Parenting Story, Mom's Life, Tips

Showing posts with label Mom's Blogger. Show all posts
Showing posts with label Mom's Blogger. Show all posts

Muslimah Digital - Berdaya tanpa Terjerumus Arus Perubahan

|
Perempuan Digital

Sebuah penelitian menyatakan, 69% orang di Indonesia mencari informasi di internet. 48% wanita Indonesia mengakses internet lebih dari sekali dalam sehari. 61% wanita pengguna internet ingin bekerja. Namun, hanya 56% pria yang mengizinkan istrinya full bekerja. (Google UKM).


Internet, teknologi yang memungkinkan terwujudnya dunia baru bagi peradaban umat manusia. Sebuah dunia yang pada awalnya dirasa sangat tidak masuk akal, tapi kini telah merajai, merasuki setiap sendi kehidupan manusia.

Dunia maya adalah produk dari teknologi digital. Dunia yang diciptakan dari perangkat komunikasi, penyimpan memori dan pengolah data. Dunia yang mempertemukan orang-orang dari berbagai belahan bumi yang berbeda melalui seperangkat teknologi berbasis internet. 

Kini, dunia maya telah menjadi dunia kedua. Seperti halnya dalam dunia nyata, dunia maya menawarkan kesempatan untuk bersosialisasi, berpenghasilan, menuntut ilmu, bertetangga, bahkan berselisih paham. Kehadiran dunia maya berkontribusi besar bagi kemajuan peradaban manusia. Begitu banyak kesempatan dan peluang-peluang baru terbuka dengan hanya mengoperasikan seperangkat mesin atau bahkan semudah dalam genggaman. 

Bagi saya, dunia maya ibarat angin segar. Banyak sekali kesempatan yang saya dapatkan setelah mengikrarkan diri menjadi salah satu penghuni di dunia maya ini. Kesempatan memperluas pertemanan melalui jejaring media sosial merupakan titik awalnya. Bermula dari jejaring sosial yang terus menggurita, dati situlah saya banyak mendapatkan peluang pekerjaan, berpenghasilan, berilmu dan kemudian saling menebar manfaat.

 

Perempuan Digital
Blogger Muslimah Indonesia, salah satu komunitas yang mewadahi aktivitas perempuan digital  (Foto : Dokumentasi Blogger Muslimah Indonesia)
Mungkin, Teman-teman pun pernah mendengar istilah Perempuan Digital. Mereka adalah kaum perempuan yang berkecimpung di dunia digital. Memberdayakan diri melalui seperangkat alat berbasis teknologi. 

Dalam komunitas dunia maya, tentu tidak susah menemukan sosok-sosok perempuan seperti ini. Karena kenyataannya hampir 50% dari perempuan di Indonesia telah mengakses internet, bahkan lebih dari satu kali dalam sehari. Saya dan mungkin juga Teman-teman yang membaca artikel ini adalah salah satu di antaranya. Meskipun ada yang menjadi pembeda, karena tidak semuanya 
memberdayakan diri sebagai perempuan digital. Mungkin hanya user biasa atau sekedar mengikuti arus perubahan saja.

Bersyukurlah kita yang memiliki kesempatan, dibarengi kemauan dan kemampuan untuk mengambil peluang dalam dunia maya yang terus menggeliat. Meskipun dibatasi dengan kodrat, perempuan di masa kini tetap dapat "bergerak" dengan lincah, mengaktualisasi diri bahkan berkarya dalam ruang dan waktu yang tak terbatas.

Muslimah, Blog dan Dunia Maya


Perempuan Digital
Blog sebagai rumah digital.


Selain media sosial, blogging adalah salah satu media yang paling diminati kaum hawa. Kedua media ini sangat tepat dan cocok untuk mengaktualisasi diri, meng-upgrade keterampilan, membranding diri dan sarana promosi digital yang lain. Selain mudah dan dapat diaplikasikan di mana saja, media seperti blog dapat menjadi sarana menuangkan uneg-uneg. Mengeluarkan gagasan atau ide dan kreatifitas yang selama ini hanya ada di kepala.

Blog dan aktivitas menulis merupakan terapi yang tepat untuk kaum perempuan yang cenderung  memainkan hati ketimbang akal, sehingga terkesan lebih sensitif dibanding pria. Selain itu, aktivitas menulis juga dapat mewadahi jatah 20 ribu kata per hari yang dimiliki perempuan. Seperti yang kita tahu, jika jatah ini tidak disalurkan atau dibiarkan terbungkam, biasanya akan membawa efek yang kurang menyenangkan. Hehehe, itu murni pengalaman saya, sih.

 Baca juga: Resolusi sebagai Momblogger

Bagi saya pribadi, aktivitas blogging memang berawal dari kebutuhan untuk mengaktualisasi diri. Tapi dalam perjalanan yang hampir satu tahun ini, saya mendapatkan kebahagiaan lain dalam bentuk memberi manfaat kepada pembaca. Memang ada banyak blog post yang mengangkat tema pengalaman pribadi sebagai bahan tulisan. Tapi di situlah saya menemukan kebahagiaan, ketika apa yang kita alami dan  bagikan memberi manfaat untuk Teman-teman yang berada dalam kondisi serupa.

Keberadaan manusia di bumi ini memang diperintahkan untuk sebaik-baiknya memberi manfaat. Maka sekecil apapun yang bisa kita lakukan, ada baiknya dapat diambil manfaatnya bagi orang-orang di sekitar kita. Begitu setidaknya yang saya pelajari sebagai muslimah.


