Parenting Story, Mom's Life, Tips

Showing posts with label Tumbuh Kembang Anak. Show all posts
Showing posts with label Tumbuh Kembang Anak. Show all posts

Waspadai Gangguan Fisik dan Emosi akibat Obesitas pada Anak

|

RS Royal Progress Jakarta Utara


Jangan dikira masalah obesitas dan segala gangguan kesehatan yang menyertainya hanya terjadi di kalangan orang dewasa, karena kenyataannya, obesitas pada anak kini sedang marak. Bahkan angka prosentasenya terus meningkat dari tahun ke tahun, mulai 2,30% pada tahun 2000 hingga 16,50% pada tahun 2016 merujuk pada data dari WHO.

Tentu tidak mengherankan, karena pergeseran zaman yang ditandai dengan berubahnya gaya hidup dan pola asuh pada anak turut memberi andil pada permasalahan ini. Untuk itu, masyarakat perlu mendapatkan edukasi, agar ikut mewaspadai dan menekan angka obesitas pada anak yang semakin tak terkendali.

Rumah Sakit Royal Progress sebagai salah satu institusi kesehatan merasa bertanggung jawab untuk ikut menyebarkan informasi baik tersebut. Bertempat di Up In Smoke Restaurant, pada Jumat, 3 Agustus 2018 kemarin acara Media dan Blogger Gathering digelar untuk mengupas tuntas dan menyebarkan informasi baik terkait penyebab, efek yang ditimbulkan dan penanganan terhadap kasus obesitas pada anak.

Rencana Baru di Tahun Ajaran Baru 2018 - Parenting Anak Usia 7 Tahun

|
Saat kebiasaan baik anak terbentuk, sebenarnya orangtua sangat terbantu dalam melakukan pengasuhan. Sehingga status anak pada fase 7 tahun kedua ini benar-benar sebagai "Pembantu" dalam artian membantu keberhasilan tugas pengasuhan orangtua pada fase-fase berikutnya.


Parenting Anak 7 Tahun



Tahun ajaran baru biasanya  diwarnai dengan perasaan suka cita. Bagi orangtua dan siswa yang baru saja melalui serangkaian tahap pencarian sekolah baru. Kelegaan yang dirasakan mungkin tak mudah untuk digambarkan dengan kata-kata, ketika nama anak-anak kita tercatat menjadi salah satu siswa di sekolah yang memang diidam-idamkan. Perasaan cemas, khawatir dan gundah selama masa PPDB berlangsung, seketika lenyap begitu saja berganti dengan semangat dan berbagai rencana baru untuk anak-anak kita.

Hal senada juga dialami oleh anak-anak dan orangtua yang pada tahun ajaran ini bergeser kelas ke level yang lebih tinggi. Dengan berada di kelas baru tentunya akan banyak harapan baru juga terkait perkembangan anak-anak kita. Baik secara akademis maupun hal-hal yang berkaitan dengan penguasaan life skill dan perkembangan sosialnya.

Drama Menjelang "Fantastic Four" - Si Kecil jadi Suka Memukul

|

Anak suka memukul


Sudah lama nggak bikin postingan tentang tumbuh kembang DuoNaj. Selain karena tumbuh kembangnya yang menurut saya agak susah untuk diceritakan, karena tidak ada suatu hal yang bisa dibahas secara spesifik.  Terus terang aja saya lagi suka bereksperimen di dapur sehingga agak selow menulis tentang parenting, halah pengakuan macam apa ini, hehehe.

Sampai akhirnya awal Ramadan kemarin saya menangkap ada yang berubah dari Najib. Anak bungsu saya yang biasanya sweet dan kecupable ini menjadi sangat agresif, gampang marah dan yang lebih parah jadi sangat suka memukul.

Speech Delay dan Speech Disorder (Bagian 2) - Penyebab, Gejala dan Cara Menanganinya

|

speech delay
Pexels.com


Masalah speech delay dan speech disorder yang pada awalnya dianggap lebih banyak dialami anak laki-laki ketimbang anak perempuan. Ternyata tidak sepenuhnya benar. Fakta ini saya dapatkan setelah memposting artikel dengan tema serupa tapi khusus membahasnya dari segi anak laki-laki. Berdasarkan pengalaman saya bersama si kecil Najib yang memang cenderung telat berbicara dibandingkan kakaknya.

Saya banyak menerima komentar di blog dan juga inbox mengenai pengalaman orang tua dengan anak yang mengalami speech delay. Atau Teman-teman yang bersinggungan langsung dengan anak-anak speech delay, tapi tidak dengan jenis kelamin laki-laki. Atau lebih jelasnya, mereka yang kemudian saya ajak berdiskusi adalah orang-orang dengan pengalaman menghadapi speech delay pada anak perempuan.

Mengejutkan, karena pada awalnya saya lebih banyak menemukan kasus speech delay pada anak laki-laki. Tapi kemudian, berbekal sharing pengalaman dan membaca lebih banyak sumber bacaan mengenai speech delay atau speech disorder pada anak. Saya pun menemukan beberapa hal yang baik secara langsung ataupun tidak sengaja dapat menghambat perkembangan berbicara dan berbahasa anak. Beberapa di antaranya sebagai berikut:


Penyebab Speech Delay 


speech delay


1. Gangguan Pendengaran

Gangguan pendengaran jelas sangat mengganggu tahap tumbuh kembang anak.  Bagaimanapun juga, anak belajar dan menangkap memori berdasarkan apa yang didengarnya. Gangguan pada organ pendengaran mau tak mau memengaruhi informasi yang dapat diterima dan diolah otak, untuk kemudian dikeluarkan lagi dalam bentuk ucapan atau bahasa.

Gangguan pendengaran pada anak sendiri bisa disebabkan oleh beberapa hal. Misalnya trauma, infeksi baik saat masih dalam kandungan atau setelah lahir, kelainan bawaan, kelainan genetik, juga konsumsi obat-obatan pada ibu hamil.

Jadi ada banyak sekali penyebab gangguan pendengaran itu sendiri. Dan hal ini harus benar-benar diperhatikan orang tua bahkan sejak si kecil masih dalam kandungan.


2. Kelainan organ bicara

Kelainan organ bicara bisa berupa lidah pendek, kelainan bentuk gigi dan rahang bawah, bibir sumbing dan kelainan pada langit-langit mulut.

Pada anak yang memiliki lidah pendek, mereka cenderung susah menjulurkan lidah sehingga kesulitan mengucapkan beberapa huruf seperti "t", "n", "l". Sedangkan pada anak dengan bibir sumbing, sering kali mengalami penyimpangan resonansi berupa suara hidung pada huruf dengan tekanan tinggi. Misalnya "s", "k", "g". 

