Parenting Story, Mom's Life, Tips

Showing posts with label Parenting. Show all posts
Showing posts with label Parenting. Show all posts

Home is Where The Heart is - Rumah dengan Atmosfer Positif untuk Anak

|


Rumah suasana positif
Dalam hati, mungkin kita bertanya-tanya, seperti apakah rumah dengan atmosfer positif itu? Apakah suasana rumah yang banyak memberikan cinta pada kita? Apakah yang bisa memberikan rasa aman? Atau, yang mampu membuat kita didengar dan mau mendengarkan?


Elvis Presley dalam salah satu lagunya menyebut, “Home is where the heart is”. Begitu vitalnya peran sebuah rumah --- home, hingga ia menyebut bahwa rumah adalah tempat di mana hati kita ada di sana. Judul lagu dari penyanyi legendaris ini kemudian juga sering dijadikan quote, atau justru sebaliknya, quote dulu baru dijadikan lagu, entahlah karena aku enggak tahu pastinya. Yang jelas, selarik kata ini kemudian sering digunakan untuk merujuk "tempat" di mana kita menitipkan hati. Entah itu rumah dalam artian "home" atau "house"

Yang Tersisa dari Asian Para Games 2018

|

Pesan Moral Asian Para Games 2018


Satu-satunya alasan yang membuatku rela menembus kemacetan Sudirman di hari kerja adalah Asian Para Games 2018. Iya, karena niatku sudah bulat untuk membawa DuoNaj menyaksikan pesta olahraga untuk penyandang difabel ini, langsung dari arenanya. Toh, kapan lagi Asian Para Games bakal digelar di Jakarta? 10 atau mungkin masih 20 tahun lagi, kan? Jadi, rasanya aku puas banget sudah membawa mereka ke Gelora Bung Karno, yang disusul ke Jakarta International Velodrome 3 hari berikutnya.

Siapapun pasti setuju bahwa Asian Para Games merupakan salah satu event yang mampu menjadi inspirasi dunia, khususnya bagi kita yang berada di Indonesia. Menyentil sisi kemanusiaan yang akhir-akhir ini mulai terkikis. Menunjukkan spiritualitas kehidupan yang belakangan cenderung terkotak-kotak.

Bicara Realita Bencana dengan Anak

|




Dear Najwa

Kali ini aku tidak ingin menakutimu. Tapi sebagai ibumu, aku merasa perlu untuk kembali berbicara tentang realita yang harus kita hadapi. 

Naj, masih ingatkah kamu dengan simulasi tsunami dan gempa yang pernah kita lihat di Museum Merapi? Iya, aku yakin kamu masih mengingatnya. Aku lihat kamu sangat antusias kala itu. Bahkan berhari-hari berikutnya kamu masih mengajakku berdiskusi hal serupa. Yang akhirnya memaksaku membaca lebih banyak untuk melayani rasa ingin tahumu.

7 Cara Agar Membaca tak Sekedar Rutinitas tapi Kebutuhan Anak

|




Setiap orangtua yang memiliki kesenangan pada buku bacaan pasti bercita-cita untuk menularkan hal yang sama pada anak-anaknya. Selain manfaat dari segi ilmu pengetahuan yang dirasa akan sangat berguna bagi kehidupan, aktivitas membaca memang memberikan kesenangan tersendiri, ibarat candu yang membuat siapapun ketagihan untuk menyesap nikmatnya lagi dan lagi.

Membaca nggak hanya membuka akses informasi, tapi aktivitas ini mampu menghadirkan dunia baru bagi orang-orang yang terlanjur merasakan nikmatnya. Dunia-dunia yang tak selalu nyata, tapi mampu membawa setiap pembaca masuk dan mereka-reka sendiri gambaran dunia dalam imajinasi bacaan mereka.

Telah lama saya menemukan kenikmatan dalam aktivitas yang satu ini. Bagi saya, membaca bukan sekedar rutinitas yang sengaja saya bangun. Tapi, sekarang ini membaca telah menjadi kebutuhan saya setiap hari. Tak ubahnya sepiring nasi dan secangkir kopi, membaca harus mendapatkan porsi yang sesuai sehingga tak terasa ada yang kurang saat melalui hari.

Rencana Baru di Tahun Ajaran Baru 2018 - Parenting Anak Usia 7 Tahun

|
Saat kebiasaan baik anak terbentuk, sebenarnya orangtua sangat terbantu dalam melakukan pengasuhan. Sehingga status anak pada fase 7 tahun kedua ini benar-benar sebagai "Pembantu" dalam artian membantu keberhasilan tugas pengasuhan orangtua pada fase-fase berikutnya.


Parenting Anak 7 Tahun



Tahun ajaran baru biasanya  diwarnai dengan perasaan suka cita. Bagi orangtua dan siswa yang baru saja melalui serangkaian tahap pencarian sekolah baru. Kelegaan yang dirasakan mungkin tak mudah untuk digambarkan dengan kata-kata, ketika nama anak-anak kita tercatat menjadi salah satu siswa di sekolah yang memang diidam-idamkan. Perasaan cemas, khawatir dan gundah selama masa PPDB berlangsung, seketika lenyap begitu saja berganti dengan semangat dan berbagai rencana baru untuk anak-anak kita.

Hal senada juga dialami oleh anak-anak dan orangtua yang pada tahun ajaran ini bergeser kelas ke level yang lebih tinggi. Dengan berada di kelas baru tentunya akan banyak harapan baru juga terkait perkembangan anak-anak kita. Baik secara akademis maupun hal-hal yang berkaitan dengan penguasaan life skill dan perkembangan sosialnya.

Drama Menjelang "Fantastic Four" - Si Kecil jadi Suka Memukul

|

Anak suka memukul


Sudah lama nggak bikin postingan tentang tumbuh kembang DuoNaj. Selain karena tumbuh kembangnya yang menurut saya agak susah untuk diceritakan, karena tidak ada suatu hal yang bisa dibahas secara spesifik.  Terus terang aja saya lagi suka bereksperimen di dapur sehingga agak selow menulis tentang parenting, halah pengakuan macam apa ini, hehehe.

Sampai akhirnya awal Ramadan kemarin saya menangkap ada yang berubah dari Najib. Anak bungsu saya yang biasanya sweet dan kecupable ini menjadi sangat agresif, gampang marah dan yang lebih parah jadi sangat suka memukul.

Mengenalkan Ibadah Ramadan Sesuai Usia Anak

|

Mengenalkan Ramadan sesuia usia anak
www.damaraisyah.com


Menurut teman-teman berapa usia ideal bagi seorang anak untuk dilatih berpuasa? Jawabannya pasti sangat bervariasi mengingat setiap keluarga memiliki cara dan pertimbangan tersendiri dalam pengasuhan anak-anaknya. Di keluarga saya, Najwa baru belajar berpuasa pada Ramadan tahun lalu, tepatnya saat usianya genap 6 tahun. Puasa yang dijalankan pun sifatnya masih latihan, sehingga belum penuh selama sehari bahkan tidak sampai 30 hari.

Tantangan Parenting dengan Threenager

|

 
Parenting dengan threenager
www.damaraisyah.com



Drama threenager belum juga berhenti. Setelah usianya lewat 3 tahun 6 bulan, gaya khas bocah threenager semakin melekat dalam diri Najib. Baik caranya berucap maupun bertingkah, khas remaja 13 tahun yang bikin gemas sekaligus jengkiel orangtuanya.

Padahal Najib sudah lebih awal mengalami masa-masa ini. Seingat saya, sebelum ulang tahun yang ketiga Najib sudah menunjukkan tanda-tanda threenager. Selain agak susah diatur, kalau punya kemauan juga penginnya selalu dituruti. Belum lagi gaya ngomongnya yang udah kayak remaja. Dinasihati pun, dia suka membantah dan mengajak beradu argumen. Huff, kalau sudah begitu, BukNaj penginnya makan bakso kuah pedas sama es teh segelas,donk. Hahaha

7 Hal untuk Memastikan Gadis Kecil Kita Tumbuh dengan Percaya Diri

|
Menumbuhkan Kepercayaan Diri pada Anak Perempuan
www.damaraisyah.com


Saya bukan perempuan dengan kepercayaan diri tinggi. Ya, butuh waktu yang tidak sebentar bagi saya untuk menumbuhkan kepercayaan diri dengan cara saya sendiri.

