Seringkali kita mendengar istilah "asam lambung saya naik" atau "saya kena GERD." Meski keduanya berkaitan erat dengan sistem pencernaan, secara medis ada perbedaan mendasar dalam hal frekuensi dan keparahannya. Berikut penjelasan mengenai definisi, perbedaan gerd dan asam lambung, gejala, dan cara menanganinya.
Apa Perbedaannya?
Secara sederhana, perbedaannya terletak pada intensitasnya:
Asam Lambung (Refluks Asam): Ini adalah kondisi medis di mana asam dari lambung naik kembali ke kerongkongan (esofagus). Ini bisa terjadi pada siapa saja sesekali, misalnya setelah makan terlalu kenyang atau mengonsumsi makanan yang sangat pedas.
GERD (Gastroesophageal Reflux Disease): Ini adalah bentuk refluks asam yang sudah kronis atau parah. Seseorang dikatakan menderita GERD jika refluks asam terjadi setidaknya setidaknya dua kali seminggu dalam jangka waktu yang lama, hingga menyebabkan peradangan atau kerusakan pada kerongkongan.
Mengenal Perbedaan Gejala Gerd dan Asam Lambung
Meskipun keduanya bersumber dari cairan asam yang sama, gejala yang muncul memiliki karakteristik dan dampak yang berbeda pada tubuh.
Gejala Asam Lambung (Refluks Asam Biasa)
Pada kondisi refluks asam biasa, gejala yang muncul cenderung bersifat sesaat dan tidak konstan. Umumnya, penderita akan merasakan sensasi perih atau nyeri di area ulu hati tepat setelah makan dalam porsi besar atau mengonsumsi pemicu seperti lemak dan kafein.
Gejala ini sering kali disertai dengan perut yang terasa penuh, kembung, dan sendawa yang berlebihan. Meskipun tidak nyaman, sensasi ini biasanya akan mereda dengan sendirinya dalam waktu singkat atau setelah mengonsumsi antasida dosis rendah. Intinya, gejala ini adalah reaksi "protes" lambung yang sifatnya sementara.
Gejala GERD (Kondisi Kronis)
Berbeda dengan refluks biasa, GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) membawa gejala yang lebih intens, persisten, dan mengganggu kualitas hidup. Gejala yang paling khas dari GERD adalah heartburn, yaitu sensasi terbakar yang hebat di belakang tulang dada yang sering kali menjalar hingga ke kerongkongan. Sensasi panas ini biasanya akan memburuk saat penderita berbaring, membungkuk, atau setelah makan malam yang berat.
Selain rasa terbakar, penderita GERD sering mengalami regurgitasi, yaitu kembalinya sisa makanan atau cairan asam ke pangkal tenggorokan yang meninggalkan rasa pahit dan asam di mulut. Karena paparan asam yang terjadi berulang-ulang dalam jangka panjang (minimal dua kali seminggu), gejala GERD bisa merembet ke area di luar pencernaan.
Banyak penderita GERD mengeluhkan batuk kering yang tak kunjung sembuh, suara menjadi serak di pagi hari, hingga rasa mengganjal di tenggorokan seolah-olah ada sesuatu yang tersangkut. Pada tahap yang lebih parah, nyeri dada akibat GERD bisa sangat tajam sehingga menyerupai gejala gangguan jantung.
Cara Mengobati dan Menangani
Penanganan keduanya melibatkan kombinasi perubahan gaya hidup dan obat-obatan.
Perubahan Gaya Hidup
Porsi Makan: Makan dalam porsi kecil tapi sering lebih baik daripada makan besar sekaligus.
Atur Waktu Tidur: Jangan langsung berbaring setelah makan. Beri jeda minimal 3 jam.
Posisi Tidur: Gunakan bantal ekstra agar posisi kepala dan dada lebih tinggi dari perut.
Hindari Pemicu: Kurangi kafein, alkohol, cokelat, makanan pedas, dan gorengan yang tinggi lemak.
