Parenting Story, Mom's Life, Tips

Mojosemi Forest Park - Wisata Alam di Ujung Barat Kota Magetan

|


Mojosemi Forest Park

Mengunjungi tempat wisata dengan konsep alam sepertinya sedang menjadi  trend di tengah -tengah masyarakat. Tekanan tinggi di tempat kerja, terjebak dalam rutinitas harian, ritme hidup yang sangat cepat dan masalah polusi sering kali dijadikan alasan bagi sebagian besar masyarakat urban untuk meninggalkan hiruk pikuk kota. Maka menepi ke daerah pantai, gunung atau pedesaan adalah destinasi traveling yang paling diminati kala mendapatkan cuti atau libur panjang saat hari raya dan akhir tahun tiba.

Sebagai penduduk dengan identitas diri warga ibukota. Saya dan suami pun merasakan tekanan yang sama seperti halnya masyarakat urban pada umumnya. Hal semacam itulah yang akhirnya membulatkan rencana kami untuk mengakhiri 2017 dan membuka 2018 dengan menyepi di kampung halaman.

Bersyukur, kami berdua memiliki kampung halaman yang sama. Magetan, sebuah kota kecil di kaki Gunung Lawu adalah tempat di mana kami selalu terpanggil untuk pulang. Tak sekedar untuk merasakan kembali aroma desa, atau menikmati hawa sejuknya. Tapi kali ini kami telah merencanakan mengunjungi salah satu destinasi wisata alam baru di Magetan.

Yuk, Cari Tahu Gaya Belajar yang Paling Efektif untuk Anak!

|
Gaya belajar anak seperti pintu pembuka. Setiap informasi yang masuk lewat pintu yang terbuka lebar, akan memudahkan anak memahami informasi tersebut. Pada puncak pemahaman, informasi tersebut akan masuk ke dalam memori jangka panjang dan tak terlupakan seumur hidup (Orangtuanya Manusia)

Gaya belajar anak

Pernahkah Teman-teman memerhatikan gaya belajar anak, murid, keponakan atau adiknya? Apa pendapat kalian tentang gaya belajar mereka? Serius atau cenderung santaikah?

Saya sendiri sudah sejak lama senang mengamati gaya belajar anak-anak. Pengalaman 10 tahun lalu saat harus mengajar satu kelas dengan mayoritas siswa yang memiliki kecenderungan kinestetik dan auditori. Memaksa saya yang saat itu belum memiliki pengetahuan apapun tentang macam-macam gaya belajar anak untuk mencari tahu dan mengamati dengan seksama.

Ada beberapa anak yang selalu minta diajak berkegiatan di dalam kelas. Setiap materi inginnya dilakukan dengan permainan. Bahkan di kelas pun mereka sangat jarang duduk di tempatnya. Beberapa anak yang lain sangat senang diperdengarkan cerita. Entah itu harus saya yang membacakan, atau menggunakan pemutar audio sehingga kami sama-sama mendengarkan materi.

Lakukan 7 Hal Ini agar Nyaman Berkereta Api Ekonomi dengan si Kecil

|
tips nyaman berkereta api ekonomi


Bepergian dengan moda transportasi darat, khususnya kereta api sepertinya sudah menjadi primadona baru di masyarakat kita. Terlebih bagi mereka yang rutin melakukan perjalanan di sepanjang wilayah kepulauan Jawa yang telah difasilitasi dengan jalur kereta api ke berbagai kota. Selain cepat, tepat waktu, nyaman dan bersih. Dari segi harga, tiket kereta api sangat variatif dan bisa menyesuaikan dengan bujet masing-masing. 

Kalau kebetulan sedang banyak rezeki, bolehlah sesekali merasakan kenyamanan bangku empuk kelas eksekutif. Tapi kereta ekonomi pun enggak kalah pamor, loh, meskipun tarif yang ditawarkan jauh di bawah kelas bisnis atau eksekutif. Selain bersih dan cukup nyaman, waktu tempuhnya pun tak beda jauh dengan kelas kereta lainnya. Kalau enggak salah hanya terpaut  satu jam saja.

