Parenting Story, Mom's Life, Tips

Showing posts with label Blogging. Show all posts
Showing posts with label Blogging. Show all posts

Bentuk Investasi Virtualpreneur

|
Investasi pebisnis online


Virtualpreneur, profesi baru yang kemunculannya langsung digandrungi oleh sebagian besar pengguna piranti digital di berbagai negara di belahan bumi ini, tak terkecuali di Indonesia. Kemunculan profesi yang satu ini seolah menjadi angin segar bagi sebagian orang yang memiliki kompetensi dan karya, tapi mengalami keterbatasan ruang gerak atau modal.

Profesi virtualpreneur sendiri terklasifikasi menjadi wirausaha produk dan jasa. Untuk jenis wirausaha produk, pasti kalian sudah sangat tidak asing dengan maraknya toko online yang menjual produk sebagai tangan kedua, maupun yang memproduksi langsung label yang dijualnya. Virtualpreneur jenis ini sangat digandrungi, karena modalnya bisa dibuat seminim mungkin, tapi daya jangkau pemasarannya sangat luas.

Sedangkan untuk klasifikasi virtualpreneur yang kedua---wirausaha jasa---content writer dan blogger merupakan sebagian profesi yang kini sedang naik daun. Maraknya penggunaan media sosial sebagai media yang mengumpulkan hajat hidup orang banyak, berimbas pada kenaikan kebutuhan konten positif yang berujung pada dibutuhkannya penulis sebagai produsennya.

Selain Materi, 7 Keuntungan Ini Bisa Didapat dari Dunia Blogging. Nggak Percaya? Coba Saja!

|

Keuntungan menjadi blogger rumahan
www.damaraisyah.com


"Sebulan dapat berapa dari ngeblog?"

Wew! To the point banget pertanyaannya. Bikin BukNaj gelagepan pas mau jawab, haha. Em, jadi gini, beberapa waktu yang lalu seseorang sebut saja namanya Melati (karena Bunga sudah terlalu sering) bertanya pada saya tentang pendapatan dari ngeblog. Si Melati ini rupanya termasuk sering mengamati aktivitas blogging saya yang menurutnya cendrerung "blogger kandang" alias blogger rumahan. Uhuk, keselek lagi, hehe.

To be honest, saya memang belum pernah ikut reportase atau event yang melibatkan blogger. Jadi bener banget yang Melati bilang bahwa saya  termasuk kategori "blogger kandang" atau blogger rumahan tadi. Malahan belum lama saya tahu kalau blogger itu udah beneran kayak jurnalis gitu. Ya datang ke event, meliput kemudian menulis reportasenya. Bahkan menjadi buzzer, influencer dan pembicara.

Dulu, setahu saya blogger cuma orang yang menulis dengan platform blog. Udah gitu aja. Nggak tahunya, semakin ke sini, semakin banyak dapat info dari komunitas blogger. Ternyata banyak sekali peluang lain yang bisa diambil oleh seorang blogger. Bahkan tak sedikit yang menyebut blogger sebagai profesinya. Profesi lho, artinya selain berbagi manfaat dari tulisan, blog telah menjadi bagian dari ladang penghasilannya. Hahai, keren banget, kan?

Damar Aisyah's Blog di Tahun 2017 dan Mau Ngapain aja di 2018

|

Blogging


Halo Teman-teman. Apa kabar 2018? Karena ini postingan pertama di awal tahun. Bolehlah ya, BukNaj say hi dulu sebagai pemanasan, hehehe. Ceritanya kemarin liburannya terlalu lama. Akhirnya muncul kembali penyakit malas dan santai-santai unfaedah. Jadilah butuh BOOM yang akhirnya memaksa BukNaj segera menggelar laptop kembali. 

Mau tahu nggak BOOM-nya apaan? Hiks, sebenarnya ini lumayan tragis, karena DA saya turun 3 angka. Padahal saya baru saja melamar untuk sebuah pekerjaan. Dengan percaya diri, saya pun menuliskan angka DA sebelumnya. Begitu kemarin sore saya cek angkanya turun 3, berasa nyut-nyutan di kepala. Waduh, pengen pijat kening rasanya.

Blogging


Tapi ya sudahlah. Mau sampai kapan nangisin yang begituan. Sudah saatnya bangkit dan mengakhiri liburan ngeblog yang lumayan panjang. Ya, saya memang sengaja meliburkan diri dengan berbagai pertimbangan. Salah satunya karena ingin meluruskan kembali niat awal ngeblog. Eciyeh, macam rambut saja rupanya, minta dilurusin. Hehehe.

