Parenting Story, Mom's Life, Tips

Showing posts with label ODOP BLOGGER MUSLIMAH INDONESIA OKT 2017. Show all posts
Showing posts with label ODOP BLOGGER MUSLIMAH INDONESIA OKT 2017. Show all posts

Piknik Ala DuoNaj #4 - Edutrip ke Dunia Air Tawar dan Dunia Serangga di TMII

|
TMII Jakarta

Sepertinya DuoNaj tak pernah bosan diajak berkunjung ke Taman Mini. Minggu lalu, tepatnya pada tanggal 7 Oktober,  kami sekeluarga kembali melakukan edutrip ke sana. Padahal, kalau tidak salah kami pada tahun 2017 ini kami sudah lima kali mengunjungi tempat wisata kebanggaan Jakarta ini. Entah untuk acara reuni atau piknik yang memang sudah direncanakan, atau secara tidak sengaja mampir setelah dari acara yang lain. Taman Mini biasanya menjadi tempat persinggahan ketika kami harus kelayapan di daerah timur Jakarta.

Kali ini pun sebenarnya kami tak benar-benar merencanakan untuk pergi ke sana. Awalnya suami hanya bercanda dengan ajakannya. Sedangkan saya  sendiri sebenarnya memilih di rumah saja karena pada keesokannya Najwa akan menjalani UTS di sekolah.  Tapi yang namanya DuoNaj memang doyan pikniknya nggak ketulungan. Sekali ayahnya menawarkan satu tempat, tanpa pikir panjang mereka langsung mengiyakan.

Baca juga: Piknik Ala DuoNaj #1 - Nonton Air Force Show

Dunia Air Tawar dan Dunia Serangga yang menjadi destinasi edutrip kali ini. Sebenarnya lagi, saya dan anak-anak juga sudah pernah sekali berkunjung ke sana. Tapi saat itu memang kami hanya bertiga saja. Sehingga kepergian kali ini murni karena menuruti keinginan suami.

TMII Jakarta


Menjelang tengah hari sampailah kami di Taman Mini. Cuaca hari itu lumayan terik, sehingga kami rehat sebentar untuk sekedar mendinginkan kepala dan wajah setelah menerjang jalanan Jakarta yang macet dan panas. Sengaja kami memilih beristirahat di pelataran Museum Tugu Api yang udaranya lebih sejuk karena banyak pohon-pohon besar yang berjejer di sekitarnya.


DUNIA AIR TAWAR

TMII Jakarta


Kami berempat bergegas menuju Dunia Air Tawar karena pengunjung Taman Mini semakin padat. Menjelang jam makan siang, umumnya mereka mencari tempat-tempat yang rindang, seperti di lapangan Tugu Api ini untuk menggelar tikar dan menikmati bekal dari rumah. Maka dari itu, setelah membereskan barang-barang, kami pun segera merapikan tikar sewaan dan meninggalkan tempat tersebut untuk dipakai keluarga lain yang sudah siap dengan pesta kecilnya.

Baca juga: Piknik Ala DuoNaj #2 - Outing Class

Dunia Air Tawar menjadi tujuan pertama sebelum ke Dunia Serangga. Lokasi keduanya sebenarnya hanya bersebelahan, tapi untuk masuk ke Dunia Serangga, pengunjung diharuskan membeli tiket masuk yang berlokasi di loket pembelian tiket Dunia Air Tawar. Harga tiketnya Rp. 25.000,- per orang baik anak-anak maupun dewasa. Oh ya, usia 3 tahun sudah harus membeli tiket orang dewasa.

TMII Jakarta

Harga ini lumayan mahal jika dibandingkan dengan museum lain yang ada di Taman Mini. Tapi jangan khawatir, tiket masuk ke Dunia Air Tawar sudah termasuk gratis ke Dunia Serangga. Jadi pengunjung tak perlu membeli tiket yang berbeda.

Dunia Air Tawar adalah museum atau wahana rekreasi yang berupa keanekaragaman hayati dari perairan air tawar Indonesia. Wahana yang diresmikan pada tanggal 20 April 1994 ini didominasi akuarium dalam berbagai ukuran, menyesuaikan dengan ukuran dan jenis dari masing-masing ikan yang menghuninya. Menurut keterangan, simulasi dan replika ini sudah dipersiapkan sejak tahun 1992. Sampai pada akhirnya dinyatakan siap untuk menjadi wahana rekreasi, kemudian diresmikan dan dibuka untuk umum 2 tahun berikutnya.

TMII Jakarta

Lokasinya bersebelahan dengan Dunia Serangga dan satu arah dengan keong Mas. Konon, katanya taman biota air tawar ini termasuk salah satu yang terlengkap di dunia dan terbesar di Asia. Sehingga koleksinya sangat banyak, beragam dan disertai berbagai penjelasan di setiap sudut akuariumnya. Hal ini lumayan membantu orang tua untuk memberikan penjelasan secara langsung kepada anak. Tak melulu melihat dari satu akuarium ke akuarium lainnya, kami pun bisa berinteraksi dengan tanya jawab bersama anak.

