Parenting Story, Mom's Life, Tips

Showing posts with label #CeritaNajwa. Show all posts
Showing posts with label #CeritaNajwa. Show all posts

Piknik Ala DuoNaj #4 - Edutrip ke Dunia Air Tawar dan Dunia Serangga di TMII

|
TMII Jakarta

Sepertinya DuoNaj tak pernah bosan diajak berkunjung ke Taman Mini. Minggu lalu, tepatnya pada tanggal 7 Oktober,  kami sekeluarga kembali melakukan edutrip ke sana. Padahal, kalau tidak salah kami pada tahun 2017 ini kami sudah lima kali mengunjungi tempat wisata kebanggaan Jakarta ini. Entah untuk acara reuni atau piknik yang memang sudah direncanakan, atau secara tidak sengaja mampir setelah dari acara yang lain. Taman Mini biasanya menjadi tempat persinggahan ketika kami harus kelayapan di daerah timur Jakarta.

Kali ini pun sebenarnya kami tak benar-benar merencanakan untuk pergi ke sana. Awalnya suami hanya bercanda dengan ajakannya. Sedangkan saya  sendiri sebenarnya memilih di rumah saja karena pada keesokannya Najwa akan menjalani UTS di sekolah.  Tapi yang namanya DuoNaj memang doyan pikniknya nggak ketulungan. Sekali ayahnya menawarkan satu tempat, tanpa pikir panjang mereka langsung mengiyakan.

Baca juga: Piknik Ala DuoNaj #1 - Nonton Air Force Show

Dunia Air Tawar dan Dunia Serangga yang menjadi destinasi edutrip kali ini. Sebenarnya lagi, saya dan anak-anak juga sudah pernah sekali berkunjung ke sana. Tapi saat itu memang kami hanya bertiga saja. Sehingga kepergian kali ini murni karena menuruti keinginan suami.

TMII Jakarta


Menjelang tengah hari sampailah kami di Taman Mini. Cuaca hari itu lumayan terik, sehingga kami rehat sebentar untuk sekedar mendinginkan kepala dan wajah setelah menerjang jalanan Jakarta yang macet dan panas. Sengaja kami memilih beristirahat di pelataran Museum Tugu Api yang udaranya lebih sejuk karena banyak pohon-pohon besar yang berjejer di sekitarnya.


DUNIA AIR TAWAR

TMII Jakarta


Kami berempat bergegas menuju Dunia Air Tawar karena pengunjung Taman Mini semakin padat. Menjelang jam makan siang, umumnya mereka mencari tempat-tempat yang rindang, seperti di lapangan Tugu Api ini untuk menggelar tikar dan menikmati bekal dari rumah. Maka dari itu, setelah membereskan barang-barang, kami pun segera merapikan tikar sewaan dan meninggalkan tempat tersebut untuk dipakai keluarga lain yang sudah siap dengan pesta kecilnya.

Baca juga: Piknik Ala DuoNaj #2 - Outing Class

Dunia Air Tawar menjadi tujuan pertama sebelum ke Dunia Serangga. Lokasi keduanya sebenarnya hanya bersebelahan, tapi untuk masuk ke Dunia Serangga, pengunjung diharuskan membeli tiket masuk yang berlokasi di loket pembelian tiket Dunia Air Tawar. Harga tiketnya Rp. 25.000,- per orang baik anak-anak maupun dewasa. Oh ya, usia 3 tahun sudah harus membeli tiket orang dewasa.

TMII Jakarta

Harga ini lumayan mahal jika dibandingkan dengan museum lain yang ada di Taman Mini. Tapi jangan khawatir, tiket masuk ke Dunia Air Tawar sudah termasuk gratis ke Dunia Serangga. Jadi pengunjung tak perlu membeli tiket yang berbeda.

Dunia Air Tawar adalah museum atau wahana rekreasi yang berupa keanekaragaman hayati dari perairan air tawar Indonesia. Wahana yang diresmikan pada tanggal 20 April 1994 ini didominasi akuarium dalam berbagai ukuran, menyesuaikan dengan ukuran dan jenis dari masing-masing ikan yang menghuninya. Menurut keterangan, simulasi dan replika ini sudah dipersiapkan sejak tahun 1992. Sampai pada akhirnya dinyatakan siap untuk menjadi wahana rekreasi, kemudian diresmikan dan dibuka untuk umum 2 tahun berikutnya.

