Parenting Story, Mom's Life, Tips

Showing posts with label #DJATI. Show all posts
Showing posts with label #DJATI. Show all posts

Tantangan Parenting dengan Threenager

|

 
Parenting dengan threenager
www.damaraisyah.com



Drama threenager belum juga berhenti. Setelah usianya lewat 3 tahun 6 bulan, gaya khas bocah threenager semakin melekat dalam diri Najib. Baik caranya berucap maupun bertingkah, khas remaja 13 tahun yang bikin gemas sekaligus jengkiel orangtuanya.

Padahal Najib sudah lebih awal mengalami masa-masa ini. Seingat saya, sebelum ulang tahun yang ketiga Najib sudah menunjukkan tanda-tanda threenager. Selain agak susah diatur, kalau punya kemauan juga penginnya selalu dituruti. Belum lagi gaya ngomongnya yang udah kayak remaja. Dinasihati pun, dia suka membantah dan mengajak beradu argumen. Huff, kalau sudah begitu, BukNaj penginnya makan bakso kuah pedas sama es teh segelas,donk. Hahaha

Pameran Lukisan Istana Kepresidenan di Galeri Nasional - “Senandung Ibu Pertiwi”

|


Mengunjungi Galeri Nasional bisa dibilang “langka” bagi kami yang tidak terlalu berdarah seni. Tapi event kali ini terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja. Kapan lagi bisa nonton koleksi lukisan Istana Kepresidenan? Mumpung sedang ada pamerannya, kami pun mengajak anak-anak ke sana.  Itung-itung refreshing, enaknya lagi gratis dan seperti biasa, selalu ada pengalaman yang ingin kami tinggalkan pada anak-anak. Dengan harapan salah satu pengalaman itu menjadi bekal bagi mereka menemukan passion-nya.



Kami pergi pada Sabtu pagi menjelang siang. Dari rumah yang berlokasi sangat strategis ( dekat stasiun KRL), kami pun naik kereta menuju Stasiun Gondangdia, kemudian disambung naik bajaj menuju Galeri Nasional yang terletak berseberangan dengan Stasiun Gambir. Berdesakan sebentar di dalam KRL bukanlah hal yang baru bagi kami, karena alat transportasi ini sudah menjadi andalan kami setiap mbolang mengitari Jakarta dan sekitarnya. Murah, nyaman dan cepat.





Sesampainya di Galeri Nasional, kami menuju ke Galnas Cafe untuk sarapan yang sedikit terlambat. Kami pikir, pengunjung bisa masuk kapan saja. Tapi ternyata kami salah. Sebelum registrasi, pengunjung harus mengambil nomor antrian registrasi dulu. Jadilah kami yang sarapan dulu sampai sekitar pukul 11.30, harus mendapatkan nomor antrian 157. Walah,tahu gitu antri dulu baru makan. Pelajaran berharga: tanya dulu baru urus itu perut, hehehe …




Panitia menyediakan ruang menunggu yang lumayan nyaman. Bersih, dingin dan luas dengan beberapa kursi di bagian pinggir-pinggir ruangan. Tapi dasar momong bocah, kami pun lebih nyaman lesehan di bawah. Satu jam menunggu jadi tak terasa bersama tingkah polah bocil yang tak pernah habis energinya. Nah, kesempatan ini pun kami gunakan untuk menjelaskan pada Najwa mengenai pameran seperti apa yang akan kami tonton. Buat Najwa, satu point yang paling jelas. “Jadi, kita mau nonton lukisan yang dipasang di rumah Pak Jokowi, kan?” Hehehe … Pak Jokowi memang sangat melekat di ingatan anak-anak.



Tiba giliran kami dipanggil ke ruang registrasi. Setelah mendapatkan ID card, menitipkan tas, jaket, topi dan kamera. Maka kami pun segera melakukan tour di dalam hall utama Galeri Nasional. 


