A Story of Mom, Wife, Daughter and Active Woman

Dari Rumah untuk Generasi Doyan Baca

|



Budayakan membaca

Keterampilan membaca yang merupakan salah satu dasar dari pengembangan kemampuan akademis dan non akademis anak, rupanya mulai mendapatkan perhatian dari masyarakat. Kesadaran orang tua untuk berbelanja buku mulai tinggi, begitu pun halnya dengan semakin variatifnya bentuk sumber bacaan  untuk anak.

Sayangnya, sebagian besar masyarakat kita masih menganggap bahwa aktivitas membaca hanya sebatas mengeja dan melafalkan kata. Segera setelah anak mampu membedakan huruf, melafalkannya dan merangkai kata dalam satu kalimat. Maka proses ini dianggap sudah tuntas, dan anak-anak pun tidak lagi mendapatkan haknya untuk didampingi secara jangka panjang.


Kenyataan ini seolah di-aminkan dengan maraknya lembaga bimbingan belajar membaca dan menulis untuk anak usia dini. Zaman sekarang, anak usia 4 tahun sudah didaftarkan kursus calistung. Bahkan, tidak sedikit yang sudah diajarkan materi ini sejak usia yang lebih muda. 

Tentu saja ini tidak jadi masalah jika anak memang memiliki ketertarikan di dalamnya. Masalahnya jika keinginan ini lebih pada obsesi orang tua untuk memiliki anak yang menonjol dalam kemampuan akademis yang paling mendasar. Jika tidak dibarengi dengan pendampingan pada proses selanjutnya, maka dikhawatirkan kemampuan membaca hanya berhenti sampai mengeja dan melafalkan kata. Tanpa gairah untuk mencerna, menarik makna atau menjadikannya sebagai kesenangan.

Sedikit memprihatinkan memang. Apalagi tuntutan penyelenggara pendidikan  formal semakin tinggi terkait kemampuan baca tulis anak sejak usia dini. Beruntung jika orang tua bisa terus men-support anak untuk mengembangkan keterampilan baca tulisnya. Tapi jika tidak, keterampilan ini akan berhenti pada bisa membaca dan menulis saja. Tanpa disertai talenta lain yang bersifat terampil dan bisa dikembangkan.


Menurut salah satu pernyataan yang saya kutip dari laman jendelakita.id, data UNESCO menemukan bahwa kebiasaan membaca masyarakat Indonesia hanya satu dari 1000 orang. Hal ini jugalah yang menyebabkan Indonesia berada pada urutan terendah dalam semua kompetensi tes PIAAC atau Programme for International Assessment Adult Competencies. Sangat memprihatinkan mengingat bimbingan belajar membaca begitu menjamur dan laris diserbu anak-anak pada usia prasekolah. Namun minat baca tak kunjung mengikutinya.

Sebaliknya, negara seperti Finlandia yang model pembelajarannya begitu sederhana dengan waktu belajar yang bisa dibilang singkat. Bahkan usia sekolah benar-benar baru dimulai saat anak genap berusia 7 tahun. Justru menempati urutan pertama dalam daftar negara literasi dunia. Ironisnya, dalam peringkat yang dirilis The World’s Most Literate Nations (WMLN) ini, Indonesia masih harus bersabar pada urutan ke-61. Jauh di bawah Jepang atau bahkan Korea Selatan.

 

Tentu saja hal ini meresahkan, maka kemudian pemerintah mencanangkan Gerakan Literasi  Sekolah. Tapi, apakah benar gerakan ini hanya sebatas di sekolah saja? Bukankah waktu anak lebih banyak dihabiskan di rumah bersama orang tua ketimbang di sekolah dengan guru-gurunya? Bagaimana jika gerakan ini lebih ditekankan di rumah? Tentu saja dengan support seluruh anggota keluarga dan lingkungan sekitar tempat tinggal anak.

Saya sangat mendukung bahwa budaya membaca harus dimulai dari rumah. Seperti halnya keterampilan lain yang biasa orang tua latih dan tumbuh kembangkan pada anak. Keterampilan membaca harus menjadi salah satu bagian terpenting di dalamnya. 


