Parenting Story, Mom's Life, Tips

Memilih Kereta Api sebagai Alat Transportasi Mudik Paling Nyaman untuk Balita

|



Pulang kampung masih menjadi salah satu tradisi menyambut lebaran bagi keluarga kecil kami. Meskipun secara berkala kami berkunjung ke rumah orang tua. Atau sebaliknya, bapak, ibu atau mama akan segera datang ke Jakarta setiap ada kelonggaran waktu dan rezeki tentunya. Tapi, tradisi melewati malam takbir bersama keluarga besar seolah masih sulit untuk kami tinggalkan. 

Bersyukur hingga menginjak tahun kelima bergelar perantau ibukota kami masih mendapatkan kesempatan berduyun-duyun bersama pemudik lainnya. Meskipun tak selalu mulus diperjalanannya, tapi kami selalu melewati malam takbir di kampung halaman.

Tahun inipun tentu saja kami tak akan melewatkan kesempatan serupa. Bahkan, jauh-jauh hari sebelumnya kami telah mengantongi tiket mudik menggunakan kereta untuk empat orang. Tak tanggung-tanggung, sejak akhir Maret 2017 kami ikut menjadi salah satu pemburu tiket lebaran. Hal ini juga merupakan salah satu tradisi baru bagi para pemudik seperti kami. Sejak prosedur pembelian tiket dan peraturan PT.KAI dirombak total. Membeli tiket kereta saat lebaran harus dilakukan penuh perencanaan. Baik dari segi financial maupun jadwal keberangkatan.

Sampai hari ini, mudik menggunakan kereta api masih menjadi pilihan bagi kami sekeluarga. Selain faktor kenyamanan, ketepatan waktu menjadi alasan utama di antara beberapa alasan lainnya. Pernah kami mencoba mudik dengan menyewa mobil seorang teman. Alhasil 2x24 jam harus kami habiskan di jalanan Jakarta – Magetan. Itu baru perjalanan ke kampung. Pas balik ke Jakarta, kami masih harus menghabiskan 36 jam menyusuri panasnya jalanan beraspal. 

Lelah sangat dan anak-anak rewel selama perjalanan. Waktu di kampung pun menjadi sangat pendek karena habis untuk perjalanan. Ya, mungkin karena kami belum terbiasa saja melakukan perjalanan jauh dengan kendaraan pribadi. Tapi kenyataannya menggunakan kereta api masih jauh lebih nyaman. Setidaknya untuk keluarga kami.

Lalu, mengapa tak memilih pesawat yang pastinya bisa lebih cepat? Kampung halaman kami, Magetan, terletak di sebelah timur kota Solo. Dapat ditempuh selama 3 jam dengan menggunakan kendaraan pribadi dari Solo. Atau 5 hingga 6 jam jika dari Yogyakarta. Durasi waktu yang sama dibutuhkan jika memilih penerbangan Jakarta-Surabaya.

Jika berniat mudik dengan pesawat, itu artinya kami harus memilih rute penerbangan Jakarta-Yogyakarta, Jakarta-Solo, atau Jakarta-Surabaya. Kota terdekat dengan Magetan yang memiliki fasilitas bandara untuk penerbangan komersial. Kemudian baru melanjutkan ke Magetan dengan kendaraan darat.  Lain halnya jika memilih kereta. Karena lokasi salah satu stasiun terbesar di negara kita ada di Madiun, hanya bersebelahan dengan Magetan kampung halaman kami. Maka hanya butuh satu jam untuk menyambung perjalanan dari stasiun ke rumah.

Itu sebabnya, baik dari segi waktu, biaya dan kenyamanan kami jelas memilih kereta sebagai alat transportasi mudik. Terlebih kami membawa balita yang masih butuh banyak ruang gerak. Kereta yang kami pilih pun biasanya kereta malam. Begitu masuk gerbong kereta, anak-anak akan main sebentar, tidur, kemudian pas bangun sudah sampai Stasiun Madiun. Perjalanan jadi terasa lebih singkat.

DuoNaj memang sudah terbiasa diajak bepergian dengan alat transportasi umum. Tapi tetap saja, faktor kenyamanan selalu menjadi prioritas bagi mereka. Di samping pemilihan jenis transportasi yang akan digunakan, saya selalu mempersiapkan beberapa hal yang mendukung kenyamanan mereka. Beberapa di antaranya ada di bawah ini.

1. Mainan dan buku bacaan jangan sampai tertinggal

Meskipun biasanya kami melewatkan perjalanan malam hari dengan kereta, seperti yang saya sebutkan di atas. Tapi tetap saja anak-anak tidak langsung tidur. Mereka akan bermain dulu sampai 1atau 2 jam setelah kereta mulai melaju.



