Parenting, Family Traveling, Woman Story

#MemesonaItu Being A Woman of Strength

|
"A Woman of Strength, they know how to survive, how to be happy among their sadness, how to accept herself, and how to face reality."



Sepuluh tahun yang lalu,  sebuah pesona bagiku adalah wujud kesempurnaan. Perempuan dengan kondisi fisik menarik meskipun tidak dianugerahi kecantikan dengan persepsi ideal menurut publik, namun berupaya untuk dapat disebut menarik.

Bagiku juga, yang kala itu masih menikmati hidup sebagai aku dan bukan kita. Pesona tercermin dalam kemandirian utuh dari seorang perempuan. Bebas mengekspresikan diri,  mampu melalui hari dengan berani, kuat menghadapi segala rintangan yang tak jarang menjadi penghalang.

Itulah aku, dan sebuah pesona yang kuupayakan menjadi bagian dari penciptaanku. Menjadi anak manusia yang dilahirkan dengan segala keterbatasan sebagai kaumnya Hawa, namun mampu mendeskripsikan dirinya sebagai Perempuan yang kuat,  Strong Woman.

Hingga suatu ketika, sampailah masa ketika kegundahan datang melanda. Tak mampu lagi mengkategorikan diri dalam definisi pesona yang telah saya buat. Setelah berulang kali "jatuh", ketika menghadapi pergolakan batin pasca menikah dan menjadi ibu,  saya menyadari sepenuhnya bahwa I am not a strong woman.

Kenyataan yang sempat membuat diri menjadi rapuh,  dan sulit untuk melihat segala kelebihan yang dimiliki.  Membuat langkah menjadi berat,  tertatih untuk melalui dunia yang terasa semakin fana. Sedangkan masalah dan keterbatasan diri adalah dua hal yang tidak dapat dihindari.

Namun,  begitulah awalnya hingga muncul pemahaman baru tentang pesona bagi seorang perempuan.  Ya, bukan menjadi Strong Woman,  tapi,  #MemesonaItu Being A Woman of Strength, menjadi Perempuan Berkekuatan.  


Lahir sebagai perempuan, kita ditakdirkan sebagai makhluk yang lemah. Berasal dari rusuk sang Adam. Tapi, tak pernah terbayangkan,  betapa kompetensi yang dimiliki perempuan tak sekedar luar biasa, namun kerap kali tak masuk di akal. 


Bagi perempuan, hidup bukanlah kehidupannya saja.  Tapi ada kehidupan anak, partner dalam pernikahan, orangtua, saudara, bahkan teman dan lingkungan yang sering kali menjadikannya sebagai tempat berbagi permasalahan.





A Woman of Strength,  mereka memahami betul kelemahan dan kekurangan dalam dirinya.  Ada kalanya dia menangis. Takut karena merasa tak mampu, tapi di situlah dia menemukan keberanian untuk melangkah.  Karena yakin,  kasih sayang mengiringi setiap langkah. 

Perempuan Berkekuatan, mereka menyadari bahwa kecantikannya tak mungkin abadi bak bidadari surga, tapi mereka memiliki keyakinan. Bahwa menundukkan hati dalam sujud panjangnya memberikan kecantikan abadi yang tercermin dalam jiwa.

A Woman of Strength,  mereka tahu adakalanya salah dalam bertindak bahkan berucap,  namun dia menemukan kesadaran. Bahwa ada hikmah dalam setiap kesalahan yang pada akhirnya bernama guru kehidupan.

Perempuan Berkekuatan, mereka tahu bagaimana berdamai dengan diri sendiri. Maka tak jarang keanggunan yang terpancar dari dirinya.  Pesona yang berasal dari hati dan kepribadiannya.

A Woman of Strength,  they know how to survive,  how to be happy among their sadness. Mereka yakin,  ada kekuatan Tuhan yang akan mendukungnya. Memberikan kemampuan untuk bangkit dari keterpurukan.

For Women of Strength, pesona adalah sebuah penerimaan diri secara alamiah, tanpa perlu mengingkari segala keterbatasan.  Tapi tak lelah berproses menuju kebanggaan.

Ketika mampu memaknai sebuah pesona baru dalam diri, perempuan seolah terlahir kembali. Menemukan dirinya sebagai makhluk yang lebih berarti. Lepas dari himpitan keterbatasan yang acap kali melabeli. 

Perempuan terlahir dalam wujud lemah raganya, tapi kekuatannya untuk bertahan tak perlu diragukan lagi. Sedangkan intuisinya? Siapa yang berani mengingkari bahwa tak jarang menjadi petunjuk atas sebuah kebenaran?.

Memang tidak mudah mendeskripsikan sebuah pesona. Karena memesona kerap kali dikaitkan dengan segala kelebihan, unggul bahkan tak menyisakan cela. Tapi, jangan sebut dirimu perempuan jika tak mampu mengupayakan arti memesona menurut versimu. Karena kita tahu, sudah menjadi kehendakNya bahwa perempuan dilahirkan dengan berjuta kemampuan.

Perempuan selalu punya cara untuk mengupayakan perbaikan pada dirinya. Tentu saja melalui serangkaian proses yang memperkaya batin dan jiwa. Namun, memang begitulah seharusnya manusia bermetamorfosa sempurna. Agar kupu-kupu tak hanya indah warna sayapnya, tapi juga mengepak dengan kencang sehingga mampu menerbangkan harapan.





Keyakinan pada Tuhan

Kehidupan religi dan keyakinan yang utuh terhadap Tuhan menjadi sebuah pembeda. Bagaimana seorang perempuan menjalin komunikasi dengan penciptaNya, mau tak mau memberikan efek yang sangat besar terhadap penerimaan dirinya sebagai manusia.

Menyadari bahwa diri diciptakan sebagai salah satu "masterpiece", tentu saja Tuhan memberikan segala keunggulan, kebaikan dalam diri kita. Segala kekurangan atau halangan yang kerap menjadi teman dalam kehidupan hanyalah sebuah "pelajaran'.

Bahwa Tuhan sedang menunjukkan ciptaanNya selalu memesona. Mampu menghadapi dan mencari solusi, karena mereka percaya ada Tuhan yang selalu mendampingi.


Merawat diri sebagai bentuk syukur

Merawat diri bukan hanya tentang keindahan atau kecantikan. Merawat diri merupakan wujud rasa syukur atas nikmat yang telah dikaruniakan.

Merawat diri juga tidak sekedar bersolek atau menjaga bentuk tubuh selalu ideal. Tapi menjaga pola hidup seimbang, mengontrol kesehatan jiwa dan raga, sehingga memiliki kehidupan yang berkualitas.


