Parenting Story, Mom's Life, Tips

[Resensi Buku] Bangga Menjadi Ibu - Part 1

|
Akhir tahun 2016 merupakan sebuah momentum yang sangat menggembirakan sekaligus mengharukan bagi saya. Bagaimana tidak, saya yang masih tertatih dengan hobi dan impian baru saya sebagai seorang penulis, mendapatkan kesempatan sebagai salah satu kontributor dalam buku Antologi Bangga Menjadi Ibu. 

Memang terdengar biasa bagi sebagian besar orang. Tapi bagi saya, kesempatan ini bukan hanya sebuah penghargaan. Namun, menjadi titik balik atas segala keresahan yang kerap menggelanyut dalam pikiran atas posisi seorang ibu yang nyaris minim pengakuan. Yang selama ini ada dalam kalutnya pikiran saya. Padahal dalam kenyataannya sungguh berbeda.


Berawal Dari Kompetisi Menulis "Bangga Menjadi Ibu" 

Sekitar November 2016, Bitread Publishing, salah satu Indie Book Publisher menggelar lomba penulisan dengan mengambil tema "Bangga Menjadi Ibu" Kebetulan saat itu Bitread menggandeng komunitas penulis Emakpintar yang digawangi Teh Iin, Indari Mastuti sebagai partnernya dalam menjaring karya terbaik dari peserta yang jumlahnya mencapai ratusan.

Kompetisi menulis ini tentu saja menyediakan hadiah bagi para pemenangnya. Tapi yang lebih menggembirakan lagi, 99 finalis terbaik mendapat kesempatan untuk membukukan karyanya dalam sebuah buku antologi yang dicetak secara indie oleh penerbit Bitread

Tertarik dengan peluang yang kedua, saya tak ingin melewatkan begitu saja kesempatan untuk ambil bagian dalam kompetisi ini. Segera setelah mendapatkan syarat dan ketentuan perlombaan, saya mulai membuat draft cerita kebanggaan saya sebagai Ibuknya Duo Naj. 


Sempat Minder karena Minim Pengalaman sebagai Ibu

Sempat terhenti beberapa kali selama proses penulisan. Saya merasa minder setelah membaca karya penulis lain yang di share di wall FB. Bukan hanya ceritanya yang mengharu biru, pengalaman saya sebagai orang tua pun masih kalah jauh. Bisa dibilang masih terlalu dini untuk saya bangga dan ceritakan dalam sebuah kisah inspiratif, apalagi untuk dibukukan. Belum lagi teknik penulisan yang tertinggal di belakang dari sekian ratus peserta lain. Ahh ... rasanya saya ingin tutup laptop dan mundur teratur saja. Malu pemirsa!

Butuh beberapa waktu bagi saya memupuk kepercayaan diri kembali. Sampai kahirnya di H-7, saya berhasil mengirimkan satu judul untuk diikutkan dalam penilaian para juri. Cerita yang sungguh sangat sederhana, karena saya merasa sebagai ibu masih butuh banyak berbenah. Tapi justru dari tema sederhana tersebut, 3 hari kemudian saya berhasil mengirimkan kembali karya kedua. Luar biasa! Begitu saya mengagumi diri sendiri saat itu.


Dua Karya Lolos Penjurian

Kita tidak akan pernah tahu seberapa besar kemampuan diri sebelum mencoba. Berawal dari keraguan sampai akhirnya mengirimkan dua buah karya. Dan, alhamdulillah, keduanya lolos penjurian, masuk menjadi salah satu dari 99 finalis lainnya. Hore!! bolehlah BukNaj jingkrak-jingkrak sejenak. 


Kebahagiaan belum selesai sampai di situ. Salah satu karya yang berjudul, "Goresan Cinta untuk Cahaya Mata" masuk dalam buku antologi bersama 99 penulis lainnya. Masha Allah, seperti mimpi, akhirnya buku pertama menjadi kenyataan. Bahagia, haru, histeris, pokoknya norak abis. Saya tahu ini belum seberapa dan bukan apa-apa bagi orang lain. Tapi bagi saya, amazing!!

99 Kisah Inspiratif dalam Buku Bangga Menjadi Ibu

Buku Bangga Menjadi Ibu merupakan kumpulan kisah inspiratif 99 penulis yang berlatar belakang seorang Ibu. Menyajikan berbagai cerita menarik tentang lika-liku seorang ibu. Tidak hanya permasalahan seputar pengasuhan, buku ini juga menuturkan pengalaman perjuangan seorang wanita agar layak ntuk disebut ibu.
Karena merupakan buku antologi, secara otomatis baik gaya penulisan maupun sudut pandang yang digunakan penulis sangat beragam. Begitu pun halnya dengan makna dan bentuk perjuangan yang dilakukan setiap penulisnya.

Teman-teman tidak hanya akan menemukan kisah mengenai beratnya beban akibat tuntutan menjadi ibu yang ideal di mata masyarakat. Tapi juga berbagai kisah mengenai dilema ibu yang harus membagi waktunya dengan bekerja di luar rumah, Ibu yang harus menghadapi kematian anaknya, ibu yang harus bertahan dengan "keistimewaan" yang dikaruniakan untuk buah hatinya. Dan, masih banyak lagi kisah para ibu yang begitu sederhana, namun mampu menyadarkan pembaca bahwa setiap fase kehidupan seorang wanita selalu memperkaya batinnya.

Latar Belakang Penerbitan Buku Bangga Menjadi Ibu Part 1 dan 2

Buku Bangga Menjadi Ibu ini dicetak dalam dua bagian, yaitu Bangga Menjadi Ibu Part 1, di mana saya dan 42 penulis lainnya membukukan karya. Sedangkan dalam buku Bangga Menjadi Ibu Part 2, tersisa 56 penulis lainnya. 

