Parenting Story, Mom's Life, Tips

[Review] Ngemil Enak dan Sehat dengan Segenggam Granola

|


Punya kerjaan model diburu deadline mau nggak mau membuat saya harus begadang. Meskipun nggak sering-sering banget, tapi pasti ada jadwalnya dalam setiap minggu. Apalagi kalau kerjaannya masih harus disambi momong sama urusan yang wahid yaitu ngerjain perintilan ibu rumah tangga. Lembur dan begadang sudah pasti nggak bisa dihindari kalau mau kerja sampingan tetap jalan.




Nah, kalau pas harus lembur atau begadang gitu, susah banget rasanya kalau nggak ngemil. Mungkin faktor kebiasaan saja, sih. Karena nggak semua orang wajib ngemil saat begadang. Tapi kalau saya pribadi, jujur susah kalau nggak ngemil saat lembur sendiri di tengah sunyinya malam. Hiiii ....  Hehehe...

Dulu, zaman masih muda, ciyeh … Zaman-zaman kuliah, saya suka beli makanan ringan yang kiloan itu buat temen ngerjain tugas. Hidup masih terlalu susah waktu itu, ngemil sekilo pun badan nggak pernah melar. Paling pol berat badan cuma sampai angka 47 kg. Ya, gimana nggak kurus, makannya aja jarang lengkap sehari 3 kali. 2 kali makan besar sudah alhamdulillah.

Tapi begitu nikah trus hamil, saya mulai nggak bersahabat sama timbangan. Gampang banget naiknya. Sebaliknya, mau nurunin sekilo aja susahnya warbiasak.

Bersyukur sekarang ini banyak alternatif camilan sehat. Selain buah dan salad sayur, biji-bijian macam granola ,menjadi salah satu penyelamat kala mulut pengen mengunyah tapi ngeri lihat timbangan. Granola sendiri diklaim rendah kalori, tinggi protein, fiber, gluten free dan kaya omega 3.  Selain sudah pasti enak dan natural.



Serat tinggi pada granola memberikan manfaat  melancarkan pencernaan, mencegah sembelit, membantu mengontrol kadar gula darah, membantu menurunkan kadar kolesterol, dan membuat kenyang lebih lama.

Sedangkan omega 3 dalam granola sangat bermanfaat untuk kesehatan otak. Selain itu granola juga diklaim kaya akan vitamin dan sumber mineral penting untuk tubuh.

Mengonsumsi granola sudah menjadi gaya hidup sehat bagi sebagian masyarakat. Selain dikonsumsi sebagai camilan dalam bentuk granola asli seperti yang biasa saya lakukan. Granola dapat disajikan dalam bentuk snack bar dengan sedikit diolah.

Atau, jika ingin yang lebih kekinian.  Kita dapat menjadikannya sebagai alternatif sajian sarapan. Overnight Oatmeal mix Granola misalnya. Makanan ini sangat cocok untuk temans yang harus beraktivitas sejak pagi. Karena dapat disiapkan semalam sebelumnya. Sehingga pada pagi harinya tinggal dikeluarkan dari kulkas dan siap disantap.

Cara menyajikannya pun sederhana. Hanya dengan menuangkan oatmeal dan granola dalam mug kaca, kemudian siram dengan susu murni hingga terendam seluruhnya. Tutup rapat kemudian simpan semalaman dalam lemari pendingin. Keesokannya,  Overnight Oatmeal bisa langsung disantap begitu saja. Atau ditambahkan buah sesuai selera. Selain lebih mantap, rasanya pun lebih segar. Pokoknya wenak!



Seiring peningkatan kebutuhan masyarakat akan konsumsi granola, khususnya di daerah perkotaan. Maka nggak heran, ya, kalau distributor atau agen penyedia granola semakin banyak. Nah, untuk yang satu ini kita harus lebih selektif dan waspada. Bukan apa-apa, kadang khawatir aja kalau kualitas biji-bijiannya kurang terjamin. Atau ngeri aja kalau kemasannya kurang higienis.

Karena itu, saya memilih granola dari Mola Granola yang sudah terbukti dibuat dari biji-biji pilihan. Kemasannya yang higienis juga menjamin produk ini aman untuk dikonsumsi siapa saja. Mola Granola bahkan memiliki 3 varian rasa untuk memanjakan lidah konsumennya. Original Flavour, Green Tea Flavour dan Chocolate Flavour.  Ketiganya enak, dan crispy crunchy. Pokoknya cocok banget buat cemilan.



Nah, untuk penyajiannya sendiri saya lebih suka di cemil biasa, atau di mix sama buah plus yoghurt. Untungnya bukan cuma saya yang suka. Suami sama anak-anak pun enjoy banget ngemil biji-bijian yang ini. So, sekarang saya nggak worry lagi kalau lagi begadang. Karena granola dari Mola Granola siap menjadi teman mengejar deadline emak-emak.

