Parenting Story, Mom's Life, Tips

5 Hal yang Dibutuhkan Anak-anak dalam Kehidupannya, dan Semuanya Gratis!

|
Hadiah terindah untuk anak
Pexel.com


Boneka atau mainan. Biasanya dua benda tersebut yang saya hadiahkan pada Najwa saat dia masih menjadi anak semata wayang. Maklumlah, namanya juga anak pertama, rasanya semua hal pengin saya berikan untuk membuatnya senang. Apalagi saat itu saya masih berpenghasilan tetap. Asal sampai akhir bulan, pengeinya quality time berdua sambil menikmati tanggal gajian.

Saat dia bertambah usia, mainan edukatif atau activity book yang biasanya saya sasar. Baju, sepatu atau hiasan rambut lucu juga tak luput dari perhatian. Tapi sepertinya itu hanya obsesi saya sebagai ibu muda penggila barang-barang lucu. Karena kenyataannya, Najwa biasa aja. begitu sudah bosen, ya dibiarkannya semua barang lucu itu di lemari atau keranjang-keranjang mainannya.

Si Kecil Sering Marah-Marah? Mungkin 1 dari 6 Hal Berikut Penyebabnya

|
Penyebab anak marah
Pexel.com



Akhir-akhir ini saya sedikit kewalahan dengan DuoNaj yang cenderung lebih mudah marah ketimbang biasanya. Enggak cuma Najwa yang memang sudah lebih mengerti dan cenderung pandai beradu argumen dengan saya atau ayahnya. Najib yang baru berusia 3,5 tahun pun mulai sering marah tanpa alasan yang mudah kami pahami.

Awalnya dia suka ikut-ikutan Najwa yang berteriak atau menunjukkan sikap tidak setuju dengan pendapat saya. Tapi kemudian, Najib pun mulai menunjukkan aksi serupa meskipun sedang tidak ada Najwa di rumah.

Bagaimana Cara Seorang Anak Menemukan Hal Baru dalam Hidupnya? Begini Jawabannya!

|
Play is The Highest Form of Research - A. Eistein.

Manfaat bermain untuk anak

Bermain sangat bermanfaat untuk tumbuh kembang si kecil? Ya, siapapun tak meragukannya. Bahkan  dalam berbagai pelatihan dan bahan bacaan parenting, bermain merupakan salah satu cara belajar yang paling efektif. Bahkan mereka mampu melakukan research dan menemukan hal baru yang menjadi maha karya terhebat bagi diri anak.

Tahun Kelima di Jakarta

|



Hidup di Jakarta
Pict by: @bastianpribadi

Jakarta itu debu Jakarta itu macet Jakarta itu banjir  Jakarta itu yel-yel demo buruh Jakarta itu mal Jakarta itu pedagang kaki lima yang mati-matian membela kiosnya Jakarta itu rumah kumuh yang berderet sepanjang rel kereta yang satu demi sati dibongkar polisi tata kota Jakarta itu berangkat subuh pulang magrib Jakarta itu ondel-onde Jakarta itu Pak Ogah yang setia menunggu di di tikungan jalan Jakarta itu jerit klakson mobil Jakarta itu angkot tua yang batuk-batuk mogok persis di tengah jalan Jakarta itu terhimpit ka-er-el yang menunggu sinyal keberangkatan.


Berulang kali kuulangi larik demi larik pada halaman 124 Hujan Bulan Juni. Berulang kali pula aku tersenyum sendiri. Apa yang dituliskan Sapardi Djoko Damono pada lembar terakhir bab ketiga novel tersebut sangat mewakili perasaanku. Tapi itu dulu, sekitar 5 tahun yang lalu, saat gundah gulana bergelanyut tak menentu.

Jalan-jalan ke Museum dengan Anak? Bisa!

|

Tips ke Museum dengan Anak


"Buk, bisa banget sih, DuoNaj diajak ke museum? Coba anakku, hm.. pasti udah ribut."

Beberapa kali saya mendapat pertanyaan seperti itu dari temna-teman. Baik pembaca blog yang kebetulan mampir di postingan saya tentang jalan-jalan. Atau teman dekat yang melihat update-an saya baik di ig maupun facebook.

Kalau boleh jujur sih, itu pun nggak seindah yang teman-teman bayangkan, lho. Ada juga dramanya, lha wong namanya saja sama anak-anak. Yang nangis minta sesuatu, yang tantrum karena cari perhatian, yang bosen, semua juga pernah saya alami. Itu sebabnya saya pun sempat give up dan malas jalan-jalan sama DuoNaj.

Jangankan ke museum atau arena edutrip lainnya. Main ke playground di mall atau wahana hiburan yang jelas-jelas untuk anak saja, kadang saya dan suami masih kewalahan dengan drama khas mereka. Tapi kalau diturutin, ya nggak bakalan ada habisnya sebelum mereka tumbuh besar. Justru mungkin saya akan menyesal karena tidak segera membuat kebiasaan baru untuk mereka.

Custom Post Signature

Custom Post Signature