Menyadari ruang gerak sebagai perempuan yang begitu terbatas. Saya pun membulatkan tekat untuk memasuki dunia lain yang tak mengenal batasan. Maka dunia maya adalah dunia lain saya. Sedangkan blog adalah rumah kedua yang berada di dunia maya.

Keputusan semacam ini nampaknya juga diminati sebagian besar perempuan yang bersinggungan langsung dengan dunia digital. Terlebih peluang berpenghasilan dari blog atau media sosial sudah mulai dapat diperhitungkan. Maka bergaul di dunia maya tak lagi sebatas untuk bersosialisasi atau berkomunitas saja.  

Blog mulai beralih fungsi menjadi media penyimpan portofolio dan karya. Blog juga menjadi alat branding diri selain media sosial. Dan yang paling penting, blog pada akhirnya memberikan manfaat baik secara materi maupun non materi bagi pemiliknya. Harapannya juga bagi siapapun yang membacanya.

Berdaya tanpa Perlu terjerumus Arus Perubahan

 

Perempuan Digital
Gambar : Pexel.com

Ibarat dua mata pisau, dibalik semua sisi positif selalu ada hal-hal negatif di tengah derasnya arus perubahan. Pergeseran hidup yang terus mengarah pada segala hal yang berbau digital dan teknologi, tentu saja membawa dampak negatif yang perlu diwaspadai. Dunia maya dengan teknologi digital yang memungkinkan segala hal dapat dilihat orang, mau tak mau menuntut kita untuk cerdas dalam pergaulan.

Bagaimana memilah dan memilih hal yang dirasa perlu dan tidak untuk diunggah di dunia maya. Menentukan jenis dan batasan-batasan dalam pertemanan. Bahkan selektif dan dapat membedakan kerja sama yang menguntungkan atau justru sebaliknya.

Baca juga: Lebih Dekat dengan Wuri Nugraeni - Blogger, Copywriter, Reporter dan Editor

Berbagai kasus dan masalah yang timbul akibat penyalahgunaan internet sepertinya tak hanya isapan jempol belaka. Pertumbuhan teknologi digital di negara ini dan mungkin juga di negara-negara lainnya selalu dibarengi dengan pertumbuhan oknum-oknum tak bertanggung jawab. Bermacam-macam kasus di negeri ini berawal dari penyalahgunaan fungsi teknologi. Begitu pun bergesernya budaya masyarakat yang semakin konsumtif dan hedonisme, saya yakin dunia maya turut menyumbang besar di dalamnya.

Itulah sebabnya, budaya literasi mulai merambah dunia digital. Pengguna atau user dianggap harus melek digital. Mampu memaksimalkan manfaatnya tanpa perlu terjerumus dalam arus perubahan zaman. Khususnya bagi kita kaum muslimah, karena godaan di dunia maya sangat besar dan sangat berpeluang memicu konflik jika tidak ditanggapi dengan arif.

 

Untuk itu, perlu rasanya bagi saya dan Teman-teman sesama muslimah lebih "cerdas" dan selektif dalam bergaul di dunia maya. Mampu memanfaatkan setiap peluang yang ditawarkan untuk melakukan hal-hal yang positif dan  produktif. Tegas dan berani menolak untuk setiap hal yang mengarah pada kerusakan.

Hal ini tidak hanya yang berkaitan dengan penawaran kerja sama. Tapi dalam pertemanan, penyebaran berita, pembuatan konten baik di blog maupun media sosial. Bahkan dalam mengikuti majelis ilmu secara online, atau melalui parangkat digital pun ada rambu-rambunya. Bersosialisai dan memilih komunitas pun tak bisa sembarangan.

Bagi blogger seperti saya pun, ada begitu banyak grup yang menawarkan berbagai peluang ilmu dan pekerjaan. Tapi sekali lagi, pastikan kita selektif dan memilih yang cocok dengan personality kita. Sehingga tidak hanya dalam kehidupan nyata, dalam dunia maya pun kita mendapatkan manfaat, ketenangan dan ilmu yang membawa keselamatan.

Mari menjadi muslimah yang berdaya. Muslimah digital yang melek literasi dan kokoh di tengah terjangan arus perubahan.


"Tulisan ini diikutkan dalam postingan tematik Blogger Muslimah Indonesia "

 









Ceritaku dengan @JoeraganArtikel - Dari Perempuan untuk Perempuan

|
Perempuan ibarat sekoci dalam keluarga. Perempuan hendaknya bangkit dalam keterbatasan. Berdaya tanpa perlu mengalami pertentangan batin dengan kodrat utamanya sebagai perempuan.

Joeragan Artikel
FB : Ummi Aleeya


Juni 2016 saat saya memutuskan untuk menekuni dunia kepenulisan sebagai salah satu hobi pengisi waktu luang. Ketika itu, saya yang memang sudah suka membuat tulisan non fiksi mulai tertarik untuk memperbaiki tata bahasa, gaya bertutur serta menemukan ide bahan tulisan sesuai passion saya. Yaitu lifestyle, parenting dan womenpreneur. 

Saya pun kemudian iseng-iseng mengikuti kelas Sekali Nulis Jebol Media yang saat itu dibimbing langsung oleh Indari Mastuti melalui grup WA. Siapa sangka, jika melalui jaringan Indcript yang menggurita ini akhirnya saya menemukan sosok Ummi Aleeya dengan agensi penulisan artikelnya yang mengusung brand @JoeraganArtikel.

