Parenting Story, Mom's Life, Tips

Showing posts with label Mommies World. Show all posts
Showing posts with label Mommies World. Show all posts

September Ceria dalam Harap dan Kenangan

|



Satu setengah bulan menjelang kelahiran anak kedua, suami memutuskan untuk keluar dari tempat kerjanya. Saya ingat betul, pagi itu 1 September 2014 ketika ia menyampaikan sudah tidak lagi bekerja di tempat lama, dan pada hari yang sama ia memutuskan memulai segalanya dari awal. Sebagai istri, saya sempat merasa risau dan was-was. Apalagi kami akan segera memiliki anak kedua yang berarti akan bertambah pula tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan keluarga. 

Tapi, saya mantap mendukung keputusannya. Saya sangat yakin keputusan ini tidak diambil dengan serta merta. Tapi telah dipikirkan dengan matang dan ada rencana besar yang mungkin telah disusunnya.

Make Up Sederhana untuk Acara Buka Bersama

|

www.damaraisyah.com

Beberapa hari yang lalu, suami mengajak saya dan DuoNaj untuk menghadiri acara buka bersama di kantornya. Kami, terutama Duonaj memang sangat antusias saat diajak ke acara kantor ayahnya. Saya pun sebisa mungkin tak ingin melewatkannya, mengingat sangat jarang acara seperti ini dihelat di kantornya. Maklum, kantor ini hanya punya lima orang penghuni. Saat mengadakan acara seperti inipun mayoritas undangannya dari pihak rekanan.

Tak disangka, 3 jam menjelang acara si Najib jatuh dan dagunya bocor.  Alih-alih membawanya ke IGD, saya segera memeriksakan Najib ke klinik dekat rumah dengan harapan luka di dagunya tidak perlu mendapatkan penanganan yang serius, misalnya harus dijahit.

Tantangan Parenting dengan Threenager

|

 
Parenting dengan threenager
www.damaraisyah.com



Drama threenager belum juga berhenti. Setelah usianya lewat 3 tahun 6 bulan, gaya khas bocah threenager semakin melekat dalam diri Najib. Baik caranya berucap maupun bertingkah, khas remaja 13 tahun yang bikin gemas sekaligus jengkiel orangtuanya.

Padahal Najib sudah lebih awal mengalami masa-masa ini. Seingat saya, sebelum ulang tahun yang ketiga Najib sudah menunjukkan tanda-tanda threenager. Selain agak susah diatur, kalau punya kemauan juga penginnya selalu dituruti. Belum lagi gaya ngomongnya yang udah kayak remaja. Dinasihati pun, dia suka membantah dan mengajak beradu argumen. Huff, kalau sudah begitu, BukNaj penginnya makan bakso kuah pedas sama es teh segelas,donk. Hahaha

Resolusi 2018 dan Rahasia Menjadi Perempuan Produktif

|
Resolusi 2018

"Bund, cita-citamu opo?" (Bund, cita-citamu apa?) Satu pertanyaan sederhana, tapi sempat membuat saya senewen agak lama. Bagaimana nggak senewen, lha wong sebenarnya pas suami tanya soal cita-cita itu, saya benar-benar hanya fokus pada pencapaian keluarga. Ee, lha kok tiba-tiba diingatkan lagi dengan gejolak masa muda.

Jujur, bagi saya pertanyaan itu sangat sensitif dan keterlaluan, hehehe. Karena suami saya yang menanyakan. Apalagi dia ingin saya menjawab sebagai perempuan yang seharusnya masih produktif berkarya. Bukan sebagai ibu atau seorang istri. Padahal dia tahu betul seperti apa aktivitas saya selama 24 jam. Selain momong, momong dan momong. Pekerjaan rumah tangga rasanya tak pernah habis saya kerjakan. Memang benar, kadang pun saya ingin menghasilkan sesuatu di luar urusan rumah tangga. Tapi saya berusaha positif thinking saja, mungkin ini belum masanya.

Tapi, ternyata suami terus mendorong untuk melakukan hal lain selain urusan rumah tangga. Ya, memang anak dan suami harus menjadi prioritas utama. Tapi tidak seharusnya mengambil terlalu banyak jatah waktu yang saya punya. Maka mulai saat itu, saya pun terus memutar otak. Menggali kembali segala impian yang sempat terlupa. Hingga akhirnya saya berani keluar dari zona leha-leha. Dan menantang diri untuk produktif berkarya selagi kesempatan terbuka.

Sejak saat itu saya mulai memodifikasi impian masa kecil. Mustahil kan, jika saya masih bercita-cita  ingin menjadi dokter atau astronot? Tapi saya masih memiliki impian sebagai seorang penulis. Alasannya pun sederhana, karena ingin mendokumentasikan perjalanan hidup, serta berbagi ilmu dan pengalaman yang masih terbatas.

Baca juga: Berdamai dengan Diri Sendiri

Akhirnya membuat resolusi di awal tahun pun saya lakukan untuk menyusun target dan mengukur pencapaian. Tentunya dengan langkah dan strategi yang masuk akal. Karena saya sadar betul, bahwa sebagai perempuan biasa melakukan suatu hal baru tidak selalu mudah. Modal utama saya pun hanya impian.

4 Resolusi di Tahun 2018


Seperti halnya di awal 2017, tahun ini pun saya kembali menyusun resolusi awal tahun. Bukan sok-sokan ya, tapi saya merasakan betul arah dan tujuan serta langkah yang harus saya ambil berbekal menyusun resolusi di awal tahun.

Kali ini pun saya menyusun resolusi 2018 dalam 4 poin besar sesuai dengan4 peran yang saya jalani sebagai perempuan. Sebagai istri, ibu, anak dan perempuan yang haus dengan karya.

1. Mengasuh dengan bahagia dan berkualitas


Teman-teman pasti setuju, bahwa anak-anak yang bahagia itu tentunya berada dalam pengasuhan ibu yang bahagia juga? Ya kan, ya kan? Nah, saya pun ingin mengambil tempat sebagai salah satu ibu tersebut, meskipun dengan cara saya sendiri. Karena saya rasa kebahagiaan setiap ibu memiliki takaran dan jenis yang berbeda. Tergantung situasi dan kondisi yang dihadapinya. tapi bahagia tetap menjadi kuncinya.

Bagi saya, kebahagiaan itu ketika mendapatkan kepercayaan dari DuoNaj sebagai teman dekat mereka. Karena saya yakin, menjadi teman anak adalah cara paling tepat dan awet untuk mengiringi setiap pertumbuhan mereka.

Maka saya pun berencana untuk menginvestasikan lebih banyak waktu untuk keduanya. Memberikan quality time yang benar-benar bermanfaat, bukan sekedar kebersamaan sepanjang hari namun dengan kesibukan saya sendiri


Resolusi 2018

Saya ingin intens kembali melatih keterampilan dasar bagi keduanya. Mengembangkan psikomotorik dan keterampilan berbahasa untuk si Najib. Sedangkan untuk Najwa saya merencanakan kegiatan yang bersifat life skill dan keagamaan. Ya, Najwa sudah menjelang 7 tahun, dan saya rasa ini saatnya untuk konsen pada dua hal tersebut.