Saya bukan sosok yang menonjol dan tidak menarik. Dua hal yang terus menghantui saya sewaktu kecil. Melihat teman-teman saya yang menarik secara fisik, bertalenta dan memiliki segudang prestasi. Saya merasa tak ada apa-apanya di dunia ini. Ibarat remekan rempeyek di dasar toples, hehehe.

Buk, Bantu Aku Menumbuhkan Kepercayaan Diriku

|
Menumbuhkan Kepercayaan Diri Anak
www.damaraisyah.com


"Buk, tadi temanku terlambat. Dia bilang dia tahu kalau masuknya jam setengah 10. Tapi Ibunya enggak percaya. Aneh ya, Ibu-ibu kenapa enggak percaya sama anaknya. Padahal anak-anaknya sudah tahu mana yang benar."

Cerita Najwa sepulang sekolah tadi terasa bagai tamparan bagi saya. Bagaimana tidak, saya pun kerap kali tidak langsung percaya pada ucapannya? Tak jarang, saya juga masih sering meragukan kemampuannya. Suka mendiktenya untuk melakukan ini dan itu. Terlalu besar mengambil porsi dalam menyelesaikan masalahnya. Dan banyak hal lagi kesalahan yang saya lakukan dengan dalih khawatir pada anak.

Padahal saya tahu betul, kekhawatiran saya ini terlalu berlebihan, alias lebay. Saya juga paham bahwa cara saya ini bisa menghambat kepercayaan diri mereka. Padahal kepercayaan diri merupakan salah satu modal dasar anak, untuk bisa survive dalam kehidupan ini.

5 Hal yang Dibutuhkan Anak-anak dalam Kehidupannya, dan Semuanya Gratis!

|
Hadiah terindah untuk anak
Pexel.com


Boneka atau mainan. Biasanya dua benda tersebut yang saya hadiahkan pada Najwa saat dia masih menjadi anak semata wayang. Maklumlah, namanya juga anak pertama, rasanya semua hal pengin saya berikan untuk membuatnya senang. Apalagi saat itu saya masih berpenghasilan tetap. Asal sampai akhir bulan, pengeinya quality time berdua sambil menikmati tanggal gajian.

Saat dia bertambah usia, mainan edukatif atau activity book yang biasanya saya sasar. Baju, sepatu atau hiasan rambut lucu juga tak luput dari perhatian. Tapi sepertinya itu hanya obsesi saya sebagai ibu muda penggila barang-barang lucu. Karena kenyataannya, Najwa biasa aja. begitu sudah bosen, ya dibiarkannya semua barang lucu itu di lemari atau keranjang-keranjang mainannya.

Si Kecil Sering Marah-Marah? Mungkin 1 dari 6 Hal Berikut Penyebabnya

|
Penyebab anak marah
Pexel.com



Akhir-akhir ini saya sedikit kewalahan dengan DuoNaj yang cenderung lebih mudah marah ketimbang biasanya. Enggak cuma Najwa yang memang sudah lebih mengerti dan cenderung pandai beradu argumen dengan saya atau ayahnya. Najib yang baru berusia 3,5 tahun pun mulai sering marah tanpa alasan yang mudah kami pahami.

Awalnya dia suka ikut-ikutan Najwa yang berteriak atau menunjukkan sikap tidak setuju dengan pendapat saya. Tapi kemudian, Najib pun mulai menunjukkan aksi serupa meskipun sedang tidak ada Najwa di rumah.

Bagaimana Cara Seorang Anak Menemukan Hal Baru dalam Hidupnya? Begini Jawabannya!

|
Play is The Highest Form of Research - A. Eistein.

Manfaat bermain untuk anak

Bermain sangat bermanfaat untuk tumbuh kembang si kecil? Ya, siapapun tak meragukannya. Bahkan  dalam berbagai pelatihan dan bahan bacaan parenting, bermain merupakan salah satu cara belajar yang paling efektif. Bahkan mereka mampu melakukan research dan menemukan hal baru yang menjadi maha karya terhebat bagi diri anak.

Yuk, Cari Tahu Gaya Belajar yang Paling Efektif untuk Anak!

|
Gaya belajar anak seperti pintu pembuka. Setiap informasi yang masuk lewat pintu yang terbuka lebar, akan memudahkan anak memahami informasi tersebut. Pada puncak pemahaman, informasi tersebut akan masuk ke dalam memori jangka panjang dan tak terlupakan seumur hidup (Orangtuanya Manusia)

Gaya belajar anak

Pernahkah Teman-teman memerhatikan gaya belajar anak, murid, keponakan atau adiknya? Apa pendapat kalian tentang gaya belajar mereka? Serius atau cenderung santaikah?

Saya sendiri sudah sejak lama senang mengamati gaya belajar anak-anak. Pengalaman 10 tahun lalu saat harus mengajar satu kelas dengan mayoritas siswa yang memiliki kecenderungan kinestetik dan auditori. Memaksa saya yang saat itu belum memiliki pengetahuan apapun tentang macam-macam gaya belajar anak untuk mencari tahu dan mengamati dengan seksama.

Ada beberapa anak yang selalu minta diajak berkegiatan di dalam kelas. Setiap materi inginnya dilakukan dengan permainan. Bahkan di kelas pun mereka sangat jarang duduk di tempatnya. Beberapa anak yang lain sangat senang diperdengarkan cerita. Entah itu harus saya yang membacakan, atau menggunakan pemutar audio sehingga kami sama-sama mendengarkan materi.

Mengajak Anak Meneladani Nabi dengan 30 Kisah Bersama Para Nabi

|
30 Kisah Bersama Para Nabi


Dalam keluarga muslim, menumbuhkan karakter islami pada diri anak tentu menjadi family goals yang patut diupayakan, bukan? Salah satunya dengan cara mengajak anak mengenal nabi, untuk kemudian meneladani karakter positif yang melekat pada diri manusia-manusia terpilih tersebut. Tapi, perlu diakui bahwa hal ini bukan perkara yang mudah. Terlebih bagi anak yang masih tergolong muda, karena daya nalar yang masih minim bisa jadi kendala tersendiri ketika anak harus mengambil teladan dari sosok yang belum pernah dijumpainya secara langsung.

Untuk itu, orang tua perlu mempertimbangkan kapan waktu yang tepat untuk mulai mengenalkan anak pada nabi dan karakter positif yang dapat mereka teladani. Perlu diingat, kenabian termasuk dalam konsep abstrak yang bisa dipahami otak manusia dengan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Atau dalam hal ini, jika merujuk pada usia anak-anak. Maka pada usia 5 tahun mereka baru mulai mengembangkan kemampuan tersebut.

 

Di samping itu, perlu dipahami juga bahwa untuk menumbuhkan karakter baik pada diri anak tidak bisa disampaikan secara teoriti, yang biasanya bersifat ceramah atau cenderung menggurui. Apalagi kita hidup dengan kids zaman now yang cenderung kritis terhadap hal baru yang mereka pelajari. Orang tua perlu melakukan penetrasi dengan cara-cara yang lebih asyik dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya melalui dongeng atau buku cerita yang mengulas kisah keseharian nabi yang dibumbui dengan nilai dan karakter positif yang bisa dipetik anak.




30 Kisah Bersama Para Nabi


Buku 30 Kisah Bersama Para Nabi sebagai contohnya. Buku ini mengulas 30 kisah dari para nabi yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya pada kisah yang berjudul " Berguru pada Nabi Khidir", yang merupakan kisah pertama dari 30 kisah  dalam buku setebal 154 halaman tersebut.

