Parenting Story, Mom's Life, Tips

Showing posts with label kuliner. Show all posts
Showing posts with label kuliner. Show all posts

Kreasi Menu Sarapan Gizi Seimbang dengan Produk Olahan So Good

|

Menu piring gizi seimbang so good
www.damaraisyah.com


Menyiapkan menu sarapan merupakan rutinitas pagi yang paling menantang bagi saya. Selain harus dimasak dalam waktu singkat, saya pun harus memastikan kandungan gizinya seimbang dengan tampilan menggugah selera. 

Kebetulan, dua anak saya ini memiliki selera makan yang ajaib. Yang kecil sangat gampang, sampai-sampai makanan jenis apapun bisa dilahapnya. Sedangkan yang besar, justru lumayan picky eater. Selain pemilih, Najwa cenderung kurang berani mencoba-coba makanan baru. Sehingga agak susah ksaat diajak food hunter.

Selain taste yang harus familiar di lidahnya. Najwa cenderung sangat memilih makanan, terutama dari bau dan tampilannya. Itulah kenapa saya berusaha menyajikan makanan yang tidak hanya memenuhi kebutuhan nutrisinya. Tapi juga kelihatan menarik, baik penyajian maupun variasinya.

Ayam Geprek Ala BukNaj

|


Resep Ayam Geprek


Sabtu pagi sengaja bermalas-malasan di depan lappy. Setelah blogwalking, balas WA, cek FIGjuga FB. Iseng-iseng saya mampir ke JTT. Pada tahu, kan? Just Try and Taste, food blog yang legend banget itu. Kalau nggak salah, saya mulai follow blog ini pada tahun 2013. Dulu cuma suka baca-baca saja, karena masih minim semangat untuk mempraktikkan resep-resepnya. Tapi sekarang kesempatan mulai ada. Sebenarnya, sih, lebih tepat disebut kepepet butuh masak buat bekal Najwa. Jadi ambil positifnya saja, kepepet yang jadi kesempatan untuk belajar hal baru.

Resep pertama yang saya coba dari JTT adalah Fudgy Brownies. Saya ingat banget rasanya super nyoklat. Duh,  malah jadi kepikiran mau praktik lagi. Setelah itu saya nyoba bikin Puding Roti Tawar, Nastar sama Putri Salju. Sayangnya, selama ini sifatnya selalu coba-coba. Jadi nggak ada greget mendokumentasikan karya.

Baru hari ini belajar ala-ala food blogger gitu. Mulai tahap awal menyiapkan bahan, saya sudah berniat untuk mendokumentasikannya. Ya, itung-itung buat dokumentasi pribadi aja, sih. Biar nggak lupa kapan pertama kali nyobain resep ini dan itu.


Mata saya pun tertuju pada resep Ayam Geprek di blog JTT. Merah cabainya, ketemu ayamnya yang crispy, kayaknya bakalan sedep untuk menu makan siang. Ditambah lalapan timun, kemangi, kacang panjang dan terong. Pasti tambah segar, pas banget sebagai pengisi perut di tengah cuaca Jakarta yang super panas.

Tanpa berpikir panjang, saya pun langsung mematikan lappy, berganti pakaian dan berangkat belanja ke warung dekat rumah. Tujuan utamanya membeli ayam dan lalapan, karena untuk bumbu yang lainnya saya sudah siap di rumah. Etdah gayanya siap, hehehe. Karena bumbunya memang minimalis dan simple banget, itu sebabnya ready di rumah dan  saya pun tertarik untuk mencoba.

Nah, di sini saya bagi resep Ayam Geprek ala BukNaj, alias saya. Lah! ngapain pakai istilah ala BukNaj? Simple aja, sih. Karena resep ini sudah saya modifikasi sesuai kemauan saya tapi atas saran si empunya blog juga, sih. Ada beberapa bahan yang saya skip dengan maksud lebih praktis. Hehehe, ketahuan , kan? Sebenarnya, sih, karena saya malas berlama-lama di dapur. Karena panas bin malas.

Buat Temans yang kepengen resep aslinya, sila buka di link berikut ya.


Resep Ayam Geprek ala BukNaj

Bahan

½ ekor ayam negeri, potong jadi 2 atau 3.