Akhir tahun 2017 lalu saya merasa mulai nyeleweng dari niat awal ngeblog. Buktinya saya suka uring-uringan kalau enggak berhasil posting sesuai target. Masih suka ngarep menang lomba juga, padahal niatnya hanya uji nyali. Suka berburu job, padahal belum berniat memonetisasi blog. Nah, kan! Mulai ketahuan nyelewengnya sudah kemana-mana.

Baca cerita saya mendapatkan Invoice Pertama dari Ngeblog

But, anyway. Saya enggak munafik, ya. Banyak hal dalam dunia blogging ini yang memang sangat menarik dan menggiurkan. Mulai tawaran job, kenaikan PV, menang lomba sampai branding diri rasanya sangat sulit untuk saya tolak begitu saja. Hingga akhirnya rutinitas blogging yang harusnya untuk suka-suka, kadang-kadang kayak ada beban. Karena ada keinginan lebih dari sekedar menulis dan berbagi cerita.

Saya masih ingat betul, sejak awal saya berkomitmen menjadikan blog sebagai rumah kedua, rumah di dunia maya. Blog adalah tempat untuk mengasah keterampilan menulis, melenturkan gaya bertutur, menuangkan ide dan gagasan, juga mengumpulkan dokumentasi diri dan keluarga.


Eh, ternyata saya khilaf kebablasan. Habis gimana, ya. Khilaf itu biasanya enak, sih. Jadinya suka keterusan. Begitu sadar, akhirnya memutuskan untuk libur sementara. Sekedar untuk mengevaluasi diri dan memastikan kembali apa-apa yang ingin saya lakukan dengan aktivitas blogging di tahun 2018.



2017 yang Menguras Energi


Oke, kalau boleh jujur, 2017  itu sebenarnya sangat menguras tenaga. Selain fokus memperbaiki blog, mulai ganti TLD, ganti template, belajar ini dan itu. Saat itu saya masih terikat kontrak dengan portal perempuan Emakpintar.Asia yang sekarang telah berganti menjadi Emakpintar.Org. Di samping itu saya masih ikut beberapa proyek buku antologi, menerima pesanan artikel dan menulis untuk FP.

Blogging

Pertengahan tahun 2017 saya juga mulai mendapat tawaran job review, content placement dan yang paling sering itu buzzer. Menjelang akhir tahun semakin padat lagi, karena saya menerima job copywriting untuk satu akun instagram. Kebayang kan, mesti rutin bikin postingan setiap hari?  

Artikel review saya yang pertama: Ngemil Enak dan Sehat dengan Mola Granola

Tapi sebenarnya worth it banget, loh. Secara materi sih so pasti lah ya. Tapi enggak cuma itu, karena saya pun mendapatkan banyak pengalaman baru dan sangat berguna untuk menambah portofolio. 

Buat Teman-teman yang terbiasa bekerja dengan deadline, tentu saja hal seperti ini sangat mengasyikkan. Saya pun sebenarnya sangat menyukainya, karena challenging banget. Tapi rasanya terlalu menguras energi kalau dibarengi harus momong duo bocil dan PakNaj yang nggak mau istrinya begadang. Jadinya fix, 2018 gak boleh maruk lagi.

Maruk? Ya, saya sadar tahun lalu itu terlalu maruk. Hingga kadang kalau kecapekan saya malah jadi blank dan lemot akut. Duh, nggak lagi kerja model begini. Makanya selama liburan kemarin saya lebih banyak kontemplasi. Maunya apa sih, BukNaj nih?




2018 untuk Langkah yang Terukur dan Terarah



Blogging


Nah, begitu dapat BOOM di awal tahun yang akhirnya bikin liburan ngeblognya buyar. Saya pun mulai menentukan mau ngapai aja dengan Damar Aisyah's Blog di 2018 ini.

Mau DA naik 8 angka? Iya, karena baru saja saya turun 3. Artinya saya harus balikin yang 3 ditambah 5 lagi target saya.

Mau punya 1 postingan setiap hari? Belum sanggup kalau sekarang. Targetnya 12 postingan per bulan. Means, seminggu 3 postingan baru.

