Satu-satunya alasan yang membuatku rela menembus kemacetan Sudirman di hari
kerja adalah Asian Para Games 2018. Iya, karena niatku sudah bulat untuk
membawa DuoNaj menyaksikan pesta olahraga untuk penyandang difabel ini,
langsung dari arenanya. Toh, kapan lagi Asian Para Games bakal digelar di
Jakarta? 10 atau mungkin masih 20 tahun lagi, kan? Jadi, rasanya aku puas
banget sudah membawa mereka ke Gelora Bung Karno, yang
disusul ke Jakarta International Velodrome 3 hari berikutnya.
Siapapun pasti setuju bahwa Asian Para Games merupakan salah satu event yang
mampu menjadi inspirasi dunia, khususnya bagi kita yang berada di Indonesia.
Menyentil sisi kemanusiaan yang akhir-akhir ini mulai terkikis. Menunjukkan spiritualitas kehidupan yang belakangan cenderung terkotak-kotak.
Secara pribadi, aku mengakui banyak pelajaran hidup yang bisa kuambil dalam
perhelatan selama sepekan ini. Menyaksikan atlet-atlet itu berlaga, rasanya aku
ingin menutup muka. Malu! Karena masalah hidup dan perjuanganku yang
masih tak seberapa.
Bagiku, mereka semua adalah pemenang, bahkan sebelum turun dalam
laga pertandingan. Perjuangan mereka
telah dimulai ketika berani keluar dari stereotip “berbeda”. Ada impian yang
enggak perlu dipertanyakan lagi. Tapi, lebih dari itu, keberanian, kepercayaan
diri dan keyakinan bahwa mereka sama merupakan nilai-nilai yang rasanya perlu
diterapkan bagi siapapun yang mengaku manusia yang masih menyimpan harapan.
Euforia Asian Para Games yang Penuh Kebanggaan
Tak seperti euforia Asian Games yang memaksa setiap sudut Jakarta ikut
merasakan gegap gempitanya. Asian Para Games lebih tenang, tapi bukan berarti
minim peminat. Aku sendiri merasakan jenis kebanggaan yang berbeda. Karena
sekali lagi, bagiku seluruh atlet di Asian Para Games adalah pemenang kehidupan
yang sesungguhnya.
![]() |
| Aquatic Stadium, Gelora Bung Karno. |
Lagi-lagi aku bersyukur karena berkesempatan merasakan secara langsung
euforia-nya. Melalui cabang olahraga para swimming yang digelar di
Aquatic Stadium, GBK. Dan para cycling di Jakarta International Velodrome. Aku
dan DuoNaj mendapatkan pengalaman yang sangat berharga. Pengalaman yang
mengkristal, yang meninggalkan kesan mendalam untuk kami kenang suatu hari
kelak.
Enam lembar tiket kudapatkan untuk hari Selasa dan Jumat, setelah beberapa
kali gagal melakukan reservasi untuk pertandingan di akhir pekan. Sempat ragu-ragu untuk berangkat, karena itu
artinya Najwa harus izin untuk dua kali pertemuan di sekolah. Tapi, lekas-lekas
keraguan itu kutepis, mengingat betapa memorable pengalaman ini untuknya.
Berbeda denganku yang berulang kali harus menyembunyikan air mata sebagai ungkapan kebanggaan, dengan polosnya Najwa dan Najib terus memuji kehebatan mereka. “Atletnya hebat, ya Buk? Mereka nggak punya tangan tapi bisa jadi juara satu!” begitu celetuk Najwa ketika atlet peraih medali emas menuju podium untuk Para Swimming Winner Ceremony.
Hal serupa terjadi saat lagu Indonesia raya berkumandang di Jakarta
International Velodrome pada hari Jumatnya. Berulang kali Najwa memprotes aku
yang terus mengusap air mata. “Kan Indonesia menang, kok ibuk malah sedih?” tanpa ragu-ragu mulut kecilnya terus memprotesku.