Kebetulan sekali, saat itu saya butuh banyak ilmu untuk menaikkan level hobi menulis saya dari "sekedar menulis" menjadi "layak dibaca". Sehingga penawaran training menulis, terlebih dilakukan secara online dengan biaya yang sangat terjangkau. Tentu saja sulit untuk saya biarkan berlalu begitu saja.


Training Menulis Artikel sekaligus Magang di @JoeraganArtikel
 

Pixabay

Setelah membulatkan tekat, saya pun mendaftarkan diri sebagai salah satu peserta Training Menulis Artikel di @JoeraganArtikel yang kala itu dimentori langsung oleh sang founder Ummi Aleeya. Dalam satu paket training yang terdiri dari 4 kali pertemuan ini. Para peserta tidak hanya belajar bagaimana membuat sebuah artikel. Tapi kami benar-benar belajar dari nol. 

Mulai menentukan tema, menuangkan ide dalam tulisan yang informatif, memilih judul yang menarik atau viral, self editing. Dan yang paling menarik kami juga mendapatkan gratis belajar membuat blog dan magang sebagai penulis artikel untuk proyek pesanan artikel yang masuk di agensi @JoeraganArtikel.

Sambil menyelam minum air. Peribahasa tersebut tampaknya memang cocok  untuk digunakan di @JoeraganArtikel. Karena seluruh peserta training mendapatkan kesempatan langsung untuk magang sebagai penulis artikel pesanan, sekaligus berlatih untuk terus menemukan ide bakal tulisan  dan melenturkan gaya bertutur serta penggunaan kaidah tata Bahasa Indonesia.

Saya masih inget betul, saat itu berhasil menyelesaikan 10 artikel pesanan dengan fee Rp.8000,- per artikel 300 kata. Memang nilai nominalnya tidak seberapa, tapi dari sisi kepuasan batin dan terbukanya peluang-peluang  berikutnya, yang menjadikannya "mahal" dan tak dapat dinilai dengan rupiah.


Dari Alumni JA Menjadi Blogger Emakpintar.com


Pixabay


Kemudian, saya pun menyelesaikan Training Menulis Artikel dan mulai berani mempublikasikan karya. Web Emakpintar.com dan Damar Aisyah's Blog ini yang dulunya masih menggunakan domain gratisan adalah "rumah" yang kemudian saya gunakan untuk menyimpan sekaligus memajang karya-karya saya.

Niat awal  menulis yang tadinya hanya sekedar hobi atau berbagi informasi. Semakin hari terus bergeser menjadi profesi yang layak dihargai. Tentu saja hal ini dikarenakan semakin terbukanya peluang dan berbagai kesempatan yang diberikan founder @JoeraganArtikel, Ummi Aleeya.  Yang di kemudian hari, terus memberikan wawasan tentang berbagai potensi penghasilan dari menulis.

Tepatnya 6 bulan setelah menjalani masa percobaan di Emakpintar.com sambil terus menerima job sebagai penulis lepas. Maka pada bulan ke-7 saya pun mendapatkan kontrak untuk menjadi blogger Emakpintar yang digaji langsung dari perusahaan Indscript.  Syukur alhamdulillah, peluang berpenghasilan dari rumah pun kembali menjadi nyata. Dan harus saya akui, semua itu bermula dari menjadi peserta training di JA.


@JoeraganArtikel yang Terus Melesat


FB: Ummi Aleeya


Selain Training Menulis Artikel, saya beberapa kali mengikuti training  penulisan di JA. Seperti Membuat dan Memasarkan E-book,  Antologi Puisi dan Antologi Kisah Inspiratif yang mewujudkan mimpi saya untuk memiliki buku antologi ke-4 dan ke-5. Kabar gembiranya, training-training di JA terus mengalami pengembangan  sesuai kebutuhan pasar akan jasa penulisan. 

Saat ini, @JoeraganArtikel juga mengampu Training Jebol Media, Kelas Status Cantik, Kelas Penulisan Cerpen, Training Editor dan Penulisan Buku Biografi yang kabarnya mulai dilirik calon kliennya. Selain itu ada satu training baru  mengenai 15 Langkah TOP Memulai Bisnis Jasa Penulisan. Untuk informasi selengkapnya tentang berbagai training di JA. Teman-teman bisa langsung menghubungi sang founder di facebook : Ummi Aleeya.

Menakjubkan! @JoeraganArtikel adalah agensi training sekaligus penyalur proyek pesanan artikel yang sangat produktif dan berkembang dengan pesat. Ummi Aleeya sebagai founder  terus berinovasi demi menjawab kebutuhan pasar. 

Selain menyiapkan Pasukan Endorser yang telah mendapatkan puluhan klien dari pelaku UMKM. Kini, @JoeraganArtikel mulai merambah dunia blogging dengan membentuk Pasukan Blogger. Menyiapkan editor-editor handal dengan tim Pasukan Editor, dan dalam waktu dekat saya yakin akan mencetak calon-calon penulis biografi.


Dari Perempuan untuk Perempuan


FB; Ummi Aleeya


Ummi Aleeya dan @JoeraganArtikel telah menjadi pembuka pintu-pintu rezeki bagi ratusan perempuan yang terbatas ruang gerak dan waktu. Sebagai sesama perempuan, Ummi Aleeya tentu saja tahu bagaimana semestinya memaksimalkan potensi luar biasa ini meskipun hanya dari rumah saja.