TMII Jakarta

Lokasinya bersebelahan dengan Dunia Serangga dan satu arah dengan keong Mas. Konon, katanya taman biota air tawar ini termasuk salah satu yang terlengkap di dunia dan terbesar di Asia. Sehingga koleksinya sangat banyak, beragam dan disertai berbagai penjelasan di setiap sudut akuariumnya. Hal ini lumayan membantu orang tua untuk memberikan penjelasan secara langsung kepada anak. Tak melulu melihat dari satu akuarium ke akuarium lainnya, kami pun bisa berinteraksi dengan tanya jawab bersama anak.

Baca lagi : Piknik Ala DuoNaj #3: From Sky World to Bird Park

Salah satu koleksi yang sangat menarik minat anak adalah jenis Arapaima yang berukuran raksasa, Cat Fish, Blind Fish, Hiu Gergaji, Dolar Fish, Ikan Buta dan Piranha yang sangat terkenal dari Sunga Amazon, Amerika Serikat.

TMII Jakarta

TMII Jakarta

Selesai mengamati seluruh akuarium, kami pun menggenapkan edutrip ke Dunia Air Tawar dengan merasakan sensaisi bioskop 4 dimensi di sana. Pengunjung dikenakan biaya tambahan sebesar Rp. 15.000, - per orang untuk merasakan pengalaman bersentuhan langsung dengan dunia animasi ikan. Bagi orang tua, sensasi bioskop 4 dimensi ini mungkin biasa saja. Tapi bagi anak-anak seumuran DuoNaj, pengalaman ini sangat menyenangkan karena mereka merasa seperti diajak masuk dan bersentuhan langsung dengan dunia  bawah laut, meskipun hanya dalam bentuk animasi.

TMII Jakarta


TMII Jakarta
Film 4 Dimensi tentang kehidupan bawah laut


DUNIA SERANGGA DAN TAMAN KUPU-KUPU

Puas mengamati seluruh biota air tawar dalam puluhan akuarium dalam berbagai ukuran. Kami pun segera beralih ke museum lain yang ada di sebelahnya. Ya, edutrip pun berlanjut ke Dunia Serangga dan Taman Kupu-kupu. Dulu, dua wahana ini dikenal dengan sebutan Museum Serangga dan Taman Kupu-kupu. tapi sekarang sebutannya diubah menjadi Dunia Serangga dan taman Kupu-kupu. Sedangkan Museum Air Tawar dikenal dengan nama baru Dunia Air Tawar.


Dunia Serangga yang resmi berdiri pada tanggal 20 April 1993 merupakan sebuah wahana untuk memperkenalkan aneka ragam serangga. Baik asal usul habitatnya, cara hhidup dan beragam ciri khas baik bentuk maupun manfaatnya. 

Selama ini, bagi anak-anak pada umumnya seperti halnya DuoNaj, serangga hanyalah salah satu jenis hewan kecil. Dan mereka cenderung menghindari untuk berinteraksi langsung dengan makhluk jenis ini, alasannya kalau nggak geli ya takut digigit. Wajar, dong, karena anak-anak kan tahunya semut, nyamuk, atau lebah yang memang memiliki kecenderungan menggigit. Nah, membawa mereka ke tempat berlibur seperti ini bisa jadi satu cara yang tepat untuk mengenalkan jenis serangga yang lain, dan tentu saja manfaatnya bagi kehidupan ini.


Misalnya kupu-kupu yang membantu penyerbukan bunga, lebah yang menghasilkan madu dan beberapa jenis serangga lain yang memiliki peranan penting bagi ekosistem ini. yaitu sebagai Dekomposer.

