Parenting Story, Mom's Life, Tips

Liburan Ceria ke Kampung Halaman, Tanpa Khawatir Gejala ISK

|

“Pulang itu ya ke rumah, yang ada halamannya. Yaitu kampung halaman”

Memberi makan sapi, kesenangan yang tidak mungkin terjadi di Jakarta.

Berlibur ke kampung halaman? WOW! siapa yang nggak mau coba? Setelah hijrah ke Jakarta, berlibur ke kampung halaman seolah menjadi agenda yang selalu dinantikan. Anak-anak selalu bertanya, "kapan kita pulang lagi, Buk?" Pertanyaan seperti itu selaluuu saja meluncur dari mulut kecil mereka. Boro-boro tahunan, baru bulan lalu pulang kampung. Bulan ini udah tanya kapan pulang lagi. 

Ahh..Namanya juga anak-anak. Kumpul bareng Mbah, Paman, Budhe dan sepupu-sepupunya yang masih seumuran. Ya,  pasti heboh banget. Jangankan anak-anak, lha kami sendiri emak bapaknya juga hampir sama. Baru selesai mudik lebaran, eee...udah kasih tanda lagi di kalender. Jadwal pulang untuk liburan berikutnya. Jiahh!! Sampai-sampai nih, istilah "pulang" kampung, sudah diganti sama suami. Menjadi "berlibur" ke kampung. Kalau pulang itu ya ke rumah. Lha ini rumahnya di Jakarta, koq pulangnya ke kampung.Lhadalah, bener juga suami saya.

Balik lagi soal liburan ya. Beberapa waktu yang lalu, kami sekeluarga berlibur ke Magetan. Kampung halaman saya, juga anak tetangga yang jadi bapaknya anak saya.Hihihihi.... suami maksud saya. Liburan kali ini sebenarnya tidak terlalu kami rencanakan dari jauh hari. Maklumlah, kerjaan suami nggak bisa diplanning kayak orang kantoran pada umumnya. Kalau lagi ada gawe, ya musti gawe. Malem tahun baru pun, kami anak istrinya sudah biasa main kembang api tanpa bapaknya. Ciannn…

Nah, meskipun liburan kali ini sifatnya tergantung kemujuran. Maksudnya kalau suami gak ada kerjaan kita langsung cabut. Kalau ada kerjaan ya batal. Hiks!.. Sehari sebelum hari H, kami sudah packing seluruh perlengkapan. Selain koper, bantal, dan logistic (read : makanan buat di jalan). Emergency bag adalah tas terpenting yang nggak bisa saya tinggalkan. Ya soalnya, kami pergi dengan balita dan batita. Selain mainan dan buku favorit mereka, di tas itu harus ada tissue basah, baby toiletries, obat-obat dan baju ganti cadangan.

Sampai tengah hari H, belum juga ada kepastian keberangkatan kami. Anak-anak pun mulai lesu. Berbagai acara liburan sudah mereka rencanakan dengan saudara-saudaranya di kampung. Saya pun mulai hopeless. Karena terlanjur membayangkan bertemu sepincuk nasi pecel kakak-kakak perempuan saya dan ibu. 

Di tengah kelesuan itu, saya melihat ada yang beda dengan Najwa (anak pertama saya). Wajahnya sedikit memerah, agak pucat dan pengen rebahan terus. Respon saya sebagai orangtua langsung pegang keningnya. Duhh, agak panas. Saya bergegas mengambil thermometer di kamar untuk memastikan suhu tubuhnya.

Tak berapa lama, setelah saya selipkan alat pengukur suhu digital itu di ketiaknya. Thermometer pun menunjukkan angka 37,5 derajat celcius, masih aman, begitu pikir saya. Apalagi si Kakak masih doyan makan, minum dan ngemil pun masih banyak. Dan, meskipun sambil rebahan, dia masih kelihatan ceria. Itu artinya, badannya tidak lemas. Semoga ini hanya karena perubahan suhu tubuh biasa saja.

 
Badan Najwa mulai panas, dan memilih rebahan saja.

Tepat pukul 11 malam, suami saya mengetuk pintu rumah. Saya pun segera membukanya. “kita berangkat, sekarang!” begitu katanya. Tak perlu menunggu lama, saya langsung menukar baju. Memasukkan koper, dan bantal. Kemudian menggendong anak-anak. Wow banget!! Kayak mimpi aja, 30 menit cukup untuk persiapan. Akhirnya, jadi juga kami berlibur ke kampung halaman. Hore!!!! Begitu teriak anak-anak saat kendaraan mulai melaju menembus gelapnya malam.