Di situ diceritakan bagaimana Allah murka kepada Nabi Musa akibat kesombongannya. Sehingga Allah memerintahkan kepadanya untuk berguru kepada Nabi Khidir yang memiliki lebih banyak ilmu. Secara sederhana anak akan memelajari bahwa bersikap sombong bukanlah hal yang terpuji. Karena bagaimana pun juga tidak ada yang sempurna di muka bumi ini. Selalu ada yang melebihi diri kita. Dan jika terus dicari sampai ujungya, maka manusia tidak akan pernah puas. Karena kesempurnaan itu hanya milik Allah.

Baca yang ini juga ya : Menjelaskan Makna Hari Raya Kurban pada Anak

Selain itu, 29 kisah lain seperti, "Ismail, Sabar Memenuhi Perintah Allah", "Nabi Adam yang Genius", "Nabi Sulaiman Penyayang Binatang, hingga kisah "Nabi Yahya, Berani karena Benar" semuanya akan meninggalkan nilai dan teladan tersendiri yang dapat menumbuhkan karakter positif dalam diri anak. Tentu saja dengan pendampingan dari orang tua sebagai fasilitator utama.

Buku karangan Dedeh Sri Ulfah ini sangat  mudah dipahami karena menggunakan kisah sehari-hari yang dialami nabi. selain itu, buku ini juga dilengkapi dengan ilustrasi yang menarik, full color dan dicetak di atas kertas yang tidak mudah sobek. Sehingga dari segi tampilan sangat cocok dan mampu membangkitkan rasa ingin tahu pada anak.

30 Kisah Bersama Para Nabi
Lembar aktivitas dalam buku


30 Kisah Bersama Para Nabi
Lembar aktivitas dalam buku


Tidak hanya itu, setiap judul dalam 30 Kisah Bersama Para Nabi ini juga disertai dengan lembar aktivitas sederhana yang dilengkapi ilustrasi. Tujuannya untuk mengasah daya ingat dan mengembangkan kemampuan berpikir anak. Sehingga memudahkan anak untuk mengambil teladan dan karakter positif dalam setiap cerita.

Tertarik untuk menggunakan 30 Kisah Bersama Para Nabi sebagai media menumbuhkan karakter islami pada diri anak? Langsung saja cek buku terbitan PT. Elex Media Komputindo ini di bagian Children Books, di rak Toko Buku Gramedia terdekat. Atau bisa juga melakukan pemesanan secara online untuk mendapatkan tanda tangan asli langsung dari pengarangnya. Kontaknya ada di sini.

Baca juga: Bagaimana Doa Bisa Terkabul? Begini Cara Najwa Memahaminya. 

Buku ini dapat dibawa pulang atau dikirim langsung ke alamat Teman-teman hanya dengan berinvestasi sebesar 94.800 saja. Sangat murah jika dibandingkan dengan manfaatnya dalam jangka panjang. Bahkan bisa diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya. 

30 Kisah Bersama Para Nabi
Jangan lupa cek di Toko Buku Gramedia, ya.


Tunggu apalagi? Yuk, segera ambil double kesempatan untuk mewujudkan family goals dalam keluarga kita. Karena selain iktiar menumbuhkan karakter islami melalui 30 Kisah Bersama Para Nabi, secara tidak langsung kita juga sedang membangun budaya membaca dari rumah.


Selamat Membaca!




Referensi:
https://www.muslimahzone.id/kapan-mengenalkan-anak-kisah-nabi



Ibu Selalu Ada meskipun Tak Mampu Sempurna

|

Tempra Syrup


Jika hari ini saya terlihat sangat menikmati peran  sebagai ibu, tentu saja hal itu tidak datang begitu saja. Proses yang saya lalui lumayan panjang dan berliku. Tak sedikit pula air mata yang saya tumpahkan selama proses ini berlangsung.

Bukan. Bukan karena saya belum siap menjadi ibu. Atau karena saya tidak menyukai anak-anak. Saya menikah saat usia sudah matang untuk ukuran gadis desa. Sebelum menikah pun saya sangat dekat dan senang beraktivitas dengan anak-anak. Tapi setelah melahirkan dan resmi menjadi ibu bagi Najwa, saya merasakan kondisi saya sangat tidak ideal. Jauh dari kata sempurna untuk disebut ibu yang utuh.

Anggapan seperti itu mungkin memang hanya datang dari alam bawah sadar saya sendiri. Karena kenyataannya tak ada seorang pun yang pernah mengucapkannya, entah kalau di belakang, ya. Hehehe. Di mulai dengan melahirkan secara caesar, gagal  memberikan ASI pertama, dan kemudian tak mampu mengasuh sepenuh waktu karena masih bekerja kantoran. Perasaan-perasaan tak mampu sering kali mengganggu pikiran saya.

Sebenarnya tak ada yang salah dengan semua itu. Melahirkan dengan cara apapun seorang ibu tetaplah ibu. Begitu pun halnya tak ada satu definisi pun yang menyebutkan bahwa seorang ibu adalah ibu rumah tangga. Ibu, ya hanyalah mereka yang mampu membesarkan anak-anaknya dengan curahan kasih sayang dan doa. Bahkan saat si anak bukan dari rahimnya.


Masalahnya, saya bukan tipe orang yang bisa cuek dengan lingkungan sekitar.  Terlebih, saat melihat karakter saya berbeda dengan teman atau perempuan lain yang juga menyandang status sebagai ibu. Bukannya bersikap lembut pada anak, saya merasa terlalu tegas bahkan saat Najwa masih berumur balita.

Sempat berpikir bahwa karakter pengasuhan saya pasti sedikit banyak dipengaruhi oleh pengalaman pengasuhan orang tua. Tapi apa iya saya harus menyalahkan ibu yang saat itu berjuang sebagai single parent? "Ah! Semua ini pasti karena aku kurang cakap mengelola emosi. Sehingga tak maumpu bersikap sebagaimana layaknya ibu kepada anak," begitu batin saya dalam hati kala itu.


Tempra Syrup
Bagi Najib, anak bungsu saya. Saya adalah kekasih dan ciuman pertamanya.

Munculnya Perasaan Inferior


Sering kali muncul perasaan minder dalam diri saya saat melihat ibu lain begitu piawai melakukan perannya. Persis seperti yang sering saya baca dalam buku-buku parenting. Kalau sudah begitu biasanya saya agak uring-uringan karena merasa jauh dari standart itu.

Kadang, perasaan inferior juga muncul saat melihat orang tua yang tidak hanya mengasuh. Tapi sanggup mendidik dalam segala hal. Baik pendidikan moral dan budi pekerti. Agama bahkan berbagai jenis ilmu yang memang mereka kuasai. Saya salut dengan ibu-ibu yang mampu mengawal anak-anaknya dengan model pendidikan homeschooling. Menurut saya mereka tidak hanya hebat, tapi memang begitulah selayaknya seorang ibu sebagai madrasah utama bagi anak-anaknya.

Perasaan-perasaan seperti itu sukses membuat kepercayaan diri saya merosot, dan puncaknya sikap emosional yang sering saya tunjukkan pada anak-anak saya.


Menjadi Ibu Tak Harus Sempurna tapi Harus Memiliki Cinta

 

Hingga akhirnya saya coba berdamai dengan segala kondisi yang ada. Mulai memahami dan menerima keterbatasan yang saya miliki. Sampai memahami karakter dan kondisi psikologis anak. Saya pun sampai pada satu kesimpulan bahwa anak-anak lebih membutuhkan cinta dan kasih sayang saya, ketimbang segala hal yang selama ini memunculkan perasaan inferior. 

Mereka sangat gembira saat bermain bahkan dengan permainan yang asal-asalan dan ala kadarnya. Jauh dari labeling mainan edukatif yang biasanya disematkan untuk permainan orang tua masa kini. Mereka pun tidak mempermasalahkan cara saya bertutur dan mengasuh yang tak selembut ibu peri. Efeknya justru hubungan kami seperti teman sebaya, bukan hanya ibu dan anak.