Bumbu

1. 2 bungkus tepung bumbu serbaguna.
2. Cabai merah keriting sesuai selera
3. Cabai rawit merah sesuai selera
4. 1 siung bawan putih
5. 2 sendok makan terasi yang sudah digoreng sangria/ dipanggang
6. Garam secukupnya
7. Gula merah secukupnya.
8. Jeruk nipis
9. Jeruk limau
10. Minyak untuk menggoreng ayam

Bahan pelengkap

1. Aneka macam sayuran mentah untuk lalap, sesuai selera
2. Nasi putih
Cara  memasak

1. Cuci bersih ayam negeri yang sudah dipotong menjadi 2 atau 3 bagian. Pada bilasan terakhir, baluri dengan air jeruk nipis untuk menghilangkan bau amis.

Resep Ayam Geprek

2. Tiriskan ayam dan sisihkan.
3. Siapkan 2 wadah untuk tepung serbaguna. 1 wadah untuk balura/ adonan basah, sedangkan wadah yang lain untuk tepung kering.
4. Tuang adonana/baluran basah pada ayam, ratakan hingga seluruh bagian ayam tertutup adonan.


Resep Ayam Geprek

5. Gulingkan ayam yang sudah dibaluri dengan adonan basah pada tepung kering.

Resep Ayam Geprek

6. Panaskan minyak goreng, usahakan minyak yang digunakan agak banyak, sehingga ayam terendam dalam penggorengan.
7. Masukkan ayam yang telah dibaluri tadi ke dalam minyak yang sudah panas.
8. Goreng hingga kuning kecoklatan atau sesuai selera. Angkat dan tiriskan.
9. Siapkan bahan untuk sambal korek. Cabai merah keriting, cabai rawit merah, bawang putih, garam, gula merah, terasi. Haluskan menggunakan coek dan uleg-an.


Resep Sambal Korek

10. Panaskan kembali minyak bekas menggoreng ayam. Setelah benar-benar panas, ambil sedikit lalu siramkan ke atas sambal korek yang telah halus. Nanti akan terdengar suara cess… Cara ini akan membuat sambal menjadi setengah matang dan aromanya semakin merebak.
11. Ambil ayam yang sudah digoreng, letakkan di atas sambal korek lalu geprek/ penyet hingga ayam tercampur pada sambal.


Resep Ayam Geprek

12.Garnish dengan kemangi dan jeruk limau untuk menambah aroma segar, sekaligus sebagai lalapan. Sedangkan jeruk limau bisa diperas di atas sambal sebelum atau sesudah ayam digeprek.


Gampang banget, kan? Iya, donk, karena resep Ayam Geprek ini sudah benar-benar saya sederhanakan. Penggunaan tepung serbaguna telah memangkas waktu untuk mempersipkan bumbu halus. Secara otomatis, bahan yang digunakan pun menjadi lebih minimalis.

Sedangkan penggunaan jeruk limau, terasi dan gula merah. Sifatnya suka-suka saja, sesuai selera masing-masing. Kalau keluarga saya memang terasi minded, jadi susah mau skip bahan yang ini.

Hidangan Ayam Geprek ini sangat cepat disiapkannya. Tidak lebih dari 30 menit untuk menyajikannya hingga sampai di meja makan. Soal rasanya, hem,… mantap! Cocok banget sama lidah kami yang doyan sambal plus lalapan. Ditambah nasi putih hangat, ayam satu coek langsung kandas, hanya tersisa tulangnya saja.

Resep Ayam Geprek


Teman-teman juga pasti pernah berkreasi dengan ayam, kan? Boleh, dong, sharing resepnya. Happy cooking!


-DNA-

Makaroni Sayur - Jurus Jitu saat DuoNaj GTM Kambuhan

|


Paling geregetan kalau sudah capek-capek masak, belanja tak kurang lima lembar sepuluh ribuan. Eeee ... DuoNaj malah kompakan menolak piring dan kawan-kawannya. Ditambah suami yang paling cuma sekali makan di rumah. Apa iya saya harus bersihin semua yang ada di meja makan? Lha pantesan sudah program apa saja timbangan nggak juga bergeser ke kiri. Rupanya satu program yang terlewat saya lakukan. Menolak menjadi ibu penyayang yang selalu sayang jika makanan tak dihabiskan. Duh ...



