Parenting Story, Mom's Life, Tips

Showing posts with label Resensi Buku. Show all posts
Showing posts with label Resensi Buku. Show all posts

[Resensi] Sirkus Pohon oleh Andrea Hirata

|

Ternyata, hidup ini indah bukan buatan. Kurasa mereka yang selalu mengatakan hidup ini sulitlah, sepilah, tak adillah, segala rupa keluhan, perlu mempertimbangkan profesi baru, sebagai BADUT SIRKUS.

 

Andrea Hirata


Sirkus Pohon, salah satu novel yang berhasil membuat saya duduk selama 6 jam untuk menyelesaikan seluruh bab di dalam buku setebal 383 halaman. Yah, saya tahu ini hal yang basa bagi sebagian orang. Tapi bagi saya ini adalah rekor berkelanjutan setelah sebelum-sebelumnya melakukan hal yang sama pada seri tetralogi Laskar Pelangi karangan Andrea juga.

Membaca buku Andrea, membuat saya tersihir dengan kata-kata. Mabuk, limbung dalam perasaan yang campur aduk dan emosi yang terus dimainkan melalui kisah-kisah pelakonnya. Semuanya terlalu nyata, dekat dan dapat dijumpai di sekitar kita. Begitu lihainya Andrea mengangkat drama kehidupan dan isu sosial yang berkembang di masyarakat. Membungkusnya dalam wujud fiksi yang mampu melambungkan imajinasi pembacanya


" Fiksi, cara terbaik menceritakan fakta." -Andrea Hirata

 


Seperti halnya buku-buku terdahulu Andrea, Novel Sirkus Pohon masih dilatari kehidupan Melayu lengkap dengan tradisi masyarakatnya. Pemberian nama julukan atau gelar  pada orang-orang yang memiliki kebiasaan tertentu. Atau atas pencapaian tertentu entah itu benar-benar bisa dianggap prestasi atau justru hal-hal yang memalukan. Nampaknya tetap menarik bagi Andrea untuk mewakili salah satu kebiasaan orang Melayu selain tentunya duduk berlama-lama di warung kopi sambil membicarakan isu di kampungnya.

Optimisme yang meledak-ledak, kekuatan cinta, kecerdasan yang terbelenggu oleh kemiskinan selalu menjadi ciri khas Andrea Hirata. Ya, 3 hal ini memang sangat manusiawi dan mampu mewakili realita masyarakat kita. Rakyat dari golongan menengah ke bawah, yang tersebar di pelosok-pelosok negeri ini.



Kali ini Andrea mengangkat lika-liku kehidupan sang tokoh sentral utama, Sobrinudin bin Sobirinudin, yang kemudian dipanggil Sobri dan segera berganti lagi m,enjadi 'Hob'. Kan, apa saya bilang? Orang Melayu dalam cerita Andrea selalu suka memberikan panggilan kepada siapa saja. Bahkan Sobri sendiri tak pernah tahu bagaimana asal mulanya nama 'Hob' bisa disandangnya.

Sobri. Miskin, putus sekolah, pengangguran hingga akhirnya harus berkawan dengan penjahat kelas teri di kampungnya. Hidupnya tak terarah, tak memiliki tujuan jangka panjang. Hingga akhirnya dia menemukan cinta dan kecintaan yang kemudian mengubah hidupnya secara keseluruhan.

"Bangun pagi, let's go ...", begitu semboyannya ketika dunia mulai ramah dan memberikan arti bagi kehidupannya. Dedikasi atas kecintaan baru, keinginan untuk memberikan kebanggaan bagi seorang ayah yang tak pernah mengeluh dan cita-cita akan cinta. Ketiganya bagaikan mantra yang membuatnya menjelma menjadi manusia baru.

Tegar dan Tara, dua tokoh sentral kedua. Dalam diri mereka, kita akan diajak bernostalgia dengan Arai.  Sang pecinta sejati, erat menggenggam mimpi-mimpinya, hampir tak pernah mengenal kata putus asa. Ya, Tegar dan Tara akan mengajarkan pada kita mengapa kemiskinan tak perlu ditangisi, perpisahan bukan untuk disesali, bahwa harapanlah yang akan terus menyalakan mimpi-mimpi.


Andrea Hirata


Tidak hanya dari tokoh sentralnya saja, pembaca Sirkus Pohon akan dapat menemukan segala kebaikan dalam diri tokoh-tokoh yang lain. Kebaikan yang sering kali ditutupi sikap sombong, serakah, menang sendiri, gengsi. Bahwa manusia memang tidak dilahirkan dalam kesempurnaan, tapi selalu ada 1 atau 2 kebaikan yang hanya bisa dilihat dengan kebaikan juga.

