Parenting Story, Mom's Life, Tips

Telaga Sarangan - Sebuah Pesona, di Lereng Gunung Lawu

|

"Bukan pulang, kalau belum, menyambangi Telaga Sarangan"


Sumber : wisatanesia.co

Telaga Sarangan merupakan sebuah ikon wisata dari Kota Magetan. Kota kecil di sebelah timur Surakarta, yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Karanganyar. Telaga Sarangan yang juga dikenal dengan sebutan Telaga Pasir. Konon, menurut legenda, asal usul Telaga Sarangan ini dikarenakan ulah sepasang suami istri. Yaitu, Kyai dan Nyai Pasir.

Telaga Sarangan merupakan telaga alami yang berada pada ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut, dan terletak di lereng Gunung Lawu, Desa Sarangan, Kecamatan Plaosan. Ibarat mutiara, Telaga Sarangan tersimpan dalam cangkang kerang. Jauh dari pusat Kota Magetan, dan cenderung lebih dekat dengan wilayah Jawa Tengah. Area Telaga Sarangan, memiliki luas sekitar 30 hektare dan kedalaman 28 meter. Dengan suhu udara antara 15 sampai dengan 20 derajat celcius, bisa dibilang sejuk di kala siang, dan dingin saat malam menjelang.

Sebagai obyek wisata andalan di Kota Magetan, Telaga Sarangan mampu menarik ratusan ribu wisatawan setiap tahunnya. Pada saat libur panjang, libur hari besar dan nasional, weekend, atau pada saat Festival Larung Sesaji. Telaga Sarangan selalu dipenuhi dengan pengunjung yang sekedar singgah dan menikmati panoramanya. Atau, menginap dan menghabiskan malam serta menyambut matahari paginya.


Sumber : wisatanesia.co




Buat saya yang lahir dan dibesarkan di Magetan. Rasanya bukan pulang, kalau belum menyambangi Sarangan. Pesona hutan alami nan hijau, seolah membingkai danau dengan airnya yang jernih. Kesejukan dan kesegaran udara pegunungan, yang hampir mustahil untuk saya rasakan di ibukota. Kerap mendatangkan rasa rindu. Bukan hanya untuk memanjakan raga dengan ketenangannya. Namun juga memberikan makanan bagi otak, dengan suplai oksigen berlimpah, yang masih murni tanpa kontaminasi polusi industri.




Seiring perkembangan sektor bisnis pariwisata di Kota Magetan, fasilitas akomodasi di Sarangan pun terimbas cukup besar. Puluhan rumah makan dan hotel dengan berbagai fasilitas dan range harga.  Telah berdiri, berjajar di sepanjang area wisata. Bahkan, untuk pemesanan pada hari-hari tertentu atau peak season. Reservasi harus dilakukan semenjak jauh hari dengan harga yang lumayan fantastis. Hal ini sungguh menggembirakan, karena secara langsung membawa dampak positif bagi perekonomian rakyat, dan pendapatan daerah tentunya.

Disamping itu, perkembangan Telaga Saragan sebagai andalan wisata utama di Magetan. Telah memberikan sumbangsih besar dengan semakin terdorongnya UKM di bidang kerajinan kulit, jajanan khas Magetan, kerajinan batik tulis, dan usaha kuliner khas Magetan lainnya. Untuk terus bertumbuh dan berinovasi.

Penduduk setempat pun semakin berani untuk mulai menginvestasikan uangnya dalam bentuk modal usaha. Sehingga, iklim usaha kian menggeliat. Suatu saat, julukan Magetan sebagai "kota pensiunan", atau "kota PNS", mungkin akan segera berubah. Semoga!









 

Kanal Banjir Timur, Jakarta - Area Olahraga dan Pasar Tumpah

|
"Kanal Banjir Timur Jakarta, telah dibangun dan melintasi 13 kelurahan di Jakarta. Dua kelurahan di wilayah Jakarta Utara, dan 11 kelurahan di wilayah Jakarta Timur"


Sebagai warga DKI, saya merasa beruntung, karena mendapatkan tempat tinggal di wilayah yang dilalui Kanal Banjir Timur. Loh! Koq beruntung? Bukannya malah bahaya ya, kalau sewaktu-waktu kanalnya jebol, apa gak banjir bandang itu? Nauzubillah, semoga hal tersebut tidak terjadi. Yang namanya bencana atau musibah, saya yakin tidak ada yang menginginkannya. 