Baca lagi : Piknik Ala DuoNaj #3: From Sky World to Bird Park

Salah satu koleksi yang sangat menarik minat anak adalah jenis Arapaima yang berukuran raksasa, Cat Fish, Blind Fish, Hiu Gergaji, Dolar Fish, Ikan Buta dan Piranha yang sangat terkenal dari Sunga Amazon, Amerika Serikat.

TMII Jakarta

TMII Jakarta

Selesai mengamati seluruh akuarium, kami pun menggenapkan edutrip ke Dunia Air Tawar dengan merasakan sensaisi bioskop 4 dimensi di sana. Pengunjung dikenakan biaya tambahan sebesar Rp. 15.000, - per orang untuk merasakan pengalaman bersentuhan langsung dengan dunia animasi ikan. Bagi orang tua, sensasi bioskop 4 dimensi ini mungkin biasa saja. Tapi bagi anak-anak seumuran DuoNaj, pengalaman ini sangat menyenangkan karena mereka merasa seperti diajak masuk dan bersentuhan langsung dengan dunia  bawah laut, meskipun hanya dalam bentuk animasi.

TMII Jakarta


TMII Jakarta
Film 4 Dimensi tentang kehidupan bawah laut


DUNIA SERANGGA DAN TAMAN KUPU-KUPU

Puas mengamati seluruh biota air tawar dalam puluhan akuarium dalam berbagai ukuran. Kami pun segera beralih ke museum lain yang ada di sebelahnya. Ya, edutrip pun berlanjut ke Dunia Serangga dan Taman Kupu-kupu. Dulu, dua wahana ini dikenal dengan sebutan Museum Serangga dan Taman Kupu-kupu. tapi sekarang sebutannya diubah menjadi Dunia Serangga dan taman Kupu-kupu. Sedangkan Museum Air Tawar dikenal dengan nama baru Dunia Air Tawar.


Dunia Serangga yang resmi berdiri pada tanggal 20 April 1993 merupakan sebuah wahana untuk memperkenalkan aneka ragam serangga. Baik asal usul habitatnya, cara hhidup dan beragam ciri khas baik bentuk maupun manfaatnya. 

Selama ini, bagi anak-anak pada umumnya seperti halnya DuoNaj, serangga hanyalah salah satu jenis hewan kecil. Dan mereka cenderung menghindari untuk berinteraksi langsung dengan makhluk jenis ini, alasannya kalau nggak geli ya takut digigit. Wajar, dong, karena anak-anak kan tahunya semut, nyamuk, atau lebah yang memang memiliki kecenderungan menggigit. Nah, membawa mereka ke tempat berlibur seperti ini bisa jadi satu cara yang tepat untuk mengenalkan jenis serangga yang lain, dan tentu saja manfaatnya bagi kehidupan ini.


Misalnya kupu-kupu yang membantu penyerbukan bunga, lebah yang menghasilkan madu dan beberapa jenis serangga lain yang memiliki peranan penting bagi ekosistem ini. yaitu sebagai Dekomposer.

Serangga sebagai Dekomposer

Seperti halnya anak-anak, sebagai orang tua saya pun baru mengenal istilah dekomposer ini ketika berkunjung ke Dunia Serangga. Dekomposer atau bisa juga disebut sebagai detritivor atau pemakan bangkai. Serangga berperan sebagai dekomposer karena mereka memakan organisme mati dan atau limbah dari organisme lain. Peranan dekomposer ini sangat membantu ekosistem mendapatkan kembali siklus nutrisi dari penguraian bangkai atau limbah-limbah tersebut.

Sistem kerja dekomposer ini dengan memakan atau menguraikan bahan organik untuk kemudian mengubahnya kembali menjadi abentuk anorganik mereka. Misalnya fosfat, amonium dan karbondioksida yang terkandung dalam bangkai atau limbah.


Pengetahuan seperti ini sebenarnya lebih menarik jika dipaparkan pada anak yang sudah lebih besar. Mungkin anak usia SD kelas 3 atau di atasnya  sudah lebih mudah memahaminya. Tapi, dengan penjelasan yang dipermudah, disertai contoh riil hasil kreasi orang tua. Bukan tidak mungkin untuk si pra sekolah dapat memahaminya. setuju, kan?

Menjelang ashar, kami pun mengakhiri acara edutrip kali ini dengan destinasi terakhir Anjungan Jakarta. Karena Najwa ada rencana mengikuti lomba Tari Ondel-ondel pada akhir bulan Oktober ini, maka kami sempatkan mampir sebentar untuk melihat situasi panggung sebagai bekal berlatih di sekolah.

