Parenting, Family Traveling, Woman Story

Waspadai Gangguan Fisik dan Emosi akibat Obesitas pada Anak

|

RS Royal Progress Jakarta Utara


Jangan dikira masalah obesitas dan segala gangguan kesehatan yang menyertainya hanya terjadi di kalangan orang dewasa, karena kenyataannya, obesitas pada anak kini sedang marak. Bahkan angka prosentasenya terus meningkat dari tahun ke tahun, mulai 2,30% pada tahun 2000 hingga 16,50% pada tahun 2016 merujuk pada data dari WHO.

Tentu tidak mengherankan, karena pergeseran zaman yang ditandai dengan berubahnya gaya hidup dan pola asuh pada anak turut memberi andil pada permasalahan ini. Untuk itu, masyarakat perlu mendapatkan edukasi, agar ikut mewaspadai dan menekan angka obesitas pada anak yang semakin tak terkendali.

Rumah Sakit Royal Progress sebagai salah satu institusi kesehatan merasa bertanggung jawab untuk ikut menyebarkan informasi baik tersebut. Bertempat di Up In Smoke Restaurant, pada Jumat, 3 Agustus 2018 kemarin acara Media dan Blogger Gathering digelar untuk mengupas tuntas dan menyebarkan informasi baik terkait penyebab, efek yang ditimbulkan dan penanganan terhadap kasus obesitas pada anak.

Acara  yang dimulai dengan pemaparan singkat mengenai sejarah perjalanan RS Royal Progress Jakarta Utara  ini menghadirkan 4 orang nara sumber yang kompeten di bidangnya dan memiliki keterkaitan yang erat dengan permasalahan obesitas pada anak.


Kenali Obesitas pada Anak


Dimulai dengan penjelasan panjang namun padat oleh dr. Lucie Permana Sarie, SpA,  mengenai definisi dan penyebab terjadinya obesitas pada anak.

Obesitas adalah suatu kondisi di mana terjadi penumpukan lemak yang berlebih di dalam tubuh seseorang sehingga berat badannya jauh di atas normal.

Selain itu obesitas juga terjadi akibat jumlah energi yang masuk dan keluar tidak seimbang. Konsumsi lemak menyebabkan asupan energi tinggi, namun pengeluarannya rendah dikarenakan minimnya aktivitas fisik.

Bagi masyarakat umum seperti saya dan juga teman-teman semua, untuk mengetahui batas normal berat badan bisa dilakukan dengan cara menghitung BMI atau Body Mass Index. Adapun cara menghitungnya sebagai berikut:

BMI : Berat badan / ( tinggi badan x tinggi badan dalam meter)
Contoh: 65 / (1,7x1,7) hasilnya 22,49 berarti BMI normal



RS Royal Progress Jakarta Utara

Dari pemaparan tersebut, dr. Lucie menekankan bahwa obesitas pada anak memiliki risiko yang jauh lebih tinggi dibandingkan obesitas pada orang dewasa. Sehingga anak-anak pun berpotensi mengalami penyakit metabolik dan degeneratif di kemudian hari.

Untuk penyebab obesitas pada anak yang dikarenakan faktor genetik atau turunan, memang sifatnya masih dugaan karena tidak dapat menjelaskan peningkatan terjadinya prevalansi obesitas. Tapi sebuah penelitian menemukan data bahwa 80% anak obesitas lahir dari orangtua obesitas. Sedangkan angka 40% diperoleh untuk anak obesitas dengan salah satu orangtua obesitas.

Hm... benar-benar nggak bisa disepelekan, ya. Makanya orangtua harus benar-benar tanggap jika melihat adanya tanda-tanda obesitas pada anak. Misalnya seperti tubuh yang bergetar saat bergerak, napas yang terengah-engah, napsu makan tinggi dan berat badan yang melebihi standart usia anak, juga mendengkur saat tidur.