Berbeda dengan anak yang memiliki kelainan pada bentuk gigi dan rahang bawah, mereka cenderung mengeluarkan desah saat mengucapkan "f", "v", "s", "z", 'th".

Saya sempat menemukan kejanggalan pada anak perempuan saya, saat dia mengucapkan huruf  "s". Selain berdesah, Najwa mengucapkannya seperti "ets". Tapi seiring pertumbuhan giginya yang mulai rapi dan didukung pemeriksaan rutin pada dokter gigi, maka masalah itu pun kini mulai teratasi.

3. Kasus speech delay pada anak laki-laki

Hal ini sudah saya bahas pada artikel pertama. Bahwa anak laki-laki cenderung telat berbicara karena tabungan kosakatanya pun jauh di bawah anak perempuan.
Untuk penjelasan lebih detil mengenai speech delay pada anak laki-laki. Teman-teman bisa buka link di bawah ini.


4. Autisme

Pada anak yang memeiliki kecenderungan autisme, masalah perkembangan bicara dan bahasa sering kali menjadi momok dan dianggap sebagai gangguan yang berat. Memang saya menjumpai sejumlah anak dengan gangguan autisme mengalami permasalahan ini. Tapi tidak sedikit juga saya jumpai anak-anak dengan kecenderungan autisme memiliki kecakapan berbahasa yang jauh di atas rata-rata usianya.

Beberapa bahkan berbicara tema yang terlalu berat, berkomunikasi dengan bahasa asing, dan mampu mendeskripsikan segala hal yang ada dalam imajinasinya. Ya, memang hal ini tidak sepenuhnya sama pada setiap anak. Karena faktor pengasuhan yang didukung dengan terapi bisa jadi memberikan progres yang berbeda.

5. Kurang stimulus dari lingkungan

Sering kali orang tua menganggap anak bermasalah dalam mengembangkan kemampuan berbicara dan berbahasa karena ada "faktor x" pada dirinya. Padahal, tidak sedikit pula yang mengalami gangguan ini dikarenakan faktior yang tidak disengajakan. Contohnya karena kurang stimulasi dari orang-orang terdekatnya.

Tingkat kesibukan atau faktor sifat pendiam para orang tua sering kali membuat anak tidak mendapatkan ransangan untuk berbicara. Alih-alih berinteraksi dalam cerita atau obrolan, anak lebih banyak menghabiskan waktu dalam dunianya sendiri bersama mainan.

Pada beberapa kasus, penggunaan gadget atau menonton televisi yang terlalu berlebihan juga bisa memicu masalah ini. Untuk itu, perlu pendampingan dan batasan dari orang tua terkait segala hal yang menyebabkan anak sibuk dengan dunianya sendiri.

Beberapa pakar menyebutkan bahwa penggunaan dua bahasa juga dapat memengaruhi perkembangan bahasa anak. Terus terang saya belum menemukan masalah ini secara langsung. Hanya saja, rasanya masuk akal jika anak mengalami masalah berbicara karena "bingung kosakata". 

Untuk itu, ada baiknya menentukan bahasa mana yang digunakan dalam komunikasi sehari-hari, khususnya pada awal tumbuh kembang anak. Atau jika memang menghendaki menggunakan dua bahasa, ada baiknya tidak mencampur dalam satu kalimat utuh.

Masalah gangguan berbicara memang bisa dibilang mengkhawatirkan. Tapi, masalah ini sebenarnya bisa diamati dengan seksama, sebelum si anak benar-benar mengalami keterlambatan yang terlalu jauh  dari rentang usianya. Sekali lagi di sini orang tua memiliki peran yang sangat penting.

Orang tua disarankan untuk selalu memantau perkembangan anak terlebih pada awal kehidupannya. Antara usia 0 hingga 5 tahun yang merupakan masa-masa emas sekaligus masa krusial. Jika merasa menemukan sesuatu yang ganjil seperti beberapa hal berikut ini, maka orang tua bisa segera melakukan tindakan preventif. Apa sajakah itu?


Gejala Keterlambatan Berbicara yang Bisa Diamati

speech delay


Usia 1 tahun atau 12 bulan

Anak cenderung diam, tidak suka mengoceh atau mengucapkan apapun. Tidak merespon orang yang mengajaknya berbicara. Saat anak menginjak usia 1 tahun, setidaknya mereka mampu mengucapkan 1 atau 2 kata, mengenali nama , menirukan suara dan memahami perintah sederhana.

Usia 18 bulan

Masih diam dan tidak suka mengoceh. Idealnya, pada usia 18 bulan anak sudah memiliki sekirtar 5 hingga 20 perbendaharaan kata. Termasuk dapat menyebutkan nama atau sebutan bagi orang lain.


Usia 2 tahun

Belum mengucapkan kata dan lebih banyak menggumam atau menunjuk untuk berkomunikasi dengan orang lain.

Usia 2,5  tahun

Belum memiliki banyak perbendaharaan kata yang cukup dan cenderung berbicara dengan mengucapkan suku kata. Idealnya, pada usia ini anak sudah mengenali dan mampu menyebutkan anggota badan, mengenali warna dan dapat merangkai kalimat pendek dan sederhana.

Usia 3 tahun

Pada usia ini, saat orang tua merasa tidak mampu memahami apa yang anak ucapkan, maka tidak salah jika mulai merasa curiga. Bagi sebagian anak memang pengucapannya masih belum jelas karena masalah cadel, tapi ada juga yang tidak jelas karena ucapannya benar-benar tidak dapat dipahami.

Sekitar usia 3 tahun, anak sudah mulai bercerita sederhana. mereka mulai dapat mengungkapkan perasaan dan menceritakan kejadian yang dilihat atau dialaminya dengan kalimat pendek sederhana. Kosakatanya pun semakin banyak, sekitar 1000 kata.

Tapi kembali lagi, setiap anak memang unik. Begitu pun dengan tahapan tumbuh kembangnya yang bisa jadi juga berbeda satu dengan yang lainnya. Maka dari itu mengamatinya adalah hal yang mutlak dilakukan. Dan, apabila menemukan gejala tertentu yang dikhawatirkan dapat menghambat keterampilan berbicaranya, maka tak perlu menunda untuk melakukan penanganan.

Beberapa cara berikut dapat dilakukan untuk menstimulus dan mencegah terjadinya gangguan terlambat bicara agar tidak semakin larut.


