Parenting, Family Traveling, Woman Story

Menua bersama Kereta Api yang Terus Diremajakan

|



Sebulan sekali setiap akhir pekan, saya dan ibu tak pernah absen dari kereta api Mutiara Selatan. Tujuan kami adalah Stasiun Kereta Api Kiaracondong, Bandung. Dulu, saat saya masih kecil dan almarhum papa masih ada, setiap 2 minggu sekali kami begantian saling mengunjungi. Tentu saja hanya saya yang selalu diajak serta oleh ibu. Sedangkan 2 kakak saya ebih sering ditinggal karena sudah sekolah.

Rutinitas seperti ini kemudian berakhir saat usia saya menjelang 6 tahun. Ibu mengandung anak keempat atau calon adik saya. Karena itu kami cenderung mengurangi perjalanan jauh apalagi dengan intensitas yang bisa dibilang terlalu sering. Sebagai gantinya, papalah yang lebih sering pulang ke Magetan.



Dulu, berkendara kereta tentunya tak senyaman zaman sekarang. Terlebih jika menggunakan kelas ekonomi. Saling berebut tempat duduk bahkan berbagi tempat pijakan berdiri dengan pedagang asongan adalah hal yang biasa. Belum lagi jika harus menahan hasrat buang air. Saya yakin setiap orang yang pernah menjadi pengguna kereta api pada masa itu, rela menunggu hingga sampai di stasiun berikutnya. Karena toilet kereta pun tak urung menjadi sasaran penumpang yang membludak.

Pengalaman berkereta dengan kondisi seperti ini masih terus saya rasakan hingga beberapa tahun berikutnya. Bisa dibilang, kereta api adalah moda transportasi yang sudah menjadi langganan kami sekeluarga. Selain harga tiketnya yang memang sangat terjangkau, lokasi rumah kami memang tidak terlalu jauh dari Stasiun Kereta Api Madiun, salah satu stasiun kelas besar yang melayani rute perjalanan baik jalur utara maupun selatan.

Setiap acara berkunjung ke rumah saudara baik itu yang di Jakarta, Tasikmalaya, Banyuwangi, Jember ataupun Yogyakarta. Maka ritual berburu tiket kereta selalu kami lakukan. Bedanya, pada masa-masa itu berapapun tiket yang kita butuhkan, kita pasti mendapatkannya. Bahkan jika harus membelinya secara mendadak beberapa menit sebelum keberangkatan.

Maka tak mengherankan jika kereta api selalu penuh sesak dan berdesakan. Hal ini mungkin dikarenakan kapasitas tiket penjualan tidak dibatasi sesuai jumlah tempat duduk. Bahkan, calo pun bisa dengan mudah berkeliaran dan memperjual belikan tiket kepada calon penumpang.

Sungguh tidak nyaman, tapi entah mengapa kereta api tetap menjadi primadona. Kondisi  seperti ini semakin parah menjelang liburan atau mudik lebaran sebagai puncaknya. Berebut tiket kereta adalah hal yang tidak dapat dihindarkan. Bahkan menjadi peluang besar bagi calo untuk menaikkan margin keuntungannya. Yang namanya tiket mudik, harga berapapun orang pasti mau membelinya, kan?

Hari berganti tahun berselang. Saya pun menua, namun masih menjadi pengguna setia moda transportasi ini. Bedanya, kali ini saya berkereta untuk urusan pekerjaan. Yang mana seluruh akomodasi bukan lagi menjadi tanggungan saya. Kereta api kelas eksekutif pun mulai  sering saya jelajahi. Jika harus bertugas ke Jakarta, Bima atau Bangunkarta selalu menjadi pilihan. Jika harus ke Bandung, maka Turangga yang selalu mengantarkan.


PT. KAI
Acara jalan-jalan bersama teman juga selalu mengandalkan kereta api.


Saya semakin menikmati kenyamanan berkereta. Tentu saja karena kereta jenis eksekutif yang menjadi tumpangan saya. Itu pun hanya jika mendapatkan akomodasi dari kantor tempat saya bekerja. Selebihnya, jika harus berkereta karena untuk urusan pribadi, maka kembali lagi saya harus siap berdesakan.  Kereta Sri Tanjung, Pasundan, Kahuripan, Gaya Baru atau Matarmaja yang biasanya menjadi saksi bisu  perjalanan.

Rupanya, cerita saya dan kereta api Indonesia tak berhenti sampai di situ saja. Tahun 2010 saya menikah dan terpaksa harus menjalani hubungan jarak jauh dengan suami. Suami pun dengan serta merta menjadi penumpang setia kereta api jurusan Madiun – Jakarta. Dua kali dalam sebulan di akhir pekan, dia harus mempercepat langkah menuju Stasiun Gambir atau Pasar Senen untuk berebut tiket bahkan tempat duduk di kereta. 

Jika nasib sedang apes, berdiri  berjam-jam hingga terkantuk-kantuk di lorong bordes adalah hal yang biasa. Lebih parah lagi jika harus berbagi tempat di depan toilet kereta. “baunya luar biasa!”, begitu suami sering mengeluhkannya.

Sebenarnya, rasa kurang nyaman berkereta tidak hanya karena gerbong yang selalu penuh sesak dengan penumpang. Namun kondisi stasiun yang tidak steril dari pengunjung turut memberikan kontribuasi besar. Selain penumpang, pedagang asongan, potter, pengantar penumpang, bahkan siapapun bisa dengan leluasa masuk atau tiduran di bangku-bangku di dalam stasiun. Hal ini jugalah yang menyebabkan tingkat keamanannya rendah. Maka pencopet pun bisa dengan leluasa melancarkan aksinya pada masa-masa itu.

Tapi, semua cerita itu hanya akan menjadi kenangan bagi saya ataupun teman-teman pengguna setia moda transportasi kereta api. Kondisi gerbong kereta yang penuh sesak, stasiun yang lebih mirip seperti pasar, atau aksi calo tiket merayu calon penumpang kereta tinggallah cerita saja.