Positif Thinking

Hanya dengan menjaga pikiran selalu positif, maka segala upaya dapat menemukan jalannya.  Berpikiran positif tidak hanya menghindarkan diri dari penyakit hati dan kegelisahan,  namun memungkinkan menjadi pribadi yang lebih peka.

Dengan pikiran positif maka energi tak terbuang untuk prasangka tanpa sebab. Hidup pun jadi lebih tentram,  dan aura kedamaian terpancar baik dari wajah maupun perilaku keseharian.


Open minded

Berpikiran terbuka,  memperluas wawasan dan cara pandang memungkinkan perempuan melihat sebuah masalah dari beberapa sudut pandang.  Sehingga lebih mudah untuk bangkit dan mencari problem solving.

Terkadang kita tidak perlu terlalu cerdas atau pintar untuk dapat memesona. Namun keluasan cara pandang dan pola pikir membuat kita selangkah lebih maju. Mampu melihat suatu keadaan dari perspektif yang tidak biasa.





Bahagia

Apapun upayanya,  pastikan selalu bahagia. Karena bahagia selalu kita pinta, tapi acap kali lupa memaknainya.

Bahagia tidak sebatas tentang pencapaian seseorang.  Bukan sekedar kebebasan dan keberlimpahan materi.  Namun bahagia tentang menerima diri sebagai pribadi yang unik dan tak mudah dilemahkan,  tentang memberi tanpa menunggu imbal balik,  tentang mencintai sebagai kebutuhan dari hati.

Percayalah, menjadi perempuan dengan sejuta pesona bukan sekedar harapan untuk dikabulkan Ibu Peri yang baik hatinya. Namun mampu diupayakan oleh oleh setiap Perempuan Berkekuatan.  Karena #MemesonaItu Being A Woman of Strength. 





Perempuan Berkebaya Biru

|
"Wong wedok gak kudu neko-neko, tapi kudu sembodo."



Subuh belum berkumandang, saat aku mulai sibuk dengan beberapa stofmap dan file kabinet di tangan. Lama sudah aku mencari selembar kertas pengganti akta kelahiran, yang seingatku masih kusimpan sebagai salah satu kenangan masa kecilku. Aku ingat betul saat menyimpannya dalam amplop bersama akta kelahiran baru, setelah perubahan tanggal lahirku. Dan beberapa foto saat usiaku belum juga genap 1 tahun.

Kuambil kembali sebuah amplop coklat yang warnanya mulai kusam. Kubuka dan pilah satu-persatu seluruh dokumen yang ada di dalamnya. Huff ... Lenyap! Tak selembar pun kertas tua yang kucari ada di sana.

Kubereskan seluruh isi amplop yang telah kumuntahkan. Namun, beberapa saat kemudian perhatianku teralihkan oleh selembar foto usang yang terselip di antara foto-foto masa  kecilku. " Itu aku, ..." gumamku dalam hati.

Bayi mungil berbaju merah, lengkap dengan kaos kaki dan topi berwarna senada, dalam gendongan perempuan berkebaya biru. Seketika kuambil foto itu dan bersihkan debu yang menempel di permukannya. Perempuan itu, entah berapa lama aku telah melupakannya. Bahkan dalam doa-doa pun, aku kerap kali melupakannya.

Perempuan itu Mbah Uti, Ibu dari ayahku. Parasnya ayu, berkulit putih bersih tanpa sentuhan bedak apalagi gincu. Rambutnya panjang, lurus dengan sedikit ikal di bagian bawah. Tapi tak terlalu kentara karena konde kecil selalu menjadi pilihan gaya rambutnya. Seingatku warna rambutnya selalu hitam. Tapi itu dulu, atas nama usia hampir separuhnya telah berubah menjadi putih kelabu.

Dalam sebagian memori masa kecilku, aku mengingatnya sebagai sosok yang halus dalam bertutur. Cocok dengan lakunya yang sopan dan tabiatnya yang khas perempuan zaman dulu, nggak neko-neko. Menurut cerita ibuku, Mbah Uti adalah sosok perempuan penjaga. Beliau bukan hanya mampu menjaga kehormatan suaminya. Namun sebagai istri, ibu, wanita dan seorang anak, ia mampu menjaga kehormatan keluarganya. 

Sifatnya memang pendiam, mungkin memang begitulah caranya untuk menahan godaan ber-ghibah atau mengelola amarah. Semasa hidupnya, Mbah Uti selalu tunduk pada suami. Bahkan sampai Mbah Kakung meninggal pun, tak sedikit nasihat dan larangannya masih diugemi Mbah Uti.

Gaya hidupnya datar dan sederhana. Tak pernah berhutang, namun tak juga berlebihan dalam membelanjakan harta. Suatu ketika, jika hasil panen sedikit melimpah, beliau tak lantas berfoya-foya. Pun saat sawah tak memberikan hasil yang sepadan, maka hasil kebun menjadi bahan konsumsi harian, atau dijadikan sebagai alat barter di pasar.

Laku hidup seperti itu telah ditularkannya pada ibuku. Hingga akhirnya beliau pun mampu mengentaskan kami berempat tanpa bermodal pensiun, apalagi warisan dari almarhum Papa. Sungguh laku hidup yang pantas untuk ditiru. Meskipun aku tahu, tak mudah untuk menerapkannya di zamanku.

Dalam banyak hal, Mbah Uti telah menyumbangkan inspirasi bagi kami, empat anak perempuan yang kini telah bergelar ibu. Meskipun tak mengenyam pendidikan tinggi di bangku sekolah formal. Namun semangatnya untuk berilmu tak lekang oleh waktu. Kembali hangat dalam ingatanku, saat kacamata tebal berframe hitam yang dikenakannya mulai melorot hingga tengah tulang hidung. Pemandangan seperti itu sungguh sangat familiar bagiku.

Pagi hari menjelang siang, atau petang saat maghrib telah berkumandang. Selain buku atau majalah bekas, maka Al-Quran adalah bacaan wajib yang selalu menjadi teman menghalau segala kesepian. Dan tanpa merasa diberikan komando olehnya, kebiasaan seperti itu hampir menjadi rutinitas baru bagi kami yang setiap hari mengamati kebiasaannya.

"Wong wedok gak kudu neko-neko, tapi kudu sembodo." Jadi wanita nggak harus aneh-aneh, tapi harus berkemampuan. Begitu setidaknya warisan berharga yang ditinggalkannya bagi kami para cucu.

