A Story of Mom, Wife, Daughter and Active Woman

Tahapan Anak Belajar Membaca

|
Bagi kami, lebih penting membentuk ketertarikannya terhadap aktivitas membaca, yang kemudian menjadi salah satu rutinitasnya. Jadi, tidak masalah jika anak belum lancar membaca seperti teman-temannya. Seiring berjalannya waktu, semua anak pasti BISA membaca. Tapi belum tentu semua SUKA membaca.


Hai, semua. November terasa cepet banget ya, tau-tau udah mau ganti bulan aja. Itu artinya BukNaj musti siap-siap mendampingi si Kakak yang mau ada tes di sekolahnya. Hehehe.. kayak anak kelas berapa aja ya, pakek ada tes segala.

Kenyataannya emang ada tes buat anak saya yang baru sekolah di bangku TK. Ya, tes ringan aja sih sebenarnya. Untuk mengetahui tingkat pemahamannya saja. Tapi, kalau saya lihat jadwal tesnya, bisa keder juga ibunya. Jadwalnya lima hari dengan dua sampai tiga materi perharinya. Artinya, ada sekitar 15 materi yang bakalan diuji. Hahahaha.. pucing pala mboknya



Anyway, ngomongin soal anak mbarep saya, si Najwa. Kalau saya perhatikan, dia cenderung tipe pembelajar auditory, jiahhh... kayak ahli psikologi aja ibunya.  Masih menebak-nebak sih, sambil saya amati terus gaya belajarnya. Najwa itu memang cenderung suka bertanya dalam segala hal, suka ngebanyol juga. Beberapa waktu yang lalu, dia demen banget ngelucu al-ala stand up comedy gitu. Lha kalau sekarang, dia lagi suka lawakan ala-ala tukang sulap. Nah, kayak di teorinya auditory learner kan? heheheh..

Trus, kata gurunya juga, di kelas dia hobinya ngobrol terus. Sampai bolak balik dipindah tempat duduk dan teman sebangkunya. Eee.. tetep aja. Bawaan orok kali ya. Kalau belajar, dia cenderung lebih suka mendengarkan, jadi saya yang ngoceh, dia dengerin dengan anteng. Habis itu dia akan terus-terusan tanya ini dan itu.



Najwa, yang menurut saya cenderung Auditory Learner


Nah, balik lagi ke soalan materi tes Najwa. Dari hasil pemantauan saya sih, sejauh ini Najwa cenderung cepat mempelajari hal-hal yang dia dengar. Semisal hafalan do'a, hadist, kosakata bahasa Inggris atau Arab, trus surat-surat pendek. Dia bisa lebih cepet diajarin yang kayak-kayak gitu. 

Sebaliknya, kalau urusan disuruh menyalin tulisan atau mewarnai. Doi bakalan lama trus ogah-ogahan. Kecenderungan itu sudah agak lama sepengamatan saya. Untuk mewarnai sih, udah banyak kemajuan. Kalau dulu nggak tuntas, sekarang hampir selalu tuntas. Tapi menyalin masih ogah-ogahan. Oh iya, just info, Najwa sekolah di TK Islam, jadi materi keagamaan lumayan banyak di sekolah. But, that's fine. She is enjoy it.


Salah satu materi tes, yang cenderung jadi momok bagi orangtua adalah calistung. Sampai-sampai nih, orangtua udah mulai ngursusin anak-anaknya. Katanya sekalian buat persiapan masuk SD juga.

Mak dheg, saya. Lha gimana, wong Najwa juga membacanya masih terbata-bata, masih pelan, mengeja persuku kata. Lucunya lagi kalau pas belajar saya yang disuruh baca, dia cuma dengerin aja.  Nah loh, gimana ntar pas di tes gurunya? Hihihi...

Suatu hari, saya tanya dia, "Kakak, temen-temen pada kursus membaca, Najwa mau kursus apa?" Jawabnya nggak mau kursus apa-apa. Katanya sudah cukup belajar di rumah sama Ayah Ibu saja. Ya akhirnya saya nggak ngelesin, nggak berusaha ngerayu dan santai-santai aja meskipun 6 bulan lagi persiapan SD juga. Ahhhh... Emak pede pokoknya.

Tapi, bukan berarti saya nggak berusaha bikin dia tertarik untuk belajar ya, terutama membaca. Wajib hukumnya bagi saya untuk membuatnya tertarik dalam banyak hal, bukan hanya membaca. Ya, dengan cara mengenalkan lalu menjelaskan, gitu- gitu pokoknya.

Dalam hal ini, saya yang kebetulan lebih sering bersama Najwa, ketimbang Ayahnya. Secara otomatis juga selalu mengamati perkembangannya. Dari mulai nggak pernah mau, even cuman baca huruf A - Z, trus udah mulai tertarik, sampai akhirnya sekarang mengeja tulisan apa saja yang ditemuinya. "SOTO AYAM", "SATE AYAM", "LELE BAKAR", ES JERUK", tulisan apa aja pokoknya dibaca, meskipun masih pelan-pelan.

Usia 2 tahun mulai tertarik sama B - O - B - O


But, perlu digaris bawahi, ya. Ketidak tertarikan Najwa di sini dalam hal kemampuan membaca, bukan dalam hal menyukai buku bacaan. Karena, jauh sebelum saya mengenalkan huruf pun, Najwa sudah suka dibacakan dan menyukai buku bacaan.