PT. KAI
Sedang menuju Bandung dengan kereta Argo Parahyangan

mudik dengan kereta
Libur akhir tahun 2016, dengan alasan ekonomis kami memilih kereta Gaya Baru untuk pulang ke Magetan.

 

PT. KAI berbenah secara besar-besaran. Bukan menua seperti halnya saya yang terus bertambah usia, tapi menjadi semakin “muda” dengan berbagai peremajaan dan perbaikan di berbagai sektor pelayanan. Sistem pembelian tiket secara online merupakan salah satu pendobrak yang membuat industri perkeretaapian tidak hanya layak dijadikan andalan, tapi juga juara.

Kini, membeli tiket kereta semudah menggoyangkan jempol, karena pelanggan bisa melakukannya secara online dari gadget saja. Sistem ini memang bukanlah hal yang baru. Kalau tidak salah, sejak tahun 2012 atau sebelumnya PT. KAI telah memberlakukan sistem ini secara luas. Tidak terbatas sampai di situ, pembelian tiket secara online pun dapat dilakukan di berbagai merchant yang sudah bekerja sama dengan PT. KAI. Hal ini tidak hanya memudahkan, tapi juga memberikan keleluasaan bagi pelanggan untuk bertransaksi di tempat yang biasa menjadi langganannya.

Di samping itu, identitas seluruh penumpang pun terdata dengan detil. Karena pada saat pembelian tiket, calon penumpang harus menyertakan nomor identitas yang berlaku. Bahkan, sekitar awal tahun ini PT. KAI telah memberlakukan sistem boarding seperti halnya penumpang pesawat terbang. Sehingga calon penumpang lebih tertib dan tepat waktu.

Perbaikan yang terus dilakukan di industri perkeretaapian tentu saja mendapatkan respon yang sangat positif dari pelanggan. Hal itu pulalah yang menjadikan pengguna jasa kereta api meningkat tajam. Tak lagi menjadi primadona, kereta api sudah seperti andalan bagi masyarakat.

Sayangnya, hal ini berimbas pada sulitnya mendapatkan tiket untuk perjalanan yang sifatnya dadakan. Maka tradisi berburu tiket 90 hari sebelum keberangkatan sepertinya menjadi satu agenda khusus yang wajib dicatat para pemburu tiket kereta, seperti halnya saya.

Tidak hanya saat berburu tiket mudik, bahkan untuk bepergian saat hari libur sekolah atau libur nasional pun kita harus merencanakannya sejak jauh-jauh hari. Tengah malam menjelang pergantian tanggal yang terhitung 90 hari dari jadwal keberangkatan, maka para pemburu pun harus siap di depan gadgetnya untuk segera memesan kereta yang diinginkan.

 

mudik dengan kereta api
Mudik lebaran 2017 terpaksa lebih awal karena tidak kebagian tiket menjelang hari H

Itu pun sifatnya masih untung-untungan. Karena 3 kali hari raya saya gagal mendapatkan tiket sesuai jadwal libur hari raya,  meskipun sudah siap sejak sebelum pukul 12 malam. Bisa jadi hal ini dikarenakan tanggal keberangkatan dan stasiun tujuan yang saya pilih memang juga menjadi pilihan ribuan  calon penumpang lainnya. Namun kejadian yang terus berulang seperti ini, dan tidak hanya saya yang mengalami, seharusnya mendapatkan perhatian khusus dari PT. KAI.  

Menurut saya pribadi, sebagai pengguna kereta api sejak zaman anak-anak hingga sekarang menua dan beranak dua. Secara keseluruhan, fasilitas perkeretaapian tidak hanya telah membaik. Namun jauh lebih baik dan layak diberikan penghargaan. 

Mulai dari sistem pembelian tiket,  kebersihan di dalam kereta, kebersihan toilet, keamanan dan kenyamanan baik di stasiun maupun di dalam gerbong kereta. Fasilitas ruang tunggu yang semakin baik meskipun pada hari-hari khusus kerap tidak mampu menampung. Ketersediaan ruang laktasi, maupun SDM PT. KAI . Hampir semuanya mengalami kemajuan yang sangat signifikan. Ya, saya bisa bilang PT. KAI tidak hanya berbenah, tapi berubah secara besar-besaran.


Tapi, kalau boleh sumbang saran sedikit. Saya dan mungkin ribuan calon penumpang yang lainnya masih terus bermimpi mendapatkan tiket kereta semudah mendapatkan tiket pesawat atau bahkan moda transportasi yang lain. Tak perlu berburu sejak 90 hari sebelum keberangkatan, bahkan masih dengan risiko “dikacangin”.
 

Saya terus berharap penambahan jumlah armada kereta sehingga daya angkutnya bisa  lebih besar. Wajar, kan? Mengingat kereta api selalu laris dan diburu. Maka sudah sepantasnya jika armadanya pun terus diupayakan untuk ditambah.

Di samping itu, saya berharap sterilisasi kondisi stasiun dibarengi dengan jumlah potter yang sebanding, dan stand by 24 jam khususnya pada jam-jam kedatangan kereta.  Hal ini dikarenakan saya, dan ratusan penumpang lainnya, terutama ibu-ibu  yang membawa anak kecil atau balita. Sering kali mengalami kesulitan untuk naik ataupun turun dari kereta  karena tidak ada tenaga yang membantu. 

Kalau dulu, kan,  bisa dibantu pengantar. Kalau sekarang jadi lumayan merepotkan terlebih jika turun di stasiun kecil yang tidak memiliki tenaga potter yang stand by 24 jam.

Untuk kebersihan sendiri saya rasa sudah cukup, terlebih untuk bagian dalam gerbong kereta. Hanya saja, untuk masalah toilet memang selalu butuh perhatian lebih. Mengingat penggunanya bukan hanya 1 atau 2 orang, melainkan puluhan. Mungkin intensitas pengecekan dari petugas perlu diperpendek jaraknya. begitu pun pasokan air saya harapkan selalu penuh. Sehingga tak khawatir tak dapat menyentor bekas buang air.

Saya yakin,  sedikit perbaikan lagi akan menjadikan industri perkeretaapian Indonesia semakin juara. Bahkan layak untuk segera disandingkan dengan kereta api di luar negeri sana pada masa depan.  