Saya pribadi tipe yang gemar berkereta ekonomi. Selain tentu saja sangat menghemat bujet, suasana kereta yang cenderung merakyat membuat saya enggak gampang bosan. Karena biasanya antar penumpang bisa dengan mudah berkenalan dan berbagi cerita.


Damar Aisyah's Blog di Tahun 2017 dan Mau Ngapain aja di 2018

|

Blogging


Halo Teman-teman. Apa kabar 2018? Karena ini postingan pertama di awal tahun. Bolehlah ya, BukNaj say hi dulu sebagai pemanasan, hehehe. Ceritanya kemarin liburannya terlalu lama. Akhirnya muncul kembali penyakit malas dan santai-santai unfaedah. Jadilah butuh BOOM yang akhirnya memaksa BukNaj segera menggelar laptop kembali. 

Mau tahu nggak BOOM-nya apaan? Hiks, sebenarnya ini lumayan tragis, karena DA saya turun 3 angka. Padahal saya baru saja melamar untuk sebuah pekerjaan. Dengan percaya diri, saya pun menuliskan angka DA sebelumnya. Begitu kemarin sore saya cek angkanya turun 3, berasa nyut-nyutan di kepala. Waduh, pengen pijat kening rasanya.

Blogging


Tapi ya sudahlah. Mau sampai kapan nangisin yang begituan. Sudah saatnya bangkit dan mengakhiri liburan ngeblog yang lumayan panjang. Ya, saya memang sengaja meliburkan diri dengan berbagai pertimbangan. Salah satunya karena ingin meluruskan kembali niat awal ngeblog. Eciyeh, macam rambut saja rupanya, minta dilurusin. Hehehe.

Akhir tahun 2017 lalu saya merasa mulai nyeleweng dari niat awal ngeblog. Buktinya saya suka uring-uringan kalau enggak berhasil posting sesuai target. Masih suka ngarep menang lomba juga, padahal niatnya hanya uji nyali. Suka berburu job, padahal belum berniat memonetisasi blog. Nah, kan! Mulai ketahuan nyelewengnya sudah kemana-mana.

Baca cerita saya mendapatkan Invoice Pertama dari Ngeblog

But, anyway. Saya enggak munafik, ya. Banyak hal dalam dunia blogging ini yang memang sangat menarik dan menggiurkan. Mulai tawaran job, kenaikan PV, menang lomba sampai branding diri rasanya sangat sulit untuk saya tolak begitu saja. Hingga akhirnya rutinitas blogging yang harusnya untuk suka-suka, kadang-kadang kayak ada beban. Karena ada keinginan lebih dari sekedar menulis dan berbagi cerita.

Saya masih ingat betul, sejak awal saya berkomitmen menjadikan blog sebagai rumah kedua, rumah di dunia maya. Blog adalah tempat untuk mengasah keterampilan menulis, melenturkan gaya bertutur, menuangkan ide dan gagasan, juga mengumpulkan dokumentasi diri dan keluarga.


Eh, ternyata saya khilaf kebablasan. Habis gimana, ya. Khilaf itu biasanya enak, sih. Jadinya suka keterusan. Begitu sadar, akhirnya memutuskan untuk libur sementara. Sekedar untuk mengevaluasi diri dan memastikan kembali apa-apa yang ingin saya lakukan dengan aktivitas blogging di tahun 2018.



2017 yang Menguras Energi


Oke, kalau boleh jujur, 2017  itu sebenarnya sangat menguras tenaga. Selain fokus memperbaiki blog, mulai ganti TLD, ganti template, belajar ini dan itu. Saat itu saya masih terikat kontrak dengan portal perempuan Emakpintar.Asia yang sekarang telah berganti menjadi Emakpintar.Org. Di samping itu saya masih ikut beberapa proyek buku antologi, menerima pesanan artikel dan menulis untuk FP.

Blogging

Pertengahan tahun 2017 saya juga mulai mendapat tawaran job review, content placement dan yang paling sering itu buzzer. Menjelang akhir tahun semakin padat lagi, karena saya menerima job copywriting untuk satu akun instagram. Kebayang kan, mesti rutin bikin postingan setiap hari?  

