. Saya yang biasa berpenampilan minimalis, agak kaget juga pas lihat Mbak-mbak di sana dandannya cihui punya. Mulai jilbab aneka rupa, baju, celana trendi sampai lipstick merah menyala. Untungnya si Bunda PAUD nggak nyangkain saya Mbak juga. Waktu itu saya langsung memperkenalkan diri sebagai Ibu Najwa. Ya, satu-satunya pemilik panggilan Ibu di antara Mamah, Bunda dan Ummi pada saat itu. Panggilan Ibu ini juga yang akhirnya membuat Bunda PAUD lebih mudah mengingat saya.

Beberapa bulan berlalu, saya semakin santai dikira Mbak baru. Cuek ajalah, selama mereka nggak menghina atau mencederai harga diri saya. Lagian Mbak-mbak itu juga bukan sembarangan orang, kok. Mereka pinter-pinter momongnya, terlebih masaknya. Saya ngaku kalah. 

Tapi kalau dipikir-pikir nggak salah juga kalau orang-orang ngirain saya Mbak baru. Lha dari segi tampilan memang saya too minimize. Paling cuma atasan kaos atau blus polos, celana panjang kain sama jilbab model rabbani atau jilbab TPA (jilbab tali yang bagian mukanya ada renda). Kalau jauhlah sama Mbak-mbak yang sudah malang melintang di ibukota. Trend baju terbaru mereka buru. Setiap keluar model baru, mereka pun tak mau ketinggalan.

Sedangkan saya, dalam urusan fashion lebih suka model dan warna yang selalu up to date. Misalnya polos, atau bermotif minimalis. Modelnya pun itu-itu saja, dengan alasan yang membuat saya nyaman dan tidak terlalu mencolok secara penampilan. Jilbab jangan ditanya lagi, kalau bukan jilbab instan model rabbani atau TPA yang tadi saya sebut, pasti jilbab “taplak” segiempat dengan satu pin kecil di bawah dagu.

Kalau dilihat-lihat, saya memang kucel, wkwkwk ...


Kosmetik lebih kalah lagi. Saya sering nggak sempet atau lebih tepatnya malas bedakan apalagi lipstick-an. Yang penting udah pakai pelembab sama tabir surya. Memang saya pun nggak mengalokasikan waktu khusus untuk dandan. Pokoknya asal sabet aja skin  care dasar, oles-oles trus tancap gas. Baru akhir-akhir ini setelah DuoNaj lebih mandiri saya mulai sedikit berias. Terutama saat di ajak jalan suami atau kondangan.

Urusan dipanggil Mbak itu belum seberapa dongkolnya dibanding saat harus ke rumah sakit karena dagu Najwa bocor. Saya yang saat itu panik, langsung saja ke salah satu RS Islam terdekat di rumah untuk mencari pertolongaan. Sudah bisa dipastikan saya nggak sempat berdandan dulu. Lha wong Najwa nangis terus dan darahnya udah kemana-mana, yang penting saya bawa dompet, HP sama ATM. 





Baju tetap gamis batik zaman hamil Najwa sama jilbab TPA yang saat itu sudah melekat di badan. Semakin mengenaskan karena saya pakai sandal jepit saja. Saya langsung naik angkot sambil terus memegangi dagu Najwa yang  berdarah. 

Sesampainya di rumah sakit saya langsung menuju IRD dengan harapan cepat mendapatkan pertolongan. Setelah anak dibaringkan dan dibersihkan lukanya, saya disuruh gendong lagi dan ngurus administrasi. Akhirnya saya pun mendaftar dan membuat kartu periksa untuk pasien.

Lama saya menunggu tapi nggak dipanggil-panggil lagi. Padahal pasien setelah saya langsung ditangani. Sedangkan dagu Najwa mulai berdarah lagi. Maka tangisannya pun mulai menjadi-jadi kembali. 

Saya pun langsung menuju ke ruang perawat, saya tanya kenapa anaknya saya nggak ditangani dulu tapi pasien lain. Dia bilang begini, “Maaf, Bu. Yang pakai SURAT MISKIN nunggu dulu, ya. Prosedurnya harus dilengkapi dulu.” Bisa kalian tebak bagaimana reaksi saya? Saya langsung marah. Saya bilang, “Dari mana bapak tahu saya pakai SURAT MISKIN? Bapak nggak tanya saya tadi, cuma suruh bikin kartu periksa saja, kok bisa-bisanya bilang saya pakai SURAT MISKIN?” Petugasnya pun gelagapan. Saya bilang lagi SAYA AKAN BAYAR CASH! Akhirnya dia minta maaf dan Najwa pun langsung dapat penanganan. 