Baca perjalanan saya menjadi ibu bahagia : Ibu Selalu Ada, Meskipun Tak Mampu Sempurna

Saya pun ingin terus mempertahankan gaya berkomunikasi yang lebih banyak menempatkan DuoNaj sebagai partner, bukan sekedar anak  yang bisa diatur semau orang tuanya. Memberikan kesempatan pada mereka untuk mengemukakan pendapat untuk sebuah persoalan. Memberikan kepercayaan pada mereka untuk berproses dan mencoba hal baru dalam konteks positif tentunya.

Sejauh ini, cara tersebut sangat membantu dalam membangun kepercayaan diri mereka. Selain itu juga membiasakan mereka untuk menghargai adanya perbedaan pendapat yang tidak bisa dipaksakan. Juga melatih konsekuensi untuk hal-hal yang telah dipilih. Sebagai catatan, semuanya masih dalam konteks anak-anak dan tentu saja saya telah menentukan batasan-batasannya.

2. Menjadi partner terbaik bagi suami


Ehem, sekali-kali masuk pada bahasan perempuan dewasa, ya. Kali ini resolusi saya sebagai seorang istri. Barangkali terasa aneh jika saya memiliki keinginan untuk lebih "dekat" dengan suami. Karena kenyataannya kami telah menikah selama 7 tahun. Waktu yang saya rasa cukup untuk membangun kedekatan antara sepasang kekasih, terlebih kami telah dikaruniai dua orang anak sebagai perekat hubungan ini.

Tapi, jujur saya masih butuh untuk lebih dekat dengannya. Dekat sebagai partner kehidupan tidak sebatas dalam menjalankan peran dalam rumah tangga. Saya sadar betul, keterbatasan waktu yang kami miliki untuk melakukan quality time berdua harus disiasati dengan cerdas. Agar hubungan sebagai pasangan sepanjang usia tak menjadi "garing" atau malah monoton karena terjebak dalam rutinitas.

Resolusi 2018
My Sephia ( read: kekasih gelapku, hehehe )


Untuk itu, saya berencana melakukan kebiasaan-kebiasaan khusus bersama suami. Salah satunya rutin berbagi cerita meskipun untuk hal remeh temeh menyangkut kesenangan satu sama lain. Ini hanyalah salah satu cara untuk menjaga hubungan kami tetap dalam satu frekuensi dan seirama.


Selain itu saya ingin lebih rajin merawat diri. Saya sadar, kondisi fisik tak mungkin bertahan ketika "dimakan" usia. Untuk itu tak ada cara lain selain mengusahakannya tetap prima. Tidak hanya merawat secara lahir, saya pun berusaha menjaga batin saya tetap "sehat". Karena keduanya memang tidak bisa dipisahkan dan sangat memengaruhi satu dan lainnya.

Baca tentang suami saya : Not A Breastfeeding Father, but He is The best Father

Mungkin cara saya ini terdengar berlebihan. Tapi tak apalah, karena saya pun yakin bahwa segala sesuatu ituperlu diupayakan. Termasuk di dalamnya hubungan dalam pernikahan. Tak ada yang mampu menjamin kelangsungan kehidupan suami istri. Kecuali kita sendiri yang menjalani dan mau mengusahakannya.

3. Mewujudkan harapan orang tua selagi masih ada kesempatan


Ibu ... Ibu dan ibu. Seperti halnya yang diajarkan oleh Rasul, saya pun ingin lebih memperhatikan orang tua saya yang kini hanya tinggal ibu seorang. Mengingat usianya yang sudah semakin tua, sedangkan harapan dan impiannya masih banyak yang belum terwujud. Maka saya ingin mengusahakannya satu persatu, salah satunya untuk beribadah ke tanah suci.

Resolusi 2018
Semoga ibu selalu sehat hingga tercapai semua impiannya. Amin.


Selain itu, saya pun ingin mengupayakan harapannya pada kami anak-anaknya. Saya tahu, meskipun tak pernah terucap dari mulutnya, ibu pasti ingin saya berkarya sebagai perempuan terpelajar. Berpenghasilan secara mandiri sehingga mampu mengambil peran sebagai sekoci dalam rumah tangga. 


Harapan itu terus saya ingat, dan meskipun saya akui tidak mudah untuk diwujudkan saat sekarang. Tapi saya memiliki keyakinan untuk mewujudkannya suatu hari nanti, secepatnya. Saya yakin, pada saat yang tepat saya akan mempersembahkan kebanggan ini baginya.

4. Menulis satu buku cerita anak di tahun 2018


Seperti halnya penulis lain, saya pun menyimpan keinginan untuk menerbitkan minimal 1 buku seumur hidup saya. Saya pun mulai mantap untuk memilih buku ber-genre anak sebagai buku solo saya yang pertama.


Resolusi 2018
Buku antologi kelima yang terbit akhir 2017.


Mengapa buku cerita anak? 

Karena buku ini untuk anak-anak saya. Saya ingin ada satu hal yang bisa mereka sentuh, nikmati, ambil pelajaran dan simpan dari hasil belajar ibunya. Saya ingin buku ini menjadi buah dari malam-malam panjang yang saya lalui di depan laptop, demi menghindari protes karena menulis di siang hari. Di mana anak-anak lebih membutuhkan saya untuk teman bermain dan berbagi cerita.

Resolusi 2018
Calon buku antologi keenam (cerita anak) terbit Awal 2018

Saya memang tidak memasang target terlalu tinggi untuk buku saya nanti. Tapi saya berharap mampu menyajikan pendidikan dan pengalaman hidup yang dapat diteladani dari sebuah sumber bacaan. Cara yang selama ini saya terapkan pada anak-anak melalui sumber bacaan karya penulis lain. Maka bolehlah saya berkeinginan untuk menghadirkan karya saya sendiri sebagai sumber pelajaran kehidupan bagi DuoNaj.

Baca juga: Resolusi 2017- Sehat Jiwa dan Raga


Wah, wah, wah, ternyata banyak juga resolusi saya. Hehehe. Nggak pa pa ya, anggap saja semangat saya memang sedang di puncak. Karena kenyataannya memang benar. saya mulai merasakan passion ini menggerakkan seluruh energi positif dalam diri. Maka sayang jika membiarkannya menguap begitu saja.

Lalu, apakah saya menyiapkan strategi utuk mewujudkannya? Tentu saja sudah. Dia antaranya dengan menerapkan 4 manajemen dasar yang sebaiknya dimiliki semua perempuan. Dan satu hal vital yang menyebabkan segala hal yang kita rencanakan mampu diusahakan. Untuk 5 hal tersebut, saya menyebutnya sebagai "Rahasia Menjadi Perempuan Produktif".


Rahasia Menjadi Perempuan Produktif


Menurut saya pribadi dan beberapa sesi sharing yang saya ikuti di berbagai komunitas. Salah satu jurus jitu bagi perempuan untuk selalu produktif terletak pada bagaimana dia me-manage kehidupan. Teman-teman setuju nggak? Saya sih setuju karena sudah membuktikannya.

Hal ini pun pernah saya dengar dari Indari Mastuti, perempuan produktif yang membawahi satu jaringan Indscript Creative yang semakin menggurita. Indari Mastuti pernah menyebutkan, bahkan menuliskan dalam bukunya "Full Time VS Working Mom", bahwa setidaknya perempuan harus mampu mengelola hidupnya dengan 4 kemampuan manajemen. Apa sajakah itu?


1. Manajemen Waktu

Semua perempuan memiliki 24 jam sehari dalam hidupnya. Lalu mengapa produktivitasnya bisa berbeda-beda? Tentu saja hal ini dikarenakan kemampuan mengatur waktu setiap orang tidak sama. 

