Parenting, Family Traveling, Woman Story

#Batik Pring Sedapur, Sudahkah Menjadi Tuan di Rumahnya?

|
" Keputusan UNESCO mengenai batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi, tentu saja membanggakan. Namun, sudahkan batik daerah menjadi tuan di rumahnya?"
Peringatan Hari Batik, yang baru saja berlangsung pada tanggal 2 Oktober lalu. Tentu saja masih menyisakan kehangatan di ingatan teman-teman. Ya, begitu pula dengan saya. Rasanya kurang lengkap, kalau nggak bikin sedikit coretan tentang salah satu kain khas Indonesia ini. Apalagi, kampung halaman saya, Magetan, juga memiliki batik khas daerah. Batik Pring Sedapur atau Batik Bambu, mungkin masih terdengar baru bagi sebagian teman, meskipun sudah banyak juga yang mengenalnya. 

Batik Pring Sedapur sebenarnya sudah mulai diproduksi sejak tahun 1970an, dan menjadi salah satu ciri khas Kota Magetan. Kini, dengan diakuinya  sebagai ikon daerah, seolah semakin mengukuhkan Magetan sebagai salah satu destinasi wisata yang layak untuk dikunjungi masyarakat luas. Tidak hanya terbatas bagi masyarakat lokal. Apalagi, keberadaan Telaga Sarangan juga semakin diperhitungkan sebagai salah satu tujuan wisata alam. 


Filosofi di balik motif Batik Pring Sedapur.

Ngomongin soal batik, pastilah ada filosofi, makna atau sejarah dari setiap motif atau coraknya. Begitu juga dengan Batik Pring Sedapur. Batik yang diproduksi di Dusun  Papringan, Desa Sidomukti, Plaosan, Magetan ini. Bukan kebetulan dinamai Pring Sedapur. Pring, yang dalam Bahasa Indonesia berarti bambu, dan sedapur yang berart serumpun. Pasti juga memiliki filosofi tinggi bagi penduduk asli. 

"Pring sedapur yang berarti serumpun pohon bambu, diibaratkan kekuatan. Bambu biasa hidup secara bergerombol, membentuk suatu kekuatan. Jika bersatu akan kuat, namun jika diurai, akan menjadi sebuah tali yang sangat erat" Begitu penjelasan dari seorang pemuka di Desa Sidomukti.

Batik Pring Sedapur sebagai IKON Kota Magetan

Kalau teman-teman berkunjung ke Magetan pada hari-hari  tertentu. Kalian akan melihat Batik Pring Sedapur, dipakai hampir seluruh pelajar dan karyawan pemerintahan. Ya, itu merupakan salah satu usaha pemerintah untuk menjadikannya sebagai Ikon Kota Magetan. Selain mempromosikannya sebagai oleh-oleh khas. Eh, jangan salah ya. Batik Pring Sedapur ini sudah sampai istana negara lho. Dan menjadi salah satu batik favorit Presiden SBY dan keluarga. 


Presiden SBY mengenakan salah satu koleksi Batik Pring Sedapur. (kabarmagetan.com)
 
Ibas dan istri mengenakan koleksi batik sarimbit Pring Sedapur (kabarmagetan.com)

Sudahkah Batik Pring Sedapur menjadi tuan di Magetan?

Penetapan batik sebagai warisan budaya dunia, ternyata belum berimbas sepenuhnya bagi batik daerah. Batik Yogya, Solo dan Pekalongan sepertinya masih menjadi magnet terbesar di kalangan masyarakat kita. Begitu setidaknya yang saya dengar dari pengrajin batik di Magetan.