Menetap dan menjadi bagian dari "jantung Indonesia" Salah satu kota di mana asa dilabuhkan, namun tak pernah absen dengan berita kebanjiran. Membuat saya merasakan sendiri, betapa besar manfaat menjaga kebersihan, salah satunya dengan membuang sampah pada tempatnya. Hal sesederhana itu, ternyata tidak mudah dalam pengaplikasiannya.

Nyatanya, sampah masih bertebaran di mana-mana dan sungai beralih fungsi menjadi TPA. Memang benar kiranya, bahwa nilai-nilai harus ditanamkan semenjak dini. Dipupuk dan ditumbuhkan secara terus menerus. Karena merubah kebiasaan itu ibarat meminta untuk dilahirkan kembali. Susah jendral!

Nah, balik lagi ke kanal banjir timur ya, atau biasa disebut KBT. Sebenarnya, di Jakarta terdapat dua kanal banjir. Yaitu, Kanal Banjir Timur (KBT) dan Kanal Banjir Barat (KBB). Pembangunan keduanya ditujukan untuk mencegah banjir akibat luapan sungai di Jakarta. Berhubung saya tinggal di wilayah timur, jadi saya penguasanya lebih paham wilayahnya, hehehehe...


Kanal Banjir Timur Jakarta, telah dibangun dan melintasi 13 kelurahan. Dua kelurahan di wilayah Jakarta Utara, dan 11 kelurahan di wilayah Jakarta Timur.  KBT direncanakan untuk mengatasi banjir di wilayah Jakarta Timur. Yaitu, dengan menampung aliran Kali Ciliwung, Kali Cililitan, Kali Cipinang, Kali Sunter, Kali Buaran, Kali Jati Kramat, dan Kali Cakung.

Meskipun, kenyataannya sampai saat ini Jakarta masih saja banjir. Namun, Kanal Banjir Timur hadir sebagai destinasi baru untuk warga seperti saya. Yang butuh tempat olahraga, sekaligus menikmati area hijau serta berbelanja. Dan yang paling penting, ramah dibudget.

Semenjak KBT dibangun sedemikian rupa, dengan melibatkan CSR dari beberapa perusahaan swasta dan BUMN. Fungsi utamanya telah bertambah, tidak hanya sebagai tanggul pencegah banjir. Namun, menjadi salah satu area olahraga dan wisata ekonomis bagi masyarakat ibukota.  Selain jogging track, tersedia juga area khusus pengguna sepeda. Sedangkan. di bagian kanan dan kirinya, rumput hijau tertata rapi dengan deretan aneka pepohonan yang membuat rindang. Dan udara pagi terasa lebih segar.





Pada jarak tertentu, disediakan tempat istirahat, lengkap dengan parkir sepeda. Atau, tempat duduk dan taman dengan area refleksi injak batu. Di tempat-tempat inilah, biasanya para pengunjung beristirahat. Namun, beberapa orang memanfaatkannya untuk melakukan gerakan yoga atau peregangan ringan.

Saya sekeluarga, bisa dibilang salah satu pendatang setia KBT. Hampir setiap akhir pekan, kami habiskan pagi hingga matahari mulai bergeser  45 derajat ke arah barat. Kami biasa berlari, jogging kecil, bersepeda atau sekedar jalan-jalan di area ini. Karena kami termasuk keluarga yang kurang suka main di pertokoan, maka tempat seperti ini terlalu sayang untuk dilewatkan.

Tak hanya berolahraga, berbagai barang dijual di KBT layaknya "Pasar Tumpah" Mulai baju, sandal, aksesories, hijab, sepatu, peralatan dapur, mainan dan buku-buku semua tersedia. Kalaulah ingin sekalian sarapan di luar. Nasi kuning, ketupat sayur, bubur ayam, bubur manado, salad buah, burger, pizza, kopi, jus buah, dan aneka makan lain juga tersedia. 

Nah, tidak hanya itu saja. Buat ibu-ibu seperti saya yang kemana-mana selalu bawa buntut balita. Odong-odong, kuda, delman dan kereta mini, siap untuk disewa. Dijamin anak-anak gembira setelah naik kuda, ibunya bahagia karena adaaaa saja yang bisa dibawa pulang. Dan, bapaknya tongpes sehat, setelah berlari atau bersepeda. Heheheheh.. seru bukan?






