Parenting Story, Mom's Life, Tips

Showing posts with label Pendidikan Karakter. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan Karakter. Show all posts

[Resensi] Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya

|
"Shalatmu dan sebagainya adalah urusanmu dengan Allah, tapi Sarkum yang yatim dan ibunya yang kere mestinya adalah urusan kita semua"

Sejak cover buku ini dipublish di timeline Mas Puthut EA, saya langsung tertarik untuk menjadikannya  salah satu koleksi di rumah. Menurut saya unik, ditambah judulnya menggelitik. saya pikir buku ini pasti asyik. Menyusul kemudian sinopsis yang terus berkelibat, membuat saya tak ragu untuk segera melakukan pemesanan online untuk buku yang bergenre agama ini. 



"Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya" merupakan kumpulan dari kisah seorang sufi dari Madura berama Cak Dlahom. Awalnya, kisah-kisah di dalamnya merupakan tulisan berseri di situs web mojok.co. Ditayangkan selama dua kali ramadhan, rutin setiap dua hari sekali menjelang waktu berbuka. 

Sejak pertama kali tayang, pada 17 Juni 2015, cerita Cak Dlahom ini telah mampu menyedot perhatian pembaca situs mojok. Bahkan beberapa judul seperti "Takut Neraka tapi Sudah Terbakar" dan "Cak Dlahom Mengaku Anjing", keduanya telah dibaca hampir empat puluh ribu kali. Sebuah pencapaian yang fantastis yang akhirnya menggerakkan hati tim Mojok untuk mengumpulkan total 30 judul dalam 1 buku yang sangat "renyah", namun syarat pendidikan agama.


"Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya" Menggambarkan Realita Kehidupan

Serial Cak Dlahom sendiri berkisah tentang kejadian sehari-hari di sebuah desa di Madura. Cak Dlahom yang menjadi sentra cerita, dikisahkan sebagai seorang duda tua yang hidup sendirian di sebuah gubuk dekat kandang kambing milik Pak Lurah. Dlahom yang sering dianggap kurang waras, aktif menjadi komentator atau penyulut perbincangan bersubstansi ibadah. Dari perbincangan-perbincangan inilah, tetangga Dlahom mulai merenungkan ulang mengenai pemahaman mereka tentang Islam.

Misalnya dalam salah satu kisah yang berjudul "Masuk Islam Dulu, Baru Puasa Ramadhan", Dlahom mempertanyakan keislaman Mat Piti tetangganya, "apa benar kamu islam?" Mau tidak mau kisah ini menyentil sisi lain dalam diri saya tentang pemahaman agama. Saya pun sempat bertanya pada diri sendiri, "saya sudah islam beneran atau belum ya?", begitu gumam saya dalam hati.

Begitu pun dalam kisah "Membakar Surga, Menyiram Neraka" Saya sempat merenungi kembali makna kita sebagai manusia, makhluk Tuhan. Ngaku beragama, tapi apakah benar-benar sudah beribadah? Kita sering terlupa amalan untuk sesama manusia. Tapi tak mau sedikit pun diusik saat beribadah kepada Gusti Allah. Padahal, bukankah Allah memerintahkan keduanya?

Kisah-kisah dalam serial ini sempat membangkitkan emosi. Tanpa terpaksa saya berusaha mengoreksi ulang keislaman yang saya agung-agungkan selama ini. Islam bukan hanya tentang shalat lima waktu, membaca Al Quran, puasa, zakat dan berhaji. Islam juga tak sebatas urusan-urusan kita dengan Allah semata. Ucapan, perilaku, kasih sayang dan cara kita menghargai serta menghormati hak orang lain adalah Islam. Bahkan dicontohkan Rasul dengan sangat indah dan menentramkan. Islam itu indah, namun keindahan itu hanya akan terlihat jika umatnya dapat merepresentasikan Islam dalam kehidupan di dunia, bukan akhirat semata.