Aku sadar, di zamanku yang serba mudah, namun tak kurang juga yang namanya masalah. Prinsip hidup seperti yang diajarkan Mbah Uti tak sepenuhnya dapat kuteladani. Tapi, caranya bersikap terhadap suami, keteguhannya menjaga kehormatan diri, sikap pasrah namun tak menyerah dan selalu obah (bergerak/berkarya). Mengajarkanku bahwa pada dasarnya perempuan itu tangguh. Makhluk tangguh hanya saja kerap jasmaninya rapuh, namun niat dan tekadnya untuk berjuang selalu utuh.

Ahh ... Aku merasa beruntung, lahir dan dibesarkan dalam dominasi perempuan pejuang. Bahkan sejak sebelum usiaku menginjak 6 tahun, hanya sosok perempuan-perempuan tangguhlah yang menjadi pelindungku. Mengisi setiap relung jiwaku untuk terus maju, berilmu dan bergerak menuju peradaban baru.

"Bund, wis ketemu?"

Suara suami dari balik pintu membuyarkan lamunanku. Perempuan berkebaya biru, tiba-tiba aku merindukanmu. Maka subuh ini kuhadiahkan Al-Fatihah untukmu.

Dedicated to Alm. Mbah Uti Aminatun. Terima kasih sudah menjadi penjaga bagi kami dan ibu setelah kepergian Papa 27 tahun yang lalu.




Sharing is Caring (Oleh-oleh Kopdar Indscript)

|
"Menulis merupakan keahlian, bukan sekedar bakat terpendam. Keahlian ini harus terus diasah sehingga bisa disebut expert. Begitu pun mengenai tips menulis yang paling efektif, mudah dan masuk akal adalah, terus saja menulis. Menulis ... Menulis ... Dan menulis."

 
Credit pict to. Handayani Abd. Widiatmoko

Jakarta masih dingin saat suami mengantarkan saya dan Najib ke agen travel jurusan Bandung pada Minggu pagi, 19 Maret 2017 yang lalu. Najib bahkan masih terlelap dalam mimpi-mimpinya. Jangankan mengganti bajunya, saya langsung mengangkatnya dari tempat tidur dan menggendongnya menuju Jatiwaringin.
Kami bergegas karena jam jam telah menunjukkan pukul 5 pagi, sedangkan saya telah melakukan booking untuk jadwal keberangkatan pukul 6. Begitulah hidup di Jakarta, satu bahkan dua jam sebelum jadwal yang ditentukan, kami harus sudah berangkat dari rumah. Khawatir terkena macet atau gangguan lainnya yang tidak terduga.

Pukul 6 tepat, saat travel jurusan Bandung yang membawa saya, Najib dan seorang penumpang lain melaju menuju kota Kembang. Eksklusif sekali bukan? Hanya tiga penumpang dalam mini van yang berkapasitas 10 orang. Jalanan lancar, hingga tak terasa 1,5 jam kemudian kami telah berhenti di agen pusat, daerah Cihampelas. 


Jalan-jalan di Braga Sambil Menunggu Jadwal Kopdar

Masih terlalu pagi ketika sampai di bandung, maka saya pun memutuskan mengajak Najib berkeliling Jalan Braga. Berjalan-jalang sebentar saja, karena Najib terlihat masih letih, sehingga kurang bersemangat. Hingga akhirnya tepat pukul 9 kami pun menuju tempat acara Kopdar Penulis Indscript. Di Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo di Jalan R.E. Martadinata, atau biasa disebut Jalan Riau.

Rupanya kami pelanggan pertama, rumah makan pun belum buka sepenuhnya. Beberapa karyawan masih terlihat berbenah dan membersihkan area restoran. Kami numpang beristirahat sekaligus membersihakn diri sembari menunggu pesanan sarapan datang.

Terus terang, sebenarnya saya tidak ada acara lain di Bandung. Jadi kedatangan kali ini murni hanya untuk bertemu dengan teman-teman senior di Indscript. Saya pun belum semuanya kenal secara personal. Tapi saya pikir justru inilah saatnya berkenalan dalam dunia nyata. Dan saya yakin akan banyak ilmu yang dapat dibawa sebagai oleh-oleh saat kembali ke Jakarta.


Bertemu Penulis Senior di Jaringan Indscript

Menjelang pukul 10, satu-persatu ibu-ibu penulis mulai berdatangan. Yang pertama kali saya kenal jelas Mbak Winny yang memang sudah sering saya ikuti sepak terjangnya melalui facebook. Kemudian disusul Mbak Dedeh sambil menggendong putrinya yang baru berusia 1 tahun. Wah, mengejutkan sekali. Ternyata Mbak Dedeh masih punya balita, tapi produktifnya luar biasa. Sampai kagum saya dibuatnya.

Tak berapa lama, datanglah bu Ana dan Bu Sri. Bu Ana merupakan salah satu alumni Sekolah Perempuan, sedangkan Bu Sri adalah  penulis produktif pada zamannya. Mengapa saya bilang pada zamannya, karena setelah berumah tangga Bu Sri hampir tidak pernah menyalurkan hobinya tersebut. Beliau menyampaikan karena sibuk dengan segala printilan rumah tangga yang tak ada habisnya. Tapi kini, setelah putra-putranya beranjak dewasa. Beliau kembali menulis di blog pribadi, dan Kompasiana pun tak luput dijajalnya.

Credit pict. to Handayani Abd Widiatmoko

Ibu-ibu atau agar lebih akrab saya menyebutnya teman-teman penulis terus berdatangan. Mbak Hanny yang sangat produktif menerbitkan buku, Mbak Fenny Kapten Emak Pintar Bandung, Mbak Natasha yang terkenal dengan produk Seblaknya, Mbak Larasati teman di Juragan Artikel, Teh Santi Rosmala ownber Gerai Rosmala, produsen pakaian syar'i.

Tak berapa lama kemudian cikgu Anna Farida yang sampai hari ini masih menjabat Kepala Sekolah Perempuan datang bersama Mbak Vie Chan dan Mbak Chika Chief Editor Indscript. Mereka semua rata-rata berdomisili di Bandung. Saya pun sempat kagok dengan panggilan Teteh yang lebih akrab mereka gunakan. Bahkan berkali-kali roaming karena obrolan dalam bahasa Sunda.

Acara santai yang dikemas sharing menjelang makan siang ini berjalan lancar, gayeng dan sangat produktif. Saya rasa lebih dari 3 jam pun masih banyak yang bisa didiskusikan. Nah, bukan sharing namanya kalau tak membawa segudang manfaat. Khususnya bagi saya yang pemula, masih tertatih sehingga butuh banyak ilmu untuk membuka wawasan. 