Kondisi sungai di sepanjang KBT yang semakin bersih, terawat dan bebas sampah, karena selalu dipantau oleh petugas kebersihan. Menambah kenyamanan untuk sekedar ngobrol berlama-lama, atau bermain bersama anak-anak sembari menikmati kudapan atau minuman ringan.

Sungguh, hal yang sesederhana ini, buat saya benar-benar berkah. Menemukan area terbuka dan hijau di tengah hiruk pikuk dan kebisingan suara knalpot kendaraan. Belum lagi udara pengap karena padatnya bangunan dan polusi asap. Keberadaan KBT seolah menjadi tempat untuk "bernafas" dan mendapatakan kembali kehidupan ala wong ndeso.

"It's awesome for us, to have this story while we build our solid team. Someday, we hope that we have other story between KBT with us"




Selain itu, KBT seolah menjadi saksi sejarah bagi kami sekeluarga. Semenjak hijrah ke Jakarta dengan satu balita cantik usia dua tahun, yang baru belajar mengayuh sepeda roda empatnya. Hingga sekarang sudah lihai mengayuh sepeda roda duanya. Kemudian cerita berlanjut, saat baby Djati masih di perut, kemudian didorong dalam stroller, selanjutnya dibonceng sepeda ibunya. Dan, sekarang sudah mengayuh sendiri sepeda roda empatnya. It's awesome for us, to have this story while we build our solid team. Someday, we hope that we have other story between KBT with us. Heheheheheh...segitunya, lebay! 




Nah, buat teman-teman yang ingin merasakan hidup ala wong ndeso juga seperti saya. Sempatkan untuk datang ke KBT. Agar lebih nyaman, siapkan perlengkapan olahraga, dan dompet jangan sampai lupa. Kapan-kapan kita janjian ya! See U :)


The Milestone - Djati genap 2 tahun

|
"Selamat Panjang Umur dan Bahagia"



Sejak bangun tidur, di Sabtu pagi 17 September lalu. Ibuk, Kakak dan Ayah terus menyanyikan lagu itu. Adik Djati, yang biasanya selalu pecicilan. Pagi ini, agak malu-malu. Berkali-kali minta dipeluk, hanya untuk menyembunyikan wajah lucunya. Hari itu Djati genap berusia dua tahun. Tak terasa, waktu berjalan begitu cepat. Bahkan, luka bekas secar masih juga sering terasa nyeri, eee.. si jabang bayi sudah lulus S3 ASI. Buat Ibuk, ini masih seperti mimpi.

Flashback, 2 tahun yang lalu. Ibuk berangkat ke rumah sakit, bersama Kakak dan Ayah, malem-malem naik motor MIO yang super mungil. Tanpa persiapan melahirkan selembar pun. Satu setengah jam kemudian, di sebuah rumah sakit di Jakarta, rejeki yang luar biasa ini dilahirkan dengan selamat dan tak kurang suatu apapun. Djati, bayi yang berkulit kuning bersih, hidung besar, persis seperti Ibunya.

 Mengingat kembali, masa-masa kehamilan Djati, Ibu sering merasa sedih. Selama masa peralihan, perekonomian keluarga sedikit terguncang. Memang pada akhirnya ujian itu menjadi pelajaran berharga bagi kami. Namun, setiap kenangan tetap menjadi sesuatu yang memberikan kesan tersendiri bagi kami. Belum lagi, Djati kecil sempat menderita bayi kuning. Otomatis perawatan ekstra harus kami berikan untuk membantu pemulihannya. Sungguh banyak cerita di awal kehidupannya.




Selama dua tahun mengamati tumbuh kembangnya. Tak terhitung jumlahnya, hal positif yang terus membuat kami bersyukur atas segala keterbatasan dalam mengasuhnya. Berkat Djati juga, kami banyak merubah cara mendidik dan berkomunikasi dengan Najwa. Kalau kata orang, pada anak pertama orangtua banyak berhutang, Hutang belajar dan mencoba-coba. Dan itu benar adanya. Maka, kami putuskan untuk memperbaiki sekaligus melengkapi saat memiliki anak kedua. Dan, ternyata menjadi orangtua itu bergurunya justru sama anak.