Capek, panas, tapi tak sedikit pun terlihat sebal atau bosan di wajah anak-anak. Kami pun kembali menerjang kemacetan Jakarta dengan membawa segudang manfaat bagi seluruh anggota keluarga. Selain me-refresh semangat, acar jalan-jalan di akhir pekan adalah pilihan tepat untuk memaparkan anak pada pengalaman nyata berdasarkan aneka teori yang sering mereka dengar. Kegiatan seperti ini pastinya akan jadi pengalaman yang mengkristalkan untuk mereka. Benar, kan?















Emotional Conversation with Kiddos

|

Seperti biasa, saya bangun 3 jam lebih awal dari anak-anak. Setelah membuat draft untuk bahan postingan blog pada hari berikutnya, saya bergegas menuju dapur untuk membereskan gelas dan piring kotor bekas makan semalam. Melanjutkannya dengan membereskan rumah yang selalu berantakan karena anak-anak baru berhenti bermain saat jam tidur malam tiba.

Segera saya menuju lemari pendingin untuk mengecek stock sayur dan lauk untuk disajikan sebagai menu sarapan. Tapi kemudian saya baru teringat, Najwa dan Najib sudah pesan ingin makan telur rebus untuk sarapan pagi itu. Kebetulan sekali justru persediaan telur di rumah sedang habis. Maka sambil menunggu toko sembako di dekat rumah buka, saya melanjutkan dengan menyapu lantai dan membereskan cucian untuk dimasukkan ke keranjang setrikaan.

Tepat pukul 5 pagi, saya berangkat membeli telur ke toko yang berjarak 50 meter dari rumah. Dan 10 menit kemudian saya sudah berada di rumah kembali. Begitu masuk dapur, hal pertama yang saya lakukan adalah merebus telur untuk sarapan anak-anak. Sembari menunggu telur matang, saya pun merebus sayur, membuat sambal dan menggoreng ayam untuk menu sarapan yang lain.

15 menit berikutnya telur telah matang, dan tepat saat itu Najwa sudah bangun dan duduk di ruang tengah. Saya pun segera menyiapkan telur dan makanan lainnya di meja makan, mengoles roti dengan coklat sebagai pengisi kotak bekal, mengisi botol air dan menyiapkan seragam Najwa untuk hari itu.

"Kak, sudah waktunya mandi. Ibuk sudah siapkan semuanya." Begitu saya berusaha mengingatkan Najwa untuk segera mandi.

"Sebentar, Buk. Sebentar lagi," sahut Najwa masih di tempat duduknya.

Saya pun melirik jam dinding, memang masih pagi, sih. Masih cukup jika Najwa mau mengulur waktu sampai kurang lebih 15 menit lagi. Saya  beranjak menuju meja kecil di sebelah rak buku yang mulai berjejalan isinya. Sambil menunggu Najwa mandi, saya berpikir masih punya waktu untuk meng-edit draft yang sudah setengah jadi.

Jari-jari saya mulai menyentuh kotak-kotak kecil di atas external keyboard yang tersambung pada laptop. Melanjutkan beberapa kalimat penutup sebelum nantinya meng-edit naskah secara keseluruhan. saat itu juga tiba-tiba mulut Najwa mengajukan satu pertanyaan pada saya.
"Buk, Ibuk tuh sampai kapan, sih, nulis-nulis kayak gitu?"

"Ya, sampai seterusnya, Kak. Karena Ibuk sudah berniat untuk bekerja dengan cara menulis seperti ini."

"Masak setiap hari Ibuk nulis, emang berapa banyak buku yang mau dibuat? Masak mau buat buku terus?"

"Ibuk menulis bukan untuk membuat buku saja, tapi Ibuk juga menulis di blog. Kakak ingat, kan, cerita-cerita yang kapan hari Ibuk bacakan dari laptop Ibuk? Yang ada fotonya Najwa, Ayah, juga Adik?"

"Iya, tapi sampai kapan Ibuk mau seperti itu? Coba Ibuk kerjanya pergi ke kantor saja. Jadi kalau pagi Ibuk berangkat kayak Budhe atau Umminya Dinda. Setelah pulang, sampai di rumah sudah nggak kerja lagi. Kita cuma bermain." 

Saya mulai paham arah pembicaraan Najwa. Pasti dia mau saya main terus sama mereka. Karena sebelumnya Najwa sudah menyampaikan keinginannya itu. Pokoknya kalau anak-anak main, ibuk juga harus main. Nggak boleh masak, nggak boleh nyapu apalagi ngetik. Saya pun bernafas dalam-dalam, mencoba tidak terpancing emosi di pagi hari.

"Ibuk nggak punya kantor, Kak. Jadi semuanya dikerjakan dari rumah. Kalau Ibuk kerja di kantor, kakak mau ditinggal Ibuk sampai sore atau malam?"

"Iya, nggak pa pa."

