Parenting Story, Mom's Life, Tips

[Review] Popatoy - Mainan Edukatif Mendukung Anak Kreatif

|


Kalau dipikir-pikir, punya anak balita itu memang repot, tapi banyak juga keseruannya. Selain masih harus intens mengurus seluruh kebutuhan fisik dan psikisnya. Kayaknya orang tua mesti terlibat semua aktivitasnya. Misalnya saat mereka ingin bermain, anak-anak kelihatan lebih happy saat ortu terlibat dalam permainan mereka. Saya aja kadang ngerasa kayak Trio Kwek-Kwek kalau lagi sama DuoNaj. Saking ke mana-mana selalu bertiga, main pun selalu harus ikutan ,jadi berasa muda pokoknya. Eh ...

Pada prinsipnya, kalau saya sih oke-oke aja. Karena aktivitas bermain bersama mereka lumayan juga buat refreshing. Walaupun nggak jarang juga saya jadi uring-uringan kalau acara bermainnya kelamaan. Maksimal satu jam cukuplah, selebihnya harus saya alihkan dengan kegiatan lain. Atau saya berikan aktivitas yang bisa anak lakukan tanpa orang tua. Misalnya bermain sepeda atau nonton TV. Hehe ... Iya, rumah saya memang belum steril dari TV. Karena anak dan suami nge-fans banget sama Animal Planet. It's okey lah, yang penting udah steril dari sinetron model GGS gitu. So, boleh donk!

Kebetulan nih, kedua anak saya lagi seneng-senengnya bermain menggunting. Kalau Najwa memang sudah lebih terampil dengan motorik halusnya. Sehingga hasilnya pun sudah lumayan membuatnya bangga. Sedangkan si ragil, sebenarnya saya masih ragu-ragu memberikan gunting asli untuknya. Hanya saja karena Najib sudah menolak diberikan gunting mainan, maka kami sepakat memberikan gunting asli. Tapi tetap dalam pengawasan, meskipun hanya sebuah gunting kertas kecil yang tidak terlalu tajam.




Awalnya kami hanya menggunting kertas warna, tanpa membuat pola. Jadi benar-benar hanya membuat potongan-potongan berbagai ukuran. Untuk hasil guntingan Najwa sudah lumayan terpola. Kadang dia membuat aneka bentuk bangun datar atau bunga. Sedangkan Najib masih semaunya. Wajarlah, usainya juga baru menginjak 2,5 tahun pada bulan ini. Tapi keterampilan memegang dan menggerakkan gunting dengan jari-jemarinya sudah terlihat luwes

Kegiatan menggunting hampir setiap hari saya lakukan bersama DuoNaj. Kertas-kertas hasil guntingan itu biasanya saya simpan. Anak-anak senang ketika potongan-potongan kecil aneka warna saya taburkan. Kata mereka seperti pesta ulang tahun. Ya, asyik sih buat mereka. Meskipun buat saya jadi ekstra bersih-bersihnya. Hiks ..


Menemukan Produsen Paper Toy

Suatu ketika Najwa minta dibuatkan miniatur rumah dari kertas-kertas yang kami gunting. Saya pun mencoba membuat pola di selembar kertas warna. Kemudian kami gunting dan rekatkan setiap sisi-sisinya dengan lem. Foila! Jadilah sebuah rumah karya kami berdua. Sayangnya bahan yang kami gunakan terlalu tipis, sehingga miniatur rumah yang diinginkan Najwa jadi gampang ambruk, tidak kokoh dan tentu saja kurang menarik baginya.

Menyerah  setelah beberapa kali membuat, tapi masih saja kurang menarik, maka saya coba browsing  olshop penjual mainan kertas gunting lipat. Hingga akhirnya saya menemukan satu produsen penjual mainan edukatif  dengan brand POPATOY. Mainan yang diproduksi pun sangat sesuai dengan kebutuhan kami saat ini, yaitu mainan edukatif berjenis paper toys, sehingga kami bisa menggunting, melipat kemudian menempelnya sesuai tema yang ada dalam gambar.


Nah, kebetulan sekali nih, Popatoy tidak hanya memproduksi mainan kertas yang menarik secara visual, tapi juga terdiri dari 10 tema, yaitu :

1. Tema Anak Muslim
2. Tema Fantasia
3. Tema Gedung Kota
4. Tema Ka’bah
5. Tema Mobil
6. Tema Rumah Desa
7. Tema Rumah Kota
8. Tema Rumah Kue
9. Tema Taman bermain
10. Dan yang terakhir Tema Taman Hewan

Semuanya dicetak full color di atas kertas Art Paper tebal dengan sketsa gambar lucu, khas kartun anak-anak. Lengkap dengan petunjuk atau cara bermain  dan saran bagi orang tua untuk melakukan pendampingan.

Popatoy adalah produk mainan anak yang dapat dimanfaatkan orang tua untuk melatih motorik halus anak melalui kegiatan menggunting, melipat dan menempel. Tak cukup sampai di situ, orang tua dapat menggunakannya untuk menstimulus  kreatifitas, mengembangkan daya imajinasi dan melatih fokus anak. Di samping itu, anak-anak dapat menggunakannya dalam permainan peran atau mengenalkan berbagai bentuk seperti lingkaran, persegi dan segitiga. Menarik, kan? 