Saya nggak bilang bahwa perempuan yang terlihat selalu sibuk itu tidak pandai mengatur waktu ketimbang yang terlihat santai, atau sebaliknya. Karena setiap orang menghadapi kondisi yang berbeda dalam 24 jam yang dimilikinya.

Resolusi 2018
Pexel.com

Yang ditekankan dalam manajemen waktu bagi seorang perempuan adalah bagaimana mereka tidak menyia-nyiakan sedikit pun waktu yang dimiliki. Itu artinya seorang perempuan jika ingin produktif berkarya harus memiliki rencana harian atau to do list, sehingga mampu mengalokasikan seluruh waktunya untuk segala hal yang bermanfaat. 

Betewe, mengambil jeda untuk sekedar bersantai sambil minum teh juga manfaat, loh. Jadi nggak perlu khawatir bahwa to do list harian akan terlalu mengekang aktivitas kita. Tapi sebaliknya, dengan adanya to do list kita akan tahu betul kegiatan apa saja yang bisa dialokasikan waktunya. jadi nggak ada istilah waktu terbuang percuma.


2. Manajemen Prioritas

Mom, Master of Multitasking, begitu katanya. Oke, saya setuju sekali karena kenyataannya memang seperti itu. Entah ibu bekerja di luar ataupun di dalam rumah, kenyatannya perempuan memang memiliki keahlian untuk multitasking. 

Tapi, kita nggak bisa ya terus-terusan menjadi makhluk multitasking tanpa prioritas yang harus dibuat. Begitu pun dalam mengelola to do list harian. itu sebabnya mengapa to do list itu harus dibuat tidak kaku, alias fleksibel.

Resolusi 2018
Pexel.com

Misalnya nih, kita sudah merencanakan siang hari menulis satu postingan. Ee, ternyata si kecil pakek acara ngambek. Otomatis pending dulu acara tulis menulisnya, ganti bermain dengan bocil. Sebagai gantinya, saya akan mengoper satu kegiatan yang tidak terlalu urgent dengan rencana membuat postingan yang sudah saya pending tadi. Sebagai contohnya menyetrika baju atau mengepel yang menurut saya tidak perlu dilakukan setiap hari.  Akur ya? Hehehe, ini bukan alasan karena saya malas menyetrika, loh. Hehehe.

3. Manajemen Keuangan

Yup, perempuan harus cermat mengatur keuangan. Apalagi jika sumber keuangan kita masih berasal dari satu "kran" saja, seperti saya. 

Dalam mengatur keuangan pun kita perlu membuat perencanaan baik jangka pendek maupun panjang. Mulai kebutuhan rutin bulanan, tahunan hingga kebutuhan tak terduga. Selain itu butuh prioritas yang disesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan setiap keluarga.

Resolusi 2018
Pexel.com


Keluarga kami misalnya, untuk kebutuhan pendidikan formal anak-anak memang tidak terlalu besar karena Najwa bersekolah di SD Negeri. Sebagai gantinya, kami menganggarkan kegiatan family edutrip sebagai salah satu pengeluaran rutin. Dengan tujuan untuk memberikan pengalaman nyata yang diharapkan menambah pengetahuannya di luar pendidikan formal.

Baca cerita DuoNaj:  Edutrip ke Musem Air Tawar dan Museum Serangga

Prioritas setiap keluarga pasti berbeda. Tapi memiliki manajemen keuangan sangat penting sifatnya bagi setiap keluarga. Kemampuan ini sangat men-support keinginan seorang perempuan untuk bisa produktif. Karena tidak bisa dipungkiri, sekarang ini tidak ada hal yang gratis. Maka memberikan alokasi tersendiri untuk hal yang mendukung produktivitas perlu dipertimbangkan. Misalnya untuk biaya training, mempraktikkan ilmu atau menyalurkan hobi. 

Kemampuan memanajemen uang juga bukan berarti mendukung kita menjadi pribadi yang pelit. Tidak sama sekali. Justru dengan kemampuan ini, kita akan lebih terarah dalam membelanjakan uang, sehingga tahu mana saja pos yang penting dan tidak.

4. Manajemen Bahagia

Jika sesekali kita merasa kehidupan orang lain lebih bahagia daripada kita, mungkin itu masih wajar. Karena bagaimanapun rumput di halaman tetangga selalu lebih hijau daripada rumput di halaman sendiri. Tapi kalau keterusan berpikir seperti itu, maka kondisi emosi kita menjadi tidak sehat. Akibatnya bisa jadi iri hati dan kurang bersyukur. Duh amit-amit, ya.

Hidup itu sawang sinawang. Segala yang kita lihat tidak selalu seindah yang kita bayangkan. Seperti juga sepatu, ukuran dan bentuk kaki setiap orang selalu berbeda, maka jangan memaksakan diri memakai ukuran orang lain.

Mensyukuri kehidupan adalah cara paling mudah untuk me-manage perasaan bahagia. Menyadari bahwa segala hal yang kita peroleh sebagai takaran yang pas sesuai usaha dan kebutuhan kita adalah cara yang menenangkan.

Resolusi 2018
I start to be happier, whatever my condition

Adakalanya melihat ke bawah untuk menambah kadar syukur dan bahagia. Jika harus melihat ke atas, jadikan sebagai motivasi untuk melompat lebih tinggi. Dan ketika melihat ke depan, maka hadapilah kenyataan. Syukuri dan berbahagialah dengan setiap pencapaian. Karena kata orang bahagia itu terkadang sederhana saja.

Saya mulai melatih dan menerapkan diri dengan 4 manajemen ini di awal tahun 2017. Meskipun belum maksimal, tapi saya dapat merasakan perubahan dalam diri baik secara personal maupun dalam menghadapi suami dan anak-anak. Hal ini membuat saya semakin yakin dan ingin kembali menerapkannya sebagai resep menuntaskan resolusi 2018.

Sayangnya, satu hal yang masih sering menjadi kendala. Kondisi kesehatan saya masih sering drop di tengah jalan. Biasanya karena kelelahan atau kurang asupan vitamin akibat pola makan yang kebanyakan cheating makanan siap saji. Saya sadar betul, kekurangan asupan vitamin dan mineral sangat rentan menurunkan daya tahan tubuh dan dapat menimbulkan  berbagai penyakit.

Untuk itu saya pun berencana memulai kembali pola makan seimbang untuk mencukupi nutrisi harian. Sedangkan untuk asupan multivitaminnya, saya selalu mengonsumsi Theragran-M terutama pada masa-masa pemulihan setelah sakit. 

Mengapa Theragran-M?

Karena Theragran-M mengandung vitamin A, B, C, D dan E serta mineral esensial seperti Magnesium dan Zinc. Multivitamin ini pun sudah diresepkan sejak tahun 1976 sehingga sangat terpercaya. Theragran-M juga merupakan pilihan vitamin yang bagus untuk mempercepat masa penyembuhan. Selain juga merupakan pilihan vitamin untuk mengambalikan kondisi tubuh setelah sakit.