"Terus, Kakak sama siapa di rumah? Kita kan nggak punya, Mbak? akak mau dititipkan di penitipan?"

"Iya, mau. Di sana aku bisa main sepuasnya, kan?"

"Nggak juga, kalau waktunya main ya main, makan harus makan, tidur siang ya harus tidur. Nggak seperti yang Kakak bayangkan. Lagian Ibuk belum nemu tempat penitipan untuk anak sebesar Kakak."

" Yawdah, kita cari Mbak saja."

"Bilang Ayah dulu, kalau yang itu. Eh, tapi, kalau Ibuk kerja di kantor pun, di rumah Ibuk tetap menulis seperti ini. Karena Ibuk sudah terlanjur suka.  Di Kantor kan nggak boleh semaunya sendiri , Kak. Harus bekerja sesuai perintah bosnya. Trus gimana, dong?"

"Aku tuh maunya Ibuk cuma nemenin main aku sama adik, jadi kalau kerja jangan di rumah. Atau pas aku tidur saja."

Ahh, kepala saya rasanya mulai berat. Emosi mulai terpancing, mulut sudah pengen teriak. Tapi masih saya tahan, meskipun cara berbicara mulai terdengar emosional.


"Ibuk tuh tugasnya banyak, Kak. Memang seharusnya Ibuk selalu menemani kalian main, tapi Ibuk harus masak, belanja, menyiapkan bekal kakak, mencuci, menyapu lantai, mengepel, mengantar kakak sekolah, menemani kakak belajar di rumah, mengantar exkul. Belum juga kalau Dek Najib minta main keluar, Ibuk harus menemani juga. Jadi nggak bisa kalau Ibuk harus menemani Kakak main terus. Ada waktunya kita main bareng, ada saatnya juga Kakak harus menemani Adik bermain, sedangkan Ibuk beres-beres rumah, dan kalau masih sempat Ibuk minta waktu menulis sebentar saja."

Nampaknya Najwa nggak mau menerima penjelasan saya. Dia pun mencari cara lain.

"Ya sudah, Ibuk nulisnya malam saja, pas aku, Adik, Ayah sudah tidur semua."

"Biasanya juga gitu, Kak. Kalau badan Ibuk lagi nggak capek.  Sekarang Ibuk nggak kuat tidur malam-malam. Badan Ibuk udah capek, pagi pun Ibuk bangun masih sangat pagi. Kalian aja kalau main sampai malam-malam, Ibuk belum bisa istirahat sebelum kalian tidur."

Najwa diam, lalu saya menambahkan lagi.

"Menurut Kakak, Ibuk harus gimana?"

"Ya sudah, Ibuk boleh menulis, boleh kerjain apa aja di rumah. Tapi kalau aku ngajak main, Ibuk harus main sama aku."

Begitu jawabnya sambil meninggalkan saya menuju kamar mandi. Saya diam, tidak mengiyakan atau menolak permintaannya. Karena saya tahu betul bagaimana sifat Najwa. Dia sangat suka berdebat dengan saya,  kemudian kesal dan menangis kalau kemauannya nggak diikuti. Meskipun ujung-ujungnya baikan lagi.
  

Sepanjang hari saya memikirkan obrolan bersama Najwa tersebut. Menyesal kenapa saya jadi ikut-ikutan ngeyel sama anak-anak. Sempat sedih, goyah, bingung harus bagaimana. Tapi saya belum ingin membahasnya kembali. Saya butuh waktu untuk mengatur emosi. Saya benar-benar tidak menyangka, tiba-tiba saja Najwa tidak mendukung saya sama sekali. Padahal saya yakin betul dialah motivasi saya untuk terus berkarya.

Ya, sudahlah. Nampaknya weekend kali ini saya akan lebih banyak bersantai. Me-refresh semangat, hati, merekonsiliasi hubungan dengan anak-anak, terutama Najwa. Membuat kesepakatan baru dengan mereka dan tentu saja menyusun rencanayang lebih baik.

Wish me luck!


Tulisan ini diikutsertakan tantangan One Day One Post Oktober 2017 Blogger Muslimah Indonesia
#ODOPOKT9





Laptop 2in1 untuk Mendukung Gaya Hidupku sebagai Freelancer

|



laptop 2in1
Pixabay.com

Kalau ditanya apa pekerjaan utama saya, tentu saja profesi ibu rumah tangga yang selalu menjadi jawaban. Karena segala yang saya lakukan di luar kesibukan sebagai full stay at home mom sifatnya hanya sampingan saja., yang biasa saya kerjakan di sela-sela mengurus keperluan suami dan anak-anak.

Freelancer, begitu biasanya saya menggelari diri sendiri. Baik sebagai blogger, content writer atau crafter wanna be , saya belum memutuskan untuk mengerjakannya sepenuh waktu. Meskipun  selalu berusaha total untuk menyelesaikan pekerjaan yang dipercayakan kepada saya.