Penanganan Speech Delay pada Anak 

speech delay

1. Membangun komunikasi dengan anak

Di luar adanya gangguan organ atau kelainan genetis, keterampilan berbicara merupakan suatu hal yang bersumber dari kebiasaan. Seperti yang kita tahu, anak kecil baru pertama memelajari segala hal, termasuk berbicara dan berbahasa.

Membangun komunikasi yang intens antara anak dan orang tua adalah salah satu cara yang paling mudah untuk mengenalkan pada mereka aktivitas berbicara. Mengenalkannya pada banyak kosakata baru, kalimat perintah sederhana, menambah informasi yang selanjutnya akan direkam dalam memori otak anak.

Cara ini sangat mudah ditiru anak. Bahkan, secara tidak langsung mereka akan belajar bagaimana mengekspresikan perasaan, mendeskripsikan keadaan, merangkai kata dalam kalimat. Bangun komunikasi dengan anak sejak sedini mungkin, atau bahkan sejak si kecil masih di dalam kandungan.

2. Tunjukkan orang tua "ada" baik raga maupun rasa 

Saat mengajak anak berkomunikasi, pastikan orang tua "ada", bukan sekedar raganya saja. Perasaan yang turut dihadirkan pada saat berbicara dengan anak secara tidak langsung menimbulkan rasa nyaman dan berarti bagi mereka. 

3. Mengulang dan megoreksi ucapannya

Jika anak sudah mulai bersuara, atau berbicara namun tidak jelas dalam pelafalannya. Maka usahakan selalu mengulang apa yang diucapkannya. Atau jika mereka menggunakan isyarat untuk menunjukkan suatu hal, pastikan orang tua memperjelas dengan kalimat.

Misalnya, si kecil menunjuk gelas, maka orang tua bisa mengucapkan, "Adik, minta minum?". Atau jika si kecil berkata, "Adik aem," maka ulangi dengan pelafalan yang lebih jelas untuk mencontohkan pengucapan yang benar. Seperti kata berikut, "Adik mau makan?" Dengan begitu anak akan terbiasa dengan pelafalan dan kosakata yang benar sekaligus memahami rangkaian kalimat sederhana.

4. Dampingi dan batasi penggunaan televisi dan gadget

Gadget dan televisi memang susah dipisahkan dari kehidupan kita. Saya pun mengacungkan jempol bagi keluarga yang berhasil membuat anak-anaknya steril dari kedua benda tersebut. Bagi saya pribadi memang sangat susah. Selain pekerjaan yang banyak saya handle dari gadget, televisi adalah salah satu pengalihan ketika saya harus mengerjakan satu atau 2 hal tanpa interupsi dari anak. 

Contohnya saat saya sedang mandi. Karena kami hanya tinggal berempat tanpa anggota keluarga lain, sehingga dalam banyak kesempatan saya hanya bersama anak-anak atau bahkan hanya dengan si bungsu yang masih batita. Saya sengaja membuat si kecil nyaman, tenang dan merasa punya teman saat harus sendiri dengan bantuan televisi. Tentu saja dengan program acara yang mendidik. 

Tapi, perlu diperhatikan seberapa sering dan berapa lama durasi waktunya. Baik penggunaan gadget atau menonton televisi saya tetap membatasi dan berusaha mendampingi. Sehingga tetap ada interaksi sekaligus menambahkan informasi yang dirasa perlu untuk mereka ketahui.

5. Paparkan pada aktivitas literasi

Tidak dapat dipungkiri, aktivitas literasi memang sangat menunjang perkembangan berbahasa anak. Kegiatan seperti membacakan buku cerita, mendongeng atau bernyanyi dianggap paling mudah dan menyenangkan. Selain terhibur, anak juga belajar banyak hal baru dari apa yang didengarnya. Cara ini juga sangat efektif untuk memasukkan nilai moral dan nasihat bagi mereka.

6. Melakukan pemeriksaan kepada ahlinya

Untuk keterlambatan berbicara yang disebabkan gangguan organ pendengaran, kelainan pada organ mulut atau  kecenderungan autisme. Maka berkonsultasi dengan ahli medis merupakan cara yang paling tepat. tentu saja tetap dengan stimulus yang bisa dilakukan di mana saja. Tapi orang tua perlu mendengarkan langsung bagaimana penanganan yang tepat secara medis. Termasuk jika harus ada tindakan atau terapi.

Hem, lumayan banyak juga yang harus diperhatikan pada tahap awal tumbuh kembang anak. Karena masa-masa ini memang sangat kritis sekaligus masa emasnya. Kelalaian sedikit saja bisa berakibat fatal dan berdampak besar pada masa depan anak.

Yang penting harus tetap semangat menjadi orang tua. Tidak lelah belajar dan mencoba. Bagaimanapun juga tidak ada satu sekolah pun untuk menjadi orang tua teladan. Dan tidak semua teori bisa dan cocok diterapkan pada anak-anak kita.

Belajar dari pengalaman orang lain dan menambah informasi merupakan salah satu cara untuk membekali diri dalam merawat anak-anak. Tapi pastikan kita menyadari keunikan anak-anak kita. Sehingga kita pun harus siap menjadi orang tua yang unik tanpa perlu merasa tertekan dengan orang tua yang lain.


(Referensi : Ayahbunda.com, Mom and Kiddie, TheAsianparents, Mommiesdaily, Alodokter.)
 






Speech Delay dan Speech Disorder - Benarkah Lebih Sering Dialami Anak Laki-laki? (Bagian 1)

|
Speech delay pada anak laki-laki



Belakangan, Najib sering sekali menirukan cara berbicara teman bermain laki-lakinya.  Teman Najib ini atau kita sebut saja Si A,  memang masih susah mengucapkan kata-kata. Hanya beberapa kata saja yang dapat kami mengerti maksudnya dengan jelas, seperti “Jib” yang berarti Najib, “aem” yang berarti maem atau makan, “dah” atau sudah, "Bah" atau Mbah kemudian "Buk" dan "Pak". Selebihnya kami selalu berusaha memahami maksudnya berdasarkan gerak tubuh atau situasinya saja.

Fase di mana dia mulai mengeluarkan suara pun terbilang jauh tertinggal dibanding teman-teman sebayanya. Sehingga saat semestinya anak mulai melatih kata-kata pertamanya, Si A yang sekarang sudah berusia 3,5 tahun baru belajar berbahasa, dan masih suka berteriak atau menjerit ketika ingin menyampaikan maksudnya.

Sebenarnya, sejak Si A ini berusia 1,5 tahun, para tetangga termasuk saya sudah sering mengingatkan orang tuanya untuk lebih sering menstimulasi. Tapi begitu keluarganya bilang nggak ada masalah. Kami lantas tidak berusaha mengingatkan lagi. Kami percaya orang tua dan keluarganya jauh lebih memahami si anak.