Kompetisi penulisan ini merupakan wujud peran nyata dari Bitread Publishing dan Emakpintar sebagai pelopor bertumbuhnya kebahagiaan dan kebanggaan seorang wanita sebagai Ibu. Menyadari bahwa kebahagiaan seorang anak dan keluarga tidak terlepas dari sosok bahagia ibu, maka buku ini terbit dan dipersembahkan untuk semua wanita yang berkesempatan menyandang gelar ibu.

Kumpulan cerita dalam buku Bangga Menjadi Ibu akan membuat pembaca tenggelam dalam sebuah perenungan mengenai berharganya peran ibu. Sebuah perjuangan yang terus menerus, kesabaran yang tak lelah untuk diuji hingga kasih sayang yang tak memiliki pembatas.

Buku ini cocok sebagai bingkisan spesial bagi seorang ibu, istri atau siapapun yang ingin memaknai lika-liku seorang wanita sebagai ibu. Buku ini akan membuat kita lebih mensyukuri hidup dan segala 'pemberian' dari yang Maha Kuasa.

Berminat dengan buku Bangga Menjadi Ibu? Teman-teman bisa langsung memesan ke bagian pemasaran Bitread Publishing atau mention di IG : @BITREAD_ID Atau, bisa juga melakukan pemesanan melalui kontributor, termasuk saya ^_^

Selamat membaca!

Judul : Bangga Menjadi Ibu Part 1
Penulis : 43 Finalis kompetisi menulis "Bangga Mnejadi Ibu"
Jenis : Buku Antologi Kisah Inspiratif
Penerbit : Bitread Publishing
tebal : 260 halaman

Tes IQ untuk Anak, YAY or NAY?

|
Tugas berat orang tua adalah mengamati, menggali, memupuk dan mengembangkan keistimewaan yang Tuhan anugerahkan pada anak-anak kita.




Kalau teman-teman mau tahu jawaban saya tentang Tes IQ untuk Najwa atau Najib kelak. Maka jawabannya, NAY! Mau tahu alasannya? Baca dulu cerita saya ya. ^_^

Beberapa waktu yang lalu, sekolah Najwa menyelenggarakan Tes Psikologi yang setiap tahun rutin dilakukan untuk anak didiknya. Adapun jenis tes yang ditawarkan kepada orang tua ada dua. Pertama, Tes Kesiapan Masuk SD, sedangkan yang kedua adalah Tes IQ.  Untuk anak yang akan melanjutkan ke jenjang sekolah dasar, sekolah mewajibkan siswanya mengikuti tes yang pertama, yaitu tes kesiapan. Sedangkan untuk tes yang kedua bersifat pilihan.

Karena Najwa berencana melanjutkan ke SD pada tahun ajaran depan, secara otomatis dia terdaftar untuk tes yang pertama. Sedangkan untuk Tes IQ, saya dan suami sepakat untuk tidak mengikuti. Mengapa? Tentu saja kami memiliki alasan tersendiri. Beberapa di antaranya sebagai berikut :


Alasan Tidak Mendaftarkan Najwa untuk  Tes IQ
  1. Tes IQ  bukan satu-satunya tolok ukur kecerdasan anak.
  2. Ada beberapa faktor lain yang justru harus ditumbuhkan dari anak semenjak awal kehidupan  mereka. Misalnya empathy, creativity, critical thinking, enthusiasm, dan lain-lain.
  3. Memprediksi kecerdasan anak berdasarkan dari skor IQ saja, menurut kami kurang bijaksana. Karena, skor IQ terdiri dari banyaknya kumpulan skor dan sangat mungkin terjadi prediksi yang kurang tepat.
  4. Kami tidak ingin skor IQ membayangi cara pandang kami terhadap kecerdasan anak. Bahkan yang lebih menakutkan, kami khawatir skor IQ membatasi ekspektasi terhadap kecerdasan anak.
  5.  Jujur kami tidak terlalu paham apa manfaat dari skor IQ yang diperoleh anak.
  6. Yang terakhir, kami tidak ingin membandingkan anak karena terpengaruh skor IQnya.
Tentu saja kami tidak asal dalam membuat keputusan ini. Sebelumnya, saya sempat berkonsultasi dengan beberapa teman juga menambah sumber bacaan terkait perlukah Tes IQ untuk anak-anak. Beberapa sumber bacaan yang saya temui memang ditulis oleh ahli  psikolog, salah satunya Ibu Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si, atau biasa disapa Mbak Nina dalam artikel-artikelnya. 

Dalam salah satu artikel psikologi yang ditulisnya, kebetulan membahas tentang "Perlukah Tes IQ untuk Anak? Beliau dengan tegas menjawab, TIDAK. Tidak setiap anak perlu melakukan Tes IQ. Kecuali si anak menunjukkan adanya tanda-tanda gangguan perkembangan atau keterlambatan pada beberapa hal.

Bahkan ketika orang tua hanya sekedar ingin tahu skor IQ anak pun, Ibu Ana Surti Ariani menyarankan TIDAK perlu untuk mengikuti. Pendapat beliau ini sangat menarik bagi saya. Dan tentu saja  membawa angin segar karena selama ini saya selalu mendapat jawaban, terserah orang tua masing-masing.

Setiap anak dilahirkan dengan kecerdasan masing-masing. Sungguh UNIK! ( Pict by Ummi-Online)


Pengertian Tes IQ

Mungkin teman-teman pernah mengalami peritiwa seperti ini. Suatu ketika, seorang teman atau kerabat menanyakan berapa skor IQ anak kita. Pada saat kita menyebutkan suatu angka, bisa jadi respon yang ditunjukkan berbeda. Membelalak kagum, atau hanya manggut-manggut dengan ekspresi datar. Saya membayangkan pasti memprihatinkan jika mendapatkan respon yang kedua. Lalu, apa sebenarnya yang salah dengan angka-anagka pada skor IQ tersebut?