Serangga sebagai Dekomposer

Seperti halnya anak-anak, sebagai orang tua saya pun baru mengenal istilah dekomposer ini ketika berkunjung ke Dunia Serangga. Dekomposer atau bisa juga disebut sebagai detritivor atau pemakan bangkai. Serangga berperan sebagai dekomposer karena mereka memakan organisme mati dan atau limbah dari organisme lain. Peranan dekomposer ini sangat membantu ekosistem mendapatkan kembali siklus nutrisi dari penguraian bangkai atau limbah-limbah tersebut.

Sistem kerja dekomposer ini dengan memakan atau menguraikan bahan organik untuk kemudian mengubahnya kembali menjadi abentuk anorganik mereka. Misalnya fosfat, amonium dan karbondioksida yang terkandung dalam bangkai atau limbah.


Pengetahuan seperti ini sebenarnya lebih menarik jika dipaparkan pada anak yang sudah lebih besar. Mungkin anak usia SD kelas 3 atau di atasnya  sudah lebih mudah memahaminya. Tapi, dengan penjelasan yang dipermudah, disertai contoh riil hasil kreasi orang tua. Bukan tidak mungkin untuk si pra sekolah dapat memahaminya. setuju, kan?

Menjelang ashar, kami pun mengakhiri acara edutrip kali ini dengan destinasi terakhir Anjungan Jakarta. Karena Najwa ada rencana mengikuti lomba Tari Ondel-ondel pada akhir bulan Oktober ini, maka kami sempatkan mampir sebentar untuk melihat situasi panggung sebagai bekal berlatih di sekolah.

Capek, panas, tapi tak sedikit pun terlihat sebal atau bosan di wajah anak-anak. Kami pun kembali menerjang kemacetan Jakarta dengan membawa segudang manfaat bagi seluruh anggota keluarga. Selain me-refresh semangat, acar jalan-jalan di akhir pekan adalah pilihan tepat untuk memaparkan anak pada pengalaman nyata berdasarkan aneka teori yang sering mereka dengar. Kegiatan seperti ini pastinya akan jadi pengalaman yang mengkristalkan untuk mereka. Benar, kan?















Emotional Conversation with Kiddos

|

Seperti biasa, saya bangun 3 jam lebih awal dari anak-anak. Setelah membuat draft untuk bahan postingan blog pada hari berikutnya, saya bergegas menuju dapur untuk membereskan gelas dan piring kotor bekas makan semalam. Melanjutkannya dengan membereskan rumah yang selalu berantakan karena anak-anak baru berhenti bermain saat jam tidur malam tiba.

Segera saya menuju lemari pendingin untuk mengecek stock sayur dan lauk untuk disajikan sebagai menu sarapan. Tapi kemudian saya baru teringat, Najwa dan Najib sudah pesan ingin makan telur rebus untuk sarapan pagi itu. Kebetulan sekali justru persediaan telur di rumah sedang habis. Maka sambil menunggu toko sembako di dekat rumah buka, saya melanjutkan dengan menyapu lantai dan membereskan cucian untuk dimasukkan ke keranjang setrikaan.

Tepat pukul 5 pagi, saya berangkat membeli telur ke toko yang berjarak 50 meter dari rumah. Dan 10 menit kemudian saya sudah berada di rumah kembali. Begitu masuk dapur, hal pertama yang saya lakukan adalah merebus telur untuk sarapan anak-anak. Sembari menunggu telur matang, saya pun merebus sayur, membuat sambal dan menggoreng ayam untuk menu sarapan yang lain.

15 menit berikutnya telur telah matang, dan tepat saat itu Najwa sudah bangun dan duduk di ruang tengah. Saya pun segera menyiapkan telur dan makanan lainnya di meja makan, mengoles roti dengan coklat sebagai pengisi kotak bekal, mengisi botol air dan menyiapkan seragam Najwa untuk hari itu.

"Kak, sudah waktunya mandi. Ibuk sudah siapkan semuanya." Begitu saya berusaha mengingatkan Najwa untuk segera mandi.

"Sebentar, Buk. Sebentar lagi," sahut Najwa masih di tempat duduknya.

Saya pun melirik jam dinding, memang masih pagi, sih. Masih cukup jika Najwa mau mengulur waktu sampai kurang lebih 15 menit lagi. Saya  beranjak menuju meja kecil di sebelah rak buku yang mulai berjejalan isinya. Sambil menunggu Najwa mandi, saya berpikir masih punya waktu untuk meng-edit draft yang sudah setengah jadi.

