Parenting Story, Mom's Life, Tips

Not A Breastfeeding Father, But He is The Best Father

|



Setiap calon ibu pasti mengharapkan seorang suami penjaga, ayah siaga bagi diri dan calon bayi yang dikandungnya. Yang siap mendampingi si ibu dan janin dalam rahimnya. Menjadi supporter ketika melalui masa-masa berat di trimester pertama. Tertawa bersama ketika kondisi kehamilan mulai membaik pada trimester kedua. Dan kemudian siaga saat berbagai hal bisa terjadi pada saat usia kandungan mencapai trimester ketiga.
 
Dulu, sebagai calon ibu baru. Saya pun pernah memimpikan hal tersebut terjadi pada kehamilan yang pertama. Terlebih kami berdua adalah "pasangan koboi", yang hanya bertemu 3 kali hingga sampai di meja akad nikah. Rasanya masih pengen “pacaran”. Bulan madu layaknya muda-mudi yang sedang dibuai asmara sebagai pasangan halal.


Tapi takdir berkata lain, karena Allah langsung memberikan rezeki kehamilan setelah satu bulan usia pernikahan. Trimester pertama saya lalui dengan sangat berat. Mual dan  muntah hampir setiap hari hingga akhir bulan ketiga. Sendiri, karena saat itu kami adalah pasangan jauh-jauhan, LDR maksud saya.


Kondisi ini semakin memburuk ketika saya meratapi realita yang tak seindah ekspektasi di awal. Berharap suami  siaga, apa daya hampir setiap bulan saya harus periksa sendiri ke dokter kandungan. Jadwal periksa yang sering kali tidak sesuai dengan jadwal pulang suami, mau tak mau membuat saya merasa tak perlu menunggu. Saya  harus maklum, karena tekanan pekerjaan yang memaksa situasi ini terjadi.


Happiness is the key


Memasuki trimester kedua, kondisi kehamilan mulai membaik. Saya pun mulai menikmati setiap perubahan dalam diri. Sedikit demi sedikit saya tinggalkan ekspektasi yang terlalu ideal, dan mulai bersahabat dengan kenyataan.


Saya sibukkan diri dengan pekerjaan di kantor pada hari-hari biasa. Dan bermain dengan keponakan saat akhir pekan tiba. Dan jadwal ini bisa saja berubah sewaktu-waktu ketika suami pulang dari perantauan.


Perasaan bahagia sangat membantu pemulihan kondisi saya. Pertumbuhan janin pun semakin menggembirakan. Kehidupan kembali berjalan normal dan saya semakin bahagia dengan kehamilan ini, meskipun tanpa suami siaga.

Hamil pertama


Hingga sampai di trimester ketiga, saya putuskan mengambil cuti 15 hari sebelum Hari H. Sengaja mengambil cuti lebih awal karena mempertimbangkan bobot kehamilan saya yang terus membengkak, bahkan hampir overweight dan preklampsia.


Kondisi psikis mulai tidak stabil setelah melewati hari H, namun si jabang bayi tak menunjukkan reaksi ingin dilahirkan. Saya terus berdoa semoga dapat melahirkan di hari Sabtu,  sehingga suami dapat mendampingi di rumah. Tapi kembali  Allah memberikan cerita berbeda, karena pada hari Senin setelah Sabtu dan Minggu suami stand by di rumah, kontraksi persalinan justru baru saya rasakan pada hari Seninya.


Sensasi Melahirkan Tanpa Suami Siaga

Setelah melalui berbagai pertimbangan medis, kondisi fisik dan psikis saya dinyatakan tak mampu menunggu lebih lama untuk persalinan normal. Operasi caesar pun dilakukan, tanpa pendampingan suami. Semuanya begitu cepat, hingga satu jam kemudian bayi cantik buah cinta kami menangis memecah malam. Saya bahagia, begitupun suami yang pada pagi harinya baru menginjakkan kaki di ibukota, kini kembali berada di dalam kereta menuju kampung halaman.


