Parenting Story, Mom's Life, Tips

Showing posts with label Tes IQ. Show all posts
Showing posts with label Tes IQ. Show all posts

5 Tanda si Kecil Siap Melanjutkan ke Jenjang Pendidikan Dasar

|



Tak terasa Maret sudah sampai di pertengahan, padahal kayaknya baru kemarin aja ganti bulan. Duh ... cepet banget udah mau April lagi. Eh, tapi ini bukan tentang gajian, loh. Mentang-mentang Emak berdaster yang ngomong, jangan disangka kita mau ngomongin belanja bulanan ya. Ini soal tahun ajaran baru yang sudah di depan mata. 

Bagi orang tua yang masih memiliki anak usia sekolah, terlebih yang hendak melanjutkan ke jenjang berikutnya. Pasti sudah mulai kebat-kebit, nih. Selain masa-masa ujian, bulan kayak gini biasanya sekolah swasta terutama yang favorit sudah membuka pendaftaran siswa baru. Bahkan beberapa sudah memenuhi quota, dan tinggal menunggu masa heregistrasi.

Tahun ini, kebetulan 7 keponakan saya juga akan mendaftar ke sekolah baru. Mulai dari yang mau melanjutkan ke bangku kuliah, SMU, SMP, SD hingga ada yang baru mau masuk TK. Komplit banget pokoknya. Najwa anak saya pun, rencananya tahun ini mau mendaftar ke sekolah dasar. Insya Allah, kami sudah mantap akan melanjutkan, karena sebelumnya masih gamang. Antara ke TK lagi, SD atau cuti nggak sekolah dulu sampai tahun depan.

Salah satu keputusan ini memang dipengaruhi oleh hasil Tes Kesiapan yang beberapa waktu lalu diikuti Najwa di sekolahnya. Kemudian kami pun merasa semakin mantap untuk melanjutkan ke sekolah dasar. Masalah nanti diterima di sekolah yang mana, yang pasti kami akan mengupayakan di awal, dan mengevaluasi hasilnya kemudian.

Baca juga : Tes IQ untuk Anak, YAY or NAY?

Kapan Seorang Anak Dinyatakan Ideal untuk Melanjutkan ke SD

Pada saat saya kecil dulu, orang tua terutama nenek selalu bilang. Bahwa salah satu tanda anak siap ke SD adalah saat tangannya mampu memegang telinga, dengan cara melingkarkan tangan anak di atas kepala. Masih ingat salah satu iklan TV pada zaman teman-teman kecil dulu kan? Nah, ternyata pendapat itu tidak sepenuhnya mitos. Karena dalam ilmu psikologi, yang dimaksud dengan kondisi tersebut adalah anak telah mengoptimalkan perkembangan kognitif dan psikomotoriknya.

Dalam satu sesi tanya jawab pada saat penyerahan hasil Tes Kesiapan kemarin. Psikolog yang menjadi penguji pelaksanaan Tes IQ sekaligus Tes Kesiapan Masuk SD  memaparkan beberapa point berkaitan dengan kecerdasan anak baik secara intelektual maupun emosional. Di samping mengenai indikasi seorang anak dianggap bisa dan mampu melanjutkan ke pendidikan dasar.

Namun dalam kesempatan kali ini, saya mau merangkum dulu tentang indikasi seorang anak disarankan melanjutkan ke SD. Nah, apa sajakah itu?


Yang pertama telah cukup usia, dalam hal ini 7 tahun seperti yang dipersyaratkan ideal oleh pemerintah.

Gambar : Eneas's Blog

Mengapa harus 7 tahun? 

Psikolog anak menyatakan karena pada usia 7 tahun, seorang anak dinyatakan siap untuk menerima materi. Begitu pun mereka lebih siap mengembangkan kemampuan intelektualnya, karena pada usia sebelumnya mereka telah memaksimalkan kemampuan kognitif,  psikomotorik dan emosional skillnya. 

Bagaimana jika usia anak masih di bawah 7 tahun tapi kemampuannya sudah memadai?

Menurut pendapat psikolog anak, mungkin si kecil bisa dan mampu. Tapi, perlu perhatian lebih dari orang tua. Khususnya menyangkut kondisi emosional dan kepercayaan dirinya.  Pendapat serupa juga disampaikan dari pendidik anak. Menurut beliau, anak dengan usia di bawah 7 tahun mungkin bisa berkembang dengan baik dari segi kognitif, tapi sering kali bermasalah di afektif dan psikomotorik. 

