Parenting, Family Traveling, Woman Story

Piknik Ala DuoNaj #2 - Outing Class di Kebun Wisata Pasirmukti

|
Halo,Temans! Sudah hampir 2 minggu sejak postingan Piknik Ala DuoNaj #1. Sekarang saatnya BukNaj lanjut lagi dengan #2. Nah, kali ini BukNaj ingin berbagi cerita tentang outing class di sekolah Najwa, yang dilakukan sekitar pertengahan bulan ini. Tepatnya tanggal 12 April 2017, pas hari Rabu menjelang long weekend peringatan Paskah yang lalu.


Tahun lalu, saat Najwa masih duduk di bangku kelas A, Sekolah Al Faizin juga melakukan rihlah serupa. Tapi pada waktu itu acaranya rekreasi ke Taman Safari Bogor. Kali ini, sekolah mengambil konsep yang berbeda, maka outbond menjadi pilihannya.


Pagi-pagi, sekitar pukul 07.00, BukNaj bersama duo mautnya, yaitu Najwa dan Najib, plus Mbah Uti Mama yang kebetulan lagi holiday di Jakarta. Berangkat menuju tempat berkumpul yang sudah ditentukan pihak sekolah. Kami pun tidak terlalu tergesa, karena sudah sejak pagi mempersiapkan perlengkapan yang butuh untuk dibawa.


Sesampainya di tempat berkumpul, saya langsung absen dan mengambil jatah goodie bag. Sedangkan DuoNaj dan Utinya hanya menunggu di dekat bis 2, di mana kami mendapatkan jatah tempat duduk untuk berempat.


Si Najib yang memang kepengen banget naik bis, sudah tak sabar untuk segera masuk dan menuju tempat duduknya. Sudah agak lama sejak Najib selalu bilang, “Naik bis Buk, naik, bis.” Begitu katanya tiap kali melihat gambar bis di buku atau di TV.


Tepat pukul 07.30, bis pun melaju menuju Kota Hujan. Oh ya, lokasi outbond kali ini di Kebun Wisata Pasirmukti, yang terletak di desa Pasirmukti, Citeurep, Bogor. 


Selama perjalanan, baik Najib, Najwa maupun anak-anak lainnya. Mereka sangat excited dengan suara klakson bis yang fenomenal itu. Berkali-kali mereka bilang, “Om tolelot, Om…”  Persis riuhnya suasana jalan raya setahun yang lalu,  saat kami dalam perjalanan mudik ke Magetan.

Satu Setengah jam Kemudian ...



 

Sekitar 1 jam 30 menit, kami sampai di lokasi yang dituju. Areanya sangat luas, hijau, tapi udaranya tidak terasa dingin, meskipun terletak di daerah Bogor dan dekat dengan pegunungan.


Anak-anak segera menuju tempat yang disediakan untuk beristirahat dan mendapatkan pengarahan dari pemandu outbond. Kami pun disambut dengan snack dan welcome drink yang berupa sirup markisa, yang buahnya diambil dari kebun buah di Pasirmukti. Sedangkan Teh Manis hangat disediakan bagi yang kurang suka minuman dingin.


Sekitar 30 menit beristirahat sambil mendengarkan pengarahan dari Kakak-kakak pemandu . Sebagian orang tua pun memanfaatkannya untuk membuka potluck untuk  sarapan kedua, pergi ke kamar mandi, atau sekedar berjalan keliling untuk melihat lokasinya seperti yang saya lakukan.


Awalnya saya agak khawatir, karena beberapa area sangat licin dan berlumpur. Bukan takut anak-anak kotor, tapi saya khawatir mereka terpeleset. Di area kamar mandi pun sama halnya, sangat licin dan berlumut di beberapa tempat. 



Kesenangan Pun, Dimulai 


Tepat pukul 09.30, kegiatan pun dimulai. Anak-anak dibagi menjadi 2 kelompok, putra dan putri. Karena Najib saya daftarkan untuk mengikuti seluruh kegiatan outbond. Maka Najwa dan Najib berada dalam dua kelompok yang berbeda. Saya sih, oke-oke saja. Sampai setelah permainan yang pertama, saya baru sadar harusnya bilang, “tidak”. Pengen tahu kan, kenapa harusnya saya bilang tidak? Saya lanjut dulu ceritanya.