Drama dimulai kembali saat hendak menyusui, ASI tak kunjung keluar dan kepercayaan diri pun menurun tajam. Suami saya memang tidak memaksa saya untuk memberikan ASIX, namun dia memberi semangat meskipun tak terlihat agresif. Mungkin dia khawatir saya semakin kalut ketika terus-terusan didorong, maka dia terus bersikap santai sambil berkata, “Yakin semua akan baik-baik saja, kalau sekarang ASI belum keluar, nanti juga pasti bisa. Kalau sekarang belum bisa full ASI, jangan memaksakan diri sehingga semakin frustasi. Yakin semua baik-baik saja, karena kita sudah mengusahakan yang terbaik.” 


Saya sempat merasa keberatan, mengapa suami cenderung tidak mendukung ASIX dengan terlihat tidak semangat mendukung saya. Namun kemudian saya menyadari, apapun itu memang agak sulit baginya untuk memenuhi kriteria ayah siaga selayaknya ayah pada umumnya. 

Hari ke-6 pasca persalinan suami saya kembali ke Jakarta. Kembali bergelut dengan rutinitas dan tingginya tekanan kerja. Dengan kondisi kami yang LDR, saya pun memaklumi mengapa dia tak terlalu idealis menjadi breastfeeding father. But, soon I realize that he is the best father.



Ayah Sekaligus Teman bagi Anak-anak





Suami memang tidak sepenuhnya mengambil peran dalam pengasuhan.  Selain karena faktor LDR pada saat kelahiran anak pertama, kesibukan dan tingginya mobilitas pekerjaan semakin kami rasakan  hingga kami berkumpul di Jakarta dan lahirlah anak kedua.


Sering kali kami harus berpisah berhari-hari karena tugas ke luar kota atau bahkan dikejar deadline. Tapi dia pastikan dirinya ”ada” saat kami butuhkan. Anak-anak pun tak pernah merasa kekurangan perhatian atau kasih sayang dari ayahnya.


Dia hadir tidak hanya sebagai ayah, tapi sebagai teman, suami mampu masuk dalam dunia anak-anak. Tak jarang anak-anak mengganjarnya dengan pujian, tentu saja karena mereka tahu dan mampu merasakan bahwa ayahnya adalah ayah terbaik bagi mereka.



Keterbatasan kuantitas pertemuan baik dulu maupun sekarang, sama sekali tak mengurangi kualitas hubungan dengan anak-anak. Sebagai ibu, saya pun merasakan  suami selalu “ada” dan mewarnai hari-hari mereka.


Tak memenuhi definisi breastfeeding father, tapi suami  membuktikan menjadi best father for his kids.  Tentu saja hal ini sempat bertentangan dengan idealisme saya sebagai ibu baru. Yang ingin semuanya berjalan sesuai ekspektasi saya, sempurna. Memiliki suami siaga dan breastfeeding father untuk anak-anak.




Tapi realita tak dapat ditolak. Ada banyak hal kemudian yang menjadi kendala atau lebih tepatnya konsekuensi dalam perjalanan rumah tangga kami. Memaklumi satu sama lain menjadi kunci, hingga akhirnya tak berkuranglah kualitas hubungan orang tua dan anak, begitu pun suami dan istri.  Thank you, dear Hubby. You did a brilliant job!💓💓 

Terkadang, ibu menyusui tak dapat menolak adanya halangan memberikan ASIX. Tapi menyerah bukanlah keputusan terakhir. Terus mencoba dan terus berikan setitik ASI yang kita miliki. Yakinlah, anak-anak pun dapat merasakan usaha kita.

Begitu pun halnya dengan menjadi breastfeeding father. Tidak berhasil pada satu fase sebagai ayah, bukan berarti tak dapat mengusahakan sebagai yang terbaik untuk anak-anak.
Keep spirit for breastfeeding!

#ODOP
#day7
#bloggermuslimahindonesia

Taman Lapangan Banteng - Taman Sejarah dan Area Hijau di Pusat Kota Jakarta

|

Kalau pas main ke Jakarta Pusat, bolehlah sesekali mampir ke Taman Lapangan Banteng yang terletak berdekatan dengan Gereja Katedral. Dari Masjid Istiqlal pun tidak terlalu jauh, karena  masjid yang menjadi salah satu simbol kerukunan antar umat beragama ini terletak hanya berseberangan dari area gereja.



Dulu, taman yang lebih dikenal dengan sebutan Lapangan Banteng ini bernama Lapangan Singa. Ini dikarenakan pada bagian tengah lapangan terpancang tugu peringatan atas kemenangan sebuah pertempuran. Tugu itu didirikan pada 1828 untuk mengenang pertempuran Waterloo.