Pameran kali ini menampilkan 48 lukisan dari 41 pelukis yang membuat karyanya pada abad 19 hingga abad 20. Selain itu, pengunjung juga dimanjakan dengan dokumentasi yang terkait materi pameran dan upaya pemerintah melakukan pemeliharaan terhadap koleksi istana. Ada juga satu karya yang ditampilkan melalui LED di bagian paling depan setelah pengunjung memasuki hall untuk security check. Lukisan ini karya Makovsky, salah satu yang dikonservasi pada tahun 2004.




48 lukisan koleksi Istana Kepresidenan ini masih dibagi menjadi beberapa sub tema, yaitu Dari yaitu keragaman alam (12 lukisan), dinamika keseharian (11 lukisan), Tradisi dan Identitas (15 lukisan). Beberapa lukisan karya pelukis Basoeki Abdullah memang spaling mencuri perhatian. Sedikit berbau mistis, tapi terlihat begitu “hidup”.









Selain pameran lukisan, Galeri Nasional mengagendakan sejumlah kegiatan, yaitu workshop melukis bersama Komunitas Difabel, pada 10 Agustus 2017. Diskusi pakar dengan topik Menjaga Ibu Pertiwi, pada 19 Agustus 2017. Kemudian  ada juga lomba lukis kolektif tingkat nasional, pada 26 Agustus 2017. Dan ditutup dengan workshop menjadi apresiator se-Jabodetabek pada 29 Agustus 2017. Semuanya masih dalam satu kesatuan acara Pameran Lukisan Koleksi istana Kepresidenan, “Senandung Ibu Pertiwi”, yang akan digelar hingga tanggal 30 Agustus 2017 nanti.


Buat kami sekeluarga acara ini sangat edukatif. Meskipun tak mampu lebih dalam menjamah nilai artistik dari karya seni yang ditampilan. Tapi kami dapat menjelaskan beberapa hal terkait tema-tema yang ada dalam lukisan. Pun, Najwa jadi tahu, bahwa pelukis atau seniman lukis merupakan salah satu profesi. Yang pastinya hanya bisa dikerjakan jika kita memiliki passion yang tinggi, di samping bakat yang mendukungnya.


Setelah lebih dari satu jam mengelilingi Koleksi Lukisan Istana Kepresidenan, kami pun beranjak keluar. Selanjutnya kami pun menghabiskan waktu menunggu sore tiba dengan mengunjungi Pameran Seni Tunggal “Budi Ubrux” di Gedung B, ber-swa foto di beberapa spot instagramable, sholat Dzuhur baru kemudian kembali menuju Stasiun Gondangdia.








Oh ya, jika Temans berniat datang ke acara serupa, masih ada waktu, loh. Nah, biar nggak kelamaan antri coba deh registrasi by online. Temans bisa klik di sini. Yuk, kapan lagi bisa melihat koleksi lukisan di Istana Kepresidenan.




 -DNA- 


#ODOP
#day12
#bloggermuslimahindonesia




Not A Breastfeeding Father, But He is The Best Father

|



Setiap calon ibu pasti mengharapkan seorang suami penjaga, ayah siaga bagi diri dan calon bayi yang dikandungnya. Yang siap mendampingi si ibu dan janin dalam rahimnya. Menjadi supporter ketika melalui masa-masa berat di trimester pertama. Tertawa bersama ketika kondisi kehamilan mulai membaik pada trimester kedua. Dan kemudian siaga saat berbagai hal bisa terjadi pada saat usia kandungan mencapai trimester ketiga.
 
Dulu, sebagai calon ibu baru. Saya pun pernah memimpikan hal tersebut terjadi pada kehamilan yang pertama. Terlebih kami berdua adalah "pasangan koboi", yang hanya bertemu 3 kali hingga sampai di meja akad nikah. Rasanya masih pengen “pacaran”. Bulan madu layaknya muda-mudi yang sedang dibuai asmara sebagai pasangan halal.