Sebuah kejutan juga bagi saya, kali ini Andrea menghadirkan aroma kehidupan politik dalam karyanya. Penuh pencitraan, intrik, dan hal-hal yang irrasional seperti halnya politik dalam dunia nyata. Teman-teman akan dibuat gemas dengan Penasihat Abdul Rapi, atau melihat sosok politikus kita dalam diri Gastori. Namun di akhir nanti, pembaca akan mendapatkan kejutan dari seorang Lelaki Bertopi Fedora. Dan juga Taripol, kawan lama Sobri sekaligus orang yang membuatnya harus mencicipi aroma penjara untuk yang pertama kalinya.

Di babak kedua nanti teman-teman akan melihat betapa Buah Delima begitu maha dahsyat mengubah kehidupan seseorang. Begitu pun juga halnya dengan betapa gilanya menjadikan Pohon Delima sebagai yang diagung-agungkan dalam sebuah kontestasi politik. Edan! Memang begitulah kenyataannya, dalam dunia politk semua hal bisa dijadikan alat.

Sirkus Pohon mengajarkan kita cinta dari berbagai sudut pandang. Cinta kepada yang memang dicintai, cinta kepada yang tak pernah ditemui lagi, cinta pada yang telah meninggalkan luka, cinta sepasang hewan-hewan kecil, cinta akan kekuasaan, cinta pada profesi, cinta pada pengabdian dan cinta-cinta lain yang mungkin bisa kita temui dalam tiap lembar dan larik di dalamnya. Bravo! Andrea mampu menghadirkan Sang Pujangga, dalam segala rupa dan detak kehidupan.

 



Membaca buku ini, saya merasa seperti sedang dibawa ke belahan negeri itu. Seperti halnya buku-buku Andrea yang lain. Penggambaran latar tempat, situasi dan dialek yang kental akan Melayu, membuat pembaca larut. Seolah sedang duduk di salah satu warung kopi di sana. dan menyaksikan potongan fragmen kehidupan tokoh-tokohnya.

The End,  Teman-teman akan  menemukan kenyataan-kenyataan seperti. Usaha tak akan pernah mengingkari hasil, cinta akan menemukan jalannya, dan kebaikan selalu menang. Dan begitulah seharusnya yang berlaku dalam kehidupan. Tapi sayangnya, dunia ini sudah terlalu 'tua' untuk dapat memahami hal-hal demikian. Hingga sering kali kita hanya menemuinya di layar kaca, atau dalam larik-larik cerita.

 

 

Judul : Sirkus Pohon
Penulis  : Andrea Hirata
Penerbit : Bentang Pustaka
Tebal buku : 383 halaman
ISBN : 978-602-291-409-9

Tulisan ini diikutkan tantangan One Day One Post Oktober 2017 Blogger Muslimah Indonesia
#ODOPOK5








[Resensi[ Mengenal Bumi melalui Buku Seri "Dunia Kita"

|

Di planet mana kita tinggal?

Mengapa harus bumi dan bukan mars?

Di bumi ada apa saja, sih, Buk?

Bumi itu luas nggak?

Siapa saja yang ada di bumi? Alien nggak ada, ya?



Pertanyaan-pertanyaan semacam itu pasti pernah teman-teman dengar dari mulut anak-anak? Benar, kan? Saya pun sedang menghadapinya. Rasanya seperti sedang menghadapi ujian, loh! Sekalinya dapat pertanyaan, kayaknyawajib banget menggali informasi untuk mendapatkan jawaban yang tepat.


Apalagi anak-anak sekarang semakin kritis. Sekali dia mendengar sebuah informasi, berkali-kali mereka menyerang kita minta penjelasan yang detil dan tentu saja mudah diterima logikanya.


Dulu, saat masih bekerja di sekolah. Saya sering mendengar teman-teman pengajar curhat tentang “unik” dan “ajaibnya” pertanyaan dari siswa. Kini, saya mengalami sendiri di rumah. Menjadi orang tua tak hanya harus berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan “ajaib” tapi juga memaksa kami menjadi “kamus berjalan” anak. Bahkan kalau bisa menjadi perpustakaan pertama. Hem …


Sempat mencari bahan dari internet untuk menjawab pertanyaan DuoNaj. Menunjukkan gambar miniatur bumi tempat tinggal kita, menunjukkan kekayaan alam yang tersimpan di dalamnya. Bahkan kami membawa si kecil mengunjungi beberapa tempat untuk memberikan pengalaman nyata. Seperti ke sawah, untuk hasil alam yang berupa hasil panen sayur, buah dan padi sebagai bahan makanan pokok.


Tapi nampaknya anak-anak masih kurang puas. Mereka butuh bahan bacaan yang bisa mereka “sambangi” sewaktu-waktu untuk melihat-lihat kembali. Dan tentu saja  buku bacaan dengan tampilan visual menarik yang mereka butuhkan.