Fakta bahwa kereta api menjadi salah satu transportasi yang digemari karena murah, anti macet dan nyaman. Akan tak terbantahkan lagi seiring dengan meningkatnya jumlah armada yang dibarengi semakin besarnya daya angkut bahkan pada hari-hari khusus yang biasanya selalu padat.

Ayo berkereta! Ayo naik kereta!



Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Karya Tulis KAI di Masa Mendatang.




Cara Aman Merawat Kulit Bayi Tetap Sehat

|
Lactacyd baby
Gambar : Pixabay.com

Pengalaman menangani gangguan kulit pada anak pertama yang begitu  sensitif dengan perubahan suhu udara bisa dibilang tidak mudah. Si Najwa lahir dan tinggal di Magetan yang notabene daerah pegunungan. Langsung terserang biang keringat lumayan parah saat kami sekeluarga memutuskan hijrah ke ibukota. Belum lulus adaptasi dengan lingkungan sosial yang baru, Najwa harus berjuang melawan suhu udara Jakarta yang lebih sering panas ketimbang sejuk.

Berbekal pengalaman ini, kami pun memutuskan melahirkan anak kedua di Jakarta. Dengan alasan agar lebih mudah beradaptasi sejak awal. Tapi, teori memang selalu tak seindah kenyataan. Najib yang kami gadang-gadang bakal punya “kulit badak”. Ternyata tak luput juga dari gangguan kulit akibat biang keringat.

Meskipun berjenis kelamin laki-laki, kulit Najib cenderung lebih sensitif dibanding kakaknya. Pernah suatu ketika muncul bentol-bentol merah tanpa kami ketahui penyebabnya. Dan kemudian hilang dengan sendirinya setelah 3 sampai 4 hari tanpa kami obati secara khusus.

Pernah juga beberapa kali mengalami ruam popok saat suhu udara Jakarta sedang meningkat.  Usut punya usut,  hmasalah inipun bukan disebabkan merk diaper yang digunakan. Karena pada saat suhu udara normal, si kecil tak bermasalah dengan diaper jenis apapun yang digunakannya.

Masalah biang keringat ini terus berlanjut hingga si kecil bertambah usia. Beberapa kali saya coba melakukan perawatan dengan bahan-bahan alami. Misalnya dengan merebus Kayu Secang untuk campuran air mandi. Kayu secang yang memiliki zat antibakteri alami, dipercaya mampu mengurangi rasa gatal pada kulit.  Memang akhirnya sembuh, sih. Tapi agak repot juga ketika biang keringat ini kambuh saat bepergian. Kurang praktis lebih tepatnya. Nggak mungkin juga, kan, kalau harus rebus Secang di penginapan?

Kami pun berinisiatif melakukan pemeriksaan ke DSA untuk mengetahui  penyebab pasti gangguan kulit ini secara medis. Dokter pun meng-iyakan bahwa  faktor cuacalah yang menjadi pemicu utama. Kondisi kulit Najib memang sangat sensitif, sehingga sangat mudah mengalami biang keringat atau ruam ketika terpapar panas atau lembab terlalu lama.

Saat itu DSA tidak meresepkan obat apapun untuknya. Oleh karena itu kami teruskan melakukan perawatan sehari-hari seperti biasa. Tapi, tentu saja dengan lebih memerhatikan faktor kebersihan dan kenyamanan kulitnya.

Namun, masalah kembali terjadi sekitar satu bulan yang lalu. Saat itu bagian kulit punggung yang biasa terserang biang keringat nggak hanya beruntusan atau gatal. Tapi terlihat sedikit basah, merah dan si kecil mengeluhkan  perih. Kondisi ini semakin buruk karena area di sekitarnya terasa gatal. Sehingga reflek si kecil selalu ingin menggaruk, tapi juga terus menangis karena kesakitan.

Merawat biang keringat pada bayi
Kondisi punggung Najib saat biang keringat.
Kami tak dapat menunda lagi untuk melakukan pemeriksaan yang kedua.  Kali ini kami kembali membawanya ke DSA yang selama ini memantau tumbuh kembangnya. Diagnosanya pun masih sama. Gangguan kulit ini dikarenakan biang keringat akibat perubahan cuaca. Hanya saja kali ini sudah terinfeksi, sehingga menjadi luka.

Usut punya usut, saya baru sadar bahwa dua hari sebelumnya si kecil tidur siang di lantai dan hanya beralaskan karpet. Berulang kali pula saya melihat si kecil menggosok-gosokkan punggungnya yang gatal pada karpet. Mungkin untuk mendapatkan sensasi seperti digaruk, sehingga membuatnya nyaman.

Tapi karena kondisi kulit sedang sensitif, ditambah kebersihan karpet yang mungkin saya khilaf tidak memerhatikannya. Jadilah rasa nyaman karena sensasi garukan ini menjadi petaka. Ujung-ujungnya biang keringat berbuah infeksi ringan.

Kali ini DSA kembali tidak meresepkan obat atau salep untuk dioleskan. Tapi sebagai gantinya, penggunaan Lactacyd Liquid Baby sangat disarankan. Kami pun bergegas membelinya di apotik terdekat, dan segera mengaplikasikannya secara rutin untuk menjaga kulit bayi tetap sehat.



Cara merawat kulit bayi


Oh, ya, saya pun akhirnya penasaran. Mengapa harus Lactacyd Baby yang digunakan. 

Ternyata, Lactacyd Baby mengandung Lactoserum dan Lactic Acid yang berasal dari ekstrak susu.  Untuk penggunaan harian, produk ini sangat aman untuk bayi dan anak-anak. Baik untuk sabun badan, bahkan untuk merawat kulit kepala. 


Cara penggunaannya pun sangat mudah. Kocok ringan sebelum digunakan. Untuk anak-anak, cukup digunakan seperti penggunaan sabun cair biasa. Sedangkan untuk penggunaan pada bayi. Cukup melarutkan sekitar 5 ml cairan Lactacyd Baby dengan air mandi pada wadah yang biasa digunakan. Setelah digosok dengan lembut pada kulitnya, kemudian bilas dengan air bersih seperti biasa.