Kedekatan yang unik ini menyadarkan saya bahwa anak-anak menerima ibunya apa adanya. Mereka tak butuh segala "atribut ibu sempurna". Tak peduli bagaimana saya melahirkan mereka. Yang mereka tahu saya adalah teman terbaiknya. Hingga kapan pun mereka ingin bermain atau sekedar bercerita, maka sayalah orang pertama yang dicarinya.

Kebutuhan seperti itu tidak lain adalah ungkapan cinta. Ya, anak-anak sangat mencintai saya dengan segala keterbatasan yang ada pada diri ibunya. Cinta, adalah mantra ajaib bagi seorang ibu. Bukan kesempurnaan, tapi cinta dan kemauan untuk menerima dan memahami keunikan setiap anggota keluarga.

 



Tempra Syrup
Kemana pun kami selalu bertiga. Kurang lebih seperti Trio Kwek-kwek. Hehehe :)


Mencintai dengan Cara yang Tak Biasa

 

Perasaan dicintai dan dibutuhkan anak-anak, secara perlahan "menggiring" diri menjadi pribadi yang berbeda. Saya lebih banyak bersyukur, lebih mampu mencintai dan bisa berdamai dengan diri sendiri. 

Hal baik seperti itulah yang kemudian membuat saya mampu mencintai anak-anak dengan cara saya sendiri. Beda? Sekilas mungkin sama saja. Tapi saya lebih suka menyebutnya dengan cara yang tak biasa, karena ini adalah cara saya mencintai mereka.

Baca juga: L.O.V.E - How do You Spell Love?


Menjadi teman dekat anak

Mengasuh anak merupakan aktivitas membersamai yang tak berkesudahan. Mulai dari bayi hingga dewasa, saya kira orang tua masih terus mengasuh anak-anaknya. Hanya saja caranya pasti berbeda. Dulu kecil mereka kita timang. Tapi begitu beranjak remaja, mereka tak membutuhkan itu lagi. Mereka butuh teman dekat untuk berbagai segala hal yang dialaminya.

Begitu usia bertambah dewasa, yang mereka butuhkan tidak sekedar teman dekat. Seiring bertambahnya tanggung jawab dan persoalan hidup yang harus mereka hadapi. Maka orang tua adalah tempat berguru pengalaman dan meminta pertimbangan.

Saya yakin dengan memposisikan diri sebagai teman, maka hubungan dengan anak-anak tak lekang oleh zaman. Ketika mereka bertumbuh, saya pun akan menumbuhkan kedewasaan dan kearifan saya sebagai orang tua. Tapi saat mereka masih ana-anak seperti sekarang, saya tidak segan masuk ke dunia yang penuh dengan fantasi yang seringnya tidak masuk akal.

Baca juga: Every Family Has Its Own Rule (1)


Tempra Syrup
See, he likes to kiss me.


Mengakui dan Saling Menerima Kekurangan

Kalau dulu saya cenderung menutupi kekurangan pada diri. Kini saya mulai bersikap apa adanya. Saya tak segan untuk mengatakan pada anak dan suami tentang hal-hal yang memang tidak saya kuasai. Misalnya jika mereka meminta makanan tertentu, saya jujur saja bilang, "ibu belum bisa, karena belum belajar. Nanti, setelah ibu belajar, pasti ibu buatkan."

Atau saat mereka mengeluhkan cara berbicara saya yang keras. Saya akan dengan jujur mengakui bahwa gaya berbicara ibu memang seperti ini, keras dan tegas. Tapi dalam hati sebenarnya saya sangat perasa dan mudah memahami perasaan orang lain.

Sebaliknya, saya pun mulai tak segan menerima kekurangan-kekurangan baik pada anak maupun pasangan. Saya paham ada banyak hal yang tidak bisa diubah dengan cepat. Butuh proses dan pemahaman yang tidak sebentar pula. Maka dari itu, saya pun berusaha menerima, karea di sisi lain saya ingin diterima apa adanya.

Baca juga: Emotional Conversation with Kiddos


Bersedia Berproses Bersama

Seperti yang saya sebutkan di atas, bahwa menjadi orang tua  merupakan tanggung jawab yang tak berkesudahan. Tantangan yang dihadapi pun selalu berubah dari waktu ke waktu. Untuk itu saya memilih berproses bersama mereka sehingga dapat mengikuti setiap fase tumbuh kembangnya.

Raga boleh menua, tapi rasa dan pengetahuan seorang ibu sudah semestinya bisa berjalan beriringan dengan zaman anak-anaknya.


Menjadi Diri Sendiri dalam Mencurahkan Cinta dan Perhatian

Jika sebagian besar ibu menyapa anak-anaknya dengan cara, "Halo, sayang. Bagaimana kegiatan hari ini? Capek, nggak? Sini Mama pijitin?" Saya malah seringnya mengatakan seperti ini, " Hai, guys? Udah pada makan belum? Ngomong-ngomong, ada kejadian seru apa hari ini?"  Meskipun dari segi usia mereka masih kanak-kanak, mereka paham betul cara saya itu. Mereka pun langsung berceloteh mulai A sampai Z seolah sedang bercerita pada temannya. 

Cara dan ekspresi setiap ibu memang selalu berbeda. Tapi coba kita rasakan, selalu ada cinta dalam segala hal yang mereka lakukan pada anak-anaknya.

Tempra Syrup
Trio kwek-kwek lagi edutrip ke Museum Air Tawar di TMII.

Menjadi Penolong Pertama

Bagi saya, setelah seorang perempuan mengikrarkan diri sebagai ibu itu artinya harus siap menjadi penolong utama bagi anak-anaknya. Apapun dan bagaimana pun caranya, ibulah yang pertama kali dibutuhkan anak-anak. Bahkan mengenai hal ini pun, Allah telah menunjukkannya melalui hubungan dalam tali pusat dan Air Susu Ibu.

Untuk itu saya pun berusaha menjadi penolong pertama bagi Najwa dan Najib yang tergolong masih kanak-kanak. Masih butuh banyak dibantu dalam segala hal. Tidak hanya untuk kegiatan sehari-hari atau dalam permainan. Untuk urusan sekolah atau kegiatan lain di luar rumah. Ibu, ibu dan ibu, begitulah biasanya anak-anak meminta saya sebagai penolongnya yang pertama.

Itu saja saat kondisi mereka sehat. Saat sakit, saya bukan hanya penolong pertama, tapi benar-benar menjadi ibu peri yang membawa kesembuhan bagi mereka. Untungnya, saya telah belajar banyak hal mengenai penanganan anak sakit sejak kelahiran anak pertama.

Anak-anak memang masih rentan sakit, terlebih panas dan deman yang biasanya muncul akibat respon terhadap gangguan pada tubuh. Misalnya mau flu atau tumbuh gigi. Biasanya selalu diawali panas atau demam ringan sebagai gejala awal. 

Biasanya, saya pun tidak tergesa-gesa memeriksakan anak ke dokter. Sebagai pertolongan pertama, beberapa hal berikut ini selalu saya lakukan pada anak saat demam.


Pertolongan Pertama saat Anak Demam 
1. Periksa suhu tubuh secara berkala dengan termometer. Saya pun terbiasa mencatatnya untuk melihat perkembangannya dari jam ke jam berikutnya. saat suhu masih di bawah 38, saya masih menganggapnya aman. Tapi ketika sudah menyentuh angka 38 atau lebih, maka segera saya memberikan obat. Dan 

2. Mengompres lipatan-lipatan tubuh dengan kompres hangat. Ya, sejak Najwa berusia 1 tahun saya mulai beralih menggunakan kompres hangat karena mempertimbangkan pendapat dari ahli medis. Selain itu, saya tetap memandikan anak-anak bahkan mengajak mereka berendam di bak air hangat dengan maksud membantu menurunkan suhu tubuhnya.