Permainan pertama untuk kelompok putra adalah menghias topi  bambu atau biasa disebut "Capil" Anak-anak tentu saja senang, meskipun menggambar di Capil tak semudah yang mereka bayangkan. Hasilnya? Mayoritas dari mereka membuat lukisan abstrak tak beraturan. Khas anak-anak.


Begitu pun halnya dengan Najib, dia malah mencampur semua warna yang disediakan. Hahaha … Ya namanya juga bocil 2 tahunan. Saya biarkan saja agar dia berkreasi sesukanya.







Di tengah permainan, saya tinggalkan Najib sebentar untuk melihat Najwa. Saya naik tangga berbatu, melewati kolam ikan yang super licin, melewati taman dan menyeberang lewat jembatan batu. Dan saya capek super sesampainya di lokasi tempat permainan Najwa, yaitu menangkap ikan. Bahkan saya terlewat karena saking jauhnya, sehingga tak bisa mengambil gambar.



Dalam bayangan saya, lokasi antara satu permainan dan yang lainnya tidak sejauh ini. Sehingga saya bisa kesana dan kemari untuk mengambil gambar keduanya. OMG! Ternyata alamak jauhnya. Saya langsung kebayang betapa capeknya anak-anak nanti. Dan inilah yang menjadi alasan bagi saya, seharusnya saya bilang “tidak” saat DuoNaj dipisah dalam dua kelompok yang berbeda. Karena bisa bengkak kaki Emak.


Kegiatan terus berlanjut, dan lokasi keduanya selalu berjauhan. Saya sampai lelah, dan terbayang anak-anak pun sangat lelah. Area outbond Pasirmukti memang sangat luas, tapi saya tidak membayangkan mereka akan mengatur lokasi permainan terlalu berjauhan satu dan yang lainnya. Kalau anak-anak SMA sih mungkin oke-oke saja. Lah, kalau anak TK ya lumayan banget capeknya.


Oh ya, berikut ini kegiatan yang diikuti anak-anak:

1. MelukisC

2. Menangkap ikan

3. Menanam tanaman

4. Memberi makan bebek

5. Memetik sayur

6. Menyiram tanaman

7. Membajak sawah

8. Menanam padi

9. Memberi makan kelinci







Untuk usia anak-anak, permainan yang ditawarkan menurut saya terlalu banyak. Mengapa? Karena lokasinya yang terlalu berjauhan dan medan yang tidak mudah. Naik turun tangga berbatu dan curam, melewati tanah licin dan berlumpur, dan waktunya sudah terlalu siang. Sehingga panasnya sangat menyengat.


Beberapa permainan juga tidak memenuhi ekspektasi kami. Saya dan anak-anak maksudnya. Karena sebelum outbond, terlebih dulu saya membuka website Pasirmukti. Dan sepertinya, kami terlalu tinggi ber-ekspektasi.


Misalnya, saat memberi makan kelinci. Dalam bayangan kami, kelinci-kelinci itu dilepas dalam kandang besar sehingga anak-anak bisa melihat kelinci berlarian dalam jumlah banyak. Ternyata, kelinci hanya ditempatkan dalam kandang kecil dan berjumlah beberapa ekor saja. Itu pun banyak yang tidur sehingga tidak ada interaksi dengan pengunjung.


Kami juga membayangkan akan memberi susu anak kambing. Tapi ternyata kambing yang ada dilepas bebas dan jumlahnya hanya beberapa. Sehingga susah bagi anak-anak untuk memegangnya. 


Karena berkejaran dengan waktu, setiap permainan pun dilakukan dengan tergesa. Ya,karena untuk mencapai lokasi yang lainnya juga tidak sebentar. Dan setiap sampai di satu lokasi, anak-anak butuh istirahat untuk minum dan melemaskan otot-otot kaki. Menurut saya sih, anak hanya melakukan permainan, tapi kurang mendapatkan muatan pesan moral di dalamnya.