Lactacyd baby
Cara pemakaian Lactacyd Baby

Kandungan alami dari ekstrak susu serta formulasinya yang mengandung pH seimbang sangat sesuai dengan kebutuhan kulit bayi. Selain itu, produk ini telah teruji secara dermatologi sehingga dapat digunakan setiap hari. Bahkan dianjurkan penggunaan  2 kali dalam sehari pada saat kulit sedang mengalami gangguan.


Selain itu, Lactacyd Baby merupakan brand internasional yang sudah sangat terpercaya untuk menjaga kulit bayi untuk iritasi ringan. Perihal ini pun saya mendapatkan testimoninya dari kakak-kakak saya yang sudah lebih dulu menggunakan pada bayi-bayi mereka. Dan mereka pun menyatakan puas dengan hasilnya.

Merawat biang keringat pada bayi
Kondisi kulit Najib setelah memakain Lactacyd Baby


Pengalaman serupa kini sedang saya alami. Kondisi kulit Najib berangsur-angsur membaik. Meskipun masih meninggalkan bekas noda, tapi setidaknya kami tak perlu khawatir lagi ketika mengalami gangguan kulit serupa. Karena telah menemukan rahasianya agar kulit bayi tetap sehat.

Di samping penggunaan Lactacyd Baby sebagai skin care harian. Kami pun memberikan perhatian ekstra terhadap kondisi kulit anak-anak dengan melakukan beberapa cara berikut:


Mencegah biang keringat pada bayi


Nah, mudah bukan? Cara ini bisa diterapkan setiap hari, nggak perlu menunggu hingga si kecil terserang biang keringat, ruam popok atau bahkan mengalami infeksi. Dan, jangan lupa gunakan baby skin care yang telah teruji secara klinis aman, dan terpercaya sebagai salah satu rahasia merawat kulit bayi tetap sehat.

Keep healthy and happy, ya!






Ayam Geprek Ala BukNaj

|


Resep Ayam Geprek


Sabtu pagi sengaja bermalas-malasan di depan lappy. Setelah blogwalking, balas WA, cek FIGjuga FB. Iseng-iseng saya mampir ke JTT. Pada tahu, kan? Just Try and Taste, food blog yang legend banget itu. Kalau nggak salah, saya mulai follow blog ini pada tahun 2013. Dulu cuma suka baca-baca saja, karena masih minim semangat untuk mempraktikkan resep-resepnya. Tapi sekarang kesempatan mulai ada. Sebenarnya, sih, lebih tepat disebut kepepet butuh masak buat bekal Najwa. Jadi ambil positifnya saja, kepepet yang jadi kesempatan untuk belajar hal baru.

Resep pertama yang saya coba dari JTT adalah Fudgy Brownies. Saya ingat banget rasanya super nyoklat. Duh,  malah jadi kepikiran mau praktik lagi. Setelah itu saya nyoba bikin Puding Roti Tawar, Nastar sama Putri Salju. Sayangnya, selama ini sifatnya selalu coba-coba. Jadi nggak ada greget mendokumentasikan karya.

Baru hari ini belajar ala-ala food blogger gitu. Mulai tahap awal menyiapkan bahan, saya sudah berniat untuk mendokumentasikannya. Ya, itung-itung buat dokumentasi pribadi aja, sih. Biar nggak lupa kapan pertama kali nyobain resep ini dan itu.


Mata saya pun tertuju pada resep Ayam Geprek di blog JTT. Merah cabainya, ketemu ayamnya yang crispy, kayaknya bakalan sedep untuk menu makan siang. Ditambah lalapan timun, kemangi, kacang panjang dan terong. Pasti tambah segar, pas banget sebagai pengisi perut di tengah cuaca Jakarta yang super panas.

Tanpa berpikir panjang, saya pun langsung mematikan lappy, berganti pakaian dan berangkat belanja ke warung dekat rumah. Tujuan utamanya membeli ayam dan lalapan, karena untuk bumbu yang lainnya saya sudah siap di rumah. Etdah gayanya siap, hehehe. Karena bumbunya memang minimalis dan simple banget, itu sebabnya ready di rumah dan  saya pun tertarik untuk mencoba.

Nah, di sini saya bagi resep Ayam Geprek ala BukNaj, alias saya. Lah! ngapain pakai istilah ala BukNaj? Simple aja, sih. Karena resep ini sudah saya modifikasi sesuai kemauan saya tapi atas saran si empunya blog juga, sih. Ada beberapa bahan yang saya skip dengan maksud lebih praktis. Hehehe, ketahuan , kan? Sebenarnya, sih, karena saya malas berlama-lama di dapur. Karena panas bin malas.

Buat Temans yang kepengen resep aslinya, sila buka di link berikut ya.


Resep Ayam Geprek ala BukNaj

Bahan

½ ekor ayam negeri, potong jadi 2 atau 3.

Bumbu

1. 2 bungkus tepung bumbu serbaguna.
2. Cabai merah keriting sesuai selera
3. Cabai rawit merah sesuai selera
4. 1 siung bawan putih
5. 2 sendok makan terasi yang sudah digoreng sangria/ dipanggang
6. Garam secukupnya
7. Gula merah secukupnya.
8. Jeruk nipis
9. Jeruk limau
10. Minyak untuk menggoreng ayam

Bahan pelengkap

1. Aneka macam sayuran mentah untuk lalap, sesuai selera
2. Nasi putih
Cara  memasak

1. Cuci bersih ayam negeri yang sudah dipotong menjadi 2 atau 3 bagian. Pada bilasan terakhir, baluri dengan air jeruk nipis untuk menghilangkan bau amis.

Resep Ayam Geprek

2. Tiriskan ayam dan sisihkan.
3. Siapkan 2 wadah untuk tepung serbaguna. 1 wadah untuk balura/ adonan basah, sedangkan wadah yang lain untuk tepung kering.
4. Tuang adonana/baluran basah pada ayam, ratakan hingga seluruh bagian ayam tertutup adonan.