"Pemasarannya masih terbatas,  Mbak. Jadi mayoritas baru dipakai penduduk lokal. Itu pun masih harus bersaing dengan batik dari Yogya dan Solo yang laris manis di Magetan. Harga jual pun belum bisa tinggi. Antara 100 - 300 ribu per lembarnya. Kalau mahal-mahal, nggak laku mbak di Magetan. Selain itu, produksinya lama, bisa 3 sampai 7 hari. Jadi, ya stocknya terbatas"

Kalau menurut saya sih, permasalahannya tidak hanya terletak pada pemasarannya saja, ya. Di Magetan, Ibu saya sempat memproduksi seragam batik untuk pelajar SD sampai dengan SMA. Selain juga menjual kain batik lembaran untuk bahan kemeja atau bawahan. Tidak hanya sekali dua kali, Ibu saya sangat kerap menolak pelanggan karena stock bahan dari pengrajinnya kosong. Sayang sekali bukan? Artinya, produksi batik di pihak pengrajin masih sangat terbatas. Ya, bisa saja, produksi yang terbatas karena pemasaran yang kurang luas. Sehingga diproduksi dalam jumlah kecil. Tapi, nggak lucu juga kan,  kalau produk daerah seperti ini nggak selalu ready. Ibaratnya nih, mau ngasih souvenir harus pesan dulu. Koq, gimana gitu, ya. Karena tamu kan kadang datangnya gak bisa diprediksi. Eh.. Tapi itu menurut saya sih.

Salah satu koleksi batik suami saya. Yang ini gak sengaja, samaan sama Ibas hihihiih...


Pantas saja kalau Batik Yogya dan Solo masih mendominasi. Selain mudah dicari, batik-batik ini diproduksi menjadi berbagai barang jadi dan siap pakai. Sehingga, dapat dan mudah digunakan dalam kesempatan apapun. Wanita mana coba, yang nggak cinta sama daster batik? bahannya adem, santai, pokoknya nyaman banget. Saya pun tidak memungkiri hal tersebut. Koleksi Batik Pring Sedapur masih terbatas dalam bentuk kain lembaran. Ke depannya, mungkin perlu diarahkan untuk usaha konveksi pakaian jadi.
Di satu sisi, Batik Pring Sedapur memang lebih berkesan eksklusif. Karena cenderung hanya dipakai untuk acara-acara formal saja. Namun, keberadaannya yang terbatas tentu saja mengundang kekhawatiran atas eksistensinya di masa mendatang. Apalagi, pengrajin dari kalangan  muda terhitung langka. Mereka lebih memilih untuk bekerja ketimbang mengembangkan warisan budaya yang diturunkan pendahulunya.

Pekerjaan membatik membutuhkan intuisi seni dan ketelatenan tinggi. Memang bukan jenis pekerjaan yang bisa dikerjakan sembarangan orang. Meskipun, pada dasarnya sangat bisa dipelajari. Jujur, saya sendiri pun tidak sanggup duduk berlama-lama untuk membatik. Ya, semoga saja kekhawatiran seperti ini tidak akan terjadi.  

Dukungan dari pemerintah tentu saja menjadi salah satu faktor penentunya. Bagaimana agar kekayaan daerah ini bisa diangkat menjadi produk nasional, diproduksi dalam skala besar, dan tentunya harus menjadi "Tuan" di rumahnya sendiri. Dengan begitu keberlangsungannya pun akan terjaga dan menjadi salah satu poros perekonomian daerah.











Being MOMMY Rempong is One of My Precious Moment

|


"You don’t have to be a strong women

But,  a women of strength is your destiny"

www.familywelcome.org

 

Akhir-akhir ini, kalau kita bicara tentang wanita dan perannya sebagai Ibu. Istilah-istilah seperti Strong Mom, Super Mom, Wonder Mom, sepertinya menjadi hal yang penting untuk dijadikan gelar.  Padahal, secara fisik wanita itu, diibaratkan makhluk yang rapuh, lembut, halus, dan bla..bla..bla. Kemungkinan, ini dikarenakan standart akan peran seorang ibu menjadi lebih tinggi dan kompleks. Selain juga, karena tuntunan jaman dan informasi yang semakin mudah diakses.