Mau ternak blog? Mungkin, khususnya untuk postingan tentang resensi. Tapi masih galau, karena resensi ini kasih sumbangan PV yang lumayan banget di blog damaraisyah.com

Mau ikut semua lomba? Enggak, tahun ini target saya maksimal 2 lomba  saja per bulan. Maksimal ya, bisa jadi hanya 1 lomba saja.

Mau rapihin blog? Ya, benar. Mau ngecek broken link, rapihin kategori postingan, update media kit.

Mau perbaiki kualitas konten? Ya, benar. Ini yang paling penting karena sejak awal niat ngeblog untuk berlatih menulis.

Mau ambil job? Ya, yang sekiranya saya mampu dan blog saya sudah pantas untuk menerimanya saja (tau dirilah.

Tapi yang paling penting, saya ingin lebih, lebih dan lebih enjoy lagi dalam ngeblog. Ingin lebih nyaman dalam menulis blog post. Enggak pengen dikejar deadline meskipun tetap membuat target jumlah postingan. Enggak pengen teriak-teriak sama anak gara-gara belum posting. Juga Enggak pengen berantem sama suami hanya karena harus begadang untuk kejar deadline. 


Blogging

Ya, intinya saya ingin mempersiapkan stamina yang lebih besar untuk bertahan di dunia blogging. Karena saya tahu dunia ini jika digeluti secara profesional juga penuh dengan persaingan. Makanya saya ingin lebih siap secara mental dan nyaman dalam berkarya.


Sudah semacam curhat aja postingan kali ini, hehehe. Mungkin langkah-langkah saya ini terkesan justru mengalami kemunduran. Sebenarnya enggak juga, sih. Karena saya paham betul situasi dan kondisi diri yang memang kurang cocok diajak lari kencang. Mendingan pelan-pelan tapi enggak sampai berhenti lagi. Amin.

Jadi, sekian rencana saya untuk 2018. Kalau Teman-teman, rencananya mau ngapain aja sama blognya? Yuk, share di komen, ya. Happy Blogging!

Laptop 2in1 untuk Mendukung Gaya Hidupku sebagai Freelancer

|



laptop 2in1
Pixabay.com

Kalau ditanya apa pekerjaan utama saya, tentu saja profesi ibu rumah tangga yang selalu menjadi jawaban. Karena segala yang saya lakukan di luar kesibukan sebagai full stay at home mom sifatnya hanya sampingan saja., yang biasa saya kerjakan di sela-sela mengurus keperluan suami dan anak-anak.

Freelancer, begitu biasanya saya menggelari diri sendiri. Baik sebagai blogger, content writer atau crafter wanna be , saya belum memutuskan untuk mengerjakannya sepenuh waktu. Meskipun  selalu berusaha total untuk menyelesaikan pekerjaan yang dipercayakan kepada saya.

Menyandang status ibu rumah tangga tanpa menggunakan jasa ART menuntut saya untuk lebih dinamis dan cermat mengatur waktu demi produktifitas kerja. Belum lagi dua anak saya yang memiliki kecenderungan kinestetik sangat susah diajak diam berlama-lama. Di luar pekerjaan rumah, hampir sebagian besar waktu saya gunakan untuk bermain bersama mereka.

Jangan ditanya seberapa banyak waktu yang saya alokasikan untuk menuntaskan pekerjaan freelancer Namanya juga free, jadi suka-suka saya mau dikerjakan kapan dan di mana. Meskipun kerap kali harus berkejaran dengan deadline yang bikin nyut-nyutan kepala.

Ritme pekerjaan yang mengharuskan saya  dinamis, tidak membuang-buang waktu dan bisa bekerja di mana saja mau tak mau membuat saya memerlukan ‘alat tempur‘ yang siap di bawa kemana-mana. Sayangnya kesempatan itu belum juga saya dapatkan hingga sekarang. Karena kondisi laptop yang sekarang saya ajak bekerja sangat tidak memungkinkan.

Selain ukurannya yang besar dan berat, kondisi keyboard bawaan yang tidak berfungsi akibat dimuntahi si kecil mau tak mau membuat saya harus menggunakan external keyboard yang, alamak semakin tak praktis untuk dibawa-bawa.

Sejauh ini , smartphone memang tak pernah lepas dari tangan ketika saya harus beraktivitas di luar. Jika kebetulan saya mendapat job sebagai buzzer, atau harus mengikuti training online berbasis social media, gadget yang satu ini cukup mumpuni untuk diajak bekerja sama.