Untuk itu, mainan dan buku bacaan jangan sampai tertinggal. Karena kesengajaan meninggalkan dua hal ini hanya akan menambah kepanikan selama perjalanan. Tak ada pengalihan yang bisa membuat mereka nyaman berlama-lama di tempat duduknya.

Teman-teman yang memiliki balita juta pasti pernah mengalaminya. Untuk itu barang kesayangan anak jangan sampai tertinggal saat melakukan perjalanan jarak jauh. Terlebih jika menggunakan transportasi umum.

2. Makanan kecil dan minuman 

Sejak diberlakukannya larangan bagi PKL untuk berjualan di atas kereta api. Secara otomatis urusan perut penumpang menjadi tanggung jawab pribadi, atau bisa juga ke restorasi jika uang saku berlebih. Masalahnya, jika teman-teman bepergian dengan balita yang hobi ngemilnya nggak ketulungan. Bisa membengkak budget perjalanan kalau bolak-balik jajan ke restorasi yang makanannya dihargai beberapa persen lebih mahal  dari harga jual di luar.



Membawa camilan kasukaan anak tidak hanya menimbulkan rasa nyaman tanpa khawatir mereka lapar, tapi juga pengalihan yang menyenangkan saat bosan mulai melanda. Apalagi buat ibunya yang punya hobi mengunyah. saya kali yak, hihi …

3. Menyiapkan emergency bag 



Satu tas kecil berisi perlengkapan pribadi anak, obat-obatan hingga baju ganti wajib disiapkan di dekat tempat duduk di kereta. Cara ini memudahkan Temans saat membutuhkan sesuatu yang diperlukan secara mendadak, tanpa perlu membongkar koper atau tas baju besar.

4.  Nikmati perjalanan dengan aktivitas yang menyenangkan

Bercerita, membaca buku atau bernyanyi bersama anak bisa jadi pengisi waktu yang tepat. Anak-anak selalu suka dengan aktivitas semacam itu. Terlebih jika Temans mau sedikit berimprovisasi dengan lelucon yang menyegarkan. Anak-anak tidak hanya gembira, mereka bahkan lupa sedang berada dalam perjalanan yang lumayan lama.


Saya rasa keempat tips di atas bisa juga teman-teman aplikasikan saat bepergian dengan kendaraan pribadi ataupun pesawat. Tapi untuk kalian yang lebih nyaman dengan kendaraan umum. Tips terakhir terkait dengan akomodasi pulang-pergi benar-benar harus dipersiapkan.

Untungnya sekarang semakin banyak tempat penjualan tiket yang bisa diakses secara online. Sebelumnya, saya selalu mengakses web PT. KAI untuk membeli tiket tujuan manapun. Sekarang, setelah beberapa kali mencoba aplikasi di pegipegi, saya merasa puas dan mulai beralih ke sana. 

Selain lebih mudah diakses, ketersediaan bangkunya pun lebih aman. Proses pengisian formulir lebih mudah, respon kilat dan banyak sekali promo yang ditawarkan. Di samping itu, customer service dari pihak Pegipegi sangat cepat merespon pelanggannya. 

Pernah suatu ketika saya membayar transaksi dari rekening suami tapi menggunakan mesin ATM Bersama. Pihak Pegipegi langsung menghubungi saya untuk mengonfirmasi ke saya, karena transaksi dianggap janggal. Hanya dalam jarak beberapa menit setelah transfer, customer service langsung menghubungi saya. Dan satu menit kemudian e-Ticket sudah dikirm ke email saya. Jika teman-teman ingin mencoba pengalaman reservasi tiket mudah dan cepat seperti saya, langsung aja ke www.pegipegi.com. Siapa tahu pas dapat promonya juga.

Saya merasa sangat terbantu dengan aplikasi seperti ini. Bepergian ke manapun jadi lebih mudah untuk menyiapkan akomodasinya. Dan yang lebih penting, mudik lebaran tahun ini insya Allah aman dan bebas dari macet yang lumayan melelahkan. Ah ... Rasanya saya sudah mulai menghitung hari hingga tanggal keberangkatan teman-teman mudik juga kan? Kapan berangkat?

Kulit Wajah Segar, Cerah dan Kencang dengan Face Peeling Gel dan Peel Off Mask Lemon by Mustika Ratu

|

Holiday is always be my busy day. Apalagi liburan kali ini pas puasa, pas musim daftarin anak sekolah, pas musti siap-siap mudik juga. Lengkap sudah! Urusan domestik mau tak mau memakan waktu paling banyak. Terutama urusan momong duo kinestetik yang bakalan teriak-teriak kalau nggak dikasih kegiatan.

