Parenting Story, Mom's Life, Tips

Lika-Liku Menyapih Anak

|
"Bund, hari ini kita sapih Najib, kita harus tega. Toh, tujuannya agar anak lebih mandiri dan tidak terlalu tergantung sama ibunya. Jadi ayah bisa bantuin momong."



Pertengahan bulan nanti, genap sebulan Najib anak kedua saya melewati masa disapih. Tepat pada usia 2 tahun 4 bulan, saya dan suami memutuskan untuk menyapihnya secara total. Awalnya saya sempat ragu karena pernah gagal menyapih si kecil. Tapi alhamdulillah, nampaknya kali ini kami akan berhasil melakukannya.

Sebelumnya, saya telah mencoba menyapih Najib dengan cara mengurangi frekuensi pemberian ASI secara bertahap. Yang biasanya kapan saja dan di mana saja, saya mulai berlakukan aturan tempat dan waktu. Misalnya harus di kamar, pada saat bangun dan sebelum tidur.

Tapi cara itu hanya bertahan sementara waktu saja. Ketika kondisi anak sedang tidak fit, dia mulai susah untuk diajak mengikuti aturan menyusu yang sudah saya terapkan. Dipengaruhi faktor 'nggak tega', saya pun mulai tidak tegas dan konsisten dengan aturan yang saya buat. Jadilah kebiasaan ini tidak berjalan dengan lancar. Parahnya, Najib cenderung menjadikan tantrum sebagai senjatanya saat saya menolak memberikan ASI Ya ... Apa mau dikata, gagal sudah Buk Naj dengan metodenya. 


Mulai WWL hingga Mengolesi  Payudara dengan Brotowali

Sejak awal menyusui Najib, dengan penuh kepercayaan diri saya memutuskan untuk memberinya ASIX hingga usianya 2 tahun. Berbekal tekad tersebut, saya pun merencanakan menyapih dengan metode WWL dan berencana mulai memberi pemahaman pada anak sejak usianya 18 bulan. Sambil secara bertahap mengurangi frekuensi menyusunya.

Tapi yang namanya teori memang kerap tak seindah kenyataan. Keberhasilan memberikan ASIX mulai membuat saya terlena dengan rencana yang telah saya siapkan. Memang benar sejak usia 18 bulan saya memberinya pengertian bahwa setelah potong kue yang kedua, adek minumnya ganti pakai gelas. Dengan alasan adik sudah besar dan malu kalau masih nenen ibunya. Benar juga bahwa semenjak itu saya  mulai mengurangi frekuesi menyusui. Tapi, seperti yang saya sebutkan sebelumnya, saya sering 'nggak tega' dan konsisten. Jadilah Najib memanfaatkan kelemahan saya ini sebagai senjata.

Sampai usianya 2 tahun lebih, saya masih belum berhasil menyapihnya. Sedangkan suami terus mendesak, dengan alasan si kecil mulai tergantung sama ibunya. Saya nggak kelihatan sebentar sajat, Najib bakalan nangis kejer, nyari-nyari. Meskipun ada suami atau Najwa yang menemani. 

Drama seperti ini berlangsung terus menerus, bahkan semakin menjadi. Saya pun mulai kewalahan karena durasi menyusu yang semakin panjang. Najib mulai memanfaatkan momen menyusu untuk bermain, bukan karena benar-benar haus. Cuma ngempeng kalau istilah orang Jawa. 

Akhirnya, saat usia Najib 2 tahun 1 bulan, suami pun mengambil inisiatif membeli Brotowali atau biasa disebut Wali di pasar. Sejenis rempah berbentuk batang, dalamnya bergetah dan rasanya pahit bukan kepalang. Awalnya saya menolak, karena idealisme  tidak ingin menyapih dengan cara-cara seperti itu. Tapi suami mendesak dengan alasan kebaikan anak. Agar anak tidak semakin manja dan segera mandiri.


Jadilah acara menyapih dengan Brotowali kami lakukan. Setiap mau minta nenen, saya selalu oleskan dulu rempah pahit ini ke seluruh payudara saya. Dan tentu saja si kecil kepahitan, jangankan diemut, baru dijilat saja rasanya sudah getir di lidah. 

Resmi sudah hari itu Najib nggak minta nenen sama saya. jangan ditanya kayak apa rewelnya. Malam pertama saja saya harus menggendongnya beberapa kali. Demi si kecil bisa tidur nyenyak. Begitu pun saat masuk jam tidur siang.


Menolak Minum di Botol hingga Demam

Drama dimulai lagi saat Najib menolak minum susu di gelas. Sehari berikutnya, hampir seharian dia hanya minum air putih saja. Semua minuman berasa, baik itu susu, teh atau sari buah ditolaknya. Saya coba menawarkan botol susu kepadanya, terutama menjelang jadwal tidur siang atau malam. Tapi karena tidak terbiasa tidur dengan botol, Najib pun menolak begitu saja.

Pada malam kedua, saya merasakan badannya sedikit demam. Dan benar saja suhu tubuhnya sudah mencapai 38, 3 kala itu. Saya mulai panik, khawatir si kecil kurang cairan. Emosi pun mulai tidak stabil, antara bersikeras ingin menyapih dan kasihan melihat si kecil.  