Seperti yang saya pelajari dalam sebuah sumber bacaan, IQ atau intelligence quotient merupakan hasil bagi dari inteligensi. Inteligensi sendiri memiliki pengertian kemampuan berpikir dan beradaptasi dari pengalaman hidup sehari-hari. (Santrock, 2002). Ringkasnya, semakin besar kemampuan seseorang untuk menemukan makna dan menyelesaikan permasalahan sehari-hari yang dihadapinya. Maka dia dianggap semakin cerdas.


Lalu, dari manakah angka IQ itu di dapat?

Skor IQ didapat dari pembagian usia mental atau Mental Age (MA), yaitu kemampuan seseorang baik anak ataupun dewasa dibandingkan teman-teman pada usia yang relatif sama, dibagi usia anak yang sebenarnya atau Chronological Age (CA),  kemudian dikali 100. Begitu saya kutip dari tulisan  Ibu Anna Surti Ariani, S.Psi. M.Psi. dalam salah satu artikelnya.

Maka tak jarang, anak dianggap lebih cerdas ketika kemampuannya  menyamai anak-anak dengan usia di atasnya.  Sedangkan untuk mendapatkan skor Mental Age atau MA, psikolog akan memberikan serangkaian soal kepada anak, kemudian menghitung jumlah soal yang dijawab dengan benar lalu membandingkannya dengan anak yang usianya setara. Tentu saja secara teknis pakar psikologi yang lebih memahaminya. Itupun sudah pasti melalui serangkaian uji coba yang valid.


Tes IQ meliputi apa saja?

Menurut Psikolog, Tes IQ atau Pemeriksaan Inteligensi yang tepat sebenarnya tidak hanya menghasilakan satu skor IQ tunggal. Namun merupakan kumpulan berbagai skor. Di antaranya daya tangkap, daya ingat, konsentrasi dan kemampuan analisis. Termasuk di dalamnya kemampuan matematika dan pemahaman terhadap bahasa. 

Tes IQ juga diklaim mampu mengukur sikap kerja seperti ketelitian, kecepatan dan sistematika kerja.  Khusus bagi anak yang cenderung memiliki permasalahan atau gangguan perkembangan, psikolog akan menyertakan berbagai data di samping skor IQ. 

Karena banyaknya kumpulan skor dari berbagai komponen yang diukur, maka bisa jadi dua  anak dengan total skor IQ yang sama, memiliki kemampuan yang berbeda. Hal ini karena skor yang diperoleh dari setiap komponen yang diujikan bisa jadi berbeda, namun dijumlahkan secara total untuk menghasilkan skor total. Itulah sebabnya, jika orang tua memprediksi kecerdasan anak hanya dari satu angka skor IQ saja, maka bisa jadi kurang tepat.


Kecerdasan anak tidak selalu identik dengan hasil akademis. (Pict by. Republika-online)

Perlukah Tes IQ?

Seperti yang  sudah saya sebutkan di atas,  TIDAK semua anak memerlukan Tes IQ. Karena pemeriksaan inteligensi secara lengkap hanya perlu dilakukan jika ada kecurigaan gangguan psikologis pada anak. Seperti lemah daya tangkap, perkembangannya terlambat dan kecurigaan itupun harus dibuktikan melalui serangkaian tes psikologi.

Hanya saja, semua kembali pada keputusan setiap individu. Ada banyak orang tua yang merasa anaknya tidak perlu mengikuti Tes IQ seperti halnya saya. Namun, tak jarang juga yang menyetujui dan menganggapnya penting. Itu tidak masalah bahkan tak perlu diperdebatkan. 

Beberapa sekolah bahkan mengadakan tes ini secara rutin meskipun bersifat tidak wajib, seperti halnya yang dilakukan di sekolah Najwa. Sedangkan, sekolah yang lain justru mensyaratkan pemeriksaan inteligensi sebagai bagian seleksi penerimaan siswanya. Kembali lagi, semua tergantung kebutuhan masing-masing.



Apakah Skor IQ Bisa Berubah?

Jawabnya, BISA.

Sebagian orang tua mungkin merasa khawatir ketika skor IQ anaknya cenderung rendah. Menghadapi hal semacam itu, sikap bijaksana harus dimiliki. Ingat, Skor IQ bukanlah satu-satunya faktor yang memengaruhi keberhasilan anak di masa depan. Orang tua justru harus memerhatikan beragam kecerdasan lain yang sayang jika terlewat untuk ditumbuh kembangkan.

Skor IQ bisa jadi berubah seiring dengan perkembangan anak. Antara 5 sampai dengan 10 tahun pertama kehidupannya,  seorang anak bisa saja mengalami perkembangan yang signifikan.


Adakah faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan?

Sekali lagi jawabannya, ADA.

Berdasarkan hasil konsultasi saya dengan seorang teman, setidaknya ada 4 faktor yang memengaruhi perubahan skor IQ seorang anak. Di antaranya:

  • Faktor pengukuran, yaitu berkaitan dengan komponen dan proses pelaksanaan tes yang sangat beragam. Dalam hal ini usia dan kemampuan anak memiliki peran sangat besar.
  • Faktor tak terduga, seperti kesalahan administrasi atau skoring. Bukan tidak mungkin kan, terjadi kesalahan dalam hal administrasi atau penghitungan skor? Meskipun atas nama sistem, terkadang sebuah kesalahan tidak bisa dielakkan?
  • Faktor situasional, meliputi motivasi, kondisi fisik anak, rasa percaya diri, dan lain sebagainya. Bukan tidak mungkin kondisi anak pada saat tes pertama dan kedua akan berbeda.
  • Faktor Nutrisi
Nah, cukup banyak yang perlu orang tua pelajari sebelum memutuskan untuk menyertakan anak dalam sebuah tes. Misalnya Tes IQ. Tapi, tidak menutup kemungkinan orang tua terpaksa mengikuti atau memang tertarik mengikutinya. Hal tersebut tidak salah, bahkan sah-sah saja. Karena orang tualah yang paling tahu kondisi anak-anaknya. 

