Parenting Story, Mom's Life, Tips

Tantrum - Apa dan Bagaimana Menanganinya.

|




Beberapa bulan terakhir, si kecil sering menunjukkan aksi histerisnya pada saya. Nangis kenceng sambil teriak-teriak, badannya kaku dan cenderung melawan, terakhir dia bakalan muntah. Kejadian seperti ini tidak hanya dilakukannya saat di rumah. Bahkan beberapa kali saya harus menghadapinya saat berada di tempat umum. Seperti di pusat perbelanjaan, tempat wisata bahkan saat sedang kegiatan di sekolah Najwa.

Dulu, saat baru memiliki satu anak. Saya sempat malu dan menjadi emosional. Tapi sekarang saya semakin percaya diri menghadapi aksi histeris balita seperti ini. Karena fase-fase seperti ini hampir di alami oleh setiap balita pada rentang usia menjelang 2 hingga 4 tahun.

Tantrum atau bisa juga disebut Temper Tantrum dalam bahasa medik. Fase ini merupakan salah satu tahap tumbuh kembang balita yang unik. Pada tahapan yang sangat sensitif ini, balita cenderung tantrum untuk mengekspresikan kemauannya. Seperti yang kita ketahui, balita cenderung lebih besar kemampuan mengekspresikan perasaannya, ketimbang kemampuannya dalam melakukan keterampilan tertentu.  Inilah salah satu faktor yang mendorong terjadinya tantrum. Sebagai bentuk ekspresi menunjukkan apa yang dirasakannya.

Awalnya, saya mengira semua jenis aksi histeris anak ini sebagai tantrum karena frustasi atas keinginannya mengekspresikan rasa. Sehingga dengan mudahnya saya melakukan ini dan itu untuk menenangkan bahkan menyenangkan hatinya. Hal seperti ini didukung pula oleh orang tua saya yang cenderung tidak tega melihat cucunya menangis sampai muntah. Ya, namanya juga mbah, pasti lebih sayang sama cucunya ketimbang kita anak-anaknya. Berdasarkan pengalaman, sih. Hehehe.

Namun kemudian saya belajar dari berbagai portal perkembangan anak, setidaknya ada 2 jenis tantrum yang perlu disikapi dengan cara yang berbeda.



1. Tantrum Frustasi

Terjadinya tanrum frustasi biasanya dikarenakan keinginannya untuk menambah suatu jenis keterampilan, tapi belum berhasil. Atau ingin melakukan suatu hal, tapi belum mampu. Misalnya dalam aktivitas belajar bersepeda, kemudian si kecil belum berhasil mengayuhnya, maka bisa jadi dia menangis histeris.

Atau saat si kecil ingin memanjat, entah itu tempat tidur, meja atau tangga rumah. Kemampuannya yang memang belum sempurna kerap kali menyebabkan keterbatasan dan berujung frustasi karena nggak kesampaian.

Pada anak-anak yang cenderung berkemauan tinggi, kejadian tantrum akibat frustasi ini bisa jadi berlangsung berkali-kali. Oleh karenanya penanganan yang tepat dan pendampingan serta support dari orang-orang terdekatnya, terutama orang tua tidak dapat diabaikan lagi.

2. Tantrum Manipulatif

Nah, kalau yang ini perlu diwaspadai, dan orang tua harus jeli mengindikasi tanda-tandanya. Pada kejadian tantrum manipulatif, biasanya anak sedang melancarkan aksinya untuk mendapatkan sesuatu. “Ahh … Kalau aku nangis pasti nanti kemauanku dituruti.”  Begitu mungkin yang ada dalam batinnya.

Anak saya berkali-kali melakukan aksi ini. Karena cenderung memiliki pembawaan yang lebih ekspresif namun berkemauan tinggi, penanganan untuk anak kedua yang kebetulan laki-laki jauh lebih sulit dan rentang waktunya lumayan lama. Berbeda dengan anak pertama. Saya belum sempat berkonsultasi mengenai hal ini, apakah jenis kelamin anak memengaruhi tingkat histeris mereka.  Mungkin lain waktu akan saya buat perbandingan di postingan yang lain.

Menangani anak dengan aksi tantrum manipulatif memang lebih menguras energi. Karena pada dasarnya mereka memang sengaja melakukannya untuk mendapatkan sesuatu. So, sudah pasti effort-nya lebih besar ketimbang karena frustasi biasa.
 
Itulah sebabnya, menangani anak dengan 2 jenis tantrum di atas tidak bisa disamakan. Pun, orang tua harus lebih teliti dalam mengindikasi.



1. Penanganan pada kasus tantrum frustasi

Karena pada kasus ini anak cenderung mengekspresikan perasaannya, misal karena tidak mampu melakukan sesuatu. Maka yang dibutuhkannya adalah dukungan dan pendampingan dari orang tua.  Luapan emosi yang cenderung meledak-ledak memberikan kesempatan pada kita untuk menunjukkan, “Aku ada untukmu.” Berikan pelukan, dengarkan curahan hatinya, bantu dengan cara mendukungnya merasa BISA.