Popatoy  digagas oleh seorang perempuan muda, yang saya temukan profilenya melalui grup FB Ibu-Ibu Doyan Bisnis. Anisa Aprilia, penggagas sekaligus pemilik brand Popatoy memang memiliki passion di dunia grafis, game dan animasi semenjak duduk di bangku kuliah. Mengawali bisnis di bidang game animasi, Lia, begitu pebisnis muda ini biasa disapa. Banting stir dan membuat beberapa kali percobaan untuk calon produknya, hingga akhirnya jadilah paper toy sebagai produk yang diproduksi secara masal untuk dipasarkan secara luas. Produk mainan ini kemudian dipasarkan baik secara online maupun offline dengan brand Popatoy, yang berarti Pop Paper Toy.






Popatoy sendiri sangat terjangkau dan mudah didapatkan. Saya sendiri membelinya secara online melalui kontak WA ownernya. Tapi, jika teman-teman berdomisili di daerah Malang, produk mainan ini bisa didapatkan di beberapa mall besar. Dengan harga berkisar antara 13.000 sampai dengan 15.000 per paket/ tema. Sangat terjangkau bukan?

Buat saya dan anak-anak, kami puas membeli setelah membeli mainan ini. Selain bahannya oke, ide dan gambar temanya sangat menarik untuk anak. Hanya saja beberapa tema lumayan rumit bentuknya, sehingga Najwa merasa sedikit kesulitan dan kurang rapi saat menggunting. Sedangkan Najib sudah tentu belum bisa ikut menggunting, maka dari itu saya siasati dengan mengajaknya menempel, menyusun dan bermain peran. Jadi keduanya tetap bisa memanfaatkan permainan ini.

Overall, mainan ini recomended  sebagai alternatif kegiatan bersama anak. Namun perlu diperhatikan, permainan ini sebenarnya diperuntukkan bagi anak usia 4 tahun ke atas. Jadi usahakan tetap mendampingi hingga anak benar-benar mahir dan aman menggunakan gunting. Intinya sih, mainan ini cocok sebagai media interaktif ortu dengan anak.

Eniwei, jika teman-teman tertarik memiliki seluruh atau sebagian tema yang ada di Popatoy, langsung aja kontak ownernya ya. Pemesanan online bisa dilakukan via 
WA : 085755723763, website Popatoy.net  atau ke FB : Lia Popatoy.

Oh ya, sebagian keuntungan dari penjualan Popatoy ini digunakan sebagai donasi program pembinaan remaja masjid di bawah naungan yayasan Al-Muflichun Mubarok, lho. Jadi teman-teman bisa berbelanja sekaligus donasi. Hem ... jadi kepengen beli, kan?

Happy shopping! Have fun with kiddos ya, see  U ! ^_^








[Resensi] Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya

|
"Shalatmu dan sebagainya adalah urusanmu dengan Allah, tapi Sarkum yang yatim dan ibunya yang kere mestinya adalah urusan kita semua"

Sejak cover buku ini dipublish di timeline Mas Puthut EA, saya langsung tertarik untuk menjadikannya  salah satu koleksi di rumah. Menurut saya unik, ditambah judulnya menggelitik. saya pikir buku ini pasti asyik. Menyusul kemudian sinopsis yang terus berkelibat, membuat saya tak ragu untuk segera melakukan pemesanan online untuk buku yang bergenre agama ini. 



"Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya" merupakan kumpulan dari kisah seorang sufi dari Madura berama Cak Dlahom. Awalnya, kisah-kisah di dalamnya merupakan tulisan berseri di situs web mojok.co. Ditayangkan selama dua kali ramadhan, rutin setiap dua hari sekali menjelang waktu berbuka. 

Sejak pertama kali tayang, pada 17 Juni 2015, cerita Cak Dlahom ini telah mampu menyedot perhatian pembaca situs mojok. Bahkan beberapa judul seperti "Takut Neraka tapi Sudah Terbakar" dan "Cak Dlahom Mengaku Anjing", keduanya telah dibaca hampir empat puluh ribu kali. Sebuah pencapaian yang fantastis yang akhirnya menggerakkan hati tim Mojok untuk mengumpulkan total 30 judul dalam 1 buku yang sangat "renyah", namun syarat pendidikan agama.


"Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya" Menggambarkan Realita Kehidupan

Serial Cak Dlahom sendiri berkisah tentang kejadian sehari-hari di sebuah desa di Madura. Cak Dlahom yang menjadi sentra cerita, dikisahkan sebagai seorang duda tua yang hidup sendirian di sebuah gubuk dekat kandang kambing milik Pak Lurah. Dlahom yang sering dianggap kurang waras, aktif menjadi komentator atau penyulut perbincangan bersubstansi ibadah. Dari perbincangan-perbincangan inilah, tetangga Dlahom mulai merenungkan ulang mengenai pemahaman mereka tentang Islam.

Misalnya dalam salah satu kisah yang berjudul "Masuk Islam Dulu, Baru Puasa Ramadhan", Dlahom mempertanyakan keislaman Mat Piti tetangganya, "apa benar kamu islam?" Mau tidak mau kisah ini menyentil sisi lain dalam diri saya tentang pemahaman agama. Saya pun sempat bertanya pada diri sendiri, "saya sudah islam beneran atau belum ya?", begitu gumam saya dalam hati.

