Parenting Story, Mom's Life, Tips

Pernikahan dan Lika-Likunya setelah "Laku"

|


"So, it's not gonna be easy. It's going to be really hard. We're gonna have to work at this everyday, but I want to do that because I want all of you, forever,everyday. You and me ... everyday." - Nicholas Spark

Gambar: Pixabay

Ada yang bilang, menikah nggak seindah masa-masa pendekatan. Ya, bisa jadi sih. Karena pada masa pendekatan itu kita masih bertahan dengan kehidupan masing-masing. Yang pastinya punya cara, kebiasaan, visi dan egoisme masing-masing juga. Goal-nya pun pasti target masing-masing.


Kemudian pernikahan menyatukan segala perbedaan itu dalam sebuah kapal untuk kemudian berlayar mengarungi bahtera kehidupan. Ciee .. sok banget bahasanya. Dan pada akhirnya, hanya satu nahkodalah yang akan mengambil alih kendali. Untuk memimpin hingga ke ujung perjalanan. Awak kapal harusnya nggak perlu merasa tersingkir. Karena beberapa keputusan harusnya telah dipertimbangkan bersama. Tapi tetap ya, final decision-nya ada di sang nahkoda.


Sampai pada situasi ini, biasanya egoisme dan visi pribadi mulai bermunculan kembali. Seperti minta “diberikan tempat”. Belum lagi kebiasaan yang berbeda, cara menyikapi permasalahan, cara hidup dan bersikap. Dan masih banyak lagi hal yang menyebabkan pernikahan harus menghadapi jalan yang berliku. 


Itu baru dari faktor “dalam”, dari “luar” pun tak kalah ganasnya. Realita kehidupan ini ternyata terlalu keras, jika menikah hanya bermodalkan cinta, tanpa kesatuan visi dan misi untuk menjalaninya. Manalah mampu menghadapi terjalnya perjalanan.


Saya sering berpikir, ternyata menikah itu butuh strategi juga. Strategi menghadapi desakan ekonomi, itu realita yang hampir pasti dihadapi. Hingga akhirnya pasangan suami istri menjadi lebih mengerti bagaimana caranya survive . Tapi, strategi menghadapi pasangan itu tak kalah penting. Karena mau tak mau, dengan suami atau istri inilah akhirnya kita menghabiskan hari, kemudian  membuat kita jatuh cinta setiap hari, lagi dan lagi.


Dalam hal pernikahan, saya masih banyak “meraba” saat menjalaninya. Menjelang usianya yang ketujuh, ternyata kami berdua masih sangat menikmati “ilmu kebatinan”, hehehe ...  Bukan dukun saja yang suka ilmu ini, kami berdua juga masih suka mempraktikkannya. Masih ada banyak hal yang terlewat kami komunikasikan secara verbal. Yang pada akhirnya, kami terbiasa mengamatinya melalui gerak-gerik satu sama lain. Meskipun kami tahu kebiasaan ini rawan menimbulkan salah paham.


Pernah suatu ketika kami membahas tentang sebuah kebiasaan yang akan ditularkan pada anak-anak. Nah, di situ mulai muncul perasaan tidak suka pada kebiasaan satu dan yang lainnya. Oo … ternyata. Coba ngomong dari awal, pasti ada dua kemungkinan. Antara nggak jadi nikah, atau tetep nikah dengan pengetahuan yang lebih banyak tentang pasangan. Ya, kan. Ya, Kan? Hehe...


Memang pada akhirnya, segala perbedaan itu semakin kentara setelah hadirnya anak. Dan benar bahwa anak adalah cerminan orang tuanya. Karena mau tak mau mereka akan meniru segala kebiasaan kita. Baik dari sisi suami maupun istri. Bersyukur kalau yang ditiru yang baik-baik. Kalau yang jelek? Ya, berarti tugas rumah sudah menanti.

Menikah dan menjadi orangtua memang semakin menambah lika-liku kehidupan. Mengapa? Karena semua orangtua pasti memiliki obsesi pada anak-anaknya. Ingin menularkan segala kebiasaan, kesenangan, impian dan cara masing-masing dalam memandang kehidupan. 