Selain dari itu dari segi mental mereka juga masih kalah, apalagi jika ditunjang dengan ukuran tubuh yang “mungil” sesuia usianya. Dikhawatirkan karena terlihat masih kecil, mereka akan menjadi korban bullying teman-temannya. Meskipun hal-hal tersebut tidak selalu terjadi pada semua anak, sih.

Pendapat lain juga disampaikan oleh seorang Guru SD senior. Beliau mengatakan  akan lebih mudah mengajar anak 7 tahun yang belum bisa membaca, ketimbang anak usia 6 tahun dan belum bisa membaca juga. Anak-anak usia 7 tahun cenderung lebih cepat menangkap materi, karena kondisi psikologisnya jauh lebih siap.

Tanda kedua, seorang anak terindikasi siap masuk ke SD adalah mudah bangun pagi

Gambar : SatuHarapan.com


Anak-anak yang mudah dibangunkan pada pagi hari, mereka cenderung lebih siap untuk melanjutkan ke SD. Mengapa? Karena mereka sudah lebih terlatih untuk mempersiapkan diri lebih pagi. Salah satu rutinitas yang mulai disipakan orang tua yang anak-anaknya mau ke SD, ya bangun pagi tadi, agar anak nggak kagok nantinya . 

Selain itu, kebiasaan bangun pagi menunjukkan kemauan anak untuk  melatih kedisiplinan dan kemandiriannya. Dua hal yang menjadi modal ketika melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Yang ketiga, dapat memegang pensil dengan benar
Gambar : wikiHow.com


Hal ini tentu saja berkaitan erat dengan kesiapan motorik halusnya ya. Karena anak-anak  yang motorik halusnya belum terangsang dengan optimal, sering kali merasa kesusahan memegang pensil dengan benar. Jangankan menulis, memegang saja mereka masih kaku, belum luwes.

Memastikan anak mampu memegang pensil dengan benar sangat penting dilakukan orang tua. Mengingat anak tidak dapat menghindari aktivitas menulis ketika berada di bangku sekolah dasar. Nah, orang tua juga sebaiknya bijak dalam memberikan tuntutan pada anak. Jangan sampai kita mendorong mereka untuk menulis dengan lancar, apalagi rapi. Tapi lupa menstimulus otot-otot halus pada jari-jari anak.


Yang keempat,  anak telah mengenal dan dapat membedakan huruf dan angka

Gambar : mainan edukatif.com

Psikolog menekankan pada kata mengenal dan membedakan, bukan bisa membaca atau menjumlahkan. Jadi, nggak perlu khawatir kalau anak-anak belum bisa membaca atau berhitung. Karena kemampuan calistung memang seharusnya dilatihkan kepada anak pada usia sekolah dasar. Ketika mereka telah siap mengembangkan kecerdasan intelektualnya.

Sebagian anak memang sudah dapat membaca dan menghitung dengan lancar, tentu saja itu menggembirakan. Tapi perlu diperhatikan untuk menjaga minatnya tidak berujung pada kebosanan. So, sebaiknya kita fokus pada membuat anak bersenang-senang dengan pelajarannya, bukan tertekan terus bosan.

Yang terakhir atau kelima, anak siap secara emosional

Gambar : KRJogja.com

Siap secara emosional lebih ditekankan pada kemandiriannya ya. Misalnya, mampu makan sendiri di sekolah, bisa dan mampu menyiapkan atau membereskan peralatannya, bisa bermain dengan teman-temannya, mampu berkomunikasi dengan guru, bisa menolak atau mengiyakan sebuah ajakan atau perintah.

Intinya anak bisa dan mampu mengatasi permasalahan yang mungkin harus dihadapinya di sekolah. Karena di sekolah dasar, anak sudah tidak ditemani lagi oleh orang tuanya. Mau nggak mau, memang mereka harus dibiasakan untuk menyelesaikan sendiri masalahnya.

Baca juga : Tahapan Anak Belajar Membaca


Hasil Tes Kesiapan Masuk SD Milik Najwa
Jujur, berdasarkan 5 hal di atas, anak saya masih mendapat point kurang untuk kesiapan emosional, atau tanda yang kelima. Setidaknya begitu menurut hasil tes-nya. Meskpiun, berdasarkan pengamatan kami selama ini, mungkin tidak terlalu kurang juga, hanya masih standar. Jadi lumayanlah. Hehehe... namanya juga anak sendiri, dibelain dikit donk. 