Saya pun merasakan hal senada dan kerap kali  menyebut diri saya sebagai Mommy Rempong. Ya, karena ada begitu banyak peran dalam keluarga yang saya ambil sebagai tanggung jawab. Ibarat nih, mulai buka mata sampai mau merem lagi, antrian to do list sudah berjajar rapi. Minta dicoret satu persatu dan dilabeli DONE.


Ahhh, lebaynya. Saya ini kan bukan satu-satunya yang mengalami hal seperti itu. Ratusan, bahkan jutaan wanita di dunia ini juga mengalami hal serupa. Wanita semakin kreatif, pandai membuat prioritas dalam hidup dan karier rumah tangganya. Didukung sistem informasi yang membuat semuanya lebih mudah diakses. Jadilah sekarang wanita dapat melakukan apa saja meskipun punya kesibukan ganda. Ya jadi ibu, karyawan, pebisnis, penulis. So, wajar kalau istilah Super Mom or Wonder Mom itu nempel di belakang nama masing-masing.


Well, sebenarnya mengambil berbagai peran tersebut secara bersamaan juga bukan masalah mudah, loh. Peran ibu terhadap anak, istri kepada suami, masih ditambah tugas sebagai karyawan atau pebisnis, sangat menguras energi dan perhatian. Saya sendiri, punya pengalaman dalam beberapa kondisi sebagai istri dan ibu. Mulai dari menjadi Ibu kantoran dan LDR, ibu berbisnis, IRT full tanpa embel-embel yang lain, dan sekarang IRT yang sedang belajar rajin menulis. 


Setiap kondisi yang saya alami, menuntut saya untuk bongkar pasang resep masakan kehidupan.  Apalagi, selepas resign 4 tahun yang lalu. Saya komit nggak pakai jasa ART. Irit kali ya, lebih tepatnya, hihihihihihi…. Bener-bener dech, saya merasa harus strong jiwa dan raga.  Mengikuti aktivitas dua anak jempolan dan seluruh tugas rumah tangga. Masih ditambah sayanya pengen ngeksis hehehe… plus mendampingi suami yang memiliki pressure tinggi dalam pekerjaannya. Semua itu gak mudah cyinnn


Untungnya, saya termasuk tipe orang yang moveable. Gak terlalu lama terpuruk dalam suatu kondisi “gagal” Termasuk dalam hal bongkar pasang resep kehidupan tadi. Kalau boleh saya bagi nih, beberapa cara saya untuk stay cool and being Mommy Rempong. Setidaknya ada 5 hal yang sudah mulai saya patenkan untuk diri saya sendiri. Yuk ahh!! Bongkar satu persatu.


1. Stay happy

Ini yang paling important dan powerfull  buat saya. Selama saya happy, to do list sepanjang apapun bisa saya bereskan dengan cepat dan maksimal. Beberapa ritual yang biasa saya lakukan to make me stay happy , seperti.

  • Dengerin musik, pasang lagu kesukaan, nyanyi gak jelas.
  • Mandi. Kondisi tubuh yang segar dan wangi, sukses bikin suasana hati saya happy. Meskipun beberapa saat kemudian keringetan dan bau lagi. hihihihi...
  • Jalan-jalan dan belanja. Meskipun jalan-jalannya cuma di seputaran rumah, atau belanja sayur di pasar paling dekat rumah.
  • Menelepon teman atau keluarga. Sebagai perantau di Ibukota, maka kami hidup sebatang kara. Ngobrol ditelepon dengan ibu, kakak atau teman, menjadikan suasana hati cerah, seolah mendapat support tambahan.

redtri.com

2. Stay healthy

Kondisi badan yang sehat dan prima memang harus  diupayakan setiap hari. Mana bisa saya beresin segala tetek bengek ibu rumah tangga plus hobi ngeksis, kalau tubuh saya sakit-sakitan. Nah, ritual saya terkait dengan point kedua ini ada beberapa hal:

