Parenting Story, Mom's Life, Tips

Diary BukNaj #1 - ASI Lancar selama Puasa? Bisa!

|

Salah satu kekhawatiran ibu menysui saat menjalankan ibadah puasa adalah menyusutnya pasokan ASI untuk buah hati tercinta. Apalagi, jika si kecil berusia kurang dari 6 bulan, sehingga kebutuhan ASI masih penuh tanpa support dari MPASI sebagai tambahan.

Rupanya, kekhawatiran serupa sedang dialami seorang Teman yang  masih menyusui bayinya yang baru berusia 3 bulan. Menurut cerita teman saya ini, kebutuhan ASI bayi laki-lakinya lumayan banyak. Dalam satu hari, frekuensi menyusunya bisa lebih dari 15 kali. Wajar jika akhirnya Teman saya merasa khawatir si kecil bakal kurang asupan karena pasokan ASI ibunya menurun selama puasa.

Permasalahan inilah yang pada akhirnya menghubungkan kami dalam sebuah obrolan mengenai tips menjaga ASI tetap lancar selama berpuasa. Saya sendiri yang telah melalui 4 kali ramadan sebagai busui, sempat mengalami kekhawatiran serupa saat menyusui anak kedua. Hal ini lebih dikarenakan pengalaman gagal saat menyusui anak mbarep yang terus membekas dalam ingatan saya.

Memang benar Islam telah memberikan keringanan bagi ibu menyusui dalam hal menjalankan ibadah puasa. Sepetti halnya keringanan yang diberikan pada ibu hamil atau orang yang sedang sakit. Tapi, mengingat begitu istimewanya bulan suci ini. Sebagian besar ibu tetap berusaha menjalankan ibadah puasa meskipun pada masa-masa menyusui balita.

Menurut sharing ringan bersama beberapa teman sesama busui, juga pengalaman saya sendiri saat menyusui anak kedua. Sebenarnya bukan hal yang mustahil saat seorang ibu tetap berpuasa meskipun sedang menyusui anaknya. Sudah banyak teman-teman saya yang berhasil, bahkan bayi-bayi mereka pun tidak mengalami gangguan apapun selama masa-masa itu.

Baca juga : Permasalahan yang Kerap Dialami Ibu saat Menyapih Anak

Tapi balik lagi ya, kondisi setiap ibu dan bayi tidak bisa disamakan. Sehingga, keberhasilan seorang ibu tidak perlu dijadikan patokan ketika Temans berniat menjalankan rencana serupa. Pahami dulu kondisi ibu dan balita, baru kemudian buatlah keputusan yang seharusnya juga tidak perlu terlalu kaku selama menjalankannya.

Melalui 4 kali ramadan sebagai busui tentu saja banyak suka dukanya. Masa-masa bersma Najwa bisa dibilang jauh lebih berat ketimbang 42 bulan berikutnya mengawali puasa bersama Najib. Selain masalah volume ASI yang memang agak seret sejak awal menyusui. Faktor emosi dan kesiapan diri sebagai busui turut menentukan berhasil atau tidaknya. 

Hal inilah yang kemudian mengajarkan saya bahwa pada dasarnya semua ibu BISA. Hanya saja, faktor masalah yang berbeda, tapi sering kali penanganannya disamaratakan. Sehingga bukan solusi yang didapat, tapi perasaan tidak mampu karena merasa telah mencoba berbagai cara namun tak kunjung ada hasilnya.

Pada beberapa kasus, seperti juga yang saya alami bersama Najwa. Kondisi anak yang menjadi lebih rewel daripada biasanya seolah meng-aminkan pendapat bahwa kualitas ASI selama puasa menjadi kurang prima. Begitu pun angka kecukupannya dianggap kurang, sehingga si kecil menjadi rewel karena lapar. 