Begitu pun dalam kisah "Membakar Surga, Menyiram Neraka" Saya sempat merenungi kembali makna kita sebagai manusia, makhluk Tuhan. Ngaku beragama, tapi apakah benar-benar sudah beribadah? Kita sering terlupa amalan untuk sesama manusia. Tapi tak mau sedikit pun diusik saat beribadah kepada Gusti Allah. Padahal, bukankah Allah memerintahkan keduanya?

Kisah-kisah dalam serial ini sempat membangkitkan emosi. Tanpa terpaksa saya berusaha mengoreksi ulang keislaman yang saya agung-agungkan selama ini. Islam bukan hanya tentang shalat lima waktu, membaca Al Quran, puasa, zakat dan berhaji. Islam juga tak sebatas urusan-urusan kita dengan Allah semata. Ucapan, perilaku, kasih sayang dan cara kita menghargai serta menghormati hak orang lain adalah Islam. Bahkan dicontohkan Rasul dengan sangat indah dan menentramkan. Islam itu indah, namun keindahan itu hanya akan terlihat jika umatnya dapat merepresentasikan Islam dalam kehidupan di dunia, bukan akhirat semata.



Buku "Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya" menjadi angin segar bagi saya. Di tengah hiruk pikuk perdebatan tentang kafir dan muslim. Cerita-cerita di dalamnya menjadi penyejuk kala resah melanda. Mengapa harus khawatir dikafirkan? Sedangkan Allah Yang Maha Menentukan segalanya. Tak perlu menyombongkan diri sebagai muslim yang paling taat berbekal ayat-ayat. Kalau tetanggamu saja masih menderita dan saudaramu masih terlunta. Apalagi ayat-ayatnya modal potongan dari sosial media, mak jleb! Malu dibuatnya.

Seluruh setting cerita dalam serial ini berlatar belakang Ramadhan, sesuai dengan situasi saat cerita ini tayang. Saking menarik dan ditunggunya serial ini, dalam salah satu diskusi di Kaskus, serial ini disebut "cerpen Ramadhan" 

Saya sangat merekomendasikan buku ini untuk siapa saja yang ingin menyegarkan pemahamannya tentang Islam. Bahasanya ringan, blak-blakan, khas humor sufi, namun syarat makna dan pendidikan.

Tentang Penulis

Rusdi Mathari, salah satu penulis yang aktif menulis di situs Mojok.co, telah lama malang melintang dengan karier kepenulisannya. Pernah menjadi wartawan, redaktur majalah, redaktur pelaksana koran dan berita, hingga menjadi redaktur eksekutif di salah satu portal berita. Beberapa penghargaan untuk penulisan terbaik berhasil diraihnya, termasuk salah satunya menjadi peserta crash program untuk reportase investigasi.  Salah satu judul buku yang ditulisnya dan menggelitik juga adalah Aleppo. Layak bersanding dengan buku "Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya" di rak buku koleksi teman-teman.

Jika teman-teman berminat mendapatkan buku serupa. Pembelian online bisa dilakukan melalui web Mojok Store, atau melalui facebook Buku Mojok dan twitter @BukuMojok. Saya yakin, teman-teman tidak akan kecewa. Buku ini kaya ilmu meskipun ditampilkan secara sederhana. Nggak keminter apalagi minteri.

Judul : Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya
Penulis : Rusdi Mathari
Penerbit : Buku Mojok
Genre : Agama
Tebal buku : 226 halaman
Harga : Rp. 60.000
Cetakan pertama : September 2016


Belajar Gengsi dari Asnawi (Sarjana Penjual Gorengan)

|
Indonesia patut bangga. Saat sebagian besar anak muda merasa GENGSI dengan gadget model lama, atau model fashion yang sudah bukan trend-nya. Pemuda asal Bangka ini justru melupakan GENGSInya untuk berjualan gorengan di antara kesibukannya menimba ilmu di bangku kuliah.

Ya, jika grup band Gigi punya 11 Januari, maka Asnawi punya 11 Februari sebagai hari bersejarahnya. Resmi menjadi Sarjana Ekonomi dengan IPK 3,39 dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Dia tidak hanya membuktikan bahwa semua orang berhak mengubah nasibnya. Bahwa siapapun bisa sukses asal ada kemauan. Bahwa masih banyak generasi kita yang bermental pejuang. Suatu sikap mental yang mulai luntur, bahkan butuh usaha yang tak sedikit untuk mengupayakannya.

Sumber gambar : Hipwee

Perjalanan Asnawi, Sarjana Penjual Gorengan.

Sempat putus sekolah selepas menamatkan pendidikan di jenjang menengah pertama. Asnawi tak gentar untuk kembali ke bangku SMA saat usianya tak semuda teman-temannya. Di bangku SMA inilah niatnya untuk mencicipi pendidikan di Kota Pelajar mulai tumbuh.  Berkat program pertukaran pelajar yang diikutinya pada tahun 2010. 