Selama perjalanan, lalu lintas bisa dibilang lancar. Kalau macet pun, ya cuma di tempat-tempat yang emang sudah langganan macet. Tapi, hati saya mulai macet. Eh, maksud saya mulai khawatir. Karena kakak lebih banyak diam. Setiap kali kami ajak ke toilet di rest area pun, dia selalu menolak. Sampai puncaknya, di wilayah Tegal, kakak ngompol. Duh.. kakak, di rumah aja gak pernah ngompol, ini malah ngompol di jalan.  

Tubuhnya memang terasa lebih panas dari sebelumnya. Dan, setelah saya tanya kenapa gak mau pipis di toilet. Katanya karena saluran kemihnya perih, jadi sakit. Makanya dia takut pipis, dan akhirnya mengompol karena sudah nggak tahan.

Suhu tubuhnya mencapai 38,1 derajat celcius. Padahal, kami baru sampai Brebes. Masih jauh menuju Magetan


Saya langsung lemas mendengar alasannya. Khawatir Najwa terkena ISK (Infeksi Saluran Kemih). Setahun sebelumnya, kami memiliki pengalaman buruk dengan penyakit ini. Anak kedua saya, yang waktu itu baru berusia 10 bulan. Terpaksa harus opname di Jogja, di tengah perjalanan mudik ke Magetan. Gara-gara terserang ISK juga.

Gejala awalnya hampir sama dengan adiknya dulu. Awalnya demam tanpa batuk dan pilek, trus lemas, dan pipisnya sedikit tapi sering, akhirnya rewel banget. Begitu pun yang terjadi pada Najwa. Kali ini saya tidak mau mengambil resiko terlalu besar. Rencana awal, kami akan berhenti dulu di rumah sakit untuk periksa. Namun, tak berapa lama kakak saya pun menelepon. Akhirnya saya ceritakan semuanya, dan yang paling penting tentang kondisi Najwa.
Kakak saya pun mengambil inisiatif untuk mendatangi DSA langganannya. Maksudnya, untuk mendapatkan saran penanganan pertamanya. Syukurlah, berbekal penjelasan mengenai kondisi yang dialami anak saya, DSA pun memberikan wejangan.

Berikut adalah tips pertolongan pertama, dari DSA langganan kakak saya :

Pertama : Saya harus memastikan suhu tubuh anak saya, mencatat dan terus dikontrol setiap 2 jam.  
Kedua: Memastikan cairan tubuhnya cukup. Artinya, saya harus terus mengontrol seberapa banyak minuman yang dikonsumsi kakak. Dan secara otomatis, ini akan menambah volume kencingnya. Mau gak mau deh, karena kondisi lagi di jalan. Dengan sedikit memaksa, kami pakaikan pampers ukuran terbesar kepadanya. Hihihihihi…maafkeun ibuk ya Nduk. 
Ketiga: Memberikan obat penurun panas, jika suhu tubuhnya mencapai 38 derajat celcius. Sekaligus, obat penghilang rasa nyeri. Saya sebenarnya bukan tipe ibu anti obat, tapi juga gak terlalu obat minded sih. But, balik lagi, we were on the road at that time. So, saya putuskan kasih obat. Apalagi , memang suhu tubuhnya sudah mencapai 38 derajat celcius. 

TEMPRA, yang selalu ada di dalam emergency bag saya.

TEMPRA, cepat menurunkan panas.


Nah! Untungnya nih, si mungil TEMPRA syrup ini selalu stand by di emergency bag saya. Lha namanya juga travelling sama baby. Printilan kayak gini musti masuk di checklist. Apalagi, si TEMPRA ini memang sudah saya pakai sejak jaman dulu kala. Turun temurun istilahnya. Semenjak saya kecil, paracetamol andalan ibu saya, ya TEMPRA ini. 