Biasanya, jam-jam sekolah Najwa adalah jeda buat saya. Apalagi kalau Najib lagi anteng sama mainannya. Saya bisa agak leluasa dengan urusan saya sendiri. Baca buku, nulis atau selonjoran sambil nonton AFC lumayan buat refreshing otak, sekaligus mengistirahatkan badan.

Sedangkan liburan kali ini sedikit beda, rasanya super panjang karena kegiatan di sekolah Najwa sudah benar-benar non-aktif sejak akhir bulan lalu. Tambah lagi, karena Ramadan saya harus bangun pagi untuk menyiapkan makan sahur. Berharap kembali memeluk guling selepas sholat subuh sepertinya sedikit mustahil untuk saya. Karena DuoNaj selalu bangun dan memulai aksinya. Seolah tak pernah kehabisan bahan bakar, adaa saja yang mereka kerjakan hingga malam datang kembali. Beuh … BukNaj lelah kalau sudah begini. *pijatkening

Dalam kondisi tubuh capek dan otak terus bekerja dengan semua printilan rumah tangga plus sampingan yang sedang saya kerjakan. Kok ya saya ngerasa muka tambah kusam, kulit mulai nggak segar dan kendur di beberapa bagian. Saya memang merasa, akhir-akhir ini pola hidup sedang sangat tidak seimbang. Jadwal tidur nggak teratur dan sangat kurang. Alhasil mata panda juga semakin susah disembunyikan.

Kadang pengen juga ya, escape from my daily routine gitu. Nggak usah muluk-muluk lah. Kayaknya tambah nggak mungkin kalau ke tempat perawatan yang antriannya bisa bikin bête duluan. Ke salon muslimah deket rumah aja saya udah bersyukur banget. Tapi ya, gitu deh. Belum nemu jadwal yang cocok sama waktu longgar suami. Maksudnya biar bisa gantian momong gitu. Hehe … Karena nggak mungkin juga bawa-bawa baby Najib ke salon walaupun cuma mau facial biasa aja.

Akhirnya, saya memutuskan memulai perawatan di rumah. Selain karena alarm kulit wajah yang nggak bisa dihindari lagi (semakin kusam). Saya pikir, kalau nunggu perawatan di luar pasti keburu muncul flek di mana-mana. Saking susahnya dapat momen yang pas dan belum tentu bisa rutin ke depannya.*ngeriii

Pas banget ketemu sama duo kuning yang mungil ini di toko waralaba dekat rumah. Yang satu Face Peeling Gel, satunya lagi Peel Off Mask. Dua produk perawatan berkala yang sekarang mulai rutin saya gunakan. Keduanya adalah produk perawatan wajah terbaru dari brand kosmetik lokal. Tahu kan, Mustika Ratu? Ya, kosmetik zaman ibu-ibu kita dulu. Saking udah seniornya brand ini, saya jadi ngerasa langsung percaya aja. Begitu lihat di rak kosmetik, langsung saya comot dan bawa ke kasir.

Sampai blog post ini di-publish, saya sudah mencoba perawatan dengan kedua produk ini sebanyak 2 kali.  Karena kondisi kulit sedikit lebih kering dari biasanya, maka sesuai anjuran saya hanya memakainya sekali dalam seminggu. Nah,  untuk lebih detilnya. Saya akan coba tuliskan review-nya satu persatu.


1. Face Peeling Gel Lemon, by Mustika Ratu





Face Peeling Gel berukuran mini, yaitu hanya 60 gram ini diklaim melembabkan, melembutkan dan membuat kulit tampak lebih cerah. Kandungan Lemon dalam produk bekerja sebagai pencerah, sedangkan Lidah Buaya memberikan efek lembut dan lembab pada kulit wajah. 

Peeling gel ini juga mengandung butiran scrub yang lembut dan sangat mudah hancur. Pengalaman saya, begitu dituang di telapak tangan butiran scrubnya langsung hancur dan menyebar. Juga mudah dibasuk dengan air untuk membersihkan.

Karena butiran scrubnya lembut, saya merasa lebih aman saat menggunakannya untuk memijat area kulit wajah yang sedikit sensitif dan berjerawat. Hasilnya pun terasa maksimal. Kotoran terangkat dan bagian kasar pada kulit seperti dagu atau hidung terasa lebih halus, kulit pun jadi lebih moist.