Libur lebaran kemarin, saya dan keluarga sengaja menghabiskan waktu di sana. Mumpung Jakarta lagi sepi dan minim polusi, maka sayang rasanya jika hanya berdiam di dalam rumah saja. Maka area hijau di seputaran Jakarta menjadi tujuan yang tak kami lewatkan. Selain gratis, anak-anak bisa mengeluarkan seluruh energinya untuk bermain dan barlarian di area rumput yang begitu luas tanpa khawatir kendaraan berlalu-lalang.







Memasuki area Taman Lapangan Banteng,  kami dimanjakan dengan pepohonan yang rindang, tanaman rambat di kanan dan kiri jalan setapak ber-cor semen, rumput yang menghampar di hampir sebagian besar wilayah taman. Semilir angin terus membuai, dan kami pun semakin terlena dengan gemericik suara air mancur dari beberapa patung burung yang ada di sana.


Saya tidak pernah menduga, bahwa di area hijau yang seluas ini pernah berdiri terminal vital yang menyokong transportasi di wilayah pusat Jakarta. Semuanya sudah begitu berubah, tak tersisa sedikit pun hiruk pikuk dan tumpukan sampah yang kerap kali kita jumpai di area terminal.





 Lapangan Banteng terus mengalami revitalisasi sebagai salah satu wilayah hijau di kota Jakarta. Tak hanya area berumput yang mendominasi wilayah ini,  Lapangan Basket dan Sepak Bola pun disediakan untuk memfasilitasi pengunjung yang sengaja datang untuk “mencari keringat”.


Buat Temans yang hobi ber-swa foto seperti halnya saya dan keluarga, maka sayang rasanya jika melewatkan public area yang satu ini. Sembari bersantai menghabiskan waktu bersama keluarga atau teman. Maka mengambil gambar di beberapa lokasi yang instagramable bisa dilakukan untuk sekedar memuaskan hobi atau mengasah keterampilan fotografi.


Oh ya, kalau tidak salah, saat ini sedang digelar Pameran Flora dan Fauna yang mengambil tema “Jadikan Jakarta Sebagai Sahabat Alam Kita” Pameran ini digelar mulai tanggal 21 Juli hingga nanti 21 Agustus 2017. Kami belum sempat pergi ke sana untuk yang kedua kali. Berhubung sedang ada event, maka  bisa jadi kami agendakan lagi di pertengahan Agustus nanti. Pas banget ada libur Hari Kemerdekaan.



Nah, buat teman-teman yang hobi hunting foto, wisata murah, atau sekedar mencari area terbuka hijau untuk menghabiskan akhir pekan. Taman Lapangan Banteng sepertinya cocok dimasukkan dalam list tujuan wisata keluarga. Selain mendapatkan suasana sejuk dan hening untuk melepas penat, kita pun dapat memanfaatkannya untuk mengajak anak bermain lebih dekat dengan alam. Yang saya rasa agak susah didapat untuk kami yang tinggal di tengah padatnya Jakarta.

#ODOP
#day6
#bloggermuslimahindonesia


[Resensi[ Mengenal Bumi melalui Buku Seri "Dunia Kita"

|

Di planet mana kita tinggal?

Mengapa harus bumi dan bukan mars?

Di bumi ada apa saja, sih, Buk?

Bumi itu luas nggak?

Siapa saja yang ada di bumi? Alien nggak ada, ya?



Pertanyaan-pertanyaan semacam itu pasti pernah teman-teman dengar dari mulut anak-anak? Benar, kan? Saya pun sedang menghadapinya. Rasanya seperti sedang menghadapi ujian, loh! Sekalinya dapat pertanyaan, kayaknyawajib banget menggali informasi untuk mendapatkan jawaban yang tepat.


Apalagi anak-anak sekarang semakin kritis. Sekali dia mendengar sebuah informasi, berkali-kali mereka menyerang kita minta penjelasan yang detil dan tentu saja mudah diterima logikanya.