Selain, karena TEMPRA cepat menurunkan panas, dia bekerja langsung di pusat panas. Dan tentunya tidak menimbulkan iritasi pada lambung. Pokok, kalau ibu saya bilang, Ini obat sudah aman, dipercaya dan direkomendasikan pula. Buktinya, dia sudah bertahan selama dua jaman. Iya jaman friendster dan jaman facebook jaman saya dan anak saya maksudnya hihihihih…

Istirahat di Pemalang, dan kondisinya sudah mendingan. Good Job TEMPRA!


 
Sampai di kebumen, sudah semakin sehat.


Beberapa saat, setelah seluruh saran dari DSA kami terapkan. Si kakak nampak lebih tenang dan akhirnya bisa tertidur pulas. Suami saya pun langsung tancap gas agar lebih cepat sampai di Magetan. Selebihnya, sepanjang perjalanan berjalan lancar dan gembira. Meskipun dengan pampers yang masih harus dipakai sampai tempat tujuan. Hiks..hiks.. so sad sebenernya. Antara kasian dan gak mau semua kenak ompol.

Taraaaaa!!!! Bukan liburan kalau gak ceria. Rumah Mbah memang selalu nyaman untuk cucu-cucunya. Apalagi buat bapak emaknya, yang selalu kangen sama kasur semasa kecil hahahahah AIB!! Selama di kampung halaman, kami lebih banyak menghabiskan waktu untuk bersilaturahmi kepada saudara, teman dan sedikit saja ke tempat wisata. 





Rumah adik saya yang masih di daerah pedesaan, dan agak jauh dari kecamatan kota. Menjadi tujuan outbond ala-ala kami sekeluarga. Selain memberi makan sapi dan bermain di sawah.  Mandi di pemandian umum yang airnya langsung dari sumber mata air merupakan pengalaman yang selalu mereka nantikan untuk diulang. 

Rupanya, keterbatasan tempat hiburan atau pertokoan, sama sekali tidak mengurangi kegembiraan anak-anak selama berlibur di Magetan. Mereka bahkan mengeluhkan waktu berliburnya kurang panjang.  Selain berkunjung ke rumah saudara dan teman, warung Nasi Pecel langganan adalah tempat tujuan yang tak mungkin kami lewatkan. 
Ahhh!! Rupanya, bukan hanya anak-anak yang ketagihan berlibur ke kampung halaman. Kami pun, selalu menantikannya, demi sungkem orangtua, dan sepincuk Nasi Pecel tentunya.

Nasi Pecel bungkus daun Jati. Legendaris!!
 

"Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Taisho."


Telaga Sarangan - Sebuah Pesona, di Lereng Gunung Lawu

|

"Bukan pulang, kalau belum, menyambangi Telaga Sarangan"


Sumber : wisatanesia.co

Telaga Sarangan merupakan sebuah ikon wisata dari Kota Magetan. Kota kecil di sebelah timur Surakarta, yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Karanganyar. Telaga Sarangan yang juga dikenal dengan sebutan Telaga Pasir. Konon, menurut legenda, asal usul Telaga Sarangan ini dikarenakan ulah sepasang suami istri. Yaitu, Kyai dan Nyai Pasir.

Telaga Sarangan merupakan telaga alami yang berada pada ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut, dan terletak di lereng Gunung Lawu, Desa Sarangan, Kecamatan Plaosan. Ibarat mutiara, Telaga Sarangan tersimpan dalam cangkang kerang. Jauh dari pusat Kota Magetan, dan cenderung lebih dekat dengan wilayah Jawa Tengah. Area Telaga Sarangan, memiliki luas sekitar 30 hektare dan kedalaman 28 meter. Dengan suhu udara antara 15 sampai dengan 20 derajat celcius, bisa dibilang sejuk di kala siang, dan dingin saat malam menjelang.

Sebagai obyek wisata andalan di Kota Magetan, Telaga Sarangan mampu menarik ratusan ribu wisatawan setiap tahunnya. Pada saat libur panjang, libur hari besar dan nasional, weekend, atau pada saat Festival Larung Sesaji. Telaga Sarangan selalu dipenuhi dengan pengunjung yang sekedar singgah dan menikmati panoramanya. Atau, menginap dan menghabiskan malam serta menyambut matahari paginya.


Sumber : wisatanesia.co




Buat saya yang lahir dan dibesarkan di Magetan. Rasanya bukan pulang, kalau belum menyambangi Sarangan. Pesona hutan alami nan hijau, seolah membingkai danau dengan airnya yang jernih. Kesejukan dan kesegaran udara pegunungan, yang hampir mustahil untuk saya rasakan di ibukota. Kerap mendatangkan rasa rindu. Bukan hanya untuk memanjakan raga dengan ketenangannya. Namun juga memberikan makanan bagi otak, dengan suplai oksigen berlimpah, yang masih murni tanpa kontaminasi polusi industri.