3. Memperbanyak cairan yang masuk ke tubuh anak, terlebih air putih. Cara ini untuk mencegah dehidrasi yang biasanya mengikuti gejala sakit panas atau demam. Untuk itu konsumsi air putih atau minuman dalam bentuk lain harus dijaga agar tubuh tidak sampai kekurangan cairan. Oh ya, kadang-kadang saya juga memberikan sari kurma untuk menjaga trombosit darah tetap stabil. 


Tempra Syrup
Saat kondisi tubuh menurun atau demam, saya pastikan anak banyak mengasup buah-buahan dan air putih.


4. Memakaikan pakaian yang berbahan dingin dan menyerap keringat. Serta mengatur suhu ruangan tetap dingin meskipun juga jangan sampai kedinginan.

5. Memberikan parasetamol untuk membantu menurunkan panas dan menghilangkan nyeri. Untuk jenis parasetamolnya sendiri saya sudah terbiasa memakai Tempra Paracetamol Syrup

Kalau ditanya mengapa memlih Tempra? Alasan pertama karena sudah dipakai turun temurun sejak zaman ibu saya mengobati anak-anaknya.  Setelah itu beralih pada kakak-kakak saya yang memilih Tempra juga untuk pertolongan pertama saat demam bagi anak-anaknya. Saya pun sudah menggunakannya saat baru memiliki anak pertama. Jadi begitu cocok dan tidak ada efek samping, rasanya sudah malas coba-coba obat penurun panas jenis lain.


Tempra Syrup
Tempra Syrup dan Termometer adalah senjata andalan ibu siaga demam.


Kelebihan Tempra Syrup

Selain itu saya lebih memilih paracetamol ketimbang ibuprofen ketika anak mengalami panas atau demam ringan. Karena cara kerja paracetamol sendiri lebih terfokus pada menurunkan demam dan bersifat anti-pirektik pada pusat pengatur suhu di otak. Sehingga proses penurunan suhu tubuh pun biasanya berlangsung secara bertahap.

Sedangkan untuk ibuprofen, para ahli berpendapat obat jenis ini bekerja lebih maksimal ketika ditemukan gejala inflamasi atau peradangan. Dari pengalaman saya, penurunan suhu tubuh cenderung cepat. Tapi jika tubuh penderita tidak siap, justru bisa menggigil karena kaget dengan penurunan suhu yang drastis.


Tempra Syrup
Dosis pemakaian Tempra Syrup.


Untuk Tempra Paracetamol Syrup sendiri selain mengandung paracetamol, kandungan analgetika di dalamnya mampu meningkatkan ambang rasa sakit. Sehingga dapat membantu mengurangi rasa nyeri yang mengikuti gejala panas dan demam pada anak.

Oh ya, Tempra Paracetamol juga sangat aman untuk lambung. Karena pada dasarnya paracetamol sendiri memang bisa dikonsumsi sebelum atau sesudah makan. Meskipun biasanya dianjurkan setelah makan. Sedangkan untuk cara mengonsumsinya tidak perlu dikocok dulu, karena sirup obat Tempra sudah larut 100%  dengan dosis yang tepat sehingga tak perlu khawatir kurang atau lebih. Yang penting selalu perhatikan dosis pemakaian yang ada di kemasannya.

Tempra Syrup
Kandungan produk dan peringatan pemakaian.


Dan yang penting banget, nih. Tempra Syrup bebas alkohol sehingga benar-benar aman. Rasanya pun enak dan tidak pahit, sehingga mudah memberikannya pada anak-anak. Saya pun selalu memiliki persediaan di rumah agar selalu merasa aman karena harus menjadi penolong pertama bagi anak.


6. Yang terakhir, saya akan segera memeriksakan si kecil ke dokter jika panas atau demam tubunya tidak kunjung reda setelah tiga hari pengobatan di rumah.  Tindakan ini harus segera dilakukan karena penangan yang telat pada kasus demam bisa berakibat fatal.

Baca juga: Every Family Has Its Own Rule (2)


Berbekal cinta dan kasih sayang untuk anak-anak, saya merasa lebih utuh sebagai seorang ibu. Karena saya yakin, setiap ibu adalah perwujudan cinta kasih. Oleh sebab itu selalu ada cinta dalam dirinya. Walaupun cara mengekspresikannya bisa jadi berbeda. Karena setiap ibu unik dan melahirkan anak-anak yang juga tak kalah unik.


Tempra Syrup
Anak-anak, masa depan yang menguatkan setiap langkah saya.


Teman-teman yang sudah menjadi ibu pasti tahu bagaimana rasanya, kan? Yuk, berbagi pengalaman menjadi ibu di komentar, ya. Have fun with our own journey as a Mom, Ladies!



Referensi tambahan:
https://hellosehat.com/hidup-sehat/tips-sehat/paracetamol-vs-ibuprofen/
http://www.taisho.co.id/index.php/id/hidden-menu-tempra/89-tempra-syrup



Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Tempra.



So GOOD CERDIK dan Keasyikan Mendongeng untuk Generasi Z

|
So Good Cerdik

"Dongeng sebelum tidur, ceritakan yang indah biarku terlelap."
Hayo!.. Siapa yang masih ingat penggalan lirik lagu di atas angkat tangannya? Teman-teman yang lahir sebagai generasi milenial pasti tidak asing dengan grup band Indonesia yang menyanyikan lagu tersebut. Setuju, ya? Lagu berjudul "Dongeng Sebelum Tidur" memang sempat hits saat saya masih duduk di bangku SMP, duh jadi ketahuan angkatan berapa, nih. Hehehe. Selain easy listening, lirik-lirik dalam lagu ini memang sangat natural, khas anak-anak pada masanya. Dan memang benar, mendengarkan dongeng adalah satu ritual sebelum tidur yang dimiliki hampir setiap anak pada masa itu.

Saya pun termasuk bagian dari generasi milenial yang beruntung itu. Meskipun hidup dengan ibu sebagai orang tua tunggal. Saya mendapatkan banyak kesempatan mendengarkan dongeng dan cerita-cerita inspiratif darinya. Memori seperti itu sangat membekas bagi saya. Karena dari kisah-kisah yang diperdengarkan ibu, saya tidak hanya menerka-nerka seperti apa masa depan yang ingin saya gapai. Tapi banyak nilai moral dan perjuangan hidup yang membentuk pribadi saya seperti sekarang.


Gadget dan Generasi Z

 

So Good Cerdik
Anak-anak saya izinkan bermain gadget, namun dengan aturan yang disepakati bersama.

Zaman berubah, generasi baru pun terus dilahirkan. Saya dan juga Teman-teman yang sempat berbangga menyebut diri sebagai generasi milenial. Kini harus mempersiapkan diri untuk menyambut generasi baru yang lahir bersamaan dengan internet sebagai salah satu budaya. Ya, generasi ini adalah Generasi Z.  Generasi yang sangat dekat dengan teknologi digital, baik internet maupun gawai.

Saya pun kini harus berhadapan langsung dengan dua anak dari generasi z di rumah. Anak-anak yang sangat kritis dan tidak gagap teknologi. Sehingga gadget dan internet bukan lagi hal yang asing bagi mereka. Ya, anak-anak saya memang belum steril dari gadget. Saya akui tidak mudah bagi saya dan suami untuk menjauhkan anak-anak dari gadget, mengingat pekerjaan kami berdua juga tidak bisa lepas dari peralatan elektronik tersebut. 

Selain itu, saya pribadi butuh sesuatu sebagai pengalihan. Karena kami hanya tinggal berempat, otomatis ketika suami sedang keluar kota anak-anak hanya bersama saya. Kadang-kadang saya harus mengejar deadline atau melakukan pekerjaan rumah lainnya. Pada saat seperti itu, saya butuh gadget untuk membuat mereka diam dan tenang. Tanpa perlu saya terus menerus mengikuti aktivitas mereka yang memiliki ritme tinggi.