Anak saya sering berteriak kemudian menangis saat gagal atau takut melewati seluruh tangga dalam permainan outdoor  Jembatan/ Tangga Pelangi. Faktor motorik yang belum sempurna, ditambah rasa takut jatuh membuatnya merasa frustasi saat tidak mampu menyelesaikan tantangan yang ada dalam permainan.

Saya pun tidak memaksakan anak untuk melalui semua tangga. Tapi dasar namanya anak-anak, rasa penasaran dan ingin seperti teman-temannya membuatnya terus mencoba, meskipun sambil sesekali harus frustasi.

Saya coba mendukungnya dengan menunjukkan bagaimana cara yang aman. Bagaimana tangan harus berpegangan disusul kaki melangkah. Menggunakan kaki yang mana sebagai tumpuan, dan melatih konsentrasi dengan melihat setiap tangga yang akan dinaiki. Butuh waktu sampai anak benar-benar bisa melaluinya. Tapi kini, setelah dia mampu melalui semuanya. Anak saya sangat gembira dan selalu berkata, “Aku hebat, kan, Buk?” Tentu saja dua jempol saya berikan untuknya.

Penanganan pada kasus tantrum akibat frustasi bisa jadi lebih mudah. Karena yang dibutuhkan anak adalah dukungan dan perasaan aman dengan kehadiran dari orang-orang terdekatnya.

2. Tantrum Manipulatif

Hem, tarik napas dulu sebelum melanjutkan pada bahasan yang satu ini. Karena hampir satu bulan ini, saya sedang diuji dengan si kecil yang  lumayan sering menunjukkan indikasi tantrum manipulatif. Kok, kayaknya saya sok tau banget si kecil lagi tantrum manipulatif. Ya, karena saya benar-benar mengamatinya. Hal Ini juga yang belakangan lumayan menguras energi dan kesabaran saya, karena si kecil bisa tantrum di mana saja, kapan saja.

Kejadian yang masih anget baru saja saya alami sekitar 2 hari yang lalu. Waktu itu saya dan DuoNaj pergi berbelanja ke salah satu hypermarket di dekat rumah. Saya juga sok gaya-gayaan, biasa belanja di toko sebelah rumah, ee .. ndadak belanja ke hypermarket. Hahaha… kualat BukNaj. Sebenarnya alasan saya berbelanja ke sana karena mau menghabiskan voucher lebaran saja. Pas susunya anak-anak habis, ya sudah, saya bawa DuoNaj belanja tanpa bapaknya.

Balik lagi ke masalah tantrum. Saya ingat betul, waktu itu setelah selesai berbelanja,  si kecil (Najib) minta bermain di Time Zone. Saya dan Najwa menolak karena kami prefer ke tempat bermain yang lain, yang lebih sepi. Najib menolak dan memaksa ke tenpat bermain pilihannya. Saya dan Najwa pun mencoba memberikan pengertian. Meskipun akhirnya nggak merubah situasi. Najib malah menangis dengan kencang, menjerit-jerit sambil berguling-guling di lantai.

Tiba-tiba saya dan Najwa menjadi pusat perhatian bak seleb kenamaan, hehehe. Nggak hanya pengunjung, penjaga tenant sampai security melihat kea rah kami. Ada yang merasa prihatin, nggak sedikit juga yang kelihatan sebal. Ya, wajarlah. Mungkin mereka merasa terganggu dengan jeritan dan suara tangis Najib.

Saya tetap berusaha tenang. Najwa dengan cuek-nya meninggalkan saya dan Najib menuju tempat bermain yang diinginkannya. Tinggallah saya sendiri menghadapi sorotan lampu kamera tatapan orang-orang. Saya coba menenangkannya, memberikan pengertian, memluk, menggendong namun akhirnya ditolak. Dan terakhir saya meninggalkannya.

“Wong edan!” Mungkin begitu pikir orang-orang. Tapi biarlah, karena saya tidak serta merta meninggalkannya menangis. Saya pastikan tempatnya aman, dan saya hanya menjauh beberapa langkah dengan tetap waspada  pada kondisi si kecil. 

Akhirnya Najib batuk-batuk seperti mau muntah, saya sudah waspada dengan mengeluarkan tissue untuk membersihkan. Tapi kemudian dia berdiri dan mengejar saya. Adegan selesai saat dia diam dalam pelukan hangat BukNaj si ratu tega, hehehe.

Biar lebih gamblang, berikut cara menangani bayi tantrum manipulatif  berdasarkan pengalaman saya dengan menerapkan beberapa tips dari para ahli.