Menyandang status ibu rumah tangga tanpa menggunakan jasa ART menuntut saya untuk lebih dinamis dan cermat mengatur waktu demi produktifitas kerja. Belum lagi dua anak saya yang memiliki kecenderungan kinestetik sangat susah diajak diam berlama-lama. Di luar pekerjaan rumah, hampir sebagian besar waktu saya gunakan untuk bermain bersama mereka.

Jangan ditanya seberapa banyak waktu yang saya alokasikan untuk menuntaskan pekerjaan freelancer Namanya juga free, jadi suka-suka saya mau dikerjakan kapan dan di mana. Meskipun kerap kali harus berkejaran dengan deadline yang bikin nyut-nyutan kepala.

Ritme pekerjaan yang mengharuskan saya  dinamis, tidak membuang-buang waktu dan bisa bekerja di mana saja mau tak mau membuat saya memerlukan ‘alat tempur‘ yang siap di bawa kemana-mana. Sayangnya kesempatan itu belum juga saya dapatkan hingga sekarang. Karena kondisi laptop yang sekarang saya ajak bekerja sangat tidak memungkinkan.

Selain ukurannya yang besar dan berat, kondisi keyboard bawaan yang tidak berfungsi akibat dimuntahi si kecil mau tak mau membuat saya harus menggunakan external keyboard yang, alamak semakin tak praktis untuk dibawa-bawa.

Sejauh ini , smartphone memang tak pernah lepas dari tangan ketika saya harus beraktivitas di luar. Jika kebetulan saya mendapat job sebagai buzzer, atau harus mengikuti training online berbasis social media, gadget yang satu ini cukup mumpuni untuk diajak bekerja sama.

Anak-anak yang masih kecil, mau tak mau membuat aktivitas saya lebih banyak dengan mereka.

Masalahnya, smartphone satu-satunya yang sekarang menjadi andalan ini sering kali menjadi barang rebutan dengan anak. Biasanya saya memang tegas terkait penggunaan gadget bagi mereka. Tapi ada kalanya saya harus melakukan mediasi, sampai akhirnya menyerahkan barang tersebut dengan berbagai persyaratan. 

Pada saat gadget berpindah tangan seperti itu, rasanya saya seperti sedang membuang-buang waktu. Misalnya saat menunggu si kakak extra kurikuler di sekolah, saya merasa mendapatkan cukup waktu untuk menyelesaikan beberapa draft atau meng-edit calon postingan. 

Tapi apalah daya, satu-satunya gadget yang movable sudah beralih fungsi menjadi pemutar video favorit si adik yang mulai bosan menunggu kakaknya. Saya pun tak enak hati jika berebut paksa di lingkungan anak-anak yang sedang belajar. 



Kadang kala saya pun merasa tidak produktif ketika akhir pekan tiba. Ya, weekend yang sedianya memberikan lebih banyak kebebasan waktu, kadang-kadang  harus saya lewati untuk traveling ke luar kota bersama keluarga.  Sedangkan yang paling sering terjadi adalah menghabiskannya selama seharian dengan meng-explore segala hal yang ada di Jakarta.  

Saya sadar tidak dapat menolak kebiasaan ini dalam keluarga kecil yang sedang kami bangun. Karena jalan-jalan merupakan salah satu quality time yang banyak me-refresh hubungan suami istri dan  bounding dengan anak. Tapi sebagai freelancer, saya merasa terlalu sering melewatkan waktu luang karena kendala alat yang tidak menunjang. Maka saat seperti itu saya sering merasa butuh gadget kedua, yang tentu saja harus  dinamis dan bringable untuk menunjang keahlian saya sebagai multitasker.


Laptop 2in1
Pixabay.com

Sempat berpikir untuk membeli tablet sebagai cadangan jikalau harus bekerja di luar. Saya pun masih bimbang, karena kondisi laptop yang sekarang juga sudah saatnya dipensiunkan. Dan tidak bisa saya pungkiri, sebagian besar pekerjaan lebih maksimal jika dikerjakan dengan laptop atau notebook biasa.  Misalnya untuk mendesain atau meng-edit foto, maka fungsi dari keyboard dan mouse tak bisa digantikan oleh layar sentuh yang biasa ada pada tablet.

Tapi begitu berniat untuk membeli laptop biasa, bayangan membawa seperangkat alat dengan bobot yang bisa membuat pundak semakin pegal selalu menjadi kendala. Ya kali harus bawa tas segede gaban cuma buat laptop doang, sudah berat nggak simple pula. Pupus sudah cita-cita ibu rumah tangga tampil trendi saat jadwal traveling tiba.