Seperti halnya keterampilan bersosialisai, kemandirian, kehidupan religi dan kemampuan akademis. Kemampuan membaca, atau saya lebih nyaman menyebutnya keterampilan membaca merupakan salah satu fondasi penting bagi diri anak.  Menguasai keterampilan membaca ibarat memiliki kunci pembuka jendela dan pintu ilmu bagi anak. 

Segala hal terkait informasi yang ditangkap, diolah kemudian diserap dalam otak berawal dari keterampilan membaca. Tanpa keterampilan ini, seseorang bisa jadi dianggap “buta” dan memiliki dunia yang gelap. Tak mampu melihat obyek di sekitarnya dan ketinggalan informasi. Maka jangan berharap memiliki generasi yang mampu memahami dan melihat dunia dengan perspektif yang lebih luas.

Atas nama masa depan yang lebih baik, maka sudah sepantasnya jika orang tua menyadari pentingnya menjadi supporter  utama gerakan literasi anak. Mengambil porsi besar dalam perkembangan keterampilan membaca anak  saya rasa bukan hal yang berlebihan. Terlebih jika kita diberikan kemampuan.

Berikan resep terbaik agar anak “doyan” bahkan “lahap mengunyah” aneka sumber bacaan yang nanti ditemuinya. Untuk itu, mulailah dengan hal-hal sederhana yang tanpa disadari memberikan efek yang membahagiakan. 

Saya sendiri dan suami sudah berkomitmen mengambil tanggung jawab tersebut.  Menyadari sepenuhnya bahwa budaya membaca harus dimulai sedini mungkin, dan dari komunitas yang paling kecil yaitu keluarga. Untuk itu, kami pun mengambil tempat dalam 3 hal sebagai supporter literasi anak. Apa sajakah itu?


Budayakan membaca



Menjadi teladan

Bisa saja, suatu saat nanti guru atau tokoh idola yang nantinya menginspirasi minat baca anak. Tapi tunggu dulu, hal itu hanya akan terjadi nanti, setelah anak memiliki dunianya sendiri. Sebelum semua itu terjadi, maka orang tualah yang harus menjadi dunia dan panutannya. Hal ini pun berlaku dalam hal menumbuhkan budaya membaca. Tanpa memberikan teladan yang berarti, bagaimana mungkin seorang anak bisa mengetahui seperti apa aktivitas membaca bisa memberi arti bagi kehidupan mereka.

Penting bagi orang tua untuk memberikan teladan, bahwa membaca adalah salah satu aktivitas rutin seperti halnya beraneka ragam aktivitas harian yang lain. Tunjukkan pula kesenangan-kesenangan yang bisa didapat dari membaca. Tak hanya dari segi ilmu atau informasi, tapi penting bagi anak untuk bisa melihat perasaan senang, santai, rileks yang bisa ditimbulkan dari aktivitas ini.

Dari sini anak akan melihat bahwa membaca adalah hal yang menyenangkan, bukan sebaliknya membosankan apalagi menakutkan. Bukan tidak mungkin juga ketertarikan anak terhadap aktivitas ini dimulai dari kesenangan dan kegembiraan kecil yang orang tua tunjukkan. Karena pada level awal, anak belum mampu mengambil hikmah yang lebih dalam terkait manfaat membaca. Maka ekspresi positif dari orang tua adalah sumbangan besar untuk menarik minat serupa.

Menjadi teladan bagi anak bisa dimulai bahkan sejak si kecil masih ada dalam kandungan. Karena menurut penelitian, anak-anak yang terbiasa dibacakan buku semenjak dalam kandungan memiliki kemampuan literasi yang lebih baik, begitu pun dengan kemampuannya menangkap informasi dan berbahasa. Hal ini tentu saja bisa terjadi  jika minat membaca dilakukan dalam proses yang terus berulang.


Menjadi fasilitator

Selain menjadi teladan, memfasilitasi minat baca anak tentu saja tidak dapat di kesampingkan. Selain menyediakan sumber bacaan yang berkualitas, orang tua bisa menjadikan toko buku atau perpustkaan sebagai salah satu destinasi jalan-jalan.