  • Pahami kemauan anak, apakah wajar atau tidak. Jika memang wajar dan beralasan untuk dipenuhi, maka jangan langsung menolak. Membiasakan anak menunggu hingga keinginannya terpenuhi adalah salah satu cara untuk mengembangkan sifat sabar dan pengendalian diri.
  • Kenali jenis tangisannya. Jika dia menangis dengan cara dibuat-buat, dikencang-kencangkan dan cenderung histeris tapi sesekali melirik orang tuanya. Maka bisa jadi dia sedang mencari perhatian kita. Hal ini adalah salah satu indikasi tantrum manipulatif.
  • Time out. Ajak anak ke tempat tersendiri. Pisahkan dari teman-temannya jika sedang dalam permainan. Ajak ke kamar jika sedang di rumah. Bawa ke kamar mandi atau tempat yang lebih sepi jika sedang di keramaian. Dalam situasi terpisah, orang tua bisa memberikan pengertian perihal apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat marah.
  • Pelukan biasanya berhasil meredakan kemarahan. Sambil berusaha menenangkan dan memberikan kenyamanan pada anak, orang tua dapat membisikkan penjelasan tentang perilakunya.
  • Orang tua tetap tenang. Tahan emosi, tahan keinginan untuk berteriak, maka situasi akan semakin terkontrol. Ingat selalu, amarah akan semakin memperkeruh keadaan.
  • Tinggalkan. Meninggalkan anak dalam kondisi yang dapat diperhitungkan keamanannya dan dalam jarak dekat bisa menjadi semacam sinyal untuk anak. Bahwa apapun yang dilakukannya tidak akan memengaruhi orang tua. Anak akan memahami usahanya sia-sia dan bisa jadi tidak ingin mengulanginya lagi.

Fiuh!! Nggak mudah ternyata. Tapi nggak terlalu susah juga asalkan sudah dibiasakan. Cara-cara seperti ini bisa jadi berhasil dalam rentang waktu tertentu. Dan akan lebih cepat jika orang tua kompak melakukannya. Karena, kadang kali antara ayah dan ibu saja sudah tidak kompak. Apalagi jika ada kakek atau neneknya. 

Parenting is a process, parenting is a journey. Tetap semangat dan nggak perlu galau dengan si kecil yang histeris. Good luck! Dan tetap semangat!

-DNA-




#ODOP
#Day23
#bloggermuslimahindonesia

Every Family Has Its Own Rule (I)

|


Azan magrib merupakan penanda, anak-anak harus berhenti bermain, masuk rumah, dan berdiam diri untuk sejenak.  Beribadah, makan malam kemudian dilanjutkan belajar. Boleh mengerjakan PR, belajar materi untuk keesokan hari atau membaca. Apa saja boleh dibaca, yang penting aktivitas yang dilakukan adalah membaca.

Kebiasaan  seperti ini sudah kami terapkan sejak memiliki anak pertama, terus berlanjut hingga hari ini dan secara otomatis menjadi semacam rule dalam keluarga kami. Peraturan semacam ini memang bisa jadi tidak selalu ketat, situasional. Misalnya saat weekend dan kami harus bepergian, bisa jadi waktu magrib kami masih berada di jalanan, di dalam alat transportasi atau bahkan terjebak dalam suatu acara.

Hal di atas hanyalah satu dari sekian rule yang tanpa sengaja disepakati bersama oleh seluruh anggota keluarga. Kebiasaan lain seperti mengembalikan barang ke tempatnya setelah dipakai. Mematikan kran air, meletakkan baju kotor di keranjang cucian. Semua itu hanyalah kebiasaan sehari-hari yang sangat sepele, namun entah mengapa tiba-tiba saja menjadi semacam rule yang dijalankan dan dipatuhi bersama.

Tapi, meskipun secara tidak langsung sudah disepakati. Ada kalanya anak-anak protes dan membanding-bandingkan dengan keluarga lain. Misalnya jika ada teman-temannya yang masih bermain di luar rumah selepas magrib. Mereka bakalan protes pada kami, orang tuanya. Saya, tentu saja tidak bergeming dengan rengekannya. Karena meskipun tidak ketat, tapi situasional. Tapi bukan juga berarti longgar. Harus melihat situasi dan kondisinya.


Saya yakin setiap orang tua dan keluarga, punya alasan tersendiri untuk memperbolehkan ini dan itu pada anak-anaknya. Mereka pun pasti memiliki pertimbangan terkait A, B atau C yang mereka terapkan pada anak-anaknya. Hal mengenai pembiasaan, pembentukan karakter dan cara pandang setiap keluarga juga pasti berbeda. Apalagi prioritas, tujuan dan cita-cita masa depan.