Artikel review saya yang pertama: Ngemil Enak dan Sehat dengan Mola Granola

Tapi sebenarnya worth it banget, loh. Secara materi sih so pasti lah ya. Tapi enggak cuma itu, karena saya pun mendapatkan banyak pengalaman baru dan sangat berguna untuk menambah portofolio. 

Buat Teman-teman yang terbiasa bekerja dengan deadline, tentu saja hal seperti ini sangat mengasyikkan. Saya pun sebenarnya sangat menyukainya, karena challenging banget. Tapi rasanya terlalu menguras energi kalau dibarengi harus momong duo bocil dan PakNaj yang nggak mau istrinya begadang. Jadinya fix, 2018 gak boleh maruk lagi.

Maruk? Ya, saya sadar tahun lalu itu terlalu maruk. Hingga kadang kalau kecapekan saya malah jadi blank dan lemot akut. Duh, nggak lagi kerja model begini. Makanya selama liburan kemarin saya lebih banyak kontemplasi. Maunya apa sih, BukNaj nih?




2018 untuk Langkah yang Terukur dan Terarah



Blogging


Nah, begitu dapat BOOM di awal tahun yang akhirnya bikin liburan ngeblognya buyar. Saya pun mulai menentukan mau ngapai aja dengan Damar Aisyah's Blog di 2018 ini.

Mau DA naik 8 angka? Iya, karena baru saja saya turun 3. Artinya saya harus balikin yang 3 ditambah 5 lagi target saya.

Mau punya 1 postingan setiap hari? Belum sanggup kalau sekarang. Targetnya 12 postingan per bulan. Means, seminggu 3 postingan baru.

Mau ternak blog? Mungkin, khususnya untuk postingan tentang resensi. Tapi masih galau, karena resensi ini kasih sumbangan PV yang lumayan banget di blog damaraisyah.com

Mau ikut semua lomba? Enggak, tahun ini target saya maksimal 2 lomba  saja per bulan. Maksimal ya, bisa jadi hanya 1 lomba saja.

Mau rapihin blog? Ya, benar. Mau ngecek broken link, rapihin kategori postingan, update media kit.

Mau perbaiki kualitas konten? Ya, benar. Ini yang paling penting karena sejak awal niat ngeblog untuk berlatih menulis.

Mau ambil job? Ya, yang sekiranya saya mampu dan blog saya sudah pantas untuk menerimanya saja (tau dirilah.

Tapi yang paling penting, saya ingin lebih, lebih dan lebih enjoy lagi dalam ngeblog. Ingin lebih nyaman dalam menulis blog post. Enggak pengen dikejar deadline meskipun tetap membuat target jumlah postingan. Enggak pengen teriak-teriak sama anak gara-gara belum posting. Juga Enggak pengen berantem sama suami hanya karena harus begadang untuk kejar deadline. 


Blogging

Ya, intinya saya ingin mempersiapkan stamina yang lebih besar untuk bertahan di dunia blogging. Karena saya tahu dunia ini jika digeluti secara profesional juga penuh dengan persaingan. Makanya saya ingin lebih siap secara mental dan nyaman dalam berkarya.


Sudah semacam curhat aja postingan kali ini, hehehe. Mungkin langkah-langkah saya ini terkesan justru mengalami kemunduran. Sebenarnya enggak juga, sih. Karena saya paham betul situasi dan kondisi diri yang memang kurang cocok diajak lari kencang. Mendingan pelan-pelan tapi enggak sampai berhenti lagi. Amin.

Jadi, sekian rencana saya untuk 2018. Kalau Teman-teman, rencananya mau ngapain aja sama blognya? Yuk, share di komen, ya. Happy Blogging!

Resolusi 2018 dan Rahasia Menjadi Perempuan Produktif

|
Resolusi 2018

"Bund, cita-citamu opo?" (Bund, cita-citamu apa?) Satu pertanyaan sederhana, tapi sempat membuat saya senewen agak lama. Bagaimana nggak senewen, lha wong sebenarnya pas suami tanya soal cita-cita itu, saya benar-benar hanya fokus pada pencapaian keluarga. Ee, lha kok tiba-tiba diingatkan lagi dengan gejolak masa muda.