Anak-anak yang masih kecil, mau tak mau membuat aktivitas saya lebih banyak dengan mereka.

Masalahnya, smartphone satu-satunya yang sekarang menjadi andalan ini sering kali menjadi barang rebutan dengan anak. Biasanya saya memang tegas terkait penggunaan gadget bagi mereka. Tapi ada kalanya saya harus melakukan mediasi, sampai akhirnya menyerahkan barang tersebut dengan berbagai persyaratan. 

Pada saat gadget berpindah tangan seperti itu, rasanya saya seperti sedang membuang-buang waktu. Misalnya saat menunggu si kakak extra kurikuler di sekolah, saya merasa mendapatkan cukup waktu untuk menyelesaikan beberapa draft atau meng-edit calon postingan. 

Tapi apalah daya, satu-satunya gadget yang movable sudah beralih fungsi menjadi pemutar video favorit si adik yang mulai bosan menunggu kakaknya. Saya pun tak enak hati jika berebut paksa di lingkungan anak-anak yang sedang belajar. 



Kadang kala saya pun merasa tidak produktif ketika akhir pekan tiba. Ya, weekend yang sedianya memberikan lebih banyak kebebasan waktu, kadang-kadang  harus saya lewati untuk traveling ke luar kota bersama keluarga.  Sedangkan yang paling sering terjadi adalah menghabiskannya selama seharian dengan meng-explore segala hal yang ada di Jakarta.  

Saya sadar tidak dapat menolak kebiasaan ini dalam keluarga kecil yang sedang kami bangun. Karena jalan-jalan merupakan salah satu quality time yang banyak me-refresh hubungan suami istri dan  bounding dengan anak. Tapi sebagai freelancer, saya merasa terlalu sering melewatkan waktu luang karena kendala alat yang tidak menunjang. Maka saat seperti itu saya sering merasa butuh gadget kedua, yang tentu saja harus  dinamis dan bringable untuk menunjang keahlian saya sebagai multitasker.


Laptop 2in1
Pixabay.com

Sempat berpikir untuk membeli tablet sebagai cadangan jikalau harus bekerja di luar. Saya pun masih bimbang, karena kondisi laptop yang sekarang juga sudah saatnya dipensiunkan. Dan tidak bisa saya pungkiri, sebagian besar pekerjaan lebih maksimal jika dikerjakan dengan laptop atau notebook biasa.  Misalnya untuk mendesain atau meng-edit foto, maka fungsi dari keyboard dan mouse tak bisa digantikan oleh layar sentuh yang biasa ada pada tablet.

Tapi begitu berniat untuk membeli laptop biasa, bayangan membawa seperangkat alat dengan bobot yang bisa membuat pundak semakin pegal selalu menjadi kendala. Ya kali harus bawa tas segede gaban cuma buat laptop doang, sudah berat nggak simple pula. Pupus sudah cita-cita ibu rumah tangga tampil trendi saat jadwal traveling tiba.



Laptop 2 in 1 Hadir sebagai Solusi


Laptop 2in1
Intel.co.id

Untungnya teknologi terus berkembang hingga tak terbendung lajunya. Laptop hybrid hadir menjadi solusi bagi gaya hidup freelancer seperti saya. Laptop hybrid atau biasa disebut 2 in 1 merupakan inovasi terbaru laptop yang menggabungkan 2  fungsi dalam 1 perangkat, yaitu notebook dan tablet yang disatukan. Perangkat ini sangat fleksibel, karena bisa digunakan untuk bekerja sekaligus meng-entertain saya, bahkan anak-anak. 

Laptop 2in1 bisa digunakan dalam dua model pengoperasian yang berbeda.  2 in 1 yang bisa dilepas layarnya dapat difungsikan sebagai tablet yang dapat dibawa kemana-mana tanpa memberikan tambahan beban akibat bobot laptop yang berat.  User pun dapat memaksimalkan pekerjaan terlebih jika harus bersinggungan dengan social media.


Sedangkan laptop 2 in 1 yang memiliki fungsi konvertibel, sekilas nampak seperti notebook biasa, tapi jika layarnya dibalik atau diputar, maka tampilannya berubah seperti tablet dan sangat mengesankan jika harus digunakan untuk keperluan meeting atau presentasi di depan klien.