Seperti yang sama-sama kita tahu, perempuan ibarat sekoci dalam keluarga. Begitu pun halnya yang di alami oleh seorang Ummi Aleeya. Saya yakin, ide yang begitu brilian ini tercetus karena semangat untuk melihat sesama kaumnya bangkit dalam keterbatasan. Berdaya tanpa perlu mengalami pertentangan batin dengan kodrat utamanya sebagai perempuan.

Good Job, Ummi. You did it!






Lebih Dekat dengan Wuri Nugraeni - Blogger, Book's Writer, Editor, Reporter dan Copywriter

|

IG: @wurinugraeni

Perawakannya tinggi semampai dengan raut wajah yang cenderung kalem. Ibu dari satu putra ini adalah seorang Mom Copywriter. Teman-teman yang berada dalam lingkaran  Indscript Creative pasti tidak asing dengan namanya, karena seorang Wuri Nugraeni tidak hanya menjadi copywriter di perusahaan ini tapi juga merangkap sebagai reporter media online-nya.

Bagi saya dan juga Teman-teman yang aktif menulis di Emakpintar.com, yang kini telah bermigrasi menjadi Emakpintar.org. Seorang Wuri Nugraeni sudah seperti guru di dunia penulisan. Beliau adalah orang di balik layar yang sejak tahun 2016 mengoreksi seluruh tulisan yang akan di posting di web Emakpintar. Ya,  Mbak Wuri adalah editor Emakpintar kala itu. 


Wuri Nugraeni dan Dunia Kepenulisan 


IG : @wurinugraeni



Untuk saya pribadi, Mbak Wuri adalah orang pertama yang saya "suguhkan" tulisan untuk "diobrak-abrik" sehingga menjadi lebih menarik untuk dibaca.. Tak hanya berdasarkan kaidah bahasa, Mbak Wuri tidak segan mengoreksi tulisan kami berdasarkan gaya bahasa, sehingga terdengar lebih luwes, efektif dan informatif.

Sarjana Ilmu Komuniksi yang memiliki pengalaman sebagai reporter di salah satu rumah produksi di Jakarta ini nampaknya memang tidak bisa dipisahkan dari dunia kepenulisan. Tak hanya menjadi editor,  Mbak Wuri telah merambah dunia copywriter, content writer, book 's writer dan juga blogger. 

Sebagai copywriter, Teman-teman bisa menikmati hasil karyanya yang berbentuk storytelling dengan gaya soft selling di web perusahaan Indscript. Sebagai seorang blogger, teman-teman dapat membaca cerita kesehariannya sebagai ibu sekaligus pekerja kreatif di bidang penulisan pada blog pribadinya  www.wurinugraeni.com.


FB: Wuri Nugraeni


Tak cukup menitipkan karyanya melalui media penulisan online, Wuri Nugraeni telah mencatatkan nama di berbagai cover buku karyanya. Kurang lebih 13 buku antologi telah diikutinya, dan 6 buku solo atau duet lainnya semakin melengkapi kiprahnya di dunia kepenulisan.

Teman-teman pasti pernah mendengar judul buku-buku berikut 
  • 101 Bisnis Online Yang Paling Laris (bersama Afin Murtie, Ari Kurnia, Dian Nafi, Kiki Han) (Indscript, GPU, 2012.
  • Cenat-Cenut Reporter (Gradien Mediatama, 2013.
  • Kuliah Jurusan Apa? Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) (Gramedia, 2015)  
  • 99 Emak Pebisnis (Penebar Plus, 2017)
Buku-buku tersebut hanyalah sebagian dari karyanya. Teman-teman bisa mencari tahu karya  yang lain di blog pribadinya.


Menjadi Bagian dalam Indscript Creative 

IG: @wurinugraeni

Mengawali karier di dunia kepenulisan pada tahun 2011, atau setelah menikah dan pindah domisili ke Semarang. Wuri Nugraeni bertemu dengan seorang Indari Mastuti melalui jaringan online social media. Mbak Wuri yang kala itu sedang mempromosikan buku solo pertamanya yang terbit pada tahun 2010, mulai mendalami ilmu copywriting secara otodidak. 

Karena sering membuat iklan penjualan secara soft selling, baik di FB, Twitter maupun blog. Maka bertemulah Wuri Nugraeni dengan Indari Mastuti yang kala itu sedang mencari seorang copywriter untuk perusahaannya. Mungkin inilah yang dinamakan jodoh dan rezeki sudah diatur oleh Gusti Allah, karena dari pertemuan di dunia maya tersebut akhirnya Wuri Nugraeni bergabung dalam tim Indscript Creative.


 Suka Duka menjadi Blogger dan Editor Emakpintar


IG: @wurinugraeni


Bagi seorang Wuri Nugraeni, dunia penulisan dan reportase tidak terlalu baru baginya. Selain telah memiliki pengalaman di bidang ini, Mbak Wuri yang menamatkan pendidikan di jurusan Ilmu Komunikasi telah mendapatkan dasar-dasar ilmu kepenulisan dan jurnalistik. Ditambah kreatifitas dan kemauannya untuk terus mengasah keterampilan dan belajar secara ototdidak, maka tak perlu heran jika teknik dan gaya penulisannya sangat luwes dan komunikatif.

Saya ingat betul, sekitar setahun yang lalu saat saya masih awal-awal bergabung sebagai penulis Emakpintar.com. Saya merasa kewalahan untuk menghasilkan tulisan yang perfect dan mulus sebelum melalui editannya. Ada saja yang harus dikoreksi. Entah karena typo, tidak efektif, ambigu atau tidak sesuai kaidah tata Bahasa Indonesia.