Dulu, saat masih bekerja di sekolah. Saya sering mendengar teman-teman pengajar curhat tentang “unik” dan “ajaibnya” pertanyaan dari siswa. Kini, saya mengalami sendiri di rumah. Menjadi orang tua tak hanya harus berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan “ajaib” tapi juga memaksa kami menjadi “kamus berjalan” anak. Bahkan kalau bisa menjadi perpustakaan pertama. Hem …


Sempat mencari bahan dari internet untuk menjawab pertanyaan DuoNaj. Menunjukkan gambar miniatur bumi tempat tinggal kita, menunjukkan kekayaan alam yang tersimpan di dalamnya. Bahkan kami membawa si kecil mengunjungi beberapa tempat untuk memberikan pengalaman nyata. Seperti ke sawah, untuk hasil alam yang berupa hasil panen sayur, buah dan padi sebagai bahan makanan pokok.


Tapi nampaknya anak-anak masih kurang puas. Mereka butuh bahan bacaan yang bisa mereka “sambangi” sewaktu-waktu untuk melihat-lihat kembali. Dan tentu saja  buku bacaan dengan tampilan visual menarik yang mereka butuhkan.



Tentang Buku Seri “Dunia Kita”





Kebetulan sekali, pada saat itu penulis buku  Seri “ Dunia Kita” sedang mempromosikan buku terbarunya. Saya memang salah satu follower D.K. Wardhani, karena selalu menunggu update buku dan informasi terbaru serta tips dan trik dari beliau yang saya rasa sangat bermanfaat. 


Tanpa berpikir panjang, begitu ada informasi preorder disertai gambaran singkat tentang “Dunia Kita”, saya pun langsung memesannya. Dan tidak disangka  harus menunggu restock  karena stok awal langsung ludes terjual.


Seri Dunia Kita adalah buku bergenre nonfiksi anak. Bukunya tidak terlalu tebal, namun sangat komunikatif dan menyajikan visual yang tentu saja memanjakan mata. Saya saja senang melihat dan membacanya, apalagi anak-anak.





Dalam satu seri, terdapat 4 judul yang terbagi dalam 4 buku yang berbeda. Yaitu:

1. Bumi dan Penghuninya .

2. Bumi Penyedia Kebutuhan Kita

3. Bumi Sumber Daya Kita

4. Bumi Tempat tinggal Kita


Buku ini pas banget untuk menjawab pertanyaan “ajaib” anak-anak. Karena mereka tidak hanya akan mencari tahu mengapa kita tinggal di bumi dan bukan mars? Tapi juga, mereka akan tahu  di dalam perut bumi itu ada apa saja, sih?


Buku yang rata-rata setebal 36 halaman ini dicetak dengan kualitas print yang sangat baik. Full color dan tentu saja penuh gambar. Penjelasannya singkat namun mudah dipahami anak-anak. Dilengkapi dengan glosarium dan fakta seru yang membuat anak-anak lebih mudah mengingat hal-hal yang dirasa penting.

Sumber Gambar : D.K. Wardhani


Selain itu, Seri “Dunia Kita" juga dilengkapi dengan halaman aktivitas untuk anak. Misalnya pada buku yang berjudul “Bumi Tempat Tinggal Kita”, anak-anak akan diajak melengkapi titik-titik pada proses siklus air. Sehingga anak tidak hanya membaca, namun mengaplikasikan pengetahun baru yang mereka serap dalam kegiatan. Aktivitas ini bisa juga orang tua gunakan sebagai bahan kuis dengan anak.  Sehingga anak lebih bersemangat dalam membaca dan mendiskusikannya.


Menurut saya pribadi, buku ini sangat relevan untuk dibacakan pada anak-anak bahkan untuk batita. Karena sekecil apapun informasi yang mereka serap, kenyataannya dapat meninggalkan kesan dan pesan pada diri anak. Perpaduan antara buku dengan tampilan visual menarik dan komunikatif, ditambah gaya penyampaian orang tua yang atraktif. Maka dijamin pesan yang ingin disampaikan lebih mudah "tertinggal" pada memori anak.






Untuk anak-anak yang baru belajar membaca, jenis buku seperti Seri “Dunia Kita” juga sangat cocok untuk memantik minat baca. Kalimatnya pendek-pendek, tulisannya besar dan  disandingkan berbagai gambar berwarna, membuat mereka tak mudah bosan dan menyerah untuk menyusuri halaman demi halaman.