Sudah pasti setiap keluarga berkeinginan memiliki anak-anak yang sehat, baik, berkarakter kuat  dan hal-hal positif lainnya. Tapi dalam penjabarannya, pengambilan langkah pertama, problem solving dan perspektif hidup setiap keluarga juga sudah pasti berbeda. Ya, mau bagaimana lagi. Individu yang menjalankannya pun juga berbeda. Nggak mungkin diseragamkan meskipun tujuannya secara garis besar sama.

Mengenai menerapkan pembiasaan ini pun saya sempat kewalahan jika harus berdebat dengan anak. Belum lagi jika mereka melihat keluarga lain yang semuanya “serba longgar” juga baik-baik saja. Kenapa kita tidak?

Alasan saya pun kadang sepele saja, hanya agar anak-anak memiliki kebiasaan yang positif, tertib diri dan kemudian mandiri. “Ibuk, kan nggak bisa terus-menerus mendampingi kalian. Kalau kalian sudah mempunya kebiasaan, maka kalian akan lebih mudah pas dewasa nanti. “ Cuma gitu aja alasannya.

Pernah juga si kakak protes mengapa harus membaca setiap hari. Padahal teman-temannya tidak selalu membaca di rumah. Toh, mereka tetap pintar? Tarik nafas dulu sebelum jawab, hehehe … 

Kembali lagi, karena membaca adalah kebiasaan baik yang sedang kami terapkan dalam keluarga. Tidak hanya anak-anak, orang tua pun tak luput dari kebiasaan ini. Apa sih tujuannya? Membuka wawasankah? Atau menambah pengetahuan? Ya, itu tujuan yang lebih serius. Tapi untuk levelnya anak-anak, kebiasaan membaca kami tujukan untuk menumbuhkan rasa SUKA. Jika sudah suka, mana bisa mereka meninggalkannya? Ya, kan? Baru kemudian mereka akan merasakan setiap manfaat dari kebiasaan itu.

Memang tidak mudah menerapkan kebiasaan yang diharapkan menjadi rule dalam keluarga. Selain protes dari anak-anak, orang lain pun kerap mencibir, memandang sebelah mata. Sok-sokan banget, mungkin begitu batin mereka. Tapi, ya biarlah, karena tidak semua hal perlu kita dengarkan. Menutup telinga dan memakai kacamata kuda, kadang kala perlu dilakukan. Apalagi jika ini menyangkut apa yang diyakini baik untuk masa depan. Anggap saja cibiran itu sebagai supporter yang terus menyemangati kita untuk bergerak. Akur? Akurin, deh. 

Untuk itu semua maka, yuklah! Saling menghormati dan menghargai apa-apa yang diterapkan dalam sebuah keluarga patut kita perhatikan. Biarkan keluarga lain berbeda, begitupun sebaliknya bebaskan keluarga kita berjalan dengan apa yang kita yakini baik. Toh , semuanya memiliki tujuan masing-masing.selebihnya asal tidak mengganggu kepentingan umum, biarkan setiap keluarga berkembang dengan aturan dan kebiasaan yang mereka sepakati.

Di postingan kedua nanti saya akan berbagi sedikit, peraturan dasar dalam keluarga kami  yang bisa dibilang masih newbie.Ya, sekedar berbagi saja, syukur-syukur jika nantinya bermanfaat. Hehehe ... Stay happy


-DNA-


#ODOP
#Day22
#bloggermuslimahindonesia

Dear Ibu Hamil dengan Morning Sickness: Stay Strong 'cos You're Not Alone

|
Membaca status teman facebook yang nampaknya harus mendapat komentar negatif terkait morning sickness yang sedang dialaminya. Jujur, saya merasa prihatin. Bukan, bukan karena saya tidak pernah mendapatkan komentar sejenis, tapi justru karena saya pun tak luput dari serangan sejenis. Komentar yang melemahkan secara psikologis. Dibanding-bandingkan dengan mereka yang nggak harus berteman dengan morning sickness pada saat hamil.





Beneran, ya, sakitnya tuh dalem banget kalau kita dibilang nggak strong, malas, manja atau banyak alasan cuma karena mengalami morning sickness. Apalagi kalau ngomongnya sekarang, di zaman yang super milenial, di mana informasi kesehatan bisa diakses siapa saja. Apa iya, masih mau ngasih komentar negatif padahal sudah jelas kondisi tubuh setiap wanita berbeda. Begitu pun proses pembentukan hormon dan masalah kehamilan yang mungkin dialaminya.

Flashback 7 tahun yang lalu, saat sedang menjalani kehamilan anak pertama. Saya teler parah. Nggak cuma pusing atau mual, tapi muntah-muntah hebat. Apa saja yang saya masukkan ke mulut, dalam hitungan menit keluar kembali tanpa permisi. Sikat gigi saat pagi hari adalah musuh terbesar, padahal sebelum hamil  rutinitas ini tak pernah saya tinggalkan.  Bedak, lipstik, apalagi parfum tak pernah saya sentuh. Pokoknya semua yang berbau saya nggak sanggup untuk memakainya. Suami saya aja saya larang pakai wewangian, untungnya kami bertemu hanya sekali dalam sebulan.