Najwa pas dagunya bocor

MIRIS! Harus segitunyakah dengan rakyat miskin? Duh pengen nagis saya kalau inget kejadian itu. Lha apa iya saya harus dandan cantik pakai perhiasan dulu sebelum ke rumah sakit? (padahal emang nggak punya perhiasan, wkwkwkwk …) Ya, sudahlah. Anggap saja ini pembelajaran. Dan saya berjanji pada diri saya sendiri. Saya nggak ingin membatasi nilai diri dan kemampuan saya hanya karena tampilan luar. Pun saya nggak akan menilai orang lain dari tampilan luarnya. Saya berjanji tidak akan melakukan hal itu pada orang lain.

Sekarang pun, kalau lagi di mall atau di tempat makan yang agak keren dikit gitu (kerennya dikit aja, hehehe …). Pelayannya masih suka melihat dengan ogah-ogahan. Saya sama suami, ma, cuek aja. Yang penting transaksi bisa bayar. Lagian kalau kita lihat-lihat aja juga bukan karena nggak bisa bayar, kan? Mungkin saja nggak cocok atau kurang mahal, wkwkwkwk sombong banget BukNaj, boong yang ini. Saya, ma, belanja di pasar dah seneng orangnya.

Hal serupa kami ajarkan pada anak-anak. Nggak perlu khawatir dengan tampilan luar, bentuk muka atau warna kulit. Yang penting kita harus bersih, rapi dan tidak berbau, baik badan maupun pakaian. Bicara dan tingkah laku sopan, tapi bukan berarti pemalu. Dan yang sangat penting adalah tidak minder, karena penting untuk kami menanamkan kepercayaan diri pada anak di tengah ganasnya Jakarta. 


-DNA-


#ODOP
#day15
#bloggermuslimahindonesia


Pernikahan dan Lika-Likunya setelah "Laku"

|


"So, it's not gonna be easy. It's going to be really hard. We're gonna have to work at this everyday, but I want to do that because I want all of you, forever,everyday. You and me ... everyday." - Nicholas Spark

Gambar: Pixabay

Ada yang bilang, menikah nggak seindah masa-masa pendekatan. Ya, bisa jadi sih. Karena pada masa pendekatan itu kita masih bertahan dengan kehidupan masing-masing. Yang pastinya punya cara, kebiasaan, visi dan egoisme masing-masing juga. Goal-nya pun pasti target masing-masing.


Kemudian pernikahan menyatukan segala perbedaan itu dalam sebuah kapal untuk kemudian berlayar mengarungi bahtera kehidupan. Ciee .. sok banget bahasanya. Dan pada akhirnya, hanya satu nahkodalah yang akan mengambil alih kendali. Untuk memimpin hingga ke ujung perjalanan. Awak kapal harusnya nggak perlu merasa tersingkir. Karena beberapa keputusan harusnya telah dipertimbangkan bersama. Tapi tetap ya, final decision-nya ada di sang nahkoda.


Sampai pada situasi ini, biasanya egoisme dan visi pribadi mulai bermunculan kembali. Seperti minta “diberikan tempat”. Belum lagi kebiasaan yang berbeda, cara menyikapi permasalahan, cara hidup dan bersikap. Dan masih banyak lagi hal yang menyebabkan pernikahan harus menghadapi jalan yang berliku. 


Itu baru dari faktor “dalam”, dari “luar” pun tak kalah ganasnya. Realita kehidupan ini ternyata terlalu keras, jika menikah hanya bermodalkan cinta, tanpa kesatuan visi dan misi untuk menjalaninya. Manalah mampu menghadapi terjalnya perjalanan.


Saya sering berpikir, ternyata menikah itu butuh strategi juga. Strategi menghadapi desakan ekonomi, itu realita yang hampir pasti dihadapi. Hingga akhirnya pasangan suami istri menjadi lebih mengerti bagaimana caranya survive . Tapi, strategi menghadapi pasangan itu tak kalah penting. Karena mau tak mau, dengan suami atau istri inilah akhirnya kita menghabiskan hari, kemudian  membuat kita jatuh cinta setiap hari, lagi dan lagi.


Dalam hal pernikahan, saya masih banyak “meraba” saat menjalaninya. Menjelang usianya yang ketujuh, ternyata kami berdua masih sangat menikmati “ilmu kebatinan”, hehehe ...  Bukan dukun saja yang suka ilmu ini, kami berdua juga masih suka mempraktikkannya. Masih ada banyak hal yang terlewat kami komunikasikan secara verbal. Yang pada akhirnya, kami terbiasa mengamatinya melalui gerak-gerik satu sama lain. Meskipun kami tahu kebiasaan ini rawan menimbulkan salah paham.