Tapi takdir berkata lain, karena Allah langsung memberikan rezeki kehamilan setelah satu bulan usia pernikahan. Trimester pertama saya lalui dengan sangat berat. Mual dan  muntah hampir setiap hari hingga akhir bulan ketiga. Sendiri, karena saat itu kami adalah pasangan jauh-jauhan, LDR maksud saya.


Kondisi ini semakin memburuk ketika saya meratapi realita yang tak seindah ekspektasi di awal. Berharap suami  siaga, apa daya hampir setiap bulan saya harus periksa sendiri ke dokter kandungan. Jadwal periksa yang sering kali tidak sesuai dengan jadwal pulang suami, mau tak mau membuat saya merasa tak perlu menunggu. Saya  harus maklum, karena tekanan pekerjaan yang memaksa situasi ini terjadi.


Happiness is the key


Memasuki trimester kedua, kondisi kehamilan mulai membaik. Saya pun mulai menikmati setiap perubahan dalam diri. Sedikit demi sedikit saya tinggalkan ekspektasi yang terlalu ideal, dan mulai bersahabat dengan kenyataan.


Saya sibukkan diri dengan pekerjaan di kantor pada hari-hari biasa. Dan bermain dengan keponakan saat akhir pekan tiba. Dan jadwal ini bisa saja berubah sewaktu-waktu ketika suami pulang dari perantauan.


Perasaan bahagia sangat membantu pemulihan kondisi saya. Pertumbuhan janin pun semakin menggembirakan. Kehidupan kembali berjalan normal dan saya semakin bahagia dengan kehamilan ini, meskipun tanpa suami siaga.

Hamil pertama


Hingga sampai di trimester ketiga, saya putuskan mengambil cuti 15 hari sebelum Hari H. Sengaja mengambil cuti lebih awal karena mempertimbangkan bobot kehamilan saya yang terus membengkak, bahkan hampir overweight dan preklampsia.


Kondisi psikis mulai tidak stabil setelah melewati hari H, namun si jabang bayi tak menunjukkan reaksi ingin dilahirkan. Saya terus berdoa semoga dapat melahirkan di hari Sabtu,  sehingga suami dapat mendampingi di rumah. Tapi kembali  Allah memberikan cerita berbeda, karena pada hari Senin setelah Sabtu dan Minggu suami stand by di rumah, kontraksi persalinan justru baru saya rasakan pada hari Seninya.


Sensasi Melahirkan Tanpa Suami Siaga

Setelah melalui berbagai pertimbangan medis, kondisi fisik dan psikis saya dinyatakan tak mampu menunggu lebih lama untuk persalinan normal. Operasi caesar pun dilakukan, tanpa pendampingan suami. Semuanya begitu cepat, hingga satu jam kemudian bayi cantik buah cinta kami menangis memecah malam. Saya bahagia, begitupun suami yang pada pagi harinya baru menginjakkan kaki di ibukota, kini kembali berada di dalam kereta menuju kampung halaman.


Drama dimulai kembali saat hendak menyusui, ASI tak kunjung keluar dan kepercayaan diri pun menurun tajam. Suami saya memang tidak memaksa saya untuk memberikan ASIX, namun dia memberi semangat meskipun tak terlihat agresif. Mungkin dia khawatir saya semakin kalut ketika terus-terusan didorong, maka dia terus bersikap santai sambil berkata, “Yakin semua akan baik-baik saja, kalau sekarang ASI belum keluar, nanti juga pasti bisa. Kalau sekarang belum bisa full ASI, jangan memaksakan diri sehingga semakin frustasi. Yakin semua baik-baik saja, karena kita sudah mengusahakan yang terbaik.” 


Saya sempat merasa keberatan, mengapa suami cenderung tidak mendukung ASIX dengan terlihat tidak semangat mendukung saya. Namun kemudian saya menyadari, apapun itu memang agak sulit baginya untuk memenuhi kriteria ayah siaga selayaknya ayah pada umumnya. 