Kalaupun ada hal yang bisa kami lakukan untuk saat ini adalah membatasi, mengawasi dan mendampingi penggunaannya. Untuk itu pula kami tidak memberikan gadget khusus pada anak-anak, sehingga mereka harus meminjam kepada orang tuanya, khususnya pada saya. Selain itu, biasanya saya selalu memilihkan video, atau games yang akan mereka mainkan. Sehingga saya pun selalu tahu jenis tontonan seperti apa yang mereka lihat.


Dongeng, Cerita dan Anak Kinestetik Auditori


So Good Cerdik
Menonton dongeng melalui gadget lebih menarik dan sangat diminati anak-anak.

Mengasuh dua orang anak yang  memiliki kecenderungan kinestetik auditori. Mau tak mau membuat saya harus banyak mengajaknya beraktivitas. Andaikata saya ingin mereka duduk diam tanpa aktivitas fisik, maka dongeng atau buku cerita adalah senjata yang ampuh untuk digunakan. 

Saya bersyukur kedua anak saya memang sangat suka dibacakan buku cerita, atau diperdengarkan dongeng. Sampai-sampai saya sering kewalahan ketika harus melakukan pekerjaan saya sendiri, sedangkan Najwa dan Najib masih minta didongengi.

Pada kesempatan lain, saya sering "mati gaya", kehabisan ide cerita atau ekspresi yang mendukung acara mendongeng menjadi lebih atraktif. Akibatnya kedua anak saya pun menjadi bosan. Dan rasa bosan inilah yang sering kali membuat mereka berdua mogok untuk dibacakan buku atau diperdengarkan dongeng kembali. Kalau sudah begitu, ujung-ujungnya mereka akan minta gadget untuk bermain atau menonton youtube.


Keseruan Menonton Dongeng dengan Kartu Cerdik


So Good Cerdik
Aplikasi So Good Cerdik yang bisa diunduh via playstore

Nah, kebetulan banget, nih. Buat Teman-teman yang menjadi orang tua dari anak-anak generasi z. Terlebih menyukai aktivitas membaca atau diperdengarkan dongeng. Ada kejutan dari SO GOOD  yang berupa Cerita Digital Interaktif atau CERDIK. So Good Cerdik sendiri adalah aplikasi yang bisa diunduh melalui Google Play, yang menggunakan teknologi AR atau Augmented Reality. Di mana dalam teknologi AR ini benda maya 2 dimensi atau 3 dimensi dapat digabungkan dalam lingkungan nyata 3 dimensi. Selanjutnya, benda maya ini akan diproyeksikan kembali dalam sebuah situasi nyata. Jadi keren banget, dan kelihatan sangat hidup.

Cara memainkan SO Good Cerdik pun sangat mudah. Teman-teman hanya perlu mendownload aplikasi So Good Cerdik melalui smartphone, link-nya di sini. Kemudian scan (pindai) Kartu Cerita  yang didapatkan dari kemasan So Good siap makan.  Nah, begitu gambarnya sudah terproyeksi, maka Teman-teman tinggal tekan "mulai". Dan bersiaplah untuk berpetualang dengan dongeng yang terlihat sangat nyata.


Pilih "mulai" jika ingin menonton dongeng. Atau "resep" jika ingin mengetahui variasi masakan dengan So Good

Pilih judul dongeng sesuai Kartu cerita yang kita miliki

Scan Kartu cerita hingga muncul gambar 3 dimensi

Kartu Cerita So Good sendiri terdiri dari 3 cerita yang masing-masing terbagi dalam 2 bagian. Sedangkan kami kebagian kartu cerita yang berjudul "Lala dan Sing-Sing" part 2. Melihat keseruan dongeng pada bagian 2 ini, otomatis anak-anak ingin membeli So Good lagi karena penasaran dengan cerita pada bagian yang pertama.

So Good Cerdik
Kartu CERDIK yang terdapat dalam kemasan SO GOOD Siap Masak

Menonton Kartu Cerdik ini memang sangat mengasyikkan. Karena dalam satu kesempatan, anak-anak bisa membaca ceritanya, mendengarkan suaranya sehingga seperti diperdengarkan dongeng. Sekaligus menonton setiap adegan dalam cerita, layaknya menonton film.

Anak-anak pun menjadi semakin kritis dan banyak bertanya selama memainkan Kartu Cerdik. Karena tampilannya sangat menarik, maka rasa ingin tahu mereka pun  semakin menjadi-jadi. Kali ini saya kembali kewalahan menjawab seluruh pertanyaannya. Tapi hikmahnya kami pun semakin dekat, hangat dan melewati setiap acara menonton dengan penuh canda dan tawa.

Manfaat Bermain dengan So Good Cerdik

 

So Good Cerdik
Dengan So Good Cerdik, saya merasa lebih tenang saat harus mengalihkan aktivitas mereka dengan gadget.

 

Menggunakan Kartu Cerdik sebagai media menonton dongeng menurut saya bukanlah hal yang keliru. Malahan, saya dan anak-anak bisa dengan segera mengambil manfaatnya.

Bagi anak-anak yang sedang mengembangkan kemampuan berbahasa. Khususnya yang seumuran anak pertama saya si Najib, 3 tahun. Menonton dan mendengar dongeng seperti ini sangat bermanfaat untuk mendukung perkembangan berbahasa dan berbicaranya. Selain mendengar banyak kosakata baru, anak-anak juga mengembangkan daya imajinasi, melatih ekspresi dan intonasi berbicara. Selain itu mereka juga melatih konsentrasi dan pendengaran untuk menyerap informasi yang kemudian dituangkan lagi dalam bentuk peningkatan keterampilan berbahasa.

Sedangkan pada anak yang baru mengembangkan kemampuan membaca, seperti halnya Najwa. Jenis cerita pendek seperti ini sangat menyenangkan untuk diikuti. Selain mudah dan tidak rumit, anak dapat mengembangkan kemampuan membaca yang tidak sebatas melafalkan kata. Tapi juga menyerap informasi, menyimpulkan sebuah permasalahan dan menemukan solusi.


So Good Cerdik

Tidak hanya anak-anak, saya pun sebagai orang tua mendapatkan manfaat dari permainan Kartu Cerdik ini. Karena dalam setiap dongeng atau cerita yang ditampilkan, tak lupa selalu diselipkan nilai positif atau pesan moral untuk anak. Cara ini memudahkan saya untuk mengingatkan kembali pada anak-anak mengenai nasihat serta karakter positif yang sering kami temukan dalam berbagai bahan bacaan. Selain itu, saya pun dapat menggiring mereka untuk menemukan pesan kebaikan dalam setiap cerita, tanpa perlu mengurui, apalagi memaksakan pendapat.

Kartu Cerita dan aplikasi So Good Cerdik ini juga sangat membantu saya untuk memberikan tontonan yang aman melalui gadget. Karena seperti yang saya bilang tadi, anak-anak saya memang belum steril dari gadget. Oleh karena itu saya butuh lebih banyak konten yang mendidik dan ramah anak untuk memberikan rasa aman dan nyaman saat harus memberikan gadget pada mereka.

Di samping itu, momen tertawa, bertanya, berdiskusi  dan bercengkerama selama menonton Kartu Cerdik bersama anak merupakan quality time dan bonding yang baik pada masa awal kehidupan mereka, yang  saya yakin akan sangat kami rindukan suatu hari nanti. Karena masa kanak-kanak ini tidak akan berlangsung lama, dan segera setelah mereka beranjak remaja, maka anak-anak generasi z ini akan  sibuk dengan "dunia" mereka sendiri.

Ah, tiba-tiba saja saya menjadi melankolis saat membayangkan saat itu segera tiba. Mata saya pun mulai basah dan berharap mereka tidak dewasa terlalu cepat.

Oh ya, dalam aplikasi So Good Cerdik ini, kita juga akan mendapatkan variasi resep So Good, loh! Jadi paket komplit banget, kan. Anaknya happy, ibunya pun nggak kalah senang karena mendapatkan aneka variasi resep berbahan dasar So Good Siap Masak.