Sampai pada tahap ini, komunikasi menjadi semakin vital karena kompleksitas dalam berumah tangga kian tinggi. Tidak hanya melibatkan dua kepala lagi,  tapi 3, 4 atau bahkan 5. Dan seperti halnya orang tua yang memiliki keberagaman tujuan dan karakteristik yang mengakar. Begitu pun halnya dengan anak-anak.


Pada sebuah obrolan ringan, suami  pernah menyampaikan alasannya,mengapa selama ini cenderung tidak mengomentari kebiasaan-kebiasaan saya. Alasan mengenai segala perbedaan yang sudah dibawa sejak lahir, visi serta pengalaman hidup yang berbeda. Membuatnya tak mau terlalu banyak memberi aturan.


Untuk pakem tertentu dalam berumah tangga, kewajiban suami istri, pengasuhan anak tentu saja banyak hal kami sepakati. Namun dalam area yang terlalu pribadi, tentu saja kedua belah pihak tidak bisa masuk terlalu dalam. Karena pada dasarnya setiap pribadi tetap memiliki “area pribadi” yang tak ingin disentuh atau bahkan diubah oleh siapapun orangnya.


Pemahaman dan penerimaan atas “area pribadi” ini memang tidak semudah yang dibayangkan. Karena sangat sensitif dan subyektifitasnya tinggi. Biasanya hal-hal yang ada dalam area pribadi ini sudah mengakar kuat dalam diri seseorang. Tapi bukan tidak mungkin untuk mendapatkan sentuhan baru. Hanya saja diperlukan cara-cara yang tidak memaksa, sehingga lebih mudah dalam menjalaninya.

Sampai di sini tugas rumah datang lagi, "memberi sentuhan baru, tapi bukan memaksa", noted.

Semakin lama usia pernikahan, apakah jalan yang dilalui semakin lurus tanpa liku? Tentu tidak, karena tantangan baru selalu menunggu di setiap rentang waktu. Setelah masalah komunikasi dan ekonomi dapat dilalui. Maka masalah pengasuhanlah yang lumayan menguras energi. Mengapa? Karena rentang waktunya sangat lama. 

Selama kita hidup bersama anak-anak, hingga akhirnya kita tua dan mati. Maka saat itulah tugas sebagai orangtua baru berhenti.” Begitu nasihat suami pada suatu kesempatan diskusi.


Kemudian saya menerawang kembali, sudah ratusan kali mengeluh dalam hati dengan segala kelelahan ini. Lah, ternyata masih panjang lika-liku yang harus dilalui. Bukan 5 atau 10 tahun lagi. Tapi bisa jadi belasan atau puluhan tahun lagi. Menjaga energi dalam hati menjadi sama pentingnya dengan memastikan kondisi fisik tetap mumpuni.


Meskipun setiap orang menginginkan jalan yang lurus untuk dilalui. Tapi kenyataannya tak ada jalan yang lebih asyik selain yang berliku ini. Adanya belokan memaksa kita untuk sesekali berhenti. Beristirahat, me-recharge energi untuk kemudian memetik hikmah dan mulai berjalan kembali. Lika-liku ini juga membuat kita lebih berhati-hati, agar tak lepas kendali sehingga keluar dari jalur yang telah dibatasi.


Sekarang, saya suka tertawa sendiri. Ternyata, setelah “laku” (menikah) itu banyak sekali lika-likunya. Ya … Dinikmati saja. Sambil berharap dan berusaha hasil akhirnya senikmat perjalanan ini. Toh, kita pasti dengan senang hati melewati setiap lika-liku ini. Karena kita telah memilih, dan pernikahan itu menurut saya adalah sebuah pilihan. 

Have a great journey in your life. Enjoy it!




Tomoe Gakuen, Mr. Kobayashi dan Hasil Pendidikan yang Membentuk Karakter Totto Chan

|
"Serahkan mereka kepada alam, jangan patahkan ambisi mereka. Cita-cita mereka lebih tinggi daripada cita-cita kalian" - Sosaku Kobayashi.