Berbekal kemauan dan komitmen yang tinggi dan disiplin diri. Asnawi sangat lihai membagi waktu antara berbelanja kebutuhan berdagang, kuliah, menjajakan gorengannya, belajar dan tak lupa ibadah. Saya kira manajemen waktunya sangat ketat, padat namun tebukti membawa manfaat. 

Masih berbekal impian yang suci, Asnawi berencana untuk melanjutkan pendidikannya hingga ke jenjang S-2 ke luar negeri. Meskipun untuk saat ini dia ingin pulang kampung dulu. Berharap bisa bekerja di daerah asalnya dan membantu usaha orang tua. Sembari mencari peluang untuk mendapatkan beasiswa S-2. 

Ulet, berkemauan dan tak kenal gengsi. Maka tak salah jika kita aminkan cita-citanya menjadi presiden di tanah pertiwi. Amin.. Karena semua berawal dari MIMPI. Bahkan saat sebagian orang mulai ragu dengan mimpi-mimpinya, Asnawi berani mengucapkan impian ini.


GENGSI Tak Membuat Hidupmu BerGENGSI

Belajar dari pengalaman Asnawi, atau Asnawi-Asnawi lain di seluruh penjuru negeri ini. Saya merasa perlu untuk mengingatkan diri saya sendiri, bahwa gengsi tak dapat membeli apapun, terlebih mimpi-mimpi masa kecil saya. Gengsi tidak akan membuat hidup saya lebih bergengsi. 

Ya, saya juga manusia biasa yang sering khilaf. Sering kali saya nggak mau yang inilah, itulah. Alasannya ecek-ecek banget. GENGSI! Saat sudah berkepala tiga dan beranak dua pun, saya masih sering menjadikan gengsi sebagai alasan yang paling klasik. *tutupmuka. Nauzubillah, semoga anak-anak tidak menurun sifat buruk saya.


Menumbuhkan Mental Pejuang pada Anak

Sebenarnya, semenjak kecil saya sudah dididik jauh dari sikap gengsi. Dibesarkan seorang ibu single parent dengan 4 orang anak. Bekerja membantu ibu saya menggoreng tempe, tahu dan heci (bakwan sayur) sejak kelas 6 SD. Saya merasa mulai kebal dengan budaya gengsi.

Namun begitulah mengapa Tuhan membekali manusia dengan akal dan nafsu. Ada saatnya nafsu mengalahkan akal sehat saya. Ketika merasakan hidup sedikit membaik, penghasilan lumayan dan cukup untuk sedikit merubah gaya. Maka saya pun berpikir mampu membeli gengsi. Satu bentuk kebodohan yang tak ingin saya ulangi.

Kini, tak ubahnya orang tua dulu mendidik. Saya pun bertekad menjauhkan anak-anak dari budaya GENGSI.  Bersyukur kemauan ini di-aminkan oleh suami. Sehingga kami tak perlu berkompromi satu sama lain. Menumbuhkan mental pejuang pada anak-anak menjadi sangat penting di tengah gempuran  hedonisme, budaya konsumtif dan pencitraan yang tak kunjung berhenti.

Anak harus dilatih menghadapi kehidupan yang sesungguhnya di luar sana. (Gamar : Pixabay)


Kami merasa sadar sebagai orang tua masih fakir ilmu, jauh dari sempurna. Tapi bersama anak-anaklah kami belajar. Banyak hal ingin kami tanamkan, ajarkan dan tumbuh kembangkan pada anak. Tapi untuk urusan sikap mental, kami sadar harus menjadi prioritas.

Pembentukan mental anak bukan hanya dasar, namun juga modal bagi  untuk terjun dan survive dalam kehidupan yang sesungguhnya, yaitu lingkungan masyarakat luas. Bagaimana mereka harus menghadapi masalah, menyikapi perbedaan, menyelesaikan konflik, menerima kekalahan, memaknai kemenangan dan mensyukuri nikmat dari Tuhan.

Sikap-sikap dasar yang kami pun sebagai orang tua masih jauh dari panggang. Kami pun masih sering terbawa arus emosi, egois, frustasi, kurang kompromi. Yang nyata-nyata sama sekali tak menguntungkan untuk diikuti. Jadi menjauhkan anak-anak dari kebiasaan itu sungguh tantangan berat yang kami hadapi.

Masa depan tak dapat ditebak. Tugas orang tua menyiapkan anak untuk menghadapinya. ( Gambar : Pixabay)


Jadi berbahagialah teman-teman yang telah memiliki cukup 'modal' untuk putra-putrinya. Saya yakin, kita semua BISA karena TERBIASA. Dan MAMPU karena MAU BERUSAHA.

Selamat berjuang di medan laga kehidupan! ^_^





Permasalahan yang Kerap Dihadapi Ibu saat Menyapih

|



Sudah dua kali menyapih, ternyata tak membuat saya bebas dari permasalahan seputar sapih-menyapih. Empat tahun yang lalu, saat menyapih Najwa, bisa dibilang permasalahannya tidak terlalu berarti. Selain karena anaknya lebih mudah disapih dibanding adiknya. Najwa juga sudah mulai mengonsumsi susu botol. Ya, saya ibu yang gagal memberi ASIX pada anak perempuannya.*senyumkalem


Menyapih Anak Pertama.