 

Tapi tak perlu khawatir dengan performa 2 in 1 sebagai  laptop atau notebook biasa. Karena bagi sebagian orang, penggunaan laptop dengan keyboard  beserta touchpad atau mouse memang sepertinya tak bisa ditinggalkan. Laptop 2 in 1 hadir tetap dengan  kenyamanan yang biasa user gunakan. So, kalau kata saya, sih, laptop 2in1 yang benar-benar saya butuhkan.



Hal-hal yang Patut Dipertimbangkan sebelum Membeli Laptop 2in1


Laptop 2in1
Intel.co.id


Sebagai  freelancer yang memiliki penghasilan tidak menentu, pembelian perangkat baru untuk menunjang pekerjaan saya benar-benar harus melalui pertimbangan yang matang. Terlebih jika perangkat tersebut bisa dibilang juga masih baru di pasaran.  Jangan sampai membeli suatu perangkat hanya karena tergiur dengan segala kemudahan yang ditawarkan. Tapi sudah semestinya perangkat tersebut memberikan manfaat maksimal.

Begitu pun halnya ketika memutuskan memilih laptop 2in1 sebagai calon pendukung pekerjaan saya. Saya harus tahu betul, tipe seperti apa yang tepat dan memang dibutuhan. Beberapa tips berikut sangat membantu, untuk saya dan juga Teman-teman yang berniat membeli perangkat serupa.




1. Pilih mana, konvertibel atau bisa dilepas?

Dengan profesi yang saya geluti sekarang ini, pilihan 2in1 dengan layar yang bisa dilepas tentu saja paling tepat. Saya belum butuh untuk presentasi atau meeting, tapi kebutuhan saya hanya gadget yang travel friendly. 

2. Prosesor

Prosesor ibarat jantung untuk perangkat seperti  PC atau laptop. Terlebih untuk perangkat model 2in1, performa prosesor tidak bisa di kesampingkan begitu saja. Memilih laptop atau dengan prosesor yang mutakhir harus diutamakan. Maka memilih laptop intel 2in1 adalah sebuah keputusan yang brilliant, mengingat kredibilitas Intel Pentium yang tak perlu diragukan lagi.


3. Ukuran layar

Seperti yang kita ketahui, baik laptop atau notebook maupun tablet memiliki ukuran layar yang beragam. Pemilihannya pun harus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing user.

Untuk saya, layar berukuran 14 inchi sudah sangat mencukupi kebutuhan. Karena laptop atau tablet bukanlah perangkat vital sebagai pemutar video atau menonton film, maka saya tak butuh yang terlalu besar. Ukuran 14 inchi bisa dibilang sedang. Tak terlalu besar sehingga masih relevan untuk dibawa traveling, namun tak terlalu kecil sehingga ramah dengan penglihatan.

Selain itu, ukuran layar yang lebih besar juga lebih berat dan lebih cepat memakan baterai. Maka dari itu tentukan dulu kebutuhannya untuk apa, barulah buat keputusan yang tepat.

4. Storage

Masalah penyimpanan juga harus mendapatkan perhatian. Laptop 2in1 dilengkapi dengan hard drive atau HDD yang cukup aman untuk menyimpan file dokumen, foto, video dan film. Beberapa laptop 2in1 bahkan dilengkapi solid state drive (SSD) yang memungkinkan mengambil file lebih cepat dan tahan banting tentunya. Tapi seperti biasa, ada harga selalu ada rupa. Paham, kan?


Laptop asus 2in1
Laptop 2in1 yang menjadi wishlist saya. (asus.com)

5. Daya tahan baterai

Karena kebutuhan utama saya untuk digunakan di luar rumah atau sebagai perangkat yang movable. Maka laptop dengan daya tahan baterai yang lebih lama yang saya butuhkan.  Nggak mau, kan, ribet bawa colokan saat sedang jalan-jalan?

Hem, sepertinya saya sudah membuat keputusan yang tepat dengan menjatuhkan pilihan pada laptop 2in1 sebagai penunjang gaya hidup saya sebagai freelancer yang dituntut serba multitasking. Dengan mengadopsi perangkat yang tepat, saya berharap lebih produktif dalam aktivitas yang serba fleksibel .

Teman-teman tertarik dengan laptop 2in1 juga, kan?  







Tips Optimasi Blog (Bagian 1) - Design

|


Desain blog
Pixabay.com


Haluuu, tau-tau udah tanggal 10 aja, ya. Sudah sepertiga hari berjalan di bulan Oktober. Semangat belum kendor, kan? meskipun sudah menuju tanggal tua lagi, hihihi. Nah, daripada mulai dag-dig-dug menghadapi tanggal tua lagi, kita ngomongi optimasi blog aja kali ini. Ya, sapa tau blog-nya bisa jadi sumber penghasilan yang kedua. Lumayan banget, kan? Nggak perlu nunggu tanggal gajian, tapi ada aja pemasukan dari sumber yang lain.