Trimester awal, pas mabok-maboknya. Saya suka mengonsumsi ronde atau wedang jahe.

Hamil anak kedua nggak jauh berbeda. Tetap mual dan muntah. Meskipun nggak separah yang pertama, tapi nafsu makan sangat rendah, sehingga sempat mengalami berat ibu dan janin di bawah normal.  Meskipun begitu, saya sangat bersyukur karena hanya selama trimester pertama mengalami gejala morning sickness. Mentok-mentoknya saat usia kandungan genap 4 bulan sudah benar-benar sehat. Saya nggak bisa membayangkan yang mengalaminya sampai hampir 9 bulan. Atau bahkan sampai melahirkan.  Ini sudah cukup membuktikan bahwa kondisi tubuh ibu hamil memang tidak bisa disamaratakan.

Begitu pun jika ada statement yang mengatakan bahwa ibu-ibu yang mengalami morning sickness itu lemah, manja atau nggak mandiri. Hei, saya ini strong banget, loh! Nggak percaya? Sampai sudah hamil 9 bulan saja saya masih naik motor dan kemana-mana sendirian. Periksa dokter pun juga sering saya lakukan sendiri. Ngantor, tugas keluar kota? Semua masih saya lakukan selama hamil.

Pas hamil anak kedua juga nggak jauh berbeda, karena saya tidak menggunakan jasa ART.  Momong Najwa dan seluruh pekerjaan rumah tangga saya kerjakan sendiri.  Mengantar dan menemani Najwa di PAUD yang jaraknya tidak dekat dari rumah juga masih saya lakukan. Saat itu pun saya masih berbisnis online kecil-kecilan. Jadi jangan salah, tidak semua ibu yang mengalami morning sickness itu karena lemah, manja atau tidak mandiri.

Trimester akhir kehamilan masih aktif bekerja

Sebaliknya juga, tidak semua ibu yang cenderung anteng, kalem atau bahkan manja pasti mengalami morning sickness. Menurut saya sifat ibu dan gejala morning sickness yang dialami tidak ada hubungannya. Meskipun dalam salah satu artikel medis yang saya baca, gejala ini bisa dipengaruhi oleh faktor genetis dalam keluarga.

Lalu, sebenarnya apa saja yang menyebabkan gejala ini bisa terjadi bagi sebagian wanita hamil?

Menurut DSOG saya, gejala mual muntah atau biasa disebut morning sickness ( karena biasanya terjadi pada pagi hari, meskipun banyak juga yang mengalaminya sepanjang hari) merupakan salah satu gejala alami bagi wanita hamil. Untuk penyebab pastinya memang belum diketahui, tapi para ahli meyakini faktor perubahan hormon dalam tubuhlah yang paling berpotensi.

Misalnya, pesatnya peningkatan hormone HCG pada trimester pertama kehamilan. Ini ,mengapa banyak wanita yang mengalami mual hebat hanya pada trimester awal saja, karena morning sickness memang biasanya terjadi saat HCG sedang tinggi. Maka nggak perlu heran juga, jika pada kasus kehamilan kembar gejala morning sickness bisa jadi lebih berat. Itu karena kadar HCG jauh lebih besar.

Selain HCG, hormone lain yain yang diduga menimbulkan mual dan muntah pada kehamilan adalah hormon estrogen. Teman-teman pasti sudah akrab dengan nama hormon yang atu ini. Ya, peningkatan jumlah estrogen dalam tubuh juga diklaim menyebabkan munculnya mual dan muntah pada ibu hamil.

Disamping faktor hormonal, meningkatnya sensititivitas wanita hamil bisa jadi menyebabkan kepekaan terhadap bau dan aroma. Didukung dengan saluran pencernaan yang biasanya juga menjadi lebih sensitif pada trimester awal. Keduanya dapat memicu gejala morning sickness menjadi lebih parah.

Katanya, sih, faktor psikologis juga ikut memberi  andil pada kondisi wanita hamil. Bisa jadi karena stress atau terlalu banyak pikiran. Bahkan kesiapan seorang wanita untuk menjadi ibu juga dapat memengaruhi kondisi psikologisnya.Hem ... menurut saya masuk akal banget.

Tapi percayalah, semua akan baik-baik saja jika mendapat penanganan yang tepat. Saat hamil pertama, karena belum meiliki pengalaman, tentu saja saya sangat khawatir. Hingga akhirnya menerapkan beberapa tips yang kemusdian membantu mengurangi gejala morning sickness. Saya bilang mengurangi, bukan menghilangkan, ya. Toh, kenyataannya saya tetap mual dan muntah, hanya saja tidak sampai dehidrasi atau lemas.