Tak dapat dipungkiri,  perasaan ibu memang terhubung langsung dengan anak. Najib pun semakin rewel hingga tengah malam, ketika perasaan saya mulai kalut. Sudah saya gendong sambil saya bobok-bobokkan, tetap saja dia menangis dan minta dinenenin.


Gagal Menyapih dengan Brotowali

Dalam kondisi kelelahan secara fisik, payudara mulai nyeri karena bengkak akibat  terlalu penuh, perasaan campur aduk antara panik dan khawatir, ditambah suami sedang dinas ke luar kota sehingga tidak ada yang menggantikank. Runtuh sudah usaha yang sudah hampir dua hari saya lakukan. Tepat pukul 01.00 dini hari, dengan tetap menggendong si kecil, saya pun mulai menyusuinya.

Lega ... begitulah perasaan saya saat itu. Najib langsung tenang dan menyusu hingga puas sebelum akhirnya tertidur dalam gendongan. Rasa nyeri di payudara pun hilang dalam sekejap. Malam itu kami berdua terlelap di sofa, kelelahan baik secara fisik maupun mental.


Najib Cerdik!

Setelah pengalaman gagal menyapih dengan Brotowali, saya pun mulai mencoba beberapa bahan lain untuk dioleskan. Tapi benar kata orang, anak-anak itu jauh lebih cerdik dari yang kita sangka.

Setiap saya mengoleskan sesuatu pada payudara, si Najib segera bergegas mengambil tisu untuk mengelap. Dan lebih parahnya lagi, apapun yang saya oleskan dia selalu bilang, "enak, ndak pa pa." Begitu terus-menerus. Bahkan saat dioleskan Brotowali kembali, Najib akan mengatakan hal yang sama, "Nak, Buk. Adek cuka, nak ... nak." Tetot! ... Kalah sudah saya dalam pertempuran ini. *Pijitkening



Berhasil Berkat Kerjasama dengan Suami

Saya ingat betul, hari itu Jumat tanggal 13 Januari 2017. Tiba-tiba suami saya bilang,
"Bund, hari ini kita sapih Najib, kita harus tega. Toh, tujuannya agar anak lebih mandiri dan tidak terlalu tergantung sama ibunya. Jadi ayah bisa bantuin momong juga." 

Kebetulan usia Najib memang bisa dibilang lebih dari cukup untuk disapih. Dan setelah kegagalan menyapih dengan Brotowali, Najib memang cenderung lebih nempel sama saya. Jadwal menyusunya pun semakin berantakan. Ditambah acara tantrum yang menjadi-jadi.

Pagi itu suami mengajaknya jalan-jalan keliling perumahan. Saya kurang tahu apa saja yang mereka berdua lakukan. Yang jelas, sesampainya di rumah. Si kecil langsung bilang, "nenen ibuk atit, udah abis." Hahaha ... si ayah melakukan pencucian otak kali ya. *nyengirprihatin

Seperti biasa, dalam setiap acara menyapih, saat-saat jam tidur selalu menjadi masalah. Tapi kali ini Najib benar-benar tidak minta nenen. Dia terus bilang nenen ibuk atit, nenen udah abis. Begitu terus menerus sambil sesekali memegang payudara saya.

Kami masih kesusahan memberikan susu melalui botol karena faktor tidak terbiasa tadi. Ini termasuk salah satu hal yang patut dipersiapkan bagi Temans yang berencana menyapih anaknya. Terlebih jika si anak tipe yang biasa nenen dulu sebelum tidur. Otomatis mereka akan mencari penggantinya. 

Alhamdulillah, selama proses menyapih yang ketiga ini, suami  stand by di rumah khususnya menjelang jam tidur malam. Terbantu di tiga hari awal, yaitu Jumat, Sabtu, Minggu saat libur kerja, Najib mulai menemukan kenyamanan baru, yaitu tidur dalam pelukan ayahnya. Saya pun mendapatkan jeda, sehingga frekuensi bersama dengannya agak berkurang. 

Akhirnya, setelah melewati seminggu pertama yang lumayan berat. Najib benar-benar tidak lagi meminta nenen dari saya. Jangan ditanya bagaimana perasaan saya, apalagi kondisi badan yang lelah karena jatah rewelnya naik dua kali lipat, tapi sepadan hasilnya.

Sampai hari ini Najib menunjukkan banyak kemajuan pasca disapih dari saya. Terutama dalam hal kemandirian dan kepercayaan dirinya. Selain dari segi umur yang memang sudah siap, kedekatan dengan ayahnya pun mulai terbentuk dengan kebiasaan-kebiasaan baru. Lain kali akan saya tulis blogpost tentang perkembangannya baik secara fisik dan emosi pasca penyapihan.


Tips Sukses Menyapih Anak

Yang terakhir, saya ingin berbagi sedikit tips sukses menyapih ala saya dan suami. Tenang saja, oles-olesan macam Brotowali sudah saya skip dari tips ini, Jadi aman untuk Teman-Teman yang tidak ingin menggunakan cara-cara tradisional seperti itu untuk anaknya.

Nah, langsung saja, ya.