Overall, anak-anak senang meskipun ada beberapa permainan yang tidak semua anak mau melakukannya. Capek? Sudah pastilah. Tapi begitu masuk di permainan menanam padi, saya rasa semua rasa lelah itu hilang seketika. Karena memang sangat menyenangkan.


Oh ya, kebetulan TK Al Faizin mendapatkan jatah waktu menanam padi bersamaan dengan Sekolah Internasional Perancis. Sehingga area menanam sangat penuh dan ramai saat itu.

Bagi DuoNaj, khususnya Najib. Permainan membajak sawah merupakan favoritnya. Sedangkan Najwa, menanam padi yang paling disukainya.





Mari Pulang Marilah Pulang


Kami pun pulang ke Jakarta dengan sangat lelah, meskipun tak menyurutkan semangat anak-anak untuk terus bernyanyi selama perjalanan. Sedikit terlambat sampai di rumah, karena terjebak macet di daerah Jatinegara. Tapi, tepat pukul 17.30, kami pun kembali menginjakkan kaki di Rumah Matahari. Rumah tempat Najwa dan Najib membesarkan seluruh mimpi-mimpinya.


Nah, Temans! Apa cerita jalan-jalan kalian bulan ini? Sharing, Yuk. Buat tambahan referensi.




Buku, Ilmu dan Rekreasi Jiwa

|

Terlambat dua hari, tapi tetap mengikuti euforia peringatan World Book Day tahun ini. Setidaknya, saya merayakannya dengan cara saya sendiri. Memesan buku-buku indie secara online, dan pas banget 4 buku dalam satu paket bersampul coklat sampai di halaman rumah saya pada 23 April 2017. Hem ... Salah satu cara menghadiahi diri  di akhir bulan yang melelahkan.

Gambar : Pixabay

Buku telah menjadi teman di antara keseharian saya yang "terbatasi" dengan ruang gerak dan waktu. Buku-buku pula yang mengantarkan saya untuk berekreasi hati, jiwa, meskipun raga belum sampai secara nyata.

Buku tidak hanya jendela ilmu, namun pengantar peradaban baru dan pembuka tabir di antara perspektif yang kadang terbelenggu.



Dari buku kita berilmu. Setiap deretan kata yang tertulis dalam lembar-lembarnya, mengajarkan kita untuk bebas dan merdeka mengekspresikan rasa. Buku mampu menjadi kawan lama maupun baru yang tak pernah lelah membagi kesenangan-kesenangan kecil, meskipun waktu kerap kali memberinya tampilan baru. Usang ...


Sayangnya, di negeri yang akhir-akhir ini dipenuhi dengan drama politik. Keberadaan buku terlalu minim untuk mampu diakses di seluruh penjuru negeri. Jangankan gratis, di beberapa kota bahkan terlampau sulit untuk mendapatkan perpustakaan pemerintah yang dirawat dengan baik. Koleksi buku boleh jadi ada, tapi merawatnya? Tak semua tempat mau melakukannya dengan sepenuh rasa.



Jangankan mau ngomongin tentang koleksi, buku-buku "bagus" itu saya rasa masih tak mudah didapatkan di beberapa daerah. Kalau rezeki berlebih, maka pergi ke kota sebelah dan membelinya di salah satu toko buku terkenal  bisa menjadi solusi. Atau jika punya teman pengoleksi, bolehlah sesekali meminjamnya. Itung-itung berbagi ilmu.


Bersyukur teknologi informasi memungkinkan banyak hal terjadi. Salah satunya penerbit Indie yang memberikan peluang  bagi para penulis untuk menuangkan kemerdekaannya dalam berpendapat. Penerbit indie seolah menjadi jembatan bagi penulis yang urung mendapatkan kesempatan membukukan karya di penerbitan mayor. Untuk dapat bertegur sapa dalam karya dengan pembaca setianya.


Selanjutnya, toko buku online memiliki peran besar dalam mendistribusikan buku ke daerah-daerah tanpa akses toko buku offline berkualitas. Keberadaan toko buku online memungkinkan  penyebaran buku lebih merata. Dan semoga mampu memeratakan ilmu yang katanya milik para "penggila baca".