Untuk point ke 1 sampai dengan 4, alhamdulillah Najwa dinyatakan siap, bahkan cenderung di atas syarat cukup. Tapi di point kelima, Najwa dinyatakan kurang, salah satunya karena lambat dan kurang aktif saat di kelas. Sangat bertolak belakang dengan pengamatan guru kelas Najwa selama ini.

si Kinestetik yang memiliki kecenderungan Audio


Dalam lembar hasil tes disebutkan Najwa anak yang cukup berani meskipun agak pasif  selama di kelas, lambat dan tenang menyelesaikan semua tugas-tugasnya.

Saya tidak serta-merta menolak hasil pengamatan psikolog, meskipun tidak juga menjudge anak tidak siap secara emosional. Mengapa? Karena saya paham bahwa Najwa cenderung slow to warm, dalam artian cuek, terutama dengan orang baru. Beda dengan guru kelasnya, di mana Najwa selalu aktif dan banyak bertanya.

Mengenai point lambat dalam mengerjakan, hal tersebut memang sudah saya diskusikan dengan guru-gurunya, that’s why bu Guru menyarankan Najwa Home Schooling saja. Menurut bu Guru sih, bukan karena tidak mampu, tapi karena anaknya cenderung santai. 

Saat semua temannya mengerjakan, Najwa memilih mencari "korban" yang bisa diajak ngobrol, entah itu guru atau teman-temannya yang sedang sibuk mengerjakan. Atau malah melamun saja kalau tidak mendapatkan "korbannya". Sedangkan saat teman-temannya sudah hampir selesai, baru dia mulai mengerjakan.

Tapi, saya tetap berusaha obyektif pada Najwa, mengingat usianya memang baru 6 tahun akhir bulan ini. Meskipun psikolog menyarankan dapat melanjutkan ke SD, kami memang harus fokus dengan point kelima, soalan kemampuan emosional tadi.

Oleh sebab itu, kami juga tidak memasang target macam-macam, kecuali rutin melakukan pembiasaan-pembiasaan secara bertahap. Karena menurut kami, hal-hal yang dibiasakan itu yang nantinya lebih penting untuk menunjang kedisiplinan dan kemandiriannya. 

Hem ... meskipun akhirnya mantap mendaftarkan ke SD, sebenarnya kami masih menyimpan kegalauan yang lain. Kali ini berkaitan dengan SD mana nantinya yang akan dipilih. Tapi, cerita yang itu lain kali saja ya. Mungkin setelah kegalauan saya sedikit berkurang, hehehe ...

Have a great journey aja dech, karena jadi ortu amatiran kayak saya ini bener-bener bertualang rasanya, hihihi ... See U ^_^



Tes IQ untuk Anak, YAY or NAY?

|
Tugas berat orang tua adalah mengamati, menggali, memupuk dan mengembangkan keistimewaan yang Tuhan anugerahkan pada anak-anak kita.




Kalau teman-teman mau tahu jawaban saya tentang Tes IQ untuk Najwa atau Najib kelak. Maka jawabannya, NAY! Mau tahu alasannya? Baca dulu cerita saya ya. ^_^

Beberapa waktu yang lalu, sekolah Najwa menyelenggarakan Tes Psikologi yang setiap tahun rutin dilakukan untuk anak didiknya. Adapun jenis tes yang ditawarkan kepada orang tua ada dua. Pertama, Tes Kesiapan Masuk SD, sedangkan yang kedua adalah Tes IQ.  Untuk anak yang akan melanjutkan ke jenjang sekolah dasar, sekolah mewajibkan siswanya mengikuti tes yang pertama, yaitu tes kesiapan. Sedangkan untuk tes yang kedua bersifat pilihan.

Karena Najwa berencana melanjutkan ke SD pada tahun ajaran depan, secara otomatis dia terdaftar untuk tes yang pertama. Sedangkan untuk Tes IQ, saya dan suami sepakat untuk tidak mengikuti. Mengapa? Tentu saja kami memiliki alasan tersendiri. Beberapa di antaranya sebagai berikut :