Sekalinya dapat komen, "oke" atau "menarik" dari sang editor, ingin rasanya diri ini berteriak dan melompat-lompat. Hehehe, waktu itu memang saya masih sangat baru di dunia penulisan, masih butuh belajar dan berlatih, meskipun sampai sekarang belum juga mumpuni di bidang ini.

Saya sering berpikir betapa pusingnya jadi Wuri Nugraeni yang setiap hari bahkan saat hari libur harus meng-edit naskah kami. Iseng-iseng dalam wawancara online beberapa hari yang lalu saya pun menanyakan suka duka yang beliau alami sebagai editor Emakpintar. Teman-teman pengen tahu jawabannya, kan? Begini hasil wawancara kami. (Note : bagian ini saya copy paste langsung dari hasil chat saya)


Mbak Wuri, Apa suka dukanya meng-edit tulisan emak-emak? 

=> Suka: dapat kenalan emak-emak baru, hepi liat antusias emak-emak produktif nulis, kalo ngedit kan baca tulisan emak-emak itu banyak yg berisi tips jd sy bisa dapat ilmu sekaligus.

Duka => Ada yg awal2 menulis dan hasil tulisannya acak adut hahaha, pusing sih ngeditnya, hihihi, dah kayak nulis dr awal, tp sekarang sejak ada JA dah jaraaaaang yg kek gitu
 
Menurut Mbak Wuri, mana yang lebih mengasyikkan, menjadi blogger atau editor? 

=> Keduanya, karena punya plus minus sendiri. Kalau blogger kan sering ada kopdar jd sekalian refreshing para IRT hahaha.

Respon saya ketika pertama membaca inbox ini langsung ngakak. Berasa ambil bagian sebagai pengirim naskah yang acak adut itu tadi, hahahaha. Maafkan daku yang Mbak Wuri, saya janji nggak bikin editor pusing lagi.

Dalam wawancara tersebut Mbak Wuri juga sedikit menyinggung tentang pengalaman sebagai seorang blogger khususnya. Beliau tidak pernah menyangka, hanya karena rutin menulis di blog bisa terbuka berbagai kesempatan baru di dunia kepenulisan.

Selain bergabung dalam tim Indscript, blog ini pula yang telah memberikan kesempatan untuk beberapa kali me-review produk dan menambah peluang penghasilan dari menulis. Intinya, blog tidak hanya media untuk mengasah kemampuan, tapi juga memajang karya dan mendapatkan penghasilan.


Pesan untuk Momblogger dan Penulis Pemula

IG: @wurinugraeni


Melihat kesibukan Mbak Wuri di sebagai blogger, copywriter dan reporter. saya pun merasa penasaran bagaimana cara beliau mengatur waktu. Bukan bermaksud membandingkan, hanya saja saya butuh tips beliau karena kami sama-sama Ibu Rumah Tangga yang memiliki anak balita. 

Jujur saya sendiri merasa sering kewalahan ketika harus menghadapi deadline sedangkan anak sering rewel dan nggak mau ditinggal. Maka dari itu saya penasaran juga bagaimana cara beliau menghadapi kendala sebagai Ibu Rumah Tangga.

Menurut beliau, hal seperti itu pasti dialami oleh semua ibu, jadi nggak perlu dijadikan alasan untuk berhenti menulis. Sebisa mungkin bekerja sama dengan suami dalam mengasuh, atau jika sedang tidak memungkinkan, turuti dulu kemauan anak. Biasanya, sih, anak-anak bakalan lebih nurut kalau kemauannya bermain dengan ibu sudah terpenuhi. Hem, betul juga, sih.

Sebagai seorang perempuan yang sudah tak lagi sebebas merpati, Mbak Wuri sendiri masih menyimpan keinginan untuk terus menjadi IRT yang produktif dengan menulis. Terus berkarya dan menyebarkan konten positif, sehingga konten negatif di dunia maya ini mendapatkan tandingan dan semakin tenggelam.

Untuk saya dan juga Teman-teman yang masih pemula di dunia kepenulisan, Mbak Wuri juga berpesan untuk terus berkarya dan berjejaring. Saya sangat setuju dengan pesan beliau ini, karena bagi klien hanya karya kitalah yang pertama kali dilihat. Sedangkan berjejaring adalah salah satu cara untuk memperluas kesempatan memperoleh penghasilan di dunia ini.

Senang rasanya mendapatkan  ilmu baru dari wawancara singkat ini. Saya masih menunggu kesempatan untuk bertemu langsung dan menyerap lebih banyak ilmu di dunia kepenulisan dari seorang Wuri Nugraeni. Orang pertama yang memoles tulisan saya, sekaligus "memaksa" saya belajar teknik penulisan sesuai kaidah tata bahasa. Terima kasih Mbak Wuri, sukses terus untuk pekerjaan dan keluarganya.

Teman-teman ingin berkenalan dengan beliau? Langsung saja ke akun facebook-nya di Wuri Nugraeni, atau IG dan twitter di : @wurinugraeni. Selamat menimba ilmu dan berkenalan lebih dekat, ya.







Personal Branding For Stay at Home Mom, Yay or Nay?

|




Personal Branding is about being authentic, true, and yourself 
~ Artha Julie Nava ~

Gambar: Pixabay

Pertanyaan ini sudah lama melintas dalam benak saya. Sebagai ibu rumah tangga, perlukah saya membranding diri untuk suatu hal? 