"Just do it! lakukan dengan hati, sesuaikan dengan kondisi sendiri, karena ini perjalanan saya dengan anak-anak. Yang pasti berbeda dengan perjalanan ibu lain."




Djati kecil tumbuh menjadi anak aktif. Perawakannya yang cenderung kecil tapi tinggi, membuatnya  lincah bergerak. Pada usia 13 bulan, Djati telah berhasil melakukan langkah-langkah pertamanya. Dan, beberapa hari kemudian, mulai mencoba untuk berlari meskipun masih sempoyongan. Kemampuan berbicaranya memang masih jauh jika dibandingkan Najwa pada usia yang sama. Namun, dia sudah mengerti dan mampu untuk menyampaikan maksudnya. Semua anak berbeda, dan kamipun sabar menikmati step by step perkembangannya.


Selain bersepeda roda tiga, sepak bola merupakan salah satu kesenangannya. Dan akhir-akhir ini, Djati mulai menyukai mobil-mobilan, kereta, pesawat, kuda dan sapi. Kami selalu tidak bisa menahan tawa, saat Djati sudah mulai berlagak bak sapi yang sedang marah. Sruduk sana, sini dengan mimik mukanya yang imut, bermata belok dan bibir dimonyong-monyongkan. Ahhh..lelaki kecilku, we love u so much

Dari Djati, kami belajar bahwa hidup harus berani, itu pun yang selanjutnya kami ajarkan pada Najwa, yang cenderung lebih banyak pertimbangan dalam bertindak. Dan kurang berani mencoba hal baru. Sedangkan, bagi saya sendiri sebagai Ibunya. Djati telah memberikan perspektif yang berbeda dalam pengasuhan anak. Tidak terlalu pakem dengan teori dan segala tetek bengeknya. Just do it! lakukan dengan hati, sesuaikan dengan kondisi sendiri, karena ini perjalanan saya dengan anak-anak. Yang pasti berbeda dengan perjalanan ibu lain.


Happy Birthday Adik, jadi anak sehat, kuat, tangguh dan shalih ya Le, DJATI






Rumah Paris Jogja - Guest House Unik Bergaya Vintage

|

"This is one of my wishlist to go"




Beberapa waktu yang lalu, Nomie, salah seorang teman saya sewaktu kuliah di Jogja. Memasang profile picture yang begitu menarik perhatian saya. Karena penasara, langsung saja saya alamatkan sebuah pesan BBM ke kontaknya. Dimulai dari tanya kabar, akhirnya sampai juga saya pada niat utama, hehehe...ada maunya. Saya langsung menginterogasi Nomie, perkara fotonya yang kece abis. Dan, ternyata lokasi  foto-foto itu diambil, ada di Jogja. Di sebuah penginapan berkonsep rumah. Nama tempatnya Rumah Paris Bed and Breakfast,  Jogja . Penginapan ini sangat unik, dan mungkin ini adalah satu-satunya penginapan di Jogja yang memiliki konsep London vintage juga shabby chic




Tiba-tiba Saya  merasa kudet banget ya, sama Jogja. Wajar sih, secara 10  tahun yang lalu meninggalkan kota perjuangan ini. Kalaupun sesekali main ke sana, ruang gerak saya terbatas daerah Jogja atas dan kota, ya,  karena kakak saya tinggal di Jakal KM 14. Jadi kalau tiba-tiba ada penginapan yang lucu banget kayak gini, saya pasti terkagum-kagum. Apalagi penginapan ini berlokasi di daerah Tembi, Bantul. Jogja daerah selatan yang udah deket banget daerah pantai.  Wahhh, semakin cinta sama Jogja. Secara Jogja berhati mantan nyaman.



Nah,  penginapan gaya barbie ini  usut punya usut jadi  lokasi syuting video klip nya SO7 lho!  kalau gak salah sih, berarti bener  donk (fans berat SO7) .Menurut sumber yang saya percaya, yaitu Nomie teman saya itu. Rumah Paris Bed & Breakfast , terdiri dari 3 kamar  tematik dengan rate harga yang berbeda, yaitu Beach Cottage, World Traveller & Shabbylicious Suite. Ruangan - ruangan ini bisa disewa satu paket atau satuan, menyesuaikan dengan kebutuhan. Nah, Kalau pengen sewa satu kamar saja, tapi pengen yang agak lega, maka si  shabbylicious ini paling recomended, karena dilengkapi fasilitas  livingrom.