Alasan Tidak Mendaftarkan Najwa untuk  Tes IQ
  1. Tes IQ  bukan satu-satunya tolok ukur kecerdasan anak.
  2. Ada beberapa faktor lain yang justru harus ditumbuhkan dari anak semenjak awal kehidupan  mereka. Misalnya empathy, creativity, critical thinking, enthusiasm, dan lain-lain.
  3. Memprediksi kecerdasan anak berdasarkan dari skor IQ saja, menurut kami kurang bijaksana. Karena, skor IQ terdiri dari banyaknya kumpulan skor dan sangat mungkin terjadi prediksi yang kurang tepat.
  4. Kami tidak ingin skor IQ membayangi cara pandang kami terhadap kecerdasan anak. Bahkan yang lebih menakutkan, kami khawatir skor IQ membatasi ekspektasi terhadap kecerdasan anak.
  5.  Jujur kami tidak terlalu paham apa manfaat dari skor IQ yang diperoleh anak.
  6. Yang terakhir, kami tidak ingin membandingkan anak karena terpengaruh skor IQnya.
Tentu saja kami tidak asal dalam membuat keputusan ini. Sebelumnya, saya sempat berkonsultasi dengan beberapa teman juga menambah sumber bacaan terkait perlukah Tes IQ untuk anak-anak. Beberapa sumber bacaan yang saya temui memang ditulis oleh ahli  psikolog, salah satunya Ibu Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si, atau biasa disapa Mbak Nina dalam artikel-artikelnya. 

Dalam salah satu artikel psikologi yang ditulisnya, kebetulan membahas tentang "Perlukah Tes IQ untuk Anak? Beliau dengan tegas menjawab, TIDAK. Tidak setiap anak perlu melakukan Tes IQ. Kecuali si anak menunjukkan adanya tanda-tanda gangguan perkembangan atau keterlambatan pada beberapa hal.

Bahkan ketika orang tua hanya sekedar ingin tahu skor IQ anak pun, Ibu Ana Surti Ariani menyarankan TIDAK perlu untuk mengikuti. Pendapat beliau ini sangat menarik bagi saya. Dan tentu saja  membawa angin segar karena selama ini saya selalu mendapat jawaban, terserah orang tua masing-masing.

Setiap anak dilahirkan dengan kecerdasan masing-masing. Sungguh UNIK! ( Pict by Ummi-Online)


Pengertian Tes IQ

Mungkin teman-teman pernah mengalami peritiwa seperti ini. Suatu ketika, seorang teman atau kerabat menanyakan berapa skor IQ anak kita. Pada saat kita menyebutkan suatu angka, bisa jadi respon yang ditunjukkan berbeda. Membelalak kagum, atau hanya manggut-manggut dengan ekspresi datar. Saya membayangkan pasti memprihatinkan jika mendapatkan respon yang kedua. Lalu, apa sebenarnya yang salah dengan angka-anagka pada skor IQ tersebut?

Seperti yang saya pelajari dalam sebuah sumber bacaan, IQ atau intelligence quotient merupakan hasil bagi dari inteligensi. Inteligensi sendiri memiliki pengertian kemampuan berpikir dan beradaptasi dari pengalaman hidup sehari-hari. (Santrock, 2002). Ringkasnya, semakin besar kemampuan seseorang untuk menemukan makna dan menyelesaikan permasalahan sehari-hari yang dihadapinya. Maka dia dianggap semakin cerdas.


Lalu, dari manakah angka IQ itu di dapat?

Skor IQ didapat dari pembagian usia mental atau Mental Age (MA), yaitu kemampuan seseorang baik anak ataupun dewasa dibandingkan teman-teman pada usia yang relatif sama, dibagi usia anak yang sebenarnya atau Chronological Age (CA),  kemudian dikali 100. Begitu saya kutip dari tulisan  Ibu Anna Surti Ariani, S.Psi. M.Psi. dalam salah satu artikelnya.

Maka tak jarang, anak dianggap lebih cerdas ketika kemampuannya  menyamai anak-anak dengan usia di atasnya.  Sedangkan untuk mendapatkan skor Mental Age atau MA, psikolog akan memberikan serangkaian soal kepada anak, kemudian menghitung jumlah soal yang dijawab dengan benar lalu membandingkannya dengan anak yang usianya setara. Tentu saja secara teknis pakar psikologi yang lebih memahaminya. Itupun sudah pasti melalui serangkaian uji coba yang valid.


Tes IQ meliputi apa saja?

Menurut Psikolog, Tes IQ atau Pemeriksaan Inteligensi yang tepat sebenarnya tidak hanya menghasilakan satu skor IQ tunggal. Namun merupakan kumpulan berbagai skor. Di antaranya daya tangkap, daya ingat, konsentrasi dan kemampuan analisis. Termasuk di dalamnya kemampuan matematika dan pemahaman terhadap bahasa. 

Tes IQ juga diklaim mampu mengukur sikap kerja seperti ketelitian, kecepatan dan sistematika kerja.  Khusus bagi anak yang cenderung memiliki permasalahan atau gangguan perkembangan, psikolog akan menyertakan berbagai data di samping skor IQ. 

