![]() |
| www.damaraisyah.com |
"Buk, tadi temanku terlambat. Dia bilang dia tahu kalau masuknya jam setengah 10. Tapi Ibunya enggak percaya. Aneh ya, Ibu-ibu kenapa enggak percaya sama anaknya. Padahal anak-anaknya sudah tahu mana yang benar."
Cerita Najwa sepulang sekolah tadi terasa bagai tamparan bagi saya. Bagaimana tidak, saya pun kerap kali tidak langsung percaya pada ucapannya? Tak jarang, saya juga masih sering meragukan kemampuannya. Suka mendiktenya untuk melakukan ini dan itu. Terlalu besar mengambil porsi dalam menyelesaikan masalahnya. Dan banyak hal lagi kesalahan yang saya lakukan dengan dalih khawatir pada anak.
Padahal saya tahu betul, kekhawatiran saya ini terlalu berlebihan, alias lebay. Saya juga paham bahwa cara saya ini bisa menghambat kepercayaan diri mereka. Padahal kepercayaan diri merupakan salah satu modal dasar anak, untuk bisa survive dalam kehidupan ini.