Buku "Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya" menjadi angin segar bagi saya. Di tengah hiruk pikuk perdebatan tentang kafir dan muslim. Cerita-cerita di dalamnya menjadi penyejuk kala resah melanda. Mengapa harus khawatir dikafirkan? Sedangkan Allah Yang Maha Menentukan segalanya. Tak perlu menyombongkan diri sebagai muslim yang paling taat berbekal ayat-ayat. Kalau tetanggamu saja masih menderita dan saudaramu masih terlunta. Apalagi ayat-ayatnya modal potongan dari sosial media, mak jleb! Malu dibuatnya.

Seluruh setting cerita dalam serial ini berlatar belakang Ramadhan, sesuai dengan situasi saat cerita ini tayang. Saking menarik dan ditunggunya serial ini, dalam salah satu diskusi di Kaskus, serial ini disebut "cerpen Ramadhan" 

Saya sangat merekomendasikan buku ini untuk siapa saja yang ingin menyegarkan pemahamannya tentang Islam. Bahasanya ringan, blak-blakan, khas humor sufi, namun syarat makna dan pendidikan.

Tentang Penulis

Rusdi Mathari, salah satu penulis yang aktif menulis di situs Mojok.co, telah lama malang melintang dengan karier kepenulisannya. Pernah menjadi wartawan, redaktur majalah, redaktur pelaksana koran dan berita, hingga menjadi redaktur eksekutif di salah satu portal berita. Beberapa penghargaan untuk penulisan terbaik berhasil diraihnya, termasuk salah satunya menjadi peserta crash program untuk reportase investigasi.  Salah satu judul buku yang ditulisnya dan menggelitik juga adalah Aleppo. Layak bersanding dengan buku "Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya" di rak buku koleksi teman-teman.

Jika teman-teman berminat mendapatkan buku serupa. Pembelian online bisa dilakukan melalui web Mojok Store, atau melalui facebook Buku Mojok dan twitter @BukuMojok. Saya yakin, teman-teman tidak akan kecewa. Buku ini kaya ilmu meskipun ditampilkan secara sederhana. Nggak keminter apalagi minteri.

Judul : Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya
Penulis : Rusdi Mathari
Penerbit : Buku Mojok
Genre : Agama
Tebal buku : 226 halaman
Harga : Rp. 60.000
Cetakan pertama : September 2016


Belajar Gengsi dari Asnawi (Sarjana Penjual Gorengan)

|
Indonesia patut bangga. Saat sebagian besar anak muda merasa GENGSI dengan gadget model lama, atau model fashion yang sudah bukan trend-nya. Pemuda asal Bangka ini justru melupakan GENGSInya untuk berjualan gorengan di antara kesibukannya menimba ilmu di bangku kuliah.

Ya, jika grup band Gigi punya 11 Januari, maka Asnawi punya 11 Februari sebagai hari bersejarahnya. Resmi menjadi Sarjana Ekonomi dengan IPK 3,39 dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Dia tidak hanya membuktikan bahwa semua orang berhak mengubah nasibnya. Bahwa siapapun bisa sukses asal ada kemauan. Bahwa masih banyak generasi kita yang bermental pejuang. Suatu sikap mental yang mulai luntur, bahkan butuh usaha yang tak sedikit untuk mengupayakannya.

Sumber gambar : Hipwee

Perjalanan Asnawi, Sarjana Penjual Gorengan.

Sempat putus sekolah selepas menamatkan pendidikan di jenjang menengah pertama. Asnawi tak gentar untuk kembali ke bangku SMA saat usianya tak semuda teman-temannya. Di bangku SMA inilah niatnya untuk mencicipi pendidikan di Kota Pelajar mulai tumbuh.  Berkat program pertukaran pelajar yang diikutinya pada tahun 2010. 

Berbekal kemauan dan komitmen yang tinggi dan disiplin diri. Asnawi sangat lihai membagi waktu antara berbelanja kebutuhan berdagang, kuliah, menjajakan gorengannya, belajar dan tak lupa ibadah. Saya kira manajemen waktunya sangat ketat, padat namun tebukti membawa manfaat. 

Masih berbekal impian yang suci, Asnawi berencana untuk melanjutkan pendidikannya hingga ke jenjang S-2 ke luar negeri. Meskipun untuk saat ini dia ingin pulang kampung dulu. Berharap bisa bekerja di daerah asalnya dan membantu usaha orang tua. Sembari mencari peluang untuk mendapatkan beasiswa S-2. 