Tapi sampai usianya menjelang 3 tahun, tidak ada perkembangan yang berarti yang dapat kami temui. Hingga beberapa bulan berikutnya, salah seorang anggota keluarga menyampaikan bahwa Si A akhirnya menjalani terapi wicara.

Teman Najib ini memang sangat sering bermain ke rumah. Maka dari itu saya lumayan dekat dengan keluarganya. Najib cenderung anteng dan betah berlama-lama dengannya. Mungkin saja karena Si A ini  tidak mau melawan atau ngeyel dengan Najib. Jadi Najib merasa nyaman-nyaman saja bermain dengannya.

Tapi, saya sering curiga jangan-jangan pembawaan Si A yang nggak mau ngeyel ini bisa jadi karena kesulitan untuk menyampaikan maksudnya. Najib yang masih 3 tahun saja pernah mengatakan kalau Si A ini belum bisa ngomong. Begini katanya, “Buk, A itu kan gak isa omong, adi iem aja.” (maksudnya, Buk, Si A ini kan nggak bisa ngomong, jadi diam saja).



speech delay pada anak laki-laki

Saya lumayan kaget pada saat itu. Bagaimana bisa anak umur 3 tahun berpendapat bahwa temannya nggak bisa ngomong? Apakah memang selama bermain Si A ini terlalu diam? Atau, bisa saja Najib pernah mengajaknya berbicara tapi dia tidak merespon balik?

Jujur, berdasarkan pengamatan saya sebagai orang tua yang juga sedang mengasuh anak sepantaran dengan Si A. Tahap perkembangan bahasanya memang jauh tertinggal dari teman-temannya. Tapi saya berusaha berbaik sangka, bisa jadi karena Si A memang sedang mengembangkan kemampuan lainnya., atau bersifat pendiam. Saya yakin setiap anak memang unik, begitu pun dengan grafik tumbuh kembangnya yang bisa jadi tidak selalu sama. 


Sempat Khawatir dengan Perkembangan Berbahasa Najib

Saya sendiri sempat merasakan kekhawatiran dengan perkembangan bahasa pada Najib. Pengalaman mengasuh  Najwa terus terang membuat saya was-was. Karena pada usia yang lebih muda, Najwa sudah sangat terampil berbahasa. Seingat saya, menjelang ulang tahun yang pertama Najwa sudah bisa menjawab pertanyaan dengan baik dan tidak melalui masa cadel.

Speech delay pada anak
Ulang tahun Najwa yang pertama. Masih merangkak tapi sudah cerewet.
Berbeda dengan Najib yang sampai menjelang ulang tahun kedua masih kurang jelas ucapannya. Sudah banyak ngomong, sih. Dan ketika diajak berbicara atau ditanya dia sudah merespon dengan tepat. Hanya pengucapannya yang masih tidak jelas.
Neneknya sempat khawatir sampai menyarankan untuk mengikuti terapi. Tapi, saya pun berpikir Najib baik-baik saja, seperti halnya ibu Si A.  Dan saya pastikan terus menstimulasi dan memantau perkembangannya.

Perkembangan Berbahasa Najwa dan  Najib pada Usia yang Sama

Saya merasa keyakinan saya ini juga tidak asal-asalan, atau untuk menenangkan hati saja. Saat itu saya banyak mencari  informasi tentang tumbuh kembang balita baik anak laki-laki maupun perempuan. Maksud saya untuk membandingkan, karena saya melihat tumbuh kembang Najwa dan Najib cenderung berkebalikan.

Najib usia 15 bulan. Sudah suka gowes sepeda kakaknya, tapi masih belum banyak ngomong.

Pada usia 1 tahun Najwa sudah terampil berbahasa, tapi belum bisa berjalan. Sedangkan Najib sudah lebih dulu berjalan, sedangkan saat usianya lewat 15 bulan dia baru banyak ngomong meskipun belum jelas kata per kata.

Sampai hari ini, saat usia Najwa 6,5 tahun dan Najib 3 tahun, perkembangan motorik kasar Najib jauh di atas Najwa pada usia yang sama. Begitu pun halnya, keterampilan berbahasa Najwa melejit, jauh di atas Najib pada usia yang sama.


Berkaca pada 2 hal tersebut, saya pun menyimpulkan sendiri, bahwa bisa jadi grafik tumbuh kembang keduanya memang unik dan berbeda. Tapi, saya pastikan bahwa keduanya berada pada batas normal pola tumbuh kembang umum, sesuai batas usianya.

Setelah melihat kasus Najib, Si A dan mendengarkan curhat beberapa orang tua yang mengeluhkan anak laki-lakinya yang cenderung telat mengembangkan kemampuan berbicara atau berbahasa. Saya kemudian berpikir apa benar bahwa kasus speech delay lebih banyak dialami anak laki-laki? Pertanyaan inilah yang kemudian mengantarkan saya pada berbagai bahan bacaan tentang speech delay dan speech disorder pada anak.


anak terlambat bicara


Apa itu Speech Delay dan Speech Disorder?

Speech Delay dan Speech Disorder, meskipun keduanya terdengar mirip dan sama-sama diasumsikan sebagai kasus keterterlambatan bicara pada anak. Sebenarnya kedua hal tersebut berbeda. Dalam salah satu artikel yang saya baca, speech delay merupakan istilah dari keterlambatan berbicara, sedangkan speech disorder adalah gangguan berbahasa.

Berbicara dan berbahasa adalah 2 hal yang berbeda. Berbicara merupakan kemampuan untuk mengeluarkan suara, sedangkan berbahasa lebih berkaitan pada arti kata dibanding suara yang dikeluarkan. Seorang anak terindikasi mengalami keterlambatan berbahasa ketika perkembangannya mengalami urutan yang sama, tapi terlambat. Sedangkan gangguan berbahasa bisa diindikasi ketika perkembangan berbahasa anak tidak sesuai dengan polanya. 

 

 

Pola di sini tentu saja mengacu pada pola tumbuh kembang anak sesuai rentang usia yang digunakan secara umum. Sedangkan masalah keterlambatan berbahasa (berbicara) sendiri, umumnya lebih sering dialami anak-anak pada usia prasekolah.


gangguan berbicara pada anak
theconversation.com

Apakah benar speech delay lebih sering dialami anak laki-laki?