Tentang Buku Seri “Dunia Kita”





Kebetulan sekali, pada saat itu penulis buku  Seri “ Dunia Kita” sedang mempromosikan buku terbarunya. Saya memang salah satu follower D.K. Wardhani, karena selalu menunggu update buku dan informasi terbaru serta tips dan trik dari beliau yang saya rasa sangat bermanfaat. 


Tanpa berpikir panjang, begitu ada informasi preorder disertai gambaran singkat tentang “Dunia Kita”, saya pun langsung memesannya. Dan tidak disangka  harus menunggu restock  karena stok awal langsung ludes terjual.


Seri Dunia Kita adalah buku bergenre nonfiksi anak. Bukunya tidak terlalu tebal, namun sangat komunikatif dan menyajikan visual yang tentu saja memanjakan mata. Saya saja senang melihat dan membacanya, apalagi anak-anak.





Dalam satu seri, terdapat 4 judul yang terbagi dalam 4 buku yang berbeda. Yaitu:

1. Bumi dan Penghuninya .

2. Bumi Penyedia Kebutuhan Kita

3. Bumi Sumber Daya Kita

4. Bumi Tempat tinggal Kita


Buku ini pas banget untuk menjawab pertanyaan “ajaib” anak-anak. Karena mereka tidak hanya akan mencari tahu mengapa kita tinggal di bumi dan bukan mars? Tapi juga, mereka akan tahu  di dalam perut bumi itu ada apa saja, sih?


Buku yang rata-rata setebal 36 halaman ini dicetak dengan kualitas print yang sangat baik. Full color dan tentu saja penuh gambar. Penjelasannya singkat namun mudah dipahami anak-anak. Dilengkapi dengan glosarium dan fakta seru yang membuat anak-anak lebih mudah mengingat hal-hal yang dirasa penting.

Sumber Gambar : D.K. Wardhani


Selain itu, Seri “Dunia Kita" juga dilengkapi dengan halaman aktivitas untuk anak. Misalnya pada buku yang berjudul “Bumi Tempat Tinggal Kita”, anak-anak akan diajak melengkapi titik-titik pada proses siklus air. Sehingga anak tidak hanya membaca, namun mengaplikasikan pengetahun baru yang mereka serap dalam kegiatan. Aktivitas ini bisa juga orang tua gunakan sebagai bahan kuis dengan anak.  Sehingga anak lebih bersemangat dalam membaca dan mendiskusikannya.


Menurut saya pribadi, buku ini sangat relevan untuk dibacakan pada anak-anak bahkan untuk batita. Karena sekecil apapun informasi yang mereka serap, kenyataannya dapat meninggalkan kesan dan pesan pada diri anak. Perpaduan antara buku dengan tampilan visual menarik dan komunikatif, ditambah gaya penyampaian orang tua yang atraktif. Maka dijamin pesan yang ingin disampaikan lebih mudah "tertinggal" pada memori anak.






Untuk anak-anak yang baru belajar membaca, jenis buku seperti Seri “Dunia Kita” juga sangat cocok untuk memantik minat baca. Kalimatnya pendek-pendek, tulisannya besar dan  disandingkan berbagai gambar berwarna, membuat mereka tak mudah bosan dan menyerah untuk menyusuri halaman demi halaman.


Tentang Penulis


D.K Wardhani adalah seorang homeschooler, author buku anak dan seorang illustrator. Pendiri komunitas Sahabat Alam Cilik ini begitu concern dengan isu terkait pelestarian alam untuk menjaga kelangsungan kehidupan umat manusia di masa depan.


Salah satu karyanya yang bertema lingkungan adalah “Komik Muslim Cilik Sayangi Bumi”. Tentu saja sudah tak terhitung buku dan ilustrasi yang dibuatnya untuk mengkampanyekan isu-isu pelestarian bumi dan lingkungan.


Penulis dapat dijumpai di FB : “Dini” Dian Kusuma Wardhani atau IG @dkwardhani. Ada banyak info seputar recycle life, kampanye pelestarian alam, tips-tips menarik dan informatif. Serta tentu saja aneka buku karya sang penulis.


Secara keseluruhan, saya puas dan merekomendasikan buku ini sebagai salah satu koleksi untuk anak. Sebagai media belajar, Seri “Dunia Kita” sangat informatif. Sebagai bahan bacaan, buku ini sangat menarik dan membuat anak tak bosan untuk melihat-lihat gambar di dalamnya.


Pembelian buku ini bisa dilakukan secara online. Teman-teman bisa langsung add social media penulis untuk memperoleh informasi yang lebih mendetil perihal cara pemesanan dan promo yang mungkin ditawarkan.