![]() |
| Akhirnya kesampaian juga foto sama replika MoMo. |
Aku berusaha menjelaskan bahwa tangisan ini karena haru dan bangga. Tapi tetap saja jawabanku tak cukup memuaskan Najwa. Baginya, bahagia itu harus ditunjukkan dengan teriakan dan dukungan. Bukannya bolak-balik menangis gak jelas, hehehe. Ya, namanya juga anak-anak, mereka masih terlalu polos untuk memahami reaksi orang dewasa.
Tapi, setelah kupikir-kupikir, justru reaksiku yang sedikit berlebihan. Dalam
sebuah pertandingan, apapun kondisi kita yang dibutuhkan adalah dukungan, bukan
air mata. Persis seperti dukungan yang diberikan Najwa bersama puluhan anak
lainnya saat setiap atlet turun ke arena.
Kesan Najwa setelah Menonton Langsung Asian Para Games 2018
Hari ini, Asian para Games memang sudah berlalu. Tapi, bukan pengalaman yang
mengkristal namanya, jika tak mampu meninggalkan “sesuatu” bagi siapapun yang
bersinggungan dengannya.
Buat aku sendiri --- orang dewasa--- Asian Para Games adalah wujud nyata
bagaimana kemauan dan usaha dapat mengalahkan segala rintangan. Sangat
inspiratif, mengingat kita sendiri yang memiliki kesempurnaan fisik masih
sering merasa enggak mampu. Masih suka mengeluh Tuhan enggak adil. Masih suka
meminta dimudahkan dalam segala hal. Bahkan tak jarang mengambil jalan pintas
untuk mempermudah segalanya.
Tapi, lain halnya ketika aku mengajak Najwa bercerita tentang kesan-kesannya
selama menonton Asian Para Games. Karena jawabannya sangat lugu. Polos, khas
anak-anak. Beberapa di antaranya aku ceritakan di sini, ya.
1. “Ternyata, kita itu sama saja, ya!”
Ya, berulang kali Najwa bilang, kita itu sama saja. Dia bisa berenang dengan kedua tangan dan kakinya. Atlet-atlet difabel juga bisa, bahkan menjadi juara meskipun tanpa salah satu atau kedua tangannya.
Menurut Najwa itu artinya kita sama saja. Jadi nggak perlu sedih, kasihan
atau terharu seperti yang ibunya lakukan. Hm… to the point banget, really- really ngeplak
ibunya.
![]() | ||
| Para Swimming Winning Ceremony. Gold Medals diraih atlet dari Kazakhstan. Ia berenang dengan mengandalkan kekuatan kaki karena tak ada lengan sebagai bagian anggota tubuhnya. |
2. “Pengin jadi apapun, kalau nggak latihan, ya nggak bisa!”
Ucapan Najwa yang ini kembali menyindir saya. Ya, karena sampai hari ini aku kepengin banget bisa berenang tapi nggak pernah latihan. Ya, karena sampai hari ini aku masih suka gelagepan kalau kelelep sedikit saja.
Intinya, pengin bisa apapun harus latihan. Bagaimana pun kondisi fisik kita, tanpa berlatih nggak mungkin akan memiliki keahlian.
3. “Nggak apa-apa kulitku hitam. Aku bersyukur tubuhku lengkap!”
Duh, melting aku mendengarnya. Aku jadi sedikit guilty feeling sebab pernah
melarangnya terlalu lama berenang karena khawatir kulitnya semakin gelap.
Padahal, kulit hitam hanyalah warna. Apalagi warna kulit anak-anak masih bisa
berubah seiring pertumbuhannya. Yang lebih penting dan patut disyukuri adalah
lahir dengan kondisi lengkap tak kurang suatu apapun. Soal warna kulit, bentuk
hidung dan wajah, semuanya hanya bonus saja.