Menurut salah satu penelitian,  bayi yang terpapar hormon testoteron tinggi semasa janin riskan mengalami keterlambatan dalam perkembangan berbahasa. Pernyataan ini didasarkan pada salah satu penelitian yang dilakukan dengan mengukur testoteron dalam darah tali pusat dari 700 lebih bayi yang baru lahir. Kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan pada perkembangan bahasa mereka pada tahun pertama, kedua dan ketiga.

 

Hasil penelitian menujukkan anak laki-laki dengan paparan kadar testoteron tinggi cenderung mengalami keterlambatan berbahasa atau berbicara. Sedangkan salah satu fakta menyebutkan bahwa janin laki-laki memiliki sirkulasi testoteron hingga 10 kali lebih tinggi dibanding janin perempuan.

Namun, efek sebaliknya ditemukan pada anak perempuan. Anak-anak perempuan yang mendapatkan paparan testoteron tinggi semasa dalam kandungan mengalami penurunan resiko speech delay. (Sumber: Kompas.com)

 

Selain itu, ada perbedaan pada perkembangan otak anak laki-laki dan perempuan.  Pada anak laki-laki, bagian otak yang mengontrol gerakan dan koordinasi tumbuh lebih cepat. Bagian ini biasa disebut cerebellum. Sedangkan pada anak perempuan, bagian otak yang mengontrol panca indra bisa dibilang lebih sensitif ketimbang anak laki-laki.

Tapi, perbedaan jenis kelamin sebenarnya tidak selalu mengindikasi tumbuh kembang anak. Karena pada dasarnya stimulasi yang diberikan orang-orang di sekitar anak akan sangat menunjang. begitu pun halnya dengan kemampuan berbicara. Anak laki-laki maupun perempuan yang sering mendapatkan stimulus, misalnya diajak berbicara atau bercerita. Cenderung tidak mengalami gangguan bicara atau berbahasa.

Berikut adalah beberapa poin yang dapat dijadikan patokan perkembangan bahasa anak usia 0 hingga 3 tahun.


gangguan berbicara pada anak

1. Usia 0 tahun / lahir : menangis

2. Usia 2 - 3 bulan 
Menangis dengan cara berbeda dalam berbagai kondisi, mengeluarkan suara sebagai respon kepada orang tua

3. Usia 3 - 4 bulan : mengoceh tidak beraturan

4. Usia 5 - 6 bulan
Mengoceh dengan pola berulang, "mama", "papa", "tata"

5. Usia 6-11 bulan
Mengoceh dengan cara meniruklan suara orang di sekitarnya, sering kali diikuti mimik wajah yang berubah-ubah.

6. Usia 12 bulan
Mengucapkan 1 - 2 kata, mampu mengenali nama, memahami beberapa bunyi dan kata, memahami instruksi singkat dari orang-orang di sekitarnya.

7. Usia 18 bulan
Dapat menggunakan 5 - 20 kata termasuk menyebutkan nama.

8. Sampai usia 2 tahun

Dapat mengucapkan kalimat pendek dan sederhana yang terdiri dari 2 kata. Seperti "minta makan", "Adik mau", dan sebagainya. Perbedaharaan katanya semakin banyak, bisa melambaikan tangan sambil mengucapkan "da.." atau " bye..". Menirukan suara hewan, menggunakan kata "apa" untuk bertanya, dan "tidak" atau "nggak" untuk menolak.

 9. Sampai usia 3 tahun

Dapat mengenali dan menyebutkan bagian tubuhnya. Menyebut diri sendiri dengan kata, saya, aku atau menyebutkan namanya. Dapat mengkombinasikan kata hingga sekitar 450 kata. Dapat merangkai kalimat sederhana. Mampu mencocokkan warna. Bisa membedakan'besar' dan 'kecil'. Menyukai cerita dan dapat menceritakan kembali.

(Sumber : Ibu dan Balita, mommies daily, nakitagrid.id)

Berdasarkan poin-poin di atas, bisa jadi anak-anak mengalami perkembangan yang lebih cepat, atau sedikit lebih lambat. Tapi, saya tetap berpatokan pada progress yang terukur dari hasil pengamatan langsung. Selama ada perkembangan dan keterlambatannya tidak terlalu jauh, saya rasa masih normal. Keterlambatan yang tidak terlalu signifikan bisa jadi disebabkan oleh sifat bawaan anak maupun pola interaksi dengan lingkungannya.

Jika memang ada gangguan, maka  tugas orang tua untuk mengamati lebih dalam. Apa poenyebab dan gejala yang mulai ditunjukkan. Selanjutnya, mari kita tanya diri sendiri, sudahkah memberikan stimulasi yang tepat dan berkesinambungan? Karena nggak bisa dipungkiri, ya. Stimulasi dari orang tua atau orang-orang di sekitar anaklah yang dapat merangsang kemampuan psikomotorik dan bahasanya. Tanpa adanya rangsangan, susah bagi otak anak untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Padahal otak bayi berkembang sangat cepat pada masa-masa awal kehidupannya. Benar bukan?

Pada postingan kedua tentang tema speech delay nanti, saya akan membahas tentang penyebab, gejala dan stimulasi yang tepat. Jadi, jangan lupa mampir lagi ya. 😉😉



Tulisan ini diikutsertakan dalam tantangan One Day One Post Oktober 2017 Blogger Muslimah Indonesia.
#ODOPOKT4


Tips Toilet Training untuk Anak Laki-laki

|


Toilet training bisa jadi lebih mudah bagi bayi perempuan. Setidaknya itu yang saya alami bersama Najwa. Menjelang usia 2 tahun, Najwa sudah siap berpisah dengan diapersnya. Dimulai dengan melepasnya pada siang hari, berlanjut saat jam tidur malam, dan puncak keberhasilannya saat dia pergi ke play group tanpa diapers. Bravo, Najwa!


Seingat saya pun Najwa lebih cepat memberikan sinyal ketika ingin pipis atau pup. Malam hari sebelum tidur juga selalu mudah diajak ke kamar mandi untuk mencuci tangan, kaki, muka dan membuang hajat kecilnya.


Beda anak beda juga ceritanya. Kalau sama namanya bukan tantangan, donk! My baby boy Najib Arya Djati ini dari kecil nggak cuma jago nenen, tapi juga jago “beser”. Saya ingat banget, pas awal-awal lahir, sehari dia bisa pipis sampai 18 kali. Setiap habis minum ASI, pasti popoknya langsung basah. Begitu terus entah siang atau malam. Untuk urusan pup pun sama. Bahkan sampai sekarang dia rutin pup 2 kali dalam sehari.



Kapan Mulai Toilet Training?