Nah, kalau boleh, saya akan bagi sedikit tipsnya di sini. Boleh ya? Ya iyalah, lha wong blog saya sendiri, hehehe …



  1. Mengindari jenis makanan pencetus mual. Misalnya yang berminyak, berlemak, pedas, dan jujur saya nggak suka asam saat awal kehamilan. Karena menurut saya semakin memperparah rasa mual dalam mulut. Saya baru mengonsumsi rujak atau apalah yang asam-asam itu saat berada di trimester kedua.
  2. Makanan dengan aroma menyengat. Ini bisa jadi tergantung pada sensitivitas penciuman masing-masing.  Karena aroma yang keras dapat memicu gejala mual muntah.
  3. Makan dalam porsi kecil namun sering. Saya usahakan tetap dan terus makan meskipun semuanya berakhir muntah. Sehingga mengakalinya dengan makan dalam porsi kecil namun berulang.
  4.  Camilan buah dan biskuit sangat dianjurkan oleh bidan maupun dokter.
  5. Memperbanyak sayuran segar sehingga kondisi pencernaan lebih terjaga.
  6. Mengonsumsi air putih dalam jumlah cukup sehingga mencegah terjadinya dehidrasi akibat muntah.
  7. Mengonsumsi minuman jahe yang sangat membantu menghilangkan mual dan menghangatkan perut.
  8. Minum jus untuk memberikan aroma berbeda pada mulut, selain juga kandungan nutrisinya yang sangat bermanfaat.
  9.  Menenangkan diri  dan melakukan aktivitas kesenangan untuk memunculkan rasa bahagia.
  10. Berkonsultasi dengan dokter jika merasa ada suplemen yang diresepkan memperburuk rasa mual.

Kembali lagi, kondisi tubuh setiap ibu hamil berbeda, sehingga gejala dan penanganannya pun bisa jadi berbeda. Beberapa teman saya sempat harus opname karena lemas bahkan sampai pingsan. Ada juga yang mengalami dehidrasi dan kurang darah. Jika muncul gejala seperti itu, tentu saja tenaga medis yang harus dijadikan rujukan. Sedangkan tips di atas sifatnya untuk membantu mengurangi keluhan morning sickness dengan kondisi tubuh masih dalam ambang normal atau aman.


Well,  gejala apapun yang dialami setiap wanita, kehamilan tetap saja akan menjadi sebuah momen yang membahagiakan, mengehebatkan, membanggakan dan bersejarah. Maka membantu wanita hamil menjalani masa-masa yang berat adalah tugas kita yang mengenalnya, khususnya sesama wanita. Bukan malah jadi komentator negatif yang dapat memperburuk kondisi psikologisnya. Heh! Ngana udah pernah hamil belom? Gak care banget, sih. 

So, be happy mom and don’t care sama yang suka nyinyirin, ya, dear. Usahakan saja yang terbaik untuk janin kita. Ini badan, badan kita. Kita yang tahu bagaimana rasanya. Nggak perlu berkecil hati karena nggak jadi ibu hamil yang ngebo,  karena hamil dengan gejala morning sickness tidak selalu mengindikasi kekuatan tubuh seseorang atau kondisi janin yang kelak dilahirkan.

Keep happy! 



-DNA-


#ODOP
#Day21
#bloggermuslimahindonesia


Bagaimana Doa Bisa Terkabul? Begini Cara Najwa Memahaminya

|


Salah satu hal yang membuat acara ngobrol dengan Najwa itu gayeng dan membekas buat saya adalah ilmu yang tanpa sengaja saya serap darinya. Bagaimana dalam kepolosan ucapannya, Najwa sering mengingatkan banyak hal yang terlupa, atau terlalu rumit bagi orang dewasa untuk memahaminya. 


Misalnya dalam hal terkabulnya doa. Terkadang saya sudah tidak memikirkan kapan doa itu terkabul, bahkan entah dikabulkan atau tidak. Yawis, pokoknya berdoa saja, masalah dikabulkan atau enggak itu haknya Yang Maha Kuasa.  Saya percaya cara seperti ini yang paling tepat untuk meyakini bahwa Allah selalu mendengar doa-doa hamba-Nya.  Berserah dengan sepenuhnya.




Baru kemudian saya belajar dari Najwa tentang cara Allah mengabulkan doa-doa umat-Nya. Ceritanya begini, siang itu langit sedikit gelap, angin dingin dan mendung berarak menutupi matahari. Lah, malah jadi puitis gini. Hehehe … Segera saya memasukkan cucian dan menutup jendela serta pintu. Kemudian saya duduk menemani anak-anak bermain, sambil menyesap secangkir kopi hitam. Selanjutnya dimulailah obrolan antara saya dan Najwa.


“Ya Allah, mudah-mudahan siang ini hujan, biar udaranya lebih adem,” begitu ucap saya.