Resolusi 2018


Mungkin Teman-teman berpikir, kok segitu pentingya memilih vitamin untuk masa penyembuhan bagi saya? Jawabnya karena ibu itu nggak boleh sakit. Minimal, kalau sakit jangan lama-lama, lah. Bisa kacau urusan rumah tangga kalau si ibu kelamaan bobok-bobok cantik kesakitan. Mulai urusan dapur sampai sekolah anak bisa jadi nggak terkontrol dan berantakan. Kalau sudah begitu, lagi-lagi perempuan yang harus nanggung repotnya di belakang. Duh, nggak mau banget kan?

Karena itu kita harus sehat ya, Temans. Selain agar lebih lancar dalam menjalankan segala resolusi yang sudah dibuat. Kesehatan adalah modal utama dalam menjalani kehidupan ini. Apa artinya kaya jika sakit-sakitan? Kebahagiaan pun terasa tidak sempurna jika raga tak mendapatkan haknya untuk sehat.


Resolusi 2018

Jadi, jangan pernah menunda dan beralasan untuk memulai hidup sehat. Begitu pun halnya jika memerlukan tambahan vitamin untuk menjaga daya tahan tubuh dan melengkapi kebutuhan mineral. Cukup satu butir kaplet salut gula dari Theragran-M yang dikonsumsi baik sewaktu atau sesudah makan sebagai body booster. Cara mendapatkannya pun sangat mudah, karena Theragran-M bisa dibeli di toko obat atau apotik di sekitar kita. Tentunya dengan harga yang sangat terjangkau di kantong kita-kita.

Rasanya saya semakin siap dan yakin untuk melalui 2018. Selain telah berbekal resolusi yang membuat langkah-langkah saya lebih terarah. Saya pun telah mengungkap rahasianya agar senantiasa menjadi perempuan yang produktif berkarya. Dan tentu saja karena saya sangat antusias, optimis dan memilih untuk sehat dengan pola makan seimbang dan multivitamin yang berkualitas.




Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Theragran-M.




Ibu Selalu Ada meskipun Tak Mampu Sempurna

|

Tempra Syrup


Jika hari ini saya terlihat sangat menikmati peran  sebagai ibu, tentu saja hal itu tidak datang begitu saja. Proses yang saya lalui lumayan panjang dan berliku. Tak sedikit pula air mata yang saya tumpahkan selama proses ini berlangsung.

Bukan. Bukan karena saya belum siap menjadi ibu. Atau karena saya tidak menyukai anak-anak. Saya menikah saat usia sudah matang untuk ukuran gadis desa. Sebelum menikah pun saya sangat dekat dan senang beraktivitas dengan anak-anak. Tapi setelah melahirkan dan resmi menjadi ibu bagi Najwa, saya merasakan kondisi saya sangat tidak ideal. Jauh dari kata sempurna untuk disebut ibu yang utuh.

Anggapan seperti itu mungkin memang hanya datang dari alam bawah sadar saya sendiri. Karena kenyataannya tak ada seorang pun yang pernah mengucapkannya, entah kalau di belakang, ya. Hehehe. Di mulai dengan melahirkan secara caesar, gagal  memberikan ASI pertama, dan kemudian tak mampu mengasuh sepenuh waktu karena masih bekerja kantoran. Perasaan-perasaan tak mampu sering kali mengganggu pikiran saya.

Sebenarnya tak ada yang salah dengan semua itu. Melahirkan dengan cara apapun seorang ibu tetaplah ibu. Begitu pun halnya tak ada satu definisi pun yang menyebutkan bahwa seorang ibu adalah ibu rumah tangga. Ibu, ya hanyalah mereka yang mampu membesarkan anak-anaknya dengan curahan kasih sayang dan doa. Bahkan saat si anak bukan dari rahimnya.


Masalahnya, saya bukan tipe orang yang bisa cuek dengan lingkungan sekitar.  Terlebih, saat melihat karakter saya berbeda dengan teman atau perempuan lain yang juga menyandang status sebagai ibu. Bukannya bersikap lembut pada anak, saya merasa terlalu tegas bahkan saat Najwa masih berumur balita.

Sempat berpikir bahwa karakter pengasuhan saya pasti sedikit banyak dipengaruhi oleh pengalaman pengasuhan orang tua. Tapi apa iya saya harus menyalahkan ibu yang saat itu berjuang sebagai single parent? "Ah! Semua ini pasti karena aku kurang cakap mengelola emosi. Sehingga tak maumpu bersikap sebagaimana layaknya ibu kepada anak," begitu batin saya dalam hati kala itu.


Tempra Syrup
Bagi Najib, anak bungsu saya. Saya adalah kekasih dan ciuman pertamanya.

Munculnya Perasaan Inferior


Sering kali muncul perasaan minder dalam diri saya saat melihat ibu lain begitu piawai melakukan perannya. Persis seperti yang sering saya baca dalam buku-buku parenting. Kalau sudah begitu biasanya saya agak uring-uringan karena merasa jauh dari standart itu.

Kadang, perasaan inferior juga muncul saat melihat orang tua yang tidak hanya mengasuh. Tapi sanggup mendidik dalam segala hal. Baik pendidikan moral dan budi pekerti. Agama bahkan berbagai jenis ilmu yang memang mereka kuasai. Saya salut dengan ibu-ibu yang mampu mengawal anak-anaknya dengan model pendidikan homeschooling. Menurut saya mereka tidak hanya hebat, tapi memang begitulah selayaknya seorang ibu sebagai madrasah utama bagi anak-anaknya.

Perasaan-perasaan seperti itu sukses membuat kepercayaan diri saya merosot, dan puncaknya sikap emosional yang sering saya tunjukkan pada anak-anak saya.


Menjadi Ibu Tak Harus Sempurna tapi Harus Memiliki Cinta

 

Hingga akhirnya saya coba berdamai dengan segala kondisi yang ada. Mulai memahami dan menerima keterbatasan yang saya miliki. Sampai memahami karakter dan kondisi psikologis anak. Saya pun sampai pada satu kesimpulan bahwa anak-anak lebih membutuhkan cinta dan kasih sayang saya, ketimbang segala hal yang selama ini memunculkan perasaan inferior. 

Mereka sangat gembira saat bermain bahkan dengan permainan yang asal-asalan dan ala kadarnya. Jauh dari labeling mainan edukatif yang biasanya disematkan untuk permainan orang tua masa kini. Mereka pun tidak mempermasalahkan cara saya bertutur dan mengasuh yang tak selembut ibu peri. Efeknya justru hubungan kami seperti teman sebaya, bukan hanya ibu dan anak.

Kedekatan yang unik ini menyadarkan saya bahwa anak-anak menerima ibunya apa adanya. Mereka tak butuh segala "atribut ibu sempurna". Tak peduli bagaimana saya melahirkan mereka. Yang mereka tahu saya adalah teman terbaiknya. Hingga kapan pun mereka ingin bermain atau sekedar bercerita, maka sayalah orang pertama yang dicarinya.

Kebutuhan seperti itu tidak lain adalah ungkapan cinta. Ya, anak-anak sangat mencintai saya dengan segala keterbatasan yang ada pada diri ibunya. Cinta, adalah mantra ajaib bagi seorang ibu. Bukan kesempurnaan, tapi cinta dan kemauan untuk menerima dan memahami keunikan setiap anggota keluarga.

 



Tempra Syrup
Kemana pun kami selalu bertiga. Kurang lebih seperti Trio Kwek-kwek. Hehehe :)


Mencintai dengan Cara yang Tak Biasa

 

Perasaan dicintai dan dibutuhkan anak-anak, secara perlahan "menggiring" diri menjadi pribadi yang berbeda. Saya lebih banyak bersyukur, lebih mampu mencintai dan bisa berdamai dengan diri sendiri. 