Laptop 2 in 1 Hadir sebagai Solusi


Laptop 2in1
Intel.co.id

Untungnya teknologi terus berkembang hingga tak terbendung lajunya. Laptop hybrid hadir menjadi solusi bagi gaya hidup freelancer seperti saya. Laptop hybrid atau biasa disebut 2 in 1 merupakan inovasi terbaru laptop yang menggabungkan 2  fungsi dalam 1 perangkat, yaitu notebook dan tablet yang disatukan. Perangkat ini sangat fleksibel, karena bisa digunakan untuk bekerja sekaligus meng-entertain saya, bahkan anak-anak. 

Laptop 2in1 bisa digunakan dalam dua model pengoperasian yang berbeda.  2 in 1 yang bisa dilepas layarnya dapat difungsikan sebagai tablet yang dapat dibawa kemana-mana tanpa memberikan tambahan beban akibat bobot laptop yang berat.  User pun dapat memaksimalkan pekerjaan terlebih jika harus bersinggungan dengan social media.


Sedangkan laptop 2 in 1 yang memiliki fungsi konvertibel, sekilas nampak seperti notebook biasa, tapi jika layarnya dibalik atau diputar, maka tampilannya berubah seperti tablet dan sangat mengesankan jika harus digunakan untuk keperluan meeting atau presentasi di depan klien.

 

Tapi tak perlu khawatir dengan performa 2 in 1 sebagai  laptop atau notebook biasa. Karena bagi sebagian orang, penggunaan laptop dengan keyboard  beserta touchpad atau mouse memang sepertinya tak bisa ditinggalkan. Laptop 2 in 1 hadir tetap dengan  kenyamanan yang biasa user gunakan. So, kalau kata saya, sih, laptop 2in1 yang benar-benar saya butuhkan.



Hal-hal yang Patut Dipertimbangkan sebelum Membeli Laptop 2in1


Laptop 2in1
Intel.co.id


Sebagai  freelancer yang memiliki penghasilan tidak menentu, pembelian perangkat baru untuk menunjang pekerjaan saya benar-benar harus melalui pertimbangan yang matang. Terlebih jika perangkat tersebut bisa dibilang juga masih baru di pasaran.  Jangan sampai membeli suatu perangkat hanya karena tergiur dengan segala kemudahan yang ditawarkan. Tapi sudah semestinya perangkat tersebut memberikan manfaat maksimal.

Begitu pun halnya ketika memutuskan memilih laptop 2in1 sebagai calon pendukung pekerjaan saya. Saya harus tahu betul, tipe seperti apa yang tepat dan memang dibutuhan. Beberapa tips berikut sangat membantu, untuk saya dan juga Teman-teman yang berniat membeli perangkat serupa.




1. Pilih mana, konvertibel atau bisa dilepas?

Dengan profesi yang saya geluti sekarang ini, pilihan 2in1 dengan layar yang bisa dilepas tentu saja paling tepat. Saya belum butuh untuk presentasi atau meeting, tapi kebutuhan saya hanya gadget yang travel friendly. 

2. Prosesor

Prosesor ibarat jantung untuk perangkat seperti  PC atau laptop. Terlebih untuk perangkat model 2in1, performa prosesor tidak bisa di kesampingkan begitu saja. Memilih laptop atau dengan prosesor yang mutakhir harus diutamakan. Maka memilih laptop intel 2in1 adalah sebuah keputusan yang brilliant, mengingat kredibilitas Intel Pentium yang tak perlu diragukan lagi.


3. Ukuran layar

Seperti yang kita ketahui, baik laptop atau notebook maupun tablet memiliki ukuran layar yang beragam. Pemilihannya pun harus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing user.

Untuk saya, layar berukuran 14 inchi sudah sangat mencukupi kebutuhan. Karena laptop atau tablet bukanlah perangkat vital sebagai pemutar video atau menonton film, maka saya tak butuh yang terlalu besar. Ukuran 14 inchi bisa dibilang sedang. Tak terlalu besar sehingga masih relevan untuk dibawa traveling, namun tak terlalu kecil sehingga ramah dengan penglihatan.

Selain itu, ukuran layar yang lebih besar juga lebih berat dan lebih cepat memakan baterai. Maka dari itu tentukan dulu kebutuhannya untuk apa, barulah buat keputusan yang tepat.

4. Storage

Masalah penyimpanan juga harus mendapatkan perhatian. Laptop 2in1 dilengkapi dengan hard drive atau HDD yang cukup aman untuk menyimpan file dokumen, foto, video dan film. Beberapa laptop 2in1 bahkan dilengkapi solid state drive (SSD) yang memungkinkan mengambil file lebih cepat dan tahan banting tentunya. Tapi seperti biasa, ada harga selalu ada rupa. Paham, kan?


Laptop asus 2in1
Laptop 2in1 yang menjadi wishlist saya. (asus.com)

5. Daya tahan baterai

Karena kebutuhan utama saya untuk digunakan di luar rumah atau sebagai perangkat yang movable. Maka laptop dengan daya tahan baterai yang lebih lama yang saya butuhkan.  Nggak mau, kan, ribet bawa colokan saat sedang jalan-jalan?