Pengen nyobain juga? Teman-teman bisa langsung buka di lapaknya @molagranola_jakarta atau langsung saja ke kontaknya 0877-8115-0250. Jangan lupa cek promo apa aja yang sedang ditawarkan. Ok? Happy cemal-cemil everyone !


-DNA-

#ODOP
#day14
#bloggermuslimahindonesia

Pameran Lukisan Istana Kepresidenan di Galeri Nasional - “Senandung Ibu Pertiwi”

|


Mengunjungi Galeri Nasional bisa dibilang “langka” bagi kami yang tidak terlalu berdarah seni. Tapi event kali ini terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja. Kapan lagi bisa nonton koleksi lukisan Istana Kepresidenan? Mumpung sedang ada pamerannya, kami pun mengajak anak-anak ke sana.  Itung-itung refreshing, enaknya lagi gratis dan seperti biasa, selalu ada pengalaman yang ingin kami tinggalkan pada anak-anak. Dengan harapan salah satu pengalaman itu menjadi bekal bagi mereka menemukan passion-nya.



Kami pergi pada Sabtu pagi menjelang siang. Dari rumah yang berlokasi sangat strategis ( dekat stasiun KRL), kami pun naik kereta menuju Stasiun Gondangdia, kemudian disambung naik bajaj menuju Galeri Nasional yang terletak berseberangan dengan Stasiun Gambir. Berdesakan sebentar di dalam KRL bukanlah hal yang baru bagi kami, karena alat transportasi ini sudah menjadi andalan kami setiap mbolang mengitari Jakarta dan sekitarnya. Murah, nyaman dan cepat.





Sesampainya di Galeri Nasional, kami menuju ke Galnas Cafe untuk sarapan yang sedikit terlambat. Kami pikir, pengunjung bisa masuk kapan saja. Tapi ternyata kami salah. Sebelum registrasi, pengunjung harus mengambil nomor antrian registrasi dulu. Jadilah kami yang sarapan dulu sampai sekitar pukul 11.30, harus mendapatkan nomor antrian 157. Walah,tahu gitu antri dulu baru makan. Pelajaran berharga: tanya dulu baru urus itu perut, hehehe …




Panitia menyediakan ruang menunggu yang lumayan nyaman. Bersih, dingin dan luas dengan beberapa kursi di bagian pinggir-pinggir ruangan. Tapi dasar momong bocah, kami pun lebih nyaman lesehan di bawah. Satu jam menunggu jadi tak terasa bersama tingkah polah bocil yang tak pernah habis energinya. Nah, kesempatan ini pun kami gunakan untuk menjelaskan pada Najwa mengenai pameran seperti apa yang akan kami tonton. Buat Najwa, satu point yang paling jelas. “Jadi, kita mau nonton lukisan yang dipasang di rumah Pak Jokowi, kan?” Hehehe … Pak Jokowi memang sangat melekat di ingatan anak-anak.



Tiba giliran kami dipanggil ke ruang registrasi. Setelah mendapatkan ID card, menitipkan tas, jaket, topi dan kamera. Maka kami pun segera melakukan tour di dalam hall utama Galeri Nasional. 


Pameran kali ini menampilkan 48 lukisan dari 41 pelukis yang membuat karyanya pada abad 19 hingga abad 20. Selain itu, pengunjung juga dimanjakan dengan dokumentasi yang terkait materi pameran dan upaya pemerintah melakukan pemeliharaan terhadap koleksi istana. Ada juga satu karya yang ditampilkan melalui LED di bagian paling depan setelah pengunjung memasuki hall untuk security check. Lukisan ini karya Makovsky, salah satu yang dikonservasi pada tahun 2004.




48 lukisan koleksi Istana Kepresidenan ini masih dibagi menjadi beberapa sub tema, yaitu Dari yaitu keragaman alam (12 lukisan), dinamika keseharian (11 lukisan), Tradisi dan Identitas (15 lukisan). Beberapa lukisan karya pelukis Basoeki Abdullah memang spaling mencuri perhatian. Sedikit berbau mistis, tapi terlihat begitu “hidup”.









Selain pameran lukisan, Galeri Nasional mengagendakan sejumlah kegiatan, yaitu workshop melukis bersama Komunitas Difabel, pada 10 Agustus 2017. Diskusi pakar dengan topik Menjaga Ibu Pertiwi, pada 19 Agustus 2017. Kemudian  ada juga lomba lukis kolektif tingkat nasional, pada 26 Agustus 2017. Dan ditutup dengan workshop menjadi apresiator se-Jabodetabek pada 29 Agustus 2017. Semuanya masih dalam satu kesatuan acara Pameran Lukisan Koleksi istana Kepresidenan, “Senandung Ibu Pertiwi”, yang akan digelar hingga tanggal 30 Agustus 2017 nanti.