Karena banyaknya kumpulan skor dari berbagai komponen yang diukur, maka bisa jadi dua  anak dengan total skor IQ yang sama, memiliki kemampuan yang berbeda. Hal ini karena skor yang diperoleh dari setiap komponen yang diujikan bisa jadi berbeda, namun dijumlahkan secara total untuk menghasilkan skor total. Itulah sebabnya, jika orang tua memprediksi kecerdasan anak hanya dari satu angka skor IQ saja, maka bisa jadi kurang tepat.


Kecerdasan anak tidak selalu identik dengan hasil akademis. (Pict by. Republika-online)

Perlukah Tes IQ?

Seperti yang  sudah saya sebutkan di atas,  TIDAK semua anak memerlukan Tes IQ. Karena pemeriksaan inteligensi secara lengkap hanya perlu dilakukan jika ada kecurigaan gangguan psikologis pada anak. Seperti lemah daya tangkap, perkembangannya terlambat dan kecurigaan itupun harus dibuktikan melalui serangkaian tes psikologi.

Hanya saja, semua kembali pada keputusan setiap individu. Ada banyak orang tua yang merasa anaknya tidak perlu mengikuti Tes IQ seperti halnya saya. Namun, tak jarang juga yang menyetujui dan menganggapnya penting. Itu tidak masalah bahkan tak perlu diperdebatkan. 

Beberapa sekolah bahkan mengadakan tes ini secara rutin meskipun bersifat tidak wajib, seperti halnya yang dilakukan di sekolah Najwa. Sedangkan, sekolah yang lain justru mensyaratkan pemeriksaan inteligensi sebagai bagian seleksi penerimaan siswanya. Kembali lagi, semua tergantung kebutuhan masing-masing.



Apakah Skor IQ Bisa Berubah?

Jawabnya, BISA.

Sebagian orang tua mungkin merasa khawatir ketika skor IQ anaknya cenderung rendah. Menghadapi hal semacam itu, sikap bijaksana harus dimiliki. Ingat, Skor IQ bukanlah satu-satunya faktor yang memengaruhi keberhasilan anak di masa depan. Orang tua justru harus memerhatikan beragam kecerdasan lain yang sayang jika terlewat untuk ditumbuh kembangkan.

Skor IQ bisa jadi berubah seiring dengan perkembangan anak. Antara 5 sampai dengan 10 tahun pertama kehidupannya,  seorang anak bisa saja mengalami perkembangan yang signifikan.


Adakah faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan?

Sekali lagi jawabannya, ADA.

Berdasarkan hasil konsultasi saya dengan seorang teman, setidaknya ada 4 faktor yang memengaruhi perubahan skor IQ seorang anak. Di antaranya:

  • Faktor pengukuran, yaitu berkaitan dengan komponen dan proses pelaksanaan tes yang sangat beragam. Dalam hal ini usia dan kemampuan anak memiliki peran sangat besar.
  • Faktor tak terduga, seperti kesalahan administrasi atau skoring. Bukan tidak mungkin kan, terjadi kesalahan dalam hal administrasi atau penghitungan skor? Meskipun atas nama sistem, terkadang sebuah kesalahan tidak bisa dielakkan?
  • Faktor situasional, meliputi motivasi, kondisi fisik anak, rasa percaya diri, dan lain sebagainya. Bukan tidak mungkin kondisi anak pada saat tes pertama dan kedua akan berbeda.
  • Faktor Nutrisi
Nah, cukup banyak yang perlu orang tua pelajari sebelum memutuskan untuk menyertakan anak dalam sebuah tes. Misalnya Tes IQ. Tapi, tidak menutup kemungkinan orang tua terpaksa mengikuti atau memang tertarik mengikutinya. Hal tersebut tidak salah, bahkan sah-sah saja. Karena orang tualah yang paling tahu kondisi anak-anaknya. 

Tapi, ada baiknya kita tidak terpaku pada skor IQ yang dicapai anak. Yakin saja, Tuhan menciptakan makhluknya pasti dengan suatu kelebihan. Tidak mungkin Tuhan membuat ciptaannya tidak bermanfaat. Maka tugas besar kita adalah mengamati, menggali, memupuk dan mengembangkan keistimewaan yang Tuhan anugerahkan pada anak-anak kita.



Have fun for the journey with your kids, Mom! Good Luck!











Custom Post Signature

Custom Post Signature