Tapi tetap saja, kita harus merogoh kocek untuk mendapatkannya. Saya masih tetap memimpikan membaca dengan gratis, nyaman sehingga betah berlama-lama. Beberapa perpustakaan digital memang dapat diakses oleh siapa saja. Tapi harus bermodalkan koneksi internet bukan? Saya memimpikan tempat dengan deretan rak buku tertata apik, rapi, bersih dan memanjakan kami para pembaca di dunia nyata.

Membentuk kecintaan akan buku dan aktivitas baca pun tak kalah menantang. Kebiasaan yang memang tak bisa datang dengan sendirinya. Tanpa upaya, jangan berharap bisa menjadikannya sebagai hobi atau kebutuhan.


Sebagai pasangan yang memiliki kegemaran sama. Saya dan suami tidak dengan mudah menularkan kesenangan ini pada anak-anak. Apalagi jika harus berebut perhatian dengan youtube. Kami hampir pusing dibuatnya.


Tapi seiring dengan berjalannya waktu. Bertambahnya usia anak menandai bertambah pula keteratrikan mereka dengan aneka jenis buku yang kami tawarkan sebagai salah satu “harta berharga” di rumah.


Menularkan minat pada anak-anak yang memang belum mampu menemukan manfaat dari aktivitas baca, tentu saja memerlukan ketelatenan dan teladan dari orang terdekatnya. Menciptakan lingkungan yang cinta buku dan gemar membaca juga.


Adalah Najwa yang kini telah mampu menunjukkan buku-buku favoritnya. Minatnya dengan dunia baca telah dimulai sejak kami semakin rajin membacakan buku untuknya. Rasa suka itu  membuncah, saat dia mampu melakukan aktivitas baca secara harfiah. Mengeja kata perkata, kemudian meminta penjelasan mengenai intisari buku bacaannya dari kami para orang tua.


Perlahan, kebiasaan baik tersebut ditularkannya pada Najib, pria kecil penyuka cerita binatang. Sebelum tidur dia akan memilih buku mana yang hendak dibacakan untuknya. Terkadang, dia pun berlagak seolah mampu mengeja kata demi kata dan memahami maksudnya. Dunia anak memang selalu menggemaskan.

Buku adalah ilmu, tempat belajar tanpa belenggu ruang dan waktu. Buku adalah sarana rekreasi jiwa. Media di mana saya mampu mengenal dunia, bahkan saat kaki tak mampu menjejak di tanahnya. 

Happy World Book Day 2017!










Memerdekakan Kartini Masa Kini

|
Setiap tiba waktunya Hari Kartini diperingati. Selain isu emansipasi wanita yang sebenarnya sudah mulai bergeser arah, hal mengenai mengapa harus Kartini masih saja ramai diperdebatkan. Ya, memang pahlawan wanita bukan hanya Kartini. Cut Nyak Dien atau Martha Christina Tiahahu memiliki sejarah perjuangan yang tak kalah heroik.  Mengangkat senjata pada zamannya tentu bukan suatu hal yang bisa dilakukan oleh setiap perempuan bukan?

Gambar : Wikipedia


Hei! Tapi sadarkah kita, bahwa sebenarnya kita telah mulai membandingkan peran seorang  perempuan bahkan sejak di kelasnya Kartini dan Cut Nyak Dien. Mengapa Kartini yang rela dimadu dan bukan Cut Nyak Dien yang berdiri dengan bambu runcingnya? Mengapa bukan Dewi Sartika  yang mendirikan Sakola Istri tapi justru Kartini yang rajin tsurhat lewat surat-suratnya.

Di sinilah emansipasi wanita mulai bergeser arah.  Bukan tentang menyetarakan kedudukannya dengan kaum pria, atau mendapatkan kesempatan untuk di dengar di ranah publik. Tapi justru emansipasi wanita harus dibayangi dengan sindiran bahkan komentar miring dari sesamanya.

Sejak awal pengasuhan anak perempuan pun, sering kali orang tua menunjukkan ekspektasi yang ambigu. Mengharapkan anak perempuan tumbuh menjadi sosok yang mandiri. Tapi terus dibatasi dengan standart kepantasan publik yang sering kali tidak menusiawi. Tidak memberikan kemerdekaan dalam berpikir dan mengekspresikan pendapatnya.