Soal sapih menyapih, bisa dibilang sangat mudah bagi saya menyapih Najwa. Meskipun masih menggunakan cara lama, saya pakai plester saat menyapih Najwa. Tapi, Najwa bisa diberi pengertian sejak kecil. Sehingga dia dengan mudah langsung bilang, "nggak mau nenen lagi, karena nenen ibuk sakit." Cukup sekali plester, tanpa perlu rayuan dari ayahnya yang saat itu masih tinggal terpisah dari kami berdua.

Masalah setelah menyapih pun cenderung ringan. Najwa tak mengalami perubahan emosi pasca disapih, atau memiliki rutinitas baru seperti halnya Najib. Semua berjalan seperti biasa tanpa ada acara rewel berkepanjangan. Saya pun hanya dua kali mengalami bengkak pada payudara. Sekali di kantor, yang kedua pas sedang perjalanan dinas ke luar kota. Lumayan bikin keringat dingin yang kedua. Karena saat itu saya sedang menghadiri rapat dengan BOD.

Secara psikis, saya pun tidak terlalu galau pasca menyapih. Kalau perasaan ada yang kurang atau kangen suasana menyusui, itu sudah pasti ada. Saya yakin semua ibu menyusui pasti merindukan masa-masa itu. Hanya saja karena saat itu pekerjaan saya sangat padat, perhatian saya banyak teralihkan dengan dateline dan tugas-tugas kantor yang lain.


Menyapih Anak Kedua

Nah, lain anak lain pula pengalamannya. Meskipun berasal dari perut yang sama, yang sampai hari ini masih bergelambir lemak di mana-mana. Lah ... Malah tsurhat. *nyengir. Tapi tantangan yang saya hadapi saat menyapi anak kedua totally different dengan anak pertama.

Kalau dibilang karena faktor kedekatan yang berbeda, sebenarnya nggak juga. Meskipun saat Najwa kecil saya bekerja dan memakai jasa pengasuh untuk membantu merawatnya. Saya dan Najwa nggak pernah kekurangan quality time berdua. Tapi, beda memang saat anak kedua ini. Selain saya full di rumah, kami hanya tinggal berempat, tanpa ART atau anggota keluarga lain. Otomatis sejak lahir sampai hari ini Najib lebih banyak nempel saa saya. Faktor ini mungkin yang menyebabkan dia tidak hanya dekat, tapi cenderung tergantung sama saya. Akhirnya drama menyapih pun menjadi luar biasa.

Oh ya, cerita mengenai menyapih anak kedua ini sudah sata share di blog post Lika-Liku Menyapih Anak, ya.  Begitu pun mengenai tumbuh kembangnya pasca disapih. Sudah saya posting juga dengan judul "Najib dan Tumbuh Kembangnya Pasca Disapih". Silakan berkunjung ke sana untuk membaca sedikit pengalaman saya bersama anak kedua.

Permasalahan yang Dihadapi Ibu saat Menyapih

Penting banget bagi teman-teman yang berencana menyapih, untuk menjaga kondisi tubuh selalu fit. Atau menunda sementara rencana menyapih saat kondisi baik ibu maupun anak sedang kurang baik. Mengapa? Karena saat proses menyapih, biasanya baik ibu maupun anak akan mengalami beberapa masalah. Terlebih bagi ibu, yang kadang harus demam akibat payudara yang bengkak.

Permasalahan ini tidak selalu terjadi pada setiap ibu yang menyusui. Tapi berdasarkan pengalaman saya menyapih dua anak, juga cerita sesama busui. Setidaknya ada 3 masalah yang kerap dialami ibu pasca menyapih.

1. Payudara bengkak

Sumber gambar : Vemale(dot)com


Kondisi ini hampir pernah dialami oleh semua ibu menyusui. Payudara bengkak, akibat ASI terlalu penuh. Menurut ibu-ibu yang menyapih dengan cara perlahan atau WWL, masalah ini umumnya jarang terjadi. Ya, karena pengosongan payudara terjadi secara perlahan. Seiring berkurangnya frekuensi menyusu, maka rangsangan pada kelenjar payudara pun menurun. Sehingga secara otomatis produksi ASI menurun dan pengosongan payudara pun terjadi.

Namun, tak sedikit juga yang mengalami pembengkakan pada payudaranya pasca menyapih. Saya pun mengalaminya saat menyapi anak pertama dan kedua. Pada saat menyapih anak kedua bahkan berlangsung hingga hampir dua minggu. Setiap 2 hari sekali payudara terasa berat dan panas. Bahkan sempat jatuh sakit dan demam.

Solusinya

- Kompres dingin dan hangat secara bergantian

Untuk mengurangi rasa sakit akibat bengkak pada payudara, saya melakukan kompres dingin dan hangat secara bergantian. Kompres dingin untuk mengurangi nyeri dan panas. Sedangkan kompres hangat untuk mengendurkan kelenjar payudara yang menegang. Cara ini lumayan efektif dan dapat menimbulkan rasa nyaman.

- Perah ASI sedikit untuk mengurangi isinya

Secara teori sih, kalau payudara diperah justru akan memicu produksinya. Tapi saya nekat saja, memerah sedikit untuk mengurangi isinya. Saya lakukan saat payudara terasa mulai membengkak saja, dan nggak sampai benar-benar kosong. Hanya 100-150 ml saja. Lumayan membantu mengurangi rasa sakit. Selama dua minggu, 4 kali saya memerah ASI. Selebihnya payudara sudah terasa semakin kosong. Jadi nggak bengkak lagi.