Kali ini saya ingin membagikannya di sini, sekaligus sebagai dokumentasi dan pengingat.


Jangan Biarkan Waktu Terbuang

Jangan sampai waktu terbuang untuk social media


Sharing dari cikgu Anna Farida tentu saja sangat saya nantikan. Hal ini juga yang membuat saya tergerak melawan malas menempuh perjalanan pulang pergi Jakarta-Bandung. Pada kesempatan pertama, cikgu Anna langsung menekankan tentang waktu. Jangan sampai waktu kita terbuang percuma akibat distraksi sosial media dan obrolan di WA.

Beliau bahkan membuat perumpamaan, jika obrolan di WA tersebut di copy paste ke word, kemudian dihitung, mungkin sudah ratusan atau bahkan ribuan kata yang kita tuliskan. Padahal, kerap kali menulis artikel 500 kata saja saya beralasan nggak sempat. Hahaha ... Ketauan banget ya, kalau hobi bikin alasan.

Untuk itulah beliau menekankan untuk pandai-pandai me-manage waktu dan membuat skala prioritas. Selain kemauan dan komitmen yang ada dalam diri masing-masing, calon penulis harus pandai mengatur waktu sehingga tidak ada yang terbuang percuma.


Tetap Menulis Saat Mentok Ide Sekalipun

Free Writing selama 10 hingga 15 menit saat mengalami mentok ide


Selain malas atau tidak punya waktu, alasan mentok ide kerap kali dijadikan kambing hitam. Duduk bengong selama bermenit-menit di depan laptop, ternyata bukan cara yang tepat untuk menemukan inspirasi menulis yang selalu dinantikan.

Cikgu Anna menjelaskan, menulis tidak hanya melibatkan gerak otak, tapi juga gerak badan yaitu menggerakkan tangan. Maka, saat berada dalam kondisi mentok ide.  Cikgu menyarankan untuk tetap menulis apa saja, sekalipun hanya curhat atau mengumpat. Metode ini biasa disebut free writing. Menulis bebas selama 10 atau 15 menit, tanpa jeda ataupun mengedit naskah.  Kebiasaan seperti ini dipercaya dan terbukti dapat melenturkan tangan yang tentunya berimbas pada kebiasaan menulis dan datangnya inspirasi secara tak terduga.


Jeli Melihat Peluang Pendapatan di Bidang Menulis

Jeli melihat peluang di bidang menulis

Jika pada awalnya aktivitas menulis merupakan hobi atau upaya untuk terapi jiwa. Maka tidak ada salahnya melirik peluang penghasilan di bidang kepenulisan. Tentu saja jika teman-teman telah mendapatkan feel dan komit melakukan aktivitas ini sebagai salah satu rutinitas harian. 

Seperti yang cikgu Anna bilang, menulis merupakan keahlian, bukan sekedar bakat terpendam. Keahlian ini harus terus diasah sehingga bisa disebut expert. Begitu pun mengenai tips menulis yang paling efektif, mudah dan masuk akal adalah, terus menulis saja. Menulis ... Menulis ... dan menulis.

Peluang penghasilan di bidang penulisan tidak hanya melalui penerbitan buku. Profesi sebagai blogger, content writer dan ghost writer merupakan peluang yang tidak bisa di kesampingkan begitu saja. Mengenai hal ini telah dicontohkan Teh Vie Chan dan Mbak Winny yang telah meraup rupiah dari pekerjaan me-maintain web sekaligus menjadi content writer-nya.

Tapi jangan salah ya, meskipun namanya menulis di web, bukan berarti pekerjaan ini bisa asal comot dari berbagai sumber yang ada. Misalnya Mbak Winny yang harus mengikuti beberapa training untuk menunjang pekerjaan yang diterimanya dari seorang klien. Soal nilai kontraknya sih, tak perlu ditanya lagi. Sepadan lah dengan usaha yang dilakukan. Jadi benar ya, hasil selalu berbanding lurus dengan proses yang dilakukan.

Selain jeli melihat peluang yang ada, Teh Vie Chan menambahkan untuk waspada dengan banyaknya penipuan di dunia kepenulisan. Ya, hampir sama dengan berbagai profesi lain yang ada. Dalam dunia kepenulisan pun banyak oknum tak bertanggung jawab yang melakukan penipuan. Selesai ambil karya, transfer tak pernah dilakukan. 

Sebenarnya masih ada beberapa hal lain yang kami bahas dalam pertemuan tersebut. Tapi, sepertinya akan saya buat dalam blog post lain saja. Agar lebih mendetil pembahasannya. 



Credit pict to. Santi Rosmala


Nah, jadi banyak banget ya, yang harus dipelajari ketika memutuskan untuk total di dunia kepenulisan. Tapi, tentu saja, langkah awalnya adalah menulis terlebih dahulu. Menulis ... Menulis dan terus menulis hingga jam terbang dan portofolio kita cukup untuk ditawarkan.

Tepat pukul 18.30 ketika saya menginjakkan kaki kembali di rumah. Jangan ditanya lelahnya, tapi saya bersyukur Najib sama sekali tidak rewel selama perjalanan. Malam itupun kami tertidur lelap hingga pagi subuh menjelang.












[Resensi] Ukiran Rasa - Cinta, Perjuangan dan Keajaiban Rasa

|
"Suamiku menderita, tapi sungguh! Aku jauh lebih menderita. Aku manusia biasa. Aku seorang ibu. Jika tangisan sudah tak lagi keluar dari mataku, adakah kau lihat sesuatu terjadi dalam diriku?"


Sekitar pertengahan November 2016, saat saya dan tak sedikit teman-teman alumni JA lagi super heboh, gegara lolos sebagai finalis penulisan buku antologi "Bangga Jadi Ibu" Seorang teman kami, Anjeli, begitu biasanya kami memberikan panggilan sayang padanya. Nampak kurang bersemangat, tak seperti biasanya yang selalu "menggoyang" jagat perchattingan grup kami. 

Ada sedikit kecewa dalam kalimat-kalimatnya. Mungkin karena tidak lolos sebagai kontributor buku antologi kali ini. Padahal nih, kalau menurut kami, kisah kebanggaan sebagai ibu yang diangkatnya "luar biasa", loh. Ya, tapi apa mau dikata, semua memang tergantung penilaian juri. Toh, namanya juga kompetisi, kalah dan menang sudah biasa.

Tapi bukan Anjeli namanya kalau dia berputus asa begitu saja. Di balik kegagalan "melahirkan" buku keroyokan yang pertama, Anjeli justru menerbitkan buku solonya. Wedan!! Begini harusnya semua penulis menanggapi sebuah kegagalan. Bukan nglokro, justru bangkit dan lari lebih kencang.

