Parenting Story, Mom's Life, Tips

Traveling Gaya Koper Otak Ransel? Bisa Dong!

|

Traveling gaya koper atau ransel?
Pexel.com



Koper atau ransel, manakah gaya traveling Teman-teman?


Kalau pertanyaan ini harus saya jawab sekitar 10 atau 15 tahun yang lalu, pastilah jawabannya ransel. Saat masih muda apalagi lajang, traveling bagi saya harus identik dengan yang simple, ringkas, penuh petualangan dan sebisa mungkin berbujet minimalis.

Tapi dengan kondisi bepergian bersama balita seperti saat ini, rasanya pilihan ini sudah tidak lagi relevan. Dari segi barang bawaan saja sudah tidak mungkin ringkas. Mau terlalu banyak petualangan juga harus berpikir ulang, karena untuk saat ini kenyamanan adalah prioritas utama saat traveling bersama keluarga, terutama dengan anak-anak.

Sebenarnya kalau mau dibilang full koper juga nggak terlalu relevan sih. Karena kami pun pernah beberapa kali melakukan traveling dengan ransel ala backpacker. Meskipun nggak bisa juga disebut backpacker murni.

Apa Saja yang Sebaiknya Diperhatikan Orang Tua Saat Berlibur dengan Anak?

|

Berlibur dengan anak


Berlibur dengan anak biasanya identik dengan barang bawaan yang banyak, ribet, rewel, nggak bisa cepat, dan masih banyak lagi alasan atau keluhan yang membuat orang tua berpikir dua kali untuk berlibur dengan si bocah.

Maka dari itu artikel tentang traveling dengan anak biasanya selalu diminati. Mulai tips dan trik mempersiapkan liburan dengan anak, alternatif tujuan wisata ramah anak, memilih transportasi yang nyaman untuk anak, sampai bagaimana membuat anak tenang selama perjalanan.

Kali ini saya tidak ingin membahasnya satu-persatu, karena sudah banyak travel blogger yang mengulasnya lebih mendetil dan lengkap.  Saya ingin berbagi pengalaman saja, sebenarnya apa saja yang sebaiknya diperhatikan orang tua saat sedang berlibur dengan anak?

Mau Berlibur Tanpa Khawatir Rekening Kebobolan? Begini Caranya.

|
Tips Traveling murah
Gambar : Pexel.com


"Wah, BukNaj lagi banyak duit, nih? Aku perhatiin sering banget traveling sama keluarga."

Begitu mendapat komentar kayak gini, respon pertama saya tentu saja mengucap syukur, alhamdulillah! Bersyukur banget ada yang doain baik-baik.  Bersyukur banget dimampukan untuk traveling. Karena memang kesempatan seperti ini tidak semua orang bisa mendapatkannya. 

Bukan, bukan hanya tentang materi yang menyebabkan traveling itu bisa terealisasi. Tapi niat dan kemauan untuk ribet atau bersusah payah selama traveling juga tidak semua orang memilikinya. Maka saya sangat bersyukur ketika akhirnya mampu membiasakan diri dan anak-anak untuk berada dalam kondisi tersebut. Sehingga acara traveling entah jarak jauh ataupun jarak dekat kami usahakan menjadi agenda tetap.

Mojosemi Forest Park - Wisata Alam di Ujung Barat Kota Magetan

|


Mojosemi Forest Park

Mengunjungi tempat wisata dengan konsep alam sepertinya sedang menjadi  trend di tengah -tengah masyarakat. Tekanan tinggi di tempat kerja, terjebak dalam rutinitas harian, ritme hidup yang sangat cepat dan masalah polusi sering kali dijadikan alasan bagi sebagian besar masyarakat urban untuk meninggalkan hiruk pikuk kota. Maka menepi ke daerah pantai, gunung atau pedesaan adalah destinasi traveling yang paling diminati kala mendapatkan cuti atau libur panjang saat hari raya dan akhir tahun tiba.

Sebagai penduduk dengan identitas diri warga ibukota. Saya dan suami pun merasakan tekanan yang sama seperti halnya masyarakat urban pada umumnya. Hal semacam itulah yang akhirnya membulatkan rencana kami untuk mengakhiri 2017 dan membuka 2018 dengan menyepi di kampung halaman.

Bersyukur, kami berdua memiliki kampung halaman yang sama. Magetan, sebuah kota kecil di kaki Gunung Lawu adalah tempat di mana kami selalu terpanggil untuk pulang. Tak sekedar untuk merasakan kembali aroma desa, atau menikmati hawa sejuknya. Tapi kali ini kami telah merencanakan mengunjungi salah satu destinasi wisata alam baru di Magetan.

Yuk, Cari Tahu Gaya Belajar yang Paling Efektif untuk Anak!

|
Gaya belajar anak seperti pintu pembuka. Setiap informasi yang masuk lewat pintu yang terbuka lebar, akan memudahkan anak memahami informasi tersebut. Pada puncak pemahaman, informasi tersebut akan masuk ke dalam memori jangka panjang dan tak terlupakan seumur hidup (Orangtuanya Manusia)

Gaya belajar anak

Pernahkah Teman-teman memerhatikan gaya belajar anak, murid, keponakan atau adiknya? Apa pendapat kalian tentang gaya belajar mereka? Serius atau cenderung santaikah?

Saya sendiri sudah sejak lama senang mengamati gaya belajar anak-anak. Pengalaman 10 tahun lalu saat harus mengajar satu kelas dengan mayoritas siswa yang memiliki kecenderungan kinestetik dan auditori. Memaksa saya yang saat itu belum memiliki pengetahuan apapun tentang macam-macam gaya belajar anak untuk mencari tahu dan mengamati dengan seksama.

Ada beberapa anak yang selalu minta diajak berkegiatan di dalam kelas. Setiap materi inginnya dilakukan dengan permainan. Bahkan di kelas pun mereka sangat jarang duduk di tempatnya. Beberapa anak yang lain sangat senang diperdengarkan cerita. Entah itu harus saya yang membacakan, atau menggunakan pemutar audio sehingga kami sama-sama mendengarkan materi.

Custom Post Signature

Custom Post Signature