Tentang Penulis


D.K Wardhani adalah seorang homeschooler, author buku anak dan seorang illustrator. Pendiri komunitas Sahabat Alam Cilik ini begitu concern dengan isu terkait pelestarian alam untuk menjaga kelangsungan kehidupan umat manusia di masa depan.


Salah satu karyanya yang bertema lingkungan adalah “Komik Muslim Cilik Sayangi Bumi”. Tentu saja sudah tak terhitung buku dan ilustrasi yang dibuatnya untuk mengkampanyekan isu-isu pelestarian bumi dan lingkungan.


Penulis dapat dijumpai di FB : “Dini” Dian Kusuma Wardhani atau IG @dkwardhani. Ada banyak info seputar recycle life, kampanye pelestarian alam, tips-tips menarik dan informatif. Serta tentu saja aneka buku karya sang penulis.


Secara keseluruhan, saya puas dan merekomendasikan buku ini sebagai salah satu koleksi untuk anak. Sebagai media belajar, Seri “Dunia Kita” sangat informatif. Sebagai bahan bacaan, buku ini sangat menarik dan membuat anak tak bosan untuk melihat-lihat gambar di dalamnya.


Pembelian buku ini bisa dilakukan secara online. Teman-teman bisa langsung add social media penulis untuk memperoleh informasi yang lebih mendetil perihal cara pemesanan dan promo yang mungkin ditawarkan.


Bravo, Mbak D.K. Wardhani!😊😘



Seri “Dunia Kita”

1. Bumi dan Penghuninya .

2.  Bumi Penyedia Kebutuhan Kita

3. Bumi Sumber Daya Kita

4. Bumi Tempat tinggal Kita

Penulis : D.K. wardhani

Ilustrator: InnerChild Studio

Penerbit: Tiga Ananda, creative imprint of Tiga Serangkai

Cetakan pertama : Mei 2017

Jumlah halaman : Rata-rata 36 halaman

Harga : Rp. 90.000/ 4 buku



#ODOP
#day3
#bloggermuslimahindonesia


Tips Toilet Training untuk Anak Laki-laki

|


Toilet training bisa jadi lebih mudah bagi bayi perempuan. Setidaknya itu yang saya alami bersama Najwa. Menjelang usia 2 tahun, Najwa sudah siap berpisah dengan diapersnya. Dimulai dengan melepasnya pada siang hari, berlanjut saat jam tidur malam, dan puncak keberhasilannya saat dia pergi ke play group tanpa diapers. Bravo, Najwa!


Seingat saya pun Najwa lebih cepat memberikan sinyal ketika ingin pipis atau pup. Malam hari sebelum tidur juga selalu mudah diajak ke kamar mandi untuk mencuci tangan, kaki, muka dan membuang hajat kecilnya.


Beda anak beda juga ceritanya. Kalau sama namanya bukan tantangan, donk! My baby boy Najib Arya Djati ini dari kecil nggak cuma jago nenen, tapi juga jago “beser”. Saya ingat banget, pas awal-awal lahir, sehari dia bisa pipis sampai 18 kali. Setiap habis minum ASI, pasti popoknya langsung basah. Begitu terus entah siang atau malam. Untuk urusan pup pun sama. Bahkan sampai sekarang dia rutin pup 2 kali dalam sehari.



Kapan Mulai Toilet Training?


Babycentre.com


Saya nggak ingat betul kapan pastinya. Tapi kalau nggak salah, sejak usia 18 bulan saya sudah mengurangi penggunaan popok sekali pakai pada siang hari. Tapi, karena si kecil tidak pernah menunjukkan tanda-tanda yang berarti. Jadilah dia ngompol di sana-sini.


Umumnya, jika menjelang tidur atau setelah bangun diajak buang air, anak-anak jarang sekali ngompol lagi. Kalaupun kepengen pipis, ortu bisa nandain setiap satu jam sekali.

Najib memang agak ajaib dalam urusan yang satu ini. Misalnya ketika bangun tidur saya bawa ke kamar mandi untuk pipis, 15 menit kemudian dia sudah ngompol lagi. Biasanya dalam satu jam dia bisa ngompol 3 sampai 4 kali. Lumayan susah juga menandai kapan waktunya.  Karena kadang-kadang saat diajak ke kamar mandi anaknya malah nggak kepengin. 