Babycentre.com


Saya nggak ingat betul kapan pastinya. Tapi kalau nggak salah, sejak usia 18 bulan saya sudah mengurangi penggunaan popok sekali pakai pada siang hari. Tapi, karena si kecil tidak pernah menunjukkan tanda-tanda yang berarti. Jadilah dia ngompol di sana-sini.


Umumnya, jika menjelang tidur atau setelah bangun diajak buang air, anak-anak jarang sekali ngompol lagi. Kalaupun kepengen pipis, ortu bisa nandain setiap satu jam sekali.

Najib memang agak ajaib dalam urusan yang satu ini. Misalnya ketika bangun tidur saya bawa ke kamar mandi untuk pipis, 15 menit kemudian dia sudah ngompol lagi. Biasanya dalam satu jam dia bisa ngompol 3 sampai 4 kali. Lumayan susah juga menandai kapan waktunya.  Karena kadang-kadang saat diajak ke kamar mandi anaknya malah nggak kepengin. 

Tapi, tepat setelah usianya genap dua tahun, saya mulai menerapkan toilet training secara konsisten.  Meskipun tantangannya  masih sama --- ngompol di mana-mana --- tapi, perlahan mulai teratur dan berkurang volumenya. 


Sampai hari ini pun kami belum berhasil 100%. Kadang-kadang, pas siang hari anaknya minta pakai diapers. Katanya biar nggak ngompol. Atau pas lagi diajak pergi gitu, sesekali masih ngompol karena nggak kuat nahan atau nggak ngomong kalau udah kebelet.  Saya tetap bersyukur karena progress-nya sudah berjalan sekitar 60%. Cuman masalah pup yang masih suka sembunyi-sembunyi di belakang pintu. Dan tentu saja ini kembali menjadi tantangan bagi saya.


Well, sekecil apapun progres yang ditunjukkan, sebaiknya tak perlu menunda untuk melakukan toilet training pada anak. Terlebih untuk anak laki-laki, yang menurut saya lebih lama dan lebih besar tantangannya.  Segera setelah mereka terbiasa dengan kebiasaan baru yang orang tua terapkan, maka  anak pun akan semakin siap dan menunjukkan perkembangannya.

Iklan dulu ya 😃 : Najib dan Tumbuh Kembangnya Pasca Disapih


Tips Toilet Training untuk Anak Laki-laki 


1. Mengurangi penggunaan diapers


Hal pertama yang saya lakukan untuk melihat kapan dan seberapa sering frekuensi kencing anak adalah dengan mengurangi penggunaan diaper. Siang hari saat anak bermain, saya melepaskan diapernya hingga sore hari. Namun, setelah mandi sore hingga malam hari masih saya gunakan. Hal itu berjalan sekitar 6 bulan. Mulai si kecil berusia 18 hingga 24 bulan.


Setelah usia 24 bulan atau 2 tahun, perlahan saya mulai kurangi penggunaan pada malam hari. Dengan catatan, sebelum tidur saya  mengajak anak buang air kecil terlebih dahulu. Dan jika memungkinkan membangunkannya pada malam hari.  Cara ini lumayan membantu membentuk kebiasaan baru untuk anak. Meskipun ngompol di kasur masih jadi resiko yang harus dihadapi.


Penggunaan diaper saat bepergian masih saya lakukan hingga 6 bulan setelah ulang tahunnya yang kedua. Untuk sekarang pun, jika bepergian dengan jarak relatif jauh  saya masih pakaikan. Buat jaga-jaga saja, daripada kenak marah orang.  Sebenarnya, sejak Najib mulai lancar ngomong, dia pun mulai rajin minta ke kamar mandi atau toilet. Ya, tapi demi keamanan aja, khusus saat bepergian jarak jauh masih saya gunakan diaper.


babycentre.com



2. Mengajarkan buang air dengan cara duduk baru berdiri.


Meskipun pada anak laki-laki, saya tetap mengajarkan cara buang air kecil dengan duduk. Mengapa? Karena hal ini penting untuk membiasakannya buang air besar.  FYI, Najib masih suka berdiri sambil sembunyi saat kepengen pup. Walhasil, pup selalu di celana. Kecuali kami lebih dulu melihat sinyal darinya dan langsung mendudukkannya di potty seat.

3. Menyediakan perlengkapan toilet training



Amazon.com



Berbeda dengan Najwa yang sama sekali tidak menggunakan perlengkapan toilet training. Sengaja kami membelikan potty seat untuk Najib. Hal ini dikarenakan closet kami yang lumayan tinggi dan memang bukan ukuran anak-anak. Sehingga kurang nyaman terlebih untuk balita.


Awalnya si kecil tetap menolak meskipun kami telah membeli potty seat sesuai pilihannya. Namun lambat laun dipakai juga. Tapi hanya saat buang air besar saja digunakan. Saat pipis, Najib lebih memilih langsung di lantai kamar mandi. Mungkin sudah kebelet banget. Hehe …


Saat membeli perlengkapan toilet training pastikan yang aman dan nyaman untuk anak. Sebisa mungkin, usahakan juga anak ikut saat membeli, sehingga bisa memilih dan mendengarkan cara penggunaannya dari penjaga toko.


4. Demonstrasikan penggunaan perlengkapan toilet training anak


Parent Magazine.com

Si kecil pasti memiliki boneka, robot atau miniatur binatang kesayangan, bukan? Nah, cobalah untuk mendemonstrasikan penggunaan potty seat dengan mainan kesukaannya tersebut. Orang tua bisa menyampaikan bahwa teman-teman si kecil juga pipis di tempat yang sama. Dengan begitu, anak akan lebih termotivasi untuk menggunakannya.


Jika memungkinkan, carilah mainan lain yang dapat digunakan sebagai potty seat atau closet untuk mainan anak. Sehingga si kecil memiliki kesempatan untuk duduk berlama-lama di kamar mandi untuk buang "hajat" bersama mainan kesukaannya. Hehe … Ribet, ya? But, it works for my son.


5. Belikan pakaian dalam yang menarik


Si Najib sedang senang-senangnya dengan spiderman dan segala hal yang berbau alat transportasi. Untuk itu saya membelikan celana dalam bergambar tokoh atau benda favoritnya. Cara ini sangat membantu, karena dengan sendirinya si kecil lebih memilih memakai  celana dalam ketimbang diapers.


Meskipun bergambar, saya tetap memilih model celana dalam layaknya milik pria dewasa. Hal ini untuk menunjukkan kepada si kecil bahwa dia sudah besar dan sudah memakai celana dalam seperti ayahnya. Sehingga, cara dan tempat buang airnya pun sudah bisa sama dengan ayah.