Berdasarkan pengalaman tersebut, ada baiknya mencari tahu dulu penyebab anak menjadi lebih rewel dari biasanya. Bukan langsung men-judge  ada masalah dengan ASI ibunya. Karena secara tidak langsung, judge yang dialamatkan bagi seorang ibu sangat memengaruhi kondisi psikisnya. Nah, justru pada kondisi psikis yang tidak stabil inilah gangguan pada ASI bisa dengan mudah terjadi.

Berbekal cerita drama kurang berhasil dalam puasa dan menyusui anak pertama. Saya pun gencar memelajari beberapa tips sukses memberi ASI pada saat puasa. Bekal inilah yang akhirnya sangat membantu saat harus menjadi busui pada tahun ketiga ramadan, bersama anak kedua. 

Selain telah menemukan tips-tipsnya, saya merasa lebih ringan saat menyusui anak kedua karena dari segi usia bayi juga lebih tua ketimbang semasa ramadan dengan anak pertama. Dan lagi pasokan ASI saat melahirkan anak kedua memang jauh lebih lancar dibandingkan saat menyusui Najwa.

Berbagai tips agar ASI tetap lancar selama puasa sebenarnya sudah banyak diposting di berbagai media online, baik blog maupun portal berita khusus wanita. Tapi nggak pa pa lah ya, akan saya tulis ulang berdasarkan pengalaman yang telah saya lakukan sebagai ibu yang pernah mengalami gagal sekaligus berhasil menjadi busui selama ramadan.





Memastikan Kondisi Psikis Ibu Stabil

Sumber gambar : Pixabay
Temans pasti sudah sering mendengar, bahwa kondisi psikis seorang ibu sangat menentukan keberhasilan pemberian ASI pada bayinya. Dan menurut saya sih, super bener banget statement ini. Karena apapaun yang kita lakukan dengan hati bahagia pasti berujung maksimal hasilnya.

Dalam hal memberi ASI, rasa senang atau bahagia pada seorang ibu dapat memicu produksi hormon oksitosin. Hormon yang biasa disebut "hormon cinta" ini dapat merangsang keluarnya ASI, yang sebelumnya telah dirangsang produksinya oleh hormon prolaktin.

Temans bisa mengamati cara kerja oksitosin pada saat bayi mengisap payudara kita. Payudara yang mengerut seperti diperas, menunjukkan ASI yang telah diproduksi mulai mengalir dari pabrik susu menuju gudangnya. Kedua hormon ini, baik oksitosin maupun prolaktin saling mendukung satu sama lain untuk dapat menjaga pasokan ASI tetap lancar selama puasa. Dan, untuk memastikan keduanya bekerja secara maksimal, maka kondisi psikis ibu harus stabil bahkan usahakan selalu bahagia. 

Baca juga : Lika-liku Menyapih Anak


Konsumsi Sayur, Buah dan Protein dalam Jumlah Cukup

Sumber gambar : Pixabay

Banyak yang mengatakan bahwa sugesti dari ibu sangat menentukan banyak sedikitnya ASI yang dihasilkan. Hal ini juga berlaku untuk jenis-jenis makanan yang dikonsumsi selama menjadi busui. Maksudnya, makan apa saja asal sugesti kita oke, ya hasilnya bakalan oke.

Nggak salah juga sih, karena sudah banyak yang membuktikannya. Tapi, buat saya pribadi jenis makanan seperti sayur , buah dan protein baik hewani maupun nabati sangat membantu menjaga pasokan dan kualitas ASI. Justru yang saya rasakan, konsumsi karbohidrat dalam jumlah besar tidak terlalu memberi efek yang signifikan.


Konsumsi Air Putih Jangan Sampai Kurang dari 3 Liter per Hari

Sumber gambar: Pixabay

Meskipun bulan puasa, konsumsi air putih harus tetap dijaga ya. Usahakan selalu mendahulukan air putih ketimbang minuman manis lainnya. Kolak Pisang atau Es Buah memang segar dan menimbulkan efek senang saat berbuka. Tapi jangan sampai konsumsinya berlebihan sehingga tidak menyisakan ruang utnuk air putihnya.