Tapi, tepat setelah usianya genap dua tahun, saya mulai menerapkan toilet training secara konsisten.  Meskipun tantangannya  masih sama --- ngompol di mana-mana --- tapi, perlahan mulai teratur dan berkurang volumenya. 


Sampai hari ini pun kami belum berhasil 100%. Kadang-kadang, pas siang hari anaknya minta pakai diapers. Katanya biar nggak ngompol. Atau pas lagi diajak pergi gitu, sesekali masih ngompol karena nggak kuat nahan atau nggak ngomong kalau udah kebelet.  Saya tetap bersyukur karena progress-nya sudah berjalan sekitar 60%. Cuman masalah pup yang masih suka sembunyi-sembunyi di belakang pintu. Dan tentu saja ini kembali menjadi tantangan bagi saya.


Well, sekecil apapun progres yang ditunjukkan, sebaiknya tak perlu menunda untuk melakukan toilet training pada anak. Terlebih untuk anak laki-laki, yang menurut saya lebih lama dan lebih besar tantangannya.  Segera setelah mereka terbiasa dengan kebiasaan baru yang orang tua terapkan, maka  anak pun akan semakin siap dan menunjukkan perkembangannya.

Iklan dulu ya 😃 : Najib dan Tumbuh Kembangnya Pasca Disapih


Tips Toilet Training untuk Anak Laki-laki 


1. Mengurangi penggunaan diapers


Hal pertama yang saya lakukan untuk melihat kapan dan seberapa sering frekuensi kencing anak adalah dengan mengurangi penggunaan diaper. Siang hari saat anak bermain, saya melepaskan diapernya hingga sore hari. Namun, setelah mandi sore hingga malam hari masih saya gunakan. Hal itu berjalan sekitar 6 bulan. Mulai si kecil berusia 18 hingga 24 bulan.


Setelah usia 24 bulan atau 2 tahun, perlahan saya mulai kurangi penggunaan pada malam hari. Dengan catatan, sebelum tidur saya  mengajak anak buang air kecil terlebih dahulu. Dan jika memungkinkan membangunkannya pada malam hari.  Cara ini lumayan membantu membentuk kebiasaan baru untuk anak. Meskipun ngompol di kasur masih jadi resiko yang harus dihadapi.


Penggunaan diaper saat bepergian masih saya lakukan hingga 6 bulan setelah ulang tahunnya yang kedua. Untuk sekarang pun, jika bepergian dengan jarak relatif jauh  saya masih pakaikan. Buat jaga-jaga saja, daripada kenak marah orang.  Sebenarnya, sejak Najib mulai lancar ngomong, dia pun mulai rajin minta ke kamar mandi atau toilet. Ya, tapi demi keamanan aja, khusus saat bepergian jarak jauh masih saya gunakan diaper.


babycentre.com



2. Mengajarkan buang air dengan cara duduk baru berdiri.


Meskipun pada anak laki-laki, saya tetap mengajarkan cara buang air kecil dengan duduk. Mengapa? Karena hal ini penting untuk membiasakannya buang air besar.  FYI, Najib masih suka berdiri sambil sembunyi saat kepengen pup. Walhasil, pup selalu di celana. Kecuali kami lebih dulu melihat sinyal darinya dan langsung mendudukkannya di potty seat.

3. Menyediakan perlengkapan toilet training



Amazon.com



Berbeda dengan Najwa yang sama sekali tidak menggunakan perlengkapan toilet training. Sengaja kami membelikan potty seat untuk Najib. Hal ini dikarenakan closet kami yang lumayan tinggi dan memang bukan ukuran anak-anak. Sehingga kurang nyaman terlebih untuk balita.


Awalnya si kecil tetap menolak meskipun kami telah membeli potty seat sesuai pilihannya. Namun lambat laun dipakai juga. Tapi hanya saat buang air besar saja digunakan. Saat pipis, Najib lebih memilih langsung di lantai kamar mandi. Mungkin sudah kebelet banget. Hehe …


Saat membeli perlengkapan toilet training pastikan yang aman dan nyaman untuk anak. Sebisa mungkin, usahakan juga anak ikut saat membeli, sehingga bisa memilih dan mendengarkan cara penggunaannya dari penjaga toko.