Suasana peringatan Hari Pendidikan Nasional masih hangat terasa. Banyak kalangan baik aktivis  maupun pemerhati pendidikan masih terus menyuarakan visi dan misinya tentang bagaimana seharusnya pendidikan di negeri ini. 

Bertepatan dengan hal itu, para pelajar berseragam “putih biru” terlihat mengadu nasib di meja ujian. Ya, peringatan Hardiknas tahun ini bebarengan dengan ujian nasional untuk siswa siswi tingkat SMP. 

Sebagai orang tua, pengalaman saya memang masih minim terkait serba-serbi bangku sekolah anak. Baru tahun ini berencana mendaftarkan Najwa ke sekolah SD. Pilihan kami pun terbatas di SD negeri dan swasta yang paling dekat dengan rumah. Memang batasan itu kami sendiri yang membuat, mengingat kami tinggal di Jakarta dan sangat menghindari menyekolahkan anak di tempat yang jaraknya relatif jauh dari rumah.


Dalam hal mendidik anak, saya setuju bahwa orang tua tetap mengambil porsi terbesar. Ibaratnya, sekolah hanyalah tempat bersosialisasi, menambah pengalaman nyata dan mengambil materi. Namun dalam penjabaran dan pengaplikasiannya. Rumah dan orang tua harus mendominasi. Memberikan pondasi yang akan dijadikan sebagai pijakan bagi mereka kelak.


Berbicara tentang sekolah dan pendidikan, saya kembali teringat dengan Tomoe Gakuen. Sebuah sekolah di Jepang yang berdiri pada zaman perang Asia-Pasifik. Teman-teman yang memiliki koleksi buku “Totto Chan, Gadis Cilik di Jendela” pasti sudah tidak asing lagi dengan nama sekolah ini. Ya, karena buku memoar Totto Chan begitu terkenal.Tidak hanya di Jepang, negara yang menjadi saksi bisu keberhasilan model pendidikan Tomoe Gakuen. Buku Totto Chan bahkan telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa, termasuk bahasa Indonesia. 

Sempat menjadi best seller di zamannya, dan dibaca oleh para pemerhati pendidikan. Sekilas mungkin Temans penasaran dengan apa yang terjadi dalam sistem pendidikan di Tomoe Gakuen. Sekolah yang bisa dibilang “biasa” saja pada saat itu. Bukan sekolah pemerintah yang penuh dengan fasilitas. Tapi mereka memiliki model pendekatan dan pembelajaran yang “tidak biasa”. Yang akhirnya melahirkan anak-anak yang “luar biasa”. 

Adalah Sosaku Kobayashi, seorang pendidik sejati yang memiliki gagasan tentang Tomoe Gakuen. Kecintaannya pada anak, dan pemahamannya tentang karakter dasar anak tidak perlu diragukan lagi. Pada dasarnya, semua anak memiliki karakter baik. Orang dewasa dan lingkunganlah yang kemudian merusaknya. Entah secara sengaja atau tanpa disadari.


Sikap terbuka yang ditunjukkannya pada siswa siswi Tomoe Gakuen, mau tak mau membuat anak-anak nyaman berbagi apapun dengannya. Pendekatan model inilah yang memungkinkan seorang guru menanam dan menumbuhkan hal baik pada anak.


Tomoe Gakuen bukan model sekolah mutakhir dengan jadwal pelajaran padat dan beragam ekstrakurikuler. Tapi model sekolah sederhana, dengan beragam cara untuk menumbuhkan minat dan kecintaan anak pada bidang yang disukainya. Kegiatan yang biasa disebut ekstrakurikuler pun terlalu berlebihan. Tapi, banyak hal dilakukan sebagai bentuk pembiasaan pada anak. Sebagai sarana membentuk rutinitas dan memasukkan nilai-nilai untuk ditanamkan pada jiwa-jiwa yang masih polos dan suci.




Bagi Mr. Kobayashi, belajar tidak selalu duduk rapi di dalam kelas, tidak harus mengikuti jadwal berurutan yang ditentukan oleh pihak sekolah, dan tidak sebatas pelajaran bahasa, hitungan atau menghafal.