Jari-jari saya mulai menyentuh kotak-kotak kecil di atas external keyboard yang tersambung pada laptop. Melanjutkan beberapa kalimat penutup sebelum nantinya meng-edit naskah secara keseluruhan. saat itu juga tiba-tiba mulut Najwa mengajukan satu pertanyaan pada saya.
"Buk, Ibuk tuh sampai kapan, sih, nulis-nulis kayak gitu?"

"Ya, sampai seterusnya, Kak. Karena Ibuk sudah berniat untuk bekerja dengan cara menulis seperti ini."

"Masak setiap hari Ibuk nulis, emang berapa banyak buku yang mau dibuat? Masak mau buat buku terus?"

"Ibuk menulis bukan untuk membuat buku saja, tapi Ibuk juga menulis di blog. Kakak ingat, kan, cerita-cerita yang kapan hari Ibuk bacakan dari laptop Ibuk? Yang ada fotonya Najwa, Ayah, juga Adik?"

"Iya, tapi sampai kapan Ibuk mau seperti itu? Coba Ibuk kerjanya pergi ke kantor saja. Jadi kalau pagi Ibuk berangkat kayak Budhe atau Umminya Dinda. Setelah pulang, sampai di rumah sudah nggak kerja lagi. Kita cuma bermain." 

Saya mulai paham arah pembicaraan Najwa. Pasti dia mau saya main terus sama mereka. Karena sebelumnya Najwa sudah menyampaikan keinginannya itu. Pokoknya kalau anak-anak main, ibuk juga harus main. Nggak boleh masak, nggak boleh nyapu apalagi ngetik. Saya pun bernafas dalam-dalam, mencoba tidak terpancing emosi di pagi hari.

"Ibuk nggak punya kantor, Kak. Jadi semuanya dikerjakan dari rumah. Kalau Ibuk kerja di kantor, kakak mau ditinggal Ibuk sampai sore atau malam?"

"Iya, nggak pa pa."

"Terus, Kakak sama siapa di rumah? Kita kan nggak punya, Mbak? akak mau dititipkan di penitipan?"

"Iya, mau. Di sana aku bisa main sepuasnya, kan?"

"Nggak juga, kalau waktunya main ya main, makan harus makan, tidur siang ya harus tidur. Nggak seperti yang Kakak bayangkan. Lagian Ibuk belum nemu tempat penitipan untuk anak sebesar Kakak."

" Yawdah, kita cari Mbak saja."

"Bilang Ayah dulu, kalau yang itu. Eh, tapi, kalau Ibuk kerja di kantor pun, di rumah Ibuk tetap menulis seperti ini. Karena Ibuk sudah terlanjur suka.  Di Kantor kan nggak boleh semaunya sendiri , Kak. Harus bekerja sesuai perintah bosnya. Trus gimana, dong?"

"Aku tuh maunya Ibuk cuma nemenin main aku sama adik, jadi kalau kerja jangan di rumah. Atau pas aku tidur saja."

Ahh, kepala saya rasanya mulai berat. Emosi mulai terpancing, mulut sudah pengen teriak. Tapi masih saya tahan, meskipun cara berbicara mulai terdengar emosional.


"Ibuk tuh tugasnya banyak, Kak. Memang seharusnya Ibuk selalu menemani kalian main, tapi Ibuk harus masak, belanja, menyiapkan bekal kakak, mencuci, menyapu lantai, mengepel, mengantar kakak sekolah, menemani kakak belajar di rumah, mengantar exkul. Belum juga kalau Dek Najib minta main keluar, Ibuk harus menemani juga. Jadi nggak bisa kalau Ibuk harus menemani Kakak main terus. Ada waktunya kita main bareng, ada saatnya juga Kakak harus menemani Adik bermain, sedangkan Ibuk beres-beres rumah, dan kalau masih sempat Ibuk minta waktu menulis sebentar saja."

Nampaknya Najwa nggak mau menerima penjelasan saya. Dia pun mencari cara lain.