Resep Ayam Geprek

5. Gulingkan ayam yang sudah dibaluri dengan adonan basah pada tepung kering.

Resep Ayam Geprek

6. Panaskan minyak goreng, usahakan minyak yang digunakan agak banyak, sehingga ayam terendam dalam penggorengan.
7. Masukkan ayam yang telah dibaluri tadi ke dalam minyak yang sudah panas.
8. Goreng hingga kuning kecoklatan atau sesuai selera. Angkat dan tiriskan.
9. Siapkan bahan untuk sambal korek. Cabai merah keriting, cabai rawit merah, bawang putih, garam, gula merah, terasi. Haluskan menggunakan coek dan uleg-an.


Resep Sambal Korek

10. Panaskan kembali minyak bekas menggoreng ayam. Setelah benar-benar panas, ambil sedikit lalu siramkan ke atas sambal korek yang telah halus. Nanti akan terdengar suara cess… Cara ini akan membuat sambal menjadi setengah matang dan aromanya semakin merebak.
11. Ambil ayam yang sudah digoreng, letakkan di atas sambal korek lalu geprek/ penyet hingga ayam tercampur pada sambal.


Resep Ayam Geprek

12.Garnish dengan kemangi dan jeruk limau untuk menambah aroma segar, sekaligus sebagai lalapan. Sedangkan jeruk limau bisa diperas di atas sambal sebelum atau sesudah ayam digeprek.


Gampang banget, kan? Iya, donk, karena resep Ayam Geprek ini sudah benar-benar saya sederhanakan. Penggunaan tepung serbaguna telah memangkas waktu untuk mempersipkan bumbu halus. Secara otomatis, bahan yang digunakan pun menjadi lebih minimalis.

Sedangkan penggunaan jeruk limau, terasi dan gula merah. Sifatnya suka-suka saja, sesuai selera masing-masing. Kalau keluarga saya memang terasi minded, jadi susah mau skip bahan yang ini.

Hidangan Ayam Geprek ini sangat cepat disiapkannya. Tidak lebih dari 30 menit untuk menyajikannya hingga sampai di meja makan. Soal rasanya, hem,… mantap! Cocok banget sama lidah kami yang doyan sambal plus lalapan. Ditambah nasi putih hangat, ayam satu coek langsung kandas, hanya tersisa tulangnya saja.

Resep Ayam Geprek


Teman-teman juga pasti pernah berkreasi dengan ayam, kan? Boleh, dong, sharing resepnya. Happy cooking!


-DNA-

Berburu Calon Warisan di Indonesia International Book Fair 2017

|


www.damaraisyah.com


Wanita mana yang nggak suka diskon? Apalagi barang-barang yang didiskon itu bisa jadi warisan dan investasi jangka panjang untuk otak. Ya, benar, barang diskonan itu adalah buku. Yang sedang saya rencanakan sebagai salah satu warisan untuk DuoNaj kelak. 

Saya selalu membayangkan, suatu hari nanti Najwa atau Najib membaca koleksi buku-buku Andrea Hirata milik saya. Mulai Laskar Pelangi sampai Sirkus Pohon yang baru minggu lalu saya beli. Atau Harry Potter yang selalu membuat saya berdecak kagum pada pengarangnya yang maha imajinatif. 


Buku-buku fiksi dan nonfiksi inspiratif, buku-buku antologi yang mencatat nama ibunya sebagai salah satu kontributor. Atau buku karya teman-teman saya yang bertengger baik di rak-rak toko buku ternama, atau yang memang diterbitkan secara indie. Ada novel sastra Okky Madasari, sampai buku panduan menjadi happy mom ala Bety Kristianto. Dan masih banyak nama lain yang terlalu panjang jika disebutkan satu-persatu di sini.


Semua itu hanyalah sebagian warisan buku dari saya. Sedangkan dari ayahnya, jangan ditanya lagi. Mulai novel sastra milik Pram yang melegenda, novel bergenre agama karangan Cak Rusdi Mathari, buku politik yang bikin geregetan, sampai buku buku hukum yang tak terhitung jumlahnya.

Etapi kami tidak sedang menggiring anak-anak bergelut di dunia hukum atau politik, loh. Semua itu hanya sumber bacaan, investasi leher ke atas, dan warisan yang kami harap suatu saat mengisi sudut-sudut rumah mereka. Jikalau memang salah satunya memiliki passion yang sama dengan saya atau ayahnya, of course it won't be a problem.


www.damaraisyah.com


Di samping semua koleksi calon warisan itu, pastinya DuoNaj memiliki koleksi mereka sendiri. Buku cerita anak, dongeng Disney yang termasyur sepanjang masa, hingga buku nonfiksi yang menambah khasanah pengetahuan mereka tentang alam dan segala ciptaan Yang Mahakuasa. 

Tak ketinggalan novel Totto Chan yang pada ulang tahun Najwa yang ke-5 sudah saya wariskan padanya. Dulu, saya pernah berjanji pada Najwa. Begitu kakak bisa membaca, maka novel kesayangan ibuk ini akan berpindah tangan menjadi miliknya. Mungkin kata-kata saya membuatnya terpesona atau terharu lebih tepatnya, sampai-sampai Najwa sangat menyukai buku itu hingga sekarang.


Balik lagi masalah diskonan buku. Minggu lalu kami sekeluarga mengunjungi Indonesia International Book Fair (IIBF) di Jakarta Convention Centre. Demi alasan lebih fleksibel, kami bela-belain bermotor ria dengan lama perjalanan hampir satu setengah jam dari rumah sampai lokasi pameran. 

Acara yang sudah diselenggarakan sejak tanggal 6 September ini, diikuti kurang lebih 20 negara dengan diskon buku yang ditawarkan sampai lebih dari 70%. Wow! Mana tahan kalau nggak nyambangi langsung ke TKP yang sebenarnya lumayan jauh dari rumah.

www.damaraisyah.com


Puluhan stan buku dari berbagai penerbit dalam maupun luar negeri ada di sana. Kami yang datang bersama balita tentu saja tak mampu mengunjungi semuanya. Selain areanya penuh sesak dengan pengunjung yang tak mau ketinggalan berebut buku murah berkualitas. Rombongan pelajar yang mengikuti Wisata Literasi, dan peserta aneka diskusi serta bedah buku semakin menambah riuh suasana  pameran yang sudah seperti surga literasi.