Hal baik seperti itulah yang kemudian membuat saya mampu mencintai anak-anak dengan cara saya sendiri. Beda? Sekilas mungkin sama saja. Tapi saya lebih suka menyebutnya dengan cara yang tak biasa, karena ini adalah cara saya mencintai mereka.

Baca juga: L.O.V.E - How do You Spell Love?


Menjadi teman dekat anak

Mengasuh anak merupakan aktivitas membersamai yang tak berkesudahan. Mulai dari bayi hingga dewasa, saya kira orang tua masih terus mengasuh anak-anaknya. Hanya saja caranya pasti berbeda. Dulu kecil mereka kita timang. Tapi begitu beranjak remaja, mereka tak membutuhkan itu lagi. Mereka butuh teman dekat untuk berbagai segala hal yang dialaminya.

Begitu usia bertambah dewasa, yang mereka butuhkan tidak sekedar teman dekat. Seiring bertambahnya tanggung jawab dan persoalan hidup yang harus mereka hadapi. Maka orang tua adalah tempat berguru pengalaman dan meminta pertimbangan.

Saya yakin dengan memposisikan diri sebagai teman, maka hubungan dengan anak-anak tak lekang oleh zaman. Ketika mereka bertumbuh, saya pun akan menumbuhkan kedewasaan dan kearifan saya sebagai orang tua. Tapi saat mereka masih ana-anak seperti sekarang, saya tidak segan masuk ke dunia yang penuh dengan fantasi yang seringnya tidak masuk akal.

Baca juga: Every Family Has Its Own Rule (1)


Tempra Syrup
See, he likes to kiss me.


Mengakui dan Saling Menerima Kekurangan

Kalau dulu saya cenderung menutupi kekurangan pada diri. Kini saya mulai bersikap apa adanya. Saya tak segan untuk mengatakan pada anak dan suami tentang hal-hal yang memang tidak saya kuasai. Misalnya jika mereka meminta makanan tertentu, saya jujur saja bilang, "ibu belum bisa, karena belum belajar. Nanti, setelah ibu belajar, pasti ibu buatkan."

Atau saat mereka mengeluhkan cara berbicara saya yang keras. Saya akan dengan jujur mengakui bahwa gaya berbicara ibu memang seperti ini, keras dan tegas. Tapi dalam hati sebenarnya saya sangat perasa dan mudah memahami perasaan orang lain.

Sebaliknya, saya pun mulai tak segan menerima kekurangan-kekurangan baik pada anak maupun pasangan. Saya paham ada banyak hal yang tidak bisa diubah dengan cepat. Butuh proses dan pemahaman yang tidak sebentar pula. Maka dari itu, saya pun berusaha menerima, karea di sisi lain saya ingin diterima apa adanya.

Baca juga: Emotional Conversation with Kiddos


Bersedia Berproses Bersama

Seperti yang saya sebutkan di atas, bahwa menjadi orang tua  merupakan tanggung jawab yang tak berkesudahan. Tantangan yang dihadapi pun selalu berubah dari waktu ke waktu. Untuk itu saya memilih berproses bersama mereka sehingga dapat mengikuti setiap fase tumbuh kembangnya.

Raga boleh menua, tapi rasa dan pengetahuan seorang ibu sudah semestinya bisa berjalan beriringan dengan zaman anak-anaknya.


Menjadi Diri Sendiri dalam Mencurahkan Cinta dan Perhatian

Jika sebagian besar ibu menyapa anak-anaknya dengan cara, "Halo, sayang. Bagaimana kegiatan hari ini? Capek, nggak? Sini Mama pijitin?" Saya malah seringnya mengatakan seperti ini, " Hai, guys? Udah pada makan belum? Ngomong-ngomong, ada kejadian seru apa hari ini?"  Meskipun dari segi usia mereka masih kanak-kanak, mereka paham betul cara saya itu. Mereka pun langsung berceloteh mulai A sampai Z seolah sedang bercerita pada temannya. 

Cara dan ekspresi setiap ibu memang selalu berbeda. Tapi coba kita rasakan, selalu ada cinta dalam segala hal yang mereka lakukan pada anak-anaknya.

Tempra Syrup
Trio kwek-kwek lagi edutrip ke Museum Air Tawar di TMII.

Menjadi Penolong Pertama

Bagi saya, setelah seorang perempuan mengikrarkan diri sebagai ibu itu artinya harus siap menjadi penolong utama bagi anak-anaknya. Apapun dan bagaimana pun caranya, ibulah yang pertama kali dibutuhkan anak-anak. Bahkan mengenai hal ini pun, Allah telah menunjukkannya melalui hubungan dalam tali pusat dan Air Susu Ibu.

Untuk itu saya pun berusaha menjadi penolong pertama bagi Najwa dan Najib yang tergolong masih kanak-kanak. Masih butuh banyak dibantu dalam segala hal. Tidak hanya untuk kegiatan sehari-hari atau dalam permainan. Untuk urusan sekolah atau kegiatan lain di luar rumah. Ibu, ibu dan ibu, begitulah biasanya anak-anak meminta saya sebagai penolongnya yang pertama.

Itu saja saat kondisi mereka sehat. Saat sakit, saya bukan hanya penolong pertama, tapi benar-benar menjadi ibu peri yang membawa kesembuhan bagi mereka. Untungnya, saya telah belajar banyak hal mengenai penanganan anak sakit sejak kelahiran anak pertama.

Anak-anak memang masih rentan sakit, terlebih panas dan deman yang biasanya muncul akibat respon terhadap gangguan pada tubuh. Misalnya mau flu atau tumbuh gigi. Biasanya selalu diawali panas atau demam ringan sebagai gejala awal. 

Biasanya, saya pun tidak tergesa-gesa memeriksakan anak ke dokter. Sebagai pertolongan pertama, beberapa hal berikut ini selalu saya lakukan pada anak saat demam.


Pertolongan Pertama saat Anak Demam 
1. Periksa suhu tubuh secara berkala dengan termometer. Saya pun terbiasa mencatatnya untuk melihat perkembangannya dari jam ke jam berikutnya. saat suhu masih di bawah 38, saya masih menganggapnya aman. Tapi ketika sudah menyentuh angka 38 atau lebih, maka segera saya memberikan obat. Dan 

2. Mengompres lipatan-lipatan tubuh dengan kompres hangat. Ya, sejak Najwa berusia 1 tahun saya mulai beralih menggunakan kompres hangat karena mempertimbangkan pendapat dari ahli medis. Selain itu, saya tetap memandikan anak-anak bahkan mengajak mereka berendam di bak air hangat dengan maksud membantu menurunkan suhu tubuhnya.

3. Memperbanyak cairan yang masuk ke tubuh anak, terlebih air putih. Cara ini untuk mencegah dehidrasi yang biasanya mengikuti gejala sakit panas atau demam. Untuk itu konsumsi air putih atau minuman dalam bentuk lain harus dijaga agar tubuh tidak sampai kekurangan cairan. Oh ya, kadang-kadang saya juga memberikan sari kurma untuk menjaga trombosit darah tetap stabil. 


Tempra Syrup
Saat kondisi tubuh menurun atau demam, saya pastikan anak banyak mengasup buah-buahan dan air putih.