Belum lagi, pencapaian sebuah prestasi bagi seorang perempuan acap kali harus dibarengi dengan perasaan iri. Tidak hanya dari para lelaki, terkadang cibiran atau komentar nyinyir dari sesama perempuan justru lebih "galak" dalam menghakimi. 

Ketika mencoba satu langkah kecil untuk mandiri, masyarakat mulai memberikan sterotipe pantas, tak pantas, lupa kodrat bahkan "menakutkan"

Pun saat memilih tak memberikan kontribusi nyata di ranah publik. Seringkali perempuan dianggap ketinggalan "kereta". Sudah bukan zamannya nggak eksis apalagi duduk manis tanpa melakukan hal produktif.

Serba salah!

Gambar : Pixabay


Kita memang hidup bukan di zaman Kartini yang butuh diberikan banyak kesempatan seperti halnya pria. Atau di zaman di mana wanita bahkan tak mengenyam pendidikan sebagai bekal menghadapi kerasnya dunia. Kita hidup di mana banyak tanggung jawab besar ada di pundak kita sendiri sebagai wanita.

Ketika tanggung jawab pendidikan perempuan lebih banyak dilakukan oleh sesama perempuan. Ketika tanggung jawab mencetak peradaban baru lebih banyak dibebankan pada perempuan. Ketika buah pikiran perempuan tak terlalu banyak diperhitungkan di luar lingkaran perempuan.

Tidakkah sudah saatnya kita saling menguatkan? Saling memberikan kemerdekaan bagi perempuan untuk lepas dari "penjajahan" komentar. Memberikan kesempatan untuk membebaskan pikiran. Karena sejatinya perempuan butuh merdeka untuk diterima apa adanya. Merdeka bagi perempuan adalah ketika mereka dicintai sebagai manusia yang tak sempurna.  

Sebuah kemerdekaan bagi Kartini masa kini berawal dari kemerdekaan pemikiran. Merdeka dalam memilih dan menjalankan pilihan-pilihannya. Merdeka untuk didengar dan diterima apa adanya. Dan kemerdekaan ini hanyalah awal baginya untuk memerdekakan kartini-kartini  lain di zamannya.

Selamat Hari Kartini tahun ini!






Goodbye Acne ... Mulai Hari Ini Kita Putus!

|

Ibarat malam, langit tak sempurna tanpa bintang. Begitu pun wajah, kurang lengkap tanpa satu atau dua jerawat menghiasnya. Ah ... Ini sih cuma rayuan gombal. Kalaupun ada yang ikhlas menerima jerawatnya nongol di wajah setiap bulan. Itu pun pasti karena sudah mengusahakan berbagai cara. Dan pada akhirnya si jerawat tetap saja datang lagi, muncul lagi. Sudah menjadi soulmate rupanya. Hehe ...


Ya, benar. Cerita di atas semacam curhatan pribadi. Curhatan saya lebih tepatnya. Sejak masih jadi anak kuliah, sampai hari ini beranak pianak dua bocah. Jerawat kecil di pipi kanan saya ini setiaaa banget menemani. Saya susah, senang, perawan sampai jadi emak-emak. Doi rajin banget nongol di muka setiap bulan. 

Sampai suatu ketika saya berinisiatif konsultasi pada seorang terapis. Mengapa bagian wajah sebelah kanan nggak pernah absen ditumbuhi jerawat. Saat itu saya tidak mendapatkan keterangan pasti secara medis. Tapi, Mbak Terapis memberikan jawaban yang lumayan masuk akal menurut saya. Bisa jadi karena kelenjar minyak di bagian wajah saya yang kanan lebih aktif berproduksi. Masalah benar atau tidaknya, saya pun tidak pernah berusaha mencari tahu. 
khirnya saya merasa mulai terbiasa dengan benjolan kecil di area puncak pipi saya. Iya, itu dia si jerawat. Apakah saya tidak terganggu? Sebenarnya terganggu, tapi karena belum menemukan solusinya, sementara saya abaikan begitu saja. Karena aneka obat jerawat sudah pernah saya coba. Tapi hasilnya, benjolan kecil tak juga absen setiap bulannya.