6. Tetapkan jadwal ke toilet


Sedikit melelahkan di awal, tapi dengan cara ini anak lebih cepat mengenali hasrat ingin buang air. Segera setelah anak terbiasa dengan jadwalnya, maka mereka akan menyampaikan kapan ingin pipis atau pup. Cara ini juga sangat membantu pengasuh baik di rumah maupun di day care karena anak sudah dapat mengkomunikasikan kebiasaan yang dibentuk orang tua.

Baca juga yang ini : Lika-liku Menyapih Anak


7. Berproses


Menurut pengalaman saya, anak perempuan cenderung lebih cepat dalam proses toilet training. Tapi, hal ini tidak selalu sama pada setiap anak. Nikmati prosesnya dan hindari terlalu memaksa pada anak, karena dikhawatirkan justru anak akan mengalami trauma.


Pada kondisi normal, menginjak usia 3 tahun seorang anak baik laki-laki maupun perempuan sudah sangat siap bahkan pada sebagian anak berhasil melakukan toilet training. Namun  kembali lagi, tergantung kondisi anak dan tentu saja seberapa besar dukungan dari orang tua.


Menginjak usia 2 tahun 10 bulan, anak laki-laki saya, Najib sudah semakin jarang ngompol.  Baik siang maupun malam. Jadwal buang air kecil dan besar sudah semakin teratur dan yang terpenting hampir selalu bilang kalau merasa ingin pipis.  Urusan buang air besar memang masih menjadi pekerjaan rumah. Tapi kami yakin ini tidak akan lama. 

Memang butuh effort lebih besar dibanding kakaknya dulu. Tapi beginilah seninya jadi orang tua. Kalau mulus-mulus saja, nggak asyik, kan? Hehehe …




#ODOP
#day2
#bloggermuslimahindonesia

5 Tanda si Kecil Siap Melanjutkan ke Jenjang Pendidikan Dasar

|



Tak terasa Maret sudah sampai di pertengahan, padahal kayaknya baru kemarin aja ganti bulan. Duh ... cepet banget udah mau April lagi. Eh, tapi ini bukan tentang gajian, loh. Mentang-mentang Emak berdaster yang ngomong, jangan disangka kita mau ngomongin belanja bulanan ya. Ini soal tahun ajaran baru yang sudah di depan mata. 

Bagi orang tua yang masih memiliki anak usia sekolah, terlebih yang hendak melanjutkan ke jenjang berikutnya. Pasti sudah mulai kebat-kebit, nih. Selain masa-masa ujian, bulan kayak gini biasanya sekolah swasta terutama yang favorit sudah membuka pendaftaran siswa baru. Bahkan beberapa sudah memenuhi quota, dan tinggal menunggu masa heregistrasi.

Tahun ini, kebetulan 7 keponakan saya juga akan mendaftar ke sekolah baru. Mulai dari yang mau melanjutkan ke bangku kuliah, SMU, SMP, SD hingga ada yang baru mau masuk TK. Komplit banget pokoknya. Najwa anak saya pun, rencananya tahun ini mau mendaftar ke sekolah dasar. Insya Allah, kami sudah mantap akan melanjutkan, karena sebelumnya masih gamang. Antara ke TK lagi, SD atau cuti nggak sekolah dulu sampai tahun depan.

Salah satu keputusan ini memang dipengaruhi oleh hasil Tes Kesiapan yang beberapa waktu lalu diikuti Najwa di sekolahnya. Kemudian kami pun merasa semakin mantap untuk melanjutkan ke sekolah dasar. Masalah nanti diterima di sekolah yang mana, yang pasti kami akan mengupayakan di awal, dan mengevaluasi hasilnya kemudian.

Baca juga : Tes IQ untuk Anak, YAY or NAY?

Kapan Seorang Anak Dinyatakan Ideal untuk Melanjutkan ke SD

Pada saat saya kecil dulu, orang tua terutama nenek selalu bilang. Bahwa salah satu tanda anak siap ke SD adalah saat tangannya mampu memegang telinga, dengan cara melingkarkan tangan anak di atas kepala. Masih ingat salah satu iklan TV pada zaman teman-teman kecil dulu kan? Nah, ternyata pendapat itu tidak sepenuhnya mitos. Karena dalam ilmu psikologi, yang dimaksud dengan kondisi tersebut adalah anak telah mengoptimalkan perkembangan kognitif dan psikomotoriknya.

Dalam satu sesi tanya jawab pada saat penyerahan hasil Tes Kesiapan kemarin. Psikolog yang menjadi penguji pelaksanaan Tes IQ sekaligus Tes Kesiapan Masuk SD  memaparkan beberapa point berkaitan dengan kecerdasan anak baik secara intelektual maupun emosional. Di samping mengenai indikasi seorang anak dianggap bisa dan mampu melanjutkan ke pendidikan dasar.

Namun dalam kesempatan kali ini, saya mau merangkum dulu tentang indikasi seorang anak disarankan melanjutkan ke SD. Nah, apa sajakah itu?


Yang pertama telah cukup usia, dalam hal ini 7 tahun seperti yang dipersyaratkan ideal oleh pemerintah.

Gambar : Eneas's Blog

Mengapa harus 7 tahun? 

Psikolog anak menyatakan karena pada usia 7 tahun, seorang anak dinyatakan siap untuk menerima materi. Begitu pun mereka lebih siap mengembangkan kemampuan intelektualnya, karena pada usia sebelumnya mereka telah memaksimalkan kemampuan kognitif,  psikomotorik dan emosional skillnya. 

Bagaimana jika usia anak masih di bawah 7 tahun tapi kemampuannya sudah memadai?

Menurut pendapat psikolog anak, mungkin si kecil bisa dan mampu. Tapi, perlu perhatian lebih dari orang tua. Khususnya menyangkut kondisi emosional dan kepercayaan dirinya.  Pendapat serupa juga disampaikan dari pendidik anak. Menurut beliau, anak dengan usia di bawah 7 tahun mungkin bisa berkembang dengan baik dari segi kognitif, tapi sering kali bermasalah di afektif dan psikomotorik. 

Selain dari itu dari segi mental mereka juga masih kalah, apalagi jika ditunjang dengan ukuran tubuh yang “mungil” sesuia usianya. Dikhawatirkan karena terlihat masih kecil, mereka akan menjadi korban bullying teman-temannya. Meskipun hal-hal tersebut tidak selalu terjadi pada semua anak, sih.