Buat kami sekeluarga acara ini sangat edukatif. Meskipun tak mampu lebih dalam menjamah nilai artistik dari karya seni yang ditampilan. Tapi kami dapat menjelaskan beberapa hal terkait tema-tema yang ada dalam lukisan. Pun, Najwa jadi tahu, bahwa pelukis atau seniman lukis merupakan salah satu profesi. Yang pastinya hanya bisa dikerjakan jika kita memiliki passion yang tinggi, di samping bakat yang mendukungnya.


Setelah lebih dari satu jam mengelilingi Koleksi Lukisan Istana Kepresidenan, kami pun beranjak keluar. Selanjutnya kami pun menghabiskan waktu menunggu sore tiba dengan mengunjungi Pameran Seni Tunggal “Budi Ubrux” di Gedung B, ber-swa foto di beberapa spot instagramable, sholat Dzuhur baru kemudian kembali menuju Stasiun Gondangdia.








Oh ya, jika Temans berniat datang ke acara serupa, masih ada waktu, loh. Nah, biar nggak kelamaan antri coba deh registrasi by online. Temans bisa klik di sini. Yuk, kapan lagi bisa melihat koleksi lukisan di Istana Kepresidenan.




 -DNA- 


#ODOP
#day12
#bloggermuslimahindonesia




L.O.V.E - How do You Spell Love?

|



Love is life

Cinta adalah kehidupan. Mencintai segala hal yang kita miliki dalam kehidupan ini adalah cinta itu sendiri.


Love is support

Sesuatu yang menggerakkan diri untuk melakukan suatu hal yang meninggalkan memori.


Love is power

Kekuatan yang membuatmu bangkit  saat terjatuh.


Love is trust

Ketika rasa percaya itu hilang, maka akan sulit untuk mendapatkannya kembali.


Love is kindness

Sebuah kebaikan yang membuat kita tak merasa kurang bahkan saat kehilangan


Love is wide concept

Satu kata yang melibatkan banyak perasaan di dalamnya






Love is like playing an instruments

Ketika baru mempelajarinya, maka kita harus menghafal notasi dan bermain sesuai arahan pelatih. Tapi kemudian, lupakan semuanya dan bermainlah dari hati.


Love is a medicine

Obat bagi jiwa-jiwa yang terluka


Love is  a poison

Cinta dapat meracuni pikiran, bahkan membutakan mata.


Love is thoughtfulness

Cinta membuat kita selalu berpikir bagaimana member arti bagi yang lain


Love is a perfect compilation

Kata yang tak harus diucapkan, tapi dapat dilihat dari perhatian, kebersamaan, pengertian. Bahkan saat berselisih paham.


Sometimes, LOVE can’t be spell, but feel. Just like what Winnie the Pooh said to Piglet.

But, sure. Love give us an expectation, pleasure and pain.


Love is  a feeling that has the ability to change you from the inside and form you as a person. It can be because of your mom, dad, siblings, partner, or even because of a stranger. 'Love' is just a word given to that emotion an attempt to spell it out.


-DNA-

#ODOP
#day9
#bloggermuslimahindonesia
















Mengenalkan Perbedaan Jenis Kelamin pada Batita

|




Suami paling ribut kalau anak lanang sudah minta pakai jilbab, mukena atau minta bedakan kayak saya atau kakaknya. Padahal, nih. Dari kecil saya selalu memperlakukan selayaknya anak laki-laki. Pilihan warna dan model baju selalu khas cowok, bedak pun saya nggak pernah pakein dari bayi. Ya, selain ngikut saran dokter, karena memang ibuknya nggak suka ngasih bedak sama bayi. Jadi cemong-cemong gitu trus bau keringatnya nggak kecium lagi. Hehe …
 
Mungkin faktor teman bermain lumayan ngaruh juga sama anak. Kebetulan, di lingkungan kami lebih banyak anak perempuan ketimbang anak laki-laki. Jadilah si kecil lebih banyak main sama mereka, ditambah temen-temen kakaknya yang cewek-cewek semua. Belum lagi di rumah dia lebih banyak sama saya ketimbang ayahnya. So, nggak perlu heran kalau banyak kebiasaan saya yang ingin ditirunya.

Sempat khawatir juga sama si adik yang suka ribut minta bedak biar cantik kayak ibu. Tapi kemudian saya terus mengamati perkembangannya yang insya Allah laki banget. Jenis permainan dan gerak fisiknya khas laki-laki. Meskipun saya tidak melarangnya bermain masak-masakan atau anak-anakan bersama kakaknya. Anak laki-laki butuh keterampilan itu juga, kan? Jadi nggak masalah menurut saya.