Kadang saya merasa dilema. Katanya ibu rumah tangga, tapi yang namanya masak itu super malesnya. Kalau sesekali lagi mood masak, koq ya pas anak-anak lagi beraksi GTM sama ibunya. Sampai akhirnya saya akali, Senin, Selasa, Rabu, saya usahakan masak lengkap mulai sarapan sampai makan malam. Kamis, Jumat biasanya sarapan beli, masak agak siangan, menjelang jam makan siang. Sabtu sama Minggu, saya tanya dulu acara suami. Kalau sudah rencana main keluar, so pasti saya nggak masak. Tapi kalau di rumah saja, saya akan ajak suami masak barengan. Ciee .. sok-sok an romantis, hehehe... Maksud saya sih, biar sesuai selera yang bersangkutan. Jadi makanan pasti ludes tanpa perlu saya bertugas menghabiskan.

Nah, khusus menghadapi DuoNaj yang selera makannya ajaib (maksudnya kalau pas doyan bisa bikin saya kewalahan nyetok logistik, kalau lagi nggak selera dijamin dompet saya nggak berkurang isinya). Saya punya trik tersendiri untuk menyiasatinya. Salah satunya dengan menu andalan yang biasanya sukses dilahap saat selera makan hampir mendekati aksi GTM.

Makaroni/ pasta sebagai pengganti karbohidrat (pixabay)



Selain menyediakan stock sereal sama Pisang Ambon yang belakangan jadi kudapan favorit mereka. Makaroni telah menjadi pengganti bahan makanan utama untuk anak-anak. Mau diolah apa saja, DuoNaj ini selalu lahap memakannya. Awalnya, mereka cuma doyan kalau saya campurkan dengan Sup. Tapi sekarang, dibikin Makaroni Keju atau Schotel pun mereka lahap.

Nah, salah satu olahan makaroni yang paling mereka suka, dan menurut saya sudah mencukupi kebutuhan pengganti makanan utama adalah olahan Makaroni Sayur. Awalnya karena saya nggak mau ribet dan butuh memasak cepat, akhirnya jadi kecanduan bikin sayur ini. Caranya sangat gampang, bahan yang dibutuhkan pun sangat sedikit. 

Sayur kesukaan najib mulai bayi (pixabay)

Bahan-bahannya:
1. Makaroni 2 ons
2. Wortel 2 biji
3. Brokoli 1 bonggol
4. Jagung manis 1 bonggol

Bumbu :
1. Bawang merah1 siung
2. Bawang putih 1 siung
3. Bawang bombay 1/2 siung
4. Merica, gula, garam secukupnya.
 

Cara memasak:
1. Didihkan air, rebus makaroni sampai setengah empuk. Angkat tiriskan
2. Panaskan minyak di wajan, tumis bawang bombay disusul duo bawang yang telah diiris tipis. Tunggu agak layu.
3. Masukkan wortel dalam tumisan bawang, aduk, tunggu layu kembali. Masukkan air secukupnya untuk membantu merebus wortel.
4. Masukkan brokoli dan jagung, aduk sebentar lalu tutup wajan.
5. Setelah semua sayuran setengah empuk, masukkan makaroni rebus. Bumbui dan didihkan kembali hingga matang. Jika ingin sedikit berkuah, teman-teman bisa tambahkan air.
6. Setelah matang, angkat dan siap disantap para balita. 

Menu ini sebenarnya seperti Sup, sih. Tapi saya sengaja tidak menggunakan kaldu. Terlebih kaldu sapi atau ayam. Tujuannya untuk memberikan rasa segar dan ringan. Sehingga cocok untuk kondisi mulut anak yang sedang tidak berselera.

Terkadang, Makaroni Sayur  saya jadikan menu bekal sekolah Najwa.


Di samping itu, anak-anak saya memang tidak terlalu suka makanan berkuah kaldu. Dalam satu minggu, paling hanya sekali saja membuat sayur dengan kaldu ayam atau daging. Selebihnya mereka lebih suka sayuran bening yang cuma dibumbui duo bawang.

Nah, simple kan? Buat saya yang nggak pinter masak, menu simple seperti ini sudah jadi andalan. Selain cepat, anak-anak pun doyan. Untuk mencukupi kebutuhan nutrisi lainnya, kita bisa siasati di kudapan atau menu pada jam makan lain. Jangan lupa, kita sedang menghadapi anak GTM kambuhan. Nggak perlu terlalu memaksa agar jam makan nggak semakin menakutkan buat mereka.

Selamat memasak! ^_^

Bika Bogor - Legitnya Serasi dengan Secangkir Kopi Pahit

|
Bika Bogor Mini
Beberapa waktu yang lalu, secara nggak sengaja saya jalan-jalan ke blog teman saya, Mbak Anita. Sebenarnya sih bukan tidak sengaja juga, tapi karena tertarik dengan foto postingannya yang sedikit menggoda.