4. Memakaikan pakaian yang berbahan dingin dan menyerap keringat. Serta mengatur suhu ruangan tetap dingin meskipun juga jangan sampai kedinginan.

5. Memberikan parasetamol untuk membantu menurunkan panas dan menghilangkan nyeri. Untuk jenis parasetamolnya sendiri saya sudah terbiasa memakai Tempra Paracetamol Syrup

Kalau ditanya mengapa memlih Tempra? Alasan pertama karena sudah dipakai turun temurun sejak zaman ibu saya mengobati anak-anaknya.  Setelah itu beralih pada kakak-kakak saya yang memilih Tempra juga untuk pertolongan pertama saat demam bagi anak-anaknya. Saya pun sudah menggunakannya saat baru memiliki anak pertama. Jadi begitu cocok dan tidak ada efek samping, rasanya sudah malas coba-coba obat penurun panas jenis lain.


Tempra Syrup
Tempra Syrup dan Termometer adalah senjata andalan ibu siaga demam.


Kelebihan Tempra Syrup

Selain itu saya lebih memilih paracetamol ketimbang ibuprofen ketika anak mengalami panas atau demam ringan. Karena cara kerja paracetamol sendiri lebih terfokus pada menurunkan demam dan bersifat anti-pirektik pada pusat pengatur suhu di otak. Sehingga proses penurunan suhu tubuh pun biasanya berlangsung secara bertahap.

Sedangkan untuk ibuprofen, para ahli berpendapat obat jenis ini bekerja lebih maksimal ketika ditemukan gejala inflamasi atau peradangan. Dari pengalaman saya, penurunan suhu tubuh cenderung cepat. Tapi jika tubuh penderita tidak siap, justru bisa menggigil karena kaget dengan penurunan suhu yang drastis.


Tempra Syrup
Dosis pemakaian Tempra Syrup.


Untuk Tempra Paracetamol Syrup sendiri selain mengandung paracetamol, kandungan analgetika di dalamnya mampu meningkatkan ambang rasa sakit. Sehingga dapat membantu mengurangi rasa nyeri yang mengikuti gejala panas dan demam pada anak.

Oh ya, Tempra Paracetamol juga sangat aman untuk lambung. Karena pada dasarnya paracetamol sendiri memang bisa dikonsumsi sebelum atau sesudah makan. Meskipun biasanya dianjurkan setelah makan. Sedangkan untuk cara mengonsumsinya tidak perlu dikocok dulu, karena sirup obat Tempra sudah larut 100%  dengan dosis yang tepat sehingga tak perlu khawatir kurang atau lebih. Yang penting selalu perhatikan dosis pemakaian yang ada di kemasannya.

Tempra Syrup
Kandungan produk dan peringatan pemakaian.


Dan yang penting banget, nih. Tempra Syrup bebas alkohol sehingga benar-benar aman. Rasanya pun enak dan tidak pahit, sehingga mudah memberikannya pada anak-anak. Saya pun selalu memiliki persediaan di rumah agar selalu merasa aman karena harus menjadi penolong pertama bagi anak.


6. Yang terakhir, saya akan segera memeriksakan si kecil ke dokter jika panas atau demam tubunya tidak kunjung reda setelah tiga hari pengobatan di rumah.  Tindakan ini harus segera dilakukan karena penangan yang telat pada kasus demam bisa berakibat fatal.

Baca juga: Every Family Has Its Own Rule (2)


Berbekal cinta dan kasih sayang untuk anak-anak, saya merasa lebih utuh sebagai seorang ibu. Karena saya yakin, setiap ibu adalah perwujudan cinta kasih. Oleh sebab itu selalu ada cinta dalam dirinya. Walaupun cara mengekspresikannya bisa jadi berbeda. Karena setiap ibu unik dan melahirkan anak-anak yang juga tak kalah unik.


Tempra Syrup
Anak-anak, masa depan yang menguatkan setiap langkah saya.


Teman-teman yang sudah menjadi ibu pasti tahu bagaimana rasanya, kan? Yuk, berbagi pengalaman menjadi ibu di komentar, ya. Have fun with our own journey as a Mom, Ladies!



Referensi tambahan:
https://hellosehat.com/hidup-sehat/tips-sehat/paracetamol-vs-ibuprofen/
http://www.taisho.co.id/index.php/id/hidden-menu-tempra/89-tempra-syrup



Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Tempra.



Rangkaian Produk Zalfa Cosmetics yang Mendukung Kulit Wajah Cerah Alami

|

Zalfa Miracle Cosmetics

Menikah, hamil dan kemudian melahirkan, sering kali menyebabkan perempuan mulai malas merawat kecantikan kulit wajahnya. Alasan terlalu repot dengan urusan rumah tangga, atau "ahh, sudah ada yang mau ini!" Biasanya membuat perempuan mulai ogah-ogahan untuk melakukan ritual merawat kulit yang sebenarnya inti dari kecantikan wajah alami.

Padahal fase setelah menikah, hamil dan kemudian menyusui. Bisa jadi merupakan fase yang sangat riskan karena hormon dalam tubuh yang kerap kali diproduksi besar-besaran. Maka nggak perlu heran, jika permasalahan kulit dewasa seperti muncul flek, garis-garis halus dan kerutan wajah, menurunnya elastisitas atau kering dan kusam. Biasanya menjadi momok tersendiri dan hampir dialami semua perempuan pada masa pasca pernikahan.


 Alternatif Mengatasi Permasalahan Kulit Wajah bagi Perempuan Dewasa

Zalfa Miracle Cosmetics
Apapun jenis dan permasalahan kulit kalian. Perawatan dasar sifatnya wajib dilakukan. (@zalfamiracle)
Bagi sebagian perempuan, memang mudah saja menangani masalah kulit wajah seperti yang sudah saya sebutkan di atas. Terlebih jika mereka tinggal di kota besar, di mana banyak klinik kecantikan yang bisa menyelesaikan masalah-masalah tersebut dengan lebih cepat. Misalnya dengan laser, suntik botox, filler, mikrodermabasi atau chemical peeling.

Masalahnya, tidak semua perempuan memiliki waktu luang selonggar itu. Saya sendiri mengalaminya setelah menikah dan menjadi ibu. Jangankan merawat wajah berjam-jam di klinik kecantikan, ke warung sebelah rumah aja si kecil sudah teriak-teriak, hehehe. Kalian yang sudah jadi ibu juga pasti pernah  mengalaminya, kan?

Ada juga yang memilih mengoreksi kekurangan wajahnya dengan make-up sebagai tampilan paripurna.  Bisa saja, sih. Tapi masalahnya kondisi kulit yang tidak benar-benar terawat justru semakin bermasalah dengan pemakaian make-up yang terlalu sering. Bukannya memperbaiki kondisi, tapi bisa saja malah menambah masalah baru.

Beberapa pertimbangan itu juga yang akhirnya memaksa saya untuk melakukan rutinitas perawatan kulit wajah di rumah. Karena saya sadar betul, bahwa kecantikan kulit wajah sangat dipengaruhi oleh perawatannya, bukan sekedar polesan.

Apalagi  saya memiliki pengalaman buruk terkait perawatan wajah di klinik kecantikan. Kondisi kulit wajah saya menjadi sangat sensitif setelah berhenti melakukan perawatan di klinik.  Dan memakai kosmetik jenis apapun selalu bermasalah. Ini dikarenakan saya telah mengalami ketergantungan dengan produk klinik kecantikan tersebut. Sehingga butuh waktu yang lumayan lama untuk mengembalikan kondisi kulit wajah kembali normal dan mampu beradaptasi dengan skin care lain.