  • Makan teratur, dan selalu berusaha menjaga nutrisi seimbang.
  • Minum air putih minimal 8 gelas sehari, Wajib!
  • Banyakin serat dalam makanan. Sekarang sedang belajar nyantap raw food juga. Karena terbukti bikin badan lebih fresh dan ringan.
  • Tidur cukup, kecuali terpaksa harus begadang.
  • Minum vitamin, jika kondisi sudah bener-bener butuh dopping, dan dalam penyembuhan setelah sakit. 
Theragran-M, vitamin yang bagus untuk masa penyembuhan

 

Nah, untuk urusan vitamin atau multivitamin tubuh, saya menjatuhkan pilihan pada  Theragran-M. Menurut saya, Theragran-M merupakan vitamin yang bagus untuk mengembalikan daya tahan tubuh setelah sakit. Kandungan vitamin A, D, B1, B2, B6, B12, C dan E dalam tiap tablet salut gulanya, memenuhi kebutuhan vitamin terutama dalam masa pemulihan. Ditambah kandungan mineral seperti , iodium, besi, tembaga II, mangan II, magnesium dan seng yang juga diperlukan untuk mengembalikan stamina.



Untuk kehalalannya, saya juga tidak perlu khawatir, Karena Theragran-M sudah mendapatkan sertifikasi halal dari MUI, dan juga terdaftar di BPOM. Dalam satu hari, 1 tablet salut gula Theragran-M, sudah cukup membuat badan menjadi lebih fit. Jadi, tidak dibutuhkan multivitamin yang lain.

Dalam hal membeli dan mengonsumsi vitamin, Saya dan suami memang cenderung tidak sembarangan. Selain mengandalkan asupan dari buah, sayur dan protein nabati. Ya, Theragran-M ini yang biasanya kami sediakan di rumah. Karena, selain bagus untuk dikonsumsi pada masa pemulihan, Theragran-M merupakan vitamin yang bagus untuk masa penyembuhan. Sehingga, bisa diminum saat sedang dan setelah sakit.

3. Stay strong
Harus selalu strong, jiwa dan raga. Gak gampang mutung dan ngambek, itu resep ketiga saya. Untuk menjaga kekuatan badan, olahraga adalah pilihan saya. Jogging atau stretching ringan, rutin saya lakukan setiap hari. Selain menambah kekuatan, rasa kaku pada otot dan persendian juga mulai berkurang.
Sedangkan, untuk menjaga kekuatan otak atau jiwa. Saya memilih buku sebagai vitaminnya. Saya belajar banyak hal dari buku. Selain sebagai media menjelajahi berbagai tempat dan aneka bidang ilmu.




4. Stay Productive
Melakukan hak-hal yang saya sukai, dan menjadikan waktu luang lebih produktif. Selain mencoba beberapa tutorial DIY craft kids bersama kedua anak saya. Mencoba resep masakan dan simple crafting menjadi pilihan saya. Meskipun semua hal tersebut belum maksimal, namun sangat membantu menuangkan ide yang berseliweran di kepala.

Dan yang terakhir adalah,

5. Stay Beauty
Menjadi cantik dalam versi saya sendiri. Dulu, awal-awal menjadi full IRT dan sangat jarang keluar rumah, kecuali Sabtu atau Minggu. Saya merasa sangat malas untuk merawat diri, apalagi berdandan. Ternyata, hal tersebut justru berefek kurang baik secara psikologis. Merasa semakin tua, kulit keriput, mata lelah, dan sebagainya. Membuat saya tidak bersemangat dan cenderung moody.

Namun, setelah saya memtuskan untuk tetap cantik, walaupun hampir 24 jam di dalam rumah. Saya merasa lebih percaya diri dan bahagia. Tentunya  karena kondisi tubuh dan wajah yang terawat juga berpengaruh pada kesehatan saya. Ditambah sedikit bedak dan lipstick tipis, menjadikan wajah lebih segar dan enak dipandang. Dicermin maksudnya hehe..


Setelah melakukan 5 rutinitas di atas dengan konsisten, Saya merasa lebih terbantu dalam menjalankan hari-hari saya sebagai Mommy Rempong. Bagaimana tidak rempong, jika kemana-mana harus menggandeng dan menggendong. Jadi Mommyjeg pun saya harus membonceng sambil menggendong. Kadang malah membonceng, menggendong dan mengASI, hihihihi... tabu banget.