Baca juga : [Resensi] Bangga Jadi Ibu Part 1


Kabar Gembira dari Anjeli!

Pertengahan Desember 2016, jagat perchattingan grup JA pun ramai kembali dengan celoteh-celotehnya yang selalu sayang untuk dilewatkan. Ibaratnya nih, kalau kepala lagi pusing, atau eneg sama kerjaan rumah. Tengok aja grup JA, trus baca chat-nya Anjeli. Dijamin gak perlu minum obat atau jalan-jalan buat refreshing. Nih orang emang lucu nggak keruan. Di balik sosoknya yang religius, adaa aja yang bisa jadi bahan cengengesan

Tapi chat kali ini bukan chat biasa, rupanya Anjeli sedang persiapan "melahirkan" buku solo pertamanya. Ya, semacam promosi gitulah. Hehehehe ... Kalau kata saya sih, keren nih orang. Di antara segala kesibukannya, ya kerja ya jadi konsultan Indscript. Dia masih sempat dan memang meluangkan waktu untuk menerbitkan sebuah karya. 4 Jempol deh, buat Anjeli. 

Baca juga : [Resensi] Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya


 

Tentang "UKIRAN RASA"

Awalnya teman-teman alumni JA mendapat kesempatan free E-Book Ukiran Rasa, dengan kompensasi membuat review di blog masing-masing. Sayangnya, saya ketinggalan momen itu. Telat dikit nengok chat group, melayang sudah satu kesempatan dapat gratisan, nasih ... nasib.

Tentu saja saya tak mau melewatkan buku perdana Anjeli, akhirnya, saya pun order versi R-Booknya (Real Book ^-^).  Tak berapa lama, kalau nggak salah malahan cuma sehari dari saya order, buku Ukiran Rasa sudah mendarat dengan cantik di tangan saya. 

Buku bercover hijau dengan kombinasi gambar berupa cangkir  kuning itu siap menjadi teman dalam kesunyian. Pas banget nih, menjelang libur panjang, saya harus nyetok buku sebagai hiburan. Apalagi kami berencana mudik agak lama di kampung halaman. Salah satu cara berkontemplasi adalah "diam" dengan buku bacaan sebagai selingan.

"Ukiran Rasa", Kisah tentang cinta, perjuangan dan keajaiban tujuh puluh ribu rasa. Lumayan keder juga saya pas baca judulnya. Bayangan saya bakalan puitis abis, apa saya nyampek bacanya? "Ahh ... langsung baca sajalah, kok malah miker" begitu gumam saya.

Buku ini ternyata terbagi menjadi dua bagian, yang pertama berupa Kumpulan Kisah, dan yang kedua diberi judul Bukan Puisi ( Sebuah Goresan dari Diary Perempuan).  Ide ceritanya sederhana, dan dapat dijumpai dalam kehidupan nyata. Tapi Anjeli atau Nurdianah Dixit begitu nama pena Emak penggemar film India ini mampu mengemasnya menjadi indah dan puitis.

9 cerita berbeda pada bagian Kumpulan Kisah, mampu membawa saya larut dalam perasaan haru. Kisah Selimut untuk Raka yang diangkat sebagai kisah pertama dari 8 lainnya, mampu menggetarkan hati saya sebagai seorang ibu sekaligus istri. Dalam kondisi kalu dan ambruk akibat kehilangan putra kesayangan, seorang istri harus tegar menghadapi suami yang menderita lahir bathin akibat kedukaan yang sama. 

" Suamiku menderita, tapi sungguh! Aku jauh lebih menderita. Aku manusia biasa. Aku seorang ibu. Jika tangisan sudah tak lagi keluar dari mataku, adakah kau lihat sesuatu terjadi dalam diriku?"

Kutipan di atas kiranya cukup mewakili isi hati seorang perempuan atas kedukaan, kehilangan dan perasaan bersalah yang kerap menghantui akibat sebuah pilihan. Anak dan pekerjaan. Keduanya kerap kali tak bisa dipilih, namun mengandung konsekuensi yang amat besar.

Kisah-kisah dalam Ukiran Rasa mau tak mau merepresentasikan kehidupan religius penulis. Ya, Anjeli adalah sosok yang religius, begitu setidaknya sisi lain yang dapat saya tangkap darinya. Di balik segala kelucuan dan obrolannya yang selalu renyah.

Setiap kisah ataupun goresan diary penulis yang kemudian diangkat dalam buku ini, selalu menyiratkan kehidupan religi. Entah dalam bentuk kehidupan santri di sebuah pondok, bagaimana kisah pencarian seorang murid terhadap sosok guru yang sebenarnya, bahkan perjalanan seorang istri memahami cinta dari pasangannya.




Secara keseluruhan, buku ini cocok sebagai bahan bacaan perempuan, terlebih seorang ibu. Banyak kisah dalam buku ini bisa menjadi pengingat. Bahwa hal-hal kecil dalam kehidupan ini sering kali luput dari perhatian, dibiarkan begitu saja , kemudian menyesal ketika merasakan kehilangan. 

Berbagai jenis RASA yang ingin disampaikan penulis dalam karyanya bahkan sangat dekat dengan kehidupan kita. Ada duka, benci, cinta, kagum, bahagia dan gundah yang kerap kali memberikan pelajaran bagi kehidupan ini, asal peka dan dapat dapat memaknainya.

Keberanian penulis dalam mengangkat kisah-kisah yang saya duga "dekat" di sekitarnya, bahkan di sekitar kita juga. Menjadi inspirasi bagi saya, bahwa benar adanya, menulislah dari yang paling dekat dengan kita, paling kita kuasai sehingga tulisanmu akan "bernyawa"

Sedikit masukan bagi penulis terkait buku ini, mungkin lebih pada tampilan bukunya saja. Dari segi cover, layout dan editing, mungkin perlu lebih diperhatikan untuk buku-buku selanjutnya. But, overall I proud ou you, Mbak ^_^. Bangga bisa menjadi salah satu orang yang menyaksikan jungkir balik penulis dalam melahirkan buku ini. Saya rasa teman-teman pun harus mencicipi setiap "rasa" dalam buku ini, sembari mencecap secangkir kopi di pagi hari yang damai nan dingin.


Buku UKIRAN RASA bisa dipesan secara online langsung pada penulisnya di Fb : Alikanurfatiha Dianadixit, atau IG : @Nurdianah_dixit.  Buku ini saya rekomendasikan untuk Teman-teman yang percaya bahwa setiap rasa itu bermakna dan menjadi pelajaran yang sebenarnya dalam kehidupan.