Mungkin lebih mudah ketika saya masih bekerja kantoran. Atau saat  masih menjalankan bisnis retail baju muslim dan souvenir pernikahan. Atau, barangkali sebagian besar teman- teman baik di dunia nyata maupun maya terlanjur mengenal saya sebagai pebisnis MLM produk kosmetik luar. Hem … Tak terasa, banyak juga yang sudah saya lakoni sembari menjalankan tugas utama sebagai istri dan ibu dari dua bocah.


Belakangan ini, kurang lebih 3 tahun terakhir sejak 2014. Saya sempat kebingungan menentukan arah dan tujuan saya nanti di masa depan. Mengasuh dan membesarkan anak-anak dengan tangan saya sendiri, itu sudah pasti. Itu sebabnya saya memilih menjadi stay at home mom. Atau menjadi pendamping yang se-frekuensi dengan suami, yang itu pun tak perlu saya jelaskan lagi. 

Baca juga: Sharing is Caring

Keduanya merupakan tujuan utama saya sebagai seorang wanita yang menjatuhkan pilihan hidupnya untuk menikah dan berumah tangga.


Tapi, secara pribadi sebagai perempuan. Tentu saya memiliki cita-cita yang terus saya genggam dengan erat. Bukan hanya tentang pengakuan, tapi semacam tanggung jawab pada kehidupan dan nilai yang selalu ditanamkan oleh orang tua saya. Sebagai manusia kita harus bermanfaat bagi yang lain, bukan hanya diri sendiri.


Dalam salah satu artikel personal branding yang ditulis oleh coach Artha Julie Nava. Artikel yang berjudul “Ibu Rumah Tangga, Perlu Personal Branding juga?” di www.arthajulienava.com. Beliau berpendapat bahwa ibu rumah tangga, atau stay at home mom, PERLU untuk membangun branding dirinya. 


Saya pun mengamini pendapat coach Artha, karena menurut saya personal branding bukan sekedar penanda sebagai siapa kita ingin dikenal. Tapi agar arah dan tujuan kita di masa depan semakin jelas, fokus dan memungkinkan menjadi expert di bidangnya.


Personal Branding adalah tentang bagaimana Anda melakukan redesigning for self image, dengan melakukan sesuatu hal yang memiliki nilai unique dan special yang tidak dimiliki oleh orang lain. (Dwiarko Susanto)


Gambar : Pixabay


Bagi ibu rumah tangga, atau saya lebih nyaman menyebutnya stay at home mom untuk ibu-ibu yang tidak bekerja di luar rumah. Tentu bukan perkara mudah untuk menentukan arah yang akan dituju terkait dengan branding dirinya. Benar kata Coach Artha, kebiasaan menjadi pribadi yang multi tasking mau tak mau membuat saya merasa “mampu” melakukan banyak hal.



Dalam hal pekerjaan rumah tangga, tentu saja saya “mampu”. Karena sebenarnya, kondisilah yang membuat kami para perempuan mampu untuk melakukan ini dan itu dalam waktu bersamaan. Selain karena cara kerja otak perempuan memang memiliki kemampuan berpindah dengan cepat. Dari bagian satu ke bagian lainnya, yang memungkinkan mereka bisa melakukan beberapa pekerjaan secara bersamaan.



Tapi, kebiasaan ini pun ternyata membawa efek samping bagi sebagian besar stay at home mom. Karena terbiasa melakukan aneka peran, maka Supermom Syndrome lekat pada diri mereka. Ingin memelajari banyak hal, merasa mampu membagi waktu dengan cermat. Semuanya ingin dilakukan dan dimiliki dalam waktu bersamaan.



Mengenai hal ini, suami saya sudah sangat sering mengingatkan. Bahwa sebagai manusia, kemampuan kita memang tidak terbatas, asalkan kita mau mengembangkannya. Tapi kita tidak bisa memungkiri, bahwa waktu, tenaga dan biaya adalah tiga hal yang tidak bisa dinafikkan akan menjadi pembatas utama.

Saya pun sempat mengalami Supermom Syndrome, ketika anak pertama lepas masa batita. Sempat kewalahan karena belajar menjahit, baking sekaligus tata rias, ditambah obsesi saya untuk dapat mengaplikasikan teori montessori rumahan pada Najwa. Saya yakinkan diri sendiri bahwa dengan 24 jam berada di rumah, seharusnya saya lebih leluasa mengatur waktu untuk memelajari banyak hal.



Kenyataannya? Semua tidak bertahan lama. Kalau orang bilang, “anget-anget tai ayam”. Nggak ada satu pun yang membuat saya memiliki komitmen tinggi untuk terus melakukannya.



Sempat menghasilkan beberapa potong baju dan mukena untuk Najwa. Tapi saya mulai menyerah saat salah membuat pola atau kesulitan menjahit bagian kerah baju. Akhirnya, mesin jahit portable yang saya beli di tahun terakhir bekerja. Saya serahkan juga pada ibu saya yang jauh lebih mumpuni dalam bidang jahit-menjahit.



Beberapa kali membuat kue rumahan bersama Najwa. Bahkan kue kering untuk lebaran tahun lalu pun tak luput saya coba. Hasilnya lumayan, tidak mengecewakan untuk kelas pemula. Sempat berfikir untuk mengambil kursus dan melengkapi peralatan baking di rumah. Tapi lagi-lagi saya ter-distraksi dengan hal baru yang terlihat menyenangkan, tata rias!