Kandungan

Aqua, Carbomer, Ethyl Ascorbic Acid, Dimethicone, Glycerin, 
Aloe Barbadensis, Leaf Juice Powder, Tocopheryl Acetate, 
Phenoxyethanol, Butylene Glycol, Cetearyl Dimethicone Crosspolymer, 
Diazolidinyl Urea, Lactose, Fragrance, Cellulose, Allantoin, 
Citrus Limon (Lemon) Fruit Extract, Sodium Hyaluronate, 
Hydroxypropyl Methylcellulose, Cl 77491, Cl 77492



2. Peel Off Mask Lemon by Mustika Ratu





Sedangkan produk yang kedua, Peel Off Mask Lemon. Produk dengan kandungan ekstrak Lemon dan vitamin C ini diklaim mampu mengencangkan dan mencerahkan kulit wajah. Kemasannya sama mungilnya dengan produk yang pertama, yaitu hanya 60 gram kemasan tube plastic berwarna putih dan kuning.


Kandungan

Aqua, Alcohol, Polyvinyl Alcohol, Ethyl Ascorbic Acid, 
Glycerin, Hexylene Glycol, Propylene Glycol, PEG 40 Hydrogenated 
Castor Oil, Butylene Glycol, Chamomilla Recutita (Matricaria), 
Flower Water, Imidazolidinyl Urea, Triethanolamine, Fructose, 
Glucose, Allantoin, Citrus Limon (Lemon) Fruit Extract, Fragrance, 
Polysorbate 80, Urea, Bisabol, Dextrin, Sucrose, Alanine, Aspartic Acid, 
Glutamic Acid, Hexyl Nicotinate.



Cara penggunaannya :

Langkah pertama
Sesuai dengan petunjuk penggunaan produk yang tertera dalam kemasan, sebelum menggunakan produk ini, saya terlebih dahulu menggunakan pelembab dan toner untuk membersihkan wajah. Selanjutnya saya oleskan sedikit peeling gel lemon, kemudian pijat lembut selama 3 – 5 menit. Setelah pemijatan, penggunaan air hangat untuk membersihkan sangat dianjurkan.

Nah,  untuk teman-teman yang berjenis kulit berminyak. Produk ini bisa digunakan dua kali dalam seminggu agar mendapatkan hasil maksimal. Sedangkan untuk pemilik kulit kering, sekali dalam seminggu sudah cukup menutrisi dan mengangkat kotoran dalam wajah.
Langkah kedua
Setelah kulit dalam kondisi bersih dan dikeringkan, segera oleskan Peel Off Mask Lemon secara merata pada wajah. Sekali lagi, hindari daerah mulut dan area mata. Biarkan masker selama beberapa saat hingga kering dan dapat dikelupas.
Sekali lagi, teman-teman bisa menggunakan air hangat untuk membersihkan sisa masker pada wajah. Kemudian dikeringkan kembali dengan handuk secara lembut tanpa perlu menggosok area wajah.






Overall saya suka kedua produk mungil ini. Karena hasilnya langsung terasa sejak penggunaan yang pertama. Kulit saya yang  cenderung sensitif pun tidak mengalami masalah setelah penggunaan produk ini selama dua kali berturut-turut. Ditambah lagi harganya sangat ekonomis. Di tempat saya beli hanya dibanderol 30K lebih sedikit per produk. Lumayan banget kan, buat kantong IRT? Bisa sisihin sedikit dari uang belanja bulanan.


Teman-teman juga musti cobain nih. Karena produk lokal, biasanya cenderung cocok dengan kondisi kulit kita. Yang lebih penting lagi ekonomisnya itu, loh. Kulit tetap terawat tanpa perlu budget membengkak. Ya nggak sih?


















Reward Puasa untuk Anak, Yay or Nay?

|
Mengajarkan puasa pada anak merupakan salah satu cara melatih kejujuran dan ikhlas pada diri mereka

Rewards puasa untuk anak
www.damaraisyah.com


Tadinya saya  berpikir untuk memberikan reward puasa untuk Najwa. Ya, itung-itung biar dia  termotivasi dan bangga dengan usahanya meskipun masih dalam tahap belajar. Belum saya sampaikan sama anaknya, sih. Jadi baru ide saja.

Sampai menjelang hari ke-7 Ramadan, Najwanya masih lumayan kooperatif. Awalnya, saya berencana melatihnya makan sahur bersama. Itung-itung biar belajar bangun pagi, sekaligus membentuk rutinitasnya. Tapi nampaknya ia belum siap, karena Najwa masih susah dibangunkan saat jam sahur tiba.

Akhirnya kami pun menyepakati pengganti makan sahur di jadwal sarapan seperti biasa, yaitu sekitar pukul 7 pagi. Setelah itu ia pun lumayan bisa menahan diri sampai jam 10 atau 11-an. Maksudnya menahan untuk nggak makan, karena Najwa tetap minum air putih setiap satu jam. Kembali lagi ini masih tahap belajar. Selain itu saya mempertimbangkan aktivitas fisiknya yang cenderung tinggi, ditunjang dengan suhu udara Jakarta yang lumayan bikin keringat bercucuran.