Jujur, bagi saya pertanyaan itu sangat sensitif dan keterlaluan, hehehe. Karena suami saya yang menanyakan. Apalagi dia ingin saya menjawab sebagai perempuan yang seharusnya masih produktif berkarya. Bukan sebagai ibu atau seorang istri. Padahal dia tahu betul seperti apa aktivitas saya selama 24 jam. Selain momong, momong dan momong. Pekerjaan rumah tangga rasanya tak pernah habis saya kerjakan. Memang benar, kadang pun saya ingin menghasilkan sesuatu di luar urusan rumah tangga. Tapi saya berusaha positif thinking saja, mungkin ini belum masanya.

Tapi, ternyata suami terus mendorong untuk melakukan hal lain selain urusan rumah tangga. Ya, memang anak dan suami harus menjadi prioritas utama. Tapi tidak seharusnya mengambil terlalu banyak jatah waktu yang saya punya. Maka mulai saat itu, saya pun terus memutar otak. Menggali kembali segala impian yang sempat terlupa. Hingga akhirnya saya berani keluar dari zona leha-leha. Dan menantang diri untuk produktif berkarya selagi kesempatan terbuka.

Sejak saat itu saya mulai memodifikasi impian masa kecil. Mustahil kan, jika saya masih bercita-cita  ingin menjadi dokter atau astronot? Tapi saya masih memiliki impian sebagai seorang penulis. Alasannya pun sederhana, karena ingin mendokumentasikan perjalanan hidup, serta berbagi ilmu dan pengalaman yang masih terbatas.

Baca juga: Berdamai dengan Diri Sendiri

Akhirnya membuat resolusi di awal tahun pun saya lakukan untuk menyusun target dan mengukur pencapaian. Tentunya dengan langkah dan strategi yang masuk akal. Karena saya sadar betul, bahwa sebagai perempuan biasa melakukan suatu hal baru tidak selalu mudah. Modal utama saya pun hanya impian.

4 Resolusi di Tahun 2018


Seperti halnya di awal 2017, tahun ini pun saya kembali menyusun resolusi awal tahun. Bukan sok-sokan ya, tapi saya merasakan betul arah dan tujuan serta langkah yang harus saya ambil berbekal menyusun resolusi di awal tahun.

Kali ini pun saya menyusun resolusi 2018 dalam 4 poin besar sesuai dengan4 peran yang saya jalani sebagai perempuan. Sebagai istri, ibu, anak dan perempuan yang haus dengan karya.

1. Mengasuh dengan bahagia dan berkualitas


Teman-teman pasti setuju, bahwa anak-anak yang bahagia itu tentunya berada dalam pengasuhan ibu yang bahagia juga? Ya kan, ya kan? Nah, saya pun ingin mengambil tempat sebagai salah satu ibu tersebut, meskipun dengan cara saya sendiri. Karena saya rasa kebahagiaan setiap ibu memiliki takaran dan jenis yang berbeda. Tergantung situasi dan kondisi yang dihadapinya. tapi bahagia tetap menjadi kuncinya.

Bagi saya, kebahagiaan itu ketika mendapatkan kepercayaan dari DuoNaj sebagai teman dekat mereka. Karena saya yakin, menjadi teman anak adalah cara paling tepat dan awet untuk mengiringi setiap pertumbuhan mereka.

Maka saya pun berencana untuk menginvestasikan lebih banyak waktu untuk keduanya. Memberikan quality time yang benar-benar bermanfaat, bukan sekedar kebersamaan sepanjang hari namun dengan kesibukan saya sendiri


Resolusi 2018

Saya ingin intens kembali melatih keterampilan dasar bagi keduanya. Mengembangkan psikomotorik dan keterampilan berbahasa untuk si Najib. Sedangkan untuk Najwa saya merencanakan kegiatan yang bersifat life skill dan keagamaan. Ya, Najwa sudah menjelang 7 tahun, dan saya rasa ini saatnya untuk konsen pada dua hal tersebut.