Pernah suatu ketika kami membahas tentang sebuah kebiasaan yang akan ditularkan pada anak-anak. Nah, di situ mulai muncul perasaan tidak suka pada kebiasaan satu dan yang lainnya. Oo … ternyata. Coba ngomong dari awal, pasti ada dua kemungkinan. Antara nggak jadi nikah, atau tetep nikah dengan pengetahuan yang lebih banyak tentang pasangan. Ya, kan. Ya, Kan? Hehe...


Memang pada akhirnya, segala perbedaan itu semakin kentara setelah hadirnya anak. Dan benar bahwa anak adalah cerminan orang tuanya. Karena mau tak mau mereka akan meniru segala kebiasaan kita. Baik dari sisi suami maupun istri. Bersyukur kalau yang ditiru yang baik-baik. Kalau yang jelek? Ya, berarti tugas rumah sudah menanti.

Menikah dan menjadi orangtua memang semakin menambah lika-liku kehidupan. Mengapa? Karena semua orangtua pasti memiliki obsesi pada anak-anaknya. Ingin menularkan segala kebiasaan, kesenangan, impian dan cara masing-masing dalam memandang kehidupan. 


Sampai pada tahap ini, komunikasi menjadi semakin vital karena kompleksitas dalam berumah tangga kian tinggi. Tidak hanya melibatkan dua kepala lagi,  tapi 3, 4 atau bahkan 5. Dan seperti halnya orang tua yang memiliki keberagaman tujuan dan karakteristik yang mengakar. Begitu pun halnya dengan anak-anak.


Pada sebuah obrolan ringan, suami  pernah menyampaikan alasannya,mengapa selama ini cenderung tidak mengomentari kebiasaan-kebiasaan saya. Alasan mengenai segala perbedaan yang sudah dibawa sejak lahir, visi serta pengalaman hidup yang berbeda. Membuatnya tak mau terlalu banyak memberi aturan.


Untuk pakem tertentu dalam berumah tangga, kewajiban suami istri, pengasuhan anak tentu saja banyak hal kami sepakati. Namun dalam area yang terlalu pribadi, tentu saja kedua belah pihak tidak bisa masuk terlalu dalam. Karena pada dasarnya setiap pribadi tetap memiliki “area pribadi” yang tak ingin disentuh atau bahkan diubah oleh siapapun orangnya.


Pemahaman dan penerimaan atas “area pribadi” ini memang tidak semudah yang dibayangkan. Karena sangat sensitif dan subyektifitasnya tinggi. Biasanya hal-hal yang ada dalam area pribadi ini sudah mengakar kuat dalam diri seseorang. Tapi bukan tidak mungkin untuk mendapatkan sentuhan baru. Hanya saja diperlukan cara-cara yang tidak memaksa, sehingga lebih mudah dalam menjalaninya.

Sampai di sini tugas rumah datang lagi, "memberi sentuhan baru, tapi bukan memaksa", noted.

Semakin lama usia pernikahan, apakah jalan yang dilalui semakin lurus tanpa liku? Tentu tidak, karena tantangan baru selalu menunggu di setiap rentang waktu. Setelah masalah komunikasi dan ekonomi dapat dilalui. Maka masalah pengasuhanlah yang lumayan menguras energi. Mengapa? Karena rentang waktunya sangat lama. 

Selama kita hidup bersama anak-anak, hingga akhirnya kita tua dan mati. Maka saat itulah tugas sebagai orangtua baru berhenti.” Begitu nasihat suami pada suatu kesempatan diskusi.


Kemudian saya menerawang kembali, sudah ratusan kali mengeluh dalam hati dengan segala kelelahan ini. Lah, ternyata masih panjang lika-liku yang harus dilalui. Bukan 5 atau 10 tahun lagi. Tapi bisa jadi belasan atau puluhan tahun lagi. Menjaga energi dalam hati menjadi sama pentingnya dengan memastikan kondisi fisik tetap mumpuni.


Meskipun setiap orang menginginkan jalan yang lurus untuk dilalui. Tapi kenyataannya tak ada jalan yang lebih asyik selain yang berliku ini. Adanya belokan memaksa kita untuk sesekali berhenti. Beristirahat, me-recharge energi untuk kemudian memetik hikmah dan mulai berjalan kembali. Lika-liku ini juga membuat kita lebih berhati-hati, agar tak lepas kendali sehingga keluar dari jalur yang telah dibatasi.


Sekarang, saya suka tertawa sendiri. Ternyata, setelah “laku” (menikah) itu banyak sekali lika-likunya. Ya … Dinikmati saja. Sambil berharap dan berusaha hasil akhirnya senikmat perjalanan ini. Toh, kita pasti dengan senang hati melewati setiap lika-liku ini. Karena kita telah memilih, dan pernikahan itu menurut saya adalah sebuah pilihan. 

Have a great journey in your life. Enjoy it!




Custom Post Signature

Custom Post Signature