Tapi, ada baiknya kita tidak terpaku pada skor IQ yang dicapai anak. Yakin saja, Tuhan menciptakan makhluknya pasti dengan suatu kelebihan. Tidak mungkin Tuhan membuat ciptaannya tidak bermanfaat. Maka tugas besar kita adalah mengamati, menggali, memupuk dan mengembangkan keistimewaan yang Tuhan anugerahkan pada anak-anak kita.



Have fun for the journey with your kids, Mom! Good Luck!











Lika-Liku Menyapih Anak

|
"Bund, hari ini kita sapih Najib, kita harus tega. Toh, tujuannya agar anak lebih mandiri dan tidak terlalu tergantung sama ibunya. Jadi ayah bisa bantuin momong."



Pertengahan bulan nanti, genap sebulan Najib anak kedua saya melewati masa disapih. Tepat pada usia 2 tahun 4 bulan, saya dan suami memutuskan untuk menyapihnya secara total. Awalnya saya sempat ragu karena pernah gagal menyapih si kecil. Tapi alhamdulillah, nampaknya kali ini kami akan berhasil melakukannya.

Sebelumnya, saya telah mencoba menyapih Najib dengan cara mengurangi frekuensi pemberian ASI secara bertahap. Yang biasanya kapan saja dan di mana saja, saya mulai berlakukan aturan tempat dan waktu. Misalnya harus di kamar, pada saat bangun dan sebelum tidur.

Tapi cara itu hanya bertahan sementara waktu saja. Ketika kondisi anak sedang tidak fit, dia mulai susah untuk diajak mengikuti aturan menyusu yang sudah saya terapkan. Dipengaruhi faktor 'nggak tega', saya pun mulai tidak tegas dan konsisten dengan aturan yang saya buat. Jadilah kebiasaan ini tidak berjalan dengan lancar. Parahnya, Najib cenderung menjadikan tantrum sebagai senjatanya saat saya menolak memberikan ASI Ya ... Apa mau dikata, gagal sudah Buk Naj dengan metodenya. 


Mulai WWL hingga Mengolesi  Payudara dengan Brotowali

Sejak awal menyusui Najib, dengan penuh kepercayaan diri saya memutuskan untuk memberinya ASIX hingga usianya 2 tahun. Berbekal tekad tersebut, saya pun merencanakan menyapih dengan metode WWL dan berencana mulai memberi pemahaman pada anak sejak usianya 18 bulan. Sambil secara bertahap mengurangi frekuensi menyusunya.

Tapi yang namanya teori memang kerap tak seindah kenyataan. Keberhasilan memberikan ASIX mulai membuat saya terlena dengan rencana yang telah saya siapkan. Memang benar sejak usia 18 bulan saya memberinya pengertian bahwa setelah potong kue yang kedua, adek minumnya ganti pakai gelas. Dengan alasan adik sudah besar dan malu kalau masih nenen ibunya. Benar juga bahwa semenjak itu saya  mulai mengurangi frekuesi menyusui. Tapi, seperti yang saya sebutkan sebelumnya, saya sering 'nggak tega' dan konsisten. Jadilah Najib memanfaatkan kelemahan saya ini sebagai senjata.

Sampai usianya 2 tahun lebih, saya masih belum berhasil menyapihnya. Sedangkan suami terus mendesak, dengan alasan si kecil mulai tergantung sama ibunya. Saya nggak kelihatan sebentar sajat, Najib bakalan nangis kejer, nyari-nyari. Meskipun ada suami atau Najwa yang menemani. 

Drama seperti ini berlangsung terus menerus, bahkan semakin menjadi. Saya pun mulai kewalahan karena durasi menyusu yang semakin panjang. Najib mulai memanfaatkan momen menyusu untuk bermain, bukan karena benar-benar haus. Cuma ngempeng kalau istilah orang Jawa. 

Akhirnya, saat usia Najib 2 tahun 1 bulan, suami pun mengambil inisiatif membeli Brotowali atau biasa disebut Wali di pasar. Sejenis rempah berbentuk batang, dalamnya bergetah dan rasanya pahit bukan kepalang. Awalnya saya menolak, karena idealisme  tidak ingin menyapih dengan cara-cara seperti itu. Tapi suami mendesak dengan alasan kebaikan anak. Agar anak tidak semakin manja dan segera mandiri.


Jadilah acara menyapih dengan Brotowali kami lakukan. Setiap mau minta nenen, saya selalu oleskan dulu rempah pahit ini ke seluruh payudara saya. Dan tentu saja si kecil kepahitan, jangankan diemut, baru dijilat saja rasanya sudah getir di lidah. 

Resmi sudah hari itu Najib nggak minta nenen sama saya. jangan ditanya kayak apa rewelnya. Malam pertama saja saya harus menggendongnya beberapa kali. Demi si kecil bisa tidur nyenyak. Begitu pun saat masuk jam tidur siang.


Menolak Minum di Botol hingga Demam

Drama dimulai lagi saat Najib menolak minum susu di gelas. Sehari berikutnya, hampir seharian dia hanya minum air putih saja. Semua minuman berasa, baik itu susu, teh atau sari buah ditolaknya. Saya coba menawarkan botol susu kepadanya, terutama menjelang jadwal tidur siang atau malam. Tapi karena tidak terbiasa tidur dengan botol, Najib pun menolak begitu saja.