Rewards puasa untuk anak

Setelah minum, biasanya Najwa akan berpuasa lagi sampai zuhur atau beberapa saat sebelumnya. Tergantung kondisi juga sebenarnya, kalau lagi ada kegiatan yang bisa mengalihkan rasa laparnya, Najwa bisa tahan sampai zuhur. api kalau nggak sebelum jam 12 ia sudah tak tahan.

Selepas zuhur, biasanya dia akan lebih banyak bermain atau sesekali tidur kalau pas ayahnya lagi di rumah. Nah, kalau siang hari biasanya ia bisa bertahan agak lama. Pernah sampai magrib, tapi biasanya sekitar jam 5-an atau sepulang dari TPA Najwa udah kehausan. Akhirnya saya pun memberikan izin untuk minum secukupnya.

Prinsipnya memang melatih bukan mewajibkan. Jadi ya nggak pakek acara paksa-memaksa. Pelan tapi terus diingatkan sambil  dicontohkan sama orangtuanya. Saya sering bilang sama Najwa,”Puasa itu memang lapar dan haus, tapi itu hanya kalau dipikirin terus. Kalau Kakak tetap beraktivitas seperti biasa nggak akan keras, kok. Ee … Tahu-tahu udah mau magrib aja.”


Reward Puasa untuk Anak

Untungnya saya belum sempat ngomong ke Najwa bakaln kasih reward kalau dia mau berlatih puasa. Karena pagi ini, saya nonton video dari KeluargaKita.com. Salah satu komunitas parenting dan pemerhati pendidikan yang digawangi Mbak Ela (Najelaa Shihab) sebagai foundernya. 

Video yang saya tonton ini pas banget untuk saya jadikan pertimbangan mengenai reward puasa untuk anak. Karena di dalam vidio tersebut, "Abi" begitu Mbak Ela biasa memanggil Habib Quraish Shihab, memberikan penjelasan mengenai hikmah puasa dan anjuran tentang menyogok anak untuk  berpuasa.


Apakah Boleh Menyogok Anak untuk Berpuasa?

Rewards puasa untuk anak
Credit Pict by: isigood.com

Menggunakan kata reward sebagai pengganti istilah hadiah atau menyogok, menurut beliau hampir sama saja maksudnya. Karena orientasinya tetap pemberian dalam bentuk materi.  Dalam hal melatih anak berpuasa, memang masih banyak keluarga muslim yang menggunakan sistem reward atau menyogok untuk memotivasi anak-anak. Begitu pun halnya dengan saya yang masih menganggap cara ini sangat efektif untuk digunakan. 

Harapannya, kebiasaan ini akan menghilang seiring bertambahnya usia anak dan semakin matangnya pemahaman mereka tentang makna puasa. Tapi, menurut Habib, hal ini sebisa mungkin dihindari karena mengurangi makna dan esensi dari ibadah puasa itu sendiri. Misalnya,

Bahwa puasa itu mengandung keikhlasan bukan tuntutan materi

Kenikmatan bagi seseorang yang menjalankan puasa setidaknya ada dua. Pertama, ketika tiba waktu berbuka puasa. Sedangkan yang kedua ketika bertemu dengan Rabbnya. Dua hal ini mengajarkan orangtua, bahwa kenikmatan dalam hal puasa seharusnya menjadi kenikmatan yang berasal dari dalam diri, bukan karena adanya faktor dari luar. 


Pernyataan ini sejalan dengan sebuah materi dalam ilmu Psikologi Pendidikan. Bahwa keberhasilan mengatasi pantangan itu sejatinya berasal dari dalam diri, tanpa adanya campur tangan dari luar.

Bahwa kenikmatan puasa itu karena berhasil melawan dan mengendalikan hawa nafsu dari dalam.

Bukan karena sogokan yang berupa materi, atau reward dalam bentuk yang lain. Karena kenikmatan puasa adalah ketika mampu mengendalikan diri dan melawan hawa nafsunya.

Kesimpulannya, menyogok atau memberikan reward puasa sebaiknya dihindari. Biarkan anak belajar secara bertahap. Perlahan, seiring bertambahnya usia dan kekuatan fisik. Mereka akan memahami bahwa mampu menjalankan ibadah puasa secara penuh adalah sebuah kenikmatan yang berujung menang di hari raya.

Selain itu, tiga hal berikut dapat dijadikan pertimbangan sebelum memutuskan memberikan reward pada anak:

  • Bertentangan dengan esesnsi dari puasa itu sendiri yaitu pengendalian diri.
  • Membiasakan hal buruk pada anak. Ya, karena anak adalah peniru dan pengingat ulung. Apapun yang orangtua ajarkan padanya, pasti menjadi sebuah teladan yang terus diingatnya hingga dewasa.
  • Mengurangi nilai keikhlasan pada diri anak.