Ya tentu saja menggoda, karena waktu itu, si empunya blog lagi posting artikel makanan. Jiwa ngemilable saya udah nggak bisa nahan untuk nggak tanya. Jadilah saya kirim messenger ke Beliaunya, perihal di mana belinya? Bisa delivery atau nggak? Yang paling penting, berapa harganya?
Mengapa saya tanya delivery? Karena makanan yang dipamerin mbakyu Anita di blognya waktu itu adalah oleh-oleh khas Bogor. Yang sepertinya baru tersedia di kota asalnya. Berhubung waktu itu sudah mendekati hari masuk sekolah, jadi kecil kemungkinan saya bisa bertandang langsung ke gerainya di Bogor.

Nah, yang namanya rezeki, memang nggak pernah tertukar ya. Apalagi rezekinya istri salihah, hehehe.. Amin.. Ibarat ngidam, rasanya plonggg bener, pas tahu apa yang kita pengenin kesampaian. Tapi saya nggak lagi ngidam loh, cuma saking penasaran aja sama kue mungil warna-warni yang ada di postingan Mbak Anita. 

Pas saya tanya bisa delivery or not, eee... Mbak Anita malah menawarkan diri untuk membelikan kue mungil yang bikin saya mupeng tadi. Kata Beliau akan dibantu sekalian dikirim via salah satu ekspedisi langganan. Ahh.. Mana bisa saya menolak, kepala langsung ngangguk-ngangguk di depan HP, tanda setuju. Jadilan satu box Bika Bogor Talubi terbang ke Jakarta via mas kurir langganan.

Urusan main ke Bogor, sebenarnya saya salah satu orang yang sering banget singgah ke sana di akhir pekan. Sekedar memberi makan rusa di Istana Bogor, ngadem ke Kebun Raya, atau singgah buat jajan aja. Berhubung anak-anak lumayan hobi naik commuter line. Jadi kami selalu ber-KRL ria, yaa, itung-itung refreshing, sekaligus menikmati pengapnya KRL jurusan Jakarta-Bogor. Hehehe.. 

Pastilah pengap, karena KRL jurusan dari dan ke Bogor bisa dibilang selalu penuh sesak. Jarang-jarang bisa duduk santai, kecuali jam 9 malam ke atas. Tapi karena ngefans banget sama moda transportasi yang satu ini, anak-anak saya selalu enjoy abis. Biasanya sih mereka lebih suka nyanyi-nyanyi atau becanda satu sama lain selama perjalanan yang kurang lebih memakan waktu 1 jam. 

Commuter Line, moda transportasi andalan

Beruntunglah saya, si Ibu dengan 2 anak. Karena sepenuh apapun KRL selalu dapat tempat duduk prioritas. Jadi nggak terlalu worry. Kebalikannya, suami selalu saja kebagian apesnya, kalau nggak full berdiri dari Jakarta-Bogor, paling-paling 2 stasiun menjelang  turun baru dapat tempat. Nasib bapak-bapak, kudu kuat.

Balik lagi soal Bogor. Selama ini, oleh-oleh khas Bogor itu ya nggak jauh-jauh dari Asinan, Ubi Talas mentah, Pisang Tanduk dan sesekali Bolu Talas kalau pas anak-anak kepengen aja. Nah, ternyata ada varian oleh-oleh baru yang jujur ya, saya bener-bener baru ngeh. Dari tampilannya yang eye catching, wajar saja kalau saya langsung tertarik untuk mencoba.


Satu kotak berisi 10 biji Bika Mini dengan 3 varian rasa

Keesokan paginya, sekotak Bika Bogor Mini mendarat dengan selamat di rumah kami. Karena sehari sebelumnya kami sudah melihat penampakannya dari blog mbak Anita, juga  di instagram, maka anak-anak pun nggak sabar untuk mencoba. 

Tampilan yang mungil  dengan tiga warna yang cerah, serta 3 varian rasa yang berbeda, tentu saja sangat menarik bagi mereka. Tanpa perlu menunggu lama, 7 buah Bika Bogor kandas hanya dalam  satu jam saja. *tepokjidat

Untungnya, saya masih sempat menyisakan 3 biji, sebagai teman minum kopi bersama suami. 