Pada malam kedua, saya merasakan badannya sedikit demam. Dan benar saja suhu tubuhnya sudah mencapai 38, 3 kala itu. Saya mulai panik, khawatir si kecil kurang cairan. Emosi pun mulai tidak stabil, antara bersikeras ingin menyapih dan kasihan melihat si kecil.  

Tak dapat dipungkiri,  perasaan ibu memang terhubung langsung dengan anak. Najib pun semakin rewel hingga tengah malam, ketika perasaan saya mulai kalut. Sudah saya gendong sambil saya bobok-bobokkan, tetap saja dia menangis dan minta dinenenin.


Gagal Menyapih dengan Brotowali

Dalam kondisi kelelahan secara fisik, payudara mulai nyeri karena bengkak akibat  terlalu penuh, perasaan campur aduk antara panik dan khawatir, ditambah suami sedang dinas ke luar kota sehingga tidak ada yang menggantikank. Runtuh sudah usaha yang sudah hampir dua hari saya lakukan. Tepat pukul 01.00 dini hari, dengan tetap menggendong si kecil, saya pun mulai menyusuinya.

Lega ... begitulah perasaan saya saat itu. Najib langsung tenang dan menyusu hingga puas sebelum akhirnya tertidur dalam gendongan. Rasa nyeri di payudara pun hilang dalam sekejap. Malam itu kami berdua terlelap di sofa, kelelahan baik secara fisik maupun mental.


Najib Cerdik!

Setelah pengalaman gagal menyapih dengan Brotowali, saya pun mulai mencoba beberapa bahan lain untuk dioleskan. Tapi benar kata orang, anak-anak itu jauh lebih cerdik dari yang kita sangka.

Setiap saya mengoleskan sesuatu pada payudara, si Najib segera bergegas mengambil tisu untuk mengelap. Dan lebih parahnya lagi, apapun yang saya oleskan dia selalu bilang, "enak, ndak pa pa." Begitu terus-menerus. Bahkan saat dioleskan Brotowali kembali, Najib akan mengatakan hal yang sama, "Nak, Buk. Adek cuka, nak ... nak." Tetot! ... Kalah sudah saya dalam pertempuran ini. *Pijitkening



Berhasil Berkat Kerjasama dengan Suami

Saya ingat betul, hari itu Jumat tanggal 13 Januari 2017. Tiba-tiba suami saya bilang,
"Bund, hari ini kita sapih Najib, kita harus tega. Toh, tujuannya agar anak lebih mandiri dan tidak terlalu tergantung sama ibunya. Jadi ayah bisa bantuin momong juga." 

Kebetulan usia Najib memang bisa dibilang lebih dari cukup untuk disapih. Dan setelah kegagalan menyapih dengan Brotowali, Najib memang cenderung lebih nempel sama saya. Jadwal menyusunya pun semakin berantakan. Ditambah acara tantrum yang menjadi-jadi.

Pagi itu suami mengajaknya jalan-jalan keliling perumahan. Saya kurang tahu apa saja yang mereka berdua lakukan. Yang jelas, sesampainya di rumah. Si kecil langsung bilang, "nenen ibuk atit, udah abis." Hahaha ... si ayah melakukan pencucian otak kali ya. *nyengirprihatin

Seperti biasa, dalam setiap acara menyapih, saat-saat jam tidur selalu menjadi masalah. Tapi kali ini Najib benar-benar tidak minta nenen. Dia terus bilang nenen ibuk atit, nenen udah abis. Begitu terus menerus sambil sesekali memegang payudara saya.

Kami masih kesusahan memberikan susu melalui botol karena faktor tidak terbiasa tadi. Ini termasuk salah satu hal yang patut dipersiapkan bagi Temans yang berencana menyapih anaknya. Terlebih jika si anak tipe yang biasa nenen dulu sebelum tidur. Otomatis mereka akan mencari penggantinya. 

Alhamdulillah, selama proses menyapih yang ketiga ini, suami  stand by di rumah khususnya menjelang jam tidur malam. Terbantu di tiga hari awal, yaitu Jumat, Sabtu, Minggu saat libur kerja, Najib mulai menemukan kenyamanan baru, yaitu tidur dalam pelukan ayahnya. Saya pun mendapatkan jeda, sehingga frekuensi bersama dengannya agak berkurang. 

Akhirnya, setelah melewati seminggu pertama yang lumayan berat. Najib benar-benar tidak lagi meminta nenen dari saya. Jangan ditanya bagaimana perasaan saya, apalagi kondisi badan yang lelah karena jatah rewelnya naik dua kali lipat, tapi sepadan hasilnya.

Sampai hari ini Najib menunjukkan banyak kemajuan pasca disapih dari saya. Terutama dalam hal kemandirian dan kepercayaan dirinya. Selain dari segi umur yang memang sudah siap, kedekatan dengan ayahnya pun mulai terbentuk dengan kebiasaan-kebiasaan baru. Lain kali akan saya tulis blogpost tentang perkembangannya baik secara fisik dan emosi pasca penyapihan.


Tips Sukses Menyapih Anak

Yang terakhir, saya ingin berbagi sedikit tips sukses menyapih ala saya dan suami. Tenang saja, oles-olesan macam Brotowali sudah saya skip dari tips ini, Jadi aman untuk Teman-Teman yang tidak ingin menggunakan cara-cara tradisional seperti itu untuk anaknya.

Nah, langsung saja, ya.

1. Pastikan anak maupun orang tua, terutama ibu, dalam kondisi stabil. Baik secara fisik maupun mental, di samping anak cukup usia.