1. Pastikan anak maupun orang tua, terutama ibu, dalam kondisi stabil. Baik secara fisik maupun mental, di samping anak cukup usia.

Bagian ini penting banget ya. Jadi bukan cuma anaknya saja yang harus siap atau cukup umur. Orang tua harus menularkan sugesti positif dan siap juga kepada anak, khususnya ibu yang memiliki hubungan secara langsung.

Selain itu, orang tua harus mampu mengelola emosi. Karena mau tak mau akan berhadapan dengan kondisi emosi anak yang berubah-ubah. Rewel atau melakukan kebiasaan-kebiasaan baru yang tak dapat diduga, mungkin akan dialami anak. Dengan kondisi emosi yang stabil, maka orang tua akan lebih tenang menghadapinya.

Kondisi fisik baik orang tua dan anak sebisa mungkin sedang fit. Hal ini untuk mengurangi tingkat kerewelannya. Bagi orang tua, terutama ibu. Kondisi yang sehat sangat memengaruhi emosinya. Karena masa menyapih bisa dibilang tidak selalu mudah dan cepat, jadi butuh kesiapan  jika harus begadang atau berlama-lama menggendong si kecil. Termasuk harus menghadapi prahara payudara bengkak bagi si ibu. *usapairmata

Jadi saran saya, jangan menyapih saat pikiran sedang kalut, atau suami sedang tugas ke luar kota, terlebih saat keluarga sedang ditimpa masalah, atau badang sedang lelah.  Cari momen yang tepat.


2. Harus kompak dengan suami atau anggota keluarga lain di rumah

Menyapih memang butuh pendampingan dari suami atau anggota keluarga lain. Tujuannya sebagai pengalihan anak dari ibunya. Saya merasa cara ini sangat membantu mengurangi frustasi anak, karena setiap bersama saya hasratnya untuk kembali nyusu seperti tak terbendung lagi.

Selain itu, cara ini memberikan sedikit jeda bagi ibu untuk merefresh suasana hati dan emosinya. Karena sebenarnya dalam proses menyapih ini banyak hal "yang hilang" bagi seorang wanita. Perasaan sedih kerap kali menyerang begitu saja. Sehingga kerjasama dengan anggota keluarga lain, terutama suami, saya rasa berkontribusi besar terhadap kesuskesannya.


3. Konsisten

Salah satu penyebab kegagalan menyapih adalah sikap tidak konsisten dari orang tua. Sekali anak melihatnya, mereka akan menggunakannya sebagai senjata. Begitu orang tua bilang, "Mulai sekarang, kalau adik haus, minumnya dari gelas, ya." Mulai saat itu pula ibu tidak perlu menawarkan kembali ASInya. 

Begitu pula beberapa rutinitas baru seperti tidur sendiri atau bersama kakak. Mendongeng sebelum tidur untuk mengalihkan perhatiannya. Atau apa saja yang orang tua terapkan dalam masa penyapihan, sebisa mungkin dilakukan dengan konsisten.

Saya merasakan penerapan konsisten dari orang tua memberikan efek cukup besar tidak hanya dalam proses penyapihan ini. Namun juga dalam membiasakan beberapa rutinitas baru bagi Najib khususnya.

Nah, itu tadi 3 tips dari saya. Saya pun menerapkan beberapa tips dari berbagai artikel parenting yang bisa teman-teman googling. Berbekal tips A,B,C,D ditambah 3 tips tadi, alhamdulillah ... Najib sudah hampir satu bulan tidak meminta ASI kepada saya. Bagaimana dengan tumbuh kembangnya? Lain kali akan saya ceritakan dalam blogpost selanjutnya. 

Selamat Menyapih! ^_^

Baby Boy yang sudah nggak nenen ibuknya ^_^








[ Review] Sariayu Duo Lip Color

|




Hai.. Hai.. Hai.. Jumpa lagi sama BukNaj *winkwink. Kali ini saya mau me-review lipstik yang lagi jadi favorit saya. Bukan barang baru sih, saya beli sekitar November tahun lalu. Baru sekarang aja niat banget bikin postingannya karena butuh waktu untuk mengumpulkan kepercayaan diri, minder euy! Ya, tapi sayang juga ya, punya produk kesayangan nggak dijembrengin di sini. Hehehe ...

Sebenarnya saya termasuk jarang pakai lipstik, meskipun hobi banget beli-beli. Kayaknya bener juga nih, kalau lipstik itu termasuk racun buat wanita. Apalagi brand kosmetik sekarang bener-bener berkompetisi untuk menghadirkan produk jagoan. Semakin inovatif baik dari segi kandungan juga tampilan. Begitu keluar satu varian baru, brand yang lain kayak nggak mau ketinggalan gitu. Langsung bikin varian sejenis dengan keunggulan masing-masing. Kalau sudah begitu, wajar donk kalau kadar pengen coba-coba saya meningkat. Hehehe ...

Awal mula saya beli lipstik ini karena baca review di blog Racun Warna-Warni. Teman-teman pasti tahu kan? Blog milik Beauty Blogger yang super kondang itu. Berbekal review dan swatch di situ, saya putuskan membeli Sariayu Duo Lip Color untuk menghadiahi diri sendiri.