Baca perjalanan saya menjadi ibu bahagia : Ibu Selalu Ada, Meskipun Tak Mampu Sempurna

Saya pun ingin terus mempertahankan gaya berkomunikasi yang lebih banyak menempatkan DuoNaj sebagai partner, bukan sekedar anak  yang bisa diatur semau orang tuanya. Memberikan kesempatan pada mereka untuk mengemukakan pendapat untuk sebuah persoalan. Memberikan kepercayaan pada mereka untuk berproses dan mencoba hal baru dalam konteks positif tentunya.

Sejauh ini, cara tersebut sangat membantu dalam membangun kepercayaan diri mereka. Selain itu juga membiasakan mereka untuk menghargai adanya perbedaan pendapat yang tidak bisa dipaksakan. Juga melatih konsekuensi untuk hal-hal yang telah dipilih. Sebagai catatan, semuanya masih dalam konteks anak-anak dan tentu saja saya telah menentukan batasan-batasannya.

2. Menjadi partner terbaik bagi suami


Ehem, sekali-kali masuk pada bahasan perempuan dewasa, ya. Kali ini resolusi saya sebagai seorang istri. Barangkali terasa aneh jika saya memiliki keinginan untuk lebih "dekat" dengan suami. Karena kenyataannya kami telah menikah selama 7 tahun. Waktu yang saya rasa cukup untuk membangun kedekatan antara sepasang kekasih, terlebih kami telah dikaruniai dua orang anak sebagai perekat hubungan ini.

Tapi, jujur saya masih butuh untuk lebih dekat dengannya. Dekat sebagai partner kehidupan tidak sebatas dalam menjalankan peran dalam rumah tangga. Saya sadar betul, keterbatasan waktu yang kami miliki untuk melakukan quality time berdua harus disiasati dengan cerdas. Agar hubungan sebagai pasangan sepanjang usia tak menjadi "garing" atau malah monoton karena terjebak dalam rutinitas.

Resolusi 2018
My Sephia ( read: kekasih gelapku, hehehe )


Untuk itu, saya berencana melakukan kebiasaan-kebiasaan khusus bersama suami. Salah satunya rutin berbagi cerita meskipun untuk hal remeh temeh menyangkut kesenangan satu sama lain. Ini hanyalah salah satu cara untuk menjaga hubungan kami tetap dalam satu frekuensi dan seirama.


Selain itu saya ingin lebih rajin merawat diri. Saya sadar, kondisi fisik tak mungkin bertahan ketika "dimakan" usia. Untuk itu tak ada cara lain selain mengusahakannya tetap prima. Tidak hanya merawat secara lahir, saya pun berusaha menjaga batin saya tetap "sehat". Karena keduanya memang tidak bisa dipisahkan dan sangat memengaruhi satu dan lainnya.

Baca tentang suami saya : Not A Breastfeeding Father, but He is The best Father

Mungkin cara saya ini terdengar berlebihan. Tapi tak apalah, karena saya pun yakin bahwa segala sesuatu ituperlu diupayakan. Termasuk di dalamnya hubungan dalam pernikahan. Tak ada yang mampu menjamin kelangsungan kehidupan suami istri. Kecuali kita sendiri yang menjalani dan mau mengusahakannya.

3. Mewujudkan harapan orang tua selagi masih ada kesempatan


Ibu ... Ibu dan ibu. Seperti halnya yang diajarkan oleh Rasul, saya pun ingin lebih memperhatikan orang tua saya yang kini hanya tinggal ibu seorang. Mengingat usianya yang sudah semakin tua, sedangkan harapan dan impiannya masih banyak yang belum terwujud. Maka saya ingin mengusahakannya satu persatu, salah satunya untuk beribadah ke tanah suci.

Resolusi 2018
Semoga ibu selalu sehat hingga tercapai semua impiannya. Amin.


Selain itu, saya pun ingin mengupayakan harapannya pada kami anak-anaknya. Saya tahu, meskipun tak pernah terucap dari mulutnya, ibu pasti ingin saya berkarya sebagai perempuan terpelajar. Berpenghasilan secara mandiri sehingga mampu mengambil peran sebagai sekoci dalam rumah tangga. 


Harapan itu terus saya ingat, dan meskipun saya akui tidak mudah untuk diwujudkan saat sekarang. Tapi saya memiliki keyakinan untuk mewujudkannya suatu hari nanti, secepatnya. Saya yakin, pada saat yang tepat saya akan mempersembahkan kebanggan ini baginya.