Nah, teman-teman pasti penasaran kan, bagaimana cita rasa Bika Bogor Talas Ubi ini? 


Maknyus!!

Pada gigitan pertama, teman-teman akan langsung merasakan betapa empuknya kudapan yang satu ini, Maknyuss! (meminjam istilah Pak Bondan Winarno) . Ditambah serat-serat bikanya juga nggak terlalu besar dan nggak kaku, jadi lembut di mulut. Selain itu kudapan ini juga nggak terlalu berminyak. Beda dengan bika jenis lain yang biasanya agak basah. Kalau istilah orang Jawa sih, Bika Bogor lebih keset.

Untuk varian Bika Mini, ukurannya memang pas untuk dijadikan kudapan. Nggak terlalu besar atau kekecilan, jadi nggak langsung kekenyangan. Anak saya yang usia 2 tahun saja, sekali makan langsung nyaplok 2 biji. Katanya enyak, anis (enak , manis). 

Nah, kalau si Kakak beda lagi. Dia malah tertarik sama warna-warni kue ini. Jadi sekali makan dia langsung ambil tiga warna yang berbeda, ungu, hijau dan kuning. Katanya lucu, mungil, imut warna-warni. Boneka kali yak, pakai acara imut-imut. Hahaha...


Legit, cocok dengan kopi pahit



Kalau buat saya dan suami, yang kopi pahit addict. Bika Bogor ini cocok banget buat mengimbangi rasa pahit dari secangkir kopi hitam kami. Apalagi kami memang jarang mengudap kue-kue manis, bisa dibilang Bika Bogor ini cenderung legit. Jadi pas banget kalau ketemu sama pahitnya kopi.

Rasa talasnya pun menurut kami tidak terlalu menonjol, jadi nyaman-nyaman saja di mulut. Kenapa saya bilang nyaman? Karena memang buat sebagian orang, mencoba cita rasa penganan jenis baru dengan bahan yang terbilang unik, Bisa jadi kurang nyaman di lidah. 


Oh ya, karena dibuat dari bahan alami, yaitu Talas dan Ubi. Maka kudapan ini memang tidak bertahan lama, maksimal 4 hari saja. Tapi nggak perlu khawatir, yakin deh, kue ini nggak bakalan tahan 4 hari. Di rumah saya saja langsung kandas dalam satu jam. *tutupmuka  *rakus

Talas Bogor, bahan baku Bika Bogor Talubi

Varian  rasa dan harga

Berdasarkan info yang saya terima dari, Mbak Anita. Sebenarnya ada beberapa varian lain dari Bika Bogor kalau kita datang langsung ke counternya. Berhubung saya cuma delivery, ya.. sedapatnya aja. Tapi jangan khawatir teman, berikut saya lampirkan hasil investigasi saya mengenai varian rasa Bika Bogor ini :


Credit pict to Instagram Bika Bogor
  • Kue Bika Bogor Talas :  dominan talas asli, warna ungu dari pewarna alami talas
  • Kue Bika Bogor Coco Pandan : aroma pandan, warna hijau khas daun pandan
  • Kue Bika Bogor Nangka : aroma & rasa buah nangka dengan warna khas nangka kekuningan
  • Kue Bika Bogor Ubi Madu : dominan Ubi Madu, rasa khas Ubi dan berwarna kekuningan
Soal harga, menurut saya sangat terjangkau. So, teman-teman nggak perlu khawatir. Satu box Bika Bogor berukuran kotak, yang biasanya dipotong-potong, dihargai Rp35.000,- Sedangkan Bika Mini seperti yang saya beli, hanya Rp29.000,- terdiri dari 10 buah Bika mungil. Murah banget, kan?


Di mana counternya?

Merasa kurang dengan sekotak oleh-oleh khas Bogor yang satu ini. Kami pun langsung searching di mana lokasi gerai Bika Bogor Talubi. Barangkali aja akhir pekan ini suami nggak ada tugas keluar, kami akan langsung angkat mini backpack menuju Bogor.*cusssGujesGujes

Nah, buat teman yang minat pengen nyoba juga, kalian bisa dateng ke sini ya Jalan Padjajaran No.20 M Bogor

Semakin penasaran kan? Yuk, segera merapat! Jangan lupa beli oleh-olehnya. Eh tapi yang penting, oleh-oleh khas Bogor, ya  Bika Bogor Talubi.
See you there!

Custom Post Signature

Custom Post Signature