Temans bisa mengkalkulasi sendiri manajemen air putih yang sesuai dengan kondisi tubuhnya. Kalau saya, 1 liter pertama saya konsumsi mulai dari berbuka hingga selesai waktu magrib. 1 liter lagi mulai isya hingga menjelang tidur. Nah, sisa 1 liter mulai sebelum sahur hingga imsak.


Konsumsi ASI Booster jika Dirasa Perlu

Sumber gambar: Pixabay

Kalau sekarang jauh lebih mudah menemukan ASI Booster karena sudah banyak dijual dalam bentuk kemasan, baik di apotik maupun toko perlengkapan bayi. Tapi, kalau saya sendiri sudah merasa cocok dengan Susu Kedelai tawar booster ASInya. Kebetulan kami punya langganan tukang Susu Kedelai yang bener-bener masih fresh saat diantar. Masih hangat dan belum ditambahkan perasa apapun di dalamnya.

Mungkin faktor sugesti juga ya, saya ngerasa payudara selalu penuh saat mengonsumsi Susu Kedelai pada waktu makan sahur atau menjelang tidur. Kelenjar ASI pun terasa kencang hingga menyembur saat disusukan pada si kecil. 

Temans boleh tentukan sendiri booster ASI yang dirasa cocok untuk dirinya. Itupun hanya jika Temans merasa perlu untuk menjaga pasokan ASI tetap lancar.

Istirahat Cukup

Sumber gambar : Family Share

Yang namanya ramadan nih, memang biasanya waktu istirahat kita jadi berkurang. Selain karena harus bangun pagi untuk mempersiapkan sahur. Rasanya sayang juga ya kalau tidak memanfaatkan bulan ini untuk memperbanyak ibadah sunah.

Tapi tetep ya,  harus pandai-pandai atur waktu agar tidak sampai kekurangan jatah istirahat. Meskipun ramadan, kegiatan sehari-hari sebagai ibu pastinya tidak berkurang, kan? Tapi justru malah bertambah. Untuk itu, manajemen waktu istirahat harus diatur sedemikian rupa. 

Dulu, waktu masih bekerja, saya selalu sempatkan sekitar 30 menit berdiam diri di mushola kantor. Ya, meskipun nggak benar-benar tidur. Setidaknya saya memiliki cukup waktu untuk menenangkan pikiran dan mengistirahatkan mata.

Begitu jadi ibu rumah tangga, saya selalu mengambil jatah tidur siang bersama si kecil. Meskipun hanya 30 menit juga, tapi lumayanlah. Karena sisa waktu selama si kecil tertidur harus saya manfaatkan untuk beberes dan melakukan pekerjaan rumah lainnya.

Baca juga : Najib dan Tumbuh Kembangnya setelah Disapih

Pada dasarnya sih, untuk urusan capek baik IRT maupun ibu bekerja sama saja. Hanya faktor kebebasan waktu yang membedakan. Toh, di manapun tempatnya semua ibu pada akhirnya menjadi ibu bekerja, kok. Hehehe … 

Selama menyusui anak kedua saya termasuk rajin mempraktikkan tips-tips di atas. Dari segi hasil memang jauh berbeda dengan anak pertama. Selain ASI lancar puasa pun bisa jalan barengan sama seluruh kegiatan momong 2 bocah dan beresin printilan di rumah.  

Nah, buat teman-teman yang masih galau dengan ASInya, apalagi sekarang sudah menjelang akhir 10 hari pertama. Yuk, buang dulu galaunya! Setelah itu, cobain deh tips sederhana dari saya. Ya, barangkali ada yang cucok gitu kan jadi seneng juga sayanya. Hihi … 

Meskipun bukan the expert dalam hal perASIan, pernah gagal juga, tapi saya dukung banget buat Temans yang terus berjuang untuk mengASI sambil berpuasa. 