"Ya sudah, Ibuk nulisnya malam saja, pas aku, Adik, Ayah sudah tidur semua."

"Biasanya juga gitu, Kak. Kalau badan Ibuk lagi nggak capek.  Sekarang Ibuk nggak kuat tidur malam-malam. Badan Ibuk udah capek, pagi pun Ibuk bangun masih sangat pagi. Kalian aja kalau main sampai malam-malam, Ibuk belum bisa istirahat sebelum kalian tidur."

Najwa diam, lalu saya menambahkan lagi.

"Menurut Kakak, Ibuk harus gimana?"

"Ya sudah, Ibuk boleh menulis, boleh kerjain apa aja di rumah. Tapi kalau aku ngajak main, Ibuk harus main sama aku."

Begitu jawabnya sambil meninggalkan saya menuju kamar mandi. Saya diam, tidak mengiyakan atau menolak permintaannya. Karena saya tahu betul bagaimana sifat Najwa. Dia sangat suka berdebat dengan saya,  kemudian kesal dan menangis kalau kemauannya nggak diikuti. Meskipun ujung-ujungnya baikan lagi.
  

Sepanjang hari saya memikirkan obrolan bersama Najwa tersebut. Menyesal kenapa saya jadi ikut-ikutan ngeyel sama anak-anak. Sempat sedih, goyah, bingung harus bagaimana. Tapi saya belum ingin membahasnya kembali. Saya butuh waktu untuk mengatur emosi. Saya benar-benar tidak menyangka, tiba-tiba saja Najwa tidak mendukung saya sama sekali. Padahal saya yakin betul dialah motivasi saya untuk terus berkarya.

Ya, sudahlah. Nampaknya weekend kali ini saya akan lebih banyak bersantai. Me-refresh semangat, hati, merekonsiliasi hubungan dengan anak-anak, terutama Najwa. Membuat kesepakatan baru dengan mereka dan tentu saja menyusun rencanayang lebih baik.

Wish me luck!


Tulisan ini diikutsertakan tantangan One Day One Post Oktober 2017 Blogger Muslimah Indonesia
#ODOPOKT9





Menjelaskan Makna Hari Raya Kurban pada Anak

|


pixabay.com
Pixabay.com

“Buk, mengapa kalau hari raya Iduladha itu banyak binatang yang disembelih?.” Begitu tanya Najwa kemarin.

“Karena, pada hari raya Iduladha, umat muslim seperti kita diperintahkan Allah untuk berkurban,” jawab saya padanya.

“Ohh, kalau nggak punya duit buat beli kambing atau sapi, gimana, dong?,” tanyanya lagi.

“Ya, nggak pa pa, karena perintah ini wajib bagi yang mampu berkurban. Yang punya uang untuk membeli hewan kurban. Atau memiliki kambing peliharaan sendiri, yang diikhlaskan untuk berkurban.”

“Ooo … Berarti kalau nggak punya duit nggak pa pa, ya, nggak kurban?”

“Iya, tapi kalau betul-betul nggak punya uang, loh. Bukan karena uangnya dipakai untuk berfoya-foya atau beli-beli yang nggak penting. Jadi harus diutamakan dulu mana yang penting mana yang enggak. Biar uangnya bisa buat berkurban. “ 

Pertanyaan Najwa bakalan semakin banyak, BukNaj harus siapkan kuda-kuda. Ya, kalau bisa jawab, kalau nggak? Harus cari alasan yang masuk akal. Hehehe …

“Trus kenapa kurbannya cuma setahun sekali? Pas Idul Adha aja.?."

Nah,ini  saatnya ibuk mendongeng. Sini-sini, yang mau dengerin boleh bergabung juga. Hehehe.

Menjelaskan masalah agama bisa jadi tugas terberat bagi saya sebagai orang tua. Alasannya cuma satu, karena saya belum pandai dan  masih belajar. Sayangnya waktu nggak bisa ditunda lagi. Karena saat rasa ingin tahu anak muncul, saat itu sebenarnya adalah kesempatan yang tepat untuk memberikan pemahaman-pemahaman ringan pada mereka.