Step by Step Perawatan Wajah dengan Zalfa Miracle Cosmetics

Untungnya kita hidup pada zaman di mana produk kecantikan terus berinovasi dengan maksimal. Produsen pun mulai memahami kebutuhan konsumen perempuan yang ingin merawat kulit wajahnya dengan produk perawatan alami yang minim efek samping dalam penggunaan jangka panjang.

Salah satunya seperti produk skin care wajah keluaran Zalfa Cosmetics yang diklaim menggunakan ekstrak bahan-bahan asli dari alam. Misalnya lidah buaya yang memiliki efek melembabkan dan ekstrak kakadu plum sebagai bahan alami pencerah.

Belakangan ini  memang produk perawatan dengan hasil akhir kulit cerah dan segar sedang sangat digandrungi. Karena kondisi kulit yang seperti ini memang membuat tampilan lebih muda dan berseri-seri. Saya sendiri sebagai ibu rumah tangga yang jarang berdandan, lebih menyukai tampilan wajah yang cerah dan segar alami. Untuk itu, beberapa langkah perawatan wajah dengan produk Zalfa Miracle Cosmetics berikut bisa menjadi salah satu solusi.

Zalfa Miracle Cosmetics
@zalfamiracle


1. Perawatan dengan Zalfa Miracle Lightening Series ( facial wash dan krim wajah)

Dalam ritual merawat kulit wajah, mencuci muka adalah hal yang tidak boleh ditinggalkan. Karena pada dasarnya kulit wajah yang bersih dari minyak, debu atau kotoran lainnya adalah awal untuk mendapatkan kulit yang sehat dan segar.

Untungnya dalam rangkaian Zalfa Miracle Lightening Series, facial wash adalah salah satu produk yang tergabung di dalamnya. Selain produk utama yang berupa krim pagi dan krim malam. Untuk itu kita tak perlu repot-repot mencari produk pencuci muka dari varian lain. Karena penggunaan produk dalam satu varian cenderung memberikan hasil lebih optimal. Nah, setelah mengguakan facial wash, barulah kita aplikasikan produk perawatan yang berupa krim wajah. Baik day ataupun night cream.

Untuk pemakaian pagi hingga siang hari, selalu gunakan day cream Zalfa yang memiliki efek menangkal radikal bebas dan melindungi kulit dari pengaruh buruk sinar UV-A dan UV-B. Selain itu, krim pagi dari Zalfa yang mengandung ekstrak aloe vera dan vitamin E ini juga berfungsi sebagai pelembab. Yang membantu memastikan kulit kita selalu terhidrasi dan cenderung moist.


Sedangkan untuk perawatan malam hari, krim malam atau night cream dari Zalfa bekerja dengan cara menutrisi dan meremajakan kulit. Kandungan arbutin dan kojic acid di dalamnya dipercaya dapat berfungsi dengan maksimal sebagai bahan pencerah alami kulit jika digunakan pada malam hari saat tubuh dan kulit sedang beristirahat.


Zalfa Miracle Cosmetics
@zalfamiracle


2. Penggunaan Zalfa Miracle Serum Antiaging

Selain pembersihan dan perawatan dengan krim wajah, serum adalah produk yang sangat vital. Tau diri, dong! Umur sudah nggak muda lagi. Garis halus dan kerutan wajah mulai nampak di sana-sini. Elastisitas kulit pun sudah jauh berkurang dibanding saat masih gadis. Untuk itu, sebelum pengaplikasian krim pagi atau krim malam biasanya saya menyisipkan pemakaian serum antiaging. 

Untuk urusan serum antiaging, produk keluaran Zalfa lagi-lagi memberikan inovasi yang lain daripada produk sejenis. Karena selain memberikan efek antiaging, kandungan vitamin C dalam Zalfa Miracle Serum Antiaging juga bekerja mencerahkan kulit wajah. Selain kandungan colagen dan ekstrak kedelai yang diyakini memberikan manfaat lebih untuk mengembalikan kekenyalan kulit wajah.

Zalfa Miracle Cosmetics
@zalfamiracle


3. Penggunaan Zalfa Lightening Concentrate Kakadu Plum

Nah, untuk produk yang ketiga ini sebenarnya sudah komplit banget kandungannya. Karena Zalfa Miracle Concentrate Kakadu Plum ini diformulasikan untuk mencerahkan wajah sekaligus menghilangkan flek dan noda bekas jerawat. 

Kandungan buah organik Kakadu Plum di dalamnya dipercaya sangat efektif meningkatkan kadar kecerahan wajah. Ditambah vitamin C dan Niacinamide, zat pencerah di dalamnya bekerja semakin optimal. Tak hanya itu, Zalfa Miracle Concentrate Kakadu Plum juga diperkaya Castor Oil yang dapat menstimulus pembentukan kolagen alami pada kulit wajah. Dan yang paling penting produk ini non paraben, ya. Jadi aman banget buat pemakaian jangka panjang.


Zalfa Miracle Cosmetics
@zalfamiracle


Rangkaian produk Zalfa Cosmetics sendiri sebenarnya sangat bervariasi. Karena  mereka concern banget pada kebutuhan masing-masing kulit wajah. Dan kabar baiknya seluruh produk Zalfa Cosmetics ini sudah lolos badan POM RI, bersertifikat halal dan aman dari bahan kimia berbahaya. Bahkan aman untuk digunakan ibu hamil dan menyusui.

Hanya saja untuk pembeliannya harus melalui distributor Zalfa Cosmetics yang tersebar di berbagai kota. Sehingga produk ini tidak dijual bebas di toko kosmetik atau counter kecantikan di pusat-pusat perbelanjaan.Untuk mendapatkan info lengkap dari produk ini, teman-teman bisa langsung meluncur ke website resmi Zalfa Miracle Cosmetics, ya. Atau ke akun instagramnya di @zalfamiracle

Nah, ternyata merawat wajah itu gampang saja, ya. Terlebih jika menggunakan skin care seperti Zalfa Miracle Cosmetics yang terbukti aman, halal dan jelas khasiat dari bahan-bahan pembuatnya. Jadi, sudah siapkah Teman-teman untuk memiliki kulit wajah cerah alami?







Emotional Conversation with Kiddos

|

Seperti biasa, saya bangun 3 jam lebih awal dari anak-anak. Setelah membuat draft untuk bahan postingan blog pada hari berikutnya, saya bergegas menuju dapur untuk membereskan gelas dan piring kotor bekas makan semalam. Melanjutkannya dengan membereskan rumah yang selalu berantakan karena anak-anak baru berhenti bermain saat jam tidur malam tiba.

Segera saya menuju lemari pendingin untuk mengecek stock sayur dan lauk untuk disajikan sebagai menu sarapan. Tapi kemudian saya baru teringat, Najwa dan Najib sudah pesan ingin makan telur rebus untuk sarapan pagi itu. Kebetulan sekali justru persediaan telur di rumah sedang habis. Maka sambil menunggu toko sembako di dekat rumah buka, saya melanjutkan dengan menyapu lantai dan membereskan cucian untuk dimasukkan ke keranjang setrikaan.