Berjalan-jalan di lingkungan sekitar sekolah adalah bagian dari memelajari ilmu alam. Makan siang bersama adalah saatnya berbagi dan mengenal aneka bahan makanan yang berasal dari gunung dan laut. Jam olahraga adalah saatnya membentuk kepercayaan diri dan menghilangkan perbedaan antara sesamanya.


Model pembelajaran di Tomoe Gakuen terlihat spontan dan alamiah. Tapi saya yakin Mr. Kobayashi dengan pemahamannya yang tinggi tentang sifat dasar anak telah merencanakannya dengan sedemikian rupa. Boleh jadi anak-anak menganggap mereka hanya bermain-main di sekolah. Namun sang kepala sekolah sudah paham betul. Materi apa saja yang diselipkan di antara kesenangan-kesenangan itu.


Dalam banyak kesempatan, Mr.Kobayashi selalu berkata, “Kau benar-benar anak baik”. Ucapan ini terus ditujukan kepada anak didiknya dan memberikan efek positif terhadap perkembangan karakter anak.  Mendengar orang lain menyebutnya “anak baik”, alam bawah sadarnya akan merekam dan menjadikannya ingatan masa kecil yang mendasari perkembangan jiwa anak.


Hal ini pulalah yang membuat seorang anak yang pernah dikeluarkan dari sekolahnya, Totto Chan. Tumbuh menjadi pribadi yang memesona. Totto Chan terus mengingat kata-kata Mr. Kobayashi, bahwa dia adalah anak yang baik. Kata-kata sederhana yang mampu menjadi "rem" dalam setiap tindakannya. Dan pendorong baginya untuk memberi arti dalam kehidupan ini.




Tidak hanya dibiasakan untuk berbuat baik dan menyayangi sesama makhluk Tuhan. Totto Chan dan kawan-kawan dibiasakan untuk menghargai perbedaan dan tidak menjadikannya sebagai sebuah permasalahan. Mereka juga didukung untuk terus mengasah empati, meluapkan rasa ingin tahunya terhadap suatu permasalahan, dibiarkan mencari solusi dan diberikan tanggung jawab atas hal-hal yang telah dilakukannya.


Semua ini tentu saja tidak hanya dilakukan melalui teori-teori dalam kelas. Tapi dalam berbagai kegiatan dan kesempatan. Bahkan permasalahan yang sengaja dirancang untuk memantik kecerdasan berpikir dan bertindak bagi anak.


Bagi saya, Tomoe Gakuen adalah sekolah “luar biasa”. Sekolah yang mampu membuat anak-anak betah setelah bel pulang berbunyi. Atau membuat anak-anak tak tahan untuk segera ke sekolah saat bangun di pagi hari.


Mungkin, model sekolah dengan pembelajaran seperti di Tomoe Gakuen bisa menjadi angin segar di dunia pendidikan. Terlebih bagi orang tua yang memiliki anak-anak kritis dan cenderung susah diajak duduk berlama-lama di kelas. Atau mengikuti banyak ekstrakurikuler dan les sebagai pengisi kegiatan di luar jam sekolah.


Apalagi jika sekolah bisa menjadi jembatan, yang mengantarkan anak memahami sifat baik pada dirinya melalui pembiasaan sehari-hari. Sehingga pendidikan karakter tak lagi butuh untuk dijabarkan dalam berlembar-lembar kurikulum pendidikan yang minim pengalaman nyata.


Ah... Sepertinya ini hanyalah impian dan curhatan BukNaj yang sedang mencari sekolah untuk Najwa. Meskipun kadang impian tak seindah kenyataan, tapi memiliki sebuah pegangan sebagai role model wajib hukumnya. Sehingga, sebagai orang tua kami bisa membantu memenuhi kebutuhannya akan ilmu dan pengalaman yang tak didapatnya di bangku sekolah formal. Semoga ...













Personal Branding For Stay at Home Mom, Yay or Nay?

|




Personal Branding is about being authentic, true, and yourself 
~ Artha Julie Nava ~

Gambar: Pixabay

Pertanyaan ini sudah lama melintas dalam benak saya. Sebagai ibu rumah tangga, perlukah saya membranding diri untuk suatu hal? 