Bagian ini penting banget ya. Jadi bukan cuma anaknya saja yang harus siap atau cukup umur. Orang tua harus menularkan sugesti positif dan siap juga kepada anak, khususnya ibu yang memiliki hubungan secara langsung.

Selain itu, orang tua harus mampu mengelola emosi. Karena mau tak mau akan berhadapan dengan kondisi emosi anak yang berubah-ubah. Rewel atau melakukan kebiasaan-kebiasaan baru yang tak dapat diduga, mungkin akan dialami anak. Dengan kondisi emosi yang stabil, maka orang tua akan lebih tenang menghadapinya.

Kondisi fisik baik orang tua dan anak sebisa mungkin sedang fit. Hal ini untuk mengurangi tingkat kerewelannya. Bagi orang tua, terutama ibu. Kondisi yang sehat sangat memengaruhi emosinya. Karena masa menyapih bisa dibilang tidak selalu mudah dan cepat, jadi butuh kesiapan  jika harus begadang atau berlama-lama menggendong si kecil. Termasuk harus menghadapi prahara payudara bengkak bagi si ibu. *usapairmata

Jadi saran saya, jangan menyapih saat pikiran sedang kalut, atau suami sedang tugas ke luar kota, terlebih saat keluarga sedang ditimpa masalah, atau badang sedang lelah.  Cari momen yang tepat.


2. Harus kompak dengan suami atau anggota keluarga lain di rumah

Menyapih memang butuh pendampingan dari suami atau anggota keluarga lain. Tujuannya sebagai pengalihan anak dari ibunya. Saya merasa cara ini sangat membantu mengurangi frustasi anak, karena setiap bersama saya hasratnya untuk kembali nyusu seperti tak terbendung lagi.

Selain itu, cara ini memberikan sedikit jeda bagi ibu untuk merefresh suasana hati dan emosinya. Karena sebenarnya dalam proses menyapih ini banyak hal "yang hilang" bagi seorang wanita. Perasaan sedih kerap kali menyerang begitu saja. Sehingga kerjasama dengan anggota keluarga lain, terutama suami, saya rasa berkontribusi besar terhadap kesuskesannya.


3. Konsisten

Salah satu penyebab kegagalan menyapih adalah sikap tidak konsisten dari orang tua. Sekali anak melihatnya, mereka akan menggunakannya sebagai senjata. Begitu orang tua bilang, "Mulai sekarang, kalau adik haus, minumnya dari gelas, ya." Mulai saat itu pula ibu tidak perlu menawarkan kembali ASInya. 

Begitu pula beberapa rutinitas baru seperti tidur sendiri atau bersama kakak. Mendongeng sebelum tidur untuk mengalihkan perhatiannya. Atau apa saja yang orang tua terapkan dalam masa penyapihan, sebisa mungkin dilakukan dengan konsisten.

Saya merasakan penerapan konsisten dari orang tua memberikan efek cukup besar tidak hanya dalam proses penyapihan ini. Namun juga dalam membiasakan beberapa rutinitas baru bagi Najib khususnya.

Nah, itu tadi 3 tips dari saya. Saya pun menerapkan beberapa tips dari berbagai artikel parenting yang bisa teman-teman googling. Berbekal tips A,B,C,D ditambah 3 tips tadi, alhamdulillah ... Najib sudah hampir satu bulan tidak meminta ASI kepada saya. Bagaimana dengan tumbuh kembangnya? Lain kali akan saya ceritakan dalam blogpost selanjutnya. 

Selamat Menyapih! ^_^

Baby Boy yang sudah nggak nenen ibuknya ^_^








[ Review] Sariayu Duo Lip Color

|




Hai.. Hai.. Hai.. Jumpa lagi sama BukNaj *winkwink. Kali ini saya mau me-review lipstik yang lagi jadi favorit saya. Bukan barang baru sih, saya beli sekitar November tahun lalu. Baru sekarang aja niat banget bikin postingannya karena butuh waktu untuk mengumpulkan kepercayaan diri, minder euy! Ya, tapi sayang juga ya, punya produk kesayangan nggak dijembrengin di sini. Hehehe ...

Sebenarnya saya termasuk jarang pakai lipstik, meskipun hobi banget beli-beli. Kayaknya bener juga nih, kalau lipstik itu termasuk racun buat wanita. Apalagi brand kosmetik sekarang bener-bener berkompetisi untuk menghadirkan produk jagoan. Semakin inovatif baik dari segi kandungan juga tampilan. Begitu keluar satu varian baru, brand yang lain kayak nggak mau ketinggalan gitu. Langsung bikin varian sejenis dengan keunggulan masing-masing. Kalau sudah begitu, wajar donk kalau kadar pengen coba-coba saya meningkat. Hehehe ...

Awal mula saya beli lipstik ini karena baca review di blog Racun Warna-Warni. Teman-teman pasti tahu kan? Blog milik Beauty Blogger yang super kondang itu. Berbekal review dan swatch di situ, saya putuskan membeli Sariayu Duo Lip Color untuk menghadiahi diri sendiri.

Ngomongin soal Sariayu, teman-teman pasti setuju ya, kalau brand lokal yang satu ini recomended banget. Mulai ibu-ibu kita dulu, sampai ganti generasi, kayaknya kalau ngomongin lipstik lokal, Sariayu ini nggak pernah terlewat. Udah kayak warisan turun temurun gitu. 

Nah, sekarang pas lagi trendnya lip cream, Sariayu pun nggak ketinggalan meluncurkan produk andalannya yaitu Sariayu Duo Lip Color. Mengapa Duo Lip Color? Karena dalam satu  kemasannya terdapat dua varian sekaligus, yaitu matte dan glossy.  