Ulet, berkemauan dan tak kenal gengsi. Maka tak salah jika kita aminkan cita-citanya menjadi presiden di tanah pertiwi. Amin.. Karena semua berawal dari MIMPI. Bahkan saat sebagian orang mulai ragu dengan mimpi-mimpinya, Asnawi berani mengucapkan impian ini.


GENGSI Tak Membuat Hidupmu BerGENGSI

Belajar dari pengalaman Asnawi, atau Asnawi-Asnawi lain di seluruh penjuru negeri ini. Saya merasa perlu untuk mengingatkan diri saya sendiri, bahwa gengsi tak dapat membeli apapun, terlebih mimpi-mimpi masa kecil saya. Gengsi tidak akan membuat hidup saya lebih bergengsi. 

Ya, saya juga manusia biasa yang sering khilaf. Sering kali saya nggak mau yang inilah, itulah. Alasannya ecek-ecek banget. GENGSI! Saat sudah berkepala tiga dan beranak dua pun, saya masih sering menjadikan gengsi sebagai alasan yang paling klasik. *tutupmuka. Nauzubillah, semoga anak-anak tidak menurun sifat buruk saya.


Menumbuhkan Mental Pejuang pada Anak

Sebenarnya, semenjak kecil saya sudah dididik jauh dari sikap gengsi. Dibesarkan seorang ibu single parent dengan 4 orang anak. Bekerja membantu ibu saya menggoreng tempe, tahu dan heci (bakwan sayur) sejak kelas 6 SD. Saya merasa mulai kebal dengan budaya gengsi.

Namun begitulah mengapa Tuhan membekali manusia dengan akal dan nafsu. Ada saatnya nafsu mengalahkan akal sehat saya. Ketika merasakan hidup sedikit membaik, penghasilan lumayan dan cukup untuk sedikit merubah gaya. Maka saya pun berpikir mampu membeli gengsi. Satu bentuk kebodohan yang tak ingin saya ulangi.

Kini, tak ubahnya orang tua dulu mendidik. Saya pun bertekad menjauhkan anak-anak dari budaya GENGSI.  Bersyukur kemauan ini di-aminkan oleh suami. Sehingga kami tak perlu berkompromi satu sama lain. Menumbuhkan mental pejuang pada anak-anak menjadi sangat penting di tengah gempuran  hedonisme, budaya konsumtif dan pencitraan yang tak kunjung berhenti.

Anak harus dilatih menghadapi kehidupan yang sesungguhnya di luar sana. (Gamar : Pixabay)


Kami merasa sadar sebagai orang tua masih fakir ilmu, jauh dari sempurna. Tapi bersama anak-anaklah kami belajar. Banyak hal ingin kami tanamkan, ajarkan dan tumbuh kembangkan pada anak. Tapi untuk urusan sikap mental, kami sadar harus menjadi prioritas.

Pembentukan mental anak bukan hanya dasar, namun juga modal bagi  untuk terjun dan survive dalam kehidupan yang sesungguhnya, yaitu lingkungan masyarakat luas. Bagaimana mereka harus menghadapi masalah, menyikapi perbedaan, menyelesaikan konflik, menerima kekalahan, memaknai kemenangan dan mensyukuri nikmat dari Tuhan.

Sikap-sikap dasar yang kami pun sebagai orang tua masih jauh dari panggang. Kami pun masih sering terbawa arus emosi, egois, frustasi, kurang kompromi. Yang nyata-nyata sama sekali tak menguntungkan untuk diikuti. Jadi menjauhkan anak-anak dari kebiasaan itu sungguh tantangan berat yang kami hadapi.

Masa depan tak dapat ditebak. Tugas orang tua menyiapkan anak untuk menghadapinya. ( Gambar : Pixabay)


Jadi berbahagialah teman-teman yang telah memiliki cukup 'modal' untuk putra-putrinya. Saya yakin, kita semua BISA karena TERBIASA. Dan MAMPU karena MAU BERUSAHA.

Selamat berjuang di medan laga kehidupan! ^_^





Custom Post Signature

Custom Post Signature