Kemudian saya pun melanjutkan bermain dengan anak-anak. Beberapa saat kemudian si adik minta diambilkan roti sama susu, sedangkan kakak minta dikupaskan mangga. Segera saya berjalan ke arah dapur untuk menyiapkan request mereka. 


Tak lama, saya pun kembali bersama anak-anak. Sambil terus bermain, anak-anak nampak asyik menikmati makanan masing-masing. Tiba-tiba guntur menggelegar, dan hujan turun dengan lebatnya. Secara spontan saya langsung mengucap “Alhamdulillah, akhirnya turun hujan.”  Dan tak berapa lama, bibir tipis Najwa mulai berkomentar.


“Buk, apakah ini tanda Allah sudah mengabulkan doa-doa Ibuk?”


Mulut saya terkunci, bingung mau jawab apa. Tapi kemudian saya jawab, “Iya, Kak, Insya Allah doa ibuk sudah dikabulkan.”


“Ooo, jadi begitu, ya? Kalau kita ingin dikabulkan doanya, maka kita harus berbuat baik?”


“Maksudnya?”


“Ya, kan, tadi Ibuk sudah berbuat baik. Menyiapkan susu sama roti untuk adek. Lalu mengupas mangga untuk aku. Lalu mengangkat jemuran dari atas, menemani aku bermain. Karena ibu berbuat baik, maka Allah langsung mengabulkan doa ibuk. Dan dikasihlah kita hujan.”


Duh, speachless saya. Sebenarnya saya mau menjelaskan karena memang Ibuk sudah melihat tanda-tanda mau hujan, makanya ibuk berdoa semoga turun hujan. Tapi mendengar cara Najwa memaknai kebaikan dan terkabulnya doa-doa, saya merasa sayang untuk tidak meng-iya-kan pendapatnya.


Akhirnya saya jawab, “Emm … Insya Allah, mungkin ini salah satu cara Allah mengabulkan doa-doa hambanya. Mungkin juga dengan cara yang lain. Kita nggak pernah tahu rahasia Allah.”


“Ok! Jadi, kalau aku pengen doanya terkabul, aku harus banyak berbuat baik. Nanti Allah pasti kabulkan doanya anak baik.”


Duh, kembeng-kembeng mata saya. Udah pengen nangis aja. Peristiwanya sepele saja, tapi buat saya, cara Najwa memaknainya terlalu istimewa. Saya saja malah nggak kepikiran gitu-gitu, Nduk. Kok, sekali lagi Ibuk kamu ingatkan, kamu ajari. Saya pun mengacungkan 2 jempol  untuknya. Saya bilang, “Kakak hebat!” 


Kemudian saya menambahkan sedikit nasihat padanya, bahwa tidak semua doa dikabulkan seperti yang kita inginkan. Ada kalanya Allah memberikan yang berbeda dari harapan umat-Nya. Tapi, Najwa harus yakin, PILIHAN ALLAH selalu YANG TERBAIK. Najwa pun mengangguk, dan kami kembali bermain sambil menghabiskan beberapa potong mangga yang tersisa di piring. 


Sebagai pengingat, untuk teman-teman yang sudah dan akan menjadi orang tua, termasuk juga saya. Banyak hal tak terduga dalam pikiran anak-anak. Maka jangan sekali-kali menyepelekan mereka. Ketika muncul hal positif dalam dirinya, maka tugas orang tualah untuk terus menumbuhkannya. Jangan pernah lelah menikmati setiap detik menjadi orang tua.


Untuk Najwa, sekali lagi ibuk berhutang, dan akan terus berhutang. I Love You.


-DNA-


#ODOP
#Day19
#bloggermuslimahindonesia

Memaknai Kemerdekaan dari Waktu ke Waktu

|
Dulu, Hari Kemerdekaan adalah saat di mana anak-anak panen hadiah dari aneka perlombaan yang digelar untuk memeriahkannya.  Makan Kerupuk, Balap Karung, Sendok Kelereng dan Memecah Air hanyalah sebagian lomba yang  dilakukan setiap tahun. Bahkan setiap RT di kampung saya rutin melombakannya. 


Saya paling jago di lomba Memecah Air. Karena untuk menang di lomba Makan Kerupuk terlalu berat bagi saya. Gigi banyak yang ompong yang tersisa pun bolong semua. Susah mengalahkan teman-teman yang giginya masih sempurna. 


Dulu juga, saya langganan ikut jalan santai keliling kampung sebagai puncak perayaan 17-an. Tapi jangan tanya door prize-nya, karena nampaknya keberuntungan tak terlalu berpihak pada saya dalam hal door prize. Itung-itung sehat sajalah.