Seperti mengenai Iduladha, Najwa selalu excited menyambutnya. Alasannya pun simple saja, karena banyak sapi dan kambing di sekitar rumah.  Pemandangan seperti ini memang langka buat kami yang tinggal di kota. Jarang ketemu si embek kecuali rajin nonton Animal Planet atau berkunjung ke kebun binatang.


Entah karena memang rasa ingin tahunya yang terus bertambah? Atau karena mendapatkan penjelasan di sekolah perihal hari raya kurban? Yang jelas, pertanyaan mengenai Iduladha semakin lancar meluncur dari mulut kecilnya. Dan itu pertanda ibu harus semakin rajin membaca.

Menjelaskan makna ibadah dalam hari-hari besar keagamaan bisa jadi mudah jika kita berbicara kepada anak-anak yang lebih besar. Tapi sedikit menantang, karena harus memberikan pemahaman ini kepada anak 1 SD, yang belum juga genap 7 tahun dan memiliki daya imajinasi yang lumayan ajaib. Penjelasan yang diberikan harus sederhana, kalau tidak siap menjawab, orang tua jadi sangat kelihatan bodoh di depannya. *tutupmuka. Akhirnya, saya pun memulai dengan  makna berkurban.  

Makna berkurban

www.pixabay.com
Pixabay.com


Sebelumnya saya bertanya pada Najwa, apa keistimewaan Iduladha? Najwa bilang, Iduladha itu menyenangkan karena libur, banyak kambing dan sapi, lalu banyak orang makan enak pakai lauk daging kurban yang dibagi-bagi.

Saya pun mengiyakan pendapatnya. Karena benar, Iduladha itu memang sangat menyenangkan, banyak daging dibagi-bagikan dan ini menjadi kesempatan yang tepat untuk memberikan pengalaman nyata pada anak tentang semangat berbagi.

Namun kemudian saya tambahkan sedikit informasi padanya. Bahwa sebenarnya Iduladha atau hari raya kurban merupakan wujud ketaatan dan kepasrahan kita pada perintah Allah, seperti yang telah dicontohkan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. 

Dulu, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk mengurbankan putranya, yaitu Nabi Ismail. Karena rasa cinta dan ketaatan yang besar kepada Tuhan, Nabi Ibrahim pun menjalankan apa yang diperintahkan-Nya. Begitu pun halnya dengan Nabi Ismail yang dengan ikhlas dan pasrah bersedia menjadi kurban. Karena ketaatan, kepasrahan dan keikhlasan keduanya, maka Allah mengganti Nabi Ismail dengan domba untuk dikurbankan. Teladan inilah yang kemudian terus dilakukan umat Islam pada hari raya Iduladha.

Ketaatan, keikhlasan dan kecintaan pada Allah inilah yang sebisa mungkin ditekankan pada anak. Tentu saja dengan bahasa yang sederhana. Dan, jika perlu tambahkan contoh-contoh perilaku yang dapat mewakili keteladanan nabi dalam kehidupan sehari-hari.


www.academicindonesia.com

Bagaimana agar bisa berkurban?

Anak perlu tahu, bagaimana agar umat muslim bisa menunaikan ibadah kurban. Salah satunya harus mampu. Saya berkali-kali menekankan pada Najwa, bahwa “mampu” tidak selalu “kaya raya”. Karena banyak juga orang-orang yang kesehariannya terlihat biasa saja, tapi mereka rutin berkurban setiap tahunnya.

Intinya adalah niat dan usaha untuk berkurban. Salah satu caranya dengan berhemat, sehingga uang yang biasanya digunakan untuk membeli barang-barang yang tidak terlalu penting bisa ditabung untuk membeli hewan kurban. Selain itu, bekerja keras untuk mendapatkan rezeki yang halal. 

Anak-anak harus ditunjukkan pada kenyataan, bahwa  hewan kurban tidak bisa datang begitu saja. Perlu usaha dan kerja keras untuk meraih rezeki sehingga bisa membeli hewan kurban. Selebihnya, harus cermat mengatur keuangan sehingga niat berkurban semakin lancar.