Hari ke-6 pasca persalinan suami saya kembali ke Jakarta. Kembali bergelut dengan rutinitas dan tingginya tekanan kerja. Dengan kondisi kami yang LDR, saya pun memaklumi mengapa dia tak terlalu idealis menjadi breastfeeding father. But, soon I realize that he is the best father.



Ayah Sekaligus Teman bagi Anak-anak





Suami memang tidak sepenuhnya mengambil peran dalam pengasuhan.  Selain karena faktor LDR pada saat kelahiran anak pertama, kesibukan dan tingginya mobilitas pekerjaan semakin kami rasakan  hingga kami berkumpul di Jakarta dan lahirlah anak kedua.


Sering kali kami harus berpisah berhari-hari karena tugas ke luar kota atau bahkan dikejar deadline. Tapi dia pastikan dirinya ”ada” saat kami butuhkan. Anak-anak pun tak pernah merasa kekurangan perhatian atau kasih sayang dari ayahnya.


Dia hadir tidak hanya sebagai ayah, tapi sebagai teman, suami mampu masuk dalam dunia anak-anak. Tak jarang anak-anak mengganjarnya dengan pujian, tentu saja karena mereka tahu dan mampu merasakan bahwa ayahnya adalah ayah terbaik bagi mereka.



Keterbatasan kuantitas pertemuan baik dulu maupun sekarang, sama sekali tak mengurangi kualitas hubungan dengan anak-anak. Sebagai ibu, saya pun merasakan  suami selalu “ada” dan mewarnai hari-hari mereka.


Tak memenuhi definisi breastfeeding father, tapi suami  membuktikan menjadi best father for his kids.  Tentu saja hal ini sempat bertentangan dengan idealisme saya sebagai ibu baru. Yang ingin semuanya berjalan sesuai ekspektasi saya, sempurna. Memiliki suami siaga dan breastfeeding father untuk anak-anak.




Tapi realita tak dapat ditolak. Ada banyak hal kemudian yang menjadi kendala atau lebih tepatnya konsekuensi dalam perjalanan rumah tangga kami. Memaklumi satu sama lain menjadi kunci, hingga akhirnya tak berkuranglah kualitas hubungan orang tua dan anak, begitu pun suami dan istri.  Thank you, dear Hubby. You did a brilliant job!💓💓 

Terkadang, ibu menyusui tak dapat menolak adanya halangan memberikan ASIX. Tapi menyerah bukanlah keputusan terakhir. Terus mencoba dan terus berikan setitik ASI yang kita miliki. Yakinlah, anak-anak pun dapat merasakan usaha kita.

Begitu pun halnya dengan menjadi breastfeeding father. Tidak berhasil pada satu fase sebagai ayah, bukan berarti tak dapat mengusahakan sebagai yang terbaik untuk anak-anak.
Keep spirit for breastfeeding!

#ODOP
#day7
#bloggermuslimahindonesia

D.I.Y. - Membuat Mainan Anak dari Bahan Bekas di Rumah

|


"Bermain adalah dunianya, tempat bermain menjadi istananya, sedangkan anak-anak ibarat raja dan ratu penguasanya." 


“Ibuk, astonot ntu apa? Adik au adi astonot!” (“Ibuk, Astronot itu apa? Adik mau jadi astronot!”). Belasan kali kalimat itu terucap dari mulut kecil Najib. Hingga saya mulai kewalahan menjelaskan tentang astronot dan berbagai hal yang ada di ruang angkasa. Tentu saja perasaan kewalahan ini  muncul, karena untuk menjelaskan hal serumit ini kepada seorang batita memerlukan trik dan kalimat sederhana agar mudah dipahaminya.


Belum lagi kalau penjelasan itu tidak sesuai dengan imajinasi kakak Najwa yang sudah lebih tahu tentang hal-hal yang berkaitan dengan tata surya kita. Bukan cuma dikomplain, berulang kali saya harus menerima interupsi di tengah keasyikan mengobrol bersama sang bujang.