Acara yag diselenggarakan IKAPI dan didukung sepenuhnya oleh BEKRAF ini tidak hanya memberikan peluang pada penerbit untuk menggelar lapak dan memuaskan pembelinya dengan diskon besar-besaran. Tapi juga memberi kesempatan bagi penulis untuk bertemu dengan penggemarnya,  me-launching dan  membedah bukunya, bahkan acara talk show atau sharing session nampaknya juga sangat diminati pengunjung pameran.

 

www.damaraisyah.com

Salah satu stan yang lumayan mencuri perhatian adalah stan milik KPK. Ya, pada kesempatan itu KPK memang berusaha mengedukasi masyarakat tentang korupsi dengan menggelar stan yang variatif bahkan interaktif dengan pengunjung bazar. Stand KPK menyediakan aneka bacaan yang mengedukasi kejujuran. Ada juga mainan edukatif, di mana sambil bermain anak-anak akan “disuapi” pendidikan moral khususnya tentang berlaku jujur.

Menariknya, beberapa buku edukasi tersebut ditulis oleh nama-nama yang sudah tidak asing di dunia  blogging. Misalnya Mbak Ina Inong, Bang Aswi, Nia K. Haryanto dan beberapa nama lain yang sering kita jumpai saat blog walking.

Karena tak mampu menjangka semua stan, kami pun segera menuju stan penerbit yang memang sudah menjadi incaran. Di antaranya Erlangga, Mizan, Gramedia dan Kompas, Yayasan Obor, Penerbit Buku Indie, Rabbit Hole dan Kinokuniya Book. Stand Mizan lah yang akhirnya paling sukses membobol pertahanan iman.

www.damaraisyah.com


Lelah dan lapar perut yang semakin membuat kami “lapar mata” mau tak mau memaksa kaki untuk berjalan menuju pintu keluar. Tak dinyana, di stage dekat pintu keluar sedang berlangsung dialog interaktif dengan nara sumber Bapak Triawan Munaf, Ketua Badan Ekonomi Kreatif, Indonesia. Sosok yang lumayan inspiratif yang akhirnya memaksa kami singgah sebentar untuk mendengarkan pemaparan darinya, dan tentu saja mengambil foto sebagai dokumentasi.

Penting juga baca yang ini: Dari Rumah untuk Generasi Doyan Baca

Hampir setengah hari kami habiskan dengan membelah jalanan Jakarta dan berdesakan di area IIBF 2017 di selenggarakan. Akhirnya, menjelang magrib kami putuskan untuk pulang. Terbayar sudah lelah dan panas dengan beberapa buku yang menjadi pilihan kami masing-masing.  Kesenangan itu pun bertambah ketika memandangi rak buku di rumah dengan koleksi calon warisan yang jumlahnya terus meningkat.



-DNA-




Dari Rumah untuk Generasi Doyan Baca

|



Budayakan membaca

Keterampilan membaca yang merupakan salah satu dasar dari pengembangan kemampuan akademis dan non akademis anak, rupanya mulai mendapatkan perhatian dari masyarakat. Kesadaran orang tua untuk berbelanja buku mulai tinggi, begitu pun halnya dengan semakin variatifnya bentuk sumber bacaan  untuk anak.

Sayangnya, sebagian besar masyarakat kita masih menganggap bahwa aktivitas membaca hanya sebatas mengeja dan melafalkan kata. Segera setelah anak mampu membedakan huruf, melafalkannya dan merangkai kata dalam satu kalimat. Maka proses ini dianggap sudah tuntas, dan anak-anak pun tidak lagi mendapatkan haknya untuk didampingi secara jangka panjang.


Kenyataan ini seolah di-aminkan dengan maraknya lembaga bimbingan belajar membaca dan menulis untuk anak usia dini. Zaman sekarang, anak usia 4 tahun sudah didaftarkan kursus calistung. Bahkan, tidak sedikit yang sudah diajarkan materi ini sejak usia yang lebih muda. 

Tentu saja ini tidak jadi masalah jika anak memang memiliki ketertarikan di dalamnya. Masalahnya jika keinginan ini lebih pada obsesi orang tua untuk memiliki anak yang menonjol dalam kemampuan akademis yang paling mendasar. Jika tidak dibarengi dengan pendampingan pada proses selanjutnya, maka dikhawatirkan kemampuan membaca hanya berhenti sampai mengeja dan melafalkan kata. Tanpa gairah untuk mencerna, menarik makna atau menjadikannya sebagai kesenangan.

Sedikit memprihatinkan memang. Apalagi tuntutan penyelenggara pendidikan  formal semakin tinggi terkait kemampuan baca tulis anak sejak usia dini. Beruntung jika orang tua bisa terus men-support anak untuk mengembangkan keterampilan baca tulisnya. Tapi jika tidak, keterampilan ini akan berhenti pada bisa membaca dan menulis saja. Tanpa disertai talenta lain yang bersifat terampil dan bisa dikembangkan.


Menurut salah satu pernyataan yang saya kutip dari laman jendelakita.id, data UNESCO menemukan bahwa kebiasaan membaca masyarakat Indonesia hanya satu dari 1000 orang. Hal ini jugalah yang menyebabkan Indonesia berada pada urutan terendah dalam semua kompetensi tes PIAAC atau Programme for International Assessment Adult Competencies. Sangat memprihatinkan mengingat bimbingan belajar membaca begitu menjamur dan laris diserbu anak-anak pada usia prasekolah. Namun minat baca tak kunjung mengikutinya.

Sebaliknya, negara seperti Finlandia yang model pembelajarannya begitu sederhana dengan waktu belajar yang bisa dibilang singkat. Bahkan usia sekolah benar-benar baru dimulai saat anak genap berusia 7 tahun. Justru menempati urutan pertama dalam daftar negara literasi dunia. Ironisnya, dalam peringkat yang dirilis The World’s Most Literate Nations (WMLN) ini, Indonesia masih harus bersabar pada urutan ke-61. Jauh di bawah Jepang atau bahkan Korea Selatan.