Tak cukup sampai di situ, hadiah ulang tahun atau reward untuk anak pun bisa diarahkan dengan membeli buku atau bahan bacaan yang relevan. Tapi, sebaiknya perhatikan jenis bacaan yang akan diberikan pada anak. 3 poin berikut ini mungkin bisa orang tua coba.

1. Memilih jenis buku atau sumber bacaan dengan konten sesuai untuk usia anak. 

Untuk balita atau usia yang lebih kecil, buku-buku bergambar dengan aneka warna tentu saja jauh lebih menarik perhatian. Anak-anak pada usia ini belum terlalu memerhatikan tulisan, sehingga tampilan visual yang menjadi daya tarik utama. 

Usahakan juga memilih yang bahannya ramah anak. Orang tua bisa membeli soft book atau buku bantal jika si kecil masih dalam rentang usia 0- 2 tahun. Pada rentang usia ini anak masih suka menggigit dan merobek, sehingga soft book jauh lebih aman untuk  mereka.

Selanjutnya, buku berjenis busy book dapat dijadikan pilihan. Anak-anak pada usia batita cenderung aktif dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Buku berjenis busy book dapat memuaskan rasa ingin tahu mereka. Selain itu bisa juga sebagai pengalihan ketika orang tua butuh membiarkan anak beraktivitas sendiri tanpa pendampingan.

Terus sesuaikan konten buku atau sumber bacaan dengan rentang usia anak. Saya pribadi prefer untuk memilih buku-buku yang penuh warna dan minim tulisan untuk menarik minat baca anak-anak. Buku bergenre fiksi menjadi pilihan utama karena dapat memantik daya imajinasinya. Tapi sesekali tambahkan juga koleksi nonfiksi untuk menunjukkan fakta-fakta penting yang ada di dunia.
 
2. Baca terlebih dahulu sebelum diberikan 

Selalu dan penting sekali untuk dilakukan oleh orang tua adalah membaca terlebih dahulu buku atau sumber bacaan lain yang akan diberikan pada anak. Karena bisa jadi konten yang disajikan kurang sesuai dengan tahapan yang orang tua rencanakan untuk anak.  Minimal, orang tua sudah siap menjelaskan jika mendapati bagian-bagian yang dirasa akan menimbulkan pertanyaan dari anak.

Kebanyakan buku-buku yang berkualitas memang telah memiliki standart tinggi dan diseleksi secara ketat. Tapi kita enggak pernah tahu kan, kalau belum membaca langsung. Paling tidak carilah resensi atau referensi terkait buku yang akan diberikan untuk memastikan keamanan dan kecocokannya.

3. Tidak harus selalu buku baru

"Buku lama akan terasa baru bagi siapapun yang baru pertama kali memiliki dan membacanya". Saya dan suami selalu menekankan hal ini kepada anak-anak. Begitu pun halnya ketika kami berniat membelikan buku untuk mereka. Kami tak segan mengajak mereka membeli buku second atau bekas di pasar atau pada kenalan.

Pernah suatu ketika saat usia anak pertama saya, Najwa, baru 4 tahun. Kami mengajaknya ke daerah Pasar Senen untuk berburu buku bekas. Terdesak oleh kebutuhan bahan bacaan yang telah habis di rumah, ditambah budget yang sangat pas-pasan kala itu. Kami pun tidak segan mengunjungi beberap[a toko yang menjual buku second berkualitas.

Untungnya Najwa langsung bisa beradaptasi dengan lapak yang kami kunjungi. Dengan riangnya dia membolak-balikkan buku yang diinginkan dan memilih sekitar 6 buku yang patut kami acungkan jempol atas pilihannya. Buku-buku itu sampai sekarang masih sering dibacanya, meskipun sekarang giliran adik yang jadi pemiliknya.

Membeli buku bekas berkualitas merupakan solusi untuk tetap menjaga ketersediaan bahan bacaan meskipun dengan budget pas-pasan.

Selain menjadi fasilitator dari segi materiil (menyediakan bahan bacaan), penting juga bagi orang tua untuk dapat memberikan sesuatu secara moril. Membacakan buku secara merupakan salah satu aktivitas yang sangat urgent untuk dilakukan bersama anak. Kebiasaan ini menunjukkan orang tua “ada” dan mendukung hal positif yang sedang ingin ditumbuhkan.