Nggak tanggung-tanggung Sariayu ngeluarin 12 swatches, loh. Wow banget kan? Mana warnanya cantik-cantik banget,  temen-temen yang beauty enthusiast pasti udah ngoleksi semua warnanya nih. Kalau buat saya yang masih taraf coba-coba pakai lipstik, seri DLC-07 yang jadi favorit. Sejenis warna sejuta umat gitu lah, warna aman, jatuhnya peach kecoklatan.

Nah,  biar  nggak kelamaan, langsung saja kita bahas satu persatu ya.

Packaging 




 

Pertama soal kemasan, Sariayu DLC ini dikemas dalam tube plastik dengan 2 sisi. Pada plastik kemasannya ada keterangan nomor seri warna lipstik di bagian tengah. Kemudian, di sisi kiri dan kanannya terdapat keterangan glossy or matte. Sayangnya keterangan ini cuma di print di plastiknya aja, jadi begitu plastiknya sobek, keterangannya pun bakalan hilang. So, mending diinget-inget aja, yang kiri glossy, sedangkan kanan matte.

Ingrendients

Untuk kandungannya, seperti yang saya kutip dari website resminya. Sariayu DLC diklaim mengandung Mineral Amethys Powder dan Vitamin E yang bekerja sebagai antioxidant, kemudian UV Filter sebagai pelindung dari efek buruk sinar matahari, dan natural moisturizer yang membantu menjaga kelembaban bibir. Sehingga tampilan warna lebih perfect dan long lasting.



Texture and Pigmentation

Menurut saya, yang nggak terlalu sering pakai lipstik. Tekstur Sariayu DLC ini ringan banget di bibir. Bahkan bagian matte yang terlihat pekat pun nggak terlalu kental, jadi jatuhnya nyaman. Selain itu, tekstur matte-nya juga nggak bikin bibir kering, meskipun tanpa mengoleskan lipbalm sebelumnya.
Pigmentasi? Absolutely pigmented, even yang bagian glossy, dia bakalan menutup sempurna. Nggak cuman kayak pakai lipgloss gitu. Selain itu bagian glossy-nya juga nggak lengket plus nggak terlalu mengkilap, Jadi kesan glossynya nggak norak gitu.





Sariayu DLC-07 (matte)



Sariayu DLC-07 (matte)



Price
Untuk ukuran lipstik lokal, ya nggak murah-murah amat, sih. Sariayu DLC dibanderol Rp.99.000 Menurut saya lumayan terjangkau dan sesuai dengan kualitasnya. Apalagi kita bisa dapat 2 varian sekaligus dalam satu kemasan. Kalau kata saya mah, harga nggak bohong.

Secara garis besar, berikut kelebihan dan kekurangan Sariayu DLC menurut saya:
Kelebihan :
  • Nyaman di bibir, tekstur ringan nggak terlalu pekat.
  • Nggak bikin bibir kering, meski tanpa lipbalm. 
  • Glossy-nya juga nggak terlalu mengkilap plus nggak lengket di bibir.
  • Pigmented banget, baik bagian matte ataupun glossy-nya.
  • Tersedia dalam 12 warna yang super cantik dan kekinian
  • Harga sepadan sama kualitas
  • Mudah didapat karena brand lokal
  • Aromanya kayak permen vanila, saya suka.
  • Awet di bibir.
Kekurangan :
  • Kemasannya, terutama karena pattern-nya cuma di print di plastiknya aja. Begitu plastik sobek, hilang sudah semua keterangannya.
  • Setiap warna nggak dikasih nama, cuma nomor saja. So, lumayan susah buat nginget-ngingetnya.
  • Lumayan butuh waktu buat nge-set di bibir, meskipun kalau udah jadi lumayan long lasting.

Secara keseluruhan saya puas banget sama Sariayu Duo Lip Color ini, khususnya swatch yang saya pilih yaitu DLC-07. Soal repurchase? Yo'ilah, karena udah mupeng sama swatch yang lain. Hehehe ...

Sariayu DLC - 07 (glossy)



Tips Hemat Belanja Bulanan

|




Masih awal bulan, apalagi mendekati weekend. Boleh ya, sesekali ngomongin soal belanja bulanan? Kesempatan nih, jalan-jalan akhir pekan kali ini rencananya mau saya manfaatkan untuk pergi berbelanja bulanan. Berhubung suami lagi ke luar kota, jadi saya sama anak-anak cari alternatif kegiatan di deket-deket rumah saja. Maka kami merencanakan pergi ke supermarket dekat rumah.

Sebenarnya belanja bulanan ke supermarket bukan merupakan rutinitas wajib bagi saya. Biasanya, saya hanya melakukannya jika butuh saja. Misal saat semua persediaan bulanan benar-benar habis dan tidak dapat kami penuhi dengan berbelanja di pasar atau toko sembako di dekat rumah. Atau, jika  kami merencanakan pergi ke pusat-pusat perbelanjaan untuk mencari produk yang hanya tersedia di sana. Misalnya, membeli sepatu atau perlengkapan kerja suami. Barulah dalam kondisi seperti itu, saya sekaligus membuat perencanaan berbelanja di supermarket atau swalayan.

Nah, ngomongin soal belanja, saya sebenarnya termasuk yang "miskin iman" menghadapi serangan "barang lucu" dan diskon di pusat-pusat perbelanjaan. Kalau dituruti, saya bisa membeli stationary atau peralatan dapur yang sebenarnya nggak penting-penting amat hanya karena alasan lucu *tutupmuka. Belum lagi kalau ketemu material crafting atau paper wrap yang unik. Dompet musti dikekepin bener biar nggak salah alamat. Hehehe ...