4. Demonstrasikan penggunaan perlengkapan toilet training anak


Parent Magazine.com

Si kecil pasti memiliki boneka, robot atau miniatur binatang kesayangan, bukan? Nah, cobalah untuk mendemonstrasikan penggunaan potty seat dengan mainan kesukaannya tersebut. Orang tua bisa menyampaikan bahwa teman-teman si kecil juga pipis di tempat yang sama. Dengan begitu, anak akan lebih termotivasi untuk menggunakannya.


Jika memungkinkan, carilah mainan lain yang dapat digunakan sebagai potty seat atau closet untuk mainan anak. Sehingga si kecil memiliki kesempatan untuk duduk berlama-lama di kamar mandi untuk buang "hajat" bersama mainan kesukaannya. Hehe … Ribet, ya? But, it works for my son.


5. Belikan pakaian dalam yang menarik


Si Najib sedang senang-senangnya dengan spiderman dan segala hal yang berbau alat transportasi. Untuk itu saya membelikan celana dalam bergambar tokoh atau benda favoritnya. Cara ini sangat membantu, karena dengan sendirinya si kecil lebih memilih memakai  celana dalam ketimbang diapers.


Meskipun bergambar, saya tetap memilih model celana dalam layaknya milik pria dewasa. Hal ini untuk menunjukkan kepada si kecil bahwa dia sudah besar dan sudah memakai celana dalam seperti ayahnya. Sehingga, cara dan tempat buang airnya pun sudah bisa sama dengan ayah.


6. Tetapkan jadwal ke toilet


Sedikit melelahkan di awal, tapi dengan cara ini anak lebih cepat mengenali hasrat ingin buang air. Segera setelah anak terbiasa dengan jadwalnya, maka mereka akan menyampaikan kapan ingin pipis atau pup. Cara ini juga sangat membantu pengasuh baik di rumah maupun di day care karena anak sudah dapat mengkomunikasikan kebiasaan yang dibentuk orang tua.

Baca juga yang ini : Lika-liku Menyapih Anak


7. Berproses


Menurut pengalaman saya, anak perempuan cenderung lebih cepat dalam proses toilet training. Tapi, hal ini tidak selalu sama pada setiap anak. Nikmati prosesnya dan hindari terlalu memaksa pada anak, karena dikhawatirkan justru anak akan mengalami trauma.


Pada kondisi normal, menginjak usia 3 tahun seorang anak baik laki-laki maupun perempuan sudah sangat siap bahkan pada sebagian anak berhasil melakukan toilet training. Namun  kembali lagi, tergantung kondisi anak dan tentu saja seberapa besar dukungan dari orang tua.


Menginjak usia 2 tahun 10 bulan, anak laki-laki saya, Najib sudah semakin jarang ngompol.  Baik siang maupun malam. Jadwal buang air kecil dan besar sudah semakin teratur dan yang terpenting hampir selalu bilang kalau merasa ingin pipis.  Urusan buang air besar memang masih menjadi pekerjaan rumah. Tapi kami yakin ini tidak akan lama. 

Memang butuh effort lebih besar dibanding kakaknya dulu. Tapi beginilah seninya jadi orang tua. Kalau mulus-mulus saja, nggak asyik, kan? Hehehe …




#ODOP
#day2
#bloggermuslimahindonesia

Miliki 2 Hal Ini agar Resolusi Menjadi Momblogger Tak Sebatas Impian

|
Ngomongin soal resolusi, saya masih inget banget awal tahun 2017 lalu bikin satu blog post khusus tentang hal ini. Dan dari beberapa resolusi yang saya tuliskan, sebenarnya ada satu yang lumayan ngeri-ngeri syedep. Yaitu ingin produktif di dunia menulis. Ya, kalau mau blak-blakan sih, saya bermimpi menjadi momblogger . Ciyeh … lagaknya. Boleh, donk! Namanya juga cita-cita. Nggak bayar ini, butuh usaha aja untuk menggapainya. And trust me, itu nggak seenteng yang saya tuliskan.