Bravo, Mbak D.K. Wardhani!😊😘



Seri “Dunia Kita”

1. Bumi dan Penghuninya .

2.  Bumi Penyedia Kebutuhan Kita

3. Bumi Sumber Daya Kita

4. Bumi Tempat tinggal Kita

Penulis : D.K. wardhani

Ilustrator: InnerChild Studio

Penerbit: Tiga Ananda, creative imprint of Tiga Serangkai

Cetakan pertama : Mei 2017

Jumlah halaman : Rata-rata 36 halaman

Harga : Rp. 90.000/ 4 buku



#ODOP
#day3
#bloggermuslimahindonesia


[Resensi] Smart Mom Happy Mom - Karena Semua Ibu Berhak Bahagia

|


Tak ada pujian kuharap

Ataupun bayaran kudamba

Hanya senyum tulus dan pelukan hangat

Sebagai gantinya …

Semua kulakukan

Semua kuberikan

Karena aku adalah IBU 

(Bety Kristianto)



Sepenggal puisi di atas hanyalah sebagian dari keseluruhan isi buku yang benar-benar mewakili isi hati saya sebagai seorang Ibu.  Membaca Smart Mom Happy Mom, saya seperti sedang membaca buku diary yang selalu saya simpan rapat di antara tumpukan baju di lemari kamar. Bahkan, berkali-kali saya berpikir, “Kok, Simbok ngertii wae karo uneg-unegku."

Tentang Penulis

Ya, Bety Kristianto, atau Simbok, begitu kami biasa memanggilnya di salah satu grup menulis tempat saya berkenalan dengan beliau.  Seorang ibu multitalenta. Jangan tanya apa saja keahliannya. Sebagai mantan  ibu bekerja, Mbak Bety tidak hanya lihai meramu kata-kata. Tapi berbagai macam bahan dapur, selalu sukses diramunya menjadi aneka sajian bergizi dan tentu saja lezat.

Pribadinya yang ramah, ramai cerdas dan cekatan sangat mewakili sosok Smart Mom Happy Mom. Maka tak perlu heran jika buku ini terasa sangat bernyawa. Karena Mbak Bety menulis tanpa mengada-ada.  Saya yakin beliau sedang curhat, berbagi pengalaman atas suka duka yang dialaminya sebagai ibu dalam buku setebal 138 halaman ini.

Tak jarang saya terkesima dengan kecepatannya menulis artikel di sela-sela mengurus dua anak bujang.  Pada kesempatan lain, saat saya masih berkutat dengan artikel yang belum genap 2, Mbak Bety sudah menyelesaikan adonan pizza atau roti tawarnya setelah merampungkan artikel ke-4 atau bahkan ke-5. “Gendeng, pangananmu opo to, Mbok?”, begitu saya sering membatinnya. Semoga Simbok nggak kecokot-cokot pas makan. Hehehe ...

Sosok Bety Kristianto merepresentasikan buku Smart Mom Happy Mom. Seorang ibu rumah tangga, mantan wanita karier, writer, buzzer, and I am sure she is a good chef at home. Honestly, kita semua para ibu sebenarnya memiliki kesempatan serupa. But, being a smart and happy mom is a choice. Tergantung bagaimana kita menyikapi  masalah dan mensyukuri setiap pemberian dalam kehidupan. Dan yang tidak kalah penting adalah mengenali potensi dan mampu berdamai dengan diri sendiri.




Smart Mom Happy Mom Ibarat Buku Diary

Menelusuri halaman demi halaman dalam buku ini, saya merasa tidak sedang digurui, atau bahkan membaca buku teori . Seperti yang saya tuliskan di atas, Smart Mom Happy Mom seperti buku diary bagi sebagian besar wanita yang telah menjadi ibu pada umumnya. Khususnya bagi saya pribadi, yang telah melalui fase menjadi ibu bekerja kemudian memutuskan untuk stay at home saja. Begitu juga ketika pada akhirnya saya berusaha  productive from home, tanpa meninggalkan tugas utama sebagai ibu dan pendamping bagi suami. Adaa saja tantangan yang harus dihadapi, seperti yang telah dikupas penulis dalam karyanya.

Setiap momen bahagia dan masalah yang disajikan dalam buku ini mau tak mau membuat saya mengangguk tanda setuju. Bahkan tertawa karena merasa penulis sedang menceritakan kegalauan saya setelah menyandang predikat orang tua, IBU.

Pergulatan batin, perasaan tak mampu, merasa tidak mendapatkan ruang untuk mengapresiasi diri. Semua diulas lengkap dengan solusi yang sangat rasional. Bahkan sederhana untuk diaplikasikan. Good Job! Mbak Bety.