Sebenarnya saya paham, bahwa jerawat kecil yang muncul secara berkala bisa jadi karena faktor hormon. Terlebih saat usia tak lagi muda. Maka bisa dipastikan gangguan kulit ini dikarenakan hormon, kelebihan produksi sebum atau pola hidup yang tidak seimbang. Lain halnya dengan jerawat pada usia remaja yang biasanya karena faktor pubertas.

Memang saya bukan tipe yang rutin melakukan perawatan wajah, terlebih di salon atau klinik kecantikan. Untuk daily cleansing saja seringnya mood-moodan. Kalau pas lagi longgar dan semangat, maka saya rutin melakukannya. Tapi kalau sedang terikat deadline atau pekerjaan rumah sedikit menumpuk dari biasanya. Penyakit malas saya pun kambuh begitu saja.

Untuk riasan sehari-hari, 1 atau 2 jerawat di pipi sih tak terlalu memengaruhi suasana hati. Tapi kalau tiba saatnya tugas mendampingi Pak Suami. Entah itu kondangan atau ke acara-acara khusus. Ya, kadang-kadang saya merasa sedikit kurang percaya diri. Sedikit saja sih, nggak berlebihan koq. Karena sadar cantik itu tak harus dari tampilan fisik. Eaaaa ... *timpukbantal.



Kabar baiknya, teknologi kecantikan terus berkembang dengan inovasi yang tak bisa dipandang sebelah mata. Salah satunya dengan inovasi produk dari brand  Derma Angel, yang meluncurkan sejenis acne patch atau  plester  untuk jerawat. Kebayang kan, kalau saya bilang plester jerawat? Tapi ini bukan seperti plester untuk luka,loh. Meskipun belasan tahun yang lalu, saya benar-benar menggunakan plester luka untuk menutup jerawat di wajah yang mulai meradang. Duh, sakitnya jangan ditanya.

Derma Angel yang merupakan acne patch berbentuk transparan, tidak hanya berfungsi sebagai plester atau penutup jerawat. Tapi memiliki fungsi ganda, yaitu "Heal and Hide". Menyembuhkan jerawat, sekaligus menyembunyikan dan melindunginya dari paparan bakteri dan polusi udara. 

Produk ini sangat praktis, karena dapat mendukung aktivitas sehari-hari kaum wanita. Terlebih bagi yang sering beraktivitas di luar rumah. Misalnya remaja putri yang memang masih rentan dengan jerawat pubertas. Dan harus beraktivitas di sekolah ataupun kegiatan lain di luar rumah. So, nggak perlu khawatir penampilan jadi terganggu karena jerawat. 

Manfaat acne patch ini selain dapat menyembunyikan jerawat yang meradang. Yaitu yang biasanya berwarna merah dan bernanah. Juga dapat menyembuhkan jerawat lebih cepat dan tentu saja menghindarkannya dari infeksi atau kuman karena ter-cover sempurna oleh lapisan acne patch-nya.





Uniknya, brand yang laris terjual dengan peringkat penjualan no. 1 di China, dan no. 2 di Thailand ini, mungkin Indonesia akan segera menduduki peringkat 3, who knows? Dirancang sangat mudah digunakan, dengan formula menyatu dengan kosmetik dan memiliki warna natural. Sehingga tidak mengurangi hasil akhir penampilan, atau menarik perhatian karena tampilan acne patch di wajah yang terkesan menonjol.

Secara keseluruhan, berikut  keunikan produk yang dimiliki Derma Angel

1. Invisibility
  • Bentuknya sangat tipis/ transparan, sehingga menyatu dengan tata rias dan warna kulit wajah.
2. Anti Acne (anti jerawat)
  • Mengandung hydrocolloid dressing, yang berfungis menyerap lebih banyak cairan atau nanah.
  • Sedikit membantu blokir UV B
3. Protection
  • Lapisan luar Derma Angel yang tahan air (waterproof), memungkinkan melindungi jerawat dari kontaminasi eksternal. Baik berupa air atau kontaminasi bakteri dan polusi udara. Sehingga jerawat terhindar dari peradangan akibat infeksi.
  • Tingkat kerekatannya menjaga patch tidak mudah bergulir, atau lepas.
Nah, untuk cara penggunannya juga simple saja. Pertama bersihkan dulu tangan dan bagian wajah yang berjerawat. Kemudian buka sedikit perekat acne patch, tempelkan dan tekan-tekan selama beberapa detik.