Happy breastfeeding , Temans!






Ramadhan - Tradisi Boleh Beragam tapi Makna Tetap Seragam

|


Ramadhan selalu menghadirkan rindu. Rindu akan segala keistimewaan yang menjadikannya berbeda dengan sebelas bulan lainnya. Rindu dengan suasana religi yang begitu kental, terlebih karena kita hidup di negara yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam. Rindu dengan segala tradisi yang acap kali berbeda antara satu dan lain tempat. Rindu akan keluarga besar, masa kecil, sahabat dan makanan kampung yang berasa beda meskipun resep keluarga telah “diboyong” ke ibukota.

 

Ya, begitulah Ramadhan. Kalau tak beda maka tak perlu  menyebutnya istimewa sehingga sangat dinantikan seluruh umat di seluruh penjuru dunia. Bahkan adzan Magrib yang menggema saat senja mulai berubah warna, menjadi sebuah perantara akan memori masa kecil yang tak sekedar berharga. Namun sarat dengan nilai moral dan pendidikan dalam kehidupan nyata. 

Dulu, sore hari sebelum Magrib terakhir menjelang Ramadhan. Orang-orang tua selalu mengingatkan kami untuk mandi keramas sebagai simbol menyucikan diri. Padusan, sebuah tradisi membersihkan diri tidak hanya dari kotoran ataupun najis yang menempel di badan, namun tradisi ini lebih pada simbol untuk membasuh segala hal buruk yang melekat dalam diri, terlebih hati. Sehingga jasmani dan rohani bersih ketika melalui bulan suci.

Beberapa hari sebelum bulan suci ini tiba, warga nampak berduyun-duyun menyambangi makam keluarganya. Tak hanya mengirimkan doa sebagai inti dari ziarah kubur yang dilakukan. Besik kubur adalah tradisi lain yang urung dilewatkan. Membersihkan kotoran atau bahkan sampah. Menyapu sekitar area makam, membersihkan nisan dengan lap kain basah, memotong rumput yang terlalu tinggi dan mengganggu peziarah. 

Tak lupa kembang tujuh rupa ditaburkan serta menyiram air di bagian atas nisan. Meskipun kebiasaan ini sudah mulai ditinggalkan sebagian umat Islam. Tapi di kampungku, hal serupa masih melekat erat dan selalu dilakukan peziarah yang datang. Mungkin juga di kampung teman-teman.

Bagi saya pribadi, berziarah kubur tidak hanya tentang mengingat kematian. Kerinduan akan sosok almarhum papa sering kali menghadirkannya dalam mimpi-mimpi. Maka mengunjungi “rumah barunya” menjadi sarana berkomunikasi, meskipun hanya melalui lantunan ayat suci.

Selain dua tradisi di atas, Megengan merupakan ritual lain yang sayang jika dilewatkan. Kini, setelah tinggal di Jakarta dan menjadi orang tua. Saya sering membayangkan alangkah senangnya  jika DuoNaj memiliki kesempatan membawa pulang nasi lengkap dengan lauk pauknya dalam kotak kardus nasi.

Sepaket nasi putih atau Nasi Gurih dengan Sayur Lodeh Kentang, Mi Goreng, Tempe Tahu Bumbu Rujak, Telur rebus, Kerupuk Udang, Pisang dan Apem sungguh nikmat jika dimakan bersama dengan teman-teman di masjid. Dulu, sebelum ada kotak kardus nasi. Ibu selalu menggunakan Tebok atau nampan bulat dari anyaman bambu yang dialasi daun pisang sebagai tempatnya. 