2. Emosi tidak stabil

Kelelahan dan emosi tidak stabil. (sumber gambar: Vemale(dot)com)


Seperti halnya saat mulai memberi ASI, saat menyapih pun kondisi emosi ibu sering tidak stabil. Ada rasa bersalah atau kehilangan. Faktor perubahan hormon pada ibu pun memiliki pengaruh besar pada perubahan emosi ini. Jujur untuk masalah yang kedua ini saya mengalaminya. Makanya saya sampai dua kali gagal menyapih, baru yang ketiga berhasil. Itupun berkat dorongan dengan sedikit dipaksa suami.

Momen bercanda bersama anak saat menyusu selalu membuat rindu. Belum lagi kalau anak rewel atau sakit, saya masih sering merasa bersalah, karena tidak dapat mendekapnya sambil menyusui. Situasi seperti ini sering kali memuat emosi naik turun. Sebentar tenang, tiba-tiba diam dan menangis.

Solusinya

Selalu bersikap tenang, terlebih saat anak rewel. Usahakan untuk menarik napas dalam-dalam. Hibur diri sendiri dan yakinlah bahwa ini hanya sementara. Minta bantuin suami saat anak mulai rewel, cara ini bisa sedikit mengalihkan perhatian kita pada rasa bersalah.

Istirahat cukup, kondisi fisik yang lelah sangat mudah memicu emosi ibu. Usahakan ikut tidur saat anak tidur. Tidak perlu lama, yang penting cukup untuk mengembalikan stamina. Selebihnya kita bisa melakukan aktivitas yang disukai untuk membuat suasana hati pulih kembali.

3. Perubahan berat badan



Pasca menyapih, berat badan ibu bisa saja naik atau bahkan turun.  Hal ini dipengaruhi metabolisme tubuh dan aktivitas masing-masing ibu. Kalau saya cenderung naik *tutupmuka.

Solusinya

Jaga pola makan dan aktif bergerak. Sepertinya dua cara ini paling ampuh membabat habis lemak di sekujur tubuh ibu-ibu bergajih seperti saya. Uhuk... Tapi, berdasarkan pengalaman anak pertama sih, ini tidak berlangsung lama. Beberapa bulan setelah menyapih Najwa dulu, berat badan saya normal kembali. Malahan cenderung lebih langsing. Semoga kali ini jadi langsing juga. 

Bisa jadi perubahan berat badan ini dipengaruhi faktor hormon dan psikis. Segera setelah hormon tubuh kembali normal, pikiran lebih tenang dan terbentuk ritme baru yang lebih bersahabat. Maka berat badan pun akan kembali ideal. I Hope...


Nah, demikian pengalaman saya setelah melalui dua kali menyapih. Saya sarankan teman-teman pakai metode WWL aja sih, karena lebih aman dan nyaman untuk ibu dan anak. 

Kalau teman-teman bagaimana pengalamannya? Boleh share, dong! ^_^




Najib dan Tumbuh Kembangnya Pasca Disapih

|

Hari pertama pasca disapih, saya merasa surprise dengan aksinya mengayuh/menggowes sepeda. Tiba-tiba saja Najib turun dari gendongan ayahnya, berjalan menuju tempat sepedanya diparkir berjejer dengan dua sepeda lainnya. 

Tidak seperti biasanya, dia langsung naik dan menggowes. Wah, Adik hebat! begitu seru kami secara bersamaan. Najib memang mulai tertarik bersepeda sejak mulai lancar berjalan. Tentu saja sepeda roda tiga yang saya maksudkan. Namun, selama ini dia hanya menggerakkan sepeda dengan cara menyeret memakai kedua kakinya. 

Alhamdulillah kaki Najib  kuat. Dia biasa menyeret sepeda sampai lumayan jauh, bahkan mengikuti kakak dan saudara sepupunya yang sedang menggowes juga. Hobi itu sudah lumayan lama. Sejak usianya sekitar 14 bulan.

Baca juga : Lika-Liku Menyapih


Rewel dan Sering Mengigau saat Tidur

Bermain pasi di Taman Legenda, TMII.

Hari-hari awal pasca disapih, tentu saja dia rewel nggak karuan. Ada saja yang jadi pemicu untuk nangis, terutama nenjelang waktu tidur. Ya, biasanya kan dia nenen, jadi langsung anteng di ketek saya, upss! Nah, sekarang dia nggak punya pelampiasan. Jadi semacam kurang kasih sayang gitu. Padahal kami justru sangat memerhatikan. Lha tapi namanya sedang galau, tetep saja dia nangis.

Kami berusaha merubah rutinitas sebelum tidur. Biasanya dia nenen sambil dengerin saya cerita. Sekarang saya ganti Najwa yang menemani. Sedangkan saya duduk di sampingnya  sambil membacakan buku cerita. Guling atau boneka saya sandingkan di sebelah tidurnya.  Bagaimana pun Najib butuh pengalihan, sesuatu yang bisa membuat nyaman atau dipeluk sewaktu tidur.