Pengobatan Medis
Untuk mendapatkan diagnosa dan pengobatan yang tepat, sangat disarankan untuk mengunjungi dokter spesialis penyakit dalam.
Antasida: Untuk menetralkan asam lambung secara cepat (cocok untuk refluks ringan).
H2 Blockers: (Seperti Famotidine) untuk mengurangi produksi asam lambung.
Proton Pump Inhibitors (PPI): (Seperti Omeprazole atau Lansoprazole) yang lebih kuat dalam menghambat produksi asam dan membantu menyembuhkan jaringan kerongkongan yang rusak.
Catatan Penting: Jika Anda merasakan nyeri dada yang menjalar ke lengan atau rahang disertai sesak napas, segera cari bantuan medis, karena itu bisa jadi tanda masalah jantung, bukan sekadar asam lambung.
Tips Diet: Apa yang Harus Dimakan dan Dihindari?
Kunci utama diet GERD bukanlah "pantang makan segalanya", melainkan memilih makanan yang rendah lemak dan tidak memicu relaksasi otot katup kerongkongan bawah (LES).
Makanan yang Disarankan (Ramah Lambung):
Sayuran Hijau: Brokoli, asparagus, kembang kol, dan bayam secara alami rendah lemak dan gula.
Jahe: Memiliki sifat anti-inflamasi alami dan sering digunakan untuk meredakan mual serta gangguan pencernaan.
Oatmeal: Sumber serat yang baik untuk menyerap asam di perut.
Buah Non-Sitrus: Melon, pisang, dan pir adalah pilihan aman karena tidak mengandung asam tinggi seperti jeruk atau lemon.
Protein Tanpa Lemak: Dada ayam tanpa kulit, ikan, atau putih telur yang diproses dengan cara direbus atau dikukus (bukan digoreng).
Makanan yang Harus Dibatasi (Pemicu Refluks):
Makanan Tinggi Lemak: Gorengan, keju berlebih, dan potongan daging berlemak dapat membuat katup kerongkongan melemas.
Cokelat: Mengandung bahan kimia bernama methylxanthine yang bisa melemaskan otot katup lambung.
Minuman Berkarbonasi: Gas dari soda bisa membuat perut kembung dan mendorong asam ke atas.
Rekomendasi Olahraga untuk Penderita GERD
Banyak penderita GERD takut berolahraga karena khawatir asam lambung naik saat bergerak. Padahal, menjaga berat badan ideal sangat penting untuk mengurangi tekanan pada perut.
Olahraga yang Aman (Low-Impact)- Jalan Santai: Olahraga paling aman yang membantu pencernaan tetap lancar tanpa mengguncang isi perut secara berlebihan.
- Bersepeda Statis: Dilakukan dengan posisi tegak, sehingga gravitasi tetap membantu menjaga asam di dalam lambung.
- Yoga Ringan: Fokus pada pernapasan dan postur tegak.
- Berenang: Olahraga seluruh tubuh yang minim tekanan pada sendi dan perut.
Tips Saat Berolahraga
- Tunggu 2 Jam: Jangan berolahraga segera setelah makan.
- Hindari Olahraga High-Impact
- Tetap Hidrasi: Minum air putih secara perlahan, jangan langsung menenggak banyak air dalam satu waktu saat jeda istirahat.
Kesimpulan
Secara umum, perbedaan gerd dan asam lambung terletak pada frekuensi dan jangkauan gejalanya. Jika refluks asam biasa hanya terasa seperti "tamu yang numpang lewat" di area ulu hati, maka GERD adalah "gangguan menetap" yang gejalanya menjalar dari dada hingga tenggorokan dan terjadi secara berulang. Mengenali sinyal-sinyal ini sangat penting agar kita tidak sekadar menelan obat maag biasa untuk kondisi yang mungkin memerlukan penanganan dokter spesialis