Seiring perkembangan zaman, penggunaan besek atau kotak anyaman bambu kecil mulai digunakan meskipun tak berlangsung lama. Maraknya produk keranjang nasi dari plastik dan kemudian kotak kardus telah menggeser segala keunikan masa lalu. Menggantinya dengan dunia baru yang serba praktis dan katanya lebih higienis.

Segala tradisi itu hanyalah segelintir kenangan masa kecil akan Ramadhan yang terlalu lekat dalam hati. Buka bersama di masjid, berebut tempat dekat jendela saat tarawih.  Menelan sebagian air mentah saat mengambil air wudlu atau mandi menjadi cerita tersendiri bagi saya saat mulai menjalankan ibadah di bulan Ramadhan.

Waktu berlalu, kehidupan baru sebagai warga di ibukota membawa segudang cerita yang sungguh berbeda. Tak ada lagi tawa ceria dan kenakalan anak-anak kampung di masjid. Sebagai ibu, saya harus melihat DuoNaj melalui Ramadhan biasa-biasa saja. Hampir tak ada tradisi khusus yang kami lalui selama Ramadhan. Jakarta tetap “serba cepat” dan panas seperti hari biasa.

Tradisi Ramadhan ala kampung boleh jadi terlewat bagi kami yang di kota. Tapi nilai dan bagaimana memaknai Ramadhan harusnya bisa seragam bagi seluruh umat Islam. Puasa bukan hanya tentang lapar dan haus selama seharian. Untuk kemudian berpesta dengan aneka hidangan yang kerap kali berlebihan. Menuruti rasa “ingin” di lidah dan otak. Bukan kebutuhan tubuh yang sebenarnya tak banyak berbeda dengan hari biasa.

Ramadhan adalah momentum pengendalian. Mengendalikan jiwa dan juga raga. Mengendalikan diri untuk melawan hawa nafsu yang bisa jadi lebih dari sekedar untuk menyeruput segelas kopi di pagi hari karena sudah terlanjur menjadi kebiasaan. Tapi mengendalikan hati, pikiran, mata, mulut dan tangan yang sering kali lebih tajam dari ucapan lisan. 

Sungguh bahagia apabila diri mampu menuntaskan bulan ini dengan kemenangan. Bukan semata-mata karena gegap gempita hari raya di ujung pergantian bulan. Namun karena nilai, makna dan kemampuan mengendalikan diri yang harusnya tertinggal bagi setiap muslim selama melalui ujian Ramadhan.

Nilai-nilai yang membawa umat pada tujuan yang sama dalam kebaikan, kedamaian dan ketentraman. Tanpa perlu mencari tahu tradisi seperti apa yang biasa dilakukan. Besik, Padusan atau Megengan hanyalah simbol saja. Tanpa mengurangi kaidah kita sebagai manusia yang berhijrah menuju kebaikan.

Selamat menjalankan ibadah puasa, Temans! Semoga Ramadhan kali ini membawa ketentraman yang selama ini mulai terusik. Dan menjadi awal baru dalam kehidupan ini (lagi). Happy Ramadhan!



Piknik Ala DuoNaj #3 - From Sky World to Bird Park

|



Edutrip ke Taman Mini sepertinya nggak ada bosannya buat kami sekeluarga. Selain area TMII yang luas dan tidak bisa dituntaskan hanya dengan satu atau dua kali datang. Hadirnya beberapa wahana baru semakin menarik untuk dikunjungi lagi dan lagi. Begitu pun yang saya dan keluarga alami akhir-akhir ini. Setidaknya selama tahun 2017 saja, kami sudah 2 kali ke TMII. 


Sekitar awal tahun lalu, kami sengaja datang untuk melakukan edutrip ke Museum Air Tawar, Museum Serangga, dan Anjungan Provinsi Bali. Nah, pada akhir bulan April yang lalu, kami berkunjung ke Taman Burung. Berhubung anak-anak saya memang sangat suka diajak ke tempat rekreasi semacam kebun binatang. Jadi berkunjung ke Taman Burung bukanlah hal yang membosankan, meskipun sudah beberapa kali dilakukan.