Suasana di Rumah Paris  juga cozy banget, serasa di rumah sendiri. Cocok untuk reuni, atau kumpul keluarga. Halaman depannya asri, sedang bagian belakang lumayan luas untuk bermain anak-anak. Begitu masuk ke rumah, kalian akan dimanjakan dengan aneka aksesories cantik dan vintage style. Trus ada dapur imut, yang langsung dipakai juru masaknya untuk menyiapkan sarapan pengunjung, walah, feel so special lah pokoknya. Saya jadi super mupeng banget, dan memohon-mohon pada suami untuk menjadikannya next destination hehehe... Eh tapi, denger-denger untuk peak season atau weekend,  kita musti booking dari jauh hari. Karena kapasitasnya  terbatas, jadi tempat ini selalu full booked.

Selain menginap, Rumah Paris juga dibuka untuk sekedar tempat singgah dan ambil foto. Untuk pengambilan gambar dengan kamera ponsel, maka tidak dikenakan charge. Sedangkan dengan kamera SLR barulah dikenakan biaya. So , buat kalian yang mau pre-wedding  atau post-wedding, sok dah. Rumah Paris bisa jadi alternatif lokasi.

How to get there

Terletak di Jl. Parangtritis KM 8,5. Tepat di depan Rumah Budaya Tembi. Menurut saya sih, naik taksi paling gampang, kecuali bawa kendaraan pribadi.

How much does it cost

Untuk breakfast atau lunch, tarif yang dikenakan antara 20.000 - 50.000.  Standart tarif makan di cafe atau resto.
Untuk tarif kamar, antara   400.000 - 550.000, tergantung tipe kamar. Sedangkan untuk sewa satu rumah penuh, sekitar  1.300 .000.

Tips
Kalau berniat menginap di sana, sebaiknya reservasi dulu sekitar 2 minggu sebelum hari H. Atau, kalau cuma ingin mampir trus foto-foto, katanya pagi hari antara jam 8 - 10 adalah waktu yang paling tepat.


Note : Special for Nomie, Thanks so much for the information yach. Kamu berhasil bikin aku pengen :p

MY BREASTFEEDING STORY WITH NAJWA & NAJIB

|


Hampir 4 tahun menikmati lika-liku menjadi breastfeeding mom, banyak hal telah saya lalui. Mulai menyusui anak pertama yang penuh drama, hingga anak kedua yang sedikit lagi lulus S3, semua memberikan pengalaman tersendiri. Namun, satu hal yang pasti. Banyak hikmah yang dapat saya petik hingga hari ini. Masih dalam rangka ikut merayakan Pekan Asi Dunia. Dengan senang hati, saya ingin membagi salah satu pengalaman berharga dalam hidup saya ini.




Hamil dan menyusui anak pertama penuh tantangan

Kata orang, anak pertama selalu spesial. Ya, mungkin itu benar. Saya mengalami banyak hal ketika hamil anak pertama. Mulai overweight, bayi melintang hingga gatal di seluruh badan pada hari kelima menjelang perkiraan lahir. Kala itu diagnosa dokter mengatakan bahwa saya mengalami keracunan kehamilan. Oh God, perasaan campur aduk. Antara khawatir dengan kondisi janin, harus menjalani pengobatan untuk gatal, juga bagaimana agar emosi saya tetap stabil menjelang D-day. 

Pada akhirnya saya gagal mengelola emosi. Perasaan khawatir akan kondisi janin  membuat fisik saya menurun drastis, rasa gatal semakin menjadi dan saya menjadi lebih sering menangis. Kondisi saya semakin buruk karena merasa kurang mendapat support dari suami yang saat itu merantau di ibukota. Lengkap sudah rasanya, my first pregnancy just like queen drama story.

Pada H+5 perkiraan lahir, saya mengalami kontraksi per 10 menit. Tepatnya malam hari, satu jam setelah suami saya kembali ke perantauan. Semalaman saya merasakan kontraksi tanpa adanya flek atau cairan lain yang mengikuti. Hingga esoknya, saya pergi ke bidan untuk melakukan pemeriksaan.
Baru pembukaan dua, dan posisi bayi belum masuk jalan lahir. Keadaan ini berlangsung hingga 12 jam kemudian. Tekanan darah terus naik hingga 150/100, sedangkan jalan lahir baru bukaan 4.