Seiring perkembangan sektor bisnis pariwisata di Kota Magetan, fasilitas akomodasi di Sarangan pun terimbas cukup besar. Puluhan rumah makan dan hotel dengan berbagai fasilitas dan range harga.  Telah berdiri, berjajar di sepanjang area wisata. Bahkan, untuk pemesanan pada hari-hari tertentu atau peak season. Reservasi harus dilakukan semenjak jauh hari dengan harga yang lumayan fantastis. Hal ini sungguh menggembirakan, karena secara langsung membawa dampak positif bagi perekonomian rakyat, dan pendapatan daerah tentunya.

Disamping itu, perkembangan Telaga Saragan sebagai andalan wisata utama di Magetan. Telah memberikan sumbangsih besar dengan semakin terdorongnya UKM di bidang kerajinan kulit, jajanan khas Magetan, kerajinan batik tulis, dan usaha kuliner khas Magetan lainnya. Untuk terus bertumbuh dan berinovasi.

Penduduk setempat pun semakin berani untuk mulai menginvestasikan uangnya dalam bentuk modal usaha. Sehingga, iklim usaha kian menggeliat. Suatu saat, julukan Magetan sebagai "kota pensiunan", atau "kota PNS", mungkin akan segera berubah. Semoga!









 

Kanal Banjir Timur, Jakarta - Area Olahraga dan Pasar Tumpah

|
"Kanal Banjir Timur Jakarta, telah dibangun dan melintasi 13 kelurahan di Jakarta. Dua kelurahan di wilayah Jakarta Utara, dan 11 kelurahan di wilayah Jakarta Timur"


Sebagai warga DKI, saya merasa beruntung, karena mendapatkan tempat tinggal di wilayah yang dilalui Kanal Banjir Timur. Loh! Koq beruntung? Bukannya malah bahaya ya, kalau sewaktu-waktu kanalnya jebol, apa gak banjir bandang itu? Nauzubillah, semoga hal tersebut tidak terjadi. Yang namanya bencana atau musibah, saya yakin tidak ada yang menginginkannya. 

Menetap dan menjadi bagian dari "jantung Indonesia" Salah satu kota di mana asa dilabuhkan, namun tak pernah absen dengan berita kebanjiran. Membuat saya merasakan sendiri, betapa besar manfaat menjaga kebersihan, salah satunya dengan membuang sampah pada tempatnya. Hal sesederhana itu, ternyata tidak mudah dalam pengaplikasiannya.

Nyatanya, sampah masih bertebaran di mana-mana dan sungai beralih fungsi menjadi TPA. Memang benar kiranya, bahwa nilai-nilai harus ditanamkan semenjak dini. Dipupuk dan ditumbuhkan secara terus menerus. Karena merubah kebiasaan itu ibarat meminta untuk dilahirkan kembali. Susah jendral!

Nah, balik lagi ke kanal banjir timur ya, atau biasa disebut KBT. Sebenarnya, di Jakarta terdapat dua kanal banjir. Yaitu, Kanal Banjir Timur (KBT) dan Kanal Banjir Barat (KBB). Pembangunan keduanya ditujukan untuk mencegah banjir akibat luapan sungai di Jakarta. Berhubung saya tinggal di wilayah timur, jadi saya penguasanya lebih paham wilayahnya, hehehehe...


Kanal Banjir Timur Jakarta, telah dibangun dan melintasi 13 kelurahan. Dua kelurahan di wilayah Jakarta Utara, dan 11 kelurahan di wilayah Jakarta Timur.  KBT direncanakan untuk mengatasi banjir di wilayah Jakarta Timur. Yaitu, dengan menampung aliran Kali Ciliwung, Kali Cililitan, Kali Cipinang, Kali Sunter, Kali Buaran, Kali Jati Kramat, dan Kali Cakung.

Meskipun, kenyataannya sampai saat ini Jakarta masih saja banjir. Namun, Kanal Banjir Timur hadir sebagai destinasi baru untuk warga seperti saya. Yang butuh tempat olahraga, sekaligus menikmati area hijau serta berbelanja. Dan yang paling penting, ramah dibudget.