Smart Mom Happy Mom adalah Tools 

“This book is a tool kit book, for all future mothers and new mothers in this modern era.” ( Elizabeth Santosa)

Yep!! Saya sangat setuju dengan pendapat Elizabeth Santosa. Membaca Smart Mom Happy Mom seperti sedang tidak membaca buku. Tapi layaknya disuguhi serangkaian tools untuk melakukan ini dan itu. Sekali lagi, tanpa terkesan menggururi karena penulis menuturkannya berdasarkan pengalaman yang telah dilalui. Tentu saja sudah lulus uji. Tapi jika nantinya ada 1 atau 2 poin yang sekiranya tidak sesuai dengan kondisi kita, tinggal modifikasi saja. Simple, kan? 

This book  is very recommended for new mothers . Bisa dijadikan pegangan saat kondisi kurang bersahabat. Ya, yang namanya berumah tangga pasti ada naik turunnya. Terlebih setelah menambah gelar sebagai ibu. Semakin besar tantangan yang harus dihadapi, semakin tak terhitung pula nikmat yang patut disyukuri. 

Penulis memaparkan secara gamblang dan blak-blakan hal-hal yang terkait problematika menjadi seorang ibu.  Ibu bekerja di luar maupun stay at home mom. Saya yakin, hampir setiap ibu pernah mengalaminya.  Tips yang diberikan juga sangat realistis, nggak muluk-muluk dan mudah dipahami.  Cara bertututnya sederhana, renyah, khas gaya bahasa ibu-ibu masa kini.


Banyak buku bertema sejenis, tapi Smart Mom Happy Mom benar-benar tak membuat saya bosan. Overall saya suka. Dan merekomendasikannya untuk semua ibu dan calon ibu dengan segala tantangan yang harus dihadapinya. Sekali lagi, well done, Mbak Bety!! You did it!

Berminat buku serupa? Teman-teman bisa langsung kontak ke penulis keceh satu ini untuk mendapatkan buku bergenre non fiksi terbitan Penerbit Andi. Silakan add and follow sosial media penulis di FB : Bety Sulistyorini Kristianto IG : @betykristianto
 
Finally, keep writing and inspiring us, Mbok! 👌😍😍
  

Judul Buku : Smart Mom Happy Mom
Penulis : Bety Kristianto
Penerbit :Penerbit Andi
Tahun : 2017  
Tebal buku : 138 halaman 
Genre : Non fiksi - Parenting & Family
Harga : Rp55.000,-


Tomoe Gakuen, Mr. Kobayashi dan Hasil Pendidikan yang Membentuk Karakter Totto Chan

|
"Serahkan mereka kepada alam, jangan patahkan ambisi mereka. Cita-cita mereka lebih tinggi daripada cita-cita kalian" - Sosaku Kobayashi.



Suasana peringatan Hari Pendidikan Nasional masih hangat terasa. Banyak kalangan baik aktivis  maupun pemerhati pendidikan masih terus menyuarakan visi dan misinya tentang bagaimana seharusnya pendidikan di negeri ini. 

Bertepatan dengan hal itu, para pelajar berseragam “putih biru” terlihat mengadu nasib di meja ujian. Ya, peringatan Hardiknas tahun ini bebarengan dengan ujian nasional untuk siswa siswi tingkat SMP. 

Sebagai orang tua, pengalaman saya memang masih minim terkait serba-serbi bangku sekolah anak. Baru tahun ini berencana mendaftarkan Najwa ke sekolah SD. Pilihan kami pun terbatas di SD negeri dan swasta yang paling dekat dengan rumah. Memang batasan itu kami sendiri yang membuat, mengingat kami tinggal di Jakarta dan sangat menghindari menyekolahkan anak di tempat yang jaraknya relatif jauh dari rumah.


Dalam hal mendidik anak, saya setuju bahwa orang tua tetap mengambil porsi terbesar. Ibaratnya, sekolah hanyalah tempat bersosialisasi, menambah pengalaman nyata dan mengambil materi. Namun dalam penjabaran dan pengaplikasiannya. Rumah dan orang tua harus mendominasi. Memberikan pondasi yang akan dijadikan sebagai pijakan bagi mereka kelak.


Berbicara tentang sekolah dan pendidikan, saya kembali teringat dengan Tomoe Gakuen. Sebuah sekolah di Jepang yang berdiri pada zaman perang Asia-Pasifik. Teman-teman yang memiliki koleksi buku “Totto Chan, Gadis Cilik di Jendela” pasti sudah tidak asing lagi dengan nama sekolah ini. Ya, karena buku memoar Totto Chan begitu terkenal.Tidak hanya di Jepang, negara yang menjadi saksi bisu keberhasilan model pendidikan Tomoe Gakuen. Buku Totto Chan bahkan telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa, termasuk bahasa Indonesia. 