Akhirnya keputusan sulit harus kami ambil. Berbekal persetujuan dan doa dari suami via telepon, tepat pukul 10 malam operasi secar pun dilakukan. Saya dirujuk ke rumah sakit daerah yang berjarak kurang lebih 25 km dari rumah. Sekitar satu jam perjalanan dengan mobil pribadi. Didampingi bidan, mama dan bapak ibu mertua, saya memasuki ruang operasi tanpa persiapan mental. Hanya pasrah dan memohon keselamata

Anak pertama saya lahir pada pukul 11 malam. Dengan berat 3,8 kg dan panjang 51 cm. Paling besar di antara 7 bayi lain yang lahir pada malam hari itu. Saya bersyukur, seorang bayi cantik lahir dengan kondisi sempurna. Kulitnya bersih dan tidak ada tanda-tanda terdampak keracunan hormon seperti yang dialami ibunya. Luar biasa, sungguh Tuhan Maha Kuasa.





IMD terlewat, ASI pertama tak kunjung keluar

Malam setelah proses persalinan, bayi saya dirawat terpisah di ruang bayi. Saya tidak mendapatkan kesempatan melakukan IMD. Karena menurut dokter, badan saya yang masih gatal tidak memungkinkan untuk dilakukan IMD. Saya hanya bisa pasrah, apapun yang terbaik untuk anak saya.

Bahkan, saat perawat melihat puting saya datar dan ASI tak kunjung keluar. Bayi saya langsung ditawarkan susu formula. Seluruh anggota keluarga mengiyakan, dan saya masih terlalu lemah untuk ngotot apalagi beradu argumen. Semua teori ASI yang pernah saya baca serasa lenyap . Merasa bersalah dan tak ingin disalahkan lagi, membuat saya menuruti segala hal yang disaran dokter, perawat dan orang tua. 

Saya gagal memberikan yang terbaik di awal kehidupannya. Padahal saya tahu, bahwa bayi yang baru lahir memiliki cadangan makanan selama 3 x 24 jam. Sedangkan ukuran lambungnya yang baru sebesar biji kemiri, hanya membutuhkan sekitar  5-7 ml ASI, artinya tidak perlu terburu-buru menawarkan sufor pada hari pertama kehidupan bayi. Sayangnya, kepercayaan diri saya terlanjur runtuh saat itu.

ASI keluar di hari ketiga    

Hari ketiga, setelah proses persalinan, kami diijinkan untuk pulang ke rumah. Walaupun masih sedikit, namun ASI saya telah keluar. Kolostrum pun sempat saya berikan kepada Najwa, putri saya yang mungil. Hari-hari berikutnya lebih nyaman saya jalani. Selain lingkungan rumah yang lebih kondusif dibanding di rumah sakit. Support dari suami yang telah kembali ke kampung seakan menjadi stok semangat tersendiri. Naluri dan kebahagiaan sebagai ibu baru membuat saya sumringah menjalani kesibukan dengan bayi. Meskipun nyeri bekas jahitan terus mendera.


Baby blues melanda, di minggu kedua pasca persalinan

Hari-hari berikutnya tak semudah yang saya bayangkan. Setelah suami kembali ke ibukota, saya harus bergadang sendirian setiap malam. Sebenarnya, Najwa bukanlah tipe bayi yang rewel di malam hari. Hanya saja, setiap jam 2 dini hari, dia selalu bangun dan baru tidur lagi ketika menjelang shubuh.

Satu dua hari saya masih menikmati situasi ini. Hingga pada malam-malam berikutnya, ketika badan mulai terasa letih, diam-diam saya sering menangis sendiri. Keadaan ini berlangsung hampir setiap hari. Merasa sendiri, kurang perhatian dan kasih sayang. Seolah beban hidup saya menjadi berlipat setelah kelahiran si bayi.

Beberapa bulan kemudian saya baru menyadari. Rupanya, pada saat itu saya sedang mengalami baby blues syndrome . Ada pula yang menyebut maternity blues atau post partum syndrome. Sindrom ini berupa gangguang emosi ringan yang biasa dialami ibu setelah melahirkan dalam kurun waktu kurang lebih 2 minggu setelah melahirkan.