Ngomongin soal Sariayu, teman-teman pasti setuju ya, kalau brand lokal yang satu ini recomended banget. Mulai ibu-ibu kita dulu, sampai ganti generasi, kayaknya kalau ngomongin lipstik lokal, Sariayu ini nggak pernah terlewat. Udah kayak warisan turun temurun gitu. 

Nah, sekarang pas lagi trendnya lip cream, Sariayu pun nggak ketinggalan meluncurkan produk andalannya yaitu Sariayu Duo Lip Color. Mengapa Duo Lip Color? Karena dalam satu  kemasannya terdapat dua varian sekaligus, yaitu matte dan glossy.  

Nggak tanggung-tanggung Sariayu ngeluarin 12 swatches, loh. Wow banget kan? Mana warnanya cantik-cantik banget,  temen-temen yang beauty enthusiast pasti udah ngoleksi semua warnanya nih. Kalau buat saya yang masih taraf coba-coba pakai lipstik, seri DLC-07 yang jadi favorit. Sejenis warna sejuta umat gitu lah, warna aman, jatuhnya peach kecoklatan.

Nah,  biar  nggak kelamaan, langsung saja kita bahas satu persatu ya.

Packaging 




 

Pertama soal kemasan, Sariayu DLC ini dikemas dalam tube plastik dengan 2 sisi. Pada plastik kemasannya ada keterangan nomor seri warna lipstik di bagian tengah. Kemudian, di sisi kiri dan kanannya terdapat keterangan glossy or matte. Sayangnya keterangan ini cuma di print di plastiknya aja, jadi begitu plastiknya sobek, keterangannya pun bakalan hilang. So, mending diinget-inget aja, yang kiri glossy, sedangkan kanan matte.

Ingrendients

Untuk kandungannya, seperti yang saya kutip dari website resminya. Sariayu DLC diklaim mengandung Mineral Amethys Powder dan Vitamin E yang bekerja sebagai antioxidant, kemudian UV Filter sebagai pelindung dari efek buruk sinar matahari, dan natural moisturizer yang membantu menjaga kelembaban bibir. Sehingga tampilan warna lebih perfect dan long lasting.



Texture and Pigmentation

Menurut saya, yang nggak terlalu sering pakai lipstik. Tekstur Sariayu DLC ini ringan banget di bibir. Bahkan bagian matte yang terlihat pekat pun nggak terlalu kental, jadi jatuhnya nyaman. Selain itu, tekstur matte-nya juga nggak bikin bibir kering, meskipun tanpa mengoleskan lipbalm sebelumnya.
Pigmentasi? Absolutely pigmented, even yang bagian glossy, dia bakalan menutup sempurna. Nggak cuman kayak pakai lipgloss gitu. Selain itu bagian glossy-nya juga nggak lengket plus nggak terlalu mengkilap, Jadi kesan glossynya nggak norak gitu.





Sariayu DLC-07 (matte)



Sariayu DLC-07 (matte)



Price
Untuk ukuran lipstik lokal, ya nggak murah-murah amat, sih. Sariayu DLC dibanderol Rp.99.000 Menurut saya lumayan terjangkau dan sesuai dengan kualitasnya. Apalagi kita bisa dapat 2 varian sekaligus dalam satu kemasan. Kalau kata saya mah, harga nggak bohong.

Secara garis besar, berikut kelebihan dan kekurangan Sariayu DLC menurut saya:
Kelebihan :
  • Nyaman di bibir, tekstur ringan nggak terlalu pekat.
  • Nggak bikin bibir kering, meski tanpa lipbalm. 
  • Glossy-nya juga nggak terlalu mengkilap plus nggak lengket di bibir.
  • Pigmented banget, baik bagian matte ataupun glossy-nya.
  • Tersedia dalam 12 warna yang super cantik dan kekinian
  • Harga sepadan sama kualitas
  • Mudah didapat karena brand lokal
  • Aromanya kayak permen vanila, saya suka.
  • Awet di bibir.
Kekurangan :
  • Kemasannya, terutama karena pattern-nya cuma di print di plastiknya aja. Begitu plastik sobek, hilang sudah semua keterangannya.
  • Setiap warna nggak dikasih nama, cuma nomor saja. So, lumayan susah buat nginget-ngingetnya.
  • Lumayan butuh waktu buat nge-set di bibir, meskipun kalau udah jadi lumayan long lasting.

Secara keseluruhan saya puas banget sama Sariayu Duo Lip Color ini, khususnya swatch yang saya pilih yaitu DLC-07. Soal repurchase? Yo'ilah, karena udah mupeng sama swatch yang lain. Hehehe ...

Sariayu DLC - 07 (glossy)



Tips Hemat Belanja Bulanan

|




Masih awal bulan, apalagi mendekati weekend. Boleh ya, sesekali ngomongin soal belanja bulanan? Kesempatan nih, jalan-jalan akhir pekan kali ini rencananya mau saya manfaatkan untuk pergi berbelanja bulanan. Berhubung suami lagi ke luar kota, jadi saya sama anak-anak cari alternatif kegiatan di deket-deket rumah saja. Maka kami merencanakan pergi ke supermarket dekat rumah.