Hampir dua bulan sejak Najwa dan Najib semakin excited dengan segala hal yang berkaitan dengan ruang angkasa. Semua itu bermula sejak saya dan suami mengajak mereka berkunjung ke Sky World. Salah satu wahana di TMII Jakarta yang menyajikan segala hal yang berkaitan dengan kehidupan ruang angkasa, serta berbagai fenomena yang terjadi di alam.

 DuoNaj goes to Sky World, TMII, Jakarta.


DuoNaj goes to Sky World, TMII, Jakarta.






Semenjak hari itu, rasa ingin tahu mereka tentang planet, bulan, matahari dan tentu saja astronot semakin membuncah. Walaupun sebenarnya cerita-cerita tentang kehidupan ruang angkasa sudah lebih dulu saya perkenalkan melalui majalah Bobo yang selama 2 tahun terakhir ini menjadi salah satu koleksi bahan bacaan di rumah.


Seolah khawatir kehabisan ide berdiskusi dengan DuoNaj yang semakin bergairah dengan rasa ingin tahunya. Saya pun meminjam satu buku berjudul “Drama Ruang Angkasa” dari keponakan saya yang kebetulan memiliki kesenangan serupa. 


Buku Seri Penjelajah Ruang Angkasa ini tidak hanya membantu saya mendapatkan ide untuk bercerita, berdiskusi bahkan bermain dengan kedua bocah kinestetik di rumah. Tapi buku ini semakin melambungkan daya imajinasi mereka dengan segala hal yang ada di dalamnya. 


Begitulah awalnya hingga pertanyaan-pertanyaan baru seperti, “Bagaimana kalau astronot kebelet pipis di ruang angkasa?”  “Apakah Alien itu benar-benar ada?” “Bagaimana kalau kita dipindah ke planet Mars?” Bahkan pertanyaan tentang apa yang terjadi jika pesawat ulang alik tidak bisa kembali ke bumi, meluncur dengan lancar dari mulut kecil DuoNaj..


Rentetan pertanyaan seperti itu memang lebih sering muncul dari rasa penasaran Najwa yang kemudian diikuti adiknya. Najwa memang sudah lebih banyak menyerap informasi mengenai segala hal yang kami baca atau ceritakan di setiap ada kesempatan. Tapi, jangan salah. Adik Najib yang baru berusia 2,5 tahun pun tak mau ketinggalan dengan dunia imajinasinya sendiri sebagai seorang astronot. Hingga akhirnya, kami harus mencari berbagai video yang berkaitan dengan misi pengiriman pesawat ulang alik ke bulan. Lengkap dengan penampakan para astronot dengan baju khusus dan perlengkapannya.


Seketika itu, kami sebagai orang tua harus belajar banyak hal untuk memuaskan rasa ingin tahu anak-anak.  Tidak hanya menggunakan media video atau membaca buku cerita, kami pun mulai bermain peran dengan mereka. Bermain role play dengan memeragakan kehidupan di ruang angkasa tak luput membuat saya mengambil salah satu peran. Ya, tentu saja peran sebagai alien yang saya dapatkan. Karena anak-anak sudah memutuskan ingin menjadi astronot yang mereka anggap hebat.


Tak disangka, melalui permainan role play ketertarikan anak-anak terhadap suatu hal semakin mendalam. Misalnya ketika saya mendemonstrasikan bagaimana seorang astronot berjalan. Si Najwa malah bertanya, “Apakah baju astronot itu berat?”


Hal ini dikarenakan saya mendemonstrasikan cara berjalan astronot dengan sangat pelan dan berhati-hati. Sehingga anak-anak menyimpulkan baju astronot itu sangat berat. Haha … Kenyataannya memang benar, bahwa baju astronot itu berat.  Begitu setidaknya yang saya baca dalam salah satu sumber bacaan.