Semenjak KBT dibangun sedemikian rupa, dengan melibatkan CSR dari beberapa perusahaan swasta dan BUMN. Fungsi utamanya telah bertambah, tidak hanya sebagai tanggul pencegah banjir. Namun, menjadi salah satu area olahraga dan wisata ekonomis bagi masyarakat ibukota.  Selain jogging track, tersedia juga area khusus pengguna sepeda. Sedangkan. di bagian kanan dan kirinya, rumput hijau tertata rapi dengan deretan aneka pepohonan yang membuat rindang. Dan udara pagi terasa lebih segar.





Pada jarak tertentu, disediakan tempat istirahat, lengkap dengan parkir sepeda. Atau, tempat duduk dan taman dengan area refleksi injak batu. Di tempat-tempat inilah, biasanya para pengunjung beristirahat. Namun, beberapa orang memanfaatkannya untuk melakukan gerakan yoga atau peregangan ringan.

Saya sekeluarga, bisa dibilang salah satu pendatang setia KBT. Hampir setiap akhir pekan, kami habiskan pagi hingga matahari mulai bergeser  45 derajat ke arah barat. Kami biasa berlari, jogging kecil, bersepeda atau sekedar jalan-jalan di area ini. Karena kami termasuk keluarga yang kurang suka main di pertokoan, maka tempat seperti ini terlalu sayang untuk dilewatkan.

Tak hanya berolahraga, berbagai barang dijual di KBT layaknya "Pasar Tumpah" Mulai baju, sandal, aksesories, hijab, sepatu, peralatan dapur, mainan dan buku-buku semua tersedia. Kalaulah ingin sekalian sarapan di luar. Nasi kuning, ketupat sayur, bubur ayam, bubur manado, salad buah, burger, pizza, kopi, jus buah, dan aneka makan lain juga tersedia. 

Nah, tidak hanya itu saja. Buat ibu-ibu seperti saya yang kemana-mana selalu bawa buntut balita. Odong-odong, kuda, delman dan kereta mini, siap untuk disewa. Dijamin anak-anak gembira setelah naik kuda, ibunya bahagia karena adaaaa saja yang bisa dibawa pulang. Dan, bapaknya tongpes sehat, setelah berlari atau bersepeda. Heheheheh.. seru bukan?






Kondisi sungai di sepanjang KBT yang semakin bersih, terawat dan bebas sampah, karena selalu dipantau oleh petugas kebersihan. Menambah kenyamanan untuk sekedar ngobrol berlama-lama, atau bermain bersama anak-anak sembari menikmati kudapan atau minuman ringan.

Sungguh, hal yang sesederhana ini, buat saya benar-benar berkah. Menemukan area terbuka dan hijau di tengah hiruk pikuk dan kebisingan suara knalpot kendaraan. Belum lagi udara pengap karena padatnya bangunan dan polusi asap. Keberadaan KBT seolah menjadi tempat untuk "bernafas" dan mendapatakan kembali kehidupan ala wong ndeso.

"It's awesome for us, to have this story while we build our solid team. Someday, we hope that we have other story between KBT with us"




Selain itu, KBT seolah menjadi saksi sejarah bagi kami sekeluarga. Semenjak hijrah ke Jakarta dengan satu balita cantik usia dua tahun, yang baru belajar mengayuh sepeda roda empatnya. Hingga sekarang sudah lihai mengayuh sepeda roda duanya. Kemudian cerita berlanjut, saat baby Djati masih di perut, kemudian didorong dalam stroller, selanjutnya dibonceng sepeda ibunya. Dan, sekarang sudah mengayuh sendiri sepeda roda empatnya. It's awesome for us, to have this story while we build our solid team. Someday, we hope that we have other story between KBT with us. Heheheheheh...segitunya, lebay! 