Di samping itu dr. Lucie juga menambahkan mengenai dampak yang mungkin timbul akibat obesitas pada anak. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut :


Dampak Obesitas pada Anak

 

  1. Gangguan fungsi saluran napas obstruktif sleep apnea
  2. Sindrom metabolik  yang merupakan kumpulan gejala penyakit generatif. Seperti darah tinggi dan kolesterol
  3. Sesak napas yang membuat aktivitas fisik lebih sulit, dan dapat memicu gejala asma
  4. Hepatic Steatosis (fatty liver), yang terjadi akibat penumpukan lemak di lemak dan pembuluh darah
  5. Masa pubertas lebih awal
  6. Gangguan pertumbuhan tulang dan sendi akibat menahan berat badan yang berlebihan.
  7. Gangguan dalam interaksi sosial, yang kemudian dibahas lebih mendalam oleh nara sumber berikutnya.


Gangguan Sosial Emosi pada Anak Obesitas


Tak hanya berisiko mengalami gangguan kesehatan fisik, anak dengan obesitas juga berpeluang mengalami gangguan sosial emosi dalam interaksinya dengan lingkungan. Lebih jauh hal tersebut diungkapkan oleh Nadia Rachman, M.Psi, psikolog yang bertugas di Rumah Sakit Royal Progress.

Dalam penjelasannya yang lebih lengkap, Nadia Rachman menjelaskan bahwa gangguan sosial emosi pada anak obesitas menyebabkan gangguan pada dirinya sendiri yang bisa diakibatkan karena dorongan emosi yang terlalu kuat, atau justru tidak hadir sama sekali.


RS Royal Progress Jakarta Utara
Ibu Nadia Rachman, M.Psi sedang menjelaskan tentang Gangguan Sosial Emosi pada Anak Obesitas

 
Sebuah penelitian yang melibatkan 43.300 anak dengan rentang usia 10 hingga 17 tahun  menemukan data bahwa anak-anak dengan berat badan berlebihan berisiko mengalami masalah mental dengan prosentase lebih besar hingga 1,3 kali dibanding anak dengan berat normal.  Para peneliti kemudian mengkaji data dari National Survey of Children's Health, bahwa pada tahun 2007 dari sekian anak yang menjadi obyek penelitian tersebut, 15% di antaranya mengalami kelebihan berat badan, sedangkan sebanyak 16%  telah mengalami obesitas.
Studi ini juga mengemukakan bahwa anak-anak dan remaja obesitas dengan rentang usia tersebut di atas memiliki risiko dua kali lipat mengalami gangguan kesehatan fisik, mental dan ketidakmampuan belajar. Adapun beberapa ciri-ciri gangguan sosial emosi pada anak adalah sebagai berikut:


Ciri-ciri Gangguan Sosial Emosional pada Anak Obesitas

  • Rendah diri
  • Mengalami bullying
  • Cemas
  • Memiliki masalah dalam perilaku dan juga saat belajar
  • Terdapat tanda-tanda depresi
  • Rendah diri
  • Memiliki konsep diri negatif
Sedangkan untuk tanda-tanda gangguan sosial emosi akibat penyesuaian diri yang salah, beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:
  1. Kurang menyenangkan dalam menanggapi hubungan baik dengan keluarga amupun teman.
  2. Merasa terasing dan segan untuk bergaul 
  3. Cenderung suka lari dari tanggung jawab
  4. Kepercayaan diri rendah
  5. Mudah gugup
  6. Suka murung
  7. Cenderung introvert
  8. Mudah tersinggung
Apabila terlihat ciri-ciri maupun tanda penyesuaian diri yang salah seperti tersebut di atas. Maka penanganan harus segera dilakukan untuk menghindari efek buruk yang berlarut. Pada saat inilah peran keluarga terutama orangtua menjadi sangat penting. 

Selain melakukan pendekatan dan menjalin komunikasi yang efektif, orangtua perlu mengapresiasi setiap kelebihan yang ditunjukkan anak. Tujuannya agar anak tidak terfokus pada kekurangannya, tapi dapat melihat kelebihan yang dimilikinya.

D samping itu orangtua perlu memberi kesempatan pada anak untuk mengembangkan bakat dan minatnya. Dengan harapan agar si anak lebih percaya diri, sehingga secara perlahan dapat mengikis perasaan minder pada dirinya.