Saya sempat kelelahan, karena merasa tidak ada yang masimal. Tidak ada yang saya lakukan secara konsisten dengan komitmen yang tinggi. Lalu, saya pun mulai berpikir untuk menekuni dunia blogging. Menulis, dunia yang pernah saya sukai, tapi menguap setelah saya tinggalkan begitu saja.





Sampai hari ini, hampir satu tahun  saya konsisten dalam menekuni aktivitas menulis. Tidak seperti kegiatan-kegiatan saya sebelumnya, saya lebih konsisten dan hampir tidak melewatkan satu hari pun kesempatan menulis. Kecuali sedang berhalangan seperti sakit.



Saya mulai berpikir untuk membranding diri saya sebagai seorang bloger. Ya, profesi ini memang cenderung seperti hobi saja. Tapi, seiring berkembangnya era informasi, bloger telah menjadi salah satu profesi yang layak untuk diperhitungkan dalam menghasilkan rupiah. Bahkan banyak peluang terus berdatangan bagi mereka yang telah mengikrarkan diri sebagai professional blogger.



Bagi saya yang sepak terjangnya masih jauh dari panggang. Tentu saja belum layak untuk menyebut diri sebagai full time blogger. Sedangkan sebagai freelance blogger saja saya masih meraba. Pelan dan banyak yang harus saya pelajari dari awal.



Mungkin saya memang menunggu saat yang “tepat”. Saat di mana anak-anak lebih mandiri dan saya bisa lebih leluasa dalam bergerak. Saya yakin waktunya akan tiba, karena seorang perempuan memang memiliki masanya masing-masing. Tapi saya memulainya dari sekarang. Perlahan membranding diri sebagai seorang bloger dan penulis, sebagai salah satu tujuan di masa depan.



Keputusan ini membuat saya lebih mudah dalam menentukan arah dan fokus mengatur energi serta pencapaian. Saya pun cenderung lebih mudah menentukan keterampilan apa yang harus saya pelajari dan tingkatkan. Sehingga mendukung tujuan saya di masa depan.



Kalaupun pada akhirnya saya kembali tertarik pada dunia baking atau menjahit. Mungkin sifatnya hanya hobi saja, untuk bersenang-senang saat butuh hibura. Dan sebisa mungkin bisa menjadi salah satu bahan untuk saya menulis.  Hem … siapa tahu bisa menulis satu buku berbekal sampingan tersebut, who knows?



Jadi, klop ya dengan pendapat coach Artha. Bahwa bagi saya, stay at home mom pun butuh mambangun branding dirinya. Mungkin bukan sekarang, tapi Temans bisa mempersiapkannya untuk menghadapi masa depan. Tapi, apa salahnya jika bisa dimulai hari ini?








Ngeblog Asyik ala Blogger Kinyis-Kinyis

|

Ngomongin soal blog, temen-temen pasti setuju ya, kalau media ini menjadi salah satu yang diperhitungkan di dunia marketing dan influencer? Tengok saja, puluhan perusahaan mulai gencar melakukan kerja sama dengan para blogger untuk mempromosikan brand mereka melalui blog pribadi yang terpilih. Bukan hal baru juga, kalau banyak product review dibuat dan dipublikasikan melalui blog untuk dijadikan rujukan bagi calon konsumen. Ditambah aneka lomba blog yang hadiahnya ternyata aduhai sekali. Mulai duit jutaan, gadget hingga jalan-jalan ke dalam maupun luar negeri. ck ... ck ...ck *kagum. 

Nggak salah sih, blog memang pantas menjadi rujukan bagi calon konsumen. Karena menurut pengamatan saya, mas, mbak blogger itu selalu berusaha detil dan obyektif saat membuat review. Mereka juga nggak segan jika harus menyampaikan kekurangan suatu produk, tentunya dengan cara penyampaian yang soft, ya.  Jadi nggak terasa menjatuhkan.

Blogger sendiri kini sangat layak disebut sebagai salah satu profesi yang lumayan menjanjikan. Sudah banyak teman-teman blogger yang mendapatkan tambahan penghasilan atau menjadikan dunia blogging sebagai penyuplai penghasilan utama. Ya, sepadanlah. Mereka yang udah blogger pro itu memang nggak tanggung-tanggung. Effort-nya nggak perlu dipertanyakan lagi. Bahkan, sekelas mereka ini blog post curhat aja bisa dikemas jadi sangat informatif. Siapa orangnya yang nggak lumer dapat bahan bacaan begitu menarik, gitu? Jadi meskipun ide awalnya tsurhat, ya tetep oke-oke aja dan ramai peminat.

Sebagai blogger baru alias masih kinyis-kinyis, terus terang saya lumayan shock saat mulai aktif ngeblog (lagi). Ya, sebenarnya ini bukan kali pertama saya punya blog. Tapi ya ... Gitu deh. Suka didiemin sampai jadi sarang laba-laba. Selama ini, saya ngeblog cuma buat curhat sih. Mulai dulu masih lajang, sampai lahir anak pertama, ngeblog ya cuma buat cerita keseharian saja, ibarat buku diary.

Begitu nyemplung dan mulai berkomunitas di blog. WOW!!. Dunia blogging sukses membuat saya gemeteran di awal. Ahhh ... rasanya saya pengen mundur lagi, nggak sampek sudah ilmu saya. Ngeriiii!! Blogger-blogger sekarang ciamik abis. Aneka konten variatif bertebaran setiap hari. Mulai dari isi kontennya sendiri, sampai berbagai aksesories pendukung yang digunakan. Lumayan membuat saya "sembunyi", minder euy!