But, momen-momen seperti ini yang hanya akan terjadi sekali dalam hidup saya. Layak untuk saya sebut sebagai one of My Precious Moment. Kelak, anak-anak tumbuh menjadi remaja, momen seperti ini tidak mungkin saya dapatkan kembali. Jangankan digendong, yee.. gak kuat kali. Dipeluk atau dicium orangtuanya pun sebagian ABG sudah mulai malu. Makanya, mumpung masih imut dan nurut, saya manfaatkan sebaik-baiknya. 



Menjadi Mommy Rempong adalah pilihan sekaligus komitmen yang tidak mudah. Berbekal keyakinan BISA, ditambah sedikit tips untuk mengatasinya. Maka semuanya menjadi indah dan layak untuk diperjuangkan sebagai My Precious Moment.





"Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Taisho."



Liburan Ceria ke Kampung Halaman, Tanpa Khawatir Gejala ISK

|

“Pulang itu ya ke rumah, yang ada halamannya. Yaitu kampung halaman”

Memberi makan sapi, kesenangan yang tidak mungkin terjadi di Jakarta.

Berlibur ke kampung halaman? WOW! siapa yang nggak mau coba? Setelah hijrah ke Jakarta, berlibur ke kampung halaman seolah menjadi agenda yang selalu dinantikan. Anak-anak selalu bertanya, "kapan kita pulang lagi, Buk?" Pertanyaan seperti itu selaluuu saja meluncur dari mulut kecil mereka. Boro-boro tahunan, baru bulan lalu pulang kampung. Bulan ini udah tanya kapan pulang lagi. 

Ahh..Namanya juga anak-anak. Kumpul bareng Mbah, Paman, Budhe dan sepupu-sepupunya yang masih seumuran. Ya,  pasti heboh banget. Jangankan anak-anak, lha kami sendiri emak bapaknya juga hampir sama. Baru selesai mudik lebaran, eee...udah kasih tanda lagi di kalender. Jadwal pulang untuk liburan berikutnya. Jiahh!! Sampai-sampai nih, istilah "pulang" kampung, sudah diganti sama suami. Menjadi "berlibur" ke kampung. Kalau pulang itu ya ke rumah. Lha ini rumahnya di Jakarta, koq pulangnya ke kampung.Lhadalah, bener juga suami saya.

Balik lagi soal liburan ya. Beberapa waktu yang lalu, kami sekeluarga berlibur ke Magetan. Kampung halaman saya, juga anak tetangga yang jadi bapaknya anak saya.Hihihihi.... suami maksud saya. Liburan kali ini sebenarnya tidak terlalu kami rencanakan dari jauh hari. Maklumlah, kerjaan suami nggak bisa diplanning kayak orang kantoran pada umumnya. Kalau lagi ada gawe, ya musti gawe. Malem tahun baru pun, kami anak istrinya sudah biasa main kembang api tanpa bapaknya. Ciannn…

Nah, meskipun liburan kali ini sifatnya tergantung kemujuran. Maksudnya kalau suami gak ada kerjaan kita langsung cabut. Kalau ada kerjaan ya batal. Hiks!.. Sehari sebelum hari H, kami sudah packing seluruh perlengkapan. Selain koper, bantal, dan logistic (read : makanan buat di jalan). Emergency bag adalah tas terpenting yang nggak bisa saya tinggalkan. Ya soalnya, kami pergi dengan balita dan batita. Selain mainan dan buku favorit mereka, di tas itu harus ada tissue basah, baby toiletries, obat-obat dan baju ganti cadangan.

Sampai tengah hari H, belum juga ada kepastian keberangkatan kami. Anak-anak pun mulai lesu. Berbagai acara liburan sudah mereka rencanakan dengan saudara-saudaranya di kampung. Saya pun mulai hopeless. Karena terlanjur membayangkan bertemu sepincuk nasi pecel kakak-kakak perempuan saya dan ibu. 