Karena sangat memahami gaya belanja dan godaan yang mungkin mengacaukan cash flow rumah tangga. Maka mulailah saya membekali diri dengan beberapa tips menyangkut belanja bulanan. Ya, biarpun belanja ke supermarketnya jarang-jarang, tapi tips ini lumayan bermanfaat juga saat saya terapkan untuk berbelanja di pasar, toko sembako dekat rumah atau mini market sejuta umat macam alfamart atau indomaret. Nah, langsung kepoin satu-persatu aja, ya.




7 Tips Hemat Belanja Bulanan ala BukNaj


1. Buat catatan kebutuhan bulanan




Saya yakin teman-teman sudah lebih dulu melakukan tips no. 1 ini. Ya, saya memang termasuk orang yang tidak terlalu detil dan malas mencatat. Jadi, selama ini kebutuhan bulanan hanya saya ingat-ingat saja. Mana yang butuh, mana yang habis, mana yang nggak perlu beli lagi. Semua hanya ada dalam memori otak  saja. Dan, cara ini sungguh sangat tidak efektif. Karena keterbatasan saya dalam mengingat banyak hal dalam waktu yang bersamaan, tentu saja beberapa hal sering terlewat atau terjadi salah informasi.

Akhirnya mulailah saya berbenah. Setiap bulan saya buat catatan kebutuhan bulanan. Dari situ saya bisa cek mana yang masih ada stock, mana yang habis, mana yang perlu ditambah (means. saya akan beli dalam kemasan kecil), mana yang hanya butuh refill, dan lain sebagainya. 

Bermodal catatan tersebut, terasa banget belanja bulanan menjadi lebih efisien dan tidak berlebihan. Karena semua jadi lebih terukur dan dibeli dalam takaran yang "pas" dengan kebutuhan keluarga kecil kami.


2. Membeli dalam kemasan besar atau cukup sampai tiba waktu belanja lagi

Memang tidak semua produk saya beli dalam kemasan besar. Misalnya sabun cair atau shampoo. Alasan saya karena anak-anak lebih boros jika disediakan kemasan yang besar. Mereka tahunya banyak, jadi suka dimain-mainin. Begitu pula untuk lotion badan, saya kurang suka membeli kemasan besar, dengan alasan lebih suka habis pakai dalam waktu sebulan kemudian beli lagi yang baru. Jadi tidak terlalu lama dalam kondisi buka tutup.

Khusus untuk produk seperti pasta gigi, deterjen, cairan pembersih lantai, pengharum cucian, diapers dan susu, saya lebih memilih kemasan besar. Karena memang jauh lebih murah ketimbang kemasan yang kecil. Pembelian produk dalam kemasan besar juga memperkecil peluang bolak-balik ke mini market untuk menambal kebutuhan yang habis di tengah bulan. Biasanya, acara bolak-balik ini turut menyumbang banyak pengeluaran di luar budget belanja bulanan. Kalau dihitung-hitung, jumlahnya lumayan juga buat ditabung.


3. Menggunakan uang cash untuk pembayaran



Kebetulan saya dan suami memang tidak memiliki kartu kredit. Dan belum memiliki niatan untuk mengajukan aplikasi, meskipun sudah puluhan yang menawarkan. Cara ini kami anggap sebagai salah satu bentuk penghematan dan perencanaan keuangan yang lebih riil

Sejauh ini, uang cash tetap menjadi alat pembayaran yang utama. Meskipun, dalam kondisi tertentu penggunaan debit ATM juga kerap dilakukan.

Nah, pembayaran dengan uang cash ternyata sangat mendukung program penghematan. Mengapa? Karena pengeluaran kita jadi lebih terkontrol. Beda ketika  berniat membayar dengan debit misalnya, belanja jauh lebih tidak terkontrol karena tidak memiliki acuan uang  yang ada di tangan. jadi keterusan, dech. Apa saja masuk ke keranjang belanjaan.


4. Memanfaatkan voucher belanja 



Voucher belanja juga lumayan membantu membatasi pengeluaran . Dengan begitu saya akan membuat perkiraan harga dan menomor satukan  produk yang benar-benar dibutuhkan, sehingga total pembelanjaan tidak melampaui voucher yang dimiliki.


5. Memanfaatkan promo

Beberapa produk biasanya rajin mengeluarkan promo beli 1 gratis 1, atau beli 2 gratis produk lain. Saya tidak akan melewatkan kesempatan ini, terlebih jika produk yang ditawarkan memang biasa saya gunakan dan benar-benar dibutuhkan. Jika bukan produk yang biasa digunakan atau tidak benar-benar butuh, ya saya akan lewati begitu saja.


6. Mengutamakan kebutuhan pokok rumah tangga

Biasanya nih, yang namanya belanja di supermarket pasti sekalian window shoping. Boleh dong, asal tidak sampai salah fokus. Untuk itu, utamakan memenuhi kebutuhan pokok rumah tangga. Nah, selebihnya silakan melihat-lihat. Cara ini sering saya lakukan terutama untuk melihat harga produk yang saya inginkan. Sehingga bisa membuat perencanaan saat ingin membelinya pada kesempatan berbelanja yang lain.


7. Tidak mudah tergiur diskon



Lain halnya dengan promo, untuk tawaran produk diskon biasanya saya lebih selektif. Selain memperhitungkan urgensinya, saya akan hitung ulang apakah harga diskon tersebut jatuhnya benar-benar ekonomis atau hanya terpaut  sekian rupiah dari harga normal. Karena beberapa produk cenderung mensyaratkan jumlah pembelian atau menaikkan harga jual sebelum memberikan diskon atau potongan harga.

Nah, kurang lebih 7 tips di atas yang biasa saya lakukan untuk menghemat belanja bulanan. Teman-teman juga pasti punya jurus jitunya bukan? Share, yuk!

 

Custom Post Signature

Custom Post Signature