Tapi balik lagi ya, dari awal banget, apa sih tujuan kita ngeblog? Mau langsung me-monetize? Atau buat senang-senang? Pasti effortnya udah beda. Saya nggak mau munafik, sering tergiur juga dengan tawaran kerja sama di dunia blog. Yaelah, kita juga doyan banget sama produk gratis, jalan-jalan eh apalagi duit masuk rekening, mana bisa saya tolak.Tapi udah layak belum, sama effortnya? Ya ya ya ... balik lagi ya, yang namanya usaha nggak akan membohongi hasil. Portofolio dan jam terbang itu penting. Baru juga anak kemarin sore, ngaca dulu benerin kuncir! *ngomongsamakaca

Well, awal mula saya balikan sama dunia blogging ini memang nggak kepikiran sama peluang penghasilan yang mungkin saya ambil. Pokoknya saya mau nulis, dah itu aja. Saya pikir-pikir, sayang juga ya, selama ini punya banyak cerita dan pengalaman seru, kalau cuma dianggurin gitu aja. Kalau ditulis di blog kan, bisa jadi kenangan, atau bahkan bermanfaat untuk orang lain. 

Apalagi semenjak punya dua anak, saya merasa semakin tertantang sama kehidupan ini. Banyak masalah yang akhirnya bisa diatasi dengan mulus, meskipun nggak kurang juga yang harus naik turun dan berkelok di jalur terjal. Pengalaman seperti ini rasanya terlalu mahal, jika tidak didokumentasikan. Minimal, buat bahan bacaan anak-anak kelak.

Cerita anak-anak selalu menarik untuk dituliskan.

Nah, ngomongin soal bahan bacaan anak-anak. Rencana saya blog ini juga yang nantinya merekam sebagian besar pertumbuhan mereka. Lucu kali ya, suatu saat DuoNaj baca cerita masa kecilnya. Mereka bisa kembali ke masa-masa yang bahkan mungkin belum mereka ingat. Atau bernostalgia dengan "kenakalan" khas anak-anak yang biasanya selalu berkesan.

Setelah menemukan alasan terbesar dalam ngeblog. Kok rasanya saya jadi semangat lagi ya. Semua-semua rasanya pengen diceritain di mari. Meskipun kenyataannya harus berbagi waktu menulis untuk konten di portal yang lain. Tapi, karena udah ngerasa dapat feelnya, kadang ya saya bela-belain begadang buat beberes "rumah" yang ini. Mungkin juga saya tipe yang lumayan extrovert, jadi semua-semua pengen saya ceritain. Yaelah, kayak unik aja cerita hidup, Lo! Wkwkwkwk ... Ya, minimal perjalanan jadi ibu lah, itu effortnya nggak sedikit lho. Layak tulislah, untuk penghargaan diri sendiri, si perempuan rumahan ini *kedip2

Memang tidak mudah, untuk mempertahankan mood ngeblog yang suka kendor di tengah jalan. Apalagi untuk pemula seperti saya, belum addict istilahnya. Ada saja alasan yang suka bikin malas. Apalagi kalau sudah ngomongin lomba, tambah jiper saya. Tapi memang semua butuh proses. Nggak adalah yang namanya makanan instan, semua butuh diproses. Dan menurut saya sih, proses ini yang harus dibuat asyik. Ngeblog harus dibikin asyik dan bisa bersenang-senang saat menjalani prosesnya.


Mengasah keterampilan dengan ikut lomba. Jiper sih iya, tapi lumayan buat latihan menulis.

Buat temen-temen yang baru mau mulai ngeblog, kalau saya bilang sih, temukan alasan utamanya dulu, biar effortnya bisa ngikut ke sana. Kalau awalnya buat belajar nulis atau merekam perjalanan, ya buatlah se-happy mungkin. Tulis semua hal yang butuh untuk ditulis. Masalah ramai pembaca or not? Itu udah urusan lain ya. Karena niat awal kita kan buat dokumentasi pribadi. Jadi kita nggak ada beban selama ngeblog, ringan saat menulis blog post.

Nah, kalau nanti dalam perjalanan ngeblog, jadi merasa tertantang untuk ini dan itu. Ya, nggak pa pa dong. Namanya juga manusia, pasti pengen ngasih challenge buat diri sendiri. Misalnya ikut lomba blog, jiper memang, tapi lumayan membantu mengasah keterampilan menulis . Belajar ngereview produk favorit, siapa tahu suatu saat bisa dapat job review. Mempercantik blog dengan ini dan itu. Misalnya pakai sticker blog, saya sudah coba pakai sticker ekspresi dari haloterong. Lumayan jadi moodbooster sih, soalnya lucu dan imut, kayak saya. *toyorrr



Intinya sih, ngeblog harus dibikin asyik dan fun. Soal tujuan jangka panjangnya apa, ikuti saja prosesnya, jangan dijadikan beban di awal. Kalau kata mentor saya mah, usaha nggak akan membohongi hasil. Seneng dulu, addict dulu, berproses dan tambah ilmu, barulah berjuang menjadi blogger pro. Akur kan? *akurinaja

So, hari ini udah ngeblog belum? *tanyadirisendiri

Have a great day, see U ^_^ 





Custom Post Signature

Custom Post Signature