Congrtazz, Anjeli. You did it!

Judul Buku : Ukiran Rasa
Penulis : Nurdianah Dixit
Penerbit : Azizah Publishing
Tahun : 2016 
Tebal buku : 110 halaman
Harga : 45.000






Ngeblog Asyik ala Blogger Kinyis-Kinyis

|

Ngomongin soal blog, temen-temen pasti setuju ya, kalau media ini menjadi salah satu yang diperhitungkan di dunia marketing dan influencer? Tengok saja, puluhan perusahaan mulai gencar melakukan kerja sama dengan para blogger untuk mempromosikan brand mereka melalui blog pribadi yang terpilih. Bukan hal baru juga, kalau banyak product review dibuat dan dipublikasikan melalui blog untuk dijadikan rujukan bagi calon konsumen. Ditambah aneka lomba blog yang hadiahnya ternyata aduhai sekali. Mulai duit jutaan, gadget hingga jalan-jalan ke dalam maupun luar negeri. ck ... ck ...ck *kagum. 

Nggak salah sih, blog memang pantas menjadi rujukan bagi calon konsumen. Karena menurut pengamatan saya, mas, mbak blogger itu selalu berusaha detil dan obyektif saat membuat review. Mereka juga nggak segan jika harus menyampaikan kekurangan suatu produk, tentunya dengan cara penyampaian yang soft, ya.  Jadi nggak terasa menjatuhkan.

Blogger sendiri kini sangat layak disebut sebagai salah satu profesi yang lumayan menjanjikan. Sudah banyak teman-teman blogger yang mendapatkan tambahan penghasilan atau menjadikan dunia blogging sebagai penyuplai penghasilan utama. Ya, sepadanlah. Mereka yang udah blogger pro itu memang nggak tanggung-tanggung. Effort-nya nggak perlu dipertanyakan lagi. Bahkan, sekelas mereka ini blog post curhat aja bisa dikemas jadi sangat informatif. Siapa orangnya yang nggak lumer dapat bahan bacaan begitu menarik, gitu? Jadi meskipun ide awalnya tsurhat, ya tetep oke-oke aja dan ramai peminat.

Sebagai blogger baru alias masih kinyis-kinyis, terus terang saya lumayan shock saat mulai aktif ngeblog (lagi). Ya, sebenarnya ini bukan kali pertama saya punya blog. Tapi ya ... Gitu deh. Suka didiemin sampai jadi sarang laba-laba. Selama ini, saya ngeblog cuma buat curhat sih. Mulai dulu masih lajang, sampai lahir anak pertama, ngeblog ya cuma buat cerita keseharian saja, ibarat buku diary.

Begitu nyemplung dan mulai berkomunitas di blog. WOW!!. Dunia blogging sukses membuat saya gemeteran di awal. Ahhh ... rasanya saya pengen mundur lagi, nggak sampek sudah ilmu saya. Ngeriiii!! Blogger-blogger sekarang ciamik abis. Aneka konten variatif bertebaran setiap hari. Mulai dari isi kontennya sendiri, sampai berbagai aksesories pendukung yang digunakan. Lumayan membuat saya "sembunyi", minder euy!

Tapi balik lagi ya, dari awal banget, apa sih tujuan kita ngeblog? Mau langsung me-monetize? Atau buat senang-senang? Pasti effortnya udah beda. Saya nggak mau munafik, sering tergiur juga dengan tawaran kerja sama di dunia blog. Yaelah, kita juga doyan banget sama produk gratis, jalan-jalan eh apalagi duit masuk rekening, mana bisa saya tolak.Tapi udah layak belum, sama effortnya? Ya ya ya ... balik lagi ya, yang namanya usaha nggak akan membohongi hasil. Portofolio dan jam terbang itu penting. Baru juga anak kemarin sore, ngaca dulu benerin kuncir! *ngomongsamakaca

Well, awal mula saya balikan sama dunia blogging ini memang nggak kepikiran sama peluang penghasilan yang mungkin saya ambil. Pokoknya saya mau nulis, dah itu aja. Saya pikir-pikir, sayang juga ya, selama ini punya banyak cerita dan pengalaman seru, kalau cuma dianggurin gitu aja. Kalau ditulis di blog kan, bisa jadi kenangan, atau bahkan bermanfaat untuk orang lain. 

Apalagi semenjak punya dua anak, saya merasa semakin tertantang sama kehidupan ini. Banyak masalah yang akhirnya bisa diatasi dengan mulus, meskipun nggak kurang juga yang harus naik turun dan berkelok di jalur terjal. Pengalaman seperti ini rasanya terlalu mahal, jika tidak didokumentasikan. Minimal, buat bahan bacaan anak-anak kelak.

Cerita anak-anak selalu menarik untuk dituliskan.

Nah, ngomongin soal bahan bacaan anak-anak. Rencana saya blog ini juga yang nantinya merekam sebagian besar pertumbuhan mereka. Lucu kali ya, suatu saat DuoNaj baca cerita masa kecilnya. Mereka bisa kembali ke masa-masa yang bahkan mungkin belum mereka ingat. Atau bernostalgia dengan "kenakalan" khas anak-anak yang biasanya selalu berkesan.

Setelah menemukan alasan terbesar dalam ngeblog. Kok rasanya saya jadi semangat lagi ya. Semua-semua rasanya pengen diceritain di mari. Meskipun kenyataannya harus berbagi waktu menulis untuk konten di portal yang lain. Tapi, karena udah ngerasa dapat feelnya, kadang ya saya bela-belain begadang buat beberes "rumah" yang ini. Mungkin juga saya tipe yang lumayan extrovert, jadi semua-semua pengen saya ceritain. Yaelah, kayak unik aja cerita hidup, Lo! Wkwkwkwk ... Ya, minimal perjalanan jadi ibu lah, itu effortnya nggak sedikit lho. Layak tulislah, untuk penghargaan diri sendiri, si perempuan rumahan ini *kedip2

Memang tidak mudah, untuk mempertahankan mood ngeblog yang suka kendor di tengah jalan. Apalagi untuk pemula seperti saya, belum addict istilahnya. Ada saja alasan yang suka bikin malas. Apalagi kalau sudah ngomongin lomba, tambah jiper saya. Tapi memang semua butuh proses. Nggak adalah yang namanya makanan instan, semua butuh diproses. Dan menurut saya sih, proses ini yang harus dibuat asyik. Ngeblog harus dibikin asyik dan bisa bersenang-senang saat menjalani prosesnya.