Hmm ... lumayan jleb, sih. Dan mungkin sebagian besar orangtua kurang setuju dengan materi dalam vidio ini.. Saya pun jadi teringat masa kecil saya yang jangankan mendapat hadiah, reward, sogokan atau apapun istilahnya. Ibu selalu menekankan bahwa puasa itu urusan keikhlasan dan kejujuran kita sama Allah. Kalau mau belajar jujur dan ikhlas, maka puasa adalah salah satu sarananya.

Saya ingat betul, bagaimana mengawali berlatih puasa pada usia 6 tahun, persis seperti usia Najwa saat ini. Memulainya dari puasa jam 10 pagi, kemudian jam 12, jam 2 hingga akhirnya puasa penuh pada usia 8 tahun. Itupun kadang-kadang saya sembunyi-sembunyi menelan air wudlu saat siang hari, hehe … *pengakuandosa

Tapi memang benar, tanpa reward, hadiah atau sogokan apapun rasanya nikmat sekali saat azan magrib berkumandang. Kalau boleh lebay nih, segelas air putih pun cukup untuk membasuh dahaga di tenggorokan. Hehe ... *soalnyagakadaesbuah
Akhirnya, saya putuskan untuk mengurungkan niat awal saya memberikan reward puasa untuk Najwa. Biarlah Najwa berproses dengan keikhlasan sehingga dapat meraih nikmat yang sesungguhnya. Terlepas keputusan ini terpengaruh pencerahan dari Habib Quraish Shihab atau tidak, yang pasti saya sudah mempertimbangkannya dengan matang.

Nah, buat Temans yang kepengin nonton vidionya juga. Langsung klik link di bawah ini, ya. Yakin deh, banyak ilmu yang bisa diteladani dari beliau berdua.


Akhirnya, terlepas dari memberikan reward atau tidak, setiap orangtua dan keluarga pasti memiliki cara sendiri dalam mendidik anak-anaknya. Di sini tidak ada benar atau salah, hanya masalah niat dan kondisi setiap keluarga yang butuh treatment yang berbeda. Setuju, ya?

Kalau Temans sendiri, apa pendapatnya tentang reward puasa untuk anak? Yay or nay? Sharing, yuk!





Diary BukNaj #1 - ASI Lancar selama Puasa? Bisa!

|

Salah satu kekhawatiran ibu menysui saat menjalankan ibadah puasa adalah menyusutnya pasokan ASI untuk buah hati tercinta. Apalagi, jika si kecil berusia kurang dari 6 bulan, sehingga kebutuhan ASI masih penuh tanpa support dari MPASI sebagai tambahan.

Rupanya, kekhawatiran serupa sedang dialami seorang Teman yang  masih menyusui bayinya yang baru berusia 3 bulan. Menurut cerita teman saya ini, kebutuhan ASI bayi laki-lakinya lumayan banyak. Dalam satu hari, frekuensi menyusunya bisa lebih dari 15 kali. Wajar jika akhirnya Teman saya merasa khawatir si kecil bakal kurang asupan karena pasokan ASI ibunya menurun selama puasa.

Permasalahan inilah yang pada akhirnya menghubungkan kami dalam sebuah obrolan mengenai tips menjaga ASI tetap lancar selama berpuasa. Saya sendiri yang telah melalui 4 kali ramadan sebagai busui, sempat mengalami kekhawatiran serupa saat menyusui anak kedua. Hal ini lebih dikarenakan pengalaman gagal saat menyusui anak mbarep yang terus membekas dalam ingatan saya.

Memang benar Islam telah memberikan keringanan bagi ibu menyusui dalam hal menjalankan ibadah puasa. Sepetti halnya keringanan yang diberikan pada ibu hamil atau orang yang sedang sakit. Tapi, mengingat begitu istimewanya bulan suci ini. Sebagian besar ibu tetap berusaha menjalankan ibadah puasa meskipun pada masa-masa menyusui balita.

Menurut sharing ringan bersama beberapa teman sesama busui, juga pengalaman saya sendiri saat menyusui anak kedua. Sebenarnya bukan hal yang mustahil saat seorang ibu tetap berpuasa meskipun sedang menyusui anaknya. Sudah banyak teman-teman saya yang berhasil, bahkan bayi-bayi mereka pun tidak mengalami gangguan apapun selama masa-masa itu.