Buat IRT tanpa ART yang sok sibuk kayak saya. Meluangkan waktu untuk rutin menulis setiap hari benar-benar challenging. Ada saja alasan yang bikin pilih bantal ketimbang keyboard. Pilih sofa ketimbang meja kerja. Atau ngadep tipi ketimbang monitor lappy


Yang capeklah, ngantuk, anak ngajak main, nemenin belajar, cucian menggunung. Pokoknya ada aja yang bikin aktivitas menulis cuma kebagian sisa-sisa tenaga dan tentu saja waktu. Honestly, saya sebenarnya nggak suka bikin pengakuan kayak gini. Kok kayaknya momblogger lain itu nggak serepot saya. Padahal nih, saya yakin mereka jauh lebih banyak deadline dibanding saya yang baru menekuni dunia blogging. Tapi, soal produktivitas jangan ditanya. Hari ini reportase, malam itu juga mereka publish blog post terbaru. Ck … Ck … Ck *kagum


Well, apapun kendala yang dihadapi, sudah tanggung jawab kita untuk mencari solusi. Mau sampai kapan resolusi demi resolusi hanya menjadi target awal tahun saja? Tanpa realisasi apalagi pencapaian yang berarti. Dalam hal blogging, saya rasa dua hal ini berikut lumayan memompa semangat saya untuk merealisasikan resolusi momblogger wanna be



Miliki Mentor


Adanya mentor sangat membantu saya memelajari blogging dari nol. Dulu, dulu banget memang saya sudah belajar ngeblog. Tapi, ya gitu deh. Sampai passwordnya saja saya lupa, saking rajinnya nggak nengokin blog. 


Nah, begitu saya mulai lagi awal tahun ini. Saya putuskan langsung memiliki mentor. Belajar step by stepnya, hingga bagaimana peluang untuk blog saya dimonetize. Untungnya saya punya mentor yang “kompor api biru". Jadi  gampang banget semangat darinya menular ke saya.


Mbak Widyanti Yuliandari, adalah blogger sekaligus mentor blogging pertama saya. Beliau yang pertama kali mengenalkan banyak hal terkait peluang berpenghasilan dari blog. Juga bagaimana beretika di dunia blogging. Tidak hanya itu, printilan ngeblog dan ngereview juga saya pelajari dari beliau. Karena memang Mbak Wid ini Mentor Blogging di salah satu agensi training yang sering saya ikuti.


Sedangkan dalam perjalanan ngeblog, tak bisa disebut berapa banyak blogger dan momblogger yang menjadi role model sekaligus menginspirasi saya. Sehingga blogwalking tidak sekedar meninggalkan komen, menyerap info dari blog post mereka. Tapi sekaligus memelajari banyak hal seperti lay out, gaya penulisan, sudut pandang dan teknik pengambilan gambar.
 


Berkomunitas


Nah, yang kedua ini juga tidak bisa disepelekan. Berkomunitas membuka banyak info terkait dunia blogging. Mulai tawaran job, info lomba, hingga challenge-challenge.


Untuk saat ini, saya memang tidak sedang mengikuti banyak komunitas. Dan Blogger Muslimah Indonesia adalah salah satu komunitas tempat saya bernaung bersama teman-teman blogger yang lain. Kebetulan saat ini kami sedang dalam periode pertama challenge ODOP, One Day One Post. Kebayang kan, betapa menantangnya challenge ini?


Ya, selain menantang disiplin diri dari seorang blogger. Challenge ini juga sangat bermanfaat untuk boosting trafik blog, sekaligus mengasah keterampilan menulis calon momblogger. *uhuk. Maka dari itu saya putuskan menerima tantangan ODOP, dan rutin menulis satu blog post setiap hari.


Hopefully, ini adalah awal bagi saya untuk merealisasikan salah satu mimpi. Karena bagi saya, ngeblog tidak hanya bertujuan mendapatkan job, tapi mengumpulkan materi, kenangan, rumah untuk berbagi informasi, sekaligus media untuk melatih kelenturan bahasa tulisan. Boleh, donk, suatu hari beresolusi bikin buku solo. Nah, rencana saya dari blog ini saya mulai merealisasikannya.


Well, semoga challenge ODOP dari Blogger Muslimah Indonesia ini dapat saya ikuti dengan lancar hingga 30 hari ke depan, Amin. Yang tak kalah penting, semoga saya dapat mengambil hikmah dari mengikuti challenge seperti ini. Ganbaroo!!





#ODOP
#day1
#bloggermuslimahindonesia

Custom Post Signature

Custom Post Signature