Nah,  mengoptimasi blog sebagai salah satu sumber penghasilan, atau biasa disebut monetizing blog, rupanya bukan hal yang mudah, loh. Ada beberapa hal yang sebaiknya menjadi perhatian teman-teman blogger. Tentu saja hal ini bertujuan untuk menjaga eksistensi atau performa blog yang terus berkelanjutan di masa depan.

Nggak mau, kan, kalau ngeblog cuma buat ikut-ikutan aja.  Saya yakin semua blogger kepengen jadiin blognya sebagai’rumah kedua’. Nggak sekedar buat curhat, tapi juga sharing pengalaman, bermanfaat atauberbagi informasi dan mendokumentasikan kisah perjalanan hidup atau karya yang pernah dibuat. Akur?  *akurinajabiarcepet

Bicara soal optimasi blog, pastinya juga teman-teman sudah tahu bahwa ada banyak komponen untuk mendukungnya menjadi blog yang searchable dan readable. Hal-hal seperti desain blog dan konten menurut saya merupakan dua hal utama dan mendasar yang harus diperhatikan oleh seorang blogger, apalagi pemula seperti saya. Nggak usah deh ngomongin DA/PA dulu, udah konsisten nulis aja bagi saya udah TOP! Tapi, gak ada salahnya ya, kita perhatikan  sesuatu yang bisa  bikin pembaca betah di blog kita.


So, kali ini kita ngomongin tentang desain blog dulu aja, ya. Sesuatu yang pertama kali dilihat pengunjung, tapi memiliki efek besar terhadap kenyamanan mereka untuk berlama-lama atau bahkan kembali lagi ke blog.



desain blog

 


Bicara tentang desain blog, saya berkesempatan mendapatkan ilmunya secara khusus dari Mbak Sintaries, founder Blogger Perempuan Network pada acara Blog Coaching Clinic yang diselenggarakan free untuk member BP Network pada tanggal 2 September lalu. Duh, jadi malu. Kayaknya udah basi banget tapi baru di-share di blog post. Hehehe *tutupmuka. 

Nggak pa pa, ya, yang penting ilmunya nggak basi, kok. Karena jujur, saya sendiri yang hampir 1 tahun aktif ngeblog, baru deh tahu info yanf seperti ini.

Lanjut lagi soal desain blog, ya. Waktu itu Mbak Shinta bilang bahwa desain blog sebaiknya memerhatikan beberapa poin.

1. Orientasi pembaca
2. Orientasi  google
3. Menurunkan Bounce Rate
4. Memperpanjang time on site
5. Branding

Berikut adalah penjelasan untuk setiap poin-poin di atas.


Desain Blog
Pixabay.com


Orientasi Pembaca dan orientasi Google

Setiap blogger pasti punya orientais pembaca masing-masing sesuai dengan niche blog yang dipilih. Kalau saya pribadi dengan blog damaraisyah.com cenderung membidik segmentasi ibu-ibu muda dan produktif, dengan range usia antara 25-40 tahun. 

Tema parenting yang saya bungkus dalam daily activity dan traveling, rupanya mulai menjadi ciri khas tulisan-tulisan saya yang sebagian besar berdasarkan pengalaman pribadi momong dua bocah.

Untuk itu saya memilih desain blog yang minimalis, modern tapi tetap menunjukkan unsur ibu muda saya dengan pemilihan warna watercolor pink di bagian header blog. Ciyehh, ibu muda katanya, hihihi. Untuk background sendiri saya memilih warna putih yang cenderung bersih, dengan font hitam sehingga mudah dibaca. 

Usahakan memilih template yang responsive sehingga mudah di-detect oleh mesin pencari. Dan ini merupakan salah satu solusi agar desain kita memenuhi orientasi  google.

Bersyukurlah Teman-teman yang memiliki blog berplatform Wordpress karena pilihan templatenya sangat beragam, baik gratisan maupun berbayar, lengkap dengan aneka plugin yang bisa dimaksimalkan sesuai kebutuhan masing-masing. 