Mungkin lebih mudah ketika saya masih bekerja kantoran. Atau saat  masih menjalankan bisnis retail baju muslim dan souvenir pernikahan. Atau, barangkali sebagian besar teman- teman baik di dunia nyata maupun maya terlanjur mengenal saya sebagai pebisnis MLM produk kosmetik luar. Hem … Tak terasa, banyak juga yang sudah saya lakoni sembari menjalankan tugas utama sebagai istri dan ibu dari dua bocah.


Belakangan ini, kurang lebih 3 tahun terakhir sejak 2014. Saya sempat kebingungan menentukan arah dan tujuan saya nanti di masa depan. Mengasuh dan membesarkan anak-anak dengan tangan saya sendiri, itu sudah pasti. Itu sebabnya saya memilih menjadi stay at home mom. Atau menjadi pendamping yang se-frekuensi dengan suami, yang itu pun tak perlu saya jelaskan lagi. 

Baca juga: Sharing is Caring

Keduanya merupakan tujuan utama saya sebagai seorang wanita yang menjatuhkan pilihan hidupnya untuk menikah dan berumah tangga.


Tapi, secara pribadi sebagai perempuan. Tentu saya memiliki cita-cita yang terus saya genggam dengan erat. Bukan hanya tentang pengakuan, tapi semacam tanggung jawab pada kehidupan dan nilai yang selalu ditanamkan oleh orang tua saya. Sebagai manusia kita harus bermanfaat bagi yang lain, bukan hanya diri sendiri.


Dalam salah satu artikel personal branding yang ditulis oleh coach Artha Julie Nava. Artikel yang berjudul “Ibu Rumah Tangga, Perlu Personal Branding juga?” di www.arthajulienava.com. Beliau berpendapat bahwa ibu rumah tangga, atau stay at home mom, PERLU untuk membangun branding dirinya. 


Saya pun mengamini pendapat coach Artha, karena menurut saya personal branding bukan sekedar penanda sebagai siapa kita ingin dikenal. Tapi agar arah dan tujuan kita di masa depan semakin jelas, fokus dan memungkinkan menjadi expert di bidangnya.


Personal Branding adalah tentang bagaimana Anda melakukan redesigning for self image, dengan melakukan sesuatu hal yang memiliki nilai unique dan special yang tidak dimiliki oleh orang lain. (Dwiarko Susanto)


Gambar : Pixabay


Bagi ibu rumah tangga, atau saya lebih nyaman menyebutnya stay at home mom untuk ibu-ibu yang tidak bekerja di luar rumah. Tentu bukan perkara mudah untuk menentukan arah yang akan dituju terkait dengan branding dirinya. Benar kata Coach Artha, kebiasaan menjadi pribadi yang multi tasking mau tak mau membuat saya merasa “mampu” melakukan banyak hal.



Dalam hal pekerjaan rumah tangga, tentu saja saya “mampu”. Karena sebenarnya, kondisilah yang membuat kami para perempuan mampu untuk melakukan ini dan itu dalam waktu bersamaan. Selain karena cara kerja otak perempuan memang memiliki kemampuan berpindah dengan cepat. Dari bagian satu ke bagian lainnya, yang memungkinkan mereka bisa melakukan beberapa pekerjaan secara bersamaan.



Tapi, kebiasaan ini pun ternyata membawa efek samping bagi sebagian besar stay at home mom. Karena terbiasa melakukan aneka peran, maka Supermom Syndrome lekat pada diri mereka. Ingin memelajari banyak hal, merasa mampu membagi waktu dengan cermat. Semuanya ingin dilakukan dan dimiliki dalam waktu bersamaan.



Mengenai hal ini, suami saya sudah sangat sering mengingatkan. Bahwa sebagai manusia, kemampuan kita memang tidak terbatas, asalkan kita mau mengembangkannya. Tapi kita tidak bisa memungkiri, bahwa waktu, tenaga dan biaya adalah tiga hal yang tidak bisa dinafikkan akan menjadi pembatas utama.