RS Royal Progress Jakarta Utara

Selain melakukan pendekatan pada anak-anak yang terlanjur menderita obesitas, maka upaya pencegahan perlu disiapkan agar kasus obesitas pada anak dapat dikendalikan. Salah satu poin yang perlu mendapatkan perhatian dan tidak bisa dilakukan dengan asal-asalan adalah poin yang menyangkut latihan fisik.

RS Jakarta Utara
Dr. dr Rika Haryono mengatakan bahwa ada prinsip tertentu dalam memberikan latihan fisik untuk anak obesitas           (Credit foto : Dear Blogger Net)

Untuk menjelaskan masalah tersebut, dihadirkan juga Dr. dr. Rika Haryono, SpKO untuk memberikan pemaparan mengenai apa saja yang perlu diperhatikan dalam melakukan latihan fisik untuk anak obesitas. Hal ini dikarenakan anak-anak cenderung susah untuk diajak melakukan latihan fisik yang terprogram.  Dan mereka lebih suka berlatih dalam bentuk permainan.

Sedangkan frekuensi latihan pun tidak bisa langsung lama, karena latihan fisik harus dimulai dengan kemampuan setiap anak untuk kemudian dinaikkan intensitasnya. Jenis latihan fisik juga harus dipertimbangkan, karena latihan berat cenderung berisiko menyebabkan cedera pada anak.

Untuk prinsip latihannya sendiri bisa dilakukan 3 sampai 5 kali dalam seminggu dengan durasi 30 menit sampai 1 jam dalam intensitas sedang. Jenis latihan yang bisa dipilih adalah aerobik (tipe 1,2,3) , latihan kekuatan otot dan kelentukan.

Sesi terakhir Blogger Gathering hari itu ditutup dengan simulasi gizi yang menghadirkan dr. Paulina Toding, M. Gizi, SpGK yang berkolaborasi dengan Chef Ferdy untuk memberikan alternatif menu sarapan dan makan malam, yang sekaligus bisa menjadi alternatif bekal atau snack.

Kedua menu tersebut adalah roti gulung roghut sayur dan steak tempe. Roti gulung roghut sayur yang berbahan dasar roti tawar dengan tambahan aneka sayur, keju, telur dan susu melengkapi kebutuhan gizi untuk pertumbuhan anak, namun tetap dalam kalori terbatas.

Kalori per saji dari hidangan ini sebanyak 120 kal, masih lebih rendah dbanding kebutuhan kalori anak yang mencapai 130 kal. Sedangkan untuk steak tempe sendiri yang dipadukan dengan nasi dan sayuran kukus bisa dibilang mendekati menu vegetarian.


RS Jakarta Utara
Alternatif menu sarapan, bekal atau makan malam yang rendah kalori

Pengolahan makanan yang tepat perlu dilakukan untuk memperkecil kandungan kalori dalam setiap sajinya. Cara memasak dengan memanggang atau mengukus jauh lebih sehat dibandingkan menggoreng dengan minyak berlebihan.

Dr. Paulina menambahkan bahwa diet pada anak obesitas tidak bisa disamakan dengan diet pada orang dewasa. Tidak ada target khusus seberapa cepat berat badan harus turun. begitu pula tidak ada patokan khusu harus berapa banyak berat anak diturunkan. Semuanya harus ideal karena tetap memperhitungkan masa-masa pertumbuhan anak. Sehingga asupan dan program yang dilakukan harus memerhatikan fase tumbuh kembangnya.

Intinya, dalam hal pola makan dan gaya hidup anak orangtualah yang menjadi contoh pertama. Untuk itu keteladan dan faktor pembiasaan sangat penting untuk dilakukan secara terus menerus hingga didapatkan pola yang ideal untuk tumbuh kembang anak.






16 comments on "Waspadai Gangguan Fisik dan Emosi akibat Obesitas pada Anak"
  1. Infonya keren mb...ternyata obesitas salah satu dampaknya bisa membuat gak pede yaa...thx paparannya...

    ReplyDelete
  2. Waktu anak-anak saya masih kecil, saya justru malu kalau anak saya ceking, maunya anak saya gemuk. Ternyata anak juga bisa mengalami obesitas. Untunglah sampai mereka besar, tidak gemuk-gemuk juga.