Sebenarnya belanja bulanan ke supermarket bukan merupakan rutinitas wajib bagi saya. Biasanya, saya hanya melakukannya jika butuh saja. Misal saat semua persediaan bulanan benar-benar habis dan tidak dapat kami penuhi dengan berbelanja di pasar atau toko sembako di dekat rumah. Atau, jika  kami merencanakan pergi ke pusat-pusat perbelanjaan untuk mencari produk yang hanya tersedia di sana. Misalnya, membeli sepatu atau perlengkapan kerja suami. Barulah dalam kondisi seperti itu, saya sekaligus membuat perencanaan berbelanja di supermarket atau swalayan.

Nah, ngomongin soal belanja, saya sebenarnya termasuk yang "miskin iman" menghadapi serangan "barang lucu" dan diskon di pusat-pusat perbelanjaan. Kalau dituruti, saya bisa membeli stationary atau peralatan dapur yang sebenarnya nggak penting-penting amat hanya karena alasan lucu *tutupmuka. Belum lagi kalau ketemu material crafting atau paper wrap yang unik. Dompet musti dikekepin bener biar nggak salah alamat. Hehehe ...

Karena sangat memahami gaya belanja dan godaan yang mungkin mengacaukan cash flow rumah tangga. Maka mulailah saya membekali diri dengan beberapa tips menyangkut belanja bulanan. Ya, biarpun belanja ke supermarketnya jarang-jarang, tapi tips ini lumayan bermanfaat juga saat saya terapkan untuk berbelanja di pasar, toko sembako dekat rumah atau mini market sejuta umat macam alfamart atau indomaret. Nah, langsung kepoin satu-persatu aja, ya.




7 Tips Hemat Belanja Bulanan ala BukNaj


1. Buat catatan kebutuhan bulanan




Saya yakin teman-teman sudah lebih dulu melakukan tips no. 1 ini. Ya, saya memang termasuk orang yang tidak terlalu detil dan malas mencatat. Jadi, selama ini kebutuhan bulanan hanya saya ingat-ingat saja. Mana yang butuh, mana yang habis, mana yang nggak perlu beli lagi. Semua hanya ada dalam memori otak  saja. Dan, cara ini sungguh sangat tidak efektif. Karena keterbatasan saya dalam mengingat banyak hal dalam waktu yang bersamaan, tentu saja beberapa hal sering terlewat atau terjadi salah informasi.

Akhirnya mulailah saya berbenah. Setiap bulan saya buat catatan kebutuhan bulanan. Dari situ saya bisa cek mana yang masih ada stock, mana yang habis, mana yang perlu ditambah (means. saya akan beli dalam kemasan kecil), mana yang hanya butuh refill, dan lain sebagainya. 

Bermodal catatan tersebut, terasa banget belanja bulanan menjadi lebih efisien dan tidak berlebihan. Karena semua jadi lebih terukur dan dibeli dalam takaran yang "pas" dengan kebutuhan keluarga kecil kami.


2. Membeli dalam kemasan besar atau cukup sampai tiba waktu belanja lagi

Memang tidak semua produk saya beli dalam kemasan besar. Misalnya sabun cair atau shampoo. Alasan saya karena anak-anak lebih boros jika disediakan kemasan yang besar. Mereka tahunya banyak, jadi suka dimain-mainin. Begitu pula untuk lotion badan, saya kurang suka membeli kemasan besar, dengan alasan lebih suka habis pakai dalam waktu sebulan kemudian beli lagi yang baru. Jadi tidak terlalu lama dalam kondisi buka tutup.

Khusus untuk produk seperti pasta gigi, deterjen, cairan pembersih lantai, pengharum cucian, diapers dan susu, saya lebih memilih kemasan besar. Karena memang jauh lebih murah ketimbang kemasan yang kecil. Pembelian produk dalam kemasan besar juga memperkecil peluang bolak-balik ke mini market untuk menambal kebutuhan yang habis di tengah bulan. Biasanya, acara bolak-balik ini turut menyumbang banyak pengeluaran di luar budget belanja bulanan. Kalau dihitung-hitung, jumlahnya lumayan juga buat ditabung.


3. Menggunakan uang cash untuk pembayaran



Kebetulan saya dan suami memang tidak memiliki kartu kredit. Dan belum memiliki niatan untuk mengajukan aplikasi, meskipun sudah puluhan yang menawarkan. Cara ini kami anggap sebagai salah satu bentuk penghematan dan perencanaan keuangan yang lebih riil

Sejauh ini, uang cash tetap menjadi alat pembayaran yang utama. Meskipun, dalam kondisi tertentu penggunaan debit ATM juga kerap dilakukan.

Nah, pembayaran dengan uang cash ternyata sangat mendukung program penghematan. Mengapa? Karena pengeluaran kita jadi lebih terkontrol. Beda ketika  berniat membayar dengan debit misalnya, belanja jauh lebih tidak terkontrol karena tidak memiliki acuan uang  yang ada di tangan. jadi keterusan, dech. Apa saja masuk ke keranjang belanjaan.


4. Memanfaatkan voucher belanja 



Voucher belanja juga lumayan membantu membatasi pengeluaran . Dengan begitu saya akan membuat perkiraan harga dan menomor satukan  produk yang benar-benar dibutuhkan, sehingga total pembelanjaan tidak melampaui voucher yang dimiliki.