Mengasah keterampilan dengan ikut lomba. Jiper sih iya, tapi lumayan buat latihan menulis.

Buat temen-temen yang baru mau mulai ngeblog, kalau saya bilang sih, temukan alasan utamanya dulu, biar effortnya bisa ngikut ke sana. Kalau awalnya buat belajar nulis atau merekam perjalanan, ya buatlah se-happy mungkin. Tulis semua hal yang butuh untuk ditulis. Masalah ramai pembaca or not? Itu udah urusan lain ya. Karena niat awal kita kan buat dokumentasi pribadi. Jadi kita nggak ada beban selama ngeblog, ringan saat menulis blog post.

Nah, kalau nanti dalam perjalanan ngeblog, jadi merasa tertantang untuk ini dan itu. Ya, nggak pa pa dong. Namanya juga manusia, pasti pengen ngasih challenge buat diri sendiri. Misalnya ikut lomba blog, jiper memang, tapi lumayan membantu mengasah keterampilan menulis . Belajar ngereview produk favorit, siapa tahu suatu saat bisa dapat job review. Mempercantik blog dengan ini dan itu. Misalnya pakai sticker blog, saya sudah coba pakai sticker ekspresi dari haloterong. Lumayan jadi moodbooster sih, soalnya lucu dan imut, kayak saya. *toyorrr



Intinya sih, ngeblog harus dibikin asyik dan fun. Soal tujuan jangka panjangnya apa, ikuti saja prosesnya, jangan dijadikan beban di awal. Kalau kata mentor saya mah, usaha nggak akan membohongi hasil. Seneng dulu, addict dulu, berproses dan tambah ilmu, barulah berjuang menjadi blogger pro. Akur kan? *akurinaja

So, hari ini udah ngeblog belum? *tanyadirisendiri

Have a great day, see U ^_^ 





5 Tanda si Kecil Siap Melanjutkan ke Jenjang Pendidikan Dasar

|



Tak terasa Maret sudah sampai di pertengahan, padahal kayaknya baru kemarin aja ganti bulan. Duh ... cepet banget udah mau April lagi. Eh, tapi ini bukan tentang gajian, loh. Mentang-mentang Emak berdaster yang ngomong, jangan disangka kita mau ngomongin belanja bulanan ya. Ini soal tahun ajaran baru yang sudah di depan mata. 

Bagi orang tua yang masih memiliki anak usia sekolah, terlebih yang hendak melanjutkan ke jenjang berikutnya. Pasti sudah mulai kebat-kebit, nih. Selain masa-masa ujian, bulan kayak gini biasanya sekolah swasta terutama yang favorit sudah membuka pendaftaran siswa baru. Bahkan beberapa sudah memenuhi quota, dan tinggal menunggu masa heregistrasi.

Tahun ini, kebetulan 7 keponakan saya juga akan mendaftar ke sekolah baru. Mulai dari yang mau melanjutkan ke bangku kuliah, SMU, SMP, SD hingga ada yang baru mau masuk TK. Komplit banget pokoknya. Najwa anak saya pun, rencananya tahun ini mau mendaftar ke sekolah dasar. Insya Allah, kami sudah mantap akan melanjutkan, karena sebelumnya masih gamang. Antara ke TK lagi, SD atau cuti nggak sekolah dulu sampai tahun depan.

Salah satu keputusan ini memang dipengaruhi oleh hasil Tes Kesiapan yang beberapa waktu lalu diikuti Najwa di sekolahnya. Kemudian kami pun merasa semakin mantap untuk melanjutkan ke sekolah dasar. Masalah nanti diterima di sekolah yang mana, yang pasti kami akan mengupayakan di awal, dan mengevaluasi hasilnya kemudian.

Baca juga : Tes IQ untuk Anak, YAY or NAY?

Kapan Seorang Anak Dinyatakan Ideal untuk Melanjutkan ke SD

Pada saat saya kecil dulu, orang tua terutama nenek selalu bilang. Bahwa salah satu tanda anak siap ke SD adalah saat tangannya mampu memegang telinga, dengan cara melingkarkan tangan anak di atas kepala. Masih ingat salah satu iklan TV pada zaman teman-teman kecil dulu kan? Nah, ternyata pendapat itu tidak sepenuhnya mitos. Karena dalam ilmu psikologi, yang dimaksud dengan kondisi tersebut adalah anak telah mengoptimalkan perkembangan kognitif dan psikomotoriknya.

Dalam satu sesi tanya jawab pada saat penyerahan hasil Tes Kesiapan kemarin. Psikolog yang menjadi penguji pelaksanaan Tes IQ sekaligus Tes Kesiapan Masuk SD  memaparkan beberapa point berkaitan dengan kecerdasan anak baik secara intelektual maupun emosional. Di samping mengenai indikasi seorang anak dianggap bisa dan mampu melanjutkan ke pendidikan dasar.

Namun dalam kesempatan kali ini, saya mau merangkum dulu tentang indikasi seorang anak disarankan melanjutkan ke SD. Nah, apa sajakah itu?


Yang pertama telah cukup usia, dalam hal ini 7 tahun seperti yang dipersyaratkan ideal oleh pemerintah.

Gambar : Eneas's Blog

Mengapa harus 7 tahun? 

Psikolog anak menyatakan karena pada usia 7 tahun, seorang anak dinyatakan siap untuk menerima materi. Begitu pun mereka lebih siap mengembangkan kemampuan intelektualnya, karena pada usia sebelumnya mereka telah memaksimalkan kemampuan kognitif,  psikomotorik dan emosional skillnya. 

Bagaimana jika usia anak masih di bawah 7 tahun tapi kemampuannya sudah memadai?

Menurut pendapat psikolog anak, mungkin si kecil bisa dan mampu. Tapi, perlu perhatian lebih dari orang tua. Khususnya menyangkut kondisi emosional dan kepercayaan dirinya.  Pendapat serupa juga disampaikan dari pendidik anak. Menurut beliau, anak dengan usia di bawah 7 tahun mungkin bisa berkembang dengan baik dari segi kognitif, tapi sering kali bermasalah di afektif dan psikomotorik. 

Selain dari itu dari segi mental mereka juga masih kalah, apalagi jika ditunjang dengan ukuran tubuh yang “mungil” sesuia usianya. Dikhawatirkan karena terlihat masih kecil, mereka akan menjadi korban bullying teman-temannya. Meskipun hal-hal tersebut tidak selalu terjadi pada semua anak, sih.