Baca juga : Permasalahan yang Kerap Dialami Ibu saat Menyapih Anak

Tapi balik lagi ya, kondisi setiap ibu dan bayi tidak bisa disamakan. Sehingga, keberhasilan seorang ibu tidak perlu dijadikan patokan ketika Temans berniat menjalankan rencana serupa. Pahami dulu kondisi ibu dan balita, baru kemudian buatlah keputusan yang seharusnya juga tidak perlu terlalu kaku selama menjalankannya.

Melalui 4 kali ramadan sebagai busui tentu saja banyak suka dukanya. Masa-masa bersma Najwa bisa dibilang jauh lebih berat ketimbang 42 bulan berikutnya mengawali puasa bersama Najib. Selain masalah volume ASI yang memang agak seret sejak awal menyusui. Faktor emosi dan kesiapan diri sebagai busui turut menentukan berhasil atau tidaknya. 

Hal inilah yang kemudian mengajarkan saya bahwa pada dasarnya semua ibu BISA. Hanya saja, faktor masalah yang berbeda, tapi sering kali penanganannya disamaratakan. Sehingga bukan solusi yang didapat, tapi perasaan tidak mampu karena merasa telah mencoba berbagai cara namun tak kunjung ada hasilnya.

Pada beberapa kasus, seperti juga yang saya alami bersama Najwa. Kondisi anak yang menjadi lebih rewel daripada biasanya seolah meng-aminkan pendapat bahwa kualitas ASI selama puasa menjadi kurang prima. Begitu pun angka kecukupannya dianggap kurang, sehingga si kecil menjadi rewel karena lapar. 

Berdasarkan pengalaman tersebut, ada baiknya mencari tahu dulu penyebab anak menjadi lebih rewel dari biasanya. Bukan langsung men-judge  ada masalah dengan ASI ibunya. Karena secara tidak langsung, judge yang dialamatkan bagi seorang ibu sangat memengaruhi kondisi psikisnya. Nah, justru pada kondisi psikis yang tidak stabil inilah gangguan pada ASI bisa dengan mudah terjadi.

Berbekal cerita drama kurang berhasil dalam puasa dan menyusui anak pertama. Saya pun gencar memelajari beberapa tips sukses memberi ASI pada saat puasa. Bekal inilah yang akhirnya sangat membantu saat harus menjadi busui pada tahun ketiga ramadan, bersama anak kedua. 

Selain telah menemukan tips-tipsnya, saya merasa lebih ringan saat menyusui anak kedua karena dari segi usia bayi juga lebih tua ketimbang semasa ramadan dengan anak pertama. Dan lagi pasokan ASI saat melahirkan anak kedua memang jauh lebih lancar dibandingkan saat menyusui Najwa.

Berbagai tips agar ASI tetap lancar selama puasa sebenarnya sudah banyak diposting di berbagai media online, baik blog maupun portal berita khusus wanita. Tapi nggak pa pa lah ya, akan saya tulis ulang berdasarkan pengalaman yang telah saya lakukan sebagai ibu yang pernah mengalami gagal sekaligus berhasil menjadi busui selama ramadan.





Memastikan Kondisi Psikis Ibu Stabil

Sumber gambar : Pixabay
Temans pasti sudah sering mendengar, bahwa kondisi psikis seorang ibu sangat menentukan keberhasilan pemberian ASI pada bayinya. Dan menurut saya sih, super bener banget statement ini. Karena apapaun yang kita lakukan dengan hati bahagia pasti berujung maksimal hasilnya.

Dalam hal memberi ASI, rasa senang atau bahagia pada seorang ibu dapat memicu produksi hormon oksitosin. Hormon yang biasa disebut "hormon cinta" ini dapat merangsang keluarnya ASI, yang sebelumnya telah dirangsang produksinya oleh hormon prolaktin.

Temans bisa mengamati cara kerja oksitosin pada saat bayi mengisap payudara kita. Payudara yang mengerut seperti diperas, menunjukkan ASI yang telah diproduksi mulai mengalir dari pabrik susu menuju gudangnya. Kedua hormon ini, baik oksitosin maupun prolaktin saling mendukung satu sama lain untuk dapat menjaga pasokan ASI tetap lancar selama puasa. Dan, untuk memastikan keduanya bekerja secara maksimal, maka kondisi psikis ibu harus stabil bahkan usahakan selalu bahagia. 

Baca juga : Lika-liku Menyapih Anak


Konsumsi Sayur, Buah dan Protein dalam Jumlah Cukup

Sumber gambar : Pixabay

Banyak yang mengatakan bahwa sugesti dari ibu sangat menentukan banyak sedikitnya ASI yang dihasilkan. Hal ini juga berlaku untuk jenis-jenis makanan yang dikonsumsi selama menjadi busui. Maksudnya, makan apa saja asal sugesti kita oke, ya hasilnya bakalan oke.