Pagi sekitar pukul 07.00, kami berangkat menuju TMII dengan bekal satu tas ransel. Di dalamnya sudah lengkap mulai camilan, minum hingga makan siang. Memang sudah direncanakan bahwa nanti kami akan makan di sebelah miniatur kepulauan Indonesia. Jadi, bekal ayam bakar dan lalapan pun saya siapkan sejak malam hari sebelum berangkat.


Sengaja berangkat agak pagi agar kami dapat mengunjungi beberapa wahana sekaligus. Selain itu, pada saat kami berkunjung, ternyata bertepatan dengan perayaan ultah TMII. Jadilah harapan kami untuk mendapatkan tempat yang tidak terlalu ramai, justru malah sebaliknya, full pengunjung.

 Naik Skylift (lagi)





Sesampainya di TMII, suami  langsung mengajak naik Skylift. Sebenarnya saya dan anak-anak menolak. Karena masih pagi, kami lebih memilih jalan kaki dulu menuju Taman Burung, yang bisa dibilang areanya masih sangat jauh dari pintu gerbang utama. Tapi, dengan pertimbangan antrian belum padat, suami memaksa tetap naik Skylift dulu. Ya sudahlah, akhirnya kami ho oh saja. Daripada si ayah ngambek, bisa berabe tuh kalau ATMnya disimpen rapat, hehe …





Benar saja,  loket Skylift masih sangat sepi. Kami tak perlu mengantri bahkan untuk memilih gerbong berwarna pink yang Najwa inginkan.  Meskipun bukan kali pertama, bahkan entah sudah berapa kali. Ternyata suami masih saja ngeri. Saat Skylift mulai  meluncur ke udara, tak habis-habis dia berdoa, wajahnya pun nampak tegang. “Oalah, Yah, Ayah. Orang Ayah aja takut, ngapain ngajak kita-kita?” celetukan Najwa kontan saja membuat kami tertawa kompak. Hahaha ...


Selesai tes nyali di Skylift, kami langsung berjalan kembali ke arah Taman Burung. Meskipun masih pagi, panasnya sudah sangat menyengat. Anak-anak pun mulai rewel minta gendong kami berdua. Sedangkan trem yang kami harapkan bisa mengantar sampai lokasi yang diinginkan, tak juga muncul bersama gerbong terbukanya.


Di luar perkiraan kami, ternyata wahana Sky World yang beberapa waktu lalu Najwa pelajari melalui Majalah Bobo terletak tidak  jauh dari statsiun Skylift. Saya dan Najwa sudah pasti sangat tertarik untuk ke sana. Tapi, kami perlu persetujuan anggota edutrip yang lain. Yaitu Mbah Uti, Ayah dan Najib yang sepertinya sudah mulai ngantuk.


Untungnya semua mengiyakan. Maka kami pun bergegas membeli tiket yang harganya lumayan mahal juga. Hem … Semakin penasaran apa saja fasilitas yang ditawarkan di dalamnya. Oh ya, Sky World ini masih dalam tahap renovasi ya, Temans. Jadi memang masih belum full fasilitasnya. Hanya saja ada satu wahana yang benar-benar menarik untuk dikunjungi kembali. DuoNaj saja girang nggak karuan, apalagi ibu bapaknya, hihihi …



Mampir ke Sky World.




Begitu masuk pintu yang didesain seperti pintu pesawat luar angkasa. Kami langsung disambut dengan replica baju astronot yang bisa dipakai untuk berfoto. Tapi kami sengaja melewatkan yang satu ini. Dan langsung saja masuk untuk melihat apa saja yang dipamerkan di dalam. 


Ada berbagai foto peninggalan sejarah masa lalu. Kondisi alam, langit, dan kehidupan masyarakatnya, lengkap dengan penjelasan di setiap foto. Sayangnya, untuk DuoNaj hal ini masih terlalu “berat”. Sehingga mereka malah rewel saat dijelaskan. 