Variasi menu dengan bahan dasar So Good Siap Masak
Makanan olahan seperti So Good memang sangat cocok untuk anak. Karena empuk sehingga mudah dikunyah, selain itu rasanya gurih dan sangat membangkitkan selera. Biasanya saya selalu memiliki stok So Good Chicken Nugget original di dalam kulkas. Untuk saat darurat ketika kehabisan bahan makanan lain. Atau ketika butuh menyiapkan makanan dalam waktu singkat. Misalnya untuk bekal atau camilan.

So Good Cerdik
So Good Chicken Nugget original kesukaan anak-anak saya.

Nah, buat Teman-teman yang ingin menonton dongeng dengan aplikasi serupa. Langsung saja belanja So Good Siap Masak untuk mendapatkan Kartu Ceritanya. Jangan lupa unduh juga aplikasinya, dan bersiaplah merasakan keasyikan mendongeng untuk generasi z yang ada di rumah. Have fun!



*Postingan ini diikutsertakan dalam KEBxSOGOOD blog competition



Speech Delay dan Speech Disorder (Bagian 2) - Penyebab, Gejala dan Cara Menanganinya

|

speech delay
Pexels.com


Masalah speech delay dan speech disorder yang pada awalnya dianggap lebih banyak dialami anak laki-laki ketimbang anak perempuan. Ternyata tidak sepenuhnya benar. Fakta ini saya dapatkan setelah memposting artikel dengan tema serupa tapi khusus membahasnya dari segi anak laki-laki. Berdasarkan pengalaman saya bersama si kecil Najib yang memang cenderung telat berbicara dibandingkan kakaknya.

Saya banyak menerima komentar di blog dan juga inbox mengenai pengalaman orang tua dengan anak yang mengalami speech delay. Atau Teman-teman yang bersinggungan langsung dengan anak-anak speech delay, tapi tidak dengan jenis kelamin laki-laki. Atau lebih jelasnya, mereka yang kemudian saya ajak berdiskusi adalah orang-orang dengan pengalaman menghadapi speech delay pada anak perempuan.

Mengejutkan, karena pada awalnya saya lebih banyak menemukan kasus speech delay pada anak laki-laki. Tapi kemudian, berbekal sharing pengalaman dan membaca lebih banyak sumber bacaan mengenai speech delay atau speech disorder pada anak. Saya pun menemukan beberapa hal yang baik secara langsung ataupun tidak sengaja dapat menghambat perkembangan berbicara dan berbahasa anak. Beberapa di antaranya sebagai berikut:


Penyebab Speech Delay 


speech delay


1. Gangguan Pendengaran

Gangguan pendengaran jelas sangat mengganggu tahap tumbuh kembang anak.  Bagaimanapun juga, anak belajar dan menangkap memori berdasarkan apa yang didengarnya. Gangguan pada organ pendengaran mau tak mau memengaruhi informasi yang dapat diterima dan diolah otak, untuk kemudian dikeluarkan lagi dalam bentuk ucapan atau bahasa.

Gangguan pendengaran pada anak sendiri bisa disebabkan oleh beberapa hal. Misalnya trauma, infeksi baik saat masih dalam kandungan atau setelah lahir, kelainan bawaan, kelainan genetik, juga konsumsi obat-obatan pada ibu hamil.

Jadi ada banyak sekali penyebab gangguan pendengaran itu sendiri. Dan hal ini harus benar-benar diperhatikan orang tua bahkan sejak si kecil masih dalam kandungan.


2. Kelainan organ bicara

Kelainan organ bicara bisa berupa lidah pendek, kelainan bentuk gigi dan rahang bawah, bibir sumbing dan kelainan pada langit-langit mulut.

Pada anak yang memiliki lidah pendek, mereka cenderung susah menjulurkan lidah sehingga kesulitan mengucapkan beberapa huruf seperti "t", "n", "l". Sedangkan pada anak dengan bibir sumbing, sering kali mengalami penyimpangan resonansi berupa suara hidung pada huruf dengan tekanan tinggi. Misalnya "s", "k", "g". 

Berbeda dengan anak yang memiliki kelainan pada bentuk gigi dan rahang bawah, mereka cenderung mengeluarkan desah saat mengucapkan "f", "v", "s", "z", 'th".

Saya sempat menemukan kejanggalan pada anak perempuan saya, saat dia mengucapkan huruf  "s". Selain berdesah, Najwa mengucapkannya seperti "ets". Tapi seiring pertumbuhan giginya yang mulai rapi dan didukung pemeriksaan rutin pada dokter gigi, maka masalah itu pun kini mulai teratasi.

3. Kasus speech delay pada anak laki-laki

Hal ini sudah saya bahas pada artikel pertama. Bahwa anak laki-laki cenderung telat berbicara karena tabungan kosakatanya pun jauh di bawah anak perempuan.
Untuk penjelasan lebih detil mengenai speech delay pada anak laki-laki. Teman-teman bisa buka link di bawah ini.


4. Autisme

Pada anak yang memeiliki kecenderungan autisme, masalah perkembangan bicara dan bahasa sering kali menjadi momok dan dianggap sebagai gangguan yang berat. Memang saya menjumpai sejumlah anak dengan gangguan autisme mengalami permasalahan ini. Tapi tidak sedikit juga saya jumpai anak-anak dengan kecenderungan autisme memiliki kecakapan berbahasa yang jauh di atas rata-rata usianya.

Beberapa bahkan berbicara tema yang terlalu berat, berkomunikasi dengan bahasa asing, dan mampu mendeskripsikan segala hal yang ada dalam imajinasinya. Ya, memang hal ini tidak sepenuhnya sama pada setiap anak. Karena faktor pengasuhan yang didukung dengan terapi bisa jadi memberikan progres yang berbeda.

5. Kurang stimulus dari lingkungan

Sering kali orang tua menganggap anak bermasalah dalam mengembangkan kemampuan berbicara dan berbahasa karena ada "faktor x" pada dirinya. Padahal, tidak sedikit pula yang mengalami gangguan ini dikarenakan faktior yang tidak disengajakan. Contohnya karena kurang stimulasi dari orang-orang terdekatnya.

Tingkat kesibukan atau faktor sifat pendiam para orang tua sering kali membuat anak tidak mendapatkan ransangan untuk berbicara. Alih-alih berinteraksi dalam cerita atau obrolan, anak lebih banyak menghabiskan waktu dalam dunianya sendiri bersama mainan.

Pada beberapa kasus, penggunaan gadget atau menonton televisi yang terlalu berlebihan juga bisa memicu masalah ini. Untuk itu, perlu pendampingan dan batasan dari orang tua terkait segala hal yang menyebabkan anak sibuk dengan dunianya sendiri.

Beberapa pakar menyebutkan bahwa penggunaan dua bahasa juga dapat memengaruhi perkembangan bahasa anak. Terus terang saya belum menemukan masalah ini secara langsung. Hanya saja, rasanya masuk akal jika anak mengalami masalah berbicara karena "bingung kosakata". 

Untuk itu, ada baiknya menentukan bahasa mana yang digunakan dalam komunikasi sehari-hari, khususnya pada awal tumbuh kembang anak. Atau jika memang menghendaki menggunakan dua bahasa, ada baiknya tidak mencampur dalam satu kalimat utuh.

Masalah gangguan berbicara memang bisa dibilang mengkhawatirkan. Tapi, masalah ini sebenarnya bisa diamati dengan seksama, sebelum si anak benar-benar mengalami keterlambatan yang terlalu jauh  dari rentang usianya. Sekali lagi di sini orang tua memiliki peran yang sangat penting.

Orang tua disarankan untuk selalu memantau perkembangan anak terlebih pada awal kehidupannya. Antara usia 0 hingga 5 tahun yang merupakan masa-masa emas sekaligus masa krusial. Jika merasa menemukan sesuatu yang ganjil seperti beberapa hal berikut ini, maka orang tua bisa segera melakukan tindakan preventif. Apa sajakah itu?