4. Menulis satu buku cerita anak di tahun 2018


Seperti halnya penulis lain, saya pun menyimpan keinginan untuk menerbitkan minimal 1 buku seumur hidup saya. Saya pun mulai mantap untuk memilih buku ber-genre anak sebagai buku solo saya yang pertama.


Resolusi 2018
Buku antologi kelima yang terbit akhir 2017.


Mengapa buku cerita anak? 

Karena buku ini untuk anak-anak saya. Saya ingin ada satu hal yang bisa mereka sentuh, nikmati, ambil pelajaran dan simpan dari hasil belajar ibunya. Saya ingin buku ini menjadi buah dari malam-malam panjang yang saya lalui di depan laptop, demi menghindari protes karena menulis di siang hari. Di mana anak-anak lebih membutuhkan saya untuk teman bermain dan berbagi cerita.

Resolusi 2018
Calon buku antologi keenam (cerita anak) terbit Awal 2018

Saya memang tidak memasang target terlalu tinggi untuk buku saya nanti. Tapi saya berharap mampu menyajikan pendidikan dan pengalaman hidup yang dapat diteladani dari sebuah sumber bacaan. Cara yang selama ini saya terapkan pada anak-anak melalui sumber bacaan karya penulis lain. Maka bolehlah saya berkeinginan untuk menghadirkan karya saya sendiri sebagai sumber pelajaran kehidupan bagi DuoNaj.

Baca juga: Resolusi 2017- Sehat Jiwa dan Raga


Wah, wah, wah, ternyata banyak juga resolusi saya. Hehehe. Nggak pa pa ya, anggap saja semangat saya memang sedang di puncak. Karena kenyataannya memang benar. saya mulai merasakan passion ini menggerakkan seluruh energi positif dalam diri. Maka sayang jika membiarkannya menguap begitu saja.

Lalu, apakah saya menyiapkan strategi utuk mewujudkannya? Tentu saja sudah. Dia antaranya dengan menerapkan 4 manajemen dasar yang sebaiknya dimiliki semua perempuan. Dan satu hal vital yang menyebabkan segala hal yang kita rencanakan mampu diusahakan. Untuk 5 hal tersebut, saya menyebutnya sebagai "Rahasia Menjadi Perempuan Produktif".


Rahasia Menjadi Perempuan Produktif


Menurut saya pribadi dan beberapa sesi sharing yang saya ikuti di berbagai komunitas. Salah satu jurus jitu bagi perempuan untuk selalu produktif terletak pada bagaimana dia me-manage kehidupan. Teman-teman setuju nggak? Saya sih setuju karena sudah membuktikannya.

Hal ini pun pernah saya dengar dari Indari Mastuti, perempuan produktif yang membawahi satu jaringan Indscript Creative yang semakin menggurita. Indari Mastuti pernah menyebutkan, bahkan menuliskan dalam bukunya "Full Time VS Working Mom", bahwa setidaknya perempuan harus mampu mengelola hidupnya dengan 4 kemampuan manajemen. Apa sajakah itu?


1. Manajemen Waktu

Semua perempuan memiliki 24 jam sehari dalam hidupnya. Lalu mengapa produktivitasnya bisa berbeda-beda? Tentu saja hal ini dikarenakan kemampuan mengatur waktu setiap orang tidak sama. 

Saya nggak bilang bahwa perempuan yang terlihat selalu sibuk itu tidak pandai mengatur waktu ketimbang yang terlihat santai, atau sebaliknya. Karena setiap orang menghadapi kondisi yang berbeda dalam 24 jam yang dimilikinya.

Resolusi 2018
Pexel.com

Yang ditekankan dalam manajemen waktu bagi seorang perempuan adalah bagaimana mereka tidak menyia-nyiakan sedikit pun waktu yang dimiliki. Itu artinya seorang perempuan jika ingin produktif berkarya harus memiliki rencana harian atau to do list, sehingga mampu mengalokasikan seluruh waktunya untuk segala hal yang bermanfaat. 