Sempat menjadi best seller di zamannya, dan dibaca oleh para pemerhati pendidikan. Sekilas mungkin Temans penasaran dengan apa yang terjadi dalam sistem pendidikan di Tomoe Gakuen. Sekolah yang bisa dibilang “biasa” saja pada saat itu. Bukan sekolah pemerintah yang penuh dengan fasilitas. Tapi mereka memiliki model pendekatan dan pembelajaran yang “tidak biasa”. Yang akhirnya melahirkan anak-anak yang “luar biasa”. 

Adalah Sosaku Kobayashi, seorang pendidik sejati yang memiliki gagasan tentang Tomoe Gakuen. Kecintaannya pada anak, dan pemahamannya tentang karakter dasar anak tidak perlu diragukan lagi. Pada dasarnya, semua anak memiliki karakter baik. Orang dewasa dan lingkunganlah yang kemudian merusaknya. Entah secara sengaja atau tanpa disadari.


Sikap terbuka yang ditunjukkannya pada siswa siswi Tomoe Gakuen, mau tak mau membuat anak-anak nyaman berbagi apapun dengannya. Pendekatan model inilah yang memungkinkan seorang guru menanam dan menumbuhkan hal baik pada anak.


Tomoe Gakuen bukan model sekolah mutakhir dengan jadwal pelajaran padat dan beragam ekstrakurikuler. Tapi model sekolah sederhana, dengan beragam cara untuk menumbuhkan minat dan kecintaan anak pada bidang yang disukainya. Kegiatan yang biasa disebut ekstrakurikuler pun terlalu berlebihan. Tapi, banyak hal dilakukan sebagai bentuk pembiasaan pada anak. Sebagai sarana membentuk rutinitas dan memasukkan nilai-nilai untuk ditanamkan pada jiwa-jiwa yang masih polos dan suci.




Bagi Mr. Kobayashi, belajar tidak selalu duduk rapi di dalam kelas, tidak harus mengikuti jadwal berurutan yang ditentukan oleh pihak sekolah, dan tidak sebatas pelajaran bahasa, hitungan atau menghafal.


Berjalan-jalan di lingkungan sekitar sekolah adalah bagian dari memelajari ilmu alam. Makan siang bersama adalah saatnya berbagi dan mengenal aneka bahan makanan yang berasal dari gunung dan laut. Jam olahraga adalah saatnya membentuk kepercayaan diri dan menghilangkan perbedaan antara sesamanya.


Model pembelajaran di Tomoe Gakuen terlihat spontan dan alamiah. Tapi saya yakin Mr. Kobayashi dengan pemahamannya yang tinggi tentang sifat dasar anak telah merencanakannya dengan sedemikian rupa. Boleh jadi anak-anak menganggap mereka hanya bermain-main di sekolah. Namun sang kepala sekolah sudah paham betul. Materi apa saja yang diselipkan di antara kesenangan-kesenangan itu.


Dalam banyak kesempatan, Mr.Kobayashi selalu berkata, “Kau benar-benar anak baik”. Ucapan ini terus ditujukan kepada anak didiknya dan memberikan efek positif terhadap perkembangan karakter anak.  Mendengar orang lain menyebutnya “anak baik”, alam bawah sadarnya akan merekam dan menjadikannya ingatan masa kecil yang mendasari perkembangan jiwa anak.


Hal ini pulalah yang membuat seorang anak yang pernah dikeluarkan dari sekolahnya, Totto Chan. Tumbuh menjadi pribadi yang memesona. Totto Chan terus mengingat kata-kata Mr. Kobayashi, bahwa dia adalah anak yang baik. Kata-kata sederhana yang mampu menjadi "rem" dalam setiap tindakannya. Dan pendorong baginya untuk memberi arti dalam kehidupan ini.




Tidak hanya dibiasakan untuk berbuat baik dan menyayangi sesama makhluk Tuhan. Totto Chan dan kawan-kawan dibiasakan untuk menghargai perbedaan dan tidak menjadikannya sebagai sebuah permasalahan. Mereka juga didukung untuk terus mengasah empati, meluapkan rasa ingin tahunya terhadap suatu permasalahan, dibiarkan mencari solusi dan diberikan tanggung jawab atas hal-hal yang telah dilakukannya.


Semua ini tentu saja tidak hanya dilakukan melalui teori-teori dalam kelas. Tapi dalam berbagai kegiatan dan kesempatan. Bahkan permasalahan yang sengaja dirancang untuk memantik kecerdasan berpikir dan bertindak bagi anak.


Bagi saya, Tomoe Gakuen adalah sekolah “luar biasa”. Sekolah yang mampu membuat anak-anak betah setelah bel pulang berbunyi. Atau membuat anak-anak tak tahan untuk segera ke sekolah saat bangun di pagi hari.