 

Tentu saja hal ini meresahkan, maka kemudian pemerintah mencanangkan Gerakan Literasi  Sekolah. Tapi, apakah benar gerakan ini hanya sebatas di sekolah saja? Bukankah waktu anak lebih banyak dihabiskan di rumah bersama orang tua ketimbang di sekolah dengan guru-gurunya? Bagaimana jika gerakan ini lebih ditekankan di rumah? Tentu saja dengan support seluruh anggota keluarga dan lingkungan sekitar tempat tinggal anak.

Saya sangat mendukung bahwa budaya membaca harus dimulai dari rumah. Seperti halnya keterampilan lain yang biasa orang tua latih dan tumbuh kembangkan pada anak. Keterampilan membaca harus menjadi salah satu bagian terpenting di dalamnya. 


Seperti halnya keterampilan bersosialisai, kemandirian, kehidupan religi dan kemampuan akademis. Kemampuan membaca, atau saya lebih nyaman menyebutnya keterampilan membaca merupakan salah satu fondasi penting bagi diri anak.  Menguasai keterampilan membaca ibarat memiliki kunci pembuka jendela dan pintu ilmu bagi anak. 

Segala hal terkait informasi yang ditangkap, diolah kemudian diserap dalam otak berawal dari keterampilan membaca. Tanpa keterampilan ini, seseorang bisa jadi dianggap “buta” dan memiliki dunia yang gelap. Tak mampu melihat obyek di sekitarnya dan ketinggalan informasi. Maka jangan berharap memiliki generasi yang mampu memahami dan melihat dunia dengan perspektif yang lebih luas.

Atas nama masa depan yang lebih baik, maka sudah sepantasnya jika orang tua menyadari pentingnya menjadi supporter  utama gerakan literasi anak. Mengambil porsi besar dalam perkembangan keterampilan membaca anak  saya rasa bukan hal yang berlebihan. Terlebih jika kita diberikan kemampuan.

Berikan resep terbaik agar anak “doyan” bahkan “lahap mengunyah” aneka sumber bacaan yang nanti ditemuinya. Untuk itu, mulailah dengan hal-hal sederhana yang tanpa disadari memberikan efek yang membahagiakan. 

Saya sendiri dan suami sudah berkomitmen mengambil tanggung jawab tersebut.  Menyadari sepenuhnya bahwa budaya membaca harus dimulai sedini mungkin, dan dari komunitas yang paling kecil yaitu keluarga. Untuk itu, kami pun mengambil tempat dalam 3 hal sebagai supporter literasi anak. Apa sajakah itu?


Budayakan membaca



Menjadi teladan

Bisa saja, suatu saat nanti guru atau tokoh idola yang nantinya menginspirasi minat baca anak. Tapi tunggu dulu, hal itu hanya akan terjadi nanti, setelah anak memiliki dunianya sendiri. Sebelum semua itu terjadi, maka orang tualah yang harus menjadi dunia dan panutannya. Hal ini pun berlaku dalam hal menumbuhkan budaya membaca. Tanpa memberikan teladan yang berarti, bagaimana mungkin seorang anak bisa mengetahui seperti apa aktivitas membaca bisa memberi arti bagi kehidupan mereka.

Penting bagi orang tua untuk memberikan teladan, bahwa membaca adalah salah satu aktivitas rutin seperti halnya beraneka ragam aktivitas harian yang lain. Tunjukkan pula kesenangan-kesenangan yang bisa didapat dari membaca. Tak hanya dari segi ilmu atau informasi, tapi penting bagi anak untuk bisa melihat perasaan senang, santai, rileks yang bisa ditimbulkan dari aktivitas ini.

Dari sini anak akan melihat bahwa membaca adalah hal yang menyenangkan, bukan sebaliknya membosankan apalagi menakutkan. Bukan tidak mungkin juga ketertarikan anak terhadap aktivitas ini dimulai dari kesenangan dan kegembiraan kecil yang orang tua tunjukkan. Karena pada level awal, anak belum mampu mengambil hikmah yang lebih dalam terkait manfaat membaca. Maka ekspresi positif dari orang tua adalah sumbangan besar untuk menarik minat serupa.

Menjadi teladan bagi anak bisa dimulai bahkan sejak si kecil masih ada dalam kandungan. Karena menurut penelitian, anak-anak yang terbiasa dibacakan buku semenjak dalam kandungan memiliki kemampuan literasi yang lebih baik, begitu pun dengan kemampuannya menangkap informasi dan berbahasa. Hal ini tentu saja bisa terjadi  jika minat membaca dilakukan dalam proses yang terus berulang.


Menjadi fasilitator

Selain menjadi teladan, memfasilitasi minat baca anak tentu saja tidak dapat di kesampingkan. Selain menyediakan sumber bacaan yang berkualitas, orang tua bisa menjadikan toko buku atau perpustkaan sebagai salah satu destinasi jalan-jalan.

Tak cukup sampai di situ, hadiah ulang tahun atau reward untuk anak pun bisa diarahkan dengan membeli buku atau bahan bacaan yang relevan. Tapi, sebaiknya perhatikan jenis bacaan yang akan diberikan pada anak. 3 poin berikut ini mungkin bisa orang tua coba.

1. Memilih jenis buku atau sumber bacaan dengan konten sesuai untuk usia anak. 

Untuk balita atau usia yang lebih kecil, buku-buku bergambar dengan aneka warna tentu saja jauh lebih menarik perhatian. Anak-anak pada usia ini belum terlalu memerhatikan tulisan, sehingga tampilan visual yang menjadi daya tarik utama. 

Usahakan juga memilih yang bahannya ramah anak. Orang tua bisa membeli soft book atau buku bantal jika si kecil masih dalam rentang usia 0- 2 tahun. Pada rentang usia ini anak masih suka menggigit dan merobek, sehingga soft book jauh lebih aman untuk  mereka.