Pendapat lain juga disampaikan oleh seorang Guru SD senior. Beliau mengatakan  akan lebih mudah mengajar anak 7 tahun yang belum bisa membaca, ketimbang anak usia 6 tahun dan belum bisa membaca juga. Anak-anak usia 7 tahun cenderung lebih cepat menangkap materi, karena kondisi psikologisnya jauh lebih siap.

Tanda kedua, seorang anak terindikasi siap masuk ke SD adalah mudah bangun pagi

Gambar : SatuHarapan.com


Anak-anak yang mudah dibangunkan pada pagi hari, mereka cenderung lebih siap untuk melanjutkan ke SD. Mengapa? Karena mereka sudah lebih terlatih untuk mempersiapkan diri lebih pagi. Salah satu rutinitas yang mulai disipakan orang tua yang anak-anaknya mau ke SD, ya bangun pagi tadi, agar anak nggak kagok nantinya . 

Selain itu, kebiasaan bangun pagi menunjukkan kemauan anak untuk  melatih kedisiplinan dan kemandiriannya. Dua hal yang menjadi modal ketika melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Yang ketiga, dapat memegang pensil dengan benar
Gambar : wikiHow.com


Hal ini tentu saja berkaitan erat dengan kesiapan motorik halusnya ya. Karena anak-anak  yang motorik halusnya belum terangsang dengan optimal, sering kali merasa kesusahan memegang pensil dengan benar. Jangankan menulis, memegang saja mereka masih kaku, belum luwes.

Memastikan anak mampu memegang pensil dengan benar sangat penting dilakukan orang tua. Mengingat anak tidak dapat menghindari aktivitas menulis ketika berada di bangku sekolah dasar. Nah, orang tua juga sebaiknya bijak dalam memberikan tuntutan pada anak. Jangan sampai kita mendorong mereka untuk menulis dengan lancar, apalagi rapi. Tapi lupa menstimulus otot-otot halus pada jari-jari anak.


Yang keempat,  anak telah mengenal dan dapat membedakan huruf dan angka

Gambar : mainan edukatif.com

Psikolog menekankan pada kata mengenal dan membedakan, bukan bisa membaca atau menjumlahkan. Jadi, nggak perlu khawatir kalau anak-anak belum bisa membaca atau berhitung. Karena kemampuan calistung memang seharusnya dilatihkan kepada anak pada usia sekolah dasar. Ketika mereka telah siap mengembangkan kecerdasan intelektualnya.

Sebagian anak memang sudah dapat membaca dan menghitung dengan lancar, tentu saja itu menggembirakan. Tapi perlu diperhatikan untuk menjaga minatnya tidak berujung pada kebosanan. So, sebaiknya kita fokus pada membuat anak bersenang-senang dengan pelajarannya, bukan tertekan terus bosan.

Yang terakhir atau kelima, anak siap secara emosional

Gambar : KRJogja.com

Siap secara emosional lebih ditekankan pada kemandiriannya ya. Misalnya, mampu makan sendiri di sekolah, bisa dan mampu menyiapkan atau membereskan peralatannya, bisa bermain dengan teman-temannya, mampu berkomunikasi dengan guru, bisa menolak atau mengiyakan sebuah ajakan atau perintah.

Intinya anak bisa dan mampu mengatasi permasalahan yang mungkin harus dihadapinya di sekolah. Karena di sekolah dasar, anak sudah tidak ditemani lagi oleh orang tuanya. Mau nggak mau, memang mereka harus dibiasakan untuk menyelesaikan sendiri masalahnya.

Baca juga : Tahapan Anak Belajar Membaca


Hasil Tes Kesiapan Masuk SD Milik Najwa
Jujur, berdasarkan 5 hal di atas, anak saya masih mendapat point kurang untuk kesiapan emosional, atau tanda yang kelima. Setidaknya begitu menurut hasil tes-nya. Meskpiun, berdasarkan pengamatan kami selama ini, mungkin tidak terlalu kurang juga, hanya masih standar. Jadi lumayanlah. Hehehe... namanya juga anak sendiri, dibelain dikit donk. 

Untuk point ke 1 sampai dengan 4, alhamdulillah Najwa dinyatakan siap, bahkan cenderung di atas syarat cukup. Tapi di point kelima, Najwa dinyatakan kurang, salah satunya karena lambat dan kurang aktif saat di kelas. Sangat bertolak belakang dengan pengamatan guru kelas Najwa selama ini.

si Kinestetik yang memiliki kecenderungan Audio


Dalam lembar hasil tes disebutkan Najwa anak yang cukup berani meskipun agak pasif  selama di kelas, lambat dan tenang menyelesaikan semua tugas-tugasnya.

Saya tidak serta-merta menolak hasil pengamatan psikolog, meskipun tidak juga menjudge anak tidak siap secara emosional. Mengapa? Karena saya paham bahwa Najwa cenderung slow to warm, dalam artian cuek, terutama dengan orang baru. Beda dengan guru kelasnya, di mana Najwa selalu aktif dan banyak bertanya.

Mengenai point lambat dalam mengerjakan, hal tersebut memang sudah saya diskusikan dengan guru-gurunya, that’s why bu Guru menyarankan Najwa Home Schooling saja. Menurut bu Guru sih, bukan karena tidak mampu, tapi karena anaknya cenderung santai. 

Saat semua temannya mengerjakan, Najwa memilih mencari "korban" yang bisa diajak ngobrol, entah itu guru atau teman-temannya yang sedang sibuk mengerjakan. Atau malah melamun saja kalau tidak mendapatkan "korbannya". Sedangkan saat teman-temannya sudah hampir selesai, baru dia mulai mengerjakan.

Tapi, saya tetap berusaha obyektif pada Najwa, mengingat usianya memang baru 6 tahun akhir bulan ini. Meskipun psikolog menyarankan dapat melanjutkan ke SD, kami memang harus fokus dengan point kelima, soalan kemampuan emosional tadi.

Oleh sebab itu, kami juga tidak memasang target macam-macam, kecuali rutin melakukan pembiasaan-pembiasaan secara bertahap. Karena menurut kami, hal-hal yang dibiasakan itu yang nantinya lebih penting untuk menunjang kedisiplinan dan kemandiriannya. 

Hem ... meskipun akhirnya mantap mendaftarkan ke SD, sebenarnya kami masih menyimpan kegalauan yang lain. Kali ini berkaitan dengan SD mana nantinya yang akan dipilih. Tapi, cerita yang itu lain kali saja ya. Mungkin setelah kegalauan saya sedikit berkurang, hehehe ...

Have a great journey aja dech, karena jadi ortu amatiran kayak saya ini bener-bener bertualang rasanya, hihihi ... See U ^_^



Custom Post Signature

Custom Post Signature