Saya sendiri sebagai pengguna platform Blogger atau Blogspot, awalnya sempat merasa terlalu terbatas. Namun kemudian saya putuskan membeli template berbayar yang memenuhi kriteria saya. Jika tertarik, Teman-teman bisa mencoba berbelanja di Etsy Shop. Banyak sekali pilihannya dengan harga yang relati terjangkau untuk pemula.

Berikut adalah kunci dalam memilih desain agar memenuhi criteria optimasi pembaca dan Google

  • Clean atau bersih, dengan background warna terang. Kalau bisa, sih, 80% white space
  • Font yang mudah terbaca dan berwarna gelap
  • Responsif atau fast loading
  • Mobile friendly karena sekarang pembaca lebih familiar dengan smartphone untuk membaca
  • Konten di sebelah kiri, side bar di sebelah kanan
  • Hindari musik atau animasi bergerak sebagai latar,  misalnya salju bertaburan diiringi dengan musik.
  • Jangan lupa mencantumkan profile blogger, link social media dan Home, Disclosure serta kriteria postingan. Terutama untuk blog yang ingin di-monetize.


Desain Blog
Pixabay.com


Bounce rate dan Time on site

Untuk bouce rate sendiri  Teman-teman bisa cek di Google Analytics. So, kalian harus pasang GA dulu di blog-nya, barulah bisa cek berapa bounce rate-nya. Patokannya semakin rendah bounce rate, maka semakin baik performa blog. Adapun kisaran rendanya sesuai yang saya tangkap dari penjelasan Kak Shinta, antara 20%-80%. Jika di bawah 20% , kemungkinan ada masalah dengan GA blog kita.

Oh ya, semakin lama pengunjung membaca blog kita dapat berimbas juga pada penurunan prosentase bounce rate. Google sendiri pun menyukai  blog yang memiliki time on site panjang. Untuk itu, blogger harus berusaha membuat pembacanya nyaman. Selain pilihan desain seperti yang sudah saya sebutkan tadi, pastikan konten kita berkualitas. Pada postingan selanjutnya saya akan membahas tentang konten ini.



Desain Blog
Pixabay.com


Branding

Blog  bisa menjadi branding pemiliknya. Begitu pula dengan desain yang dipilih, biasanya mencerminkan karakteristik pemiliknya.  Untuk mem-branding diri melalui blog, beberapa hal berikut ini bisa Teman-teman jadikan acuan:

1. Nama domain adalah nama brand 

Nama domain adalah nama brand. Misal kita membuat blog tentang suatu organisasi, maka nama organisasi sebaiknya dijadikan sebagai nama domain. Untuk personal blog, menggunakan nama pemilik blog sebagai nama domain sepertinya jauh lebih mudah untuk mem-branding diri. 

Tapi, pastikan nama domain hanya terdiri dari maksimal 2 kata, mudah diketik atau diingat, bukan keyword. Setelah nama domain dipilih, usahakan sama atau minimal mirip dengan username  social media pendukung  agar mudah dikenali.

2. Template dan desain blog  
 Template dan desain blog yang khas seperti yang saya sebutkan tadi. Misal, kalau saya memasukkan warna pink dengan font kecil-kecil. Semacam mewakili saya yang girly dan imut-imut *dititimpukpembaca

3. Blog bertema 
Blog bertema atau memiliki niche khusus. Sebenarnya blog seperti ini yang disukai Google, tapi saya pribadi masih susah menghalau godaan nulis tentang lipen dan buku di blog parenting saya. Jadilah lifestyle.

4. Apa adanya dan jadi diri sendiri.

Fiyuh! Selesai juga akhirnya. Saya akui banyak hal yang selama ini saya anggap sepele ternyata sangat memengaruhi performa blog. Itulah mengapa banyak sharing dengan sesama blogger sangat membantu pemula seperti saya. 

Desain blog adalah satu komponen yang pertama kali dilihat oleh pembaca. Oleh sebab itu, memberikan sedikit perhatian dan waktu untuk kembali mengutak-atiknya, saya rasa perlu dilakukan. Memang lumayan wasting time, sih, karena sebenarnya banyak hal menyenangkan dalam mengutak-atik desain blog itu sendiri.

Kalau Teman-teman gimana? Sudah menyediakan waktu untuk utak-atik desain blognya?



Tulisan ini diikutsertakan pada tantangan One Day One Post Oktober 2017 Blogger Muslimah Indonesia.

#ODOPOKT7






Custom Post Signature

Custom Post Signature