Menurut dokter, baby blues syndrome biasanya ditengarai oleh beberapa hal, seperti :
  • Kelelahan pasca melahirkan
  • Ketidaksiapan ibu menghadapi kelahiran bayi
  • Kesulitan dalam memberikan ASI
  • Kurang mendapat dukungan sosil, seperti dukungan suami dan keluarga terdekat
  • Faktor psikososial, seperti masalah umur, latar belakang sosial dan faktor ekonomi.
  • Komplikasi kelahiran 


Mengambil hikmah dari kegagalan ASI eksklusif anak pertama

Saya masih terus menyusui Najwa hingga usianya tepat 23 bulan. Karena hasil pumping yang selalu sedikit, saya enggan melanjutkan kembali. Siang hari,saat saya bekerja, Najwa mengkonsumsi susu formula. Pada malam hari hingga menjelang saya berangkat ke kantor, Najwa full mengisap payudara ibunya.
Saya telah bangkit dari perasaan bersalah karena gagal memberikan yang terbaik. Sebagai gantinya, saya curahkan penuh perhatian dan kasih sayang kepadanya. . Hubungan emosional Saya dan Najwa sama sekali tidak terganggu. Kami sangat dekat dan bahkan agak susah untuk berpisah.



 
Percaya diri, bekal utama saat hamil anak kedua

Satu setengah tahun setelah Najwa disapih, Saya melahirkan anak kedua. Seorang bayi laki-laki dengan berat 3,2 kg dan panjang 50 cm. Najib, begitu kami menamainya, lahir pada usia kehamilan 34 minggu. Saya kembali harus masuk ruang operasi, dan kali inipun tanpa persiapan lagi. Siang harinya saya mengalami flek. Dan malam harinya,ketika saya bermaksud untuk memeriksakan diri. DSOG langsung menginstruksikan untuk dilakukan operasi.


Untuk yang kedua kalinya saya tidak bisa menolak. Pupus sudah harapan saya untuk melahirkan secara normal. Namun, saya yakinkan diri, bahwa inilah yang terbaik untuk kami.  Saya buang jauh rasa kecewa, karena khawatir mempengaruhi emosi. Apalagi, saat itu saya tidak sendiri lagi. Suami saya dan Najwa terus mendampingi dan memberi support tentunya. Saya menyadari, kepercayaan diri saya begitu tinggi, karena support dari orang yang saya sayangi. Hal tersebut memang tidak tergantikan.


Menyusui 5 jam setelah operasi

5 jam setelah proses operasi, saya dan bayi dipindahkan dalam ruang gabung. Bersyukur saya mendapatkan rumah sakit yang sangat mensupport program ASI eksklusif. Saya langsung menyusui Najib dan terus didampingi hingga terbiasa dengan posisi dan pelekatan mulut bayi dianggap tepat. Rasa sakit bekas operasi, yang sebenarnya jauh lebih nyeri dibanding yang pertama, hilang sudah berganti bahagia. Lega karena kolostrum pertama telah mengalir dalam tubuh anak lanang. Meskipun gagal melakukan IMD untuk yang kedua kalinya. Saya sudah cukup puas dengan keberhasilan memberikan ASI pada awal kehidupannya. Mukjizat!


Bayi Najib divonis kuning, dan harus menjalani terapi cahaya

Hasil lab menunjukkan bilirubin bayi saya berada di angka 17. Menurut dokter, bayi saya menderita kuning dan harus menjalani terapi cahaya. Sebenarnya, bagi bayi yang baru lahir, kondisi kuning adalah wajar. Hal ini dikarenakan kerja organnya terutama hati belum maksimal. Namun, suami saya telah menyetujui untuk dilakukan penyinaran. Jadilah kami menginap semalam lagi. Di kamar terpisah, dan saya hanya datang setiap dua jam untuk mengantarkan ASI perah.
Saya mulai kelelahan setelah melakukan 6 kali pumping selama 12 jam. Pada malam harinya, ketika perawat melihat kondisi saya melemah, dengan berat hati ditawarkannya susu formula. Dilema kembali mendera. Saya tidak rela, namun tidak mampu berbuat banyak. Menjelang pukul 9 malam, saya menandatangani surat persetujuan pemberian susu formula.