    ReplyDelete
  3. Obesitas berarti dapat di hindari dengan keseimbangan antara asupan makanan dan aktifitas yg cukup ya mbak. Karena anak sekarang cenderung malas beraktifitas lebih senang duduk manis dengan gawai. Sehingga wajar peningkatan obesitas pada anak terjadi ya.

    ReplyDelete
  4. Bagus banget mba penjelasannya, saya jadi deg2an takut obesitas juga karena males olahraga dan makanan gak sehat. Duh. Alhamdulillah ada info bagus banget kaya gini, bikin saya jadi hati-hati lagi dan memulai hidup sehat. Makasih mba infonya kereeen 👍🏻

    ReplyDelete
  5. Terima kasih untuk sharingnya, mbak.
    Jadi lebih memilih untuk rubah pola hidup diri sendiri dan dampaknya juga kepada anak.

    ReplyDelete
  6. Nah ini info yang kucari. Sejak dulu anak-anak enggak pernah gemuk, sedang saja badannya bahkan senderung ceking, tapi selama sehat dan sesuai grafik tumbuh kembang, ya aku nyaman aja. Sebelnya kalau ada anak yang kegemukan selalu dipuja puji orang di depan kita. Anak kita dikatain mereka kok kurus sih, makannya susah ya..hadeh, padahal yang kegemukan yang bahaya ..

    ReplyDelete
  7. Terimakasih sharingnya mba. Duet krucil di rumah dua-duanya semok montok, tapi alhamdulillah setiap ke dokter tidak masuk kategori obes. Emak harus kreatif untuk menu makanan biar asupan gizi anak-anak seimbang dan jauh dari obes.

    ReplyDelete
  8. Komplit banget penjelasannya. Terima kasih infonyaa..berguna sekali

    ReplyDelete
  9. Serem juga ya kalau sampai obesitas.sampai2 suami saya udah ngatur pola makan anakku sejak kecil saking takutnya kena obesitas lho. Hahaha. Eh malah yg kedua nih vegetarian mbak. Tapi badannya bentet

    ReplyDelete
  10. Anak perta amu sempat obes mba, karena stress pas pindah rumah, gak punya teman dan pelariannya makan. Untungnya sekarang mulai berkurang. Cuma, masih PR buat makan sayur dan buah.

    ReplyDelete
  11. Anak sulungku dari bayi smp skrng enggak gemuk. Dikasih asupan macem², tetep kurus. Tapi adiknya ipel² bayinya. Beda² yah...Ternyata yang penting sehat sih...
    Makasih sharingnya...

    ReplyDelete
  12. Wah,anak dengan obesitas banyak problem ya ternyata... Terimakasih informaainya

    ReplyDelete
  13. Ternyata obesitas pada anak memiliki risiko yang jauh lebih tinggi dibandingkan obesitas pada orang dewasa, ya ...
    Harus ekstra perhatian bagi anak, nih!

    ReplyDelete
  14. Tp janganlupa, obesitas jg pencetusnya para orangtua yg menjejali anak2nya dg.junkfood loh.

    ReplyDelete
  15. Halo Mbak Damar. Ini pertama kali aku mampir yaaa. Semoga bertemu lagi di lain kesempatan :)

    ReplyDelete
  16. Anak balita saya waktu kontrol ke dokter seringkali saya keluhkan berat badan kurang, padahal makanannya sudah banyak, sambil bolak balik BAB, saya jadi ortu rasanya kawatir kurang berat badan. Ternyata dokternya dengan santai bilang tidak apa Bu, yang penting sehat, sekarang banyak kasus anak obesitas akibat orang tua salah kaprah ingin anaknya terlihat lucu dengan gendut. Syukurlah.. salam kenal ya mbak, alhamdulillah anak-anak sehat dan suka sekali sayur dan buah..

    ReplyDelete

Haluuu Teman-teman. Terima kasih sudah berkunjung ke Blognya BukNaj. Jangan lupa tinggal komentar, ya. Begitu longgar, BukNaj pasti berkunjung ke blog Teman-teman.
Selamat membaca
Semoga bermanfaat :)

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Custom Post Signature

Custom Post Signature