Nah, kalau sampai akhirnya saya curhat di  blogpost ini, dan mencari berbagai penjelasan terkait kemampuan membaca anak. Ya mungkin karena saya menyimpan sedikit kekhawatiran mengenai kesiapan Najwa di bangku SD nanti. 

Usia Najwa memang baru 6 tahun 3 bulan, pas bulan Juli nanti belum genap 7 tahun, usia yang dipersyaratkan untuk melanjutkan ke SD. Tapi, kami sebagai orangtuanya pun, belum mempertimbangkan kemungkinan mengulang TK lagi. Mengingat dia sudah hampir 2 tahun di TK dan  kalau memerhatikan faktor psikologis,  anaknya sudah mulai bosan,  ingin segera jadi anak SD katanya.

Kemudian, saya pun menemukan satu bacaan yang menarik dan sedikit melegakan. Sebuah artikel dari website KelurgaKita, mengenai tahapan anak belajar membaca. Sebelumnya, orangtua perlu memahami, bahwa setiap anak memiliki tahapan yang berbeda. Meskipun berada dalam rentang usia yang sama. Satu lagi, kemampuan anak akan maksimal pada setiap tahapannya, hanya jika diberikan fasilitas yang tepat oleh orang terdekatnya. Siapa lagi, ya pastinya orangtua.

Nah, berikut penjelasannya, ya :

1. Preconventional
Pada tahap ini bayi dan anak di bawah usia 2 (dua) tahun terlihat suka memegang, menggigit dan membawa buku, menyentuh gambar, menunjuk objek dan membalik buku dengan bantuan.

2. Early emergent
Anak mulai menunjukkan ketertarikan pada buku dan menyadari bahwa buku memiliki cerita.  Anak juga suka mendengar cerita dan mulai memilih cerita tertentu untuk dibacakan.

3. Emergent literacy
Anak mulai membaca beberapa kata, menulis huruf dan memahami bahwa gambar mempunyai makna. Anak juga mulai menyadari ada hubungan antara bahasa yang diucapkan dan yang dituliskan.

4. Developing literacy
Anak mulai melakukan decoding, yaitu menghubungkan bunyi huruf yang sudah diketahui dengan kata yang tertulis.  Anak juga sudah memahami cerita yang bergambar dan dapat menggabungkan beberapa kata menjadi sebuah kalimat.

5. Independent literacy
Anak mulai tertarik membaca dan mencari informasi. Di tahap ini anak juga mulai merasakan pengalaman baru melalui buku yang dibacanya.

6. Expanding literacy
Anak membaca untuk mendapatkan informasi dan berpikir kritis atas apa yang dibacanya. Anak dapat menganalisa, menimbang dan menilai isi bacaan.

Sumber : KeluargaKita(dot)com


Kalau dilihat dari penjelasan ini sih, sepertinya Najwa sudah masuk di tahap 4, dan bersiap menuju tahap 5. Najwa memang belum lancar membaca, namun sudah mulai mengeja dan menggabungkan beberapa kata menjadi sebuah kalimat. Untuk ketertarikan membaca, dia sudah mulai mengarah ke sana. Ini ditunjukkannya dengan menyukai beberapa buku untuk dibaca sampai tuntas.
 
Untuk memfasilitasi tahap perkembangannya, saya mulai mengeluarkan kembali koleksi buku lama. Yang ternyata masih relevan untuk Najwa, dan cocok untuk adiknya juga. Sebenarnya, akhir-akhir ini kami sudah mulai membeli buku dengan cerita agak panjang. Tapi, demi melancarkan kemampuan membacanya, jenis buku cerita yang lebih menonjolkan gambar, warna dan tulisan besar yang kami gunakan.Kosakaanya pun masih tergolong mudah, seperti "aku" "kamu" "coba" "bisa" "tali" pokoknya masih sederhana, sesuai kemampuannya saja. 

Ternyata, cara ini efektif meningkatkan minat dan kepercayaan diri Najwa. Setelah tamat 1 buku dan berhasil membacakan adiknya, dia mulai tertantang untuk mencari buku-buku yang lain. Dengan kesulitan berbeda. Ahhh... bisa dibayangkan, betapa leganya saya. Jadi benar bahwa tahapan anak memang berbeda-beda. Setelah menuntaskan satu tahapannya, maka anak akan semakin mantap untuk melangkah.


Najwa mampu membaca kalimat sederhana






Sekarang, Najwa mulai bertanya banyak hal, mengenai apa yang dibacanya. Mungkin ini yang dimaksud dalam tahap ke-5, yaitu mulai mencari informasi. Meskipun sejak dulu dia selalu bertanya tenang apa saja yang kami bacakan, kali ini berbeda, karena Najwa sendiri yang membacanya.

Ya, mungkin Najwa belum lancar membaca, tapi kemauannya besar. Nah, bagian itu yang harus saya pupuk dan kembangkan. Enam bulan memang bukan waktu yang lama untuk terus melatihnya, tapi bukan tidak mungkin juga kan? 




Bagi kami sebagai orangtua, bukan hanya seberapa cepat dia bisa membaca. Tapi lebih dari itu, seberapa besar ketertarikannya untuk membaca. Karena, membaca harus menyenangkan dan menjadi suatu kesenangan. Sehingga, prosesnya pun harus menarik dan jauh dari memaksakan.Teman-teman, setuju kan? 












Be First to Post Comment !
Post a Comment

Hallo! Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya. Jika Temans merasa artikel ini bermanfaat, feel free to share and leave a comment ya. ^_^

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9