Bayi Najib menolak pemberian sufor dari botol

Pagi-pagi, saat terdengar adzan shubuh, saya bergegas ke ruang terapi. Pagi itu,  20 September 2014, proses penyinaran telah berlangsung selama 24 jam. Artinya, bayi saya akan dikeluarkan dari box bayi, dan saya bisa menyusuinya secara langsung.
Najib begitu kuat mengisap payudara saya, seolah kelaparan. Dan benar saja, perawat menyerahkan kembali susu formula yang kemarin saya beli. Pantas saja dia kelaparan, selama 12 jam terakhir, Najib hanya minum 2 botol ASIP berisi masing-masing 60 ml. Haru namun bahagia, peluang melanjutkan ASI eksklusif terbuka di depan mata. Kembali Tuhan menunjukkan kuasaNya.



Lancar 6 bulan pertama, lanjut hingga hampir 2 tahun. That's amazing for me!


Saya begitu menikmati petualangan menjadi breastfeeding mom bersama Najib. Menjadi stay at home mom, dengan 2 balita dan telah berkumpul dalam satu rumah dengan suami. Membuat kepercayaan diri saya begitu tinggi. Namun, sama halnya dengan saat menyusui Najwa dahulu. Hasil pumping saya selalu sedikit. Akhirnya, saya memutuskan tidak lagi memerah ASI. Saya selalu menyusui Najib seara langsung, kapanpun dan di mana pun. Pengalaman kedua ini, mengajarkan kepada saya, bahwa hasil pumping tidak menunjukkan jumlah ASI yang sebenarnya. Selama 23 bulan saya menyusui, tumbuh kembang Najib sangat menggembirakan. Meskipun tidak berbadan bongsor, namun sangat lincah dan jarang terserang penyakit.





ASI Sarat Manfaat


Menurut dr. Hikmah Kurniasari, MKM, CIMI, seorang konselor menyusui dan instruktur pijat bayi internasional. Semua gizi yang dibutuhkan oleh seorang bayi sudah tersedia dalam ASI. Selain membangun bonding dengan ibu, bayi ASI cenderung mandiri dan percaya diri. Tidak hanya untuk bayi, ASI juga sarat manfaat bagi ibu. Berikut adalah beberapa manfaat ASI baik bagi ibu maupun si bayi.

Manfaat untuk bayi
  1. Bayi ASI memiliki antibodi lebih baik.
  2. Perlindungan jangka panjang  dan mengurangi resiko alergi, diabetes, infeksi paru, infeksi telinga dan diare
  3. ASI mengandung banyak zat yang bermanfaat bagi kekebalan tubuh.
  4. Mengurangi resiko kematian bayi mendadak (SIDS)
  5.  Mendukung peningkatan kemampuan kognitif
  6.  Zat yang terkandung dalam ASI melindungi bayi dari penyakit dan infeksi tidak hanya saat itu, namun setelah bayi disapih.
Manfaat untuk ibu
  1. Melalui ASI, ibu akan mempelajari kebiasaan bayi secara naluriah.
  2. Membantu proses penyembuhan pasca melahirkan.
  3. Menyusui membakar kalori hingga 500 kalori per hari.
  4. Ibu menyusui memiliki resiko lebih rendah dari osteoporosis postmenopause.
  5. Menyusui membantu menurunkan berat badan pasca hamil.
  6. Menyusui membantu mengeluarkan hormon oksitosin, yang membantu rahim kembali ke ukuran semula.
Mengetahui berbagai manfaat ASI membuat saya semakin yakin dan percaya diri untuk melanjutkan menyusui hingga Najib berusia 2 tahun, bahkan lebih. Dan, satu hal lagi yang selalu saya syukuri. Meskipun tidak berhasil memberikan ASI eksklusif kepada Najwa, setidaknya saya masih memberikan setengah dari kebutuhannya dalam sehari, selama 23 bulan pertama kehidupannya.


Tulisan ini saya ikutkan dalam Give Away Dunia Biza.
Semoga menginspirasi, dan menjadi motivasi seluruh ibu untuk memberikan ASI epada buah hatinya. Kalau saya BISA, ibu juga PASTI BISA. Karena SEMUA IBU, BISA!
Happy Breastfeeding MOM!








Sumber :
  • Catatan pribadi selama dua kali menjadi Busui
  • theAsiaParent Indonesia
  • Enjoy Your Pregnancy, Moms! (Ana Wardhatul Jannah, Am.Keb & dr. Widja Widajaka, Sp.OG)


Custom Post Signature

Custom Post Signature