Di tengah kelesuan itu, saya melihat ada yang beda dengan Najwa (anak pertama saya). Wajahnya sedikit memerah, agak pucat dan pengen rebahan terus. Respon saya sebagai orangtua langsung pegang keningnya. Duhh, agak panas. Saya bergegas mengambil thermometer di kamar untuk memastikan suhu tubuhnya.

Tak berapa lama, setelah saya selipkan alat pengukur suhu digital itu di ketiaknya. Thermometer pun menunjukkan angka 37,5 derajat celcius, masih aman, begitu pikir saya. Apalagi si Kakak masih doyan makan, minum dan ngemil pun masih banyak. Dan, meskipun sambil rebahan, dia masih kelihatan ceria. Itu artinya, badannya tidak lemas. Semoga ini hanya karena perubahan suhu tubuh biasa saja.

 
Badan Najwa mulai panas, dan memilih rebahan saja.

Tepat pukul 11 malam, suami saya mengetuk pintu rumah. Saya pun segera membukanya. “kita berangkat, sekarang!” begitu katanya. Tak perlu menunggu lama, saya langsung menukar baju. Memasukkan koper, dan bantal. Kemudian menggendong anak-anak. Wow banget!! Kayak mimpi aja, 30 menit cukup untuk persiapan. Akhirnya, jadi juga kami berlibur ke kampung halaman. Hore!!!! Begitu teriak anak-anak saat kendaraan mulai melaju menembus gelapnya malam.

Selama perjalanan, lalu lintas bisa dibilang lancar. Kalau macet pun, ya cuma di tempat-tempat yang emang sudah langganan macet. Tapi, hati saya mulai macet. Eh, maksud saya mulai khawatir. Karena kakak lebih banyak diam. Setiap kali kami ajak ke toilet di rest area pun, dia selalu menolak. Sampai puncaknya, di wilayah Tegal, kakak ngompol. Duh.. kakak, di rumah aja gak pernah ngompol, ini malah ngompol di jalan.  

Tubuhnya memang terasa lebih panas dari sebelumnya. Dan, setelah saya tanya kenapa gak mau pipis di toilet. Katanya karena saluran kemihnya perih, jadi sakit. Makanya dia takut pipis, dan akhirnya mengompol karena sudah nggak tahan.

Suhu tubuhnya mencapai 38,1 derajat celcius. Padahal, kami baru sampai Brebes. Masih jauh menuju Magetan


Saya langsung lemas mendengar alasannya. Khawatir Najwa terkena ISK (Infeksi Saluran Kemih). Setahun sebelumnya, kami memiliki pengalaman buruk dengan penyakit ini. Anak kedua saya, yang waktu itu baru berusia 10 bulan. Terpaksa harus opname di Jogja, di tengah perjalanan mudik ke Magetan. Gara-gara terserang ISK juga.

Gejala awalnya hampir sama dengan adiknya dulu. Awalnya demam tanpa batuk dan pilek, trus lemas, dan pipisnya sedikit tapi sering, akhirnya rewel banget. Begitu pun yang terjadi pada Najwa. Kali ini saya tidak mau mengambil resiko terlalu besar. Rencana awal, kami akan berhenti dulu di rumah sakit untuk periksa. Namun, tak berapa lama kakak saya pun menelepon. Akhirnya saya ceritakan semuanya, dan yang paling penting tentang kondisi Najwa.
Kakak saya pun mengambil inisiatif untuk mendatangi DSA langganannya. Maksudnya, untuk mendapatkan saran penanganan pertamanya. Syukurlah, berbekal penjelasan mengenai kondisi yang dialami anak saya, DSA pun memberikan wejangan.