5. Memanfaatkan promo

Beberapa produk biasanya rajin mengeluarkan promo beli 1 gratis 1, atau beli 2 gratis produk lain. Saya tidak akan melewatkan kesempatan ini, terlebih jika produk yang ditawarkan memang biasa saya gunakan dan benar-benar dibutuhkan. Jika bukan produk yang biasa digunakan atau tidak benar-benar butuh, ya saya akan lewati begitu saja.


6. Mengutamakan kebutuhan pokok rumah tangga

Biasanya nih, yang namanya belanja di supermarket pasti sekalian window shoping. Boleh dong, asal tidak sampai salah fokus. Untuk itu, utamakan memenuhi kebutuhan pokok rumah tangga. Nah, selebihnya silakan melihat-lihat. Cara ini sering saya lakukan terutama untuk melihat harga produk yang saya inginkan. Sehingga bisa membuat perencanaan saat ingin membelinya pada kesempatan berbelanja yang lain.


7. Tidak mudah tergiur diskon



Lain halnya dengan promo, untuk tawaran produk diskon biasanya saya lebih selektif. Selain memperhitungkan urgensinya, saya akan hitung ulang apakah harga diskon tersebut jatuhnya benar-benar ekonomis atau hanya terpaut  sekian rupiah dari harga normal. Karena beberapa produk cenderung mensyaratkan jumlah pembelian atau menaikkan harga jual sebelum memberikan diskon atau potongan harga.

Nah, kurang lebih 7 tips di atas yang biasa saya lakukan untuk menghemat belanja bulanan. Teman-teman juga pasti punya jurus jitunya bukan? Share, yuk!

 

Bakmi Mewah Mix with Raw Veggies, Cara Seimbang Menikmati Makanan Instan

|
Sudah lumayan lama sih,  sejak terakhir kali saya menikmati hangatnya semangkuk mie instan. Semenjak beranak dua, saya berusaha menahan keinginan mengonsumsi makanan instan, terutama mie yang sempat jadi favorit semasa kuliah. Eh, tapi saya nggak bilang takut gemuk lho, ya. Tipe badan saya memang subur dari sononya. Jadi gampang banget melar.  Urusan mengurangi konsumsi makanan instan lebih karena ingin kulit lebih segar saja. Jadi, cenderung memperbanyak makanan mentah di setiap porsi makan. 

Tapi, yang namanya urusan lidah kadang nggak bisa ditawar juga. Apalagi pas lagi hujan, trus lihat suami bawa semangkuk mie instan hangat ditambah cabe rawit merah. Slurupp!! *elapiler.  Bisa ditebak kan, apa yang terjadi selanjutnya? Yak, betul!! Saya pun langsung melipir ke dapur sambil membawa sekotak Bakmi Mewah. Hahaha... Mupeng!!

Nah,  karena sudah terbiasa makan gaya embek aka selalu ada yang mentah di dalam piring. Maka rasanya ada yang kurang, kalau cuma makan mie instan tanpa ada yang hijau-hijau di dalam mangkuknya. 

Nggak kurang akal, saya pun mencoba Bakmi Mewah yang saya mix sama sayuran mentah. Wah, jadi nggak instan lagi donk, karena lama masaknya? Tenang, ini simple banget koq. Caranya sama persis kayak masak mie instan biasa, cuma ada sedikit tambahan sayurnya. Mau tahu kan? 

Bakmi Mewah Mix with Raw Veggies


Taraaaa!!  Begini penampilan Bakmi Mewah Mix with Raw Veggies ala saya. Kali ini saya hanya menambahkan 3 jenis sayuran mentah plus sedikit kecap manis. Untuk membuat kesan basah, saya tidak meniriskan mienya terlalu lama. Jadi sisa air rebusan masih ada yang terbawa masuk ke mangkuk penyajian. 

Untuk step by stepnya sebagai berikut ya :

1.  Siapkan semua bahan. Sekotak Bakmi Mewah, sayuran mentah ( Selada, Tauge, Wortel, masing-masing setengah genggam), satu sendok kecap manis dan cabai rawit biar hohah, hehehe.

2. Seperti biasa, didihkan air kemudian masak mienya kurang lebih 2-3 menit saja, tergantung selera.

3. Sementara menunggu mie matang, kupas, potong dan cuci sayuran mentah. Tiriskan.

4. Angkat mie keriting, tiriskan sebentar saja sehingga mie masih basah.

5. Masukkan semua bahan ke dalam mangkuk. urutannya seperti di bawah ini:
  • Buka kemasan, tuang minyak wijen dan kecap asin ke dalam mangkuk.
  • Masukkan mie keriting, lalu campurkan dengan minyak dan kecap asin.
  • Masukkan sayuran mentah dan cabai yang dipotong kecil-kecil, campur kembali dengan mie yang telah tercampur rata dengan minyak dan kecap asin .
  • Tambahkan daun bawang kering bawaan Bakmi Mewah, dan saus sambal di bagian atas. Aduk kembali hingga rata.
  • Terakhir, tambahkan daging ayam dan jamur di bagian atas sama sedikit kecap manis jika suka. 