Akhirnya kami pun melewatkan beberapa hal menarik. Seperti gambaran kehidupan di Mars, mencoba teropong bintang, dan melihat berbagai penjelasan tentang susunan planet di tata surya. Segera kami menuju ruang tempat dipamerkannya replika roket, satelit dan baju-baju astronot.






Tak lama di ruang tempat replika roket, satelit dan pakaian astronot. Kami pun bergegas ke area replika Indo Trek. Kami pun berfoto ala-ala pemain Star-Trek. Sayangnya nggak bisa lama, karena sekarang giliran Najwa yang rewel pengen segera menonton gambar 5 Dimensi. Padahal, dalam hati kami agak khawatir mereka histeris. Karena beberapa anak sudah menangis dan minta keluar dari ruang pertunjukan.



Seru dan Mendebarkan, DuoNaj Ketagihan ke Bioskop 5 Dimensi


Tiba giliran kami untuk masuk ke bioskop 5 dimensi. Kali ini Mbah Uti menolak untuk ikut bersama kami. Agak khawatir goncangan dan teriakan di dalam menyebabkan vertigonya kambuh kembali. Maka Mbah Uti lebih memilih duduk di sebelah kolam renang anak sambil menikmati camilan dan minuman yang kami bawa dari rumah.



Di dalam bioskop, kami segera mengatur strategi agar ketika DuoNaj rewel lebih mudah untuk membawanya keluar. 4 Kursi paling belakang dan dekat pintu keluarlah yang menjadi pilihannya.  Maka segera setelah duduk dan mengikat diri ke kursi, kami pun memakai kacamata 5 dimensi dan siap bertualang.


Perjalanan fantasi ala luar angkasa kali ini memang sangat mendebarkan. Menarik, sekaligus menantang dan mengasyikkan. Beberapa kali kami dikejutkan dengan atraksi jatuh dari pesawat, tabrakan dengan kereta, melewati kawah panas, dan masih banyak lagi yang membuat kami berteriak dengan kompak bersama belasan pengunjung yang lainnya. Di luar dugaan kami, ternyata DuoNaj sangat menikmatinya, bahkan nggak mau diajak keluar. 


Wahana Sky World ini lumayan lengkap juga. Selain wisata luar angkasa yang menjadi daya tarik utamanya. Di bagian lain terdapat simulasi luar angkasa, kiddie pool, dan beberapa arena bermain yang lain.  Karena waktu yang terbatas untuk segera menuju Taman Burung. Maka kami pun tak sempat menyambanginya satu-persatu. Jadilah rencana ke Sky World tahap 2 sudah ada dalam agenda edutrip keluarga.


Setelah istirahat dan puas berfoto-foto di sana, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Taman Burung yamg sebenarnya menjadi destinasi utama.


Makan Siang di Pinggir Danau


Berjalan menyusuri anjungan Aceh yang terletak berseberangan dengan Sky World. Membawa kami ke danau buatan dan replika kepulauan Indonesia. Kami pun tak mau melewatkan untuk makan siang di sana. Setelah menyewa tikar, kami  bersiap membuka ransel dan mengeluarkan lalapan dan sambal terasi sebagai pendamping ayam bakar. 




Rupanya bukan orang tua saja yang kelaparan. DuoNaj dengan lahapnya menghabiskan dua bungkus nasi jatah mereka tanpa banyak bicara. “Enak banget, kapan-kapan kita maem di sini lagi ya.?” Begitu kata Najwa diikuti anggukan dari adiknya.


Bercengkrama dengan Kakak Tua






Masih lumayan jauh jarak yang harus kami tempuh menuju Taman Burung. Dan rupanya kami memang sedang tidak berjodoh dengan trem keliling. Jadilah kami berjalan sampai di pintu masuk taman. Segera kami membeli tiket yang ternyata sedang ada program diskon. Beli 1 bisa dipakai untuk 2 pengunjung. Lumayan banget pokoknya.  