Selanjutnya, buku berjenis busy book dapat dijadikan pilihan. Anak-anak pada usia batita cenderung aktif dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Buku berjenis busy book dapat memuaskan rasa ingin tahu mereka. Selain itu bisa juga sebagai pengalihan ketika orang tua butuh membiarkan anak beraktivitas sendiri tanpa pendampingan.

Terus sesuaikan konten buku atau sumber bacaan dengan rentang usia anak. Saya pribadi prefer untuk memilih buku-buku yang penuh warna dan minim tulisan untuk menarik minat baca anak-anak. Buku bergenre fiksi menjadi pilihan utama karena dapat memantik daya imajinasinya. Tapi sesekali tambahkan juga koleksi nonfiksi untuk menunjukkan fakta-fakta penting yang ada di dunia.
 
2. Baca terlebih dahulu sebelum diberikan 

Selalu dan penting sekali untuk dilakukan oleh orang tua adalah membaca terlebih dahulu buku atau sumber bacaan lain yang akan diberikan pada anak. Karena bisa jadi konten yang disajikan kurang sesuai dengan tahapan yang orang tua rencanakan untuk anak.  Minimal, orang tua sudah siap menjelaskan jika mendapati bagian-bagian yang dirasa akan menimbulkan pertanyaan dari anak.

Kebanyakan buku-buku yang berkualitas memang telah memiliki standart tinggi dan diseleksi secara ketat. Tapi kita enggak pernah tahu kan, kalau belum membaca langsung. Paling tidak carilah resensi atau referensi terkait buku yang akan diberikan untuk memastikan keamanan dan kecocokannya.

3. Tidak harus selalu buku baru

"Buku lama akan terasa baru bagi siapapun yang baru pertama kali memiliki dan membacanya". Saya dan suami selalu menekankan hal ini kepada anak-anak. Begitu pun halnya ketika kami berniat membelikan buku untuk mereka. Kami tak segan mengajak mereka membeli buku second atau bekas di pasar atau pada kenalan.

Pernah suatu ketika saat usia anak pertama saya, Najwa, baru 4 tahun. Kami mengajaknya ke daerah Pasar Senen untuk berburu buku bekas. Terdesak oleh kebutuhan bahan bacaan yang telah habis di rumah, ditambah budget yang sangat pas-pasan kala itu. Kami pun tidak segan mengunjungi beberap[a toko yang menjual buku second berkualitas.

Untungnya Najwa langsung bisa beradaptasi dengan lapak yang kami kunjungi. Dengan riangnya dia membolak-balikkan buku yang diinginkan dan memilih sekitar 6 buku yang patut kami acungkan jempol atas pilihannya. Buku-buku itu sampai sekarang masih sering dibacanya, meskipun sekarang giliran adik yang jadi pemiliknya.

Membeli buku bekas berkualitas merupakan solusi untuk tetap menjaga ketersediaan bahan bacaan meskipun dengan budget pas-pasan.

Selain menjadi fasilitator dari segi materiil (menyediakan bahan bacaan), penting juga bagi orang tua untuk dapat memberikan sesuatu secara moril. Membacakan buku secara merupakan salah satu aktivitas yang sangat urgent untuk dilakukan bersama anak. Kebiasaan ini menunjukkan orang tua “ada” dan mendukung hal positif yang sedang ingin ditumbuhkan.

Seperti yang sudah sering disampaikan para pakar psikologis, kegiatan membaca bersama anak juga dapat merekatkan bonding. Selain juga qulity time yang sangat mudah dan murah bersama keluarga. Ada beberapa cara yang dianggap efektif untuk membacakan buku pada anak, terlebih bagi mereka yang masih berusia kanak-kanak. Untuk yang satu ini, saya akan coba menuliskannya di postingan yang lain. Tunggu, ya.

Menjadi supporter

Menyadari bahwa budaya membaca adalah proses yang harus ditumbuhkan secara terus-menerus. Maka, perlu rasanya kehadiran supporter yang dengan senang hati dan tanpa lelah memberikan dorongan dan apresiasi agar budaya ini mengakar dalam diri anak.

Memang sebagian anak sudah merasa cukup dengan diberikan teladan dan difasilitasi. Tapi, apa salahnya jika orang tua melengkapi dengan memposisikan diri sebagai supporter anak, karena secara tidak langsung hal ini akan memotivasi diri kita sendiri.

Menyadari bahwa budaya membaca merupakan salah satu hal vital dalam kemampuan literasi yang tidak sebatas mengeja huruf dan melafalkan kata. Tentu orang tua setuju bahwa proses ini tidak bisa terjadi secara instan. 

Membaca adalah memahami informasi, menarik makna, mengimplementasikan dalam kehidupan.  Maka dari itu implikasi dari keluarga yang memiliki budaya membaca adalah terciptanya hubungan yang open minded dalam keluarga. Begitu yang disampaikan oleh seorang Psikolog, Henny Wahyu W. dalam sebuah opini yang ditulisnya.

 

Dalam keluarga literat, budaya membaca mengiringnya tumbuhnya sikap saling menghargai perkembangan dan keunikan satu sama lain. Tidak mengekang namun memahami tata aturan yang disepakati bersama untuk tujuan kebaikan. Semua ini bisa memang bisa  didapat dalam proses yang panjang dan tidak berkesudahan. Tapi peracayalah, menjadikan rumah sebagai tempat pertama pembentuk budaya membaca adalah keputusan yang tepat. Karena “makanan” yang tepat dan berasal dari “tangan-tangan” yang tepatlah yang nantinya membuat generasi kita "doyan" membaca.

Sebagai muslim, tentunya teman-teman juga setuju, ya, bahwa perintah membaca adalah wahyu yang pertama turun untuk umat Nabi Muhammad SAW. Cukup dengan memahami makna Iqra’, maka kita akan menyadari betapa pentingnya menumbuhkan budaya membaca bagi setiap generasi yang menjadi pembawa peradaban baru di muka bumi ini.

Semangat membaca dan salam literasi!

-DNA-


Tulisan ini diikutkan dalam program Postingan Tematik (PosTem) yang diselenggarakan oleh Blogger Muslimah Indonesia.

#PostingTematik
#BloggerMuslimahIndonesia

Custom Post Signature

Custom Post Signature