Hem, sepertinya saya sudah membuat keputusan yang tepat dengan menjatuhkan pilihan pada laptop 2in1 sebagai penunjang gaya hidup saya sebagai freelancer yang dituntut serba multitasking. Dengan mengadopsi perangkat yang tepat, saya berharap lebih produktif dalam aktivitas yang serba fleksibel .

Teman-teman tertarik dengan laptop 2in1 juga, kan?  







Tips Optimasi Blog (Bagian 1) - Design

|


Desain blog
Pixabay.com


Haluuu, tau-tau udah tanggal 10 aja, ya. Sudah sepertiga hari berjalan di bulan Oktober. Semangat belum kendor, kan? meskipun sudah menuju tanggal tua lagi, hihihi. Nah, daripada mulai dag-dig-dug menghadapi tanggal tua lagi, kita ngomongi optimasi blog aja kali ini. Ya, sapa tau blog-nya bisa jadi sumber penghasilan yang kedua. Lumayan banget, kan? Nggak perlu nunggu tanggal gajian, tapi ada aja pemasukan dari sumber yang lain.

Nah,  mengoptimasi blog sebagai salah satu sumber penghasilan, atau biasa disebut monetizing blog, rupanya bukan hal yang mudah, loh. Ada beberapa hal yang sebaiknya menjadi perhatian teman-teman blogger. Tentu saja hal ini bertujuan untuk menjaga eksistensi atau performa blog yang terus berkelanjutan di masa depan.

Nggak mau, kan, kalau ngeblog cuma buat ikut-ikutan aja.  Saya yakin semua blogger kepengen jadiin blognya sebagai’rumah kedua’. Nggak sekedar buat curhat, tapi juga sharing pengalaman, bermanfaat atauberbagi informasi dan mendokumentasikan kisah perjalanan hidup atau karya yang pernah dibuat. Akur?  *akurinajabiarcepet

Bicara soal optimasi blog, pastinya juga teman-teman sudah tahu bahwa ada banyak komponen untuk mendukungnya menjadi blog yang searchable dan readable. Hal-hal seperti desain blog dan konten menurut saya merupakan dua hal utama dan mendasar yang harus diperhatikan oleh seorang blogger, apalagi pemula seperti saya. Nggak usah deh ngomongin DA/PA dulu, udah konsisten nulis aja bagi saya udah TOP! Tapi, gak ada salahnya ya, kita perhatikan  sesuatu yang bisa  bikin pembaca betah di blog kita.


So, kali ini kita ngomongin tentang desain blog dulu aja, ya. Sesuatu yang pertama kali dilihat pengunjung, tapi memiliki efek besar terhadap kenyamanan mereka untuk berlama-lama atau bahkan kembali lagi ke blog.



desain blog

 


Bicara tentang desain blog, saya berkesempatan mendapatkan ilmunya secara khusus dari Mbak Sintaries, founder Blogger Perempuan Network pada acara Blog Coaching Clinic yang diselenggarakan free untuk member BP Network pada tanggal 2 September lalu. Duh, jadi malu. Kayaknya udah basi banget tapi baru di-share di blog post. Hehehe *tutupmuka. 

Nggak pa pa, ya, yang penting ilmunya nggak basi, kok. Karena jujur, saya sendiri yang hampir 1 tahun aktif ngeblog, baru deh tahu info yanf seperti ini.

Lanjut lagi soal desain blog, ya. Waktu itu Mbak Shinta bilang bahwa desain blog sebaiknya memerhatikan beberapa poin.

1. Orientasi pembaca
2. Orientasi  google
3. Menurunkan Bounce Rate
4. Memperpanjang time on site
5. Branding

Berikut adalah penjelasan untuk setiap poin-poin di atas.


Desain Blog
Pixabay.com


Orientasi Pembaca dan orientasi Google

Setiap blogger pasti punya orientais pembaca masing-masing sesuai dengan niche blog yang dipilih. Kalau saya pribadi dengan blog damaraisyah.com cenderung membidik segmentasi ibu-ibu muda dan produktif, dengan range usia antara 25-40 tahun. 

Tema parenting yang saya bungkus dalam daily activity dan traveling, rupanya mulai menjadi ciri khas tulisan-tulisan saya yang sebagian besar berdasarkan pengalaman pribadi momong dua bocah.

Untuk itu saya memilih desain blog yang minimalis, modern tapi tetap menunjukkan unsur ibu muda saya dengan pemilihan warna watercolor pink di bagian header blog. Ciyehh, ibu muda katanya, hihihi. Untuk background sendiri saya memilih warna putih yang cenderung bersih, dengan font hitam sehingga mudah dibaca. 