Pada awalnya, cara itupun tidak berjalan mulus.  Najib minta memegang payudara saya. "Egang doang, entar aja ya?" (pegang doang, sebentar saja ya) , begitu katanya. Memang sih, cuma sebentar, tapi saya nggak mau hal baru ini jadi kebiasaan. Jadi, hanya sekali dua kali saja saya turuti. Selebihnya tetep dengan rutinitas baru, yaitu dibacakan buku sebelum tidur. Ya, meskipun harus dengan merayu-rayu.

Saat tidur pun Najib jadi sering mengigau. Menangis memanggil ayah, kakak atau teman-temannya. Kejadian seperti ini berlangsung berulang-ulang dalam sekali tidur. Kadang-kadang malah sambil nangis dia bangun, berjalan memanggil teman-temannya. Ini bisa terjadi kapan saja,loh. Bahkan jam 12 atau 2 malam, kami biasa mengikuti dia yang terbangun sambil menangis trus minta dibukakan pintu rumah. Saya sempat khawatir dan nggak tega. Hampir menyerah begitu saja.

Demam Naik Kuda

Naik Kuda Poni di Taman Safari. Biasanya Kuda tunggang biasa di KBT.


Maksudnya bukan badan panas demam, ya. Ini beneran Najib jadi seneng banget naik kuda. Setiap nangis, selain mencari teman-temannya. Najib bakalan ngomong "naik Ik Ak!" Ik Ak adalah caranya melafalkan kuda. Saya sempat bingung mengartikannya. Baru sadar setelah Najib menunjukkan gambar kuda. Mungkin sebutan itu berasal dari cara kai menirukan suara kuda, Iiikkkaaaa ... Jadilah Najib menyebutnya  Ik Ak. Hehehe ... Waspada mengajari anak.

Tapi beneran dia jadi berani naik kuda sendiri, cuma ditemani abang-abang yang menuntun kudanya. Biasanya kan selalu didampingi ayahnya atau Najwa. Setiap lihat kuda juga selalu minta naik. Mainan  dan guling di rumah pun semua diibaratkan kuda. Jangan mainan, kamipun harus bergantian menjadi kudanya. Ckckckck .. payah banget yang terakhir ini.

Makan lebih banyak 

Selain perubahan emosi yang lumayan butuh diperhatikan. Hal-hal positif  mulai nampak pasca disapih. Salah satunya porsi makan yang semakin besar. Sebelumnya porsi makannya sudah lumayan sih. Tapi sekarang semakin besar dan beragam. meskipun tidak diikuti kenaikan berat badan yang signifikan.

Najib mulai merequest sayur dan lauk yang diinginkan. Begitu pun pada saat jam makan tiba, dia akan minta diambilkan makanan. Entah itu nasi sama sayur, roti sama susu atau biskuit sama air putih. Dia akan minta sesuai keinginannya. 

Kalaupun minta nambah, Najib akan bilang. Sebelum disapih, kebutuhannya memang banyak dicover oleh ASI. Sekarang baru terasa lapar dan butuh lebih banyak asupan. Porsi camilan dan buah pun bertambah. Sekarang bisa bebetapa kali minta biskuit atau kue. Kadang-kadang kalau sore masih minta dibelikan Siomay, Cakwe atau Donat. Saya sih, seneng-seneng aja. Ibu mana yang nggak seneng lihat anaknya doyan makan?

Kosakata Bertambah dan Semakin Cerewet

Menggunting sebagai salah satu kegiatan favorit sejak disapih.


Seiring kemauannya yang terus bertambah dan mulai me-request banyak hal. Najib menunjukkan perkembangan menggembirakan lainnya. Ngomongnya jadi nggak ada habis-habisnya. Dia pun berusaha menirukan beberapa kata yang kami ucapkan.

Misalnya kalau saya tanya, "Adik mau makan apa? Nasi sama sayur atau roti dikasih coklat?" Najib akan menjawab aci ama ayur ( nasi sama sayur) atau oti ama otat (roti sama coklat). Begitu pun saat minta minum. Dia sudah bisa membedakan mau pakai botol, cangkir atau gelas. Susu, teh, jus atau air putih. Tentu saja semua diucapkan dengan caranya. tapi ini amazing banget buat saya. Karena sebelumnya Najib cenderung lebih anteng dan nurut saja apa yang kami berikan.

Selain itu, Najib mulai suka menceritakan kegiatan sehari-harinya. Biasanya, malam hari dia akan tidur setelah ayahnya pulang dari kantor. Setelah obrolan kecil tentang kegiatannya di siang hari, baru dia akan tidur. Hal ini juga yang membuat jadwal tidurnya jadi semakin malam. Kadang-kadang sampai jam 10 atau 11 malam.

Saya sering merasa kecapekan, karena biasanya jam 8 sudah ikut tidur menemani anak-anak. Baru nanti malamnya bangun lagi. Sekarang harus stand by sampai jam 10an. Tapi apa yang lebih menggembirakan dari mendengarkan celotehannya bersama suami? Saya suka tertawa sendiri melihat ekspresi maupun caranya mengucapkan kata-kata yang dimaksud. Lucu karena nggak jelas, begitu pun ekspresinya yang sering berubah-ubah.