Mungkin, model sekolah dengan pembelajaran seperti di Tomoe Gakuen bisa menjadi angin segar di dunia pendidikan. Terlebih bagi orang tua yang memiliki anak-anak kritis dan cenderung susah diajak duduk berlama-lama di kelas. Atau mengikuti banyak ekstrakurikuler dan les sebagai pengisi kegiatan di luar jam sekolah.


Apalagi jika sekolah bisa menjadi jembatan, yang mengantarkan anak memahami sifat baik pada dirinya melalui pembiasaan sehari-hari. Sehingga pendidikan karakter tak lagi butuh untuk dijabarkan dalam berlembar-lembar kurikulum pendidikan yang minim pengalaman nyata.


Ah... Sepertinya ini hanyalah impian dan curhatan BukNaj yang sedang mencari sekolah untuk Najwa. Meskipun kadang impian tak seindah kenyataan, tapi memiliki sebuah pegangan sebagai role model wajib hukumnya. Sehingga, sebagai orang tua kami bisa membantu memenuhi kebutuhannya akan ilmu dan pengalaman yang tak didapatnya di bangku sekolah formal. Semoga ...













[Resensi] Ukiran Rasa - Cinta, Perjuangan dan Keajaiban Rasa

|
"Suamiku menderita, tapi sungguh! Aku jauh lebih menderita. Aku manusia biasa. Aku seorang ibu. Jika tangisan sudah tak lagi keluar dari mataku, adakah kau lihat sesuatu terjadi dalam diriku?"


Sekitar pertengahan November 2016, saat saya dan tak sedikit teman-teman alumni JA lagi super heboh, gegara lolos sebagai finalis penulisan buku antologi "Bangga Jadi Ibu" Seorang teman kami, Anjeli, begitu biasanya kami memberikan panggilan sayang padanya. Nampak kurang bersemangat, tak seperti biasanya yang selalu "menggoyang" jagat perchattingan grup kami. 

Ada sedikit kecewa dalam kalimat-kalimatnya. Mungkin karena tidak lolos sebagai kontributor buku antologi kali ini. Padahal nih, kalau menurut kami, kisah kebanggaan sebagai ibu yang diangkatnya "luar biasa", loh. Ya, tapi apa mau dikata, semua memang tergantung penilaian juri. Toh, namanya juga kompetisi, kalah dan menang sudah biasa.

Tapi bukan Anjeli namanya kalau dia berputus asa begitu saja. Di balik kegagalan "melahirkan" buku keroyokan yang pertama, Anjeli justru menerbitkan buku solonya. Wedan!! Begini harusnya semua penulis menanggapi sebuah kegagalan. Bukan nglokro, justru bangkit dan lari lebih kencang.

Baca juga : [Resensi] Bangga Jadi Ibu Part 1


Kabar Gembira dari Anjeli!

Pertengahan Desember 2016, jagat perchattingan grup JA pun ramai kembali dengan celoteh-celotehnya yang selalu sayang untuk dilewatkan. Ibaratnya nih, kalau kepala lagi pusing, atau eneg sama kerjaan rumah. Tengok aja grup JA, trus baca chat-nya Anjeli. Dijamin gak perlu minum obat atau jalan-jalan buat refreshing. Nih orang emang lucu nggak keruan. Di balik sosoknya yang religius, adaa aja yang bisa jadi bahan cengengesan

Tapi chat kali ini bukan chat biasa, rupanya Anjeli sedang persiapan "melahirkan" buku solo pertamanya. Ya, semacam promosi gitulah. Hehehehe ... Kalau kata saya sih, keren nih orang. Di antara segala kesibukannya, ya kerja ya jadi konsultan Indscript. Dia masih sempat dan memang meluangkan waktu untuk menerbitkan sebuah karya. 4 Jempol deh, buat Anjeli. 

Baca juga : [Resensi] Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya


 

Tentang "UKIRAN RASA"

Awalnya teman-teman alumni JA mendapat kesempatan free E-Book Ukiran Rasa, dengan kompensasi membuat review di blog masing-masing. Sayangnya, saya ketinggalan momen itu. Telat dikit nengok chat group, melayang sudah satu kesempatan dapat gratisan, nasih ... nasib.

Tentu saja saya tak mau melewatkan buku perdana Anjeli, akhirnya, saya pun order versi R-Booknya (Real Book ^-^).  Tak berapa lama, kalau nggak salah malahan cuma sehari dari saya order, buku Ukiran Rasa sudah mendarat dengan cantik di tangan saya. 

Buku bercover hijau dengan kombinasi gambar berupa cangkir  kuning itu siap menjadi teman dalam kesunyian. Pas banget nih, menjelang libur panjang, saya harus nyetok buku sebagai hiburan. Apalagi kami berencana mudik agak lama di kampung halaman. Salah satu cara berkontemplasi adalah "diam" dengan buku bacaan sebagai selingan.