Apakah kita boleh berkurban dengan ayam?

www.pixabay.com
pixabay.com


Nah, kan, mulai muncul pertanyaan ajaibnya.  Saya pun menjelaskan bahwa hewan yang  disyariatkan atau dibolehkan untuk berkurban adalah hewan ternak. Seperti sapi, domba, kambing, unta dan jenis-jenisnya. Jadi, tidak benar jika kita berkurban dengan ikan atau ayam. Untuk menguatkan penjelasan ini, saya pun mengajak Najwa membaca QS Al. Hajj : 34.

Di samping semua penjelasan itu, penting rasanya untuk menanamkan pada anak-anak tentang semangat berbagi daging kurban. Berikan pemahaman kepada mereka, perihal siapa saja yang dapat menerima daging kurban. Misalnya orang miskin dan kurang mampu, karena tidak setiap hari mereka bisa membeli daging untuk lauk. Jangan lupa informasikan juga bahwa orang yang berkurban dan panitia kurban juga boleh menerima daging kurban.

Setelah menerima beberapa penjelasan di atas, anak saya sebenarnya masih bertanya beberapa hal. Seperti, apakah sapi yang disembelih menangis dan kesakitan? Apakah orang tua sapi sedih? Kalau dilanjutkan pertanyaannya semakin ajaib dan saya pun kelihatan semakin konyol dengan jawaban-jawaban saya yang juga ikut ajaib, kikiki.

Setidaknya, sebagai orang tua kita harus siap melayani rasa ingin tahu anak. Karena dari momen seperti itulah kedekatan dan kepercayaan mereka semakin terjalin kuat. Hikmahnya pun kita jadi berusaha lebih banyak belajar, biar nggak terlalu malu-maluin di depan anak.

Saya yakin teman-teman juga pernah menghadapi pertanyaan serupa. Entah dari anak, keponakan atau murid-muridnya. Usahakan selalu menjelaskan dengan bahasa sederhana dan tidak terlalu njelimet. Berikan mereka pemahaman yang membekas di hati dan ingatannya, sehingga makna berkurban bisa dipahami dengan mudah. 


Selain itu usahakan untuk mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari. Sehingga nilai-nilai ketaatan, keikhlasan dan semangat berbagi tidak hanya terjadi saat Iduladha tiba, tapi berlaku dalam kehidupan sehari-hari.

Selamat Hari raya Idul Adha, semoga kita senantiasa menjadi insan yang taat.



-DNA-



#ODOP
#Day30
#bloggermuslimahindonesia


Pameran Lukisan Istana Kepresidenan di Galeri Nasional - “Senandung Ibu Pertiwi”

|


Mengunjungi Galeri Nasional bisa dibilang “langka” bagi kami yang tidak terlalu berdarah seni. Tapi event kali ini terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja. Kapan lagi bisa nonton koleksi lukisan Istana Kepresidenan? Mumpung sedang ada pamerannya, kami pun mengajak anak-anak ke sana.  Itung-itung refreshing, enaknya lagi gratis dan seperti biasa, selalu ada pengalaman yang ingin kami tinggalkan pada anak-anak. Dengan harapan salah satu pengalaman itu menjadi bekal bagi mereka menemukan passion-nya.



Kami pergi pada Sabtu pagi menjelang siang. Dari rumah yang berlokasi sangat strategis ( dekat stasiun KRL), kami pun naik kereta menuju Stasiun Gondangdia, kemudian disambung naik bajaj menuju Galeri Nasional yang terletak berseberangan dengan Stasiun Gambir. Berdesakan sebentar di dalam KRL bukanlah hal yang baru bagi kami, karena alat transportasi ini sudah menjadi andalan kami setiap mbolang mengitari Jakarta dan sekitarnya. Murah, nyaman dan cepat.