Makin ke sini, saya mulai memilah antara sifatnya yang lagi seneng-senengnya meniru. Atau karena kecenderungan gender. Hal-hal seperti minta memakai jilbab, mukena atau berbedak, saya rasa itu karena suka meniru saya dan Najwa saja. Karena pada lain waktu si kecil juga suka bergaya seperti ayahnya.

Sedangkan mengenai kebiasaannya ingin dibilang cantik seperti kakak dan ibu, kami segera mengoreksinya. Dan begitulah awal mulanya kami mulai intens mengenalkan perbedaan jenis kelamin pada anak.


Edit foto demi pengen punya kumis kayak ayah, wkwkwkw ...


Memberi Penjelasan Sederhana tentang Perbedaan Laki-laki dan Perermpuan

Dalam berbagai kesempatan, baik saya, suami atau Najwa selalu memberi tahu si kecil bahwa adik itu laki-laki sama seperti ayah. Kalau kakak sama seperti ibu, perempuan. Ibu dan kakak , cantik, karena perempuan. Kalau adik dan ayah, ganteng, karena laki-laki.

Begitu pun dalam hal berpakaian, saya selalu bilang bahwa rok , jilbab, mukena untuk ibu-ibu atau anak perempuan. Kakak sama ibu memakainya. Bapak-bapak pakai sarung,  songkok. Seperti adik dan ayah. Bedak dan lipstik untuk ibu-ibu. Adik dan ayah nggak pakai, karena laki-laki.

Begitu terus menerus kami jelaskan dengan bahasa anak-anak. Ya, pastinya harus berulang-ulang. Karena terkadang mereka nggak langsung paham 100% jika dijelaskan sekali atau dua kali saja.

Tentang Alat Kelamin

Anak usia 2  sampai 6 tahun memang lagi antusias banget sama yang namanya alat kelamin. Jadi nggak perlu heran ketika ada fase mereka suka "megang-megang". Si kecil pun pernah mengalaminya. Biasanya, sih, saya ingatkan jangan dipegang-pegang karena tangannya bisa kotor. Atau jika tangannya kotor, ti*itnya nanti gatal.

Si kecil juga pernah bertanya, “Kok, kakak nggak punya ti*it?" Nah, pada kesempatan seperti itu langsung saya jelaskan. Bahwa yang punya ti*it hanya anak laki-lakai. Perempuan pipisnya bukan dengan ti*it, tapi alat yang lain. Maka dari itu, adik dan kakak berbeda.


Beri Kesempatan Bermain dengan Ayah 

Pada waktu-waktu tertentu, saya selalu memberikan kesempatan untuk si kecil bermain hanya dengan ayahnya saja. Permainannya pun tak melulu melakukan mainan anak laki-laki. Misal mobil-mobilan, atau perang-perangan. Tapi bisa juga dengan cara mengenalkan pada hobi atau kesenangan ayahnya. Misalnya merawat binatang peliharaan, bersepeda atau ikut ke bengkel.

Arahkan si kecil untuk bermain fisik dengan ayahnya. Misalnya dia ingin bermain silat atau perang-perangan, biasanya saya arahkan dengan ayahnya. Meskipun tidak menutup kemungkinan saya pun melakukannya jika sedang tidak ada suami.


Tentang Rasa Malu

Malu di sini untuk hal-hal yang berkaitan dengan kemaluan saja, ya. Misalnya tidak telanjang  saat ke luar rumah. Memakai handuk saat keluar dari kamar mandi. Dan memberitahunya bagian tubuh mana yang tidak boleh dipegang orang lain. Tentunya selain ayah, ibu atau dokter.

Untuk jenis mainan, saya tidak terlalu membatasi. Karena praktiknya, kan, teman bermainnya Najwa. Jadi mainannya pun masih campur. Nah, kalau soal baju, baru agak saya batasi pemilihan warnanya. Bukan apa-apa, karena ayahnya nggak setuju kalau anak lanangnya pakai pink, hehehe … Kalau ibunya sih, oke-oke saja. Palingan cuma pink sama purple yang saya skip. Kalau merah masih oke.

Begitu pun soal pekerjaan rumah. Saya tetap kenalkan pada keduanya pekerjaan rumah yang sama. Mulai dari menyapu, mencuci piring dan baju, semua anak laki-laki atau perempuan harus bisa. 

Emang, sih. Jadi ortu nggak pernah ada habisnya, ada saja yang harus dipelajari dan ajarkan, udah semacam guru tanpa sekolah formal kita, hehehe …  Tapi jangan lupa, sebenarnya dari anak-anak juga kita belajar. So, stay happy, ya, Moms.


-DNA- 

#ODOP
#day8
#bloggermuslimahindonesia

Custom Post Signature

Custom Post Signature