Tepat pukul 5 pagi, saya berangkat membeli telur ke toko yang berjarak 50 meter dari rumah. Dan 10 menit kemudian saya sudah berada di rumah kembali. Begitu masuk dapur, hal pertama yang saya lakukan adalah merebus telur untuk sarapan anak-anak. Sembari menunggu telur matang, saya pun merebus sayur, membuat sambal dan menggoreng ayam untuk menu sarapan yang lain.

15 menit berikutnya telur telah matang, dan tepat saat itu Najwa sudah bangun dan duduk di ruang tengah. Saya pun segera menyiapkan telur dan makanan lainnya di meja makan, mengoles roti dengan coklat sebagai pengisi kotak bekal, mengisi botol air dan menyiapkan seragam Najwa untuk hari itu.

"Kak, sudah waktunya mandi. Ibuk sudah siapkan semuanya." Begitu saya berusaha mengingatkan Najwa untuk segera mandi.

"Sebentar, Buk. Sebentar lagi," sahut Najwa masih di tempat duduknya.

Saya pun melirik jam dinding, memang masih pagi, sih. Masih cukup jika Najwa mau mengulur waktu sampai kurang lebih 15 menit lagi. Saya  beranjak menuju meja kecil di sebelah rak buku yang mulai berjejalan isinya. Sambil menunggu Najwa mandi, saya berpikir masih punya waktu untuk meng-edit draft yang sudah setengah jadi.

Jari-jari saya mulai menyentuh kotak-kotak kecil di atas external keyboard yang tersambung pada laptop. Melanjutkan beberapa kalimat penutup sebelum nantinya meng-edit naskah secara keseluruhan. saat itu juga tiba-tiba mulut Najwa mengajukan satu pertanyaan pada saya.
"Buk, Ibuk tuh sampai kapan, sih, nulis-nulis kayak gitu?"

"Ya, sampai seterusnya, Kak. Karena Ibuk sudah berniat untuk bekerja dengan cara menulis seperti ini."

"Masak setiap hari Ibuk nulis, emang berapa banyak buku yang mau dibuat? Masak mau buat buku terus?"

"Ibuk menulis bukan untuk membuat buku saja, tapi Ibuk juga menulis di blog. Kakak ingat, kan, cerita-cerita yang kapan hari Ibuk bacakan dari laptop Ibuk? Yang ada fotonya Najwa, Ayah, juga Adik?"

"Iya, tapi sampai kapan Ibuk mau seperti itu? Coba Ibuk kerjanya pergi ke kantor saja. Jadi kalau pagi Ibuk berangkat kayak Budhe atau Umminya Dinda. Setelah pulang, sampai di rumah sudah nggak kerja lagi. Kita cuma bermain." 

Saya mulai paham arah pembicaraan Najwa. Pasti dia mau saya main terus sama mereka. Karena sebelumnya Najwa sudah menyampaikan keinginannya itu. Pokoknya kalau anak-anak main, ibuk juga harus main. Nggak boleh masak, nggak boleh nyapu apalagi ngetik. Saya pun bernafas dalam-dalam, mencoba tidak terpancing emosi di pagi hari.

"Ibuk nggak punya kantor, Kak. Jadi semuanya dikerjakan dari rumah. Kalau Ibuk kerja di kantor, kakak mau ditinggal Ibuk sampai sore atau malam?"

"Iya, nggak pa pa."

"Terus, Kakak sama siapa di rumah? Kita kan nggak punya, Mbak? akak mau dititipkan di penitipan?"

"Iya, mau. Di sana aku bisa main sepuasnya, kan?"

"Nggak juga, kalau waktunya main ya main, makan harus makan, tidur siang ya harus tidur. Nggak seperti yang Kakak bayangkan. Lagian Ibuk belum nemu tempat penitipan untuk anak sebesar Kakak."

" Yawdah, kita cari Mbak saja."

"Bilang Ayah dulu, kalau yang itu. Eh, tapi, kalau Ibuk kerja di kantor pun, di rumah Ibuk tetap menulis seperti ini. Karena Ibuk sudah terlanjur suka.  Di Kantor kan nggak boleh semaunya sendiri , Kak. Harus bekerja sesuai perintah bosnya. Trus gimana, dong?"

"Aku tuh maunya Ibuk cuma nemenin main aku sama adik, jadi kalau kerja jangan di rumah. Atau pas aku tidur saja."

Ahh, kepala saya rasanya mulai berat. Emosi mulai terpancing, mulut sudah pengen teriak. Tapi masih saya tahan, meskipun cara berbicara mulai terdengar emosional.


"Ibuk tuh tugasnya banyak, Kak. Memang seharusnya Ibuk selalu menemani kalian main, tapi Ibuk harus masak, belanja, menyiapkan bekal kakak, mencuci, menyapu lantai, mengepel, mengantar kakak sekolah, menemani kakak belajar di rumah, mengantar exkul. Belum juga kalau Dek Najib minta main keluar, Ibuk harus menemani juga. Jadi nggak bisa kalau Ibuk harus menemani Kakak main terus. Ada waktunya kita main bareng, ada saatnya juga Kakak harus menemani Adik bermain, sedangkan Ibuk beres-beres rumah, dan kalau masih sempat Ibuk minta waktu menulis sebentar saja."

Nampaknya Najwa nggak mau menerima penjelasan saya. Dia pun mencari cara lain.

"Ya sudah, Ibuk nulisnya malam saja, pas aku, Adik, Ayah sudah tidur semua."

"Biasanya juga gitu, Kak. Kalau badan Ibuk lagi nggak capek.  Sekarang Ibuk nggak kuat tidur malam-malam. Badan Ibuk udah capek, pagi pun Ibuk bangun masih sangat pagi. Kalian aja kalau main sampai malam-malam, Ibuk belum bisa istirahat sebelum kalian tidur."

Najwa diam, lalu saya menambahkan lagi.

"Menurut Kakak, Ibuk harus gimana?"

"Ya sudah, Ibuk boleh menulis, boleh kerjain apa aja di rumah. Tapi kalau aku ngajak main, Ibuk harus main sama aku."

Begitu jawabnya sambil meninggalkan saya menuju kamar mandi. Saya diam, tidak mengiyakan atau menolak permintaannya. Karena saya tahu betul bagaimana sifat Najwa. Dia sangat suka berdebat dengan saya,  kemudian kesal dan menangis kalau kemauannya nggak diikuti. Meskipun ujung-ujungnya baikan lagi.
  

Sepanjang hari saya memikirkan obrolan bersama Najwa tersebut. Menyesal kenapa saya jadi ikut-ikutan ngeyel sama anak-anak. Sempat sedih, goyah, bingung harus bagaimana. Tapi saya belum ingin membahasnya kembali. Saya butuh waktu untuk mengatur emosi. Saya benar-benar tidak menyangka, tiba-tiba saja Najwa tidak mendukung saya sama sekali. Padahal saya yakin betul dialah motivasi saya untuk terus berkarya.

Ya, sudahlah. Nampaknya weekend kali ini saya akan lebih banyak bersantai. Me-refresh semangat, hati, merekonsiliasi hubungan dengan anak-anak, terutama Najwa. Membuat kesepakatan baru dengan mereka dan tentu saja menyusun rencanayang lebih baik.

Wish me luck!


Tulisan ini diikutsertakan tantangan One Day One Post Oktober 2017 Blogger Muslimah Indonesia
#ODOPOKT9





Custom Post Signature

Custom Post Signature