Sesampainya di Galeri Nasional, kami menuju ke Galnas Cafe untuk sarapan yang sedikit terlambat. Kami pikir, pengunjung bisa masuk kapan saja. Tapi ternyata kami salah. Sebelum registrasi, pengunjung harus mengambil nomor antrian registrasi dulu. Jadilah kami yang sarapan dulu sampai sekitar pukul 11.30, harus mendapatkan nomor antrian 157. Walah,tahu gitu antri dulu baru makan. Pelajaran berharga: tanya dulu baru urus itu perut, hehehe …




Panitia menyediakan ruang menunggu yang lumayan nyaman. Bersih, dingin dan luas dengan beberapa kursi di bagian pinggir-pinggir ruangan. Tapi dasar momong bocah, kami pun lebih nyaman lesehan di bawah. Satu jam menunggu jadi tak terasa bersama tingkah polah bocil yang tak pernah habis energinya. Nah, kesempatan ini pun kami gunakan untuk menjelaskan pada Najwa mengenai pameran seperti apa yang akan kami tonton. Buat Najwa, satu point yang paling jelas. “Jadi, kita mau nonton lukisan yang dipasang di rumah Pak Jokowi, kan?” Hehehe … Pak Jokowi memang sangat melekat di ingatan anak-anak.



Tiba giliran kami dipanggil ke ruang registrasi. Setelah mendapatkan ID card, menitipkan tas, jaket, topi dan kamera. Maka kami pun segera melakukan tour di dalam hall utama Galeri Nasional. 


Pameran kali ini menampilkan 48 lukisan dari 41 pelukis yang membuat karyanya pada abad 19 hingga abad 20. Selain itu, pengunjung juga dimanjakan dengan dokumentasi yang terkait materi pameran dan upaya pemerintah melakukan pemeliharaan terhadap koleksi istana. Ada juga satu karya yang ditampilkan melalui LED di bagian paling depan setelah pengunjung memasuki hall untuk security check. Lukisan ini karya Makovsky, salah satu yang dikonservasi pada tahun 2004.




48 lukisan koleksi Istana Kepresidenan ini masih dibagi menjadi beberapa sub tema, yaitu Dari yaitu keragaman alam (12 lukisan), dinamika keseharian (11 lukisan), Tradisi dan Identitas (15 lukisan). Beberapa lukisan karya pelukis Basoeki Abdullah memang spaling mencuri perhatian. Sedikit berbau mistis, tapi terlihat begitu “hidup”.









Selain pameran lukisan, Galeri Nasional mengagendakan sejumlah kegiatan, yaitu workshop melukis bersama Komunitas Difabel, pada 10 Agustus 2017. Diskusi pakar dengan topik Menjaga Ibu Pertiwi, pada 19 Agustus 2017. Kemudian  ada juga lomba lukis kolektif tingkat nasional, pada 26 Agustus 2017. Dan ditutup dengan workshop menjadi apresiator se-Jabodetabek pada 29 Agustus 2017. Semuanya masih dalam satu kesatuan acara Pameran Lukisan Koleksi istana Kepresidenan, “Senandung Ibu Pertiwi”, yang akan digelar hingga tanggal 30 Agustus 2017 nanti.


Buat kami sekeluarga acara ini sangat edukatif. Meskipun tak mampu lebih dalam menjamah nilai artistik dari karya seni yang ditampilan. Tapi kami dapat menjelaskan beberapa hal terkait tema-tema yang ada dalam lukisan. Pun, Najwa jadi tahu, bahwa pelukis atau seniman lukis merupakan salah satu profesi. Yang pastinya hanya bisa dikerjakan jika kita memiliki passion yang tinggi, di samping bakat yang mendukungnya.


Setelah lebih dari satu jam mengelilingi Koleksi Lukisan Istana Kepresidenan, kami pun beranjak keluar. Selanjutnya kami pun menghabiskan waktu menunggu sore tiba dengan mengunjungi Pameran Seni Tunggal “Budi Ubrux” di Gedung B, ber-swa foto di beberapa spot instagramable, sholat Dzuhur baru kemudian kembali menuju Stasiun Gondangdia.








Oh ya, jika Temans berniat datang ke acara serupa, masih ada waktu, loh. Nah, biar nggak kelamaan antri coba deh registrasi by online. Temans bisa klik di sini. Yuk, kapan lagi bisa melihat koleksi lukisan di Istana Kepresidenan.




 -DNA- 


#ODOP
#day12
#bloggermuslimahindonesia




Custom Post Signature

Custom Post Signature