![]() |
| Atlet Para Cycling peraih bronze medals dari Jepang. Mengayuh sepeda hanya dengan kaki kanan, tapi kecepatannya jangan ditanya lagi. Kuenceng banget! |
4. “Jatuh itu nggak apa-apa. Yang penting harus bangun lagi!"
Kebetulan salah satu atlet para cycling dari India memang terjatuh di awal
pertandingan. Aku nggak tahu pasti apa penyebabnya. Tapi sepertinya memang
sepedanya yang bermasalah. Kami sempat menjerit ketika sepeda dan pengemudinya
tergelincir di arena. Tapi tak lama kemudian, dia langsung berdiri kemudian menuntun
sepedanya.
Awalnya si atlet terlihat kesusahan untuk berdiri kemudian menuntun
sepedanya di permukaan miring. Tapi akhirnya berhasil menepi hingga official
memberikan bantuan.
Insiden jatuh lainnya dialami Saori, atlet para cycling Indonesia. Pada detik-detik kemenangan, Saori justru jatuh dan pertandingan langsung dimenangkan oleh atlet dari Filipina. Tapi untungnya Saori masih menempati nomor 2, yang artinya medali perak dipersembahkan dari Indonesia.
Insiden jatuh lainnya dialami Saori, atlet para cycling Indonesia. Pada detik-detik kemenangan, Saori justru jatuh dan pertandingan langsung dimenangkan oleh atlet dari Filipina. Tapi untungnya Saori masih menempati nomor 2, yang artinya medali perak dipersembahkan dari Indonesia.
Berkali-kali Najwa menceritakan dua kejadian ini pada ayahnya yang kebetulan
nggak ada di arena. Berkali-kali pula ia mengingatkan Najib, aku, juga ayahnya, “Jatuh itu nggak pa pa. Yang
penting arus bangun lagi!"
Baiklah, Naj. buk nggak bisa nggak sepakat sama kamu.
| Saori, atlet Indonesia yang jatuh pada detik-detik kemenangan. tapi kemudian meraih silver medals. |
5. “Nangis itu karena sedih. Kalau bahagia, ya tertawa!”
Anak ini, ya, hobi banget nyindir ibunya yang bolak-balik nangis tapi
ngakunya nggak sedih. Ya, namanya juga anak-anak. Mereka juga pasti belum
paham, bahwa terkadang menangis
merupakan reaksi untuk meluapkan rasa bangga. Tapi, bukankah
banyak dari kita --- orang dewasa--- yang memilih tertawa saat kepedihan
menimpa yang lainnya? Semoga saja kita bukan salah satu di antaranya.
Rasanya lucu juga mendengar celoteh Najwa. Maksud hati mengajaknya menonton
supaya dia belajar melihat kenyataan hidup. Ee… nyatanya, justru aku sebagai
orangtuanya yang harus belajar banyak. Itulah mengapa aku yakin momen ini bisa
menjadi pengalaman yang mengkristal untuk kami sekeluarga.
Bukan hanya tentang orangtua yang ingin memaparkan anak-anaknya pada
kenyataan hidup yang nggak selalu baik-baik saja. Tapi juga tentang orangtua
yang perlu terus diasah sisi humanis dan spiritualnya.
Ah, rasanya Asian Para Games terlalu singkat. Kami pun sebenarnya belum puas dan ingin menonton pertandingan lainnya. Tapi, ya sudahlah, kami cukup bersyukur karena masih sempat. Dan semoga kami mendapatkan kesempatan kedua untuk menyaksikan event inspiratif berkelas dunia ini.
![]() |
| Dekorasi Jakarta International Velodrome yang sangat eye catching. |
Ah, rasanya Asian Para Games terlalu singkat. Kami pun sebenarnya belum puas dan ingin menonton pertandingan lainnya. Tapi, ya sudahlah, kami cukup bersyukur karena masih sempat. Dan semoga kami mendapatkan kesempatan kedua untuk menyaksikan event inspiratif berkelas dunia ini.













