Berikut adalah tips pertolongan pertama, dari DSA langganan kakak saya :

Pertama : Saya harus memastikan suhu tubuh anak saya, mencatat dan terus dikontrol setiap 2 jam.  
Kedua: Memastikan cairan tubuhnya cukup. Artinya, saya harus terus mengontrol seberapa banyak minuman yang dikonsumsi kakak. Dan secara otomatis, ini akan menambah volume kencingnya. Mau gak mau deh, karena kondisi lagi di jalan. Dengan sedikit memaksa, kami pakaikan pampers ukuran terbesar kepadanya. Hihihihihi…maafkeun ibuk ya Nduk. 
Ketiga: Memberikan obat penurun panas, jika suhu tubuhnya mencapai 38 derajat celcius. Sekaligus, obat penghilang rasa nyeri. Saya sebenarnya bukan tipe ibu anti obat, tapi juga gak terlalu obat minded sih. But, balik lagi, we were on the road at that time. So, saya putuskan kasih obat. Apalagi , memang suhu tubuhnya sudah mencapai 38 derajat celcius. 

TEMPRA, yang selalu ada di dalam emergency bag saya.

TEMPRA, cepat menurunkan panas.


Nah! Untungnya nih, si mungil TEMPRA syrup ini selalu stand by di emergency bag saya. Lha namanya juga travelling sama baby. Printilan kayak gini musti masuk di checklist. Apalagi, si TEMPRA ini memang sudah saya pakai sejak jaman dulu kala. Turun temurun istilahnya. Semenjak saya kecil, paracetamol andalan ibu saya, ya TEMPRA ini. 

Selain, karena TEMPRA cepat menurunkan panas, dia bekerja langsung di pusat panas. Dan tentunya tidak menimbulkan iritasi pada lambung. Pokok, kalau ibu saya bilang, Ini obat sudah aman, dipercaya dan direkomendasikan pula. Buktinya, dia sudah bertahan selama dua jaman. Iya jaman friendster dan jaman facebook jaman saya dan anak saya maksudnya hihihihih…

Istirahat di Pemalang, dan kondisinya sudah mendingan. Good Job TEMPRA!


 
Sampai di kebumen, sudah semakin sehat.


Beberapa saat, setelah seluruh saran dari DSA kami terapkan. Si kakak nampak lebih tenang dan akhirnya bisa tertidur pulas. Suami saya pun langsung tancap gas agar lebih cepat sampai di Magetan. Selebihnya, sepanjang perjalanan berjalan lancar dan gembira. Meskipun dengan pampers yang masih harus dipakai sampai tempat tujuan. Hiks..hiks.. so sad sebenernya. Antara kasian dan gak mau semua kenak ompol.

Taraaaaa!!!! Bukan liburan kalau gak ceria. Rumah Mbah memang selalu nyaman untuk cucu-cucunya. Apalagi buat bapak emaknya, yang selalu kangen sama kasur semasa kecil hahahahah AIB!! Selama di kampung halaman, kami lebih banyak menghabiskan waktu untuk bersilaturahmi kepada saudara, teman dan sedikit saja ke tempat wisata. 





Rumah adik saya yang masih di daerah pedesaan, dan agak jauh dari kecamatan kota. Menjadi tujuan outbond ala-ala kami sekeluarga. Selain memberi makan sapi dan bermain di sawah.  Mandi di pemandian umum yang airnya langsung dari sumber mata air merupakan pengalaman yang selalu mereka nantikan untuk diulang. 

Rupanya, keterbatasan tempat hiburan atau pertokoan, sama sekali tidak mengurangi kegembiraan anak-anak selama berlibur di Magetan. Mereka bahkan mengeluhkan waktu berliburnya kurang panjang.  Selain berkunjung ke rumah saudara dan teman, warung Nasi Pecel langganan adalah tempat tujuan yang tak mungkin kami lewatkan. 
Ahhh!! Rupanya, bukan hanya anak-anak yang ketagihan berlibur ke kampung halaman. Kami pun, selalu menantikannya, demi sungkem orangtua, dan sepincuk Nasi Pecel tentunya.

Nasi Pecel bungkus daun Jati. Legendaris!!
 

"Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Taisho."


Custom Post Signature

Custom Post Signature