Belum puas dengan permainan role play yang menggambarkan kondisi seorang astronot dalam misi ruang angkasa. Adik malah merengek minta dibelikan helm dan tas ransel astronot. Hem ... mungkin perlengkapan yang ada dipunggung astronot yang dimaksudkannya. Berulang kali dia meminta, sampai-sampai menelepon ayahnya hanya karena menyampaikan keinginan serupa.


Waduh! Yang ini sempat membuat saya uring-uringan, karena Najib agak susah dialihkan kalau sudah memiliki keinginan. Dia terus bilang mau jadi astronot dan terbang ke bulan. Minta baju dan juga helmnya. “ Ya Allah, Dik. Mana ada juga yang jualan bau astronot. Kalaupun ada juga pasti harganya mihil. Duh ... Sayang bingit", begitu gumam mak irit dalam hati.

Karena tidak tahan dengan rengekan Najib yang berlangsung selama berhari-hari, saya pun berpikir untuk mencari tutorial D.I.Y. perlengkapan astronot untuk anak. Ahai! Saya pun gembira bukan kepalang saat  menemukan satu tutorial yang lumayan mudah untuk kami praktikkan. Terlebih bahan-bahannya pun murah karena hanya menggunakan barang bekas yang ada di rumah.


Saya tak mau melewatkan kesempatan mengajak Najwa dalam proyek pembuatan perlengkapan astronot adiknya. Untuk itu, saya memintanya membantu menyiapkan beberapa bahan dan mengerjakan bersama. Saya pikir, proyek ini bukan hanya menyenangkan untuk adik. Tapi bagi kakak, keterlibatannya dalam membuat permainan dari bahan bekas dapat menjadi stimulasi untuk memantik daya kreasi dan imajinasinya. Dan tentu saja memberikan kebanggaan tersendiri atas hasil karyanya.


Nah, teman-teman di rumah bisa ikuti step by step berikut jika ingin membuat mainan serupa. Tapi jangan lupa siapkan terlebih dahulu seluruh bahannnya.


Step by step membuat mainan perlengkapan astronot



Alat dan Bahan



1. Helm kecil milik anak. Boleh helm untuk berkendara motor, atau helm sepeda.
2. 2 buah botol bekas minuman ringan.
3. Kardus bekas susu atau sereal
4. Kertas warna putih. (saya memakai kertas HVS bekas nge-print)
5. isolasi bening.
6. Kertas krep atau kertas pewarna merah.
7. Tali rafia secukupnya.
8. Gunting kertas.


Cara membuat

  1.  Bungkus helm anak dengan kertas warna putih. 
  2. Bungkus setiap botol bekas dengan kertas warna putih.
  3.  Bungkus kardus susu/ sereal dengan kertas warna putih. 
  4. Rekatkan 2 botol bekas minuman ringan yang telah dibebat kertas warna silver  dengan dobel tape atau isolasi bening biasa pada kedua sisi kardus susu.
  5.  Pasang kertas krep atau kertas pewarna merah sebagai ornament api. 
  6. Pasang tali rafia di bagian kardus bekas yang menempel di punggung dengan isolasi. Fungsi rafia sebagai tali untuk menggendong mainan di punggung anak. 
  7. Foila! Si kecil pun siap menjadi astronot kebanggan orang tua.





Kami cukup puas dengan hasil akhirnya. Terlebih, karena Najwa mengambil peran dominan dalam proyek membuat mainan untuk adiknya. Secara tidak langsung pengalaman ini meninggalkan banyak kesan baginya. Nah, berikut adalah beberapa manfaat melibatkan anak dalam proyek-proyek sederhana bersama orang tua:


Manfaat Melibatkan Anak dalam Project Orang Tua


1. Meningkatkan kepercayaan dirinya.

Anak akan merasa mampu dan diperhitungkan keberadaannya dalam pekerjaan orang tua. Serta meningkatkan kepercayaan dirinya atas keterampilan yang dimilikinya.