Step by step how to make

Hem... Yummy pokoknya. Aromanya langsung tercium saat mie keriting hangat disiram dengan bumbu ayam jamurnya. Selain itu, tekstur mie keritingnya yang kenyal cocok banget sama raw veggies kesukaan saya. Jadi semakin kemriyuk di mulut. Ahhh.. Nggak tahan saya, pengen segera memamah. Hahaha... sapi kali, memamah biak.

Nah, kalau makan mie instannya macam begini, saya merasa lebih aman aja, lebih seimbang asupannya. Tapi teman-teman nggak perlu khawatir, Bakmi Mewah ini memang non MSG. So, nggak perlu heran kalau rasanya soft banget kayak masakan rumah dan pastinya  aman buat dikonsumsi bumil juga busui. Anak-anak juga bolehlah sesekali saja.

Teman-teman juga bisa loh, bikin kreasi seperti ini. Karena basicnya, Bakmi Mewah ini udah enak, menurut saya sih  mau diapain aja juga tetep oke. Suerr!!

Oh ya, kreasi ini untuk mengikuti challenge dari Indonesian Foodblogger join with Bakmi Mewah ya. Untuk lebih jelasnya teman-teman bisa meluncur ke link di atas. Hadiahnya itu lho, kereeennn banget, kamera mirrorless idaman sejuta penggila kamera, uhuk!! Pengen!! So, wish me luck ya ^_^





Bika Bogor - Legitnya Serasi dengan Secangkir Kopi Pahit

|
Bika Bogor Mini
Beberapa waktu yang lalu, secara nggak sengaja saya jalan-jalan ke blog teman saya, Mbak Anita. Sebenarnya sih bukan tidak sengaja juga, tapi karena tertarik dengan foto postingannya yang sedikit menggoda.

Ya tentu saja menggoda, karena waktu itu, si empunya blog lagi posting artikel makanan. Jiwa ngemilable saya udah nggak bisa nahan untuk nggak tanya. Jadilah saya kirim messenger ke Beliaunya, perihal di mana belinya? Bisa delivery atau nggak? Yang paling penting, berapa harganya?
Mengapa saya tanya delivery? Karena makanan yang dipamerin mbakyu Anita di blognya waktu itu adalah oleh-oleh khas Bogor. Yang sepertinya baru tersedia di kota asalnya. Berhubung waktu itu sudah mendekati hari masuk sekolah, jadi kecil kemungkinan saya bisa bertandang langsung ke gerainya di Bogor.

Nah, yang namanya rezeki, memang nggak pernah tertukar ya. Apalagi rezekinya istri salihah, hehehe.. Amin.. Ibarat ngidam, rasanya plonggg bener, pas tahu apa yang kita pengenin kesampaian. Tapi saya nggak lagi ngidam loh, cuma saking penasaran aja sama kue mungil warna-warni yang ada di postingan Mbak Anita. 

Pas saya tanya bisa delivery or not, eee... Mbak Anita malah menawarkan diri untuk membelikan kue mungil yang bikin saya mupeng tadi. Kata Beliau akan dibantu sekalian dikirim via salah satu ekspedisi langganan. Ahh.. Mana bisa saya menolak, kepala langsung ngangguk-ngangguk di depan HP, tanda setuju. Jadilan satu box Bika Bogor Talubi terbang ke Jakarta via mas kurir langganan.

Urusan main ke Bogor, sebenarnya saya salah satu orang yang sering banget singgah ke sana di akhir pekan. Sekedar memberi makan rusa di Istana Bogor, ngadem ke Kebun Raya, atau singgah buat jajan aja. Berhubung anak-anak lumayan hobi naik commuter line. Jadi kami selalu ber-KRL ria, yaa, itung-itung refreshing, sekaligus menikmati pengapnya KRL jurusan Jakarta-Bogor. Hehehe.. 

Pastilah pengap, karena KRL jurusan dari dan ke Bogor bisa dibilang selalu penuh sesak. Jarang-jarang bisa duduk santai, kecuali jam 9 malam ke atas. Tapi karena ngefans banget sama moda transportasi yang satu ini, anak-anak saya selalu enjoy abis. Biasanya sih mereka lebih suka nyanyi-nyanyi atau becanda satu sama lain selama perjalanan yang kurang lebih memakan waktu 1 jam. 

Commuter Line, moda transportasi andalan

Beruntunglah saya, si Ibu dengan 2 anak. Karena sepenuh apapun KRL selalu dapat tempat duduk prioritas. Jadi nggak terlalu worry. Kebalikannya, suami selalu saja kebagian apesnya, kalau nggak full berdiri dari Jakarta-Bogor, paling-paling 2 stasiun menjelang  turun baru dapat tempat. Nasib bapak-bapak, kudu kuat.

Balik lagi soal Bogor. Selama ini, oleh-oleh khas Bogor itu ya nggak jauh-jauh dari Asinan, Ubi Talas mentah, Pisang Tanduk dan sesekali Bolu Talas kalau pas anak-anak kepengen aja. Nah, ternyata ada varian oleh-oleh baru yang jujur ya, saya bener-bener baru ngeh. Dari tampilannya yang eye catching, wajar saja kalau saya langsung tertarik untuk mencoba.