Seperti yang sudah sering disampaikan para pakar psikologis, kegiatan membaca bersama anak juga dapat merekatkan bonding. Selain juga qulity time yang sangat mudah dan murah bersama keluarga. Ada beberapa cara yang dianggap efektif untuk membacakan buku pada anak, terlebih bagi mereka yang masih berusia kanak-kanak. Untuk yang satu ini, saya akan coba menuliskannya di postingan yang lain. Tunggu, ya.

Menjadi supporter

Menyadari bahwa budaya membaca adalah proses yang harus ditumbuhkan secara terus-menerus. Maka, perlu rasanya kehadiran supporter yang dengan senang hati dan tanpa lelah memberikan dorongan dan apresiasi agar budaya ini mengakar dalam diri anak.

Memang sebagian anak sudah merasa cukup dengan diberikan teladan dan difasilitasi. Tapi, apa salahnya jika orang tua melengkapi dengan memposisikan diri sebagai supporter anak, karena secara tidak langsung hal ini akan memotivasi diri kita sendiri.

Menyadari bahwa budaya membaca merupakan salah satu hal vital dalam kemampuan literasi yang tidak sebatas mengeja huruf dan melafalkan kata. Tentu orang tua setuju bahwa proses ini tidak bisa terjadi secara instan. 

Membaca adalah memahami informasi, menarik makna, mengimplementasikan dalam kehidupan.  Maka dari itu implikasi dari keluarga yang memiliki budaya membaca adalah terciptanya hubungan yang open minded dalam keluarga. Begitu yang disampaikan oleh seorang Psikolog, Henny Wahyu W. dalam sebuah opini yang ditulisnya.

 

Dalam keluarga literat, budaya membaca mengiringnya tumbuhnya sikap saling menghargai perkembangan dan keunikan satu sama lain. Tidak mengekang namun memahami tata aturan yang disepakati bersama untuk tujuan kebaikan. Semua ini bisa memang bisa  didapat dalam proses yang panjang dan tidak berkesudahan. Tapi peracayalah, menjadikan rumah sebagai tempat pertama pembentuk budaya membaca adalah keputusan yang tepat. Karena “makanan” yang tepat dan berasal dari “tangan-tangan” yang tepatlah yang nantinya membuat generasi kita "doyan" membaca.

Sebagai muslim, tentunya teman-teman juga setuju, ya, bahwa perintah membaca adalah wahyu yang pertama turun untuk umat Nabi Muhammad SAW. Cukup dengan memahami makna Iqra’, maka kita akan menyadari betapa pentingnya menumbuhkan budaya membaca bagi setiap generasi yang menjadi pembawa peradaban baru di muka bumi ini.

Semangat membaca dan salam literasi!

-DNA-


Tulisan ini diikutkan dalam program Postingan Tematik (PosTem) yang diselenggarakan oleh Blogger Muslimah Indonesia.

#PostingTematik
#BloggerMuslimahIndonesia
24 comments on "Dari Rumah untuk Generasi Doyan Baca"
  1. Tiap malam anak saya selalu nagih utk dibacakan buku cerita. Dan saya jg suka baca setelah ngeblog.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, selamat. Ini merupakan awal yang sangat baik :)

      Delete
  2. Orang tua berperan besar dalam menumbuhkan budaya literasi dalam keluarga. Dan, rumah bisa menjadi awal bagi pencapaian tingkat literasi suatu bangsa. Jadi, kalau dari rumahnya sudah diawali, Insya Allah akan tumbuh generasi penegak budaya baca bangsa ini. Ulasan yang menarik, Mbak...:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, sekecil apapun pembiasaan di rumah pasti ada efeknya ke anak.

      Delete
  3. Yes. Setuju banget Mba kalau membaca itu bukan sekedar baca. Tapi apa yang kita dapat dari banyak membaca. Karena setiap tulisan pasti ada "sesuatunya".

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyak, betul. Satu tema saja bisa jadi ada "sesuatu" yang juga beda.