Nggak salah juga sih, karena sudah banyak yang membuktikannya. Tapi, buat saya pribadi jenis makanan seperti sayur , buah dan protein baik hewani maupun nabati sangat membantu menjaga pasokan dan kualitas ASI. Justru yang saya rasakan, konsumsi karbohidrat dalam jumlah besar tidak terlalu memberi efek yang signifikan.


Konsumsi Air Putih Jangan Sampai Kurang dari 3 Liter per Hari

Sumber gambar: Pixabay

Meskipun bulan puasa, konsumsi air putih harus tetap dijaga ya. Usahakan selalu mendahulukan air putih ketimbang minuman manis lainnya. Kolak Pisang atau Es Buah memang segar dan menimbulkan efek senang saat berbuka. Tapi jangan sampai konsumsinya berlebihan sehingga tidak menyisakan ruang utnuk air putihnya.

Temans bisa mengkalkulasi sendiri manajemen air putih yang sesuai dengan kondisi tubuhnya. Kalau saya, 1 liter pertama saya konsumsi mulai dari berbuka hingga selesai waktu magrib. 1 liter lagi mulai isya hingga menjelang tidur. Nah, sisa 1 liter mulai sebelum sahur hingga imsak.


Konsumsi ASI Booster jika Dirasa Perlu

Sumber gambar: Pixabay

Kalau sekarang jauh lebih mudah menemukan ASI Booster karena sudah banyak dijual dalam bentuk kemasan, baik di apotik maupun toko perlengkapan bayi. Tapi, kalau saya sendiri sudah merasa cocok dengan Susu Kedelai tawar booster ASInya. Kebetulan kami punya langganan tukang Susu Kedelai yang bener-bener masih fresh saat diantar. Masih hangat dan belum ditambahkan perasa apapun di dalamnya.

Mungkin faktor sugesti juga ya, saya ngerasa payudara selalu penuh saat mengonsumsi Susu Kedelai pada waktu makan sahur atau menjelang tidur. Kelenjar ASI pun terasa kencang hingga menyembur saat disusukan pada si kecil. 

Temans boleh tentukan sendiri booster ASI yang dirasa cocok untuk dirinya. Itupun hanya jika Temans merasa perlu untuk menjaga pasokan ASI tetap lancar.

Istirahat Cukup

Sumber gambar : Family Share

Yang namanya ramadan nih, memang biasanya waktu istirahat kita jadi berkurang. Selain karena harus bangun pagi untuk mempersiapkan sahur. Rasanya sayang juga ya kalau tidak memanfaatkan bulan ini untuk memperbanyak ibadah sunah.

Tapi tetep ya,  harus pandai-pandai atur waktu agar tidak sampai kekurangan jatah istirahat. Meskipun ramadan, kegiatan sehari-hari sebagai ibu pastinya tidak berkurang, kan? Tapi justru malah bertambah. Untuk itu, manajemen waktu istirahat harus diatur sedemikian rupa. 

Dulu, waktu masih bekerja, saya selalu sempatkan sekitar 30 menit berdiam diri di mushola kantor. Ya, meskipun nggak benar-benar tidur. Setidaknya saya memiliki cukup waktu untuk menenangkan pikiran dan mengistirahatkan mata.

Begitu jadi ibu rumah tangga, saya selalu mengambil jatah tidur siang bersama si kecil. Meskipun hanya 30 menit juga, tapi lumayanlah. Karena sisa waktu selama si kecil tertidur harus saya manfaatkan untuk beberes dan melakukan pekerjaan rumah lainnya.

Baca juga : Najib dan Tumbuh Kembangnya setelah Disapih

Pada dasarnya sih, untuk urusan capek baik IRT maupun ibu bekerja sama saja. Hanya faktor kebebasan waktu yang membedakan. Toh, di manapun tempatnya semua ibu pada akhirnya menjadi ibu bekerja, kok. Hehehe … 

Selama menyusui anak kedua saya termasuk rajin mempraktikkan tips-tips di atas. Dari segi hasil memang jauh berbeda dengan anak pertama. Selain ASI lancar puasa pun bisa jalan barengan sama seluruh kegiatan momong 2 bocah dan beresin printilan di rumah.  

Nah, buat teman-teman yang masih galau dengan ASInya, apalagi sekarang sudah menjelang akhir 10 hari pertama. Yuk, buang dulu galaunya! Setelah itu, cobain deh tips sederhana dari saya. Ya, barangkali ada yang cucok gitu kan jadi seneng juga sayanya. Hihi … 

Meskipun bukan the expert dalam hal perASIan, pernah gagal juga, tapi saya dukung banget buat Temans yang terus berjuang untuk mengASI sambil berpuasa. 

Happy breastfeeding , Temans!






Custom Post Signature

Custom Post Signature