Betewe, mengambil jeda untuk sekedar bersantai sambil minum teh juga manfaat, loh. Jadi nggak perlu khawatir bahwa to do list harian akan terlalu mengekang aktivitas kita. Tapi sebaliknya, dengan adanya to do list kita akan tahu betul kegiatan apa saja yang bisa dialokasikan waktunya. jadi nggak ada istilah waktu terbuang percuma.


2. Manajemen Prioritas

Mom, Master of Multitasking, begitu katanya. Oke, saya setuju sekali karena kenyataannya memang seperti itu. Entah ibu bekerja di luar ataupun di dalam rumah, kenyatannya perempuan memang memiliki keahlian untuk multitasking. 

Tapi, kita nggak bisa ya terus-terusan menjadi makhluk multitasking tanpa prioritas yang harus dibuat. Begitu pun dalam mengelola to do list harian. itu sebabnya mengapa to do list itu harus dibuat tidak kaku, alias fleksibel.

Resolusi 2018
Pexel.com

Misalnya nih, kita sudah merencanakan siang hari menulis satu postingan. Ee, ternyata si kecil pakek acara ngambek. Otomatis pending dulu acara tulis menulisnya, ganti bermain dengan bocil. Sebagai gantinya, saya akan mengoper satu kegiatan yang tidak terlalu urgent dengan rencana membuat postingan yang sudah saya pending tadi. Sebagai contohnya menyetrika baju atau mengepel yang menurut saya tidak perlu dilakukan setiap hari.  Akur ya? Hehehe, ini bukan alasan karena saya malas menyetrika, loh. Hehehe.

3. Manajemen Keuangan

Yup, perempuan harus cermat mengatur keuangan. Apalagi jika sumber keuangan kita masih berasal dari satu "kran" saja, seperti saya. 

Dalam mengatur keuangan pun kita perlu membuat perencanaan baik jangka pendek maupun panjang. Mulai kebutuhan rutin bulanan, tahunan hingga kebutuhan tak terduga. Selain itu butuh prioritas yang disesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan setiap keluarga.

Resolusi 2018
Pexel.com


Keluarga kami misalnya, untuk kebutuhan pendidikan formal anak-anak memang tidak terlalu besar karena Najwa bersekolah di SD Negeri. Sebagai gantinya, kami menganggarkan kegiatan family edutrip sebagai salah satu pengeluaran rutin. Dengan tujuan untuk memberikan pengalaman nyata yang diharapkan menambah pengetahuannya di luar pendidikan formal.

Baca cerita DuoNaj:  Edutrip ke Musem Air Tawar dan Museum Serangga

Prioritas setiap keluarga pasti berbeda. Tapi memiliki manajemen keuangan sangat penting sifatnya bagi setiap keluarga. Kemampuan ini sangat men-support keinginan seorang perempuan untuk bisa produktif. Karena tidak bisa dipungkiri, sekarang ini tidak ada hal yang gratis. Maka memberikan alokasi tersendiri untuk hal yang mendukung produktivitas perlu dipertimbangkan. Misalnya untuk biaya training, mempraktikkan ilmu atau menyalurkan hobi. 

Kemampuan memanajemen uang juga bukan berarti mendukung kita menjadi pribadi yang pelit. Tidak sama sekali. Justru dengan kemampuan ini, kita akan lebih terarah dalam membelanjakan uang, sehingga tahu mana saja pos yang penting dan tidak.

4. Manajemen Bahagia

Jika sesekali kita merasa kehidupan orang lain lebih bahagia daripada kita, mungkin itu masih wajar. Karena bagaimanapun rumput di halaman tetangga selalu lebih hijau daripada rumput di halaman sendiri. Tapi kalau keterusan berpikir seperti itu, maka kondisi emosi kita menjadi tidak sehat. Akibatnya bisa jadi iri hati dan kurang bersyukur. Duh amit-amit, ya.

Hidup itu sawang sinawang. Segala yang kita lihat tidak selalu seindah yang kita bayangkan. Seperti juga sepatu, ukuran dan bentuk kaki setiap orang selalu berbeda, maka jangan memaksakan diri memakai ukuran orang lain.