Wah wah Najwa makin keren dan kritis ya. Pasti niru ibuke hahaha. Anak-anak emang selalu polos ya mba. Nek bahagia ki yo ketawa! Camkan itu, Buk! Hahahaha good job, Nduk
ReplyDeleteAku .... Speechless... sungguh luar biasa mereka, tetap optimis dalam ketidaksempurnaan, dan mampu melihat dunia begitu luas dan indah 🌷.
ReplyDeleteAku enggak nulis pengalaman nonton karena tiap mau nulis dah mbrebes inget anak pertamaku yang lahirnya cacat juga..
ReplyDeleteTapi apapun sudah mengajak anak-anak menonton Asian Para Games menurutku memang pilihan tepat untuk menanamkan banyak nilai moral yang ada langsung di depan mata.
Duh, malu memang membandingkan semangat kita yang lengkap enggak kurang satu apa dengan mereka. Semangat mereka Juwaraaa
Wah, keren banget ya anaknya. Duuh ini hikmah diajak nonton langsung ya. Jadi banyak pelajaran yang bisa diambil. Good job, mom
ReplyDeleteMbak, aku baca ini aja dah berkaca-kaca. Hiks. Walopun cuma ngikuti sedikit live pertandingan pas para games kemarin, tapi tetep salut buat mrk semua. Keren nih Kak Najwa, bisa ngambil banyak pelajaran dr apa yg dialaminya. Sip, ini namanya bukan family time biasa :)
ReplyDeleteAku tuh engga tega nontonnya. Jadi baca pengalaman teman² aja dari FB maupun blog.
ReplyDeleteAkibatnya saya dikit² nonton. Bahkan nonton pembukaan pas siaran ulangan sebelum Closing Ceremony dong...
Saya sangat salut pada mereka, tp.ga kuat bula.harus menontonnya. Bisa nangis bombay di tempat..
ReplyDeleteKalian adalah malaikat yg diturunkan ke bumi untuk mengingatkan manusia yg sering sombong & khilaf
Najwa pinter banget sich, ngegemesin😅btw banyak yang bisa dipelajari dari para atlet ga gampang nyerah.
ReplyDeleteNajwa pinter banget sich, ngegemesin😅btw banyak yang bisa dipelajari dari para atlet ga gampang nyerah.
ReplyDeleteNajwa keren sekali nak, ummi Siak banget deh sama komentar yang spontan tapi bikin hati meleleh. Anak-anak memang penuh kejutan ya.
ReplyDeleteUmmi suka kenapa jadi Siak huhuhu maaf yaaa
ReplyDeleteNajwa keren sekali nak, ummi Suka banget deh sama komentar yang spontan tapi bikin hati meleleh. Anak-anak memang penuh kejutan ya.
ReplyDeleteMashaAllah mba Najwa, selain Ibuk ada pembaca blog ini yang terharu sama setiap kesanmu Nak. Iya yaya item gak papa, yang penting latian meski panas. Kita sama saja. Ah mungkin aku juga kayak mba Damar yang sering usap air mata kalo liat langsung. Beruntungnya duo Naj bisa belajar bareng Ibuk dan Ibuk Damar tuliskan disini :)
ReplyDeleteBanyak banget yg bikin aku jleb mbaaa... keren si kakak Najwa
ReplyDeleteWah pasti ada haru ya kalau bisa nonton langsung begitu. Aku nonton begitu suka sampai berkaca-kaca atau nangis saking harunya. Sayangnya kemarin belum berksempatan nonton langsung hiks. DuoNaj hebat udah bisa mngambil pesan dari acara tersebut 👍
ReplyDeleteAsian para games memang membawa pesan yang sangat berharga, mereka saja bisa berpresatasi, nah kita udah bisa apa ya,makasih mbak Damar keren banget sharingnya, salam buat duo Nj yang kecee...
ReplyDelete