Lebih Percaya Diri

Mulai berani bermain sendiri.


Dalam hal kepercayaan diri, kami juga merasakan perkembangan yang lumayan pesat pada Najib. Misalnya saat bertemu orang baru, dia akan berusaha menyapa dan mengajak kenalan. Tentu saja sebagian masih kami arahkan, tapi dia berani melakukan sendiri tanpa didampingi.

Begitu pun untuk urusan bermain, Najib mulai suka main di rumah sepupunya, meskipun tidak kami temani. Biasanya setelah saya antar, dia meminta saya pulang. Jika diajak pergi ke tempat umum, dia tidak lagi malu-malu dan nempel sama saya. Najib mau berkenalan dan menyapa siapa saja. Bahkan abang-abang jualan di rumah pun mulai biasa diajaknya ngobrol.

Dua minggu ini Najib tertarik untuk ikut teman-temannya sekolah di PAUD. Sebenarnya saya belum ada keinginan untuk mendaftarkan. Tapi karena anaknya mau, akhirnya saya ikuti saja. Itung-itung main. Dari awal, dia langsung merasa nyaman, baik dengan guru-gurunya, aktivitas di PAUD maupun teman-temannya.

Belum saya daftarkan sih, jadi masih semau dia aja. Kalau pagi harinya saya tawari dia mau, ya berangkat. Kalau nggak, ya main di rumah saja. Setidaknya dia punya aktivitas baru sebagai pengalihan dan belajar banyak hal dalam bersosialisasi dengan orang luar. Termasuk menghadapi anak-anak yang gaya pengasuhannya berbeda.

Kalau saya ceritaian semua, bisa panjang banget ini blog post. Hehehe ... Ya, namanya juga ibu-ibu, pasti girangnya setengah mati kalau melihat tumbuh kembang anaknya positif. Saya yakin teman-teman juga sama seperti saya.

Nah, kalau boleh saya simpulkan.  Pasca disapih memang biasanya anak butuh rutinitas baru sebagai pengalihan. Terlebih untuk yang diasuh sendiri sama ibunya, karena tidak ada orang lain yang bisa menggantikan. Tapi, semua itu nggak lama kok, hanya sementara dan akan segera berlalu. Tentunya setelah anak-anak menyesuaikan diri, terutama secara psikologis.

Kalau dari pengamatan saya selama satu bulan ini. Pasca disapih biasanya anak mengalami beberapa hal berikut:

Mendapat teman baru kemudian bermain bersama di Ancol.


Kondisi Emosi dan Fisik Pasca Disapih
  1.  Kurang stabil di awal penyapihan, tenang lalu tiba-tiba menangis itu sudah biasa. Tapi ini tergantung kesiapan anak juga.
  2.  Butuh rutinitas baru sebagai pengalihan, atau bisa juga karena pelampiasan.
  3. Lebih sering rewel bahkan tantrum bagi sebagian anak, karena merasa tidak diperhatikan kebutuhannya (menyusu).
  4. Jadwal tidur atau jam biologis anak sering kali berubah.
  5. Makan lebih lahap dan porsi bertambah karena merasa lapar. Meskipun bagi sebagian anak yang saya kenal ada juga yang malah  jadi susah makan. So, orang tua musti tanggap dan kreatif dengan menu khusus anak.
  6. Khusus Najib, berat badannya tidak bertambah atau berkurang secara signifikan. Mungkin karena perawakannya memang kurus tinggi. Sedangkan beberapa anak bisa bertambah gemuk karena porsi dan frekuensi menyusu di botol juga meningkat.
  7. Perkembangan psikomotorik meningkat, setidaknya itu yang saya amati pada Najib. 
  8. Lebih percaya diri, baik dalam bersosialisasi maupun mengasah kemampuan sendiri.
  9. Tidak terlalu tergantung pada saya. Sekarang Najib bisa tidur dengan siapa saja termasuk neneknya. Bahkan untuk mandi, makan dia biasa me-request dengan siapa yang diinginkan.
  10. Rasa ingin tahu meningkat, karena semakin banyak waktu untuk bermain dan mencoba hal baru. Beda dengan saat masih menyusu, karena Najib cenderung jam menyusunya tidak teratur. Bisa kapan saja dan lama. Sekarang, jam-jam itu full untuk bermain-main saja.

Teman-teman yang masih menyusui, pasti nantinya punya pengalaman yang berbeda. Karena setiapanak cenderung memiliki ritme berbeda pasca penyapihan. Tergantung kondisi anak sebelum disapih dan gaya pengasuhan orang tua. Ada banyak juga orang tua yang tidak mengalami masalah yang terlalu berarti saat menyapih.Tentu saja ini yang diharapkan semua orang tua.

Tapi tak perlu khawatir, setiap fase bersama anak itu ada seninya. Dan sering kali menimbulkan kerinduan karena tidak bisa diulang. Jadi dinikmati saja. Meskipun saya sendiri bukan tipe ibu sempurna. Yang sabar, telaten dan stabil secara emosional. Saya berusaha menikmati masa-masa ini dengan segala keterbatasan.

Kalau teman-teman yang sudah menyapih, boleh sharing dong, bagaimana pengalamannya?

Custom Post Signature

Custom Post Signature