2. Mengasah kreativitas.

Membuat permainan atau apapun jenis kerajinan yang diajarkan pada anak secara tidak langsung mengasah kreatifitas mereka untuk mengeluarkan ide yang ada di kepalanya.


3. Mengembangkan imajinasi dan kemampuan berpikir.

Membuat suatu proyek atau kerajinan yang berawal dari suatu hal yang hanya mereka lihat dalam bahan bacaan, tanpa pernah menyentuh atau melihatnya secara langsung. Mau tak mau akan mengembangkan imajinasi anak terhadap benda-benda tersebut. Cara ini dapat mengoptimalkan kemampuan berpikir anak mengenai suatu hal dan permasalahan yang harus dihadapi dalam proses pengerjaannya.


4. Menumbuhkan kebanggaan pada diri anak.

Menumbuhkan kebanggan diri pada anak tidak melulu dengan prestasi akademis atau menjadi juara dalam perlombaan. Membuatnya merasa mampu melakukan suatu hal untuk orang lain hanyalah satu dari sekian banyak cara yang dapat digunakan orang tua sebagai perantara menumbuhkan kebanggaan pada diri anak.


5. Memberikan pengalaman yang mengkristal pada diri anak.
Bahwa anak-anak akan menyimpan suatu hal sebagai kenangan dalam hidupnya, kita semua pasti sudah mengetahuinya. Tapi, pengalaman manakah yang nantinya dapat memengaruhi keseluruhan hidupnya, tentu saja orang tua tak dapat memastikannya.

6. Melatih motorik halus dan kasar.
Aktivitas menggunting, menempel dan melipat sangat baik untuk menstimulus motorik halus dan kasar anak. kemampuan ini harus dioptimalkan sebelum anak memasuki jenjang pendidikan dasar. Sehingga lebih mudah ketika harus mulai untuk belajar menulis atau menggambar.
 
Mengajak anak berkegiatan positif merupakan salah satu usaha memberikan pengalaman yang mengkristal pada diri mereka. Kita tak pernah tahu, bisa saja suatu saat mereka memiliki satu impian untuk masa depannya berkat pengalaman-pengalaman positif yang difasilitasi orang tua.



Sedangkan bagi saya sebagai orang tua, bermain dan melakukan proyek sederhana dengan anak tidak hanya menjadi sarana mempererat bonding. Namun dari kegiatan ini, saya bisa memasukkan nilai-nilai positif untuk mengiringi tumbuh kembangnya.


Tidak hanya saya dan Najwa, Najib pun sangat gembira dengan mainan barunya. Bahkan dia sudah tak sabar untuk segera menuju bulan dengan segala khayalan dalam dunia imajinasinya.


Proyek seperti ini sebenarnya bukan pertama kalinya saya lakukan bersama Najwa. Sebelumnya, kami sudah terlebih dulu membuat mobil-mobilan untuk Najib dari kardus bekas. Masih ingat betul dalam ingatan saya, saat itu si adik sedang senang-senangnya belajar tentang alat transportasi. Maka dari itu kami putuskan membuat sendiri mainan mobil-mobilan bermodal kardus bekas di rumah.





Bersyukur memiliki dua anak dengan kecenderungan kecerdasan kinestetik yang sudah mulai tampak sejak awal. Untuk kakak memang sempat agak sulit mendeteksi ciri-cirinya, karena pada usia 1 hingga 2 tahun, justru kecerdasan visual yang dominan. 

Memilih Jenis Permainan untuk Anak 


Menjadi orang tua dari dua anak yang memiliki pola belajar dengan beraktivititas atau bergerak, mau tak mau membuat saya harus menyediakan energi ekstra untuk mendampingi mereka. Apalagi kami hanya tinggal berempat dengan suami yang tingkat kesibukannya di luar rumah lumayan tinggi. Sehingga sebagian besar waktu bermain dan beraktivitas anak lebih banyak dihabiskan dengan saya.