Satu kotak berisi 10 biji Bika Mini dengan 3 varian rasa

Keesokan paginya, sekotak Bika Bogor Mini mendarat dengan selamat di rumah kami. Karena sehari sebelumnya kami sudah melihat penampakannya dari blog mbak Anita, juga  di instagram, maka anak-anak pun nggak sabar untuk mencoba. 

Tampilan yang mungil  dengan tiga warna yang cerah, serta 3 varian rasa yang berbeda, tentu saja sangat menarik bagi mereka. Tanpa perlu menunggu lama, 7 buah Bika Bogor kandas hanya dalam  satu jam saja. *tepokjidat

Untungnya, saya masih sempat menyisakan 3 biji, sebagai teman minum kopi bersama suami. 

Nah, teman-teman pasti penasaran kan, bagaimana cita rasa Bika Bogor Talas Ubi ini? 


Maknyus!!

Pada gigitan pertama, teman-teman akan langsung merasakan betapa empuknya kudapan yang satu ini, Maknyuss! (meminjam istilah Pak Bondan Winarno) . Ditambah serat-serat bikanya juga nggak terlalu besar dan nggak kaku, jadi lembut di mulut. Selain itu kudapan ini juga nggak terlalu berminyak. Beda dengan bika jenis lain yang biasanya agak basah. Kalau istilah orang Jawa sih, Bika Bogor lebih keset.

Untuk varian Bika Mini, ukurannya memang pas untuk dijadikan kudapan. Nggak terlalu besar atau kekecilan, jadi nggak langsung kekenyangan. Anak saya yang usia 2 tahun saja, sekali makan langsung nyaplok 2 biji. Katanya enyak, anis (enak , manis). 

Nah, kalau si Kakak beda lagi. Dia malah tertarik sama warna-warni kue ini. Jadi sekali makan dia langsung ambil tiga warna yang berbeda, ungu, hijau dan kuning. Katanya lucu, mungil, imut warna-warni. Boneka kali yak, pakai acara imut-imut. Hahaha...


Legit, cocok dengan kopi pahit



Kalau buat saya dan suami, yang kopi pahit addict. Bika Bogor ini cocok banget buat mengimbangi rasa pahit dari secangkir kopi hitam kami. Apalagi kami memang jarang mengudap kue-kue manis, bisa dibilang Bika Bogor ini cenderung legit. Jadi pas banget kalau ketemu sama pahitnya kopi.

Rasa talasnya pun menurut kami tidak terlalu menonjol, jadi nyaman-nyaman saja di mulut. Kenapa saya bilang nyaman? Karena memang buat sebagian orang, mencoba cita rasa penganan jenis baru dengan bahan yang terbilang unik, Bisa jadi kurang nyaman di lidah. 


Oh ya, karena dibuat dari bahan alami, yaitu Talas dan Ubi. Maka kudapan ini memang tidak bertahan lama, maksimal 4 hari saja. Tapi nggak perlu khawatir, yakin deh, kue ini nggak bakalan tahan 4 hari. Di rumah saya saja langsung kandas dalam satu jam. *tutupmuka  *rakus

Talas Bogor, bahan baku Bika Bogor Talubi

Varian  rasa dan harga

Berdasarkan info yang saya terima dari, Mbak Anita. Sebenarnya ada beberapa varian lain dari Bika Bogor kalau kita datang langsung ke counternya. Berhubung saya cuma delivery, ya.. sedapatnya aja. Tapi jangan khawatir teman, berikut saya lampirkan hasil investigasi saya mengenai varian rasa Bika Bogor ini :


Credit pict to Instagram Bika Bogor
  • Kue Bika Bogor Talas :  dominan talas asli, warna ungu dari pewarna alami talas
  • Kue Bika Bogor Coco Pandan : aroma pandan, warna hijau khas daun pandan
  • Kue Bika Bogor Nangka : aroma & rasa buah nangka dengan warna khas nangka kekuningan
  • Kue Bika Bogor Ubi Madu : dominan Ubi Madu, rasa khas Ubi dan berwarna kekuningan
Soal harga, menurut saya sangat terjangkau. So, teman-teman nggak perlu khawatir. Satu box Bika Bogor berukuran kotak, yang biasanya dipotong-potong, dihargai Rp35.000,- Sedangkan Bika Mini seperti yang saya beli, hanya Rp29.000,- terdiri dari 10 buah Bika mungil. Murah banget, kan?


Di mana counternya?

Merasa kurang dengan sekotak oleh-oleh khas Bogor yang satu ini. Kami pun langsung searching di mana lokasi gerai Bika Bogor Talubi. Barangkali aja akhir pekan ini suami nggak ada tugas keluar, kami akan langsung angkat mini backpack menuju Bogor.*cusssGujesGujes

Nah, buat teman yang minat pengen nyoba juga, kalian bisa dateng ke sini ya Jalan Padjajaran No.20 M Bogor

Semakin penasaran kan? Yuk, segera merapat! Jangan lupa beli oleh-olehnya. Eh tapi yang penting, oleh-oleh khas Bogor, ya  Bika Bogor Talubi.
See you there!

Custom Post Signature

Custom Post Signature