      Delete
  4. Menurut salah satu pernyataan yang saya kutip dari laman jendelakita.id, data UNESCO menemukan bahwa kebiasaan membaca masyarakat Indonesia hanya satu dari 1000 orang. Hal ini jugalah yang menyebabkan Indonesia berada pada urutan terendah dalam semua kompetensi tes PIAAC atau Programme for International Assessment Adult Competencies. Sangat memprihatinkan mengingat bimbingan belajar membaca begitu menjamur dan laris diserbu anak-anak pada usia prasekolah. Namun minat baca tak kunjung mengikutinya.

    Pernyataan di atas sungguh menyedihkan ya, dan kita sebagai ibu para generasi mas adepan harus memulai dari rumah kita masing-masing, bagaimana menumbuhkan semangat literasi ini. Alhamdulillah kita sudah mulai menyadari pentingnya menggaungkan masalah ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Insya Allah, semoga upaya ini bisa istiqamah. :)

      Delete
  5. Yup, membaca harus sepaket dengan mencerna, memahami, dan mengambil hikmahnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, karena pada dasarnya membaca adalah menarik makna, menyesap informasi. :)

      Delete
  6. Saya setuju banget budaya literasi memang harus dimulai dari rumah, harus ada role mode buat anak dan fasilitator juga pendukung mereka. Memang disekolah sekarang sudah di wajibkan pinjam buku perpustakaan setiap minggu dan membuat rangkumannya, tapi tidak akan sekuat kalau budaya baca itu didapat dari rumah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kebanyakan anak yang suka membaca biasanya berasal dari rumah-rumah pembaca. Atau setidaknya yang memberikan dorongan untuk membaca. :)

      Delete
  7. :a Suka sama tulisannya, Mbak. Gerakan Literasi harus dimulai dari rumah, lingkungan terkecil. Bila hanya dilakukan di sekolah maka dikhawatirkan sebagian anak merasa membaca hanya harus dilakukan di lingkungan tertentu saja. Padahal membaca itu kan bisa di mana saja ya nantinya. Bahkan ketika katanya menunggu adalah pekerjaan yang paling membosankan, kalau sambil baca jadi enggak bosan menurut aku.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener. Apalagi sekarang membaca bisa juga secara digital, jadi seharusnya sudah tidak ada alasan untuk tidak terbiasa dengan budaya membaca.

      Delete
  8. setuju mba yang baca dulu sebelum berikan ceritanya aku beli buku bahasa inggris karena liat sampul n bukunya serta judulnya lucu y uda aku beli sampai di rumah pas dibacain ke anak loh ternyata isinya ngajarin cheating hahahaha dr situ kapok klo mau kasi buku tanpa dibaca dlu 😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, kadang suka ada yang kayak gitu. Keselip dikit aja kan ya, nggak bener jadinya.

      Delete
  9. Setuju. Harusnya jangab berhenti pada mengenal huruf dan bisa membaca saja. Tapi lanjutkan menanamkan kebiasaan membaca hingga anak benar2 mandiri dan siap menjadikan membaca salah satu aktifitasnya yg tdk boleh ditinggalkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali, semoga hal ini terus menjadi pengingat bagi orang tua.

      Delete
  10. Kebiasaan membaca memang seharusnya dimulai dari rumah. Orangtua wajib mengenalkan bacaan-bacaan bermutu pada anak.

    Terimakasih sharingnya mbak Damar :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, menjadi fasilitator baik secara metrial dan imaterial. :) Sama-sama Mbak Nova, Thanks udah mampir.

      Delete
  11. Setuju sekali. Perjuangan menghidupkan literasi mayoritas waktu dan mutunya memang seharusnya bersumber dari rumah. Terima kasih atas tips-nya, Mbak. Khususnya yang tentang busy book, saya belum pernah membeli. Dulu di zaman kakak yg sekarang 10 th, saya belum mengenalnya. Insya Allah nanti diterapkan buat si adek. Kalo bisa sih saya juga mau coba bikin sendiri ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak. Coba bikin sendiri aja kalau ada waktu luang. Pasti lebih berkesan. :)

      Delete
  12. makasih mbak, tulisannya bermanfaat..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama, Mbak. Thanks sudah mampir. :)

      Delete

Hallo! Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya. Jika Temans merasa artikel ini bermanfaat, feel free to share and leave a comment ya. ^_^

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9