Dalam memilih permainan, saya cenderung mengarahkan mereka pada jenis permainan yang aman tapi merangsang komunikasi dan daya imajinasi anak. Permainan role play merupakan permainan yang paling sering kami lakukan. Meskipun tak jarang si adik lebih memilih berlari dan lompat-lompat di atas kasur yang menurutnya menyenangkan.


Ya, saya tak dapat mengesampingkan manfaat permainan fisik bagi anak. Maka dari itu porsi untuk melakukan permainan jenis itu tetap kami sediakan. Tentunya dalam pengawasan orang tua sehingga dapat dipantau keamanannya.


Dalam permainan apapun, faktor keamanan dan kenyamanan selalu menjadi pertimbangan utama. Maka dari itu saya berusaha untuk selalu mendampinginya, sehingga dapat memastikan anak-anak tidak melakukan permainan yang membahayakan keselamatannya. Dan yang tidak kalah penting mereka nyaman dan betah berlama-lama dengan kesenangan kecil yang mereka ciptakan dalam dunia imajinasinya.

Waspada dengan perubahan kondisi anak


Sebenarnya, dalam setiap permainan yang dilakukannya, anak sedang mengeksplorasi dan belajar banyak hal baru dalam kehidupannya. Tapi terkadang mereka lupa dengan kondisi tubuh yang bisa saja menurun karena faktor kelelahan. 


Untuk itu, saya berusaha waspada dan awas dengan perubahan kondisi tubuh dan psikologis anak. Ketika si kecil sudah terlihat lemah dan tidak bersemangat. Segera saja saya mencari tahu kemungkinan gangguan tubuh yang menyerang mereka.


Biasanya saat kondisi tubuh mereka menurun, maka gangguan panas atau demam yang paling mudah dideteksi secara manual. Oleh karenanya, saya selalu sedia thermometer untuk mendeteksi perubahan suhu tubuh anak dan obat penurun panas jika dirasa perlu sebagai pertolongan pertama.


Khusus untuk obat penurun panas, saya sudah memilih Tempra sejak pertama kali menjadi orang tua. Tempra merupakan obat warisan dalam keluarga besar saya, karena kami telah menggunakannya secara turun temurun sejak belasan tahun yang lalu.






Tahun lalu, Tempra Drops dan Tempra Syrup masih menjadi persediaan obat-obatan di rumah. Namun sejak si adik berusia 2 tahun, kami hanya menyediakan varian Tempra Syrup untuk menurunkan panas atau nyeri yang bisa sewaktu-waktu menyerang anak-anak.


Produk dari PT. Taisho ini tidak hanya ampuh menurunkan panas dan deman pada anak, tapi ketika mereka mengalami nyeri akibat pertumbuhan gigi, Tempra sangat membantu mengurangi rasa tidak nyaman yang dapat ditimbulkan. 

Obat penurun panas ini sangat saya rekomendasikan untuk orang tua yang masih memiliki anak balita atau menjelang usia sekolah. Karena pada usia tersebut, anak-anak masih sangat rentan terserang gejala panas akibat kelelahan atau nyeri akibat pertumbuhan pada giginya.

Memiliki anak dengan tingkat aktivitas tinggi mau tak mau membuat kita harus lebih waspada, dan terlibat dalam permainan-permainannya. Usahakan untuk tidak membatasi anak dalam mengeksplor segala hal yang ingin diketahuinya melalui permaian. Tapi selalu pastikan bahwa permainan mereka aman dan membuat anak nyaman untuk berlama-lama dalam dunia imajinasinya.


Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog Tempra yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Taisho. Artikel ditulis berdasarkan pengalaman dan opini pribadi. Artikel ini tidak dapat menggantikan hasil konsultasi dengan tenaga kesehatan profesional.















Custom Post Signature

Custom Post Signature