Karena edutrip ini sudah direncanakan sejak beberapa hari sebelumnya. Jadilah saya dan suami sudah banyak membahas burung dan segala macamnya dengan anak-anak. Cara ini sangat efektif untuk menarik minat mereka, dan memberikan kesan yang mendalam sebagai salah satu bentuk memasukkan materi melalui pengalaman nyata.




DuoNaj begitu terkesan dengan Kakak Tua Jambul Kuning yang terus-terusan menirukan suara mereka. Atau burung Merak yang sukses mematok hp ayahnya hingga jatuh ke tanah. Belum lagi seekor Elang yang dengan sigap melarikan diri saat hendak diajak berfoto oleh Najib. Dan masih banyak lagi yang membuat mereka berdua terkagum-kagum dengan kehidupan yang selama ini mereka tonton dari layar kaca.  Di rumah, kami memang lebih sering menonton Animal Planet ketimbang ratusan channel lainnya.


Edutrip Sebagai Sarana Belajar dalam Dunia Nyata




Momen edutrip ke Taman Burung bukan hanya untuk bersenang-senang, refreshing bagi kami orang tua. Tapi juga menjadi sarana edukasi dalam kehidupan nyata. Di situ kami berkesempatan menjelaskan betapa besarnya Kuasa Allah dengan segala penciptaannya


Dari contoh burung saja, DuoNaj sudah bisa ditunjukkan betapa Allah menciptakan segala hal dengan penuh kesempurnaan. Aneka burung dengan berbagai warna, bentuk paruh dan kaki dan kelebihannya. Tak ubahnya manusia dengan segala kelebihan yang seharusnya disadari dan memberikan keistimewaan pada dirinya.


Kami juga berkesempatan menjelaskan berbagai tingkah burung yang seolah merasa terkekang dalam sangkarnya. Bahwa seharusnya burung-burung tersebut hidup dan terbang bebas di angkasa. Namun karena harus menjaga keselamatannya dari pemburu. Dan untuk kepentingan lain semisal penelitian atau pendidikan. Maka burung-burung ini harus menderita di dalam sangkar.


Kesempatan ini kami manfaatkan untuk mengajarkan pada anak-anak untuk mencintai,merawat dan melindungi sesama ciptaan Allah. Menyedihkan bukan, jika ketika mereka dewasa nanti jumlahnya semakin berkurang? Anak-anak harus dijelaskan sedini mungkin betapa pentingnya mencintai dan melindungi sesamanya.


Setelah kelelahan mengelilingi 2 kubah raksasa, kami pun memutuskan untuk mengakhiri edutrip kali ini. Menumpang trem yang kebetulan lewat di depan Taman Burung, kami segera saja naik bersama beberapa pengunjung lain untuk menuju pintu depan TMII.


Capek berat, tapi terbayar lunas dengan antusiasme dan wajah ceria anak-anak.  Kami pun pulang dan menantikan jadwal ke TMII selanjutnya. 


Oh ya, di bagian akhir ini saya tambahkan info harga tiket masuknya ya.


-          Tiket masuk TMII Rp. 10.000,-/orang

-          Tiket Skylift Rp.40.000,-/orang (balita 3 tahun ke atas).

-          Tiket masuk Sky World Rp.60.000,-/orang

-          Tiket masuk Taman Burung Rp.10.000,-/orang (balita 3 tahun ke atas).

-          Tiket term Rp.10.000/orang untuk tiga kali naik term yang berbeda (balita 3 tahun ke atas).


Nah, kalau Temans. Wahana apa yang pernah dikunjungi di TMII? Share yuk, biar jadi rekomendasi tambahan buat DuoNaj.  


















Custom Post Signature

Custom Post Signature