Nah, buat teman-teman yang ingin merasakan hidup ala wong ndeso juga seperti saya. Sempatkan untuk datang ke KBT. Agar lebih nyaman, siapkan perlengkapan olahraga, dan dompet jangan sampai lupa. Kapan-kapan kita janjian ya! See U :)


The Milestone - Djati genap 2 tahun

|
"Selamat Panjang Umur dan Bahagia"



Sejak bangun tidur, di Sabtu pagi 17 September lalu. Ibuk, Kakak dan Ayah terus menyanyikan lagu itu. Adik Djati, yang biasanya selalu pecicilan. Pagi ini, agak malu-malu. Berkali-kali minta dipeluk, hanya untuk menyembunyikan wajah lucunya. Hari itu Djati genap berusia dua tahun. Tak terasa, waktu berjalan begitu cepat. Bahkan, luka bekas secar masih juga sering terasa nyeri, eee.. si jabang bayi sudah lulus S3 ASI. Buat Ibuk, ini masih seperti mimpi.

Flashback, 2 tahun yang lalu. Ibuk berangkat ke rumah sakit, bersama Kakak dan Ayah, malem-malem naik motor MIO yang super mungil. Tanpa persiapan melahirkan selembar pun. Satu setengah jam kemudian, di sebuah rumah sakit di Jakarta, rejeki yang luar biasa ini dilahirkan dengan selamat dan tak kurang suatu apapun. Djati, bayi yang berkulit kuning bersih, hidung besar, persis seperti Ibunya.

 Mengingat kembali, masa-masa kehamilan Djati, Ibu sering merasa sedih. Selama masa peralihan, perekonomian keluarga sedikit terguncang. Memang pada akhirnya ujian itu menjadi pelajaran berharga bagi kami. Namun, setiap kenangan tetap menjadi sesuatu yang memberikan kesan tersendiri bagi kami. Belum lagi, Djati kecil sempat menderita bayi kuning. Otomatis perawatan ekstra harus kami berikan untuk membantu pemulihannya. Sungguh banyak cerita di awal kehidupannya.




Selama dua tahun mengamati tumbuh kembangnya. Tak terhitung jumlahnya, hal positif yang terus membuat kami bersyukur atas segala keterbatasan dalam mengasuhnya. Berkat Djati juga, kami banyak merubah cara mendidik dan berkomunikasi dengan Najwa. Kalau kata orang, pada anak pertama orangtua banyak berhutang, Hutang belajar dan mencoba-coba. Dan itu benar adanya. Maka, kami putuskan untuk memperbaiki sekaligus melengkapi saat memiliki anak kedua. Dan, ternyata menjadi orangtua itu bergurunya justru sama anak.

"Just do it! lakukan dengan hati, sesuaikan dengan kondisi sendiri, karena ini perjalanan saya dengan anak-anak. Yang pasti berbeda dengan perjalanan ibu lain."




Djati kecil tumbuh menjadi anak aktif. Perawakannya yang cenderung kecil tapi tinggi, membuatnya  lincah bergerak. Pada usia 13 bulan, Djati telah berhasil melakukan langkah-langkah pertamanya. Dan, beberapa hari kemudian, mulai mencoba untuk berlari meskipun masih sempoyongan. Kemampuan berbicaranya memang masih jauh jika dibandingkan Najwa pada usia yang sama. Namun, dia sudah mengerti dan mampu untuk menyampaikan maksudnya. Semua anak berbeda, dan kamipun sabar menikmati step by step perkembangannya.


Selain bersepeda roda tiga, sepak bola merupakan salah satu kesenangannya. Dan akhir-akhir ini, Djati mulai menyukai mobil-mobilan, kereta, pesawat, kuda dan sapi. Kami selalu tidak bisa menahan tawa, saat Djati sudah mulai berlagak bak sapi yang sedang marah. Sruduk sana, sini dengan mimik mukanya yang imut, bermata belok dan bibir dimonyong-monyongkan. Ahhh..lelaki kecilku, we love u so much

Dari Djati, kami belajar bahwa hidup harus berani, itu pun yang selanjutnya kami ajarkan pada Najwa, yang cenderung lebih banyak pertimbangan dalam bertindak. Dan kurang berani mencoba hal baru. Sedangkan, bagi saya sendiri sebagai Ibunya. Djati telah memberikan perspektif yang berbeda dalam pengasuhan anak. Tidak terlalu pakem dengan teori dan segala tetek bengeknya. Just do it! lakukan dengan hati, sesuaikan dengan kondisi sendiri, karena ini perjalanan saya dengan anak-anak. Yang pasti berbeda dengan perjalanan ibu lain.


Happy Birthday Adik, jadi anak sehat, kuat, tangguh dan shalih ya Le, DJATI






Custom Post Signature

Custom Post Signature