Pertama bersihkan kulit wajah yang berherawat dengan kapas, kemudian uka sebagian perekat Derma Angel.

Tempelkan Derma Angel pada bagian yang berjerawat, tekan perlahan selama 3 sampai 5 detik.


Saya sendiri telah mencoba salah satu varian Derma Angel yaitu Day Use. Dan benar saja, saya sangat puas dengan hasilnya. Ketika akhirnya bisa keluar rumah dengan acne patch menempel tapi nggak ketahuan. Hehehe...  Dan saya pun semakin percaya diri, karena jerawat bukan lagi halangan untuk tampil menarik. Horay!! I really want to say, Goodbye acne!

Before after pemakaian Derma Angel.


Derma Angel sendiri terdiri dari 3 varian, yaitu untuk penggunaan siang hari (Day Use), malam hari ( Night Use) dan paket kombinasi (Mix Patch). Untuk penggunaan sehari-hari, Temans bisa memakai Day Use yang memiliki lapisan lebih tipis. Sedangkan jika menginginkan penyerapan ekstra, maka penggunaan Night Use lebih dianjurkan. Sementara Mix Patch, bisa menjadi pilihan bagi Temans yang menginginkan solusi jerawat lengkap. Yaitu untuk penggunaan malam dan siang hari.

Menurut saya, hasil akhir dari penggunaan Derma Angel jauh lebih maksimal ketika kondisi jerawat bernanah. Karena cairan atau nanah di dalamnya langsung terserap dan terangkat. Tapi, jika digunakan pada bagian jerawat yang baru muncul, atau belum meradang dan bernanah. Cara kerjanya hanya menyerap cairan atau minyak saja

Saya sudah membuktikannya pada bagian jerawat yang baru muncul dan tidak bernanah. Setelah beberapa jam, acne patch jadi basah penuh dan terasa sedikit lembab. mungkin efek dari cairan yang terserap.

Kondisi Acne Patch setelah 10 jam pemakaian. Sedikit basah dan berminyak, serta berwarna putih seperti susu.

Penggunaannya yang sangat mudah, bukan berarti membuat kita mengabaikan beberapa hal. Misalnya nih,
  • Segera angkat patch setelah 12 jam penggunaan, atau saat patch sudah terlihat berwarna putih susu. Itu artinya patch sudah penuh dengan cairan atau nanah.
  • Jangan gunakan patch pada luka terbuka, atau area kulit yang terinfeksi
  • Segera hentikan pemakaian dan  berkonsultasikan pada dokter, jika terjadi pembengkakan, iritasi atau muncul rasa sakit.
  • Usahakan menyimpan patch di suhu ruangan atau kamar. Hindari menyimpannya di tempat yang terpapar sinar matahari secara langsung.
Nah, kalau Temans tertarik dengan produk serupa. Kalian bisa dapatkan Derma Angel di e-commerce atau modern pharmacy yang sudah tersebar di beberapa kota. Harganya pun relatif sangat terjangkau.


Untuk  varian Day dan Night Use, masing-masing terdiri dari  12 pcs patch, dibanderol dengan harga Rp. 36.000,-. Sedangkan untuk paket kombinasi atau Mix Patch, Temans bisa mendapatkannya dengan harga Rp.51.000,- yang terdiri dari 12 pcs Day dan 6 pcs Night. Ramah dompet kan? Dan yang paling penting, Teman bisa tampil dengan percaya dan melenggang cantik sambil berkata, "Goodbye Acne ...!"

Oh ya, kali ini saya akan berbagi sedikit tips, skin care routine buat Temans yang memiliki jenis kulit berminyak atau berjerawat.



Semoga bermanfaat, ya!


“This article is included in blog competition hosted by BP Network and Derma Angel. The article was written based on the experience and personal opinion.”












Custom Post Signature

Custom Post Signature