Gejala Keterlambatan Berbicara yang Bisa Diamati

speech delay


Usia 1 tahun atau 12 bulan

Anak cenderung diam, tidak suka mengoceh atau mengucapkan apapun. Tidak merespon orang yang mengajaknya berbicara. Saat anak menginjak usia 1 tahun, setidaknya mereka mampu mengucapkan 1 atau 2 kata, mengenali nama , menirukan suara dan memahami perintah sederhana.

Usia 18 bulan

Masih diam dan tidak suka mengoceh. Idealnya, pada usia 18 bulan anak sudah memiliki sekirtar 5 hingga 20 perbendaharaan kata. Termasuk dapat menyebutkan nama atau sebutan bagi orang lain.


Usia 2 tahun

Belum mengucapkan kata dan lebih banyak menggumam atau menunjuk untuk berkomunikasi dengan orang lain.

Usia 2,5  tahun

Belum memiliki banyak perbendaharaan kata yang cukup dan cenderung berbicara dengan mengucapkan suku kata. Idealnya, pada usia ini anak sudah mengenali dan mampu menyebutkan anggota badan, mengenali warna dan dapat merangkai kalimat pendek dan sederhana.

Usia 3 tahun

Pada usia ini, saat orang tua merasa tidak mampu memahami apa yang anak ucapkan, maka tidak salah jika mulai merasa curiga. Bagi sebagian anak memang pengucapannya masih belum jelas karena masalah cadel, tapi ada juga yang tidak jelas karena ucapannya benar-benar tidak dapat dipahami.

Sekitar usia 3 tahun, anak sudah mulai bercerita sederhana. mereka mulai dapat mengungkapkan perasaan dan menceritakan kejadian yang dilihat atau dialaminya dengan kalimat pendek sederhana. Kosakatanya pun semakin banyak, sekitar 1000 kata.

Tapi kembali lagi, setiap anak memang unik. Begitu pun dengan tahapan tumbuh kembangnya yang bisa jadi juga berbeda satu dengan yang lainnya. Maka dari itu mengamatinya adalah hal yang mutlak dilakukan. Dan, apabila menemukan gejala tertentu yang dikhawatirkan dapat menghambat keterampilan berbicaranya, maka tak perlu menunda untuk melakukan penanganan.

Beberapa cara berikut dapat dilakukan untuk menstimulus dan mencegah terjadinya gangguan terlambat bicara agar tidak semakin larut.


Penanganan Speech Delay pada Anak 

speech delay

1. Membangun komunikasi dengan anak

Di luar adanya gangguan organ atau kelainan genetis, keterampilan berbicara merupakan suatu hal yang bersumber dari kebiasaan. Seperti yang kita tahu, anak kecil baru pertama memelajari segala hal, termasuk berbicara dan berbahasa.

Membangun komunikasi yang intens antara anak dan orang tua adalah salah satu cara yang paling mudah untuk mengenalkan pada mereka aktivitas berbicara. Mengenalkannya pada banyak kosakata baru, kalimat perintah sederhana, menambah informasi yang selanjutnya akan direkam dalam memori otak anak.

Cara ini sangat mudah ditiru anak. Bahkan, secara tidak langsung mereka akan belajar bagaimana mengekspresikan perasaan, mendeskripsikan keadaan, merangkai kata dalam kalimat. Bangun komunikasi dengan anak sejak sedini mungkin, atau bahkan sejak si kecil masih di dalam kandungan.

2. Tunjukkan orang tua "ada" baik raga maupun rasa 

Saat mengajak anak berkomunikasi, pastikan orang tua "ada", bukan sekedar raganya saja. Perasaan yang turut dihadirkan pada saat berbicara dengan anak secara tidak langsung menimbulkan rasa nyaman dan berarti bagi mereka. 

3. Mengulang dan megoreksi ucapannya

Jika anak sudah mulai bersuara, atau berbicara namun tidak jelas dalam pelafalannya. Maka usahakan selalu mengulang apa yang diucapkannya. Atau jika mereka menggunakan isyarat untuk menunjukkan suatu hal, pastikan orang tua memperjelas dengan kalimat.

Misalnya, si kecil menunjuk gelas, maka orang tua bisa mengucapkan, "Adik, minta minum?". Atau jika si kecil berkata, "Adik aem," maka ulangi dengan pelafalan yang lebih jelas untuk mencontohkan pengucapan yang benar. Seperti kata berikut, "Adik mau makan?" Dengan begitu anak akan terbiasa dengan pelafalan dan kosakata yang benar sekaligus memahami rangkaian kalimat sederhana.

4. Dampingi dan batasi penggunaan televisi dan gadget

Gadget dan televisi memang susah dipisahkan dari kehidupan kita. Saya pun mengacungkan jempol bagi keluarga yang berhasil membuat anak-anaknya steril dari kedua benda tersebut. Bagi saya pribadi memang sangat susah. Selain pekerjaan yang banyak saya handle dari gadget, televisi adalah salah satu pengalihan ketika saya harus mengerjakan satu atau 2 hal tanpa interupsi dari anak. 

Contohnya saat saya sedang mandi. Karena kami hanya tinggal berempat tanpa anggota keluarga lain, sehingga dalam banyak kesempatan saya hanya bersama anak-anak atau bahkan hanya dengan si bungsu yang masih batita. Saya sengaja membuat si kecil nyaman, tenang dan merasa punya teman saat harus sendiri dengan bantuan televisi. Tentu saja dengan program acara yang mendidik. 

Tapi, perlu diperhatikan seberapa sering dan berapa lama durasi waktunya. Baik penggunaan gadget atau menonton televisi saya tetap membatasi dan berusaha mendampingi. Sehingga tetap ada interaksi sekaligus menambahkan informasi yang dirasa perlu untuk mereka ketahui.

5. Paparkan pada aktivitas literasi

Tidak dapat dipungkiri, aktivitas literasi memang sangat menunjang perkembangan berbahasa anak. Kegiatan seperti membacakan buku cerita, mendongeng atau bernyanyi dianggap paling mudah dan menyenangkan. Selain terhibur, anak juga belajar banyak hal baru dari apa yang didengarnya. Cara ini juga sangat efektif untuk memasukkan nilai moral dan nasihat bagi mereka.

6. Melakukan pemeriksaan kepada ahlinya

Untuk keterlambatan berbicara yang disebabkan gangguan organ pendengaran, kelainan pada organ mulut atau  kecenderungan autisme. Maka berkonsultasi dengan ahli medis merupakan cara yang paling tepat. tentu saja tetap dengan stimulus yang bisa dilakukan di mana saja. Tapi orang tua perlu mendengarkan langsung bagaimana penanganan yang tepat secara medis. Termasuk jika harus ada tindakan atau terapi.

Hem, lumayan banyak juga yang harus diperhatikan pada tahap awal tumbuh kembang anak. Karena masa-masa ini memang sangat kritis sekaligus masa emasnya. Kelalaian sedikit saja bisa berakibat fatal dan berdampak besar pada masa depan anak.

Yang penting harus tetap semangat menjadi orang tua. Tidak lelah belajar dan mencoba. Bagaimanapun juga tidak ada satu sekolah pun untuk menjadi orang tua teladan. Dan tidak semua teori bisa dan cocok diterapkan pada anak-anak kita.

Belajar dari pengalaman orang lain dan menambah informasi merupakan salah satu cara untuk membekali diri dalam merawat anak-anak. Tapi pastikan kita menyadari keunikan anak-anak kita. Sehingga kita pun harus siap menjadi orang tua yang unik tanpa perlu merasa tertekan dengan orang tua yang lain.


(Referensi : Ayahbunda.com, Mom and Kiddie, TheAsianparents, Mommiesdaily, Alodokter.)
 






Custom Post Signature

Custom Post Signature