Sumber gambar: Fotografer.net


Kemerdekaan adalah kebahagiaan atas segala kemeriahan untuk memeringatinya. Hadiah, berkumpul dengan teman-teman, sekolah sering pulang pagi karena banyak kegiatan di luar kegiatan belajar mengajar. Yang tak kalah penting nonton panggung hiburan yang menampilkan teman-teman yang memiliki talenta di bidang seni. 


Ketika duduk di bangku SMP dan mulai aktif di kegiatan Marching Band, Hari Kemerdekaan bagi saya adalah pressure. Ya, mulai sebulan sebelumnya kami terus berlatih untuk pertunjukan 17-an. Mengiringi saat upacara di sekolah, unjuk gelar pada acara pengibaran bendera di kabupaten, karnaval, bahkan pernah juga kami disewa kecamatan lain sebagai pembuka arak-arakan karnaval budaya daerah mereka.


Menjelang Hari Kemerdekaan adalah saat-saat yang melelahkan. Sering meninggalkan jam pelajaran tapi pulang selalu telat. Menghafal berlembar-lembar notasi angka karena biasanya pelatih menambah materi untuk bekal pertunjukkan. Belum juga harus berlatih display dan konfigurasi di lapangan dengan panas terik menyengat. 


Kemerdekaan adalah kesiapan diri menjadi lebih tahan banting, tahan uji. Siap mengejar ketinggalan materi di kelas dan siap dengan kulit “gosong” akibat dijemur berhari-hari oleh pelatih.


Sempat melewati perayaan kemerdekaan yang “biasa saja”. Saat di bangku kuliah dan kemudian bekerja,  secara personal saya merasa tak ada yang istimewa dengan perayaan kemerdekaan. Ya, karena tak terlibat dalam hal apapun.  Dan lagi, makna kemerdekaan sudah bergeser dari sekedar hiruk pikuk dan perayaan. Tapi lebih pada memaknai kebebasan diri sebagai lajang yang tak ingin ditekan dengan segala aturan.


Kemerdekaan adalah kebebasan menjadi diri sendiri dan melakukan apa yang disukai.  Merdeka tanpa khawatir dengan stigma negatif sebagai perempuan lajang yang tak kunjung menikah. Merdeka berorganisasi dalam kegiatan sosial yang mau tak mau menyita sebagian besar waktu saya. Merdeka tanpa terkekang oleh aturan menjadi istri dan dibatasi oleh makhluk yang bernama suami.


Waktu terus bergeser, hingga sampailah saya pada memaknai kemerdekaan dengan cara yang lebih manusiawi. Menjadi orang tua dan menghadapi kerasnya kehidupan di ibukota, mengajarkan saya banyak hal tentang kemerdekaan dalam makna yang lebih luas. 
Kemerdekaan yang telah dibayar dengan darah dan air mata para pahlawan ini telah memberikan banyak kesempatan bagi seluruh rakyat negeri ini.


Dalam segala keberagaman yang ada di sekitar saya,  penghormatan atas kemerdekaan setiap individu telah menyatukan kami dalam kerjasama, saling memberikan ruang dan kesempatan untuk bertumbuh dan menunaikan hajat hidupnya. 


Tak bisa dipungkiri, kemerdekaan jugalah yang akhirnya memberikan ketenangan dalam beribadah, berekspresi sebagai manusia dengan segala keunikan, serta bergaul dan menjalin komunikasi tanpa memilah–milah golongannya.


Peringatan Hari Kemerdekaan harusnya menjadi pengingat, khususnya bagi saya. Bahwa apa yang dinikmati rakyat Indonesia pada hari ini bukan hanya buah dari cita-cita luhur, semangat membangun dan perjuangan dari segolongan atau segelintir manusia saja. Tanpa melihat apa yang disebut perbedaan, mereka bersatu untuk merebut dan kemudian mengisinya melalui pembangunan.


Kenyataan yang membuka lebar mata saya. Bahwa kemerdekaan tak sekedar kebebasan bagi diri sendiri. Tak sebatas terlepas dari kekangan penjajah seperti halnya yang terjadi pada masa-masa perjuangan. Tapi kemerdekaan adalah penghargaan bagi setiap insan, toleransi dan memberikan hak serta kesempatan bagi setiap individu untuk berkembang. Kemerdekaan dalam beribadah, berilmu dan mengemukakan pendapatnya dalam perilaku dan ucapan. 


Kemerdekaan menjadi sangat luas makna dan cakupannya. Tapi atas nama itu semua, kemerdekaan yang hakiki harus dimulai dari pikiran. Membebaskan diri dari penjajahan komentar yang dapat menurunkan nilai kemerdekaan diri. Merdekakakan dulu pikiran kita. Maka raga akan bergerak mewujudkan kemerdekaan bagi sesamanya.


Dirgahayu Indonesia, Merdeka!!





-DNA-






#ODOP

#Day17

#bloggermuslimahindonesia


Custom Post Signature

Custom Post Signature