Usahakan memilih template yang responsive sehingga mudah di-detect oleh mesin pencari. Dan ini merupakan salah satu solusi agar desain kita memenuhi orientasi  google.

Bersyukurlah Teman-teman yang memiliki blog berplatform Wordpress karena pilihan templatenya sangat beragam, baik gratisan maupun berbayar, lengkap dengan aneka plugin yang bisa dimaksimalkan sesuai kebutuhan masing-masing. 

Saya sendiri sebagai pengguna platform Blogger atau Blogspot, awalnya sempat merasa terlalu terbatas. Namun kemudian saya putuskan membeli template berbayar yang memenuhi kriteria saya. Jika tertarik, Teman-teman bisa mencoba berbelanja di Etsy Shop. Banyak sekali pilihannya dengan harga yang relati terjangkau untuk pemula.

Berikut adalah kunci dalam memilih desain agar memenuhi criteria optimasi pembaca dan Google

  • Clean atau bersih, dengan background warna terang. Kalau bisa, sih, 80% white space
  • Font yang mudah terbaca dan berwarna gelap
  • Responsif atau fast loading
  • Mobile friendly karena sekarang pembaca lebih familiar dengan smartphone untuk membaca
  • Konten di sebelah kiri, side bar di sebelah kanan
  • Hindari musik atau animasi bergerak sebagai latar,  misalnya salju bertaburan diiringi dengan musik.
  • Jangan lupa mencantumkan profile blogger, link social media dan Home, Disclosure serta kriteria postingan. Terutama untuk blog yang ingin di-monetize.


Desain Blog
Pixabay.com


Bounce rate dan Time on site

Untuk bouce rate sendiri  Teman-teman bisa cek di Google Analytics. So, kalian harus pasang GA dulu di blog-nya, barulah bisa cek berapa bounce rate-nya. Patokannya semakin rendah bounce rate, maka semakin baik performa blog. Adapun kisaran rendanya sesuai yang saya tangkap dari penjelasan Kak Shinta, antara 20%-80%. Jika di bawah 20% , kemungkinan ada masalah dengan GA blog kita.

Oh ya, semakin lama pengunjung membaca blog kita dapat berimbas juga pada penurunan prosentase bounce rate. Google sendiri pun menyukai  blog yang memiliki time on site panjang. Untuk itu, blogger harus berusaha membuat pembacanya nyaman. Selain pilihan desain seperti yang sudah saya sebutkan tadi, pastikan konten kita berkualitas. Pada postingan selanjutnya saya akan membahas tentang konten ini.



Desain Blog
Pixabay.com


Branding

Blog  bisa menjadi branding pemiliknya. Begitu pula dengan desain yang dipilih, biasanya mencerminkan karakteristik pemiliknya.  Untuk mem-branding diri melalui blog, beberapa hal berikut ini bisa Teman-teman jadikan acuan:

1. Nama domain adalah nama brand 

Nama domain adalah nama brand. Misal kita membuat blog tentang suatu organisasi, maka nama organisasi sebaiknya dijadikan sebagai nama domain. Untuk personal blog, menggunakan nama pemilik blog sebagai nama domain sepertinya jauh lebih mudah untuk mem-branding diri. 

Tapi, pastikan nama domain hanya terdiri dari maksimal 2 kata, mudah diketik atau diingat, bukan keyword. Setelah nama domain dipilih, usahakan sama atau minimal mirip dengan username  social media pendukung  agar mudah dikenali.

2. Template dan desain blog  
 Template dan desain blog yang khas seperti yang saya sebutkan tadi. Misal, kalau saya memasukkan warna pink dengan font kecil-kecil. Semacam mewakili saya yang girly dan imut-imut *dititimpukpembaca

3. Blog bertema 
Blog bertema atau memiliki niche khusus. Sebenarnya blog seperti ini yang disukai Google, tapi saya pribadi masih susah menghalau godaan nulis tentang lipen dan buku di blog parenting saya. Jadilah lifestyle.

4. Apa adanya dan jadi diri sendiri.

Fiyuh! Selesai juga akhirnya. Saya akui banyak hal yang selama ini saya anggap sepele ternyata sangat memengaruhi performa blog. Itulah mengapa banyak sharing dengan sesama blogger sangat membantu pemula seperti saya. 

Desain blog adalah satu komponen yang pertama kali dilihat oleh pembaca. Oleh sebab itu, memberikan sedikit perhatian dan waktu untuk kembali mengutak-atiknya, saya rasa perlu dilakukan. Memang lumayan wasting time, sih, karena sebenarnya banyak hal menyenangkan dalam mengutak-atik desain blog itu sendiri.

Kalau Teman-teman gimana? Sudah menyediakan waktu untuk utak-atik desain blognya?



Tulisan ini diikutsertakan pada tantangan One Day One Post Oktober 2017 Blogger Muslimah Indonesia.

#ODOPOKT7






Custom Post Signature

Custom Post Signature