Saya pun sempat mengalami Supermom Syndrome, ketika anak pertama lepas masa batita. Sempat kewalahan karena belajar menjahit, baking sekaligus tata rias, ditambah obsesi saya untuk dapat mengaplikasikan teori montessori rumahan pada Najwa. Saya yakinkan diri sendiri bahwa dengan 24 jam berada di rumah, seharusnya saya lebih leluasa mengatur waktu untuk memelajari banyak hal.



Kenyataannya? Semua tidak bertahan lama. Kalau orang bilang, “anget-anget tai ayam”. Nggak ada satu pun yang membuat saya memiliki komitmen tinggi untuk terus melakukannya.



Sempat menghasilkan beberapa potong baju dan mukena untuk Najwa. Tapi saya mulai menyerah saat salah membuat pola atau kesulitan menjahit bagian kerah baju. Akhirnya, mesin jahit portable yang saya beli di tahun terakhir bekerja. Saya serahkan juga pada ibu saya yang jauh lebih mumpuni dalam bidang jahit-menjahit.



Beberapa kali membuat kue rumahan bersama Najwa. Bahkan kue kering untuk lebaran tahun lalu pun tak luput saya coba. Hasilnya lumayan, tidak mengecewakan untuk kelas pemula. Sempat berfikir untuk mengambil kursus dan melengkapi peralatan baking di rumah. Tapi lagi-lagi saya ter-distraksi dengan hal baru yang terlihat menyenangkan, tata rias!



Saya sempat kelelahan, karena merasa tidak ada yang masimal. Tidak ada yang saya lakukan secara konsisten dengan komitmen yang tinggi. Lalu, saya pun mulai berpikir untuk menekuni dunia blogging. Menulis, dunia yang pernah saya sukai, tapi menguap setelah saya tinggalkan begitu saja.





Sampai hari ini, hampir satu tahun  saya konsisten dalam menekuni aktivitas menulis. Tidak seperti kegiatan-kegiatan saya sebelumnya, saya lebih konsisten dan hampir tidak melewatkan satu hari pun kesempatan menulis. Kecuali sedang berhalangan seperti sakit.



Saya mulai berpikir untuk membranding diri saya sebagai seorang bloger. Ya, profesi ini memang cenderung seperti hobi saja. Tapi, seiring berkembangnya era informasi, bloger telah menjadi salah satu profesi yang layak untuk diperhitungkan dalam menghasilkan rupiah. Bahkan banyak peluang terus berdatangan bagi mereka yang telah mengikrarkan diri sebagai professional blogger.



Bagi saya yang sepak terjangnya masih jauh dari panggang. Tentu saja belum layak untuk menyebut diri sebagai full time blogger. Sedangkan sebagai freelance blogger saja saya masih meraba. Pelan dan banyak yang harus saya pelajari dari awal.



Mungkin saya memang menunggu saat yang “tepat”. Saat di mana anak-anak lebih mandiri dan saya bisa lebih leluasa dalam bergerak. Saya yakin waktunya akan tiba, karena seorang perempuan memang memiliki masanya masing-masing. Tapi saya memulainya dari sekarang. Perlahan membranding diri sebagai seorang bloger dan penulis, sebagai salah satu tujuan di masa depan.



Keputusan ini membuat saya lebih mudah dalam menentukan arah dan fokus mengatur energi serta pencapaian. Saya pun cenderung lebih mudah menentukan keterampilan apa yang harus saya pelajari dan tingkatkan. Sehingga mendukung tujuan saya di masa depan.



Kalaupun pada akhirnya saya kembali tertarik pada dunia baking atau menjahit. Mungkin sifatnya hanya hobi saja, untuk bersenang-senang saat butuh hibura. Dan sebisa mungkin bisa menjadi salah satu bahan untuk saya menulis.  Hem … siapa tahu bisa menulis satu buku berbekal sampingan tersebut, who knows?



Jadi, klop ya dengan pendapat coach Artha. Bahwa bagi saya, stay at home mom pun butuh mambangun branding dirinya. Mungkin bukan sekarang, tapi Temans bisa mempersiapkannya untuk menghadapi masa depan. Tapi, apa salahnya jika bisa dimulai hari ini?








Custom Post Signature

Custom Post Signature