Pendapat lain juga disampaikan oleh seorang Guru SD senior. Beliau mengatakan  akan lebih mudah mengajar anak 7 tahun yang belum bisa membaca, ketimbang anak usia 6 tahun dan belum bisa membaca juga. Anak-anak usia 7 tahun cenderung lebih cepat menangkap materi, karena kondisi psikologisnya jauh lebih siap.

Tanda kedua, seorang anak terindikasi siap masuk ke SD adalah mudah bangun pagi

Gambar : SatuHarapan.com


Anak-anak yang mudah dibangunkan pada pagi hari, mereka cenderung lebih siap untuk melanjutkan ke SD. Mengapa? Karena mereka sudah lebih terlatih untuk mempersiapkan diri lebih pagi. Salah satu rutinitas yang mulai disipakan orang tua yang anak-anaknya mau ke SD, ya bangun pagi tadi, agar anak nggak kagok nantinya . 

Selain itu, kebiasaan bangun pagi menunjukkan kemauan anak untuk  melatih kedisiplinan dan kemandiriannya. Dua hal yang menjadi modal ketika melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Yang ketiga, dapat memegang pensil dengan benar
Gambar : wikiHow.com


Hal ini tentu saja berkaitan erat dengan kesiapan motorik halusnya ya. Karena anak-anak  yang motorik halusnya belum terangsang dengan optimal, sering kali merasa kesusahan memegang pensil dengan benar. Jangankan menulis, memegang saja mereka masih kaku, belum luwes.

Memastikan anak mampu memegang pensil dengan benar sangat penting dilakukan orang tua. Mengingat anak tidak dapat menghindari aktivitas menulis ketika berada di bangku sekolah dasar. Nah, orang tua juga sebaiknya bijak dalam memberikan tuntutan pada anak. Jangan sampai kita mendorong mereka untuk menulis dengan lancar, apalagi rapi. Tapi lupa menstimulus otot-otot halus pada jari-jari anak.


Yang keempat,  anak telah mengenal dan dapat membedakan huruf dan angka

Gambar : mainan edukatif.com

Psikolog menekankan pada kata mengenal dan membedakan, bukan bisa membaca atau menjumlahkan. Jadi, nggak perlu khawatir kalau anak-anak belum bisa membaca atau berhitung. Karena kemampuan calistung memang seharusnya dilatihkan kepada anak pada usia sekolah dasar. Ketika mereka telah siap mengembangkan kecerdasan intelektualnya.

Sebagian anak memang sudah dapat membaca dan menghitung dengan lancar, tentu saja itu menggembirakan. Tapi perlu diperhatikan untuk menjaga minatnya tidak berujung pada kebosanan. So, sebaiknya kita fokus pada membuat anak bersenang-senang dengan pelajarannya, bukan tertekan terus bosan.

Yang terakhir atau kelima, anak siap secara emosional

Gambar : KRJogja.com

Siap secara emosional lebih ditekankan pada kemandiriannya ya. Misalnya, mampu makan sendiri di sekolah, bisa dan mampu menyiapkan atau membereskan peralatannya, bisa bermain dengan teman-temannya, mampu berkomunikasi dengan guru, bisa menolak atau mengiyakan sebuah ajakan atau perintah.

Intinya anak bisa dan mampu mengatasi permasalahan yang mungkin harus dihadapinya di sekolah. Karena di sekolah dasar, anak sudah tidak ditemani lagi oleh orang tuanya. Mau nggak mau, memang mereka harus dibiasakan untuk menyelesaikan sendiri masalahnya.

Baca juga : Tahapan Anak Belajar Membaca


Hasil Tes Kesiapan Masuk SD Milik Najwa
Jujur, berdasarkan 5 hal di atas, anak saya masih mendapat point kurang untuk kesiapan emosional, atau tanda yang kelima. Setidaknya begitu menurut hasil tes-nya. Meskpiun, berdasarkan pengamatan kami selama ini, mungkin tidak terlalu kurang juga, hanya masih standar. Jadi lumayanlah. Hehehe... namanya juga anak sendiri, dibelain dikit donk. 

Untuk point ke 1 sampai dengan 4, alhamdulillah Najwa dinyatakan siap, bahkan cenderung di atas syarat cukup. Tapi di point kelima, Najwa dinyatakan kurang, salah satunya karena lambat dan kurang aktif saat di kelas. Sangat bertolak belakang dengan pengamatan guru kelas Najwa selama ini.

si Kinestetik yang memiliki kecenderungan Audio


Dalam lembar hasil tes disebutkan Najwa anak yang cukup berani meskipun agak pasif  selama di kelas, lambat dan tenang menyelesaikan semua tugas-tugasnya.

Saya tidak serta-merta menolak hasil pengamatan psikolog, meskipun tidak juga menjudge anak tidak siap secara emosional. Mengapa? Karena saya paham bahwa Najwa cenderung slow to warm, dalam artian cuek, terutama dengan orang baru. Beda dengan guru kelasnya, di mana Najwa selalu aktif dan banyak bertanya.

Mengenai point lambat dalam mengerjakan, hal tersebut memang sudah saya diskusikan dengan guru-gurunya, that’s why bu Guru menyarankan Najwa Home Schooling saja. Menurut bu Guru sih, bukan karena tidak mampu, tapi karena anaknya cenderung santai. 

Saat semua temannya mengerjakan, Najwa memilih mencari "korban" yang bisa diajak ngobrol, entah itu guru atau teman-temannya yang sedang sibuk mengerjakan. Atau malah melamun saja kalau tidak mendapatkan "korbannya". Sedangkan saat teman-temannya sudah hampir selesai, baru dia mulai mengerjakan.

Tapi, saya tetap berusaha obyektif pada Najwa, mengingat usianya memang baru 6 tahun akhir bulan ini. Meskipun psikolog menyarankan dapat melanjutkan ke SD, kami memang harus fokus dengan point kelima, soalan kemampuan emosional tadi.

Oleh sebab itu, kami juga tidak memasang target macam-macam, kecuali rutin melakukan pembiasaan-pembiasaan secara bertahap. Karena menurut kami, hal-hal yang dibiasakan itu yang nantinya lebih penting untuk menunjang kedisiplinan dan kemandiriannya. 

Hem ... meskipun akhirnya mantap mendaftarkan ke SD, sebenarnya kami masih menyimpan kegalauan yang lain. Kali ini berkaitan dengan SD mana nantinya yang akan dipilih. Tapi, cerita yang itu lain kali saja ya. Mungkin setelah kegalauan saya sedikit berkurang, hehehe ...

Have a great journey aja dech, karena jadi ortu amatiran kayak saya ini bener-bener bertualang rasanya, hihihi ... See U ^_^



Custom Post Signature

Custom Post Signature