Mensyukuri kehidupan adalah cara paling mudah untuk me-manage perasaan bahagia. Menyadari bahwa segala hal yang kita peroleh sebagai takaran yang pas sesuai usaha dan kebutuhan kita adalah cara yang menenangkan.

Resolusi 2018
I start to be happier, whatever my condition

Adakalanya melihat ke bawah untuk menambah kadar syukur dan bahagia. Jika harus melihat ke atas, jadikan sebagai motivasi untuk melompat lebih tinggi. Dan ketika melihat ke depan, maka hadapilah kenyataan. Syukuri dan berbahagialah dengan setiap pencapaian. Karena kata orang bahagia itu terkadang sederhana saja.

Saya mulai melatih dan menerapkan diri dengan 4 manajemen ini di awal tahun 2017. Meskipun belum maksimal, tapi saya dapat merasakan perubahan dalam diri baik secara personal maupun dalam menghadapi suami dan anak-anak. Hal ini membuat saya semakin yakin dan ingin kembali menerapkannya sebagai resep menuntaskan resolusi 2018.

Sayangnya, satu hal yang masih sering menjadi kendala. Kondisi kesehatan saya masih sering drop di tengah jalan. Biasanya karena kelelahan atau kurang asupan vitamin akibat pola makan yang kebanyakan cheating makanan siap saji. Saya sadar betul, kekurangan asupan vitamin dan mineral sangat rentan menurunkan daya tahan tubuh dan dapat menimbulkan  berbagai penyakit.

Untuk itu saya pun berencana memulai kembali pola makan seimbang untuk mencukupi nutrisi harian. Sedangkan untuk asupan multivitaminnya, saya selalu mengonsumsi Theragran-M terutama pada masa-masa pemulihan setelah sakit. 

Mengapa Theragran-M?

Karena Theragran-M mengandung vitamin A, B, C, D dan E serta mineral esensial seperti Magnesium dan Zinc. Multivitamin ini pun sudah diresepkan sejak tahun 1976 sehingga sangat terpercaya. Theragran-M juga merupakan pilihan vitamin yang bagus untuk mempercepat masa penyembuhan. Selain juga merupakan pilihan vitamin untuk mengambalikan kondisi tubuh setelah sakit.


Resolusi 2018


Mungkin Teman-teman berpikir, kok segitu pentingya memilih vitamin untuk masa penyembuhan bagi saya? Jawabnya karena ibu itu nggak boleh sakit. Minimal, kalau sakit jangan lama-lama, lah. Bisa kacau urusan rumah tangga kalau si ibu kelamaan bobok-bobok cantik kesakitan. Mulai urusan dapur sampai sekolah anak bisa jadi nggak terkontrol dan berantakan. Kalau sudah begitu, lagi-lagi perempuan yang harus nanggung repotnya di belakang. Duh, nggak mau banget kan?

Karena itu kita harus sehat ya, Temans. Selain agar lebih lancar dalam menjalankan segala resolusi yang sudah dibuat. Kesehatan adalah modal utama dalam menjalani kehidupan ini. Apa artinya kaya jika sakit-sakitan? Kebahagiaan pun terasa tidak sempurna jika raga tak mendapatkan haknya untuk sehat.


Resolusi 2018

Jadi, jangan pernah menunda dan beralasan untuk memulai hidup sehat. Begitu pun halnya jika memerlukan tambahan vitamin untuk menjaga daya tahan tubuh dan melengkapi kebutuhan mineral. Cukup satu butir kaplet salut gula dari Theragran-M yang dikonsumsi baik sewaktu atau sesudah makan sebagai body booster. Cara mendapatkannya pun sangat mudah, karena Theragran-M bisa dibeli di toko obat atau apotik di sekitar kita. Tentunya dengan harga yang sangat terjangkau di kantong kita-kita.

Rasanya saya semakin siap dan yakin untuk melalui 2018. Selain telah berbekal resolusi yang membuat langkah-langkah saya lebih terarah. Saya pun telah mengungkap rahasianya agar senantiasa menjadi perempuan yang produktif berkarya. Dan tentu saja karena saya sangat antusias, optimis dan memilih untuk sehat dengan pola makan seimbang dan multivitamin yang berkualitas.




Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Theragran-M.




Custom Post Signature

Custom Post Signature