"Ukiran Rasa", Kisah tentang cinta, perjuangan dan keajaiban tujuh puluh ribu rasa. Lumayan keder juga saya pas baca judulnya. Bayangan saya bakalan puitis abis, apa saya nyampek bacanya? "Ahh ... langsung baca sajalah, kok malah miker" begitu gumam saya.

Buku ini ternyata terbagi menjadi dua bagian, yang pertama berupa Kumpulan Kisah, dan yang kedua diberi judul Bukan Puisi ( Sebuah Goresan dari Diary Perempuan).  Ide ceritanya sederhana, dan dapat dijumpai dalam kehidupan nyata. Tapi Anjeli atau Nurdianah Dixit begitu nama pena Emak penggemar film India ini mampu mengemasnya menjadi indah dan puitis.

9 cerita berbeda pada bagian Kumpulan Kisah, mampu membawa saya larut dalam perasaan haru. Kisah Selimut untuk Raka yang diangkat sebagai kisah pertama dari 8 lainnya, mampu menggetarkan hati saya sebagai seorang ibu sekaligus istri. Dalam kondisi kalu dan ambruk akibat kehilangan putra kesayangan, seorang istri harus tegar menghadapi suami yang menderita lahir bathin akibat kedukaan yang sama. 

" Suamiku menderita, tapi sungguh! Aku jauh lebih menderita. Aku manusia biasa. Aku seorang ibu. Jika tangisan sudah tak lagi keluar dari mataku, adakah kau lihat sesuatu terjadi dalam diriku?"

Kutipan di atas kiranya cukup mewakili isi hati seorang perempuan atas kedukaan, kehilangan dan perasaan bersalah yang kerap menghantui akibat sebuah pilihan. Anak dan pekerjaan. Keduanya kerap kali tak bisa dipilih, namun mengandung konsekuensi yang amat besar.

Kisah-kisah dalam Ukiran Rasa mau tak mau merepresentasikan kehidupan religius penulis. Ya, Anjeli adalah sosok yang religius, begitu setidaknya sisi lain yang dapat saya tangkap darinya. Di balik segala kelucuan dan obrolannya yang selalu renyah.

Setiap kisah ataupun goresan diary penulis yang kemudian diangkat dalam buku ini, selalu menyiratkan kehidupan religi. Entah dalam bentuk kehidupan santri di sebuah pondok, bagaimana kisah pencarian seorang murid terhadap sosok guru yang sebenarnya, bahkan perjalanan seorang istri memahami cinta dari pasangannya.




Secara keseluruhan, buku ini cocok sebagai bahan bacaan perempuan, terlebih seorang ibu. Banyak kisah dalam buku ini bisa menjadi pengingat. Bahwa hal-hal kecil dalam kehidupan ini sering kali luput dari perhatian, dibiarkan begitu saja , kemudian menyesal ketika merasakan kehilangan. 

Berbagai jenis RASA yang ingin disampaikan penulis dalam karyanya bahkan sangat dekat dengan kehidupan kita. Ada duka, benci, cinta, kagum, bahagia dan gundah yang kerap kali memberikan pelajaran bagi kehidupan ini, asal peka dan dapat dapat memaknainya.

Keberanian penulis dalam mengangkat kisah-kisah yang saya duga "dekat" di sekitarnya, bahkan di sekitar kita juga. Menjadi inspirasi bagi saya, bahwa benar adanya, menulislah dari yang paling dekat dengan kita, paling kita kuasai sehingga tulisanmu akan "bernyawa"

Sedikit masukan bagi penulis terkait buku ini, mungkin lebih pada tampilan bukunya saja. Dari segi cover, layout dan editing, mungkin perlu lebih diperhatikan untuk buku-buku selanjutnya. But, overall I proud ou you, Mbak ^_^. Bangga bisa menjadi salah satu orang yang menyaksikan jungkir balik penulis dalam melahirkan buku ini. Saya rasa teman-teman pun harus mencicipi setiap "rasa" dalam buku ini, sembari mencecap secangkir kopi di pagi hari yang damai nan dingin.


Buku UKIRAN RASA bisa dipesan secara online langsung pada penulisnya di Fb : Alikanurfatiha Dianadixit, atau IG : @Nurdianah_dixit.  Buku ini saya rekomendasikan untuk Teman-teman yang percaya bahwa setiap rasa itu bermakna dan menjadi pelajaran yang sebenarnya dalam kehidupan.

Congrtazz, Anjeli. You did it!

Judul Buku : Ukiran Rasa
Penulis : Nurdianah Dixit
Penerbit : Azizah Publishing
Tahun : 2016 
Tebal buku